Kajian aktuaria ini memanfaatkan penggunaan metodologi komprehensif yang dikembangkan oleh layanan aktuaria dari ILO untuk mengkaji status aktuaria dan keuangan dalam skema pensiun nasional jangka panjang. Kajian ini dilakukan dengan memodifikasi versi generik dari model ILO sesuai dengan situasi BPJS. Model ini meliputi model populasi, ekonomi, tenaga kerja, upah, manfaat jangka panjang dan keuntungan jangka pendek.
1 Model perkembangan demografi dan ekonomi
Penggunaan model proyeksi aktuaria ILO membutuhkan pengembangan asumsi demografis dan ekonomi yang terkait dengan populasi umum, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja dan peningkatan dan distribusi upah. Asumsi ekonomi lainnya terkait dengan masa depan tingkat imbal hasil investasi, indeksasi manfaat dan penyesuaian parameter, seperti maksimum pendapatan maksimum yang diasuransikan dan manfaat manfaat tingkat-tetap.
Pemilihan asumsi untuk proyeksi memperhitungkan pengalaman BPJS sejauh ini hingga tersedianya informasi ini. Asumsi ini dipilih untuk mencerminkan tren jangka panjang dan tidak memberikan bobot yang tidak semestinya bagi pengalaman sejauh ini. Penjelasan rinci tentang asumsi demografi dan ekonomi disajikan pada Lampiran 2.
2 Populasi umum
Proyek populasi umum dimulai dengan data terbaru pada populasi umum, dan menerapkan asumsi yang sesuai untuk kematian, kesuburan dan migrasi.
3 Pertumbuhan ekonomi dan inflasi
Peningkatan produktivitas tenaga kerja dan tingkat inflasi merupakan masukan eksogenus untuk model ekonomi. Ttingkat pertumbuhan ekonomi riil berasal dari penggunaan model proyeksi ekonomi ILO.
4 Populasi aktif dan populasi pekerja
Proyeksi angkatan kerja, yaitu jumlah orang yang tersedia untuk pekerjaan, diperoleh dengan menerapkan asumsi tingkat partisipasi angkatan kerja terhadap proyeksi jumlah orang dalam populasi umum. Tingkat pengangguran diasumsikan untuk masa depan, dan kerja agregat dihitung sebagai perbedaan antara angkatan kerja dan pengangguran. Pertumbuhan populasi tertanggung asuransi terkait dengan pertumbuhan penduduk yang bekerja. Dalam model ini, populasi tertanggung asuransi yang diproyeksikan dimulai dengan data terkini tentang peserta tertanggung asuransi, dan kemudian menerapkan tingkat kematian, disabilitas dan pensiun yang sesuai.
5 Upah
Berdasarkan alokasi total PDB terhadap pendapatan modal dan pendapatan tenaga kerja, upah rata-rata awal biasanya dihitung dengan membagi pangsa upah dari PDB dengan jumlah total yang digunakan. Dalam jangka menengah, pengembangan upah riil berkembang sesuai pertumbuhan produktivitas tenaga kerja. Dalam situasi pasar tenaga kerja tertentu, upah mungkin tumbuh lebih cepat atau lebih lambat dari produktivitas. Namun, karena perspektif jangka panjang dari kajian ini, kenaikan upah riil diasumsikan secara bertahap menyatu dengan produktivitas tenaga kerja riil. Diharapkan bahwa upah akan menyesuaikan diri dengan tingkat efisiensi dari waktu ke waktu. Dalam model ini, untuk memperhitungkan perspektif jangka panjang dari perhitungan aktuaria, kenaikan upah riil jangka panjang didasarkan pada asumsi jangka panjang yang sejalan dengan asumsi yang diamati pada penilaian aktuaria lain dan pandangan jangka panjang ekonomi.
Asumsi distribusi upah juga dibutuhkan untuk mensimulasikan kemungkinan dampak dari sistem perlindungan sosial pada distribusi pendapatan, misalnya, melalui ketentuan pensiun minimum dan maksimum. Data upah berdasarkan usia dan jenis kelamin serta pada sebaran upah yang digunakan dalam proyeksi. Rata-rata pendapatan, yang digunakan dalam perhitungan manfaat, juga diproyeksikan.
