• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISIS SISTEM

5.3 Rancangbangun Model

5.3.2 Model Pengukuran kinerja

Model pengukuran kinerja bertujuan untuk menentukan nilai kinerja setiap pabrik gula. Pengukuran kinerja yang dilakukan adalah untuk kinerja input, kinerja proses, dan kinerja output yang direpresentasikan sebagai kinerja strategis, kinerja operasional, dan kinerja taktis. Pengukuran kinerja dilakukan terhadap seluruh pabrik gula. Oleh karena itu, alternatif keputusan pada model pengukuran kinerja pabrik gula adalah seluruh pabrik gula yang menjadi objek kajian.

Input model berupa basis data yang diperlukan untuk pengukuran kinerja PG. Output dari model pengukuran kinerja PG berupa nilai kinerja untuk setiap jenis kinerja seluruh PG. Pendekatan yang digunakan dalam proses pengukuran

107

kinerja pada model pengukuran kinerja PG adalah Fuzzy Expert System (FES). Adapun model konseptual pengukuran kinerja dapat dilihat pada Gambar 43.

Gambar 43 Model Konseptual Pengukuran Kinerja untuk Setiap Jenis Kinerja Kriteria yang digunakan dalam pengukuran kinerja yaitu ukuran-ukuran kinerja. Identifikasi ukuran-ukuran kinerja dilakukan melalui studi dokumentasi dilanjutkan dengan konfirmasi pakar (Lampiran 6). Ukuran-ukuran kinerja yang direkomendasikan pakar sebagai kriteria pengukuran kinerja dieavaluasi keterkaitannya. Evaluasi dilakukan berdasarkan studi dokementasi dan konfirmasi pakar (Lampiran 7). Ukuran-ukuran kinerja yang akan digunakan pada proses selanjutnya adalah ukuran-ukuran kinerja yang memiliki keterkaitan dengan visi dan misi yang dicanangkan pemerintah dan keterkaitan antar ukuran-ukuran kinerja (input-proses-output).

Nilai kinerja untuk setiap jenis kinerja (kinerja strategis, kinerja operasional, dan kinerja taktis) dikategorikan menjadi tiga yaitu kinerja tinggi, kinerja sedang, dan kinerja rendah. Kualifikasi (skala penilaian) untuk menentukan setiap kategori pada setiap jenis kinerja ditentukan berdasarkan pertimbangan pakar (Lampiran 8). Nilai kinerja untuk setiap jenis kinerja diperoleh dari aggregasi nilai ukuran kinerja yang menjadi kriteria dalam

Mesin Inferensi

Parameter

If-then rules

Ukuran kinerja strategis

Nilai kinerja strategis

Mesin Inferensi

Parameter

If-then rules

Ukuran kinerja operasional iabel :

Nilai kinerja operasional

Mesin Inferensi

Parameter

If-then rules

Ukuran kinerja taktis

Nilai kinerja taktis

108

pengukuran kinerja. Nilai setiap ukuran kinerja untuk setiap jenis kinerja dikategorikan menjadi tiga yaitu kinerja tinggi, kinerja sedang, dan kinerja rendah. Kualifikasi (skala penilaian) untuk menentukan setiap kategori pada setiap ukuran kinerja ditentukan berdasarkan studi dokumentasi dan konfirmasi pakar (Lampiran 9). Secara sederhana, agregasi nilai kinerja ditunjukkan pada Gambar 44.

