• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KONDISI UMUM KHG PULAU TEBING TINGGI

III. METODOLOGI

3.5 Monitoring Sistem Tata Air

Monitoring sistem tata air dimaksudkan untuk mendapatkan data-data yang kontinyu untuk mengetahui efektivitas sekat kanal. Dengan demikian diharapkan akan mendapatkan suatu gambaran tentang berapa luas pengaruh penyekatan kanal terhadap rewetting dan revegetasi. Peralatan monitoring yang dipasang di lokasi pilot project sebagaimana disajikan pada Gambar 3.8 antara lain adalah:

a) Pengukuran muka air tanah pada sumur pantau sejumlah 15 sumur pantau.

b) Pengukuran kecepatan aliran air tanah di sumur pantau.

c) Pengukuran konduktivitas.

27 bagian bawah supaya air tana

yang akan mengikuti fluktua kan terlihat secara otoma angat sederhana sehingga

Gambar 3.8 Lokasi pemasangan sumur pantau di KHG Pulau Tebing Tinggi Sumur Pantau

Model desain alat ukur sumur pantau sebagaimana disajikan pada Gambar 3.9 berikut ini.

Model alat ukur ini sangat sederhana yang terdiri atas pipa paralon yang dilubangi pada h bisa masuk. Di dalam pipa dimasukkan sebuah pelampung si muka air tanah. Di atas pelampung ditaruh alat ukur yang a tis mengikuti fluktuasi muka air tanah. Model alat ukur ini s bisa diamati dengan mudah oleh penduduk lokal.

Gambar 3.9 Lokasi pemasangan sumur pantau di KHG Pulau Tebing Tinggi

28 Ground Water Velocity Meter

Pengukuran kecepatan aliran air tanah dilakukan dengan menggunakan ground water velocity meter (Yamamoto, 2015) seperti ditunjukkan pada Gambar 3.10. Alat ini merupakan alat yang memakai system disperse tinta yang diprint di atas kertas yang dimasukan ke dalam tanah dalam kurun waktu tertentu. Kecepatan dan arah aliran air tanah bisa dianalisis dari pengukuran menggunakan alat ini.

Gambar 3.10 Pengukuran kecepatan aliran air tanah 3.6 Analisis data

Secara umum analisis yang dilakukan terdiri atas analisis hidrologi dan analisis spasial yang terkait peta-peta administrasi, kondisi gambut, jaringan sungai/kanal, data kebakaran lahan gambut dan kondisi tutupan lahan. Analisis hidrologi dilakukan untuk mengetahui kondisi keseimbangan air (water balance) pada ruang dan waktu. Hal-hal yang perlu diingat dalam analisis keseimbangan air di daerah gambut adalah sebagai berikut:

1. Kapasitas Tampungan Dome : Storage (S) : adalah volume air yang dapat tertahan berada didalam Dome diatas muka air rerata di saluran atau sungai disekitarnya.

Jumlah maksimumnya diperkirakan sama dengan : Volume Dome diatas muka air rerata tersebut dikalikan angka porinya, hal ini dikatakan sebagai kapasitas tampungan.

29 2. Kondisi Storage selalu berubah seiring dengan dinamika water balance yang

terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor setempat dan hal itu ditunjukkan dengan adanya fluktuasi muka air tanah didalam lahan gambut setempat.

3. Adapun faktor yang relatif dominan pengaruhnya pada kondisi Storage sekaligus juga elevasi muka air tanahnya adalah :

a. besarnya curah hujan setempat,

b. besarnya evaporasi & transpirasi yang terjadi,

c. kondisi drainasi baik alami maupun artifisial yang ada setempat

4. Dengan demikian, seiring dengan adanya siklus hidrometeorologi, maka secara alami terjadi fluktuasi kerentanan juga ketahanan dome terhadap resiko pengaruh banjir sekaligus juga kekeringan lahan. Dari hal ini kajian tentang konservasi dome menjadi sangat penting karena perannya sebagai waduk lapangan yang menunjang ketersedian air di lingkungan hidrologisnya.

Gambar 3.11 Sketsa analisis keseimbangan air pada daerah gambut Rumusan Umum Water Balance untuk Peat Dome adalah sebagai berikut ini.