6 Pemodelan pengembangan keuangan skema asuransi sosial
Kajian aktuaria ini membahas semua pendapatan dan pengeluaran barang dari jaminan (pensiun) jangka panjang. Proyeksi untuk pensiun yang dibuat secara terpisah untuk setiap jenis kelamin.
7 Maksud proyeksi pensiun
Maksud dari model pensiun ada dua. Pertama, digunakan untuk menilai kelayakan keuangan cabang program. Hal ini mengacu pada ukuran keseimbangan jangka panjang skema antara pendapatan dan pengeluaran. Dalam kasus ketidakseimbangan, revisi tingkat iuran atau struktur manfaat dianjurkan. Kedua, model dapat digunakan untuk menguji dampak keuangan dari beberapa pilihan reformasi yang berbeda, sehingga membantu pembuat kebijakan dalam merancang ketentuan manfaat dan pembiayaan. Lebih spesifik, model digunakan untuk mengembangkan proyeksi jangka panjang pengeluaran dan pendapatan yang diasuransikan di bawah skema, untuk tujuan:
1. menilai pilihan untuk membangun sebuah kontinjensi atau cadangan teknis;
2. mengusulkan jadwal tingkat iuran yang konsisten dengan tujuan pendanaan;
3. menguji bagaimana sistem bereaksi terhadap perubahan kondisi ekonomi dan demografis, dan
4. menganalisis dampak keuangan dari modifikasi yang mungkin untuk skema.
8 Data pensiun dan asumsi
Proyeksi pensiun memerlukan kerangka demografis dan ekonomi makro yang sudah dijelaskan dan, di samping itu, satu set asumsi spesifik untuk skema asuransi sosial.
Pangkalan data, pada tanggal penilaian, termasuk populasi tertanggung asuransi dengan status aktif dan tidak aktif, distribusi upah yang diasuransikan antara pembayar iuran dan distribusi masa kerja yang telah lewat dan pensiun dalam pembayaran. Data yang dipilah berdasarkan usia dan jenis kelamin.
Asumsi skema khusus, seperti tingkat insiden disabilitas dan distribusi pensiun berdasarkan usia, ditentukan dengan mengacu pada ketentuan skema dan pengalaman sejarah skema. Data dan asumsi spesifik untuk BPJS disajikan pada Lampiran 2.
9 Pendekatan proyeksi pensiun
Proyeksi pensiun yang dibuat mengikuti metodologi kohort tahun-demi-tahun. Populasi yang ada menua dan secara gradual digantikan oleh kohort (sekelompok orang) peserta secara tahunan sesuai dengan asumsi demografis dan cakupan. Proyeksi pendapatan diasuransikan dan pengeluaran manfaat kemudian dibuat sesuai dengan asumsi ekonomi dan ketentuan skema.
Pensiun adalah manfaat jangka panjang. Oleh karena itu, kewajiban keuangan yang masyarakat terima ketika mengadopsi ketentuan pembiayaan dan manfaat untuk mereka juga bersifat jangka panjang. Partisipasi dalam skema pensiun membentang melingkupi kehidupan dewasa secara utuh, baik sebagai pengiur ataupun penerima manfaat, yakni hingga 70 tahun untuk seseorang yang memasuki skema pada usia 16 tahun, pensiun pada usia 65 tahun dan meninggal sekitar 20 tahun atau lebih kemudian. Selama tahun bekerja mereka, pembayar iuran secara bertahap membangun hak atas pensiun yang akan dibayar bahkan setelah kematian mereka, untuk ahli waris mereka.
Bukan merupakan tujuan dari proyeksi pensiun untuk meramalkan perkembangan yang tepat dari pendapatan dan pengeluaran skema, tapi ini hanya untuk memverifikasi kelayakan keuangan, termasuk ini perlunya mengevaluasi skema berkaitan dengan keseimbangan relatif antara pendapatan dan pengeluaran di masa depan. Jenis evaluasi sangat penting, terutama dalam kasus BPJS, yang belum mencapai tahap jatuh tempo.
LAMPIRAN 4