Gambar 44 Agregasi Nilai Kinerja

Fungsi keanggotaan ditetapkan dengan terlebih dahulu melakukan identifikasi semesta pembicaraan, nama himpunan fuzzy, domain, jenis kurva untuk merepresentasikan himpunan fuzzy, dan parameter untuk setiap jenis kinerja. If – then – rules merupakan kaidah-kaidah yang menjelaskan relasi logika antara nilai-nilai parameter yang digunakan dan diidentifikasi berdasarkan seluruh kemungkinan kombinasi kategori nilai ukuran-ukuran kinerja untuk setiap jenis kinerja dan masukan pakar untuk kesimpulan kategori nilai kinerja. Adapun bentuk umum dari if – then – rules yang digunakan dengan ukuran kinerja 1 sampai dengan n dan jenis kinerja X adalah sebagai berikut :

If (ukuran kinerja 1 is Rendah/Sedang/Tinggi) and (ukuran kinerja n is

Rendah/Sedang/Tinggi) Then (Kinerja X is Rendah/Sedang/Tinggi)

Kinerja Op erasional Ukuran-ukuran kinerja op erasional Rendah Sedang Tinggi Rendah Tinggi Sedang Kinerja Strategis Ukuran-ukuran kinerja strategis Rendah Sedang Tinggi Rendah Tinggi Sedang Kinerja Taktis Ukuran-ukuran kinerja taktis Rendah Sedang Tinggi Rendah Tinggi Sedang

109

Identifikasi awal ukuran-ukuran kinerja yang akan digunakan disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan yaitu melakukan identifikasi terhadap ukuran- ukuran kinerja input, proses dan output. Ukuran-ukuran kinerja input terkait dengan kemampuan sumberdaya. Ukuran-ukuran kinerja proses terkait dengan tugas-tugas manufaktur. Ukuran-ukuran kinerja output terkait dengan prioritas kompetisi.

Pemilihan faktor-faktor yang akan digunakan untuk mengidentifikasi lebih lanjut ukuran-ukuran kinerja yang digunakan disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi dan hasil identifikasi kebutuhan untuk rancangbangun model analisis perbaikan kinerja. Berdasarkan kondisi riil pabrik gula pada umumnya, dan hasil tinjauan pustaka dilakukan identifikasi awal ukuran (variabel) kinerja untuk setiap jenis kinerja. Identifikasi awal menghasilkan 13 ukuran kinerja untuk seluruh jenis kinerja yaitu : 1) kualifikasi tenaga kerja, 2) tingkat turn over tenaga kerja, 3) banyaknya jumlah pelatihan yang diikuti tenaga kerja, 4) umur mesin, 5) kapasitas giling, 6) jumlah tebu, 7) kualitas tebu, 8) hilang dalam proses, 9) jam henti giling, 10) overall recovery, 11) efisiensi ketel, 12) hablur gula, dan 13) rendemen.

Selanjutnya, berdasarkan diskusi dan konfirmasi pakar yang terdiri dari praktisi pabrik gula dan peneliti dari P3GI, ukuran kinerja yang akan digunakan hanya berjumlah 10 ukuran kinerja dengan perincian empat ukuran kinerja untuk kinerja strategis, empat ukuran kinerja untuk kinerja operasional, dan dua ukuran kinerja untuk kinerja taktis. Tiga ukuran kinerja yang terkait dengan sumber daya insani tidak digunakan dengan pertimbangan 1) di setiap PG sudah memiliki SOP untuk proses pengolahan, dan 2) rendahnya ketersediaan data untuk proses validasi. Hasil identifikasi keterkaitan ukuran kinerja ditunjukkan pada Gambar 45.

Keterkaitan ukuran kinerja dengan misi dan visi memastikan bahwa visi 2025 dapat tercapai dengan melakukan perbaikan. Selain itu, keterkaitan antar ukuran kinerja akan memudahkan proses perbaikan yang harus dilakukan terhadap ukuran kinerja yang tidak mencapai standar yang dipesyaratkan atau bernilai lebih kecil dari pembanding.