+ delta S = Input – Output; …. (3.7)

Delta S adalah tambahan atau pengurangan pada storage yang ada pada kubah gambut.

Dengan demikian dalam kajian time seri yang berkelanjutan analisis water Balance dapat direpresentasikan dalam rumusan :

S(t+1) : S(t) + Input(t) - Output(t) …. (3.8)

dengan:

S(t+1): besarnya storage pada satu tahapan waktu berikutnya dari waktu ke t.

Input : dalam hal ini berupa curah hujan yang terjadi setempat (tadah hujan) Output : dalam hal ini berupa evaporasi + transpirasi + drainasi.

30 Untuk Evaporasi & transpirasi dapat diperkirakan besarnya dan sangat

tergantung pada kondisi meteorologi dan jenis serta umur tanamannya.

Untuk Drainasi merupakan fungsi dari kondisi sistem kanalisasinya yang berarti mencakup : canal density, canal demension and time of drainage (untuk yang terpengaruh gerakan pasang surut).

3.7 Pemodelan Hidraulika

Simulasi hidraulika jaringan kanal dilakukan untuk mengkalkulasi profil muka air dan kecepatan aliran untuk berbagai kondisi masukan (input) skenario dari hasil analisis hidrologi yang telah dilakukan. Simulasi hidrolika ini dilakukan dengan menggunakan program HEC-RAS (Hydrologic Engineering Centre - River Analysis System). Program HEC-RAS adalah model numerik (program komputer) 2 dimensi, Steady dan unsteady flow yang mampu melakukan hitungan profil muka air dan parameter-parameter hidraulik lainnya di saluran/sungai. Dengan bantuan perangkat lunak HEC-RAS, skenario permasalahan banjir dan kekeringan bisa dilakukan dengan lebih fleksibel dan alternatif solusi bisa diambil dengan lebih tepat diantara solusi skenario-skenario tersebut. Pada Gambar 3.12 disajikan langkah-langkah bagan alir proses pemakaian program HEC-RAS secara umum.

Perangkat lunak HEC-RAS merupakan program yang digunakan untuk menghitung analisis hidraulika dua dimensi. Analisis hidraulik yang dapat dilakukan tersebut adalah perhitungan profil muka air pada aliran permanen (steady flow). HEC-RAS dirancang untuk mensimulasi fenomena pada jaringan saluran alami maupun buatan. Kunci utama pemodelan pada HEC-RAS adalah penggunaan representasi data geometri dan perhitungan geometri serta perhitungan hidraulika berulang.

Dasar prosedur perhitungan yang digunakan adalah pada pemecahan persamaan energi satu dimensi. Kehilangan energi dievaluasi dengan gesekan dasar (persamaan Manning’s) dan kontraksi maupun ekspansi. Persamaan momentum digunakan pada situasi dimana profil permukaan air berubah secara cepat. Situasi ini mengikutkan perhitungan daerah pengaliran yang tercampur, perhitungan struktur hidraulik, dan mengevaluasi profil pada sungai yang berhubungan atau bercabang.

31 Gambar 3.12 Diagram alur proses penggunaan HEC-GeoRAS

Persamaan Dasar Perhitungan Profil

Profil peermukaan air dihitung dari suatu potongan melintang saluran ke potongan selanjutnya dengan memecahkan persamaan energi dengan prosedur interaktif yang disebut dengan metode tahapan standar (Standard Step Method). Persamaan energi ditulis sebagai berikut :

32

Kehilangan energi antara dua potongan melintang diakibatkan oleh kehilangan energi akibat gesekan dan perubahan tampang (ekspansi dan kontraksi). Persamaan kehilangan tinggi energi dapat dijabarkan sebagai :

S f = kemiringan gesekan (friction slope) antara 2 tampang melintang C = koefisien ekspansi atau koefisien kontraksi

Jarak sepanjang rentang (reach) yang ditinjau, L, dihitung dengan persamaan : L Q L Q L Q

L lob lob ch ch rob rob

Qlob Qch Q rob (3.11)

33 Keterangan :

Llob, Lch, Lrob = jarak sepanjang potongan melintang pada aliran yang ditinjau di

pinggir kiri sungai atau left overbank (lob), saluran utama atau main channel (ch), dan pinggir kanan sungai atau right overbank (rob).

