• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

D. Manfaat Perdagangan Internasional

2.1.8. Model Regresi Linier Berganda

kurs Dolar Amerika Serikat meningkat, maka volume ekspor juga akan meningkat.

2.1.8. Model Regresi Linier Berganda

Menurut Nachrowi, N Djalal, dan Hardius Usman (2008) dalam bukunya yang berjudul Penggunaan Teknik Ekonometri, Tidak semua model yang digunakan merupakan bentuk hubungan antara satu variabel terikat dan satu veriabel bebas. Padahal, dalam kenyataannya sehari- hari, suatu fenomena tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor. Contohnya adalah produksi garmen. Rendah tinggnya produksi garmen tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti besarnya investasi perusahaan, banyaknya tenaga kerja yang digunakan, jumlah mesin yang tersedia, keterampilan para pekerja, atau besarnya dukungan teknologi. Bila ingin dibuat model yang mengakomodasi seluruh faktor yang mempengaruhi tersebut, tentunya tidak dapat digunakan model regresi sederhana.

Model regresi yang digunakan untuk membuat hubungan antara satu variabel terikat dan beberapa variabel bebas disebut model regresi berganda. Adapun modelnya dituliskan sebagai berikut :

Keterangan :

Y = Variabel bebas

a = Konstanta (variabel konstan) b1, b2, b3,….., bk = Koefisien regresi

i = 1,2,3,……,N = Banyaknya observasi Y = a + b1X1i + b2X2i + b3X3i + ……..+ bkXki

28

x1, x2,x3,……,xk = Variabel terikat

Prinsip- prinsip yang mendasari regresi linier berganda tidak berbeda dengan regresi linier sederhana. Akan tetapi, dalam regresi linier berganda akan dijumpai beberapa permasalahan, seperti multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.

2.1.9. Elastisitas

Pengaruh perubahan harga terhadap permintaan, menyebabkan elastisitas permintaan. Elastisitas permintaan merupakan suatu ukuran mengenai perubahan yang relatif terhadap sejumlah barang yang diminta karena perubahan harga. Dengan kata lain, elastisitas permintaan adalah derajat kepekaan jumlah barang yang diminta karena perubahan harga barang itu. Konsep elastisitas mengukur sampai dimana responsifnya permintaan apabila harga mengalami perubahan disebut elastisitas permintaan harga. Selain disebabkan oleh perubahan harga, permintaan juga dapat berubah sebagai akibat dari perubahan faktor- faktor lain (Sukirno, 2003:115).

Faktor yang dapat menimbulkan perbedaan dalam elastisitas Permintaan berbagai barang, yang terpenting adalah :

1. Tingkat kemampuan barang- barang lain untuk menggantikan barang yang bersangkutan.

2. Presentasi pendapatan yag akan dibelanjakan untuk membeli barang tersebut. 3. Jangka waktu di dalam mana permintaan itu dianalisis.

29

Jenis- jenis Elastisitas Permintaan :

1. Permintaan Elastis (Ed > 1), maka permintaan dikatakan elastis. Hal ini berarti konsumen peka terhadap perubahan harga barang atau perubahan harga sebesar 1% menyebabkan terjadinya perubahan jumlah yang diminta lebih dari 1%.

2. Permintaan Elastis Sempurna (Ed = ~), suatu barang disebut memiliki elastisitas sempurna bila memiliki elastisitas tak terhingga. Hal ini berarti harga tetap besarnya permintaan tak terhingga . dengan demikian pada harga tertentu, jumlah yang diminta konsumen mencapai tak terhingga atau seberapapun persediaan barang/ jasa yang ada akan habis diminta oleh konsumen.

3. Permintaan Inelastis (Ed < 1), maka permintaan dikatakan inelastis. Hal ini berarti konsumen kurang peka terhadap perubahan harga barang, meskipun harga naik atau turun masyarakat akan tetap membelinya. Perubahan harga sebesar 1% menyebabkan terjadinya perubahan jumlah yang diminta kurang dari 1%.

4. Permintaan Inelastis Sempurna (Ed = 0), permintaan (jumlah barang yang diminta) tidak berubah, berapapun tinggi rendahnya tingkat harga.

5. Permintaan Elastis satuan (Ed = 1), perubahan harga sebesar 1% menyebabkan terjadinya perubahan jumlah barang yang diminta sebesar 1%.