110 Kapasitas Giling Umur Mesin Jumlah Tebu Kualitas Tebu INPUT STRATEGIS Overall Recovery Efisiensi Ketel Kehilangan dalam Proses Jam Henti Giling PROSES OPERASIONAL Hablur Gula Rendemen OUTPUT PRODUKTIVITAS EFISIENSI

MISI ke-2 Industri Gula Nasional 2025

Visi Industri Gula Nasional 2025

TAKTIS STRATEGI

Gambar 45 Keterkaitan Ukuran Kinerja

Berdasarkan hasil identifikasi dan konfirmasi pakar maka kriteria keputusan yang digunakan untuk menentukan nilai kinerja adalah sepuluh ukuran kinerja. Untuk nilai kinerja strategis digunakan ukuran kinerja berdasarkan ukuran umur mesin, kapasitas giling, jumlah tebu, dan kualitas tebu. Untuk nilai kinerja operasional digunakan ukuran kinerja berdasarkan ukuran hilang dalam proses, jam henti giling, overall recovery, dan efisiensi ketel. Adapun untuk nilai kinerja taktis digunakan ukuran kinerja berdasarkan ukuran jumlah hablur gula, dan rendemen. Bobot kriteria untuk pengukuran kinerja pabrik gula ditetapkan berdasarkan pertimbangan pakar yaitu sama penting untuk seluruh kriteria yang digunakan atau sama penting untuk seluruh ukuran kinerja yang digunakan. Adapun jenis kinerja, ukuran kinerja dan satuan secara lengkap seperti yang terlihat pada Tabel 8.

111

Tabel 8 Jenis Kinerja, Ukuran Kinerja, dan Satuan

Kinerja Ukuran Kinerja Satuan Strategis Umur Mesin (UM) Tahun

Kapasitas Giling (KG) Ton Tebu Hari

Operasional

Taktis

Jumlah Tebu (JT)

Kualitas Tebu (KT) Hilang dalam Proses (HP)

Jam Henti Giling (JHG) Overall Recovery (OR) Efisiensi Ketel (EK) Hablur Gula (HG) Rendemen (R) % Pol % tebu % pol hilang % % % Ton / Ha % kristal tebu

Uraian singkat mengenai setiap ukuran kinerja adalah sebagai berikut :

Umur Mesin (UM)

Umur mesin merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan rerata umur mesin yang dimiliki pabrik gula dan dinyatakan dalam tahun. Umur mesin berpengaruh terhadap kinerja pabrik gula, semakin kecil rerata umur mesin yang dimiliki akan menyebabkan pabrik gula lebih efisien.

Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan 1) tingkat keberhasilan mesin baru yang melakukan pemerahan nira mencapai 94% sedangkan mesin lama (tua) maksimal hanya mencapai 91%, 2) di lihat dari penggunaan uap untuk menggerakkan turbin untuk mengolah 1 kuintal tebu mesin baru hanya membutuhkan 0,4 kilogram uap sedangkan mesin lama membutuhkan 0,7 kilogram (Prihandana 2005), 3) ketel (boiler) pada mesin baru efisiensinya

mencapai ≥ 78% dengan produksi uap per kilogram ampas ≥ 2,1 kg sedangkan mesin lama efisiensinya ≥ 68% dengan produksi uap per kilogram ampas ≥ 1,95

kg (disbunjatim 2008), dan 4) biaya produksi gula per unit pada pabrik gula berskala kecil jauh lebih tinggi

dibandingkan dengan pabrik gula berskala besar atau bermesin relatif baru (Sawit

et al 2004).

Kapasitas Giling (KG)

Kapasitas giling merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan kapasitas (terpasang) giling yang dimiliki pabrik gula dan dinyatakan dalam Ton Cane Day

112

(TCD). Kapasitas giling merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja (efisiensi) pabrik gula (Moerdokusumo 1993; Prihandana 2005; Khudori 2005; Efendi 2009). Kapasitas giling berpengaruh terhadap kinerja pabrik gula mengingat besarnya biaya giling yang dibutuhkan, kapasitas yang rendah akan menyebabkan kinerja pabrik gula rendah (Prihandana 2005). Biaya produksi gula per unit pada pabrik gula berskala kecil jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pabrik gula berskala (kapasitas) besar atau bermesin relatif baru (Sawit et al

2004).

