Model struktural atau inner model dilakukan dengan melihat presentase varian yang dijelaskan, yaitu dengan melihat R2 untuk konstruk laten dependen, Stone-Geisser Q-square test, dan juga melihat besarnya koefisien parameter jalur strukturalnya.
Berdasarkan pengolahan data dengan SmartPLS, dihasilkan nilai R-Square sebagai berikut:
Tabel 4.24. Nilai R-Square Model Variabel R-Square Entrep_Int. 0.188
Mkt_Cap 0.463
Org_Inn 0.766
Comp_Adv 0.536
Nilai R-Square untuk Entrepreneurial Intensity sebesar 0.188, memiliki arti bahwa prosentase besarnya keragaman data pada variabel Entrepreneurial Intensity yang dapat dijelaskan oleh variabel Environmental Turbulence adalah sebesar 18.8%, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa variabel Environmental Turbulence dapat mempengaruhi 18.8% Entrepreneurial Intensity dari obyek perusahaan manufaktur yang menjadi sampel penelitian.
Nilai R-Square untuk Marketing Capability sebesar 0.463, memiliki arti bahwa prosentase besarnya keragaman data pada variabel Marketing Capability yang dapat dijelaskan oleh variabel Entrepreneurial Intensity adalah sebesar 46.3%, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa variabel Entrepreneurial
72
Universitas Kristen Petra
Intensity dapat mempengaruhi 46.3% Marketing Capability dari obyek perusahaan manufaktur yang menjadi sampel penelitian.
Nilai R-Square untuk Organisational Innovation Intensity sebesar 0.766, memiliki arti bahwa prosentase besarnya keragaman data pada variabel Organisational Innovation Intensity yang dapat dijelaskan oleh variabel Entrepreneurial Intensity dan Marketing Capability adalah sebesar 76.6%, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa variabel Entrepreneurial Intensity dan Marketing Capability dapat mempengaruhi 76.6% Organisational Innovation Intensity dari obyek perusahaan manufaktur yang menjadi sampel penelitian.
Nilai R-Square untuk Competitive Advantage sebesar 0.536, memiliki arti bahwa prosentase besarnya keragaman data pada variabel Competitive Advantage yang dapat dijelaskan oleh variabel Entrepreneurial Intensity, Marketing Capability dan Organisational Innovation Intensity adalah sebesar 53.6%, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa variabel Entrepreneurial Intensity, Marketing Capability dan Organisational Innovation Intensity dapat mempengaruhi 53.6% Competitive Advantage dari obyek perusahaan manufaktur yang menjadi sampel penelitian.
Pada model PLS, penilaian goodness of fit diketahui dari nilai Q2. Nilai Q2 memiliki arti yang sama dengan koefisien determinasi (R-Square) pada analisis regresi, dimana semakin tinggi R-Square, maka model dapat dikatakan semakin fit dengan data. Dari Tabel 4.23 dapat dihitung nilai Q2 sebagai berikut:
Nilai Q2 = 1 – (1 – 0.188) x (1 – 0.463) x (1 – 0.766) x (1 – 0.536) = 0.953
Dari hasil perhitungan diketahui nilai Q2 sebesar 0.953, artinya besarnya keragaman dari data penelitian yang dapat dijelaskan oleh model struktural adalah sebesar 95.3%, sedangkan 4.7% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Berdasarkan hasil ini, model struktural pada penelitian dapat dikatakan telah memiliki goodness of fit yang baik.