Qlob, Qch, Qrob = debit sepanjang potongan melintang pada aliran yang ditinjau di

pinggir kiri sungai (lob), saluran utama (ch), dan pinggir kanan sungai (rob).

Pembangian Potongan Melintang untuk Perhitungan Penyaluran

Penentuan penyaluran total aliran dan koefisien kecepatan untuk potongan melintang memerlukan pembagian aliran menjadi beberapa satuan sehingga kecepatan didistribusikan secara merata.

Pendekatan yang digunakan pada HEC-RAS adalah membagi daerah aliran pada pinggir saluran atau sungai dengan menggunakan masukan nilai n pada potongan melintang dimana nilai berubah sebagai dasar pembagian. Penyaluran aliran dihitung di dalam tiap sub bagian dari bentuk

K = penyaluran (conveyence) untuk suatu sub bagian n = koefisien kekasaran Manning untuk suatu sub bagian A = luas penampang basah potongan melintang (m2) R = jari-jari hidraulik pada sub bagian (m)

P = panjang perimeter basah (keliling basah) tampang melintang (m)

Program akan menjumlahkan tambahan penyaluran pada pinggir saluran untuk mendapatkan penyaluran pada sebelah kiri dan kanan pinggir saluran. Penyaluran saluran utama dihitung dengan cara biasa sebagai satu bagian penyaluran. Jumlah total penyaluran dapat diperoleh dengan menjumlahkan ketiga sub bagian penyaluran, yaitu : sub bagian kiri pinggir sungai, saluran utama dan sub bagian kanan pinggir sungai.

Batasan – batasan Program HEC-RAS

Asumsi-asumsi di bawah ini adalah implisit dalam ekspresi analitik yang digunakan pada program HEC-RAS :

1. Aliran adalah aliran permanen atau tunak (steady flow)

34 2. Aliran adalah berubah lambat lain (gradually varied flow), kecuali pada struktur hidraulik,

seperti jembatan, gorong-gorong dan bendung. Pada lokasi-lokasi tersebut aliran dapat berubah cepat (rapidly varied flow)

3. Aliran adalah satu dimensi (1 – D)

4. Saluran sungai mempunyai tinggi energi yang kecil (kurang dari 10%)

Aliran yang diasumsikan adalah aliran permanen karena pada kenyataannya, ketergantungan terhadap waktu pada persamaan energi tidak diikutsertakan. Aliran diasumsikan berubah lambat laun karena persamaan energi di atas didasarkan pada alasan bahwa distribusi tekanan hidrostatis terdapat pada tiap potongan melintang. Pada lokasi di mana aliran adalah berubah secara cepat, program akan menghitung dengan persamaan momentum atau persamaan empirik lainnya. Aliran diasumsikan satu dimensi didasarkan pada alasan bahwa tinggi energi total sama pada semua titik potongan melintang. Kemiringan saluran yang kecil diasumsikan karena tinggi tekanan yang merupakan komponen Y pada persamaan energi di atas merepresentasikan kedalaman air yang diukur secara vertikal.

35

IV. PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Pemantauan Hidrologis

Untuk analisis fluktuasi tinggi muka air tanah sebagai dampak dari penyekatan kanal, delapan dipwells dipasang di sekitar kanal dengan jarak 1 m, 101 m, dan 201 m dari kanal untuk setiap transek dari tiga transek seperti yang disajikan pada Gambar 4.1. Dipwell pada transek pertama adalah D 1-1, D 1-101, D 1-201, pada transek kedua adalah D 2-1, D 2-101, D 2-201, dan pada transek ketiga adalah D 3 -1, D 3-101, D 3-201 dengan jarak masing-masing 1 m, 101 m, dan 201 m dari kanal. Transek pertama terletak di paling hulu kanal, transek kedua di tengah, dan transek ketiga di paling hilir kanal. Ada dua sekat kanal di lokasi penelitian yang dibangun pada November 2018. Sekat kanal pertama terletak sekitar 100 m di sisi hilir transek pertama, dan sekitar 200 m sisi hulu transek kedua. Sekat kanal kedua terletak sekitar 100 m di sisi hilir transek kedua, dan sekitar 100 m di sisi hulu dari transek ketiga. Selain itu, data curah hujan, suhu udara dan kedalaman air juga dijadikan parameter input sebagai parameter analisis yang diambil dari teknologi telemetri SESAME (Sensory Data Transmission Service Assisted by Midori Engineering).