30

2. 2. Penelitian Terdahulu

Hasil- hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu dan dapat dijadikan dasar, serta bahan pertimbangan dalam mengkaji penelitian ini.

Tabel 5. Penelitian- penelitian Terdahulu

No. Peneliti Judul Metode

Penelitian

Variabel Penelitian Hasil & Kesimpulan 1. Malisa Rachma Handayani (2015) “Analisis Faktor- Faktor yang Mempengar uhi Impor Durian di Indonesia”. 1) Analisis Deskriptif 2) Analisis Regresi Berganda 3) Analisis Elastisitas 1) Harga Durian Impor 2) Harga Durian Lokal 3) Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika 4) Produk Domestik Bruto

1) Berdasarkan hasil perhitungan olah SPSS, faktor harga durian impor berpengaruh secara tidak nyata dan signifikan pada taraf kepercayaan 90%, faktor harga durian lokal berpengaruh secara nyata dan signifikan pada taraf kepercayaan 90%, faktor nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika berpengaruh secara tidak nyata dan signifikan pada taraf kepercayan 90%, sedangkan produk domestik bruto (PDB) berpengaruh secara nyata dan signifikan pada tingkat kepercayaan 95%.

2) Dari hasil analisis elastisitas dihasilkan bahwa faktor harga durian impor, harga durian lokal, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, dan produk domestik bruto (PDB) memiliki sifat inelastis.

2. Tri Purwanto (2009) “Analisis Faktor- Faktor yang Mempengar 1) Analisis Deskriptif 2) Analiasis Regresi 1) Produksi Kacang Kedelai Nasional 2) Konsumsi

Hasil analisis menunjukkan dari enam faktor yaitu produksi kacang kedelai nasional, konsumsi kacang kedelai nasional, harga kacang kedelai lokal, harga kacang kedelai impor, harga kacang kedelai dunia, dan nilai tukar Rupiah terhadap

31 uhi Inpor Kacang Kedelai Nasional Periode 1987-2007”. Linier Berganda Kacang Kedelai Nasional 3) Harga Kacang Kedelai Lokal 4) Harga Kacang Kedelai Impor 5) Harga Kacang Kedelai Dunia 6) Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika

US$, diperoleh tiga faktor yang berpengaruh secara dignifikan yaitu faktor produksi kacang kedelai nasional, konsumsi kacang kedelai nasional dan harga kacang kedelai lokal. Faktor produksi berpengaruh negatif terhadap impor, sedangkan konsumsi dan harga kedelai lokal berpengaruh positif terhadap impor.

3. Gega Indah Arastika (2016) Analisis Faktor- faktor yang Mempengar uhi Impor Gula di Indonesia 1) Analisis Deskriptif 2) Analiasis Regresi Linier Berganda 1) Produksi gula 2) Konsumsi gula 3) Harga gula domestik 4) Harga gula internasional 5) Nilai tukar Rupiah terhadap US$ 6) Produk Domestik Bruto 7) Tarif impor

Variabel konsumsi, harga gula domestik dan PDB memiliki penagaruh positif terhadap impor gula Indonesia, sedangkan variabel produksi, harga gula internasional, nilai tukar Rupiah terhadap US$ dan tarif impor memiliki pengaruh negatif terhadap impor gula Indonesia.

32

Perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian- penelitian terdahulu adalah pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang faktor- faktor yang mempengaruhi impor bawang merah di Indonesia. Perbedaan lainnya adalah penelitian ini selain menggunakan metode analisis regresi linier berganda tetapi juga menggunakan metode analisis elastisitas yang digunakan untuk mengetahui respon impor bawang merah di Indonesia terhadap perubahan permintaan domestik bawang merah, harga riil bawang merah impor dan nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar Amerika. Selain itu, adanya variabel permintaan domestik bawang merah merupakan faktor pembeda dengan penelitian- penelitian terdahulu. Penelitian inu menggunakan data time series dalam periode tahun 2002 sampai tahun 2015 (kurun waktu 14 tahun).

Persamaan penelitian ini dengan penelitian- penelitian terdahulu adalah metode analisis regresi linier berganda. Selain itu, variabel- variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini memiliki persamaan dengan variabel- variabel bebas dalam penelitian terdahulu. Variabel- variabel bebas tersebut adalah harga riil bawang merah impor dan nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar Amerika.