Evaluasi untuk inner model yang selanjutnya adalah melihat koefisien path (path coefficient). Hipotesis penelitian dapat diterima jika nilai t hitung (t-statistic) > 1.96. Berikut adalah nilai koefisien path (original sample estimate) dan nilai t hitung (t-statistic) pada inner model:
73
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.25. Hasil Nilai Koefisien Path dan t-hitung
Hipotesis Pengaruh Koefisien Path t hitung Keterangan H1 Env_Turb -> Entrep_Int. 0.433 10.288 Diterima H2 Entrep_Int. -> Mkt_Cap 0.681 21.680 Diterima
H3 Mkt_Cap -> Org_Inn 0.228 4.968 Diterima
H4 Mkt_Cap -> Comp_Adv 0.177 2.257 Diterima
H5 Org_Inn -> Comp_Adv 0.270 2.756 Diterima
H6 Entrep_Int. -> Comp_Adv 0.347 4.114 Diterima H7 Entrep_Int. -> Org_Inn 0.704 18.339 Diterima
Nilai koefisien path pengaruh Environmental Turbulence terhadap Entrepreneurial Intensity adalah sebesar 0.433, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Environmental Turbulence terhadap Entrepreneurial Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya Environmental Turbulence, perusahaan beroperasi pada lingkungan yang memiliki resiko yang tinggi dan tidak pasti, adanya ketidakpastian tersebut dapat menurunkan kemampuan perusahaan dalam memprediksi masa depan (Hanvanich, Sivakumar, Hult, 2006). Dengan demikian, dengan adanya Environmental Turbulence, seorang pengusaha harus memiliki jiwa entrepreneurship yaitu menjadi semakin lebih berinovasi, proaktif, dan berani mengambil resiko (Morris & Jones, 1995). Selain itu, pengaruh Environmental Turbulence terhadap Entrepreneurial Intensity menunjukkan nilai t hitung sebesar 10.288 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Environmental Turbulence terhadap Entrepreneurial Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Environmental Turbulence terhadap Entrepreneurial Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H1 diterima).
Nilai koefisien path pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Marketing Capability adalah sebesar 0.681, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Entrepreneurial Intensity terhadap Marketing Capability pada sektor manufaktur di Surabaya. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya Entrepreneurial Intensity, dapat mendorong seseorang untuk mengeksploitasi peluang yang baru agar dapat bersaing di pasar (Kenney & Mujtaba, 2007). Perusahaan membutuhkan entrepreneurship agar dapat berorientasi pada pasar untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh
74
Universitas Kristen Petra
konsumen (Weerawardena, 2003). Selain itu, pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Marketing Capability menunjukkan nilai t hitung sebesar 21.680 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Marketing Capability pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Entrepreneurial Intensity terhadap Marketing Capability pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H2 diterima).
Nilai koefisien path pengaruh Marketing Capability terhadap Organisational Innovation Intensity adalah sebesar 0.228, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Marketing Capability terhadap Organisational Innovation Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya.
Hal tersebut dikarenakan dengan adanya Marketing Capability maka suatu perusahaan dapat mengkombinasikan pengetahuan pasar dan sumber daya perusahaan untuk menghasilkan suatu nilai tambah (Santos-Vijande, Sanzo-Pérez, Gutiérrez, Trespalacios, & Rodríguez, 2012). Menurut Akman & Yilmaz (2008) pun juga mengatakan bahwa marketing capability dapat membantu perusahaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan pelanggan dengan melakukan strategi yang inovatif. Selain itu, pengaruh Marketing Capability terhadap Organisational Innovation Intensity menunjukkan nilai t hitung sebesar 4.968 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Marketing Capability terhadap Organisational Innovation Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Marketing Capability terhadap Organisational Innovation Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H3 diterima).
Nilai koefisien path pengaruh Marketing Capability terhadap Competitive Advantage adalah sebesar 0.177, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Marketing Capability terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya Marketing Capability maka suatu perusahaan secara terus menerus menerapkan pengetahuan dan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pasar (Qureshi & Kratzer, 2011). Perusahaan yang memiliki marketing capability dapat mempengaruhi konsumen untuk memiliki persepsi positif terhadap produk
75
Universitas Kristen Petra
sehingga dapat menciptakan keunggulan bersaing (Murray, Gao, Kotabe, 2011).
Selain itu, pengaruh Marketing Capability terhadap Competitive Advantage menunjukkan nilai t hitung sebesar 2.257 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Marketing Capability terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Marketing Capability terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H4 diterima).
Nilai koefisien path pengaruh Organisational Innovation Intensity terhadap Competitive Advantage adalah sebesar 0.270, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Organisational Innovation Intensity terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya.
Hal tersebut dikarenakan Organisational Innovation Intensity dapat menciptakan ide-ide baru yang akan memberikan suatu nilai tambah, baik secara langsung kepada perusahaan, maupun secara tidak langsung kepada pelanggan (O'Cass &
Weerawardena, 2009). Menurut Urbancova (2013), adanya inovasi masih menjadi faktor penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan sehingga dapat mendorong terciptanya competitive advantage. Selain itu, pengaruh Organisational Innovation Intensity terhadap Competitive Advantage menunjukkan nilai t hitung sebesar 2.756 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Organisational Innovation Intensity terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Organisational Innovation Intensity terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H5 diterima).
