HASIL DAN PEMBAHASAN
X- Model Produk eksport potensial
Tabel 9 Hasil analisis X-model produk eksport potensial komoditas jahe dan temulawak di lima negara tujuan
Negara Jahe Temulawak
Amerika Serikat Pengembangan Pasar Potensial
Pengembangan Pasar Optimis
Belanda Pengembangan Pasar
Optimis
Pengembangan Pasar Optimis
Jepang Pengembangan Pasar
Potensial
Pengembangan Pasar Kurang Potensial
Malaysia Pengembangan Pasar
Potensial
Pengembangan Pasar Potensial
Singapura Pengembangan Pasar Potensial
Pengembangan Pasar Optimis
Berdasarkan hasil analisis metode RCA dan EPD, dapat dilakukan klusterisasi potensi jahe dan temulawak Indonesia di lima negara tujuan ekspor, yaitu dengan menggunakan X-Model Produk eksport potensial. Pengklusterisasiannya diperoleh dengan mempertimbangkan nilai RCA (daya saing) dan nilai EPD (posisi pasar), dengan begitu dapat diketahui apakah komoditi tersebut memiliki potensi yang tinggi atau tidak di negara
22
tujuan ekspor. Hasil estimasi analisis X-Model Produk eksport potensial menunjukkan bahwa komoditas jahe dan temulawak Indonesia memiliki potensi pengembangan produk di masing- masing negara tujuan seperti pada Tabel 9.
Berdasarkan Tabel 9, jahe memiliki potensi pengembangan pasar optimis hanya di negara Belanda sementara di negara lainnya memiliki potensi pengembangan pasar potensial. Temulawak memiliki potensi pengembangan pasar kurang potensial di negara Jepang, artinya komoditi temulawak tidak dapat memanfaatkan pasar yang ada di negara Jepang.
Faktor –faktor yang Memengaruhi Permintaan Jahe dan Temulawak Indonesia di Lima Negara Tujuan Ekspor Uji Chow
Hasil uji Chow pada komoditas jahe menunjukkan baik F test maupun chi-square memiliki nilai probabilitas lebih besar dari taraf nyata 5 % (Lampiran 3), artinya H0 diterima, maka model yang terbaik adalah model Pooled Least Square (PLS), Hal ini menyatakan bahwa regresi panel data yang dihasilkan akan berlaku untuk setiap individu. Model Pooled diberikan perlakuan GLS (Cross Section SUR), sehingga parameter penduga dapat signifikan pada taraf nyata tertentu.
Hasil uji Chow yang dilaksanakan pada komoditas temulawak menunjukkan baik F test maupun chi-square memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari taraf nyata 5 % (Lampiran 4), artinya H0 ditolak, kemudian berdasarkan hasil uji hausman dihasilkan nilai probabilitas kurang dari taraf nyata 5 % (Lampiran 5), artinya tolak H0, dengan demikian dapat disimpulkan model yang terbaik adalah model Fixed Effect (FEM), hal ini menyatakan bahwa perlu memasukkan pengaruh individu ke dalam model. Model FEM diberikan perlakuan GLS (Cross Section SUR), sehingga parameter penduga dapat signifikan pada taraf nyata tertentu.
Uji F
Probabilitas F statistic sebesar 0.00 lebih kecil dari taraf nyata 5 % untuk komoditi jahe maupun komoditi temulawak sehingga dapat disimpulkan bahwa minimal terdapat satu peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap jumlah ekspor masing-masing komoditi tersebut di lima negara tujuan.
Uji-t
Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan bahwa semua variabel memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari taraf nyata 5 %. Hal ini berarti bahwa peubah bebas tersebut berpengaruh nyata terhadap jumlah ekspor komoditi jahe Indonesia di lima negara tujuan.
Berdasarkan tabel 10 menunjukkan bahwa hampir semua variabel (kecuali variabel Harga komoditi ke negara tujuan) memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari taraf nyata 5 %, hal ini berarti bahwa peubah bebas tersebut berpengaruh nyata terhadap jumlah ekspor komoditi temulawak Indonesia di lima negara tujuan.
