Aturan jaminan sosial menetapkan bahwa tingkat iuran harus tetap sehingga total pendapatan dapat menutupi biaya teknis serta administrasi. Selain itu dana dalam jumlah tertentu sebagai cadangan harus tersedia. Namun, ada berbagai faktor yang akan mempengaruhi tercapainya tujuan ini:
w Peningkatan alami dalam tingkat pengeluaran jangka panjang, terutama untuk skema baru;
w Keinginan untuk memiliki tingkat iuran yang stabil sehingga pekerja dan pengusaha tetap berada dalam skema, dan memiliki tingkat iuran yang tidak membebani iuran anggota dari skema; dan
w Durasi periode keseimbangan dan tingkat cadangan yang harus dipertahankan untuk setiap periode keseimbangan.
Sistem pendanaan parsial biasanya diadopsi untuk pembiayaan skema pensiun jaminan sosial. Ini tampaknya menjadi pilihan untuk skema pensiun baru di Indonesia. Pada awalnya periode tertentu biasanya harus dipilih sebagai periode keseimbangan untuk mempertahankan tingkat iuran awal. Selama periode ini, harus ada pendapatan yang memadai, termasuk iuran, untuk membayar semua manfaat dan biaya administrasi serta dana yang dipergunakan untuk cadangan.
Jika periode keseimbangan berlangsung lama, tingkat iuran dari periode keseimbangan kedua bisa menjadi sangat tinggi. Untuk menghindari situasi ini, disarankan untuk secara bertahap menaikkan iuran. Penilaian aktuaria perlu dilakukan secara rutin dan berkala guna memantau situasi keuangan skema dan melakukan penyesuaian yang diperlukan. Jika tingkat iuran tidak disesuaikan dengan benar, hal ini dapat membebani pembayar iuran generasi mendatang, dan/atau manfaat yang diberikan kemungkinan jauh berkurang di masa depan. Penyesuaian terhadap skema harus direncanakan terlebih dahulu dengan menggunakan penilaian aktuaria secara berkala guna menghindari perubahan drastis pada tingkat iuran masa depan, begitu pula manfaatnya.
Periode keseimbangan serta tingkat minimum cadangan idealnya harus dimasukkan ke dalam undang-undang dan peraturan dan/atau kebijakan pendanaan dari sistem pensiun baru. Hal ini akan membantu membangun landasan bersama bagi setiap pemangku kepentingan untuk menghindari situasi di mana tujuan-tujuan utama bisa berubah dari satu penilaian aktuaria ke
Banyak skema pensiun memiliki kebijakan pendanaan. Kebijakan pendanaan merupakan rencana jangka panjang tentang pendanaan dan pembiayaan skema pensiun. Banyak skema pensiun memiliki kebijakan investasi, yaitu rencana jangka panjang tentang investasi terkait cadangan. Skema pensiun juga harus memiliki dokumen yang menyatakan tujuan pendanaan dan bagaimana skema harus dibiayai untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebuah kebijakan pendanaan akan mengklarifikasi banyak unsur terkait pendanaan skema.
Pertama, jenis pendanaan akan secara gamblang dijelaskan. Skema pensiun baru ini di Indonesia merupakan skema jaminan sosial yang sebagian didanai dari akumulasi cadangan, yang berarti cadangan tidak akan menanggung semua kewajiban skema di masa depan. Iuran masa depan dari pekerja dan pengusaha diperlukan untuk membayar manfaat masa depan, namun cadangan dibentuk untuk membantu peningkatan tingkat iuran secara bertahap. Skema ini bergantung pada iuran masa depan, yang juga tergantung pada tingkat kesempatan kerja dan upah, serta pendapatan investasi. Sebagai contoh, jika tingkat pekerjaan dan upah lebih rendah dari yang diharapkan, jadwal peningkatan iuran perlu dipercepat. Namun, tidak secepat dalam kasus skema yang dijalankan secara PAYG yang tidak memiliki cadangan. Penjelasan resmi dari metode pendanaan akan memperkuat transparansi dan kejelasan skema dan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada para pemangku kepentingan19.