33

2. 3. Kerangka Pemikiran

Pada tahun 2010, sumbangan sektor pertanian terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 13,93 %. Namun terjadi penurunan pada tahun 2011 menjadi 13,51 % dan juga pada tahun 2012 dengan PDB menjadi 13,37 %, kembali sektor pertanian menunjukkan peranannya dalam menyumbangkan PDB menjadi 13,39 % pada tahun 2013. (Statistik Indonesia, BPS 2010, BPS 2011, BPS 2012, dan BPS 2013) Selain kontribusi sektor pertanian melalui PDB, peran sektor pertanian sebagai penyerap tenaga kerja cukup besar. Pada tahun 2010 dari sekitar 109 juta jumlah tenaga kerja yang bekerja, sekitar 44 juta di antaranya bekerja di sektor pertanian, pada tahun 2011 dari sekitar 112 juta tenaga kerja yang bekerja, sebanyak 42 juta di antaranya bekerja pada sektor pertanian. Serta pada tahun 2012 dan 2013 dari sekitar 114 juta dan 115 juta jumlah tenaga kerja yang bekerja, sekitar 41 juta dan 40 juta diantaranya bekerja dalam sektor pertanian. (Survei Angkatan Kerja Nasional : Sakernas BPS 2010, BPS 2011, BPS 2012, dan BPS 2013)

Dalam sektor pertanian jenis tanaman sayuran merupakan tanaman hortikultura yang memiliki peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Permintaan akan produk hortikultura semakin meningkat, hal ini disebaban kebutuhan masyarakat terhadap tanaman hortikultura semakin meningkat. Salah satu jenis tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani yaitu bawang merah. Dalam masyarakat Indonesia, penggunaan bawang merah oleh rumah tangga sangat luas, mulai dari penggunaan sebagai bumbu dapur sampai digunakan sebagai obat herbal. Demikian pula dalam bidang

34

industri, bawang merah merupakan komoditi hortikultura yang diperdagangkan untuk mendapatakan keuntungan. Kebutuhan bawang merah yang semakin meningkat juga harus diimbangi dengan produksi bawang merah, sehingga kebutuhan akan bawang merah dalam negeri dapat tercukupi.

Produksi bawang merah mengalami peningkatan hampir setiap tahunnya, Namun diikuti pula dengan peningkatan jumlah permintaan bawang merah setiap tahunnya yang disertai dengan meningkatnya jumlah konsumsi bawang merah di dalam negeri setiap tahunnya. Hal tersebut mengakibatkan produksi bawang merah dalam negeri belum mampu mengimbangi jumlah permintaan bawang merah di dalam negeri untuk itu sebagian kebutuhan bawang merah dipenuhi melalui impor. Kegiatan impor yang berlebihan dapat mengurangi devisa negara, hal ini menimbulkan beberapa efek buruk terhadap kegiatan dan kestabilan ekonomi negara yang akan mengakibatkan penurunan dalam kegiatan ekonomi dalam negeri. Oleh sebab itu suatu penelitian tentang faktor- faktor yang mempengaruhi impor bawang merah di Indonesia perlu dilakukan.

Faktor- faktor yang diduga mempengaruhi impor bawang merah di Indonesia adalah permintaan domestik bawang merah, harga riil impor bawang merah dan nilai tukar riil Rupiah terhadap Dollar Amerika. Masing- maing faktor tersebut terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik serta uji hipotesis dan kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS, dan selanjutnya dilakukan analisis elastisitas. Kemudian dapat ditarik kesimplan faktor- faktor yag mempengaruhi impor bawang merah di Indonesia.

35

Gambar 4. Kerangka Pemikiran Impor Bawang Merah di Indonesia

Faktor- faktor yang diduga berpengaruh : x1 : Permintaan Domestik Bawang Merah

x2 : Harga Rill Bawang Merah Impor

x3 : Nilai Tukar Rill Rupiah Terhadap Dollar Amerika

Analisis Data 1. Analisis Deskriptif

2. Analisis Regresi Berganda 3. Analisis Elastisitas

Hasil Analisis Faktor- faktor yang Mempengaruhi Impor Bawang Merah di Indonesia

BAB III

Dokumen terkait