• Tidak ada hasil yang ditemukan

Monitoring Pelaku Usaha di Industri Telekomunikasi

PELAKSANAAN MONITORING, KAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN

7. Monitoring Pelaku Usaha di Industri Telekomunikasi

Kontroversi muncul dalam industri telekomunikasi Indonesia ketika Voice over Internet Protocol (VoIP) yang merupakan teknologi baru telekomunikasi mulai dikenal dan dimanfaatkan di Indonesia. Munculnya teknologi ini telah membuat hiruk pikuk industri telekomunikasi Indonesia mengingat aplikasi teknologi ini sangat berpengaruh terhadap performance keuangan dua pelaku usaha utama telekomunikasi Indonesia. VoIP telah secara nyata mampu mereduksi pendapatan keduanya, karena mampu menjadi sarana telekomunikasi jarak jauh (SLJJ dan SLI) dengan tarif yang jauh lebih rendah. Pada saat yang sama pemerintah tidak memiliki aturan yang tegas mengenai VoIP, apakah masuk ke dalam produk jasa internet (yang pelaku usahanya saat itu sangat banyak) atau ke dalam telekomunikasi suara yang selama ini menjadi hak eksklusivitas dua pelaku usaha utama telekomunikasi Indonesia.

Kontroversi kemudian berlanjut ketika kebijakan baru berkaitan dengan VoIP dikeluarkan, terutama saat penunjukan operator yang berhak menjalankan VoIP dilakukan, di mana muncul dua operator baru yang sama sekali tidak dikenal dalam dunia telekomunikasi Indonesia. Sementara pada saat yang sama beberapa pelaku usaha telekomunikasi yang sudah ada dan telah menggunakan VoIP sebagai salah satu produknya, tidak diberi kesempatan sama sekali untuk menjadi operator VoIP.

Sehingga muncul dugaan persaingan tidak sehat dalam industri ini.

Kontroversi ini mendorong KPPU untuk melakukan proses monitoring. Proses monitoring kemudian diperluas menjadi monitoring terhadap bisnis telekomunikasi mengingat lahirnya kebijakan baru pemerintah, yakni kebijakan duopoli. Permasalahan telekomunikasi seperti VoIP pada prinsipnya berakar dari hadirnya permasalahan duopoli telekomunikasi Indonesia di mana dua BUMN menjadi pelaksananya.

Berbagai dugaan praktek persaingan usaha tidak sehat muncul dari pelaksanaan kegiatan monitoring ini, terutama sebagai konsekuensi kebijakan duopoli pemerintah. KPPUpun telah secara intensif mengkomunikasikan persoalan-persoalan tersebut dengan pihak-pihak terkait. Salah satu kesimpulan yang dapat ditarik kemudian adalah persoalan-persoalan persaingan usaha yang berkaitan dengan kebijakan duopoli hanya dapat diselesaikan setelah masalah kompensasi terhadap pencabutan hak eksklusivitas diselesaikan secara tuntas. Karena itu pemerintah berjanji untuk menyelesaikan masalah tersebut pada awal 2003.

Sampai saat ini proses monitoring terhadap bisnis telekomunikasi Indonesia terus dilakukan dengan fokus monitoring pada pelaku usaha pemegang duopoli.

8. Monitoring Persaingan Bisnis Transportasi Udara, Laut

dan Kereta Api

Persaingan yang terjadi pada moda transportasi udara telah menjadi bukti nyata dari efektifnya persaingan usaha sebagai instrumen pendorong terciptanya efisiensi dunia usaha.

Konsumen kini bisa menikmati tarif yang tereduksi sampai 50% dari tarif terdahulu. Di sisi lain proses persaingan telah mendorong pelaku usaha untuk melakukan upaya efisiensi.

Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, opini berkembang di publik bahwa imbas proses persaingan ini merembet ke moda transportasi lainnya seperti Kereta Api, Bus dan Angkutan Laut (khususnya angkutan penumpang). Berkali-kali muncul kontroversi publik bahwa persaingan di udara telah menghasilkan dampak negatif bagi dunia usaha transportasi lainnya. Karena itu berbagai pihak mengusulkan agar persaingan di udara dihentikan dengan mengusulkan kebijakan penetapan batas tarif bawah.

