• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3. Perdagangan Internasional

Saat ini tidak ada negara yang dapat hidup tanpa berhubungan dengan negara lain. Semua negara di dunia senantiasa berhubungan dengan negara lain dalam berbagai bentuk. Hubungan tersebut tidak terbatas pada hubungan yang dilakukan pemerintah saja, tetapi perusahaan dan perorangan. Hubungan antar perusahaan terutama dalam bentuk perdagangan. Perdagangan yang melibakan para pihak lebih dari satu negara disebut perdagangan internasional atau bisnis internasional. Adanya hubungan dagang (tukar-menukar) barang dan jasa yang saling menguntungkan diantara negara- negara menyebabkan terjadinya perdagangan internasional.

Banyak definisi yang diberikan oleh ahli ekonomi (ekonom) tentang perdagangan internasional. Namun secara umum, perdagangan internasional diartikan sebagai hubungan tukar- menukar barang atau jasa yang saling menguntungkan antara satu negara dan negara lain (Deliarnov, 2006:41).

Perdagangan internasional atau bisnis internasional terutama dilaksanakan melalui perjanjian jual beli. Perjanjian jual beli internasional dikenal dengan sebutan perjanjian ekspor-impor. Dalam jual beli semacam ini kegiatan jual disebut ekspor dan kegiatan beli disebut impor. Pihak penjual disebut eksportir dan pihak pembeli disebut importir. Secara ringkas kegiatan ini disebut kegiatan ekspor- impor. Kata ekspor dipandang dari sudut pandang bahasa Indonesia adalah perbuatan mengirimkan barang ke luar Indonesia. Sedangkan impor, yaitu memasukkan barang luar negeri ke dalam Indonesia. Ruang lingkup perdagangan internasional jauh lebih besar dengan perdagangan di dalam negeri. Selain itu,

14

sistem dan birokrasi yang berlaku pada perdagangan internasional pun jauh lebih kompleks. Misalnya, mengenai alat pembayaran yang digunakan dan jenis barang dan jasa yang diperdagangkan (Deliarnov, 2006:41).

Dalam era perekonomian global dewasa ini, kegiatan ekonomi yang melibatkan interaksi antar negara menjadi sangat penting. Diantara berbagai kegiatan ekonomi internasional tersebut, kegiatan ekspor- impor barang dan jasa merupakan aktivitas perekonomian yang dapat mempengaruhi kinerja pembangunan suatu negara. Sedangkan kemampuan ekspor dan impor suatu negara akan dipengaruhi oleh tingkat daya saing perekonomian dan nilai mata uang yang terbentuk.

Dalam kaitannya dengan peranan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi telah mendapatkan kajian baik secara teoritis maupun secara empiris. Secara eksplisit dapat dilihat dari beberapa teori perdagangan internasional klasik. Seperti teori perdagangan internasional Absolute Advantage (keunggulan absolut atau mutlak) oleh Adam Smith dan teori teori perdagangan Comparative Advantage (keunggulan komparatif) oleh David Ricardo. Berbagai teori perdagangan tersebut menjelaskan tentang adanya manfaat dari kegiatan perdagangan internasional baik melalui ekspor maupun impor.

Teori keunggulan mutlak atau absolut dari Adam Smith dikenal sebagai teori murni perdagangan internasional. Inti dari teori ini adalah suatu negara akan melakukan spesialisasi terhadap ekspor suatu jenis barang tertentu, yang negara tersebut memiliki keunggulan mutlak dan tidak memproduksi atau melakukan

15

impor jenis barang lain yang negara tersebut miliki keunggulan mutlak terhadap negara lain yang memproduksi barang sejenis. Dengan kata lain, suatu negara akan mengekspor (mengimpor) suatu jenis barang, jika negara tersebut dapat (tidak dapat) memproduksinya lebih dan efisien atau lebih murah dibandingkan negara lain. Suatu negara disebut memiliki keunggulan mutlak dari negara lain jika negara tersebut memproduksi barang atau jasa yang tidak dapat diprosuksi oleh negara lain. Contohnya, Indonesia memproduksi batik dan tidak memproduksi kimono (pakaian tradisional Jepang). Sebaliknya, Jepang tidak memproduksi pakaian tradisional Indonesia yaitu batik. Dengan demikian, perdagangan internasional akan terjadi diantara keduanya bila Indonesia dan Jepang bersedia saling menukarkan batik dengan kimono (Deliarnov, 2006:41).