23 Uji R2
Nilai R-Squared pada komoditas jahe adalah sebesar 0.861549, artinya sebesar 86.16 % keragaman data dapat dijelaskan oleh variable independen, sementara sebesar 13.84 % keragaman data tidak dapat dijelaskan oleh variable independen.
Nilai R-Squared pada komoditas temulawak adalah sebesar 0.802560, artinya sebesar 80.26 % keragaman data dapat dijelaskan oleh variable independen, sementara sebesar 19.74 % keragaman data tidak dapat dijelaskan oleh variable independen.
Tabel 10 Hasil estimasi panel data pada komoditi jahe dan temulawak Indonesia di lima negara tujuan ekspor
Variabel Coefficient Jahe Prob Coefficient Temulawak Prob C -24.80937 0.0338* -602.9867 0.0000** LNPX -1.082161 0.0000** 0.337682 0.1037 LNGDP 1.434681 0.0008** 10.24698 0.0085** LNER 0.197838 0.0121* -0.120129 0.0006** LNPOP 1.702381 0.0013** 32.81612 0.0000** LNED -1.068167 0.0011** -11.96689 0.0003** Weighted Statistics R-squared 0.861549 0.802560 Prob(F-statistic) 0.000000 0.000000 Sum squared resid 45.16584 45.15451 Durbin-Watson stat 1.895727 1.846609 Unweighted Statistics R-squared 0.725149 0.566033 Sum squared resid 56.43607 81.63540 Durbin-Watson stat 1.159015 1.508451
Hasil Regresi dapat dilihat di Lampiran 6 dan Lampiran 7.
Catatan: *, ** = menunjukkan tingkat signifikasi sesuai taraf nyata 5%, 1% a. Uji Kriteria Ekonometrika:
Autokorelasi
Statistic DW (Durbin-Watson) pada komoditi jahe adalah sebesar 1.89, sementara pada komoditi temulawak adalah sebesar 1.85, sehingga persamaan regresi dikatakan tidak mengandung masalah autokorelasi negatif ataupun positif.
Multikolinearitas
Prob (F-statistic) komoditas jahe dan temulawak signifikan pada taraf nyata 5 %, artinya tidak terjadi multikolinearitas.
24
Normalitas
Hasil estimasi menunjukkan nilai probabilitas Jarque Bera komoditi jahe sebesar (0.40 > 0.05) dan temulawak sebesar (0.80 > 0.05), artinya error term menyebar normal (Lampiran 8 dan 9).
Heteroskedastisitas
Sum square residual weighted statistics lebih kecil dibandingkan dengan sum square residual unweighted statistics, dengan demikian model persamaan permintaan ekspor komoditi jahe Indonesia di lima negara tujuan terbebas dari masalah heteroskedastisitas. Komoditi jahe (45.17 < 56.44) dan temulawak (45.16 < 81.64).
b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan Jahe dan Temulawak Indonesia di Lima Negara Tujuan Ekspor
1. Harga Jahe dan Temulawak ke Negara Tujuan Ekspor
Berdasarkan Hasil Estimasi diketahui harga jahe negara tujuan berpengaruh signifikan dengan koefisien -1.08. Artinya, jika harga ekspor jahe ke negara tujuan meningkat sebesar 1 %, maka jumlah permintaan ekspor komoditas jahe akan menurun sebesar 1.08 %, cateris paribus. Sebaliknya hasil Estimasi diketahui harga temulawak ke negara tujuan ekspor tidak berpengaruhnya signifikan terhadap jumlah ekspor temulawak Indonesia.
2. GDP Per Kapita Riil Negara Tujuan Ekspor
GDP perkapita negara tujuan ekspor berpengaruh signifikan dengan koefisien 1.44 untuk komoditi jahe, artinya jika GDP per kapita negara tujuan ekspor meningkat sebesar 1 %, maka akan meningkatkan jumlah permintaan ekspor jahe ke lima negara tujuan sebesar 1.44 %, cateris paribus. Koefisien 10.25 untuk komoditi temulawak, artinya jika GDP per kapita negara tujuan ekspor meningkat sebesar 1 %, maka akan meningkatkan jumlah permintaan ekspor temulawak sebesar 10.25 %, cateris paribus.