Munculnya opini-opini tersebut sangat mengganggu dan dapat merusak proses persaingan sehat yang tengah terjadi. Untuk itulah KPPU melakukan proses monitoring terhadap perkembangan bisnis transportasi. Melalui proses monitoring diketahui bahwa persaingan transportasi udara masih berada dalam koridor persaingan usaha yang sehat. Sementara kondisi yang berimbas terhadap moda transportasi lainnya hendaknya diletakkan pada proporsi yang benar di mana keterdesakan tersebut sebenarnya merupakan cermin ketidakefisienan moda transportasi yang bersangkutan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa persaingan bisnis transportasi udara ini bisa menjadi titik tolak hadirnya sistem transportasi nasional yang efisien.

9. Monitoring Proses Tender Oleh Pelaku Usaha di Bidang

Perminyakan.

Monitoring ini merupakan tindak lanjut dari kasus menyangkut tender outsourcing yang dilakukan oleh salah satu pelaku usaha perminyakan Indonesia. Proses monitoring ditujukan untuk

memantau apakah pelaksanaan tender outsourcing yang dilakukan pelaku usaha (yang menjadi fokus monitoring) dapat menghambat atau bahkan mematikan pelaku usaha yang biasanya melakukan kegiatan pengadaan barang dan atau jasa pada kontraktor Production Sharing di lingkungan Pertamina, yang kebanyakan berasal dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Di sisi lain proses monitoring juga diharapkan mampu menghasilkan analisa apakah konsep outsourcing dapat dikategorikan upaya efisiensi yang tidak menimbulkan persaingan usaha tidak sehat.

Dari hasil monitoring diperoleh kesimpulan bahwa dalam tender yang dilakukan pelaku usaha yang menjadi fokus monitoring, meskipun hanya perusahaan besar yang mampu menjadi peserta namun dalam pelaksanaannya tetap mengikutsertakan dan tidak mematikan perusahaan-perusahaan kecil sebagai produsen, partner, agen dan atau perwakilan lokal. Sebagian besar barang dan jasa kebutuhan pelaku usaha tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga peranan perusahaan lokal masih lebih banyak sebagai agen dan perwakilan saja dengan nilai tambah yang tidak berarti. Meskipun metode

outsourcing berpotensi untuk disalahgunakan oleh pihak

penyelenggara, akan tetapi dapat menghasilkan efisiensi, sehingga diperlukan pengawasan agar tidak merugikan kepentingan nasional. Metode outsourcing atau yang sejenis dapat dikembangkan dalam proses pengadaan barang dan atau jasa di bidang yang lain, khususnya yang dibiayai oleh negara.

10. Monitoring Dugaan Terjadinya Pelanggaran yang

Dilakukan Beberapa Perusahaan Inti yang Berkaitan dengan Perjanjian Tertutup dalam kegiatan Usaha DOC.

Proses monitoring ini merupakan inisiatif KPPU terhadap perkembangan industri peternakan ayam. Kondisi dan indikator yang dimunculkan pasar dan hadirnya pelaku usaha besar yang terbatas jumlahnya, telah memunculkan dugaan hadirnya persaingan usaha tidak sehat dalam industri ini. Fokus monitoring diletakkan terhadap beberapa pelaku usaha yang saat ini menjadi penguasa pasar industri ini dari hulu sampai hilir. Sampai saat ini proses monitoring masih terus berlangsung dan diharapkan selesai pada awal 2003.

11. Monitoring Persaingan Usaha tidak Sehat dalam Jasa

Kepelabuhan

Privatisasi BUMN pemegang posisi dominan yang bergerak dalam jasa kepelabuhanan di Tanjung Priuk ternyata memunculkan indikasi persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan pelaku usaha tersebut. Sejumlah informasi yang masuk ke KPPU mengindikasikan bagaimana hal tersebut terjadi. Atas dasar inilah KPPU membentuk Tim Monitoring.

Hal terpenting yang KPPU peroleh dari hasil monitoring ini adalah ditemukannya klausul perjanjian antara pelaku usaha dengan pelaku usaha wakil pemerintah yang menyatakan bahwa tidak akan ada pembangunan terminal petikemas internasional lainnya yang dilaksanakan di Pelabuhan Tanjung Priuk sebagai tambahan atas Terminal Peti Kemas I, II dan III sampai

Throughput di pelabuhan Tanjung Priuk telah mencapai 75% dari

kapasitas rancang bangun tahunan yaitu 3.8 juta TEUS. Klausul ini merupakan bentuk hambatan pasar yang nyata terhadap upaya mendorong persaingan usaha jasa kepelabuhanan di Tanjung Priuk. Sampai saat ini KPPU masih melakukan proses monitoring terhadap kasus ini.

