BAB II. KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL
2.1 Kajian Pustaka
2.1.3 Studi terkait perawatan HIV di layanan primer
Strategi global sektor kesehatan yang dicanangkan oleh WHO (2011), dalam penanganan HIV/AIDS Tahun 2011-2015, adalah upaya pencapaian akses universal dalam penanganan penyakit HIV di seluruh dunia, dengan tujuan tercapainya “Getting to Zero”. Strateginya meliputi 4 komponen penting, yaitu: mengoptimalkan fungsi
pencegahan, tatalaksana diagnosis, dukungan dan perawatan HIV; memperluas pengaruh respon kesehatan dalam penanganan HIV; memperkuat sistem kesehatan dan berkelanjutan; dan mengurangi kerentanan serta menghilangkan hambatan terhadap akses layanan (WHO, 2011). Oleh karena itu, banyak negara telah menerapkan perluasan cakupan akses layanan ART.
Penelitian tentang “Antiretroviral therapy in primary health care : Experience of the Kayelitsha Programme in South Africa, Case Study” menunjukkan bahwa
pengembangan perawatan, dukungan dan pengobatan ARV ke layanan primer dapat meningkatkan motivasi dan kepatuhan odha dalam berobat, mengurangi efek samping ARV, dan meningkatkan kelangsungan hidup odha. Perluasan akses layanan ARV ke layanan primer juga dapat meningkatkan dukungan psikososial kepada odha,
mempromosikan keterbukaan dan mengurangi stigma, serta membantu odha untuk menjaga keluarganya tetap utuh dan kestabilan ekonomi keluarga odha (WHO, 2003).
Sejalan dengan kebijakan strategi WHO tersebut, arah kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia ditekankan pada rencana aksi pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang merata dan bermutu di kabupaten/kota (Kemenkes RI, 2013c). Hal tersebut sejalan dengan penelitian evaluasi strategi pencegahan HIV-AIDS di Liberia diketahui bahwa, kebutuhan sumber daya yang memadai dan membangun kapasitas masyarakat dalam pelaksanaan program pencegahan AIDS sangat penting dalam mengatasi masalah penanganan HIV-AIDS di negara berkembang (Kennedy, et al., 2004). Penelitian lain terkait dampak dari intervensi pencegahan HIV di layanan primer ternyata juga dapat meningkatkan keterampilan dan merubah cara pandang tenaga kesehatan terhadap penyakit HIV-AIDS ini (Bluespruce, et al., 2001).
Hasil penelitian tentang integrasi perawatan dan dukungan HIV/AIDS pada layanan primer di Propinsi Gaunteng Afrika Selatan, didapatkan bahwa sumber daya manusia, (pengetahuan dan ketrampilan petugas, adanya pelatihan, beban kerja, moral dan motivasi petugas kesehatan), infrastruktur layanan, petunjuk dan pelaksanaan teknis manajemen perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP), jejaring rujukan, koordinasi perencanaan dan komunikasi diantara petugas, berperan dalam keberhasilan integrasi pelaksanaan PDP HIV/AIDS di layanan primer (Modiba, et al., 2002). Oleh karena itu, untuk keberhasilan pengembangan layanan ART di puskesmas, ketersediaan sumber daya manusia dan pelatihan keterampilan tenaga kesehatan dalam penanganan HIV-AIDS penting untuk diperhatikan.
Penanggulangan penyakit HIV dan pengembangan program ke layanan primer perlu memperhatikan sisi kemampuan keuangan daerah (Kemenkes RI, 2007). Strategi
yang diharapkan adalah meningkatkan pembiayaan penanggulangan HIV-AIDS (Kemenkes RI, 2010). Julio Frank (2009), dalam “Reinventing primary health care: the need for systems integration” menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam
pengembangan program layanan primer di negara berkembang adalah terkait masalah finansial, pengembangan manajemen, dan kerjasama tim. Hal senada dari pernyataan Ooms G., et al.( 2008), tentang pembiayaan kesehatan dalam penanggulangan HIV-AIDS, perlu tambahan dana yang digunakan untuk memberikan pelatihan, keterampilan dan pengalihan tugas, sistem jejaring rujukan, jaminan kualitas layanan serta logistik dan manajemen pasokan dalam pengembangan jejaring layanan.