3. Nilai Tukar Rupiah Riil terhadap Mata Uang Negara Tujuan Ekspor Koefisien Nilai Tukar Rupiah Riil terhadap Mata Uang Negara Tujuan Ekspor jahe berpengaruh signifikan dengan koefisien sebesar 0.19. Artinya, jika nilai tukar riil rupiah mengalami kenaikan sebesar 1 %, maka jumlah permintaan ekspor temulawak akan meningkat sebesar 0.19 %, cateris paribus. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis sebelumnya, yakni nilai tukar riil diharapkan berpengaruh negatif terhadap jumlah permintaan ekspor jahe. Hal ini mungkin disebabkan karena harga komoditi jahe yang rendah seperti yang terlihat pada Gambar 7 atau dikarenakan tidak adanya substitusi produk jahe, sehingga walapun nilai tukar riilnya meningkat permintaan ekspor jahe tetap akan meningkat.
25
Sumber: UNComtrade (2013)
Gambar 7 Perkembangan harga jahe di pasar internasional 2002-2011 Harga komoditi jahe Indonesia di pasar internasional berkisar antara 0.38-1.10 US$. Harga komoditi yang rendah tersebut membuat daya beli jahe tetap tinggi walaupun nilai tukar terapresiasi.
Nilai Tukar Rupiah Riil terhadap Mata Uang Negara Tujuan Ekspor temulawak berpengaruh signifikan dengan koefisien -0.12. Artinya, jika nilai tukar riil rupiah mengalami kenaikan sebesar 1 %, maka jumlah permintaan ekspor temulawak akan menurun sebesar 0.12 %, cateris paribus.
4. Populasi Negara Tujuan Ekspor
Populasi negara tujuan ekspor jahe berpengaruh signifikan dengan koefisien sebesar 1.70. Artinya, jika populasi negara tujuan ekspor meningkat sebesar satu % maka akan meningkatkan jumlah permintaan ekspor komoditi jahe Indonesia ke lima negara tujuan sebesar 1.70 % , cateris paribus. Koefisien Populasi Temulawak sebesar 32.82. Artinya, jika populasi negara tujuan ekspor meningkat sebesar satu % maka akan meningkatkan jumlah permintaan ekspor temulawak Indonesia ke lima negara tujuan sebesar 32.82 % , cateris paribus.
5. Jarak Ekonomi
Jarak ekonomi komoditi jahe berpengaruh signifikan dengan koefisien sebesar -1.07. Artinya, jika jarak ekonomi meningkat sebesar 1 % maka akan menurunkan jumlah permintaan ekspor komoditi jahe Indonesia sebesar 1.07 %, cateris paribus. Koefisien jarak ekonomi komoditi temulawak berpengaruh signifikan dengan koefisien sebesar -11.97. Artinya, jika jarak ekonomi meningkat sebesar 1 % maka akan menurunkan jumlah permintaan ekspor temulawak Indonesia sebesar 11.97 %, cateris paribus. Strategi Meningkatan Daya Saing Komoditi Jahe dan Temulawak
Kajian ini akan dijelaskan dengan analisis Porter’s Diamond Theory.
Porter’s Diamond Theory terdiri dari empat faktor utama yaitu kondisi faktor atau faktor sumberdaya, faktor permintaan, faktor industri terkait, serta faktor persaingan. Keempat faktor tersebut didukung oleh peran pemerintah dan peluang komoditi jahe dan temulawak Indonesia.
