B. Verifikasi Model
4. Model Pengembangan
Model pengembangan bertujuan untuk menentukan fokus kegiatan gapoktan yang paling menentukan. Model ini menggunakan proses hierarki analisis atau AHP sebagai metode penetapan fokus, selain itu pada model
No Uraian Bobot Nilai BxN Jumlah Kesimpulan
1 Jumlah penyaluran dana BLM-PUAP 40 5 200
2 Jumlah pengembalian pokok pinjaman 20 5 100
3 Jumlah pembayaran bunga pinjaman 20 5 100
4 Jumlah penambahan modal/aset 20 2 40
88 BAIK
SKORING HASIL PENILAIAN KINERJA GAPOKTAN MADU MAKMUR
No Uraian Bobot Nilai BxN Jumlah Kesimpulan
1 Jumlah penyaluran dana BLM-PUAP 40 5 200 2 Jumlah pengembalian pokok pinjaman 20 5 100 3 Jumlah pembayaran bunga pinjaman 20 5 100
4 Jumlah penambahan modal/aset 20 3 60
92 SANGAT BAIK
SKORING HASIL PENILAIAN KINERJA GAPOKTAN BIMO MAKMUR
No Uraian Bobot Nilai BxN Jumlah Kesimpulan
1 Jumlah penyaluran dana BLM-PUAP 40 5 200 2 Jumlah pengembalian pokok pinjaman 20 4 80 3 Jumlah pembayaran bunga pinjaman 20 4 80
4 Jumlah penambahan modal/aset 20 3 60
84 BAIK
inipun digunakan metode CPI untuk menentukan jenis usahatani yang paling menentukan.
Wawancara dilakukan terhadap tiga orang pakar yang terdiri dari Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi DI. Yogyakarta, dan Kepala Sub Direktorat Pembiayaan Agribisnis, Direktorat Pembiayaan Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian. Ketiga orang tersebut dipilih karena pada saat ini berperan langsung dalam pelaksanaan program PUAP Kementerian Pertanian. Peran ketiga pakar tersebut berturut-turut sebagai penentu kebijakan ditingkat pusat, penanggung jawab/koordinator kegiatan ditingkat provinsi, dan penanggung jawab kegiatan ditingkat pusat.
Gambar 23. Penilaian kinerja Gapoktan Sumber Makmur pada Model Kinerja di SIPK-GP 1.13
Gambar 24. Diagram aliran data level 1 pada model kinerja gapoktan
Pengolahan data Gapoktan
Detail penyaluran dan pengembalian dana Laporan perkembangan usaha Gapoktan/ PMT/PPL Pengelompokkan data
Skor kinerja dan kesimpulannya
BPTP/Pusat/ Auditor
Data penyaluran, pengembalian pokok, dan pembayaran bunga
Hasil pengolahan AHP dengan menggunakan expert choice diperoleh hasil sebagaimana tertuang pada Gambar 25. Pengolahan dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan terhadap input data dari masing-masing narasumber yang menghasilkan indeks inkonsistensi lebih dari 0,1, serta melakukan integrasi untuk skor aktor dan tujuan. Berdasarkan Gambar 25 diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap fokus usaha gapoktan yaitu potensi pemasaran dengan skor 0,479. Terpilihnya potensi pemasaran sebagai faktor yang paling berpengaruh menunjukkan bahwa dalam melakukan usaha agribisnis, faktor tersebut sangat menentukan tingkat keberhasilan usaha dibanding dengan faktor lainnya, yaitu kelayakan usaha dan potensi wilayah.
Gambar 25. Hasil perhitungan AHP dengan menggunakan expert choice Aktor yang paling berpengaruh yaitu pemangku kebijakan (Direktur Pembiayaan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian) dengan skor 0,376 diikuti oleh ketua gapoktan dengan skor 0,200. Hal ini menunjukkan bahwa pemangku kebijakan selaku pihak yang pertama memutuskan gapoktan penerima dana BLM-PUAP mempunyai peranan penting dalam keberhasilan gapoktan. Selanjutnya, ketua gapoktan selaku pimpinan atau pengambil kebijakan ditingkat gapoktan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan tingkat keberhasilan usahatani
anggota gapoktan dan keberhasilan kinerja gapoktan itu sendiri. Apabila kita mengambil ketua gapoktan sebagai aktor utama, maka tujuan yang akan menjadi prioritas yaitu peningkatan pendapatan dengan skor 0,417, sedangkan alternative usahatani terbesar pada usaha simpan pijnam dengan skor 0,282, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 26 dan 27.
Gambar 26. Prioritas tujuan apabila dipilih ketua gapoktan sebagai aktor
Gambar 27. Prioritas alternatif usahatani untuk actor ketua gapoktan dan tujuan peningkatan pendapatan
Pada unsur tujuan, prioritas utama yaitu peningkatan lapangan kerja dengan skor 0,426. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan lapangan kerja merupakan tujuan utama dari pengembangan usaha agribisnis perdesaan. Peningkatan lapangan kerja ini akan menimbulkan multiplier effect, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan pengembangan kelompok.