Kajian

Program kajian lebih ditujukan untuk pendalaman terhadap struktur industri tertentu dan perilaku pelaku usaha di dalam industri tersebut, serta eksplorasi isu-isu persaingan yang berkaitan dengan eksistensi regulasi. Pendalaman terhadap struktur industri akan menghasilkan data dan informasi yang bersifat umum untuk sektor industri tersebut. Gambaran struktur tersebut akan memudahkan KPPU dalam menjalankan tugasnya, karena peta persaingan industri di Indonesia menjadi lebih jelas, sehingga pada akhirnya fokus-fokus aktivitas lainnya seperti monitoring dan penanganan perkara menjadi lebih mudah dilakukan. Kajian terhadap sektor-sektor industri dan perdagangan ditindaklanjuti dengan penyampaian saran dan pertimbangan kepada Pemerintah apabila informasi yang diperoleh menunjukkan kebijakan Pemerintah yang ada telah mendorong terciptanya iklim persaingan usaha yang tidak sehat.

Kajian Sektor Industri

a. Kajian Sektor Industri Kertas

Hasil kajian menunjukkan bahwa struktur pasar dalam industri pulp dan kertas Indonesia cenderung oligopolistik yang menyebabkan dominasi beberapa pelaku usaha dalam industri ini. Meski industri kertas nampak lebih dinamis dibanding industri pulp karena jumlah pelaku usaha di Industri kertas jauh lebih banyak, tetapi potensi munculnya kartel dalam industri ini tetap muncul akibat struktur oligopolistik tadi. Bahkan hal ini diperkuat oleh temuan yang menunjukkan bahwa untuk beberapa jenis produk, pasar domestik cenderung tidak terintegrasi dengan harga internasional.

Hal lain yang muncul dalam industri ini adalah terdapatnya integrasi vertikal yang dilakukan oleh pelaku utama industri ini. Penguasaan hulu dan hilir bahkan sampai distribusi sangat mempengaruhi kondisi persaingan di industri ini.

Dua kondisi ini telah mendorong KPPU untuk tetap memantau perkembangan dalam industri ini.

b. Kajian Sektor Minyak Goreng

Struktur industri minyak goreng perkembangannya hampir serupa dengan industri pulp dan kertas, di mana pasar cenderung oligopolistik melalui penguasaan pasar oleh beberapa pelaku usaha yang menjadi pemegang posisi dominan. Hanya ada dua pelaku usaha yang mendominasi pasar minyak goreng bermerek. Meskipun minyak goreng bermerek diperkirakan hanya menguasai 40% dari seluruh pasar minyak goreng dalam negeri dan sisanya diserap oleh minyak goreng tanpa merek, namun sebagian besar produk minyak goreng tanpa merek juga dihasilkan pelaku usaha dominan di pasar bermerek.

Selain pasar oligopolistik tadi, terdapat hal yang harus dicermati dari industri ini, yakni munculnya integrasi vertikal yang dilakukan pemegang posisi dominan mulai dari perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku, industri CPO dan industri pengolahan minyak makan goreng, bahkan sampai distributor dan retailernya. Kondisi ini rawan memunculkan hadirnya persaingan usaha tidak sehat di industri ini.

Berdasarkan PP No 28/1997 ditetapkan bahwa Holding

Company PT Pupuk Sriwijaya menjadi pemegang saham

empat produsen pupuk lainnya di Indonesia sehingga praktis pupuk menjadi monopoli pemerintah. Tetapi ternyata pilihan ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan ketersediaan pupuk terutama di daerah-daerah sentra produksi padi. Pilihan kebijakan tersebut telah menimbulkan struktur pasar yang monopolistik sehingga berpotensi merugikan konsumen pupuk dan menjadi salah satu sumber inefisiensi perekonomian.

Sementara itu studi terhadap harga eceran tetap menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di sektor ini semakin tidak efektif. Pemerintah tampaknya harus segera membenahi kebijakan di sektor ini. Dibandingkan dengan harga pupuk dunia maka terlihat bahwa telah terjadi penurunan yang signifikan dari daya saing pupuk Indonesia terhadap pupuk dunia. Ini merupakan konsekuensi kebijakan pemerintah yang cenderung anti persaingan.

