• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.6.3 Model Z-Score Modifikasi (Z”-Score)

Seiring berjalannya waktu, perkembangan pasar obligasi dan investasi pada obligasi sudah menjalar ke negara-negara berkembang. Maka Altman memodifikasi kembali model ini. Dalam Z’’-Score ini, Altman mengeliminasi variabel �5, yaitu rasio

penjualan terhadap total aset. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan potensi dampak industri yang kemungkinan terjadi pada variabel yang sensitif terhadap industry sebagaimana jika perputaran aset dimasukkan dan nilai pasar ekuitas menjadi nilai buku ekuitas. Persamaan Z”-Score adalah sebagai berikut “

Z” = 6,56 X1 + 3,26 X2 + 6,72 X3 + 1,05 X4 Sumber: wikipedia.org

Keterangan :

X1 : modal kerja / total aset X2 : laba ditahan / total aset X3 : laba usaha (EBIT) / total aset X4 : nilai pasar ekuitas / total aset Z : nilai Z-Score

Maka discriminant area yang ditetapkan Altman, adalah sebagai berikut :

•Z’ > 2,60 : kemungkinan bangkrut perusahaan kecil

•Z’ < 1,21 : kemungkinan bangkrut perusahaan besar

•1,21 < Z’ < 2,60 : kemungkinan bangkrut meragukan (grey area) Model kebangkrutan modifikasi ini diterapkan pada perusahaan publik dan non publik, pada semua jenis ukuran perusahaan, dan untuk semua perusahaan dalam industri yang berbeda.

Jadi, karena penelitian mengguanakan sampel perusahaan manufaktur yang khususnya pada industri farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, maka penelitian ini menggunakan formula Altman yaitu :

Z = 0,717X1 + 0,847X2 + 3,107X3 + 0,420X4 + 0,998X5 Sumber: wikipedia.org

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Di bawah ini hasil penelitian terdahulu yang menjadi panduan membuat skripsi ini. Penelitian tersebut yaitu :

Tabel 2.1

Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu

Nama Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian

Tommy saragih Prediksi Kebangkrutan Perusahaan Berdasarkan Analisa Model Z-Score Altman Pada Perusahaan Farmasi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Dependen = Prediksi kebagkrutan perusahaan. Independen = model disktriminan Altman.

Analisis terhadap perusahaan farmasi dengan model Altman menunjukkan

bahwa 22,2% atau 2 perusahaan yang berpotensi kebangkrutan pada tahun

2005, 11,1% atau 1 perusahaan pada tahun 2006, 22,2% atau 2 perusahaan pada tahun 2007 dan 22,2% atau 2 perusahaan pada tahun 2008 Harry Sibarani Prediksi Kebangkrutan Perusahaan Berdasarkan Analisa Model Z-score Altman Pada Perusahaan Makanan dan Dependen = Prediksi kebagkrutan perusahaan. Independen = model

tingkat signifikansi yang dimiliki masing-masing

variabel independen menunjukkan bahwa rasio

keuangan tidak dapat digunakan memprediksi kondisi financial distress perusahaan, karena tingkat

Minuman di BEI disktriminan Altman.

signifikansi masing-masing variabel independen berada di atas 5%. Ardani, Sarifah Vesselina Analisis Rasio Keuangan dengan Menggunakan Metode Altman untuk Mengukur Kesehatan Perusahaan Manufaktur Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Dependen = Prediksi kebagkrutan perusahaan. Independen = model disktriminan Altman Almant Z – Score menunjukkan hubungan yang parsial dan simultan terhadap

kesehatan perusahaan. Putri Siregar Penilaian Tingkat Kebangkrutan Perusahaan Dengan Metode Altman Z-Score Pada Perusahaan Kontruksi Bangunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2009 Dependen = Kebangkrutan Perusahaan. Independen = Model disktriminan Altman Hasil Penelitian :

Penilaian terhadap 6 (enam) perusahaan kontruksi bangunan dengan

menggunakan model Altman menunjukkan 16.66 % atau 1 perusahaan dikategori

bangkrut pada tahun 2007,2008 dan 2009. Sedangkan yang masuk kategori rawan bangkrut sebanyak 66.66 % atau 4 perusahaan pada tahun 2007,2008 dan 2009, serta 16.66% atau 1 perusahaan pada tahun 2007,2008 dan 2009 dikategori perusahaan tidak bangkrut.