Data dicatat setiap 10 menit oleh sistem SESAME yaitu curah hujan, suhu udara, dan kedalaman air.

Gambar 4.1 Pemantauan hidrologi di sumur pantau

36 4.1.1 Dampak Penyekatan Arah Hulu

Data yang direkam dari fluktuasi level air tanah sepanjang kanal pada D1, D 2-1 dan D 3-1 dipwells yang jaraknya dari kanal sekitar 1 m, bersama dengan data curah hujan disajikan pada Gambar 4.2. Gambar tersebut merepresentasikan respon fluktuasi muka air di sumur pantau akibat perubahan ketinggian air sebelum dan sesudah penyekatan kanal. Sekat kanal pertama yang berada di sisi hulu, dibangun pada pertengahan November 2018, dan yang kedua dibangun pada awal November 2018. Ketika sekat kanal pertama dibangun, fluktuasi level air tanah pada dipwell D 1- 1 yang berjarak sekitar 100 m di sisi hulu sekat kanal, meningkat secara signifikan, tetapi dua dipwells lainnya tidak.

Ini berarti bahwa penyekatan kanal hanya berdampak di daerah hulu. Fluktuasi air tanah pada dipwell D 1-1 stabil pada ketinggian sekitar 8,5 m. Ini berarti bahwa sekat kanal memiliki fungsi yang baik untuk menjaga ketinggian air tanah dan menjaga lahan gambut pada kondisi yang selalu basah.

Ketika sekat kanal kedua dibangun, ada dampak fluktuasi air tanah pada dipwell D 2-1 yang berjarak sekitar 100 m ke sisi hulu. Namun, penyekatan ini tidak berdampak pada dipwell D 1-1 yang jaraknya sekitar 400 m ke sisi hulu. Artinya, dalam hal ini penyekatan kanal memiliki dampak rewetting tidak lebih dari 400 m jarak ke daerah hulu. Fluktuasi level air tanah di sisi hilir sekat kanal tidak terpengaruh oleh penyekatan kanal di bagian hulu. Itu hanya dipengaruhi oleh curah hujan seperti yang disajikan pada garis D 3-1 di Gambar 4-2.

Kedalaman air tanah yang merupakan pengurangan antara permukaan air tanah dan permukaan tanah merupakan parameter penting yang berkorelasi dengan risiko kebakaran lahan gambut. Berdasarkan peraturan Indonesia, kedalaman air tanah minimum di lahan gambut adalah 0,4 m untuk menjaga agar lahan gambut tidak terbakar (Anonim, 2016).

Menimbang dari ketinggian permukaan tanah (G 1-1, G 2-1 dan G 3-1) dan ketinggian air tanah (D 1-1, D 2-1 dan D 3-1), dapat dianalisis kedalaman air tanah sebelum dan setelah penyumbatan saluran. Kedalaman air tanah sebelum penyekatan kanal adalah sekitar 1.5, 1.4, dan 1.0 m di daerah hulu (Transek-1), daerah tengah (Transek-2), dan daerah hilir (Transek-3). Situasi ini membuat lahan gambut sangat rentan terhadap kebakaran karena tinggi muka air tanah sangat rendah. Setelah penyekatan kanal,

37 ketinggian air tanah meningkat secara signifikan, sehingga kedalaman air tanah menjadi sekitar 1.0, 0.8, dan 1.0 m di daerah hulu, tengah, dan hilir. Meskipun permukaan air tanah meningkat secara signifikan karena penyekatan kanal, kedalaman air tanah belum memenuhi persyaratan minimum oleh peraturan Indonesia. Namun, penyekatan kanal telah mengurangi risiko kebakaran lahan gambut karena meningkatnya level air tanah.

Elevasi sekat kanal tidak dapat dibangun lebih tinggi untuk memenuhi peraturan Indonesia karena akan menyebabkan banjir di daerah lain.