Jumlah Tebu (JT)

Jumlah tebu merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan banyaknya tebu yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan jumlah tebu sesuai dengan kapasitas (terpasang) giling yang dimiliki pabrik gula dan dinyatakan dalam persen (%). Kinerja pabrik gula sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas bahan baku (LPPM IPB 2002). Kekurangan jumlah tebu dapat menyebabkan kapasitas giling tidak dipakai secara maksimal dan akan meningkatkan jam henti giling, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kinerja pabrik gula (Moerdokusumo 1993).

Kualitas Tebu (KT)

Kualitas tebu merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan potensi sukrosa dalam tebu dan dinyatakan dalam pol % tebu.

Kinerja pabrik gula sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas bahan baku (LPPM IPB 2002). Menggiling tebu yang berkualitas rendah akan memberatkan instalasi pabrik gula dan merupakan cara yang boros dan tidak ekonomis (Moerdokusumo 1993).

Hilang dalam Proses (HP)

Hilang dalam proses merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan banyaknya potensi gula yang hilang selama proses produksi dan dinyatakan dalam persen (% pol hilang). Kehilangan gula selama proses di pabrik gula terjadi pada proses pasca panen (dekomposisi), stasiun gilingan (ikut ampas dan inversi

113

) dan proses pabrikasi yang terdiri dari empat jenis yaitu : 1) gula hilang akibat ikut blotong, 2) gula hilang akibat ikut tetes, 3) gula hilang akibat kerusakan kimiawi, 4) gula hilang akibat bocoran-bocoran. Adapun kehilangan yang terjadi ditunjukkan pada Gambar 46.

Gambar 46 Diagram Kehilangan Gula selama Proses di Pabrik Gula

Jam Henti Giling (JHG)

Jam Henti Giling merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan lamanya waktu berhenti giling dibandingkan dengan waktu giling yang seharusnya dan dinyatakan dalam persen (%).

Overall Recovery (OR)

Overall Recovery merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan efisiensi pabrik gula secara keseluruhan dan dinyatakan dalam persen (%). Lembaga Penelitian IPB (2002) menyatakan bahwa Overall Recovery merupakan ukuran efisiensi teknis pabrik gula.

Proses produksi gula dinilai berdasarkan efisiensi dan utilitas proses produksi. Terkait dengan efisiensi, terdapat dua unit operasi yang harus diperhatikan (disbunjatim 2008) yaitu stasiun gilingan dan stasiun pengolahan. Indikator kinerja gilingan dinyatakan ME (Mill Extraction = kemampuan gilingan

Kebun Tebu

Gilingan

Nira Mentah

Proses Pabrikasi Gula

Proses p asca p anen

Kehilangan gula (dekomposisi)

Kehilangan gula ikut amp as dan inverse

Gula

Kehilangan gula ikut blotong, ikut tetes dan inverse Amp as Inverse Blotong Tetes Inverse

114

dalam mengekstrak sukrosa daribatang tebu) dengan nilai standar > 95%, sedangkan indikator kinerja pengolahan dinyatakan dengan BHR (Boilling House Recovery = menunjukkan seberapa banyak sukrosa dalam nira dapat dikristalkan) dengan nilai standar > 85%.

Apabila nilai ME di bawah standar menunjukkan bahwa proses pemerahan nira berlangsung kurang optimal, sedangkan jika nilai BHR di bawah standar menunjukkan bahwa telah terjadi kehilangan gula (dinyatakan dalam pol hilang % tebu. Kinerja stasiun gilingan dan stasiun pengolahan ini juga menunjukkan efisiensi pabrik gula secara keseluruhan yang dinyatakan sebagai OR (Overall Recovery) dengan nilai standar > 87%. Hubungan antara kinerja stasiun gilingan, stasiun pengolahan, dan efisiensi pabrik gula secara keseluruhan adalah sebagai berikut : OR = ME x BHR.