Berdasarkan pada kajian teori dan hasil penelitian terdahulu mengenai tingkat kebangkrutan perusahaan dengan berbagai macam metode Alman Z-Score. Kerangka konseptual ini adalah adanya pengaruh positif dari rasio Net Working Capital to Total Assets(�1 ), Retained Earning to Total Assets( 2), Earnings Before Interest Before Interest and Tax to Total Assets (�3), rasio Book Value of Equity to Total Liability(�4), dan rasio Sales to Total Assets

terhadap kebangkrutan perusahaan. Maka permasalahan dalam penelitian ini dapat digambarkan dengan kerangka pemikiran sebagai berikut :

H1 H2

H3 H6

Working Capital / Total Asset (X1)

Retained Earnings / Total Assets (X2)

EBIT / Total Asset (X3)

Prediksi Kebangkrutan

Perusahaan (Y)

H4

H5

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

1) Perbandingan antara modal kerja terhadap total aktiva (X1).

Merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja. Dimana modal kerja (working capital) diperoleh dari selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar. Indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat likuiditas perusahaan adalah indikator-indikator internal, seperti kekurangan kas, besarnya utang dagang, utilisasi modal (harta kekayaan), tingginya hutang yang tidak terkendali dan beberapa indikator lainnya (Altman, 1968).

2) Perbandingan laba ditahan terhadap total aktiva (X2). Book Value of Equity / Total

Liability (X4)

Sales / Total Asset (X5)

Merupakan rasio untuk mengukur besarnya kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, ditinjau dari kemampuan perusahaan yang bersangkutan dalam memperoleh laba (Altman, 1968).

3) Perbandingan antara pendapatan sebelum dikurangi biaya bunga, pinjaman dan pajak terhadap total aktiva (X3).

Merupakan rasio yang mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah adanya masalah pada kemampuan profitabilitas perusahaan diantaranya adalah tingginya piutang dagang, tingkat penjualan yang rendah, besarnya persediaan, rendahnya perputaran piutang, kecilnya kredibilitas perusahaan, serta kesediaan member kredit pada konsumen yang tidak dapat membayar tepat pada waktunya (Altman, 1968). 4) Perbandingan antara total nilai saham terhadap nilai pembukuan total hutang atau

modal sendiri terhadap total hutang.

Merupakan rasio aktivitas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modal sendiri (Altman, 1968). 5) Perbandingan antara penjualan terhadap total aktiva.

Merupakan rasio aktivitas juga yang mendeteksi kemampuan dana perusahaan yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam satu periode tertentu. Rasio ini dapat pula digunakan untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan oleh perusahaan untuk menghasilkan revenue (Altman, 1968).

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah prediksi kebangkrutan perusahaan dari setiap perusahaan yang dipilih menjadi sampel. Kesehatan perusahaan merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam mengelola usahanya agar tidak terancam kebangkrutan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan perusahaan.

2.4 Hipotesis

Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu mengenai prediksi kebangkrutan dengan menggunakn Almant Z-Score, maka rumusan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :

H1 : Net Working Capital to Total Assets berpengaruh positif terhadap prediksi tingkat kebangkrutan

H2 : Retained Earning to Total Assets berpengaruh positif terhadap prediksi tingkat kebangkrutan

H3 : Earning Before Interest and Tax to Total Assets berpengaruh positif terhadap prediksi tingkat kebangkrutan

H4: Book Value of Equity to Total Liability berpengaruh positif terhadap prediksi tingkat kebangkrutan

H5: Sales to Total Asset berpengaruh positif terhadap prediksi tingkat kebangkrutan.

H6 : Net Working Capital to Total Assets, Retained Earning to Total Asset, Earning Before Interest and Tax to Total Assets, Book Value of Equity to

Total Liability, Sales to Total Asset berpengaruh positif terhadap prediksi tingkat kebangkrutan secara simultan.

Dokumen terkait