HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Model Struktural Peubah Laten Endogen Ketahanan Pangan
Dari hasil analisis diperoleh nilai koefisien jalur dari peubah laten ketersediaan pangan ke peubah laten penyerapan pangan sebesar 0,277 dan koefisien jalur dari peubah laten akses pangan ke peubah laten penyerapan pangan sebesar 0,279 sehingga model diatas menjadi
Hipotesis yang akan diuji untuk model tersebut adalah : H0
H :
1
Nilai koefisien jalur tersebut signifikan pada = 0,05 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik sebesar 2,884 dan 2,696, dengan demikian H
:
0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peubah laten ketersediaan pangan dan akses pangan berpengaruh secara signifikan terhadap peubah laten penyerapan pangan pada tingkat kepercayaan 95%. Nilai R2
3. Model Struktural Peubah Laten Endogen Ketahanan Pangan
untuk model ini sebesar 0,208 yang artinya bahwa hanya 20,8% keragaman dari peubah laten penyerapan pangan yang mampu dijelaskan oleh peubah laten ketersediaan pangan dan akses pangan, sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Untuk peubah laten endogen ketahanan pangan dapat dibentuk model struktural seperti pada gambar berikut :
Gambar 11 Model Struktural Ketahanan Pangan
Berdasarkan gambar tersebut maka model struktural untuk peubah laten endogen penyerapan pangan adalah :
40
Dari hasil analisis diperoleh nilai koefisien jalur dari peubah laten ketersediaan pangan, akses pangan dan penyerapan pangan ke peubah laten ketahanan pangan masing-masing sebesar 0,295, 0,218 dan 0,316 sehingga model diatas menjadi :
Hipotesis yang akan diuji untuk model tersebut adalah : H0
H :
1
Nilai koefisien jalur tersebut signifikan pada = 0,05 yang ditunjukkan dengan nilai t-statistik masing-masing koefisien jalur adalah 3,324, 2,227 dan 4,550, dengan demikian H
:
0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peubah laten ketersediaan pangan, akses pangan dan penyerapan pangan berpengaruh secara signifikan terhadap peubah laten ketahanan pangan pada tingkat kepercayaan 95%. Nilai R2 untuk model ini sebesar 0,400 yang artinya bahwa 40% keragaman dari peubah laten ketahanan pangan yang mampu dijelaskan oleh peubah laten ketersediaan pangan, akses pangan dan penyerapan pangan, sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Pemodelan Ketahanan Pangan Indonesia
Dalam penelitian ini, model ketahanan pangan dibentuk berdasarkan hasil analisis indikator-indikator yang valid digunakan pada model pengukuran dan peubah-peubah laten yang signifikan berpengaruh pada model struktural. Dari hasil analisis diperoleh hasil evaluasi (validasi) dari model pengukuran bahwa kedua belas indikator valid dalam pengukuran setiap konstruk latennya yang ditunjukkan dengan nilai loading untuk seluruh indikator lebih besar dari 0,7, sehingga seluruh indikator dapat digunakan dalam membentuk model ketahanan pangan. Hasil validasi kedua belas indikator disajikan pada Tabel 7 berikut.
41
Tabel 7 Nilai Loading Seluruh Indikator pada Masing-masing Peubah Laten
Peubah Laten Indikator Nilai
Loading
Ketersediaan Pangan Kons_Norm Kons_Kalori Kons_Protein
0,185 0,530 0,380 Akses Pangan Tdk_Miskin
Ak_Listrik Ak_Jalan Ak_Pasar 0,320 0,345 0,217 0,296 Penyerapan Pangan Ak_Air
Ak_Sehat
0,466 0,661 Ketahanan Pangan AHH
Tdk_Under Tdk_Stunting
0,793 0,878 0,810
Sedangkan berdasarkan hasil pengujian hipotesis peubah laten ketersediaan pangan, akses pangan dan penyerapan pangan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peubah laten ketahanan pangan.