Efisiensi Ketel (EK)

Efisiensi ketel merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan perbandingan persentase antara panas yang dipindahkan ke dalam uap dan panas yang tersedia dalam bahan bakar dan dinyatakan dalam persen (%). Proses produksi gula dinilai berdasarkan efisiensi dan utilitas proses produksi. Pada utilitas proses perlu diperhatikan efisiensi ketel uap. Hal tersebut juga diperkuat dengan penyataan dari Lembaga Penelitian IPB (2002) bahwa efisiensi ketel merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada kinerja pengolahan.

Hablur Gula (HG)

Hablur gula merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan banyaknya gula yang dihasilkan dibandingkan dengan luas areal tebu yang dihasilkan pabrik gula dan dinyatakan dalam ton per hektar (ton/ha). Hablur gula menunjukkan ukuran produktivitas pabrik gula.

Rendemen (R)

Rendemen menunjukkan ukuran efisiensi pabrik gula. Rendemen merupakan ukuran kinerja yang menunjukkan jumlah sukrosa dalam tebu yang

115

dapat dikristalkan menjadi gula dan dinyatakan dalam persen (%). Nilai rendemen tergantung pada kualitas bahan baku dan efisiensi pabrik.

Adapun model pengukuran kinerja untuk setiap jenis kinerja seperti yang ditunjukkan pada Gambar 47.

Gambar 47 Model Pengukuran Kinerja

Berdasarkan hasil diskusi dan konfirmasi pakar ditetapkan kualifikasi (skala penilaian untuk menentukan kategori nilai) kinerja pabrik gula pada masing-masing jenis kinerja. Terdapat tiga kategori nilai kinerja yaitu kinerja rendah, kinerja sedang, dan kinerja tinggi. Skala penilaian berupa skala rasio dengan pertimbangan bahwa nilai kinerja (untuk setiap jenis kinerja) merupakan ukuran yang sebenarnya, memiliki titik nol, dan antara kinerja pabrik gula yang satu dengan yang lain memiliki unsur jarak yang disebut dengan selisih nilai kinerja. Adapun kualifikasi kinerja untuk setiap jenis kinerja ditunjukkan pada Tabel 9.

Berdasarkan hasil diskusi dan konfirmasi pakar ditetapkan kualifikasi (skala penilaian untuk menentukan kategori pada masing-masing) ukuran kinerja. Terdapat tiga kategori nilai untuk setiap ukuran kinerja yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Skala penilaian berupa skala rasio dengan pertimbangan bahwa nilai

Mesin Inferensi

Parameter

If-then rules

Nilai Variabel :

Umur mesin, kapasitas giling, jumlah tebu,

kualitas tebu

Nilai kinerja strategis

Mesin Inferensi

Parameter

If-then rules

Nilai Variabel :

Hilang dalam proses, Jam henti giling, Overall Recovery, Efisiensi ketel

Nilai kinerja operasional

Mesin Inferensi Parameter If-then rules hablur gula, rendemen Nilai kinerja taktis

116

ukuran kinerja (untuk setiap jenis ukuran kinerja) merupakan ukuran yang sebenarnya, memiliki titik nol, dan antara ukuran kinerja pabrik gula yang satu dengan yang lain memiliki unsur jarak yang disebut dengan selisih nilai ukuran kinerja. Adapun kualifikasi ukuran kinerja pada setiap jenis kinerja ditunjukkan pada Tabel 10.