Gambar 4.2 Fluktuasi muka air harian terjadi karena penyekatan kanal dan presipitasi tiga dipwells sepanjang kanal dengan jarak 1 m dari kanal dari Oktober hingga

Desember 2018.

4.1.2 Dampak Penyekatan kanal ke Lahan Gambut

Untuk menyelidiki dampak dari penyekatan kanal terhadap upaya pembasahan kembali di lahan gambut, fluktuasi level air tanah dari tiga dipwells masing-masing transek dengan jarak 1 m, 101 m, dan 201 m yang tegak lurus terhadap kanal dianalisis. Gambar 4.3(a) menyajikan fluktuasi air tanah pada Transect-1 dari tiga dipwells dengan jarak 1 m, 101 m, dan 201 m yang tegak lurus terhadap kanal sebelum dan sesudah penyekatan kanal.

Ini menunjukkan bahwa permukaan air tanah pada dipwells D 1-1 (jarak 1 m ke kanal) meningkat secara signifikan dan cepat setelah penyekatan kanal pada 15 November 2018.

Di daerah ini, permukaan air tanah stabil hingga akhir pemantauan. Ini berarti bahwa upaya pembasahan untuk restorasi lahan gambut dalam kinerja yang baik di area ini.

Namun, permukaan air tanah pada D 1-101 dan D 1-201 (masing-masing jarak 101 m dan 201 m ke kanal) sedikit meningkat pada waktu yang sama yang mungkin disebabkan oleh

38 penyekatan kanal dan curah hujan. Ini berarti bahwa penyekatan kanal tidak begitu berdampak signifikan untuk menjaga air tanah tetap tinggi di daerah ini.

(a)

(b)

(c)

Gambar 4.3 Fluktuasi muka air harian karena pemsekatiran kanal di Transect-1 (a), Transect-2 (b), dan Transect-3 (c) dari Oktober hingga Desember 2018.

Situasi serupa di Transek-2 bahwa penyekatan kanal memiliki dampak yang signifikan pada permukaan air tanah pada jarak 1 m ke kanal tetapi memiliki dampak rendah pada jarak 101 dan 201 m ke kanal masing-masing. Setelah sekat kanal dibangun pada 7 November 2018, muka air di D 2-1 meningkat perlahan dan stabil setelah mencapai level maksimum. Ini berarti bahwa upaya pembasahan untuk restorasi lahan gambut dalam kinerja yang baik di area ini. Level air tanah pada jarak 101 m dan 201 m ke kanal

masing-39 masing sedikit meningkat dalam waktu yang sama yang mungkin disebabkan oleh penyekatan kanal dan curah hujan. Ini berarti bahwa penyekatan kanal tidak begitu berdampak signifikan untuk menjaga air tanah tetap tinggi di daerah ini. Tidak ada perubahan ketinggian air tanah di dipwells yang terletak di transek paling hilir sebelum dan sesudah penyekatan kanal seperti yang disajikan pada Gambar 4.3 (c). Daerah ini tidak memiliki dampak rewetting untuk restorasi lahan gambut karena penyekatan kanal yang terletak di daerah hulu. Ini berarti bahwa, daerah hulu akan berada dalam kondisi yang sama dengan di daerah ini jika penyekatan kanal tidak diterapkan.

Untuk menyelidiki seberapa besar dampak dari penyekatan kanal di area lahan gambut pada peningkatan level air tanah, peningkatan GWL pada jarak 1 m ke kanal dibandingkan dengan peningkatan GWL pada jarak 101 m dan 201 m ke kanal masing- masing pada setiap transek (Gambar 4). Angka-angka menunjukkan bahwa penyumbatan kanal tidak akan berdampak pada rewetting pada jarak 101 m dan 201 m ke kanal jika kenaikan GWL pada jarak 1 m ke kanal kurang dari 0,45 m. Fluktuasi GWL di kanal kurang dari 0,45 m disebabkan oleh curah hujan yang tidak terpengaruh oleh penyekatan kanal. Peningkatan GWL karena penyekatan kanal bervariasi di setiap lokasi tergantung pada jarak ke kanal.