Kondisi-kondisi di atas telah menyebabkan perlunya segera didorong kebijakan kompetisi industri pupuk. Alasan utama pemilihan kebijakan ini adalah untuk meminimalkan penggunaan kekuatan monopoli yang merugikan masyarakat, seraya meningkatkan daya saing industri pupuk dalam menghadapi persaingan global.

d. Kajian Sektor Farmasi

Perkembangan industri farmasi di Indonesia tergolong pesat. Terdapat fenomena yang fantastis dalam industri ini berupa hadirnya 210 industri farmasi (sekitar 3% dari populasi perusahaan farmasi dunia). Hal ini terasa paradoks mengingat

pasar industri Indonesia sangatlah kecil, hanya 0.3% dari pasar dunia. Saat ini di pasar hadir kurang lebih 18.000 merek obat.

Paradoks lainnya yang terjadi adalah sedikitnya obat OTC (over the counter), yaitu obat yang diperdagangkan tanpa resep, yang dikenal mereknya oleh masyarakat. Sebagian besar obat di Indonesia diperdagangkan secara ethical (harus memakai resep) dan B to B (business to business) terutama ke rumah sakit dan poliklinik.

Kenyataan bahwa produk farmasi mampu bertahan dalam pasar yang sangat kecil menimbulkan dugaan bahwa industri ini menikmati marjin yang sangat besar. Sementara itu indikasi sedikitnya OTC, karena sebagian besar diperdagangkan secara B to B, telah memunculkan dugaan adanya upaya persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan pelaku usaha industri ini.

Perkembangan lain yang muncul dari industri ini adalah panjangnya rantai distribusi. Akibat hal ini beberapa perusahaan telah melakukan integrasi vertikal dengan mendirikan perusahaan distributor bahkan rumah sakit. Tetapi kondisi ini tidak serta merta menyebabkan harga obat menjadi murah, karena kondisi pasar menggambarkan rendahnya daya tawar konsumen terhadap produsen obat. Bahkan sangat mungkin terjadinya kolusi antar pelaku usaha di berbagai level kegiatan industri yang menyebabkan kondisi pasar seperti di atas. Integrasi vertikal dalam kondisi ini hanya menciptakan eksploitasi saja, karena produsen obat akan tetap bertahan pada tingkat harga yang sudah menjadi sumber keuntungannya.

Hal ini kemudian diperkuat oleh fakta bahwa persaingan antara industri obat tergolong ketat. Gambaran ini terasa semu karena kondisi pasar seperti yang telah diuraikan di atas. Sebagai tindak lanjut terhadap kondisi ini, KPPU akan terus memantau perkembangan industri ini.

e. Kajian Makro Struktur Industri Indonesia

Kajian ini telah menghasilkan peta persaingan yang terjadi dalam sektor industri dan perdagangan Indonesia. Selain itu juga telah berhasil diidentifikasi kondisi struktur pasar beberapa sektor industri dan perdagangan Indonesia. Secara umum hasil kajian memperlihatkan masih banyaknya sektor industri dan perdagangan yang struktur pasarnya cenderung

oligopolist bahkan monopolist. Tetapi di beberapa industri

kondisi persaingan usaha yang sehat juga nampak berlangsung saat ini.

Kajian Perundang-undangan

a. Kajian Formulasi Denda Administrasi dan Ganti Rugi atas Pelanggaran UU No 5 Tahun 1999

Kajian awal telah menghasilkan prinsip-prinsip pokok dalam memformulasikan denda administrasi dan ganti rugi atas pelanggaran UU No 5/1999. Prinsip-prinsip ini diperlukan untuk menghitung kerugian masyarakat dan negara yang ditimbulkan oleh pelanggaran UU No 5/1999 sehingga pengenaan denda dan ganti rugi memiliki dasar yang jelas.

b. Kajian Undang-Undang Jasa Konstruksi

Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi UU No 18/1999 tentang Jasa Konstruksi beserta perangkat

perundang-undangan lainnya seperti peraturan pemerintah dan Keputusan Presiden, masih memunculkan peluang terjadinya persaingan usaha tidak sehat seperti praktek diskriminasi, persekongkolan dan penyelahgunaan posisi dominan. Hasil kajian ini masih dalam proses penyempurnaan dan diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi bagi penyempurnaan pelaksanaan UU No 18/1999.

c. Kajian Tentang Otonomi Daerah

Otonomi daerah menjadi perhatian KPPU karena pelaksanaannya berdampak terhadap persaingan usaha. Dalam prakteknya, pelaksanaan otonomi daerah telah menghasilkan regulasi-regulasi lokal yang menghambat persaingan usaha. Beberapa di antaranya adalah regulasi yang mendiskriminasi pelaku usaha lokal dengan pelaku-pelaku usaha dari daerah lainnya, pemberian lisensi monopoli kepada pelaku-pelaku usaha tertentu, pembentukan badan-badan usaha yang melibatkan pemerintah daerah yang disertai dengan pemberian lisensi kepada badan-badan usaha tersebut, serta berbagai bentuk kebijakan lokal lainnya.