Tabel 9 Kualifikasi Kinerja Pabrik Gula

Kinerja Rendah Sedang Tinggi

Strategis (KS) KS ≤ 55 55 < KS < 75 KS ≥ 75 Operasional (KO) KO ≤ 55 55 < KO <75 KO ≥ 75 Taktis (KT) KT ≤ 55 55 < KT < 75 KT ≥ 75

Tabel 10 Kualifikasi Ukuran Kinerja

Ukuran Kinerja Rendah Sedang Tinggi

Umur Mesin (UM) UM ≥ 7 5 < UM < 7 UM ≤ 5 Kapasitas Giling (KG) KG ≤ 3000 3000 < KG < 6000 KG ≥ 6000 Jumlah Tebu (JT)

Kualitas Tebu (KT) Hilang dalam Proses (HP)

Jam Henti Giling (JHG) Overall Recovery (OR) Efisiensi Ketel (EK) Hablur Gula (HG) Rendemen (R) JT ≤ 83 KT ≤ 9 HP ≥ 7 JHG ≥ 5 OR ≤ 75 EK ≤ 70 HG ≤ 6 R ≤ 6 83 < JT < 96 9 < KT < 11 5 < HP < 7 2,5 < JHG < 5 75 < OR < 85 70 < EK < 80 6 < HG < 8 6 < R < 10 JT ≥ 96 KT ≥ 11 HP ≤ 5 JHG ≤ 2,5 OR ≥ 85 EK ≥ 80 HG ≥ 8 R ≥ 10

Hirarki keputusan pengukuran kinerja dapat di lihat pada Gambar 47 di bawah ini :

Gambar 48 Hirarki Keputusan Pengukuran Kinerja

Pengukuran Kinerja Pabrik Gula Kinerja Strategis Kinerja Operasional Goal Kriteria Alternatif PG ... PG 3 PG 2 PG 1 PG n Kinerja Taktis UM KG JT KT HP JHG OR EK HG R

117

Matriks keputusan pengukuran kinerja untuk setiap jenis kinerja ditentukan berdasarkan kualifikasi setiap ukuran kinerja seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11 untuk kinerja strategis, Tabel 12 untuk kinerja operasional dan Tabel 13 untuk kinerja taktis. Setiap ukuran kinerja dapat memiliki kategori nilai rendah (R), sedang (S), atau tinggi (T).

Tabel 11 Matriks Keputusan untuk Kinerja Strategis Alternatif Kriteria

Umur Kapasitas Jumlah Kualitas Pabrik mesin giling tebu tebu

PG 1 R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T PG 2 R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T

PG ... R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T PG n R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T

Tabel 12 Matriks Keputusan untuk Kinerja Operasional Alternatif Kriteria Pabrik Hilang Dalam proses Jam henti giling Overall recovery Efisiensi ketel PG 1 R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T PG 2 R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T PG .. R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T PG n R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T R atau S atau T

Tabel 13 Matriks Keputusan untuk Kinerja Taktis Alternatif Kriteria

Jumlah Rendemen Pabrik hablur

PG 1 R atau S atau T R atau S atau T PG 2 R atau S atau T R atau S atau T PG .. R atau S atau T R atau S atau T PG n R atau S atau T R atau S atau T

118

Semesta pembicaraan, himpunan fuzzy dan domain untuk kinerja strategis secara lengkap ditunjukkan pada Tabel 14 berikut ini :

Tabel 14 Semesta Pembicaraan, Himpunan Fuzzy dan Domain Kinerja Strategis

Fungsi Variabel Semesta Nama Domain

(Ukuran Pembicaraan Himpunan

kinerja) Fuzzy

Input Umur mesin [0,20] Rendah [7,20]

Sedang [5,7 ]

Tinggi [0,5 ]

Kapasitas [0,8000] Rendah [ 0,3000]

Giling Sedang [3000,6000]

Tinggi [6000,8000]

Jumlah tebu [ 0, 120] Rendah [ 0,83 ] Sedang [83,96 ]

Tinggi [96,120]

Kualitas tebu [0,15] Rendah [ 0,9] Sedang [ 9,11]

Tinggi [11,15]

Output Kinerja strategis [0,100] Rendah [ 0 , 55] Sedang [ 55, 75]

Tinggi [75,100]

Semesta pembicaraan, himpunan fuzzy dan domain untuk kinerja taktis secara lengkap ditunjukkan pada Tabel 15 dan untuk kinerja operasional pada Tabel 16.