Peningkatan GWL di Transect-1 untuk jarak 101 m dan 201 m dari kanal karena penyekatan kanal bervariasi dari 0,19 m menjadi 0,51 m dan dari 0,1 m hingga 0,41 m yang menyebabkan kedalaman air tanah dari 0,67 m hingga 0,34 m dan dari 0,62 m hingga 0,31 m masing-masing (Gambar 4.a dan Tabel-1). Ini berarti bahwa upaya rewetting dapat memenuhi kedalaman air tanah berdasarkan peraturan Indonesia (0,4 m) jika peningkatan GWL di kanal (dari data pemantauan pada jarak 1 m dari dipwells kanal) minimum 0,6 m. Peningkatan GWL di Transect-2 karena penyekatan kanal memiliki fenomena yang sama dengan di Transect-1. Namun, Transek-3 tidak berdampak pada rewetting karena penyumbatan kanal di daerah penelitian ini.

40

(a)

(b)

(c)

Gambar 4.4 Fluktuasi muka air harian karena penyekatan kanal di Transek-1 (a), Transek-2 (b) dan Transek-3 (c) dari Oktober hingga Desember 2018.

Tabel 4.1. Dampak penyekatan kanal terhadap kenaikan GWL di setiap transek Raise of GWL

41 4.1.3 Hasil Pemantauan Lanjutan

Pemantauan TMA pada lokasi-lokasi di sekitar sekat kanal dilanjutkan dan hasilnya dianalisis dan dibahas pada sub-bab ini. Pada Gambar 4.5 disajikan hasil pemantauan pada Transek-3 pada periode pemantauan dari 30 Oktober 2018 hingga 11 September 2019, sedangkan pada Gambar 4.6 disajikan hasil pemantauan GWL pada periode 27 Jun 2019 ~ 11 SEP 2019. Transek-3 yang berlokasi pada bagian hilir dari kanal yang tidak terpengaruh dari penyekatan kanal diharapkan menjadi titik control untuk menganalisis pengaruh penyekatan kanal yang dianalisis dari Transek-1 dan Transek-2.

Transek-3

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kenaikan TMA di kanal (jarak 1 m dari kanal) berbanding lurus dengan kenaikan TMA pada lahan gambut yang berjarak 101 m. Artinya bahwa kenaikan TMA di lahan gambut hanya dipengaruhi oleh air hujan dan tidak dipengaruhi factor lain seperti sekat kanal. Penyekatan kanal pada bagian hulu kanal yang berjarak 100 m dari titik pemantauan Transek-3 tidak berdampak pada TMA di lokasi ini.

Pada Gambar 4.7 disajikan pemantau TMA di lokasi yang sama, namun hanya pada periode pemantauan dari tangga 27 Jun 2019 ~ 11 SEP 2019, yang merupakan periode musim kemarau. Pada periode ini terjadi pengatusan pada lahan gambut akibat dari terbatasnya kuantitas hujan. Berdasarkan gradien persamaan garis terlihat bahwa kecepatan pengatusan di lahan gambut kurang lebih sama dengan kecepatan pengurangan elevasi TMA di kanal.

Gambar 4.5 Pemantauan GWL pada transek-3 periode 30 Oct 2018 ~ 11 SEP 2019.

42 Gambar 4.6 Pemantauan GWL pada transek-3 periode 27 Jun 2019 ~ 11 SEP 2019 Transek-2

Hasil pemantauan TMA pada Transek-2 yang berada 100 m di bagian hulu sekat kanal-1 dan 200 m di bagian hilir Sekat kanal-2 disajikan pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8.

Gambar 4.7 menyajikan fluktuasi kenaikan TMA di lahan yang berjarak 101 m sebagai fungsi kenaikan TMA di kanal untuk periode pemantauan 30 Oct 2018 ~ 11 SEP 2019.

Periode pengamatan ini merupakan periode pengamatan dari awal hingga akhir. Jika penampilan grafiknya dipisahkan per periode, yaitu Periode Awal Oktober~Desember 2018 (Gambar 4.4b) dan Periode Akhir 27 Jun 2019 ~ 11 SEP 2019 (Gambar 4.8), maka akan nampak pengaruh penyekatan kanal. Penyekatan kanal yang dilakukan pada saat musim hujan menyebabkan elevasi air di kanal meningkat dan peningkatan tersebut menyebabkan peningkatan TMA di lahan yang berjarak 101 m (Gambar 4.4b).