Menurut teori keunggulan komparatif dari David Ricardo, suatu negara disebut memiliki keunggulan komparatif dari negara lain jika negara tersebut mampu memproduksi lebih banyak barang atau jasa dengan biaya yang lebih murah dari pada negara lainnya. Suatu negara akan mengkhususkan diri pada ekspor barang tertentu, apabila negara tersebut memiliki keunggulan komparatif terbesar, dan akan mengkhususkan diri pada impor barang, apabila negara tersebut memiliki kerugian komparatif. Dengan kata lain, suatu negara akan melakukan ekspor barang, jika barang tersebut dapat diproduksi dengan biaya lebih rendah, dan akan melakukan impor, jika barang tersebut diproduksi dengan biaya lebih tinggi (Deliarnov, 2006:41).

16

Ada pula teori modern yang dikemukakan oleh Hecksher dan Ohlin (H-O) mengenai ketersediaan faktor produksi yang menyatakan bahwa komoditas- komoditas yang dalam produksinya memerlukan faktor produksi (yang melimpah) dan faktor produksi (yang langka) diekspor untuk ditukar dengan komoditas yang membutuhkan faktor produksi dalam proporsi yang sebaliknya. Jadi secara tidak langsung faktor produksi yang melimpah diekspor dan faktor produksi yang langka diimpor. Dengan kata lain suatu negara cenderung untuk mengekspor barang yang menggunakan faktor produksi relatif melimpah di negara tersebut, dan akan mengimpor barang yang menggunakan faktor produksi relatif langka.

Negara A (Eksportir) Perdagangan Internasional Negara B (Importir)

Sumber: Salvatore, 1997

Gambar di atas menjelaskan terjadi perdagangan internasional antara negara A dan negara B. Sehingga pada perdagangan internasional antara negara A sebagai negara pengekspor dan negara B sebagai negara pengimpor terjadi keseimbangan harga komoditi. Perdagangan internasional terjadi akibat kelebihan penawaran pada negara A dan kelebihan permintaan pada negara B. Pada negara

17

A harga suatu komoditas sebesar Pa, dan di negara B harga komoditas sebesar Pb. Pada pasar internasional harga yang dimiliki oleh negara A akan lebih kecil yaitu berada pada harga P* sehingga negara A akan mengalami kelebihan penawaran di pasar internasional.

Pada negara B, terjadi harga yang lebih besar dibandingkan harga pasar internasional. Sehingga akan terjadi kelebihan permintaan di pasar internasional. Pada keseimbangan di pasar internasional kelebihan penawaran negara A mejadi penawaran pada pasar internasional yaitu pada kurva ES. Sedangkan kelebihan permintaan negara B menjadi permintaan di pasar Internasional yaitu sebesar ED. Kelebihan penawaran dan permintaan tersebut akan terjadi keseimbangan harga pasar sebesar P*. Hal tersebut akan mengakibatkan negara A mengekspor, dan negara B mengimpor komoditas tertentu dengan harga sebesar P* di pasar Internasional. Maka perdagangan Internasional (ekspor-impor) terjadi karena terdapat perbedaan antara harga domestik (Pa dan Pb), harga internasional (P*), permintaan (ED), dan penawaran (ES) pada komoditas tetentu. Selain itu, nilai tukar mata uang pada pasar internasional antara suatu negara dengan negara lain secara tidak langsung akan menyebakan kegiatan ekspor- impor pada suatu negara.

Dokumen terkait