Tabel 15 Semesta Pembicaraan, Himpunan Fuzzy, Domain Kinerja Taktis

Fungsi Variabel Semesta Nama Domain

(Ukuran Pembicaraan Himpunan

kinerja) Fuzzy

Input Jumlah hablur [0,12] Rendah [ 0, 6] Sedang [ 6, 8]

Tinggi [8,12]

119

Sedang [ 6, 8]

Tinggi [8,14]

Output Kinerja Taktis [0,100] Rendah [0 , 55] Sedang [55, 75]

Tinggi [75,100]

Tabel 16 Semesta Pembicaraan, Himpunan Fuzzy, Domain Kinerja Operasional

Fungsi Variabel Semesta Nama Domain (Ukuran Pembicaraan Himpunan

kinerja) Fuzzy Input Hilang dalam [0,10] Rendah [8,10]

proses Sedang [ 6,8 ] Tinggi [ 0,6 ] Jam henti [0,15] Rendah [5,15] giling Sedang [2.5 , 5] Tinggi [0, 2.5] Overall [ 0, 100] Rendah [ 0,75 ] recovery Sedang [75,85 ] Tinggi [85,100] Efisiensi [0,100] Rendah [ 0,70] ketel Sedang [ 70,80] Tinggi [80,100] Output Kinerja [0,100] Rendah [ 0 , 55] operasional Sedang [ 55, 75] Tinggi [75,100]

Fungsi keanggotaan direpresentasikan dalam bentuk kurva yang menunjukkan pemetaan titik-titik input data (setiap nilai ukuran kinerja) ke dalam nilai keanggotaannya (derajat keanggotaan) yang memiliki interval antara nol sampai dengan satu. Adapun bentuk kurva merupakan gabungan antara kurva segitiga dan kurva bahu. Jenis kurva untuk himpunan fuzzy rendah dan tinggi adalah bentuk bahu, sedangkan untuk himpunan fuzzy sedang yaitu bentuk segitiga.

120

Berikut ini adalah jenis representasi kurva setiap variabel atau ukuran kinerja strategis.

Tabel 17 Jenis Representasi Kurva setiap Ukuran Kinerja untuk Kinerja Strategis Fungsi Variabel Nama Jenis Parameter

(Ukuran Himpunan kurva

kinerja) Fuzzy Input Umur mesin Rendah Bahu [6 7 20 20]

Sedang Segitiga [ 5 6 7 ] Tinggi Bahu [0 0 5 6 ] Kapasitas Rendah Bahu [0 0 3000 4000] Giling Sedang Segitiga [3000 4000 6000]

Tinggi Bahu [4000 6000 8000 8000]

Jumlah tebu Rendah Bahu [0 0 83 89]

Sedang Segitiga [83 89 96 ] Tinggi Bahu [89 96 120 120]

Kualitas tebu Rendah Bahu [0 0 9 10]

Sedang Segitiga [ 9 10 11] Tinggi Bahu [10 11 15 15] Output

Kinerja

strategis Rendah Bahu [0 0 55 65]

Sedang Segitiga [ 55 65 75]

Tinggi Bahu [65 75 100 100]

Jenis representasi kurva setiap variabel atau ukuran kinerja untuk kinerja taktis ditunjukkan pada Tabel 18.