Hasil kajian ini masih dalam proses penyempurnaan dan diharapkan selesai sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah pada awal tahun 2003.

d. Kajian Keppres No 18 Tahun 2000

Hasil kajian terhadap Keppres No 18 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah menunjukkan bahwa Keppres ini sarat dengan celah penyalahgunaan. Sehingga kecenderungan

persekongkolan seperti yang termaktub dalam pasal 22 UU No 5 Tahun 1999 menjadi sangat mungkin terjadi. Revisi terhadap Keppres ini nampaknya harus menjadi perhatian pemerintah agar proses pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan sesuai dengan tujuannya.

e. Kajian Undang-Undang Migas

Hasil kajian menunjukkan bahwa UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi akan membawa begitu banyak perubahan terhadap kondisi persaingan industri minyak dan gas Indonesia. Struktur industri ini akan mengalami perubahan yang besar. Hilangnya monopoli Pertamina akan menyebabkan hadirnya beberapa pelaku usaha baik di sektor hilir maupun hulu industri ini, sehingga persaingan antar pelaku usahapun menjadi tidak terhindarkan. Meskipun demikian, proses transisi dari struktur pasar monopoli ke arah pasar yang bersaing memerlukan pemantauan. Karena itu KPPU terus memantau perkembangan yang terjadi di sektor ini.

C. Dengar Pendapat

Program dengar pendapat merupakan salah satu instrumen pengumpulan data dan informasi yang efektif. Melalui dengar pendapat yang menghadirkan berbagai kalangan masyarakat ― antara lain pelaku usaha, pejabat pemerintah, individu, dan lembaga atau instansi terkait lainnya ― diharapkan akan diperoleh masukan berupa informasi dugaan pelanggaran terhadap UU No 5/1999 untuk mendukung aktivitas KPPU dalam melakukan kegiatan monitoring pelaku usaha, penanganan perkara, maupun tugas memberikan saran dan pertimbangan kebijakan kepada Pemerintah.

Sampai akhir Desember 2002, KPPU telah melaksanakan beberapa program dengar pendapat yang antara lain terdiri dari :

Dengar Pendapat tentang perkembangan bisnis VoIP (Voice over Protocol Internet) dalam industri Telekomunikasi

Dengar pendapat ini diselenggarakan tanggal 14 Mei 2002. Peserta dengar pendapat tersebut antara lain Departemen Perhubungan yang diwakili oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, PT Gaharu Sejahtera, PT Atlasat Solusindo, PT Pos Indonesia (Wasantara Net), Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII), dan Masyarakat Telekomunikasi (Mastel).

Dalam dengar pendapat tersebut, peserta yang hadir telah menyampaikan pendapatnya berkaitan dengan perkembangan bisnis VoIP dalam industri telekomunikasi. Pendapat sementara dari hasil dengar pendapat tersebut adalah adanya permasalahan yang berkaitan dengan UU Nomor 5/1999 antara lain menyangkut diskriminasi harga, posisi dominan, penetapan harga dan entry barrier. KPPU akan melakukan kajian lebih lanjut sebagai basis bagi upaya memberikan saran dan rekomendasi yang berkaitan dengan masalah persaingan usaha bidang telekomunikasi kepada pemerintah.

Dengar Pendapat tentang dugaan kartel industri semen

Dengar pendapat ini dilaksanakan tanggal 23 Oktober 2002. Hadir dalam dengar pendapat ini wakil dari Departemen

Perindustrian dan Perdagangan, para produsen semen, Asosiasi Semen Indonesia, pedagang besar semen dan LSM Monopoly Watch. Dari hasil dengar pendapat industri semen, diketahui kemungkinan munculnya kartel internasional yang berpengaruh terhadap perkembangan bisnis industri semen Indoneia. Hal ini terbukti dengan adanya hambatan bagi produsen atau eksportir semen Indonesia untuk mengekspor produknya ke beberapa negara tertentu. Hambatan ini dimungkinkan oleh perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan pelaku usaha internasional ketika divestasi saham sejumlah BUMN semen dilakukan Pemerintah. KPPU terus memantau dan mengkomunikasikan fenomena ini kepada pemerintah.