Dengan demikian, dalam penelitian ini model ketahanan pangan yang dapat dibentuk terdiri dari tiga model struktural dan empat model pengukuran sebagai berikut :
1. Model struktural pengaruh peubah laten ketersediaan pangan terhadap peubah laten akses pangan yaitu :
2. Model struktural pengaruh peubah laten ketersediaan pangan dan akses pangan ke peubah laten penyerapan pangan yaitu :
3. Model struktural pengaruh peubah laten ketersediaan pangan, akses pangan dan penyerapan pangan ke peubah laten ketahanan pangan yaitu :
4. Model pengukuran konstruk ketahanan pangan yaitu :
dengan :
= Angka harapan hidup (AHH)
42
= Balita yang tidak stunting (Tdk_Stunting)
5. Model pengukuran konstruk ketersediaan pangan yaitu :
dengan :
= Konsumsi Kalori (Kons_Kalori) = Konsumsi Protein (Kons_Protein) =Rasio konsumsi normatif (Kons_Norm) 6. Model pengukuran konstruk akses pangan yaitu :
dengan :
= Penduduk tidak miskin (Tdk_Miskin)
= Rumah tangga yang menggunakan Listrik (Ak-Listrik) = Akses jalan (Ak_Jalan)
= Akses pasar (Ak_Pasar)
7. Model pengukuran konstruk penyerapan pangan yaitu :
dengan :
= Rumah tangga yang menggunakan air dengan kualitas baik (Ak_Air) = Rumah tangga yang memiliki akses ke fasilitas kesehatan (Ak_Sehat)
Pengaruh antar Peubah Penelitian
Pada persamaan struktural yang melibatkan banyak peubah dan jalur antar peubah, terdapat pengaruh antar peubah yang meliputi pengaruh langsung (direct
effects), pengaruh tidak langsung (indirect effects) dan pengaruh total (total effects). Untuk itu akan dibahas secara rinci masing-masing pengaruh tersebut. 1. Pengaruh langsung, tidak langsung dan total dari peubah laten eksogen ke
peubah laten endogen
Hubungan langsung, tidak langsung dan total yang terjadi antara peubah laten eksogen dengan peubah laten endogen secara lengkap disajikan pada Tabel 8 berikut.
43
Tabel 8Pengaruh langsung, tidak langsung dan total dari peubah laten eksogen ke peubah laten endogen
Peubah Laten Pengaruh
Eksogen Endogen Langsung Tak Langsung Total
Ketersediaan Pangan Penyerapan pangan Ketahanan pangan Akses pangan 0.277 0.295 0,346 0.096 0.193 - 0.373 0.488 - Berdasarkan Tabel 8, dapat dijelaskan besar pengaruh langsung peubah laten eksogen terhadap peubah laten endogen. Ketersediaan pangan memberikan kontribusi terhadap penyerapan pangan, ketahanan pangan dan akses pangan masing-masing sebesar 0.277, 0.295, dan 0.346. Dari tabel tersebut juga dapat dijelaskan besar pengaruh tidak langsung dari peubah laten eksogen terhadap peubah laten endogen. Pengaruh tidak langsung ketersediaan pangan terhadap penyerapan pangan dengan mediasi akses pangan adalah sebesar 0.096. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan ketersediaan pangan akan berdampak pada peningkatan penyerapan pangan sebagai akibat adanya peningkatan akses pangan. Dari pengaruh langsung dan tak langsung ketersediaan pangan terhadap penyerapan pangan maka dapat disimpulkan bahwa ketersediaan pangan memberikan pengaruh total terhadap penyerapan pangan sebesar 0.373. Artinya bahwa setiap kenaikan skor ketersediaan pangan sebesar 100 persen akan meningkatkan skor penyerapan pangan sebesar 37,3 persen.
Pengaruh tidak langsung ketersediaan pangan terhadap ketahanan pangan dengan mediasi akses pangan dan penyerapan pangan adalah sebesar 0.193. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan ketersediaan pangan akan berdampak pada peningkatan penyerapan pangan sebagai akibat adanya peningkatan akses pangan dan penyerapan pangan. Sehingga ketersediaan pangan memberikan pengaruh total terhadap ketahanan pangan melalui mediasi akses pangan dan penyerapan pangan adalah sebesar 0.488. Artinya bahwa setiap kenaikan skor ketersediaan pangan sebesar 100 persen akan meningkatkan skor ketahanan pangan sebesar 48,8 persen. Dari tabel juga dapat diketahui pengaruh langsung ketersediaan pangan terhadap akses pangan sebesar 0.346.
44
2. Pengaruh langsung, tidak langsung dan total dari peubah laten endogen ke