Tabel 18 Jenis Representasi Kurva setiap Ukuran Kinerja untuk Kinerja Taktis

Fungsi Variabel Nama Jenis Parameter (Ukuran Himpunan kurva

kinerja) Fuzzy Input Jumlah hablur Rendah Bahu [ 0 0 6 7]

Sedang Segitiga [ 6 7 8 ] Tinggi Bahu [7 8 12 12] Rendemen Rendah Bahu [ 0 0 6 7]

Sedang Segitiga [ 6 7 8 ] Tinggi Bahu [7 8 14 14] Output Kinerja Taktis Rendah Bahu [0 0 55 65] Sedang Segitiga [55 65 75] Tinggi Bahu [65 75 100 100]

121

Sedangkan jenis representasi kurva setiap variabel atau ukuran kinerja untuk kinerja operasional ditunjukkan pada Tabel 19.

Tabel 19 Jenis Representasi Kurva setiap Ukuran Kinerja untuk Kinerja Operasional

Fungsi Variabel Nama Jenis Parameter (Ukuran Himpunan kurva

kinerja) Fuzzy Input Hilang Rendah Bahu [7 8 10 10]

dalam Sedang Segitiga [ 6 7 8 ] proses Tinggi Bahu [0 0 6 7] Jam henti Rendah Bahu [3.75 5 15 15] giling Sedang Segitiga [2.5 3.75 5] Tinggi Bahu [0 0 2.5 3.75] Overall Rendah Bahu [0 0 75 80] recovery Sedang Segitiga [75 80 85 ] Tinggi Bahu [80 85 100 100] Efisiensi Rendah Bahu [0 0 70 75] ketel Sedang Segitiga [ 70 75 80] Tinggi Bahu [75 80 100 100] Output Kinerja Rendah Bahu [ 0 0 55 65]

operasional Sedang Segitiga [ 55 65 75] Tinggi Bahu [65 75 100 100]

Adapun representasi kurva dapat di lihat pada Lampiran 10,11, dan 12.

Jumlah rules (aturan-aturan) yang memungkinkan digunakan untuk setiap jenis kinerja sesuai dengan jumlah ukuran kinerja dan jumlah kategori nilai kinerja yaitu 81 (34) aturan untuk kinerja strategis, 81 (34) aturan untuk kinerja operasional, dan sembilan (32) aturan untuk kinerja taktis. Untuk menjamin konsistensi aturan kinerja strategis dan kinerja operasional, maka berdasarkan pertimbangan pakar (Lampiran 13 dan 14) ditetapkan 15 aturan baku. Aturan- aturan yang digunakan sebagai kriteria untuk menentukan nilai kinerja taktis adalah sebagai berikut :

1. If (Jumlah Hablur Gula is Rendah) and (Rendemen is Rendah) then

122

2. If (Jumlah Hablur Gula is Rendah) and (Rendemen is Sedang) then

(Kinerja Taktis is Rendah)

3. If (Jumlah Hablur Gula is Rendah) and (Rendemen is Tinggi) then

(Kinerja Taktis is Sedang)

4. If (Jumlah Hablur Gula is Sedang) and (Rendemen is Sedang) then

(Kinerja Taktis is Sedang)

5. If (Jumlah Hablur Gula is Tinggi) and (Rendemen is Rendah) then

(Kinerja Taktis is Sedang)

6. If (Jumlah Hablur Gula is Tinggi) and (Rendemen is Sedang) then

(Kinerja Taktis is Sedang)

7. If (Jumlah Hablur Gula is Tinggi) and (Rendemen is Tinggi) then (Kinerja Taktis is Tinggi)

8. If (Jumlah Hablur Gula is Sedang) and (Rendemen is Rendah) then

(Kinerja Taktis is Rendah)

9. If (Jumlah Hablur Gula is Sedang) and (Rendemen is Tinggi) then

(Kinerja Taktis is Sedang)

Aturan-aturan yang memungkinkan digunakan sebagai kriteria untuk menentukan nilai kinerja strategis dan operasional untuk setiap pabrik gula dapat di lihat pada Lampiran 15 dan Lampiran 16. Adapun skema pengambilan keputusan pengukuran kinerja pabrik gula ditunjukkan pada Gambar 49.

Dokumen terkait