Penelitian analisis biaya kesehatan pengobatan HIV/AIDS di beberapa negara (Ethiopia, Malawi, Rwanda, Afrika Selatan, dan Zambia) diketahui bahwa perluasan jangkauan layanan ARV akan mengurangi beban biaya kesehatan pemerintah dikemudian hari (Tagar, et al., 2014). Pembiayaan kesehatan merupakan pengelolaan berbagai upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan layanan kesehatan, guna mencapai derajad kesehatan yang setinggi-tingginya (SKN, 2012). Saat ini, sumber dana program penanggulangan HIV/AIDS berasal dari APBN dan APBD, donor internasional seperti Global Fund, UN Agencies (multilateral), Pemerintah Australia melalui DFAT dan Pemerintah Amerika
Serikat melalui USAID (bilateral) (Musiah D, 2014). Jadi, masalah finansial penting untuk diperhatikan demi keberlangsungan pelaksanaan program HIV di Indonesia terutama di layanan primer.
Penelitian Angkasawati, et al. (2009), tentang kesiapan petugas puskesmas dalam penanggulangan Infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS pada layanan antenatal, diketahui bahwa sarana dan prasarana, perlengkapan laboratorium dan reagen, beban kerja tambahan, kejelasan sistem pencatatan dan pelaporan, belum adanya standar
operasional prosedur (SOP) tentang integrasi IMS dan HIV menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan program tersebut. Sehingga dalam pengembangan layanan ARV ke puskesmas, perlu memperhatikan kesiapan sarana dan prasarana pendukung.
Studi penilaian kesiapan fasilitas layanan kesehatan primer dalam desentralisasi program HIV-AIDS di Nigeria, diketahui bahwa komponen yang dinilai dalam pengembangan program HIV selain sumber daya manusia adalah ketersediaan fasilitas layanan kesehatan untuk program HIV-AIDS, obat-obatan dan sistem farmasi, fasilitas laboratorium dan pengelolaan sampah medis, serta hubungan dan dukungan faktor-faktor eksternal sebagai penentu dalam kesiapan sebuah layanan (USAID, 2014).
Dengan demikian, sarana prasarana penunjang, alat-alat kesehatan, sarana laboratorium, dan obat-obatan berperan penting dalam menilai kesiapan puskesmas sebagai satelit ART.
Untuk menggerakkan fungsi-fungsi layanan di puskesmas agar berhasil dan berdaya guna, diperlukan peningkatan manajemen dan sistem informasi penanggulangan HIV/AIDS yang akuntabel dan transparan, serta informatif (Kemenkes, 2013). Permenkes RI NO.75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, pada pasal 43, dijelaskan bahwa setiap puskesmas wajib melakukan kegiatan sistem informasi yang dapat diselenggarakan secara elektronik maupun non elektronik. Sistem informasi puskesmas paling sedikit mencakup: pencatatan dan pelaporan kegiatan puskesmas dan jaringannya; survey lapangan; laporan lintas sektor terkait, dan laporan jejaring fasilitas layanan kesehatan di wilayah kerjanya (Menkes RI, 2014).
Penelitian Shade, et al.(2014), tentang dukungan penggunaan teknologi informasi pada perawatan, dukungan dan pengobatan penderita HIV-AIDS di layanan kesehatan, ternyata meningkatkan keberhasilan secara signifikan dalam penanggulangan HIV. Sejalan dengan penelitian di tempat lain terhadap ketersediaan sistem informasi
elektronik juga dapat meningkatkan manajemen mutu dan status kesehatan pasien HIV/AIDS di layanan kesehatan (Virga, et al., 2012). Peraturan Menkes No.21 Tahun 2013, menekankan bahwa keberhasilan dalam strategi penanggulangan HIV/AIDS di kabupaten/kota, salah satunya terselenggaranya sistem pencatatan, pelaporan, dan evaluasi dengan memanfaatkan sistem informasi (Kemenkes, 2013d, 2014b).
Rendahnya kualitas informasi dari penyedia layanan kesehatan kepada pasien terbukti sebagai penghambat kepatuhan pengobatan odha (Mills, et al., 2010). Dengan demikian, kesiapan pengembangan layanan satelit ART di puskesmas, tidak terlepas dari kesiapan dukungan sistem manajemen dan informasi HIV/AIDS, yang dikenal sebagai SIHA (Sistem Informasi HIV-AIDS).