Kebijakan pendanaan juga akan menentukan risiko skema, dan bagaimana risiko tersebut diminimalisir dan dibagi di antara para pemain yang berbeda. Jika terjadi penurunan lapangan kerja, cadangan dan pendapatan investasi terhadap aset dapat mengurangi dampak kenaikan tingkat iuran. Dalam penurunan pasar keuangan, jika upah dan lapangan kerja meningkat, dampak terhadap jadwal peningkatan iuran akan berkurang. Aspek lain dari kebijakan pendanaan adalah penyesuaian terhadap skema yang akan ditentukan dengan cara transparan sehingga penyesuaian parameter utama tseperti iuran dan usia pensiun dapat dilakukan dengan tepat waktu tanpa pengaruh politik yang tidak masuk akal. Mekanisme penyesuaian otomatis dari parameter utama skema dapat menjadi bagian dari kebijakan pendanaan.
Tujuan pendanaan harus dinyatakan secara jelas dalam kebijakan pendanaan. Saat ini, banyak skema jaminan sosial tidak memiliki tujuan terkait dengan tingkat cadangan yang harus dipertahankan. Tujuan-tujuan ini kerap tertuang di dalam laporan penilaian aktuaria, tapi biasanya tidak dibahas di antara para pemangku kepentingan utama skema. Tujuan pendanaan dan konsekuensinya harus secara jelas didokumentasikan dan dipahami dengan baik oleh semua pemangku kepentingan. Ini akan berkontribusi dalam meningkatkan kepercayaan mereka terhadap skema.
Karena skema ini didanai secara parsial, rencana aksi dapat dibuat diawal, misalnya pengurangan bertahap terhadap manfaat serta tingkat iuran yang meningkat. Dengan menunda tindakan yang diperlukan untuk menjaga kesinambungan keuangan skema, generasi mendatang akan menderita akibat banyaknya pengurangan manfaat dan/atau semakin meningginya tingkat iuran.
Frekuensi penilaian aktuaria harus dinyatakan di dalam kebijakan pendanaan. Untuk sistem pensiun baru, sebagai skema yang masih muda, penilaian aktuaria perlu dilakukan secara rutin untuk memastikan skema tersebut berkembang ke arah yang benar. Disarankan bahwa situasi keuangan skema harus dipantau setidaknya setiap tiga tahun oleh penilaian aktuaria secara berkala dan saat perubahan besar skema harus dilakukan.
19 Pengusaha, pekerja, penerima manfaat dan pemerintah.
Berikut adalah ringkasan dari unsur-unsur yang harus dipertimbangkan ketika menyusun kebijakan pendanaan:
Kebijakan pendanaan adalah alat yang berguna untuk:
w memformalkan tujuan pendanaan jangka panjang skema;
w lebih memahami risiko dan keuntungan dari opsi pembiayaan;
w merencanakan upaya mempertahankan aset yang cukup agar dapat memberikan manfaat yang dijanjikan; dan
w meningkatkan tata kelola skema dengan meningkatkan transparansi.
Aturan pendanaan harus membahas kepentingan para pemangku kepentingan, termasuk:
w Para peserta program ini sebagai pembayar iuran untuk mendanai sistem dan para peserta sebelumnya sebagai penerima manfaat langsung dari sistem ini;
w Pengusaha dan pemerintah sebagai para pihak yang berbagi tanggung jawab untuk membiayai sistem pensiun; dan
w Masyarakat umum.
Kebijakan pendanaan akan menentukan:
w Tingkat iuran;
w Risiko yang dihadapi oleh skema dan bagaimana risiko tersebut dapat dikelola;
w Toleransi risiko;
w Alokasi risiko di antara para pemangku kepentingan;
w Tujuan pendanaan (seperti stabilitas iuran atau memperbaiki rasio pendanaan);
w Frekuensi penilaian aktuaria, metode proyeksi aktuaria dan tingkat margin untuk dimasukkan dalam asumsi ;
w Metode pendanaan seperti pendanaan parsial atau pendanaan PAYG;
w Tujuan yang berhubungan dengan keadilan antargenerasi; dan w Semua masalah pendanaan lainnya.
Disarankan bahwa kebijakan pendanaan tertulis harus secara seksama dipikirkan, ditetapkan dan secara berkala ditinjau ulang.