$0,20 $0,40 $0,60 $0,80 $1,00 $1,20 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
26
Kondisi Faktor
Kondisi faktor meliputi semua ketersediaan sumberdaya, yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya modal, sumberdaya IPTEK dan sumberdaya infrastruktur. Semakin tinggi kualitas input, semakin besar peluang industri dan negara dalam meningkatkan daya saing.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat cocok digunakan sebagai tempat untuk menanam jahe dan temulawak. Terlebih dalam hal sumber daya manusia, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar sehingga memiliki keunggulan dalam sumber daya tenaga kerja. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS 2012), luas panen tanaman jahe dan temulawak Indonesia pada tahun 2011 masing-masing adalah sebesar 54.534.991 m2 dan 20.980.517 m2, produksi tanaman jahe dan temulawak Indonesia pada tahun 2011 masing-masing adalah sebesar 94.743.139 kg dan 57.701.484 kg.
Modal untuk petani berasal dari petani atau kumpulan petani produksi itu sendiri dan dari pemerintah melalui Departeman Pertanian (Deptan) salah satunya adalah pemberian Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) pada tahun 2000 yang sumber dananya berasal dari Perbankan dengan subsidi suku bunga bagi petani dan peternak yang disediakan oleh pemerintah.
Komoditas jahe dan temulawak sebagian besar berasal dari perkebunan rakyat dengan infrastruktur yang masih sederhana, dalam penggunaan teknologinya pun masih belum optimal, selain itu fasilitas infrastruktur lainnya seperti pengairan, fasilitas pengemasan, alat transportasi, rumah/gudang untuk penanganan segar juga belum memenuhi standar yang baik sehingga petani lebih memilih untuk menjual jahe dan temulawak dalam bentuk segar.
Kondisi Permintaan
Permintaan terdiri dari permintaan domestik dan permintaan luar negeri. Adanya permintaan akan menciptakan pasar. Konsumen jahe dan temulawak dalam negeri menggunakan jahe sebagai bumbu dapur, sebagai bahan baku industri makanan dan minuman serta bagi industri obat tradisional. Kondisi permintaan luar negeri jahe dan temulawak periode tahun 2007-2011 sangat berfluktuatif setiap tahunnya seperti yang terlihat pada Tabel 3, komoditas temulawak memiliki rata-rata pertumbuhan sebesar 87.4 % dan komoditas jahe sebesar 18.9%.
Industri Terkait dan Pendukung
Peran industri pendukung dan terkait dalam komoditi Jahe dan Temulawak Indonesia merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang daya saing ekspor komoditi tersebut. Pada industri terkait ekspor jahe dan temulawak meliputi industri terkait komoditas jahe dan temulawak adalah industri tanaman obat tradisional, industri makanan dan minuman serta industri kosmetika, sedangkan pada industri pendukung berupa penangkar benih yang dapat membantu petani untuk mendapatkan benih berkualitas, yang pengembangannya dilakukan oleh Deptan.
27 Persaingan, Struktur, dan Strategi Perusahaan
Kondisi Persaingan perdagangan jahe dan temulawak Indonesia cukup bagus. Negara Thailand merupakan negara yang pesaing Indonesia untuk komoditas Jahe, sedangkan untuk komoditas temulawak Indonesia masih diatas negara Thailand (Agri 2011). Produk jahe dan temulawak yang di ekspor masih didominasi produk bahan mentah dan belum banyak yang memproduksi produk-produk olahan yang bernilai tambah. Strategi untuk meningkatkan daya saing jahe dan temulawak adalah dengan meningkatkan kualitas, diversifikasi produk, dan penanganan hama penyakit secara efektif dan menyeluruh. Direktorat Jendral Hortikultura dibawah naungan Deptan merupakan lembaga yang mendukung dalam upaya peningkatan daya saing komoditas jahe dan temulawak Indonesia dengan melakukan penelitian serta pengembangan.
Peran Pemerintah
Pemerintah berperan sebagai pengambil kebijakan seperti membuat standarisasi mutu dan membuat kebijakan perdagangan seperti pemberlakuan bea masuk dan keluar atas perdagangan jahe dan temulawak. Sebelumnya telah disebutkan dalam subbab kondisi faktor, pemerintah juga menyediakan bantuan modal melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) pada tahun 2000 yang sumber dananya berasal dari Perbankan dengan subsidi suku bunga bagi petani dan peternak yang disediakan oleh pemerintah.