Pada periode akhir yang merupakan masa musim kering, dimana TMA di lahan terjaga tetap tinggi mengalami penyusutan karena sedikitnya jumlah frekuensi hujan. Begitu juga di kanal. Penyusutan yang terjadi dominan oleh aliran dan evaporasi. Ketika aliran di kanal sudah tidak ada karena sudah tidak tercukupi oleh hujan, maka akan dominan kehilangan air oleh evaporasi. Kecepatan evaporasi di kanal lebih besar dibanding dengan di lahan sehingga penurunan TMA di kanal lebih cepat dari pada di lahan. Sehingga Air di lahan tetap terjaga dengan baik karena pengatusannya berjalan lebih lambat dari pada di kanal (Gambar 4.8).

43 Gambar 4.7 Pemantauan GWL pada transek-2 periode 30 Oct 2018 ~ 11 SEP 2019.

Gambar 4.8 Pemantauan GWL pada transek-2 periode 27 Jun 2019 ~ 11 SEP 2019 Transek-1

Hasil pemantauan TMA pada Transek-1 yang berada 100 m di bagian hulu sekat kanal-2 disajikan pada Gambar 4.9 dan Gambar 4.10. Gambar 4.9 menyajikan fluktuasi kenaikan TMA di lahan yang berjarak 101 m sebagai fungsi kenaikan TMA di kanal untuk periode pemantauan 30 Oct 2018 ~ 11 SEP 2019. Periode pengamatan ini merupakan periode pengamatan dari awal hingga akhir. Jika penampilan grafiknya dipisahkan per periode, yaitu Periode Awal Oktober~Desember 2018 (Gambar 4.4a) dan Periode Akhir 27 Jun

44 2019 ~ 11 SEP 2019 (Gambar 4.10), maka akan nampak pengaruh penyekatan kanal.

Penyekatan kanal yang dilakukan pada saat musim hujan menyebabkan elevasi air di kanal meningkat dan peningkatan tersebut menyebabkan peningkatan TMA di lahan yang berjarak 101 m (Gambar 4.4b).

Senada dengan karakteristik TMA di transek-2, Pada Transek-1 pada periode akhir yang merupakan masa musim kering, dimana TMA di lahan terjaga tetap tinggi mengalami penyusutan karena sedikitnya jumlah frekuensi hujan. Begitu juga di kanal. Penyusutan yang terjadi dominan oleh aliran dan evaporasi. Ketika aliran di kanal sudah tidak ada karena sudah tidak tercukupi oleh hujan, maka akan dominan kehilangan air oleh evaporasi. Kecepatan evaporasi di kanal lebih besar dibanding dengan di lahan sehingga penurunan TMA di kanal lebih cepat dari pada di lahan. Sehingga Air di lahan tetap terjaga dengan baik karena pengatusannya berjalan lebih lambat dari pada di kanal (Gambar 4.10).

Gambar 4.9 Pemantauan GWL pada transek-1 periode 30 Oct 2018 ~ 11 SEP 2019.

45 Gambar 4.10 Pemantauan GWL pada transek-1 periode 27 Jun 2019 ~ 11 SEP 2019

4.1.4 Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyekatan kanal memiliki dampak yang baik untuk menjaga ketinggian air tanah dan menjaga lahan gambut pada kondisi selalu basah sampai jarak 400 m ke daerah hulu dari sekat kanal dan sekitar 1 m jarak tegak lurus ke kanal. Penyekatan kanal akan berdampak baik pada pembasahan kembali di lahan gambut hingga jarak 201 m yang tegak lurus ke kanal jika kenaikan permukaan air di kanal lebih

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyekatan kanal memiliki dampak yang baik untuk menjaga ketinggian air tanah dan menjaga lahan gambut pada kondisi selalu basah sampai jarak 400 m ke daerah hulu dari sekat kanal dan sekitar 1 m jarak tegak lurus ke kanal. Penyekatan kanal akan berdampak baik pada pembasahan kembali di lahan gambut hingga jarak 201 m yang tegak lurus ke kanal jika kenaikan permukaan air di kanal lebih

Dokumen terkait