Dengar Pendapat tentang Persaingan Bisnis Transportasi Udara

Dengar pendapat dilaksanakan tanggal 4 November 2002. Dari hasil dengar pendapat diketahui bahwa pengalihan penetapan tarif dari INACA oleh pemerintah yang kemudian oleh Pemerintah diserahkan kepada mekanisme pasar, sudah tepat karena mendorong efisiensi usaha sekaligus melayani kepentingan konsumen. Sementara itu dari pelaku usaha muncul harapan agar pemerintah menjalankan perannya untuk meyakinkan konsumen bahwa harga yang murah tidak diperoleh dengan mengurangi biaya perawatan pesawat yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.

Dari dengar pendapat juga diperoleh informasi bahwa perang tarif antar perusahaan penerbangan yang sering diopinikan secara negatif selama ini, lebih merupakan tindakan manajemen antar pelaku usaha untuk memenangkan persaingan di mana tarif merupakan salah satu variabelnya. Bahkan perang tarif telah menyebabkan terbentuknya segmen pasar yang dibidik

oleh setiap maskapai penerbangan yang terbagi ke dalam dua kelompok besar yakni segmen yang price sensitive dan segmen

schedule sensitive. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa

pemerintah perlu mempertahankan kebijakan persaingan di kegiatan usaha angkutan udara. Yang perlu diperbaiki adalah pengawasan terhadap keamanan penerbangan.

Dengar pendapat ini dihadiri oleh wakil dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, pengusaha transportasi udara, asosiasi pengusaha terkait, LSM, pengamat transportasi dan Lembaga Konsumen.

Dengar Pendapat tentang Persaingan Bisnis Transportasi Darat

Dengar pendapat sektor transportasi darat pada tanggal 25 November 2002 telah menghasilkan informasi yang berkaitan dengan penetapan tarif. Perusahaan-perusahaan operator transportasi darat berpendapat bahwa penetapan tarif ekonomi yang diserahkan pada pemerintah sudah dianggap tepat meski terkadang sering muncul permasalahan berkaitan dengan persoalan bahan bakar dan biaya modal. Dalam penetapan tarif juga sering muncul persoalan karena Pemerintah biasanya terlambat mengambil kebijakan dibanding dengan kebijakan penyesuaian harga BBM.

Kelas tarif non ekonomi dalam kereta api dan angkutan jalan raya merupakan kelas yang sangat terpengaruh oleh persaingan antar moda transportasi. Walaupun angkutan darat masih melayani kelas super eksekutif, tetapi jumlahnya sudah berkurang karena bersaing dengan transportasi udara.

Sementara itu, untuk bisnis moda transportasi kereta api, pemerintah telah membuka peluang masuknya swasta ke dalam sektor ini, melalui perubahan Undang-Undang Kereta Api.

Dengar pendapat ini dihadiri oleh wakil dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, pengusaha transportasi darat, asosiasi pengusaha terkait, LSM, pengamat transportasi dan Lembaga Konsumen.

Sebagai tindak lanjut dari dengan pendapat ini, KPPU akan melaksanakan kajian persaingan bisnis transportasi darat.

Dengar Pendapat tentang Persaingan Bisnis Transportasi Laut

Dengar pendapat transportasi laut diselenggarakan tanggal 26 November 2002. Dari proses dengar pendapat ini diperoleh informasi bahwa tarif yang berlaku untuk penumpang kelas ekonomi masih belum wajar, karena tarif tersebut masih berada di bawah biaya pokok sehingga perlu adanya penyesuaian tarif kelas ekonomi.

Untuk tarif angkutan barang, penetapan harga tidak ditentukan pemerintah, tetapi diserahkan pada mekanisme pasar yang juga mengacu kepada perjanjian Internasional.

Mengenai persaingan ketat antara moda transporatsi laut dan transporatsi udara akhir-akhir ini, terutama saat off-peak season dimana tarif angkutan udara menjadi sangat rendah, dianggap memberatkan bagi kelangsungan usaha operator angkutan laut. Meski demikian, saat peak season operator angkutan laut dapat menangguk keuntungan yang lebih banyak dikarenakan pada saat itu operator angkutan udara menaikkan tarifnya. Tetapi ini

tidak berarti bahwa pemerintah perlu merevisi kebijakan di bidang angkutan udara. Yang diperlukan adalah upaya untuk

Dokumen terkait