Secara keseluruhan, prioritas alternatif usaha gapoktan secara berturut- turut yaitu simpan pinjam (0,286), usahatani hortikultura (0,243), usahatani tanaman pangan (0,204), usahatani ternak kecil (0,149), dan usahatani ternak
besar (0,118). Akan tetapi, apabila kota khususkan pada tujuan peningkatan lapangan kerja, maka alternatif tertinggi berada pada usahatani hortikultura dengan skor sebesar disusul dengan usaha simpan pinjam sebesar 0,238 dan usahatani tanaman pangan sebesar 0,237.
Gambar 28. Alternatif usahatani pada tujuan peningkatan lapangan kerja Berdasarkan hasil pengolahan dengan menggunakan AHP maupun CPI, pada sektor on-farm, alternatif pertama fokus usaha gapoktan yaitu usahatani hortikultura, dalam hal ini cabai. Sedangkan apabila digabung dengan sektor off-farm, maka usaha simpan pinjam menjadi pilihan utama. Akan tetapi, karena pada pelaksanaan usaha simpan pinjam jenis usaha yang dilakukan anggota sangat variatif, maka pengelolaannnya sebaiknya dipisahkan dari pengelolaan usaha on-farm.
Hasil analisis ini memberi petunjuk kepada ketua kelompok tani, ketua gapoktan, PMT, dan/atau PPL untuk menganjurkan anggotanya melakukan usahatani hortikultura khususnya cabai. Hasil ini pun dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pengaturan jenis usahatani yang dilakukan anggota, sehingga tidak serta merta seluruh anggota melakukan usahatani cabai. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penurunan harga produk yang besar pada saat panen raya.
Penetapan fokus usaha dengan metode AHP pada model pengembangan memberikan fasilitas pemasukan data untuk tiga partisipan dan perhitungan gabungan sebagaimana fasilitas dalam software expert choice. Sub-sub menu pada sub menu AHP ini terdiri dari Sub-sub menu Tambah Data yang memberikan fasilitas pemasukan data goal, faktor, aktor, tujuan, dan alternatif, Sub-sub menu Perbandingan AHP yang memberikan fasilitas input data AHP berdasarkan data partisipan, serta Sub-sub menu Daftar AHP yang menampilkan hasil dari perhitungan AHP. Laman Sub-sub menu pada menu AHP seperti disajikan pada Gambar 29 sampai Gambar 31. Diagram aliran data untuk AHP disajikan pada Gambar 32.
Gambar 29. Sub-sub menu tambah data AHP pada SIPK-GP 1.13
Perhitungan data masing-masing partisipan telah sesuai dengan yang dihasilkan oleh expert choice. Sedangkan untuk perhitungan data gabungan, hasil yang diperoleh tidak sama dengan yang dihasilkan oleh expert choice, akan tetapi hasil tersebut sama dengan hasil perhitungan secara manual dengan menggunakan rumus perkalian matriks dalam excel. Selain itu, model ini belum melakukan perhitungan integrasi untuk skor alternatif terhadap goal. Seperti halnya expert choice, model ini pun belum melakukan perhitungan integrasi skor untuk aktor dan tujuan.
Gambar 31. Sub-sub menu daftar AHP pada sub menu AHP di SIPK-GP 1.13
Gambar 32. Diagram aliran data level 1 pada model pengembangan dengan AHP
Hasil penetapan fokus usaha dengan menggunakan metode CPI pada model pengembangan usaha diperoleh hasil seperti ditunjukan pada Gambar 33. Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa cabai merupakan prioritas utama fokus usaha gapoktan dengan skor sebesar 206,64. Skor hasil perhitungan dengan menggunakan sistem sama dengan perhitungan secara manual. Hal ini menunjukkan bahwa sistem telah sesuai dan dapat dipergunakan. Diagram aliran data level 1 untuk model pengemabgan dengan CPI disajikan pada Gambar 34.
Gambar 33. Perhitungan CPI pada SIPK-GP 1.13
Gambar 34. Diagram aliran data level 1 pada model pengembangan dengan CPI
Pengolahan data I
Pengolahan data II
Biaya dan penghasilan bulanan
Gapoktan/ BPTP/PMT/PPL Poktan
Detail data usahatani (biaya investasi, biaya tetap, biaya variable, dan penghasilan usahatani)
Pengelompokkan data
Nilai NPV, IRR, Net B/C, dan BEP masing-masing jenis usahatani
Penetapan fokus usaha dengan menggunakan metode CPI untuk tiga jenis usahatani utama yang dilakukan ketiga gapoktan sampel disajikan pada Tabel 20 dan 21. Berdasarkan Tabel 21, diketahui bahwa usahatani yang paling menguntungkan yaitu usahatani cabai yang termasuk dalam usahatani hortikultura. Hal ini menunjukkan bahwa penetapan fokus usaha gapoktan dengan menggunakan AHP sejalan dengan penetapan fokus melalui metode CPI.
Tabel 20. Nilai-nilai analisa kelayakan usaha untuk perhitungan CPI
Tabel 21. Perhitungan CPI untuk tiga jenis usahatani utama gapoktan