Nilai koefisien path pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Competitive Advantage adalah sebesar 0.347, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Entrepreneurial Intensity terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya. Hal tersebut dikarenakan Entrepreneurial Intensity memungkinkan seorang entrepreneur untuk sensitif terhadap peluang untuk mendapatkan pasar yang baru dengan cara menciptakan suatu produk atau jasa yang bernilai tambah bagi pelanggan (Ong,
76
Universitas Kristen Petra
Ismail, Goh, 2010). Entrepreneurship adalah faktor penting dalam pembentukan posisi perusahaan yang kuat untuk mencapai keunggulan bersaing (Weerawardena, 2003). Selain itu, pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Competitive Advantage menunjukkan nilai t hitung sebesar 4.114 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Entrepreneurial Intensity terhadap Competitive Advantage pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H6 diterima).
Nilai koefisien path pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Organisational Innovation Intensity adalah sebesar 0.704, dimana nilai tersebut positif, yang berarti terdapat pengaruh positif antara Entrepreneurial Intensity terhadap Organisational Innovation Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya.
Hal tersebut dikarenakan Entrepreneurial Intensity dapat meningkatan kemakmuran melalui inovasi dan mengeksploitasi peluang yang ada (Nasution, Mavondo, Matanda, Ndubisi, 2011). Menurut Lee & Hsieh (2010), entrepreneurship akan membantu dalam menemukan ide yang inovatif dalam pengembangan produk, jasa, proses produksi, teknologi, bahan baku, dan model bisnis suatu organisasi. Selain itu, pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Organisational Innovation Intensity menunjukkan nilai t hitung sebesar 18.339 yang lebih besar dari nilai t tabel 1.96, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Organisational Innovation Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya signifikan. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa terdapat pengaruh positif antara Entrepreneurial Intensity terhadap Organisational Innovation Intensity pada sektor manufaktur di Surabaya terbukti (H7 diterima).
4.3. Pembahasan
Dari pengolahan data dengan menggunakan program Smart PLS yang telah dilakukan, peneliti mendapatkan bahwa semua hipotesis yang diajukan adalah benar dan dapat diterima. Adapun hipotesa yang diterima mencakup :
77
Universitas Kristen Petra
1. Terdapat pengaruh positif antara environmental turbulence terhadap entrepreneurial intensity pada perusahaan manufaktur di Surabaya.
Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai original sample pada tabel path coefficient yang menunjukkan nilai positif sebesar 0.433. Seiring dengan keadaan lingkungan bisnis yang terus berubah-ubah, dinamis, dan kompleks maka seorang pengusaha harus menjadi semakin lebih berinovasi, proaktif, dan berani mengambil resiko. Inovasi dilakukan untuk memberikan nilai tambah atas produk, sehingga perusahaan juga harus memiliki sikap proaktif dalam meningkatkan kualitas produk, serta berani menghadapi resiko yang mungkin akan timbul. Untuk menghadapi environmental turbulence, suatu perusahaan harus dapat beradaptasi dan semakin fleksibel dalam menghadapi konsumen dan pesaing agar dapat semakin berinovasi dan memiliki entrepreneurial intensity.
Berdasarkan hasil pengolahan data melalui PLS diketahui bahwa environmental turbulence mempunyai pengaruh positif terhadap entrepreneurial intensity pada perusahaan manufaktur di Surabaya. Hasil ini memberikan arti bahwa dengan adanya environmental turbulence, akan memberikan pengaruh positif terhadap meningkatnya entrepreneurial intensity. Dengan demikian dapat dilihat bahwa teori yang diajukan sesuai dengan penerapan aktual pada perusahaan manufaktur di Surabaya. Hal ini juga sesuai dengan kajian peneliti terdahulu, antara lain Qureshi & Kratzer (2011) yang menemukan hubungan positif antara environmental turbulence dengan entrepreneurial intensity.
2. Terdapat pengaruh positif antara entrepreneurial intensity terhadap marketing capability pada perusahaan manufaktur di Surabaya.
Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai original sample pada tabel path coefficient yang menunjukkan nilai positif sebesar 0.681.