Peran Peluang
Kelimpahan sumberdaya dan dengan semakin menjamurnya industri obat, makanan dan minuman yang berbahan dasar jahe dan temulawak serta terdapat perubahan pola pikir “back to nature”, menjanjikan peluang yang besar untuk komoditas jahe dan temulawak baik itu di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Peluang pasar bagi komoditas jahe dan temulawak terbuka lebar di pasar dunia terutama di negara Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, serta Singapura untuk komoditi jahe dan negara Amerika Serikat, Belanda, Malaysia serta Singapura untuk komoditi temulawak.
Pada Gambar 5 akan digambarkan faktor apa saja yang menjadi kelemahan dan keunggulan komoditas jahe dan temulawak Indonesia. Tanda (+) berarti keunggulan dan tanda (-) berarti kelemahan.
28
Gambar 8 Keunggulan dan Kelemahan Komponen Porter’s Diamond
Strategi Peningkatan Daya saing
Dari keempat alat analisis yang telah diuraikan yaitu Revealed Comparative Advantage (RCA), Export Product Dynamic (EPD), X-Model Produk eksport potensial dan Porter’s Diamond, maka dapat ditentukan strategi yang bisa digunakan agar daya saing komoditas jahe dan temulawak Indonesia mengalami peningkatan adalah dengan :
1. Melakukan pendekatan Cluster dalam pembanguan industri, yaitu konsentrasi geografis untuk perusahaan penghasil produk hortikultura yang saling berhubungan, pengkhususan pemasok, penyedia layanan, perusahaan dalam industri yang terkait, dan lembaga-lembaga terkait
Strategi Perusahaan, Struktur, dan Persaingan (-)
-Rendahnya kualitas membuat komoditas jahe dan temulawak dinilai kurang kompetitif
-Adanya pesaing dari negara lain yang memiliki struktur yang lebih baik
Kondisi Faktor (-)
- Iklim tropis dan tanah subur (+) - Sumber daya manusia yang sudah
jenuh (-)
- Teknologi masih sederhana (-) - Ketersediaan kredit dari pemerintah
dan swasta (+)
- Pengairan, pengemasan, alat transportasi, gudang penyimpanan masih sederhana (-)
Kondisi Permintaan (+)
-Permintaan Ekspor jahe berfluktuatif, sementara temulawak cenderung meningkat
-konsumsi domestik juga tinggi
Peran Pemerintah (+)
- Membuat standarisasi mutu - Pemberlakuan bea masuk
dan keluar
- Pemberian bantuan modal
Industri Terkait dan Pendukung (+)
- Sebagai bahan baku industri tanaman obat tradisional, industri makanan dan minuman serta industri kosmetika - Dibentuknya tempat penakaran benih oleh Departemen
Pertanian
Peran Kesempatan (+)
-Potensi besar yang dimiliki
komoditas jahe dan temulawak Indonesia sebagai produsen
29 dalam bidang hortikultura lainnya (seperti universitas, lembaga standar, asosiasi perdagangan) yang bersaing tetapi juga bekerja sama.
2. Strategi Peningkatan faktor-faktor utama Porter Diamond Kondisi Faktor
Mencari dan menciptakan (Inovasi) produk jahe dan temulawak agar memiliki nilai tambah.
Peningkatan sumberdaya manusia dengan mengadakan pelatihan dan penyuluhan kepada petani jahe dan temulawak. Peningkatan pembangunan infrastruktur dan pengembangan
teknologi. Kondisi Permintaan
Kebijakan yang memengaruhi pola konsusmsi.
Regulasi tentang kualitas produk, kesehatan dan keselamatan, serta lingkungan.
Industri Terkait dan Industri Pendukung Pembuatan zona khusus suatu industri.
Pengaturan distribusi dan perijinan serta perpajakan pada industri pemasok.
Strategi Perusahaan, Struktur dan Persaingan
Penetapan sistem hukum dan pengaturan peusahaan, seperti pengaturan persaingan usaha.