Entrepreneurial intensity mendorong seseorang dalam mengeksploitasi peluang yang baru dengan berorientasi pada pasar sehingga dapat meningkatkan marketing capability perusahaan. Berorientasi pada pasar untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh konsumen sangatlah penting
78
Universitas Kristen Petra
dalam perusahaan yang berbasis pada kewirausahaan (Weerawardena, 2003).
Berdasarkan hasil pengolahan data melalui PLS diketahui bahwa entrepreneurial intensity mempunyai pengaruh positif terhadap marketing capability pada perusahaan manufaktur di Surabaya. Hasil ini memberikan arti bahwa dengan menerapkan entrepreneurial intensity, akan memberikan pengaruh positif terhadap meningkatnya marketing capability. Dengan demikian dapat dilihat bahwa teori yang diajukan sesuai dengan penerapan aktual pada perusahaan manufaktur di Surabaya.
Hal ini juga sesuai dengan kajian peneliti terdahulu, antara lain Lee &
Hsieh (2010) yang menemukan hubungan positif antara entrepreneurial intensity dengan marketing capability.
3. Terdapat pengaruh positif antara marketing capability terhadap organisational innovation intensity pada perusahaan manufaktur di Surabaya.
Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai original sample pada tabel path coefficient yang menunjukkan nilai positif sebesar 0.228. Marketing capability dapat meningkatkan organisational innovation intensity karena dengan adanya marketing capability, suatu perusahaan dapat melakukan hal-hal baru sebagai respon atas kondisi pasar (Grinstein, 2008).
Selanjutnya dengan memperoleh informasi pasar terkait kebutuhan pelanggan dan persaingan dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan inovasi. Inovasi dilakukan dengan melihat kebutuhan pelanggan agar dapat menciptakan nilai tambah bagi produk atau proses inovasi yang dilakukan.
Berdasarkan hasil pengolahan data melalui PLS diketahui marketing capability mempunyai pengaruh positif terhadap organisational innovation intensity pada perusahaan manufaktur di Surabaya. Hasil ini memberikan arti bahwa dengan menerapkan marketing capability pada perusahaan, akan memberikan pengaruh positif terhadap meningkatnya organisational innovation intensity. Dengan demikian dapat dilihat bahwa teori yang diajukan sesuai dengan penerapan aktual pada perusahaan manufaktur di Surabaya. Hal ini juga sesuai dengan kajian peneliti
79
Universitas Kristen Petra
terdahulu, antara lain Potocan (2013) dan Akman & Yilmaz (2008) yang menemukan hubungan positif antara marketing capability dengan organisational innovation intensity.
4. Terdapat pengaruh positif antara marketing capability terhadap competitive advantage pada perusahaan manufaktur di Surabaya.
Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai original sample pada tabel path coefficient yang menunjukkan nilai positif sebesar 0.177. Marketing capability memungkinkan perusahaan untuk lebih memahami kebutuhan pelanggan. Suatu perusahaan dapat memperoleh competitive advantage dan keuntungan jika perusahaan dapat memprediksi atas situasi yang mungkin terjadi di pasar dan dapat memberikan respon yang lebih cepat terhadap kebutuhan pelanggan dibandingkan kompetitor (Weerawardena, 2003). Perusahaan yang memiliki marketing capability juga dapat mempengaruhi konsumen untuk memiliki persepsi positif terhadap produk sehingga dapat menciptakan competitive advantage.
Berdasarkan hasil pengolahan data melalui PLS diketahui marketing capability mempunyai pengaruh positif terhadap competitive advantage pada perusahaan manufaktur di Surabaya. Hasil ini memberikan arti bahwa dengan menerapkan marketing capability pada perusahaan, akan memberikan pengaruh positif terhadap meningkatnya competitive advantage. Dengan demikian dapat dilihat bahwa teori yang diajukan sesuai dengan penerapan aktual pada perusahaan manufaktur di Surabaya.
Hal ini juga sesuai dengan kajian peneliti terdahulu, antara lain Santos-Vijande, Sanzo-Pérez, Gutiérrez, Trespalacios, & Rodríguez (2012) yang menemukan hubungan positif antara marketing capability dengan competitive advantage.
5. Terdapat pengaruh positif antara organisational innovation intensity