• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KONDISI UMUM KHG PULAU TEBING TINGGI

IV. PELAKSANAAN KEGIATAN

4.3 Analisis Konduktivitas Tanah dengan Uji Slug Test

4.3.1 Perhitungan Konduktivitas Hidrolik Metode Bouwer and Rice (1976)

Perhitungan Konduktivitas Hidrolik Metode Bouwer and Rice dilakukan menggunakan prosedur seperti telah disajikan pada bab sebelumnya. Hasil perhitungan nilai K disajikan pada Tabel 4.3. Bedasarkan perhitungan dari ke-12 sumur pantau rentang nilai K yang didapatkan adalah 0,366 m/hari – 14,146 m/hari. Perekaman data Water logger yang belum selesai dengan waktu yang cukup lama menandakan bahwa nilai konduktivitas hidrolik pada sumur observasi tersebut kecil. Perekaman Water logger yang belum selesai juga mempengaruhi perhitungan karena perhitungan membutuhkan kondisi MAT steady.

Jika Water logger dapat merekam penurunan hingga kondisi steady maka kemungkinan nilai K yang didapatkan akan lebih kecil dari perhitungan yang sudah dilakukan.

Kondisi tanah yang ada di lapangan juga mempengaruhi besarnya nilai konduktivitas hidrolik. Hal ini karena tanah gambut merupakan tanah yang terdiri dari sisa tumbuhan yang belum melapuk secara sempurna sehingga mungkin saja disekitar sumur observasi ada kayu atau sisa pelapukan tumbuhan yang menghambat aliran didalam tanah atau justru mempercepat aliran pada tanah. Jenis dari tutupan lahan yang berada di area sumur observasi juga mempengaruhi nilai K.

Tabel 4.3 Rekapitulasi Data dan Hasil Konduktivitas Hidrolik Semua Sumur pantau

50 4.3.2 Perhitungan Konduktivitas Hidrolik Metode Hvorslev (1951)

Perhitungan Konduktivitas Hidrolik Metode Hvorslev dilakukan menggunakan prosedur seperti telah disajikan pada bab sebelumnya. Hasil perhitungan nilai K disajikan pada Tabel 4.4.

Bedasarkan perhitungan dari ke-12 sumur observasi umunya nilai K > 1. Akan tetapi ada beberapa sumur yang memiliki nilai K < 1. Perbedaan nilai K disebabkan oleh perbedaan kondisi tanah disetiap sumur observasi. Rentang nilai K yang didapatkan pada Desa Lukun adalah 0,276 m/hari – 11,847 m/hari. Perbedaan nilai K tidak signifikan seperti pada penelitian Sayok et al. (2008) dalam Pranita, (2016) di daerah Loagan Bunut National Park, Sarawak, Malaysia dimana rentang nilai K adalah 0,380 m/hari – 291,168 m/hari. Salah satu penyebabnya karena lokasi antar sumur observasi di Desa Lukun tidak terlalu jauh sehingga tutupan lahannya juga tidak terlalu berbeda.

Tabel 4.4 Rekapitulasi Data dan Hasil Konduktivitas Hidrolik Semua Sumur Sumur

4.3.3 Pemetaan Konduktivitas Hidrolik dan Elevasi Sumur Observasi

Pemetaan konduktivitas bertujuan untuk mengetahui persebaran konduktivitas yang ada pada 12 sumur observasi. Sedangkan pemetaan elevasi sumur observasi berfungsi untuk memberikan gambaran kondisi sumur observasi dilapangan. Sumur observasi yang di teliti di Desa Lukun berjumlah 12 buah yang terbagi menjadi 3 transek.

Satu transek berisi 5 buah sumur observasi. Antara satu transek dengan transek lainnya

51 terdapat sekat kanal yang berfungsi untuk menjaga agar MAT tidak berada jauh dari permukaan tanah pada musim kemarau. Pemetaan persebaran konduktivitas hidrolik metode

52 Bouwer and Rice (1976) pada sumur pantau dapat dilihat pada Gambar 4.13. Pemetaan persebaran konduktivitas hidrolik metode Hvorslev (1951) pada sumur pantau dapat dilihat pada Gambar 4.14. Persebaran konduktivitas yang ada pada sumur observasi memiliki variasi yang berbeda.

Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kondisi tanah yang ada pada sumur observasi.

Gambar 4.13 Persebaran Konduktivitas Hidrolik Metode Rice and Bouwer (1976) pada Sumur Observasi

53 Gambar 4.14 Persebaran Konduktivitas Hidrolik Metode Hvorslev (1951) pada Sumur

Observasi

4.3.4 Perbandingan Metode

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Desa Lukun dengan menggunakan metode Hvorslev (1951) dan metode Bouwer and Rice (1976) didapatkan hasil sebagai berikut.

54

Gambar 4.15 Grafik Perbandingan Nilai K Metode Bouwer and Rice (1976) dan Hvorslev (1951)

Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan dengan metode Bouwer and Rice (1976) cenderung lebih tinggi dibandingkan metode Hvorslev (1951). Akan tetapi perbedaan hasil perhitungan yang ditunjukkan tidak terlalu jauh sehingga memiliki pola garis yang hamper sama sehingga perbedaan hasil perhitungan dari kedua metode masih bisa diterima.

4.3.5 Kesimpulan

Dari hasil penelitian tentang konduktivitas hidrolik yang dilakukan di Desa Lukun dengan menggunakan metode slug test dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan perhitungan yang sudah dilakukan untuk nilai konduktivitas hidrolik (K) pada 12 sumur observasi yang berada di Desa Lukun didapatkan bahwa nilai K dengan metode Bouwer and Rice (1976) memiliki rentang 0,366 m/hari – 14,146 m/hari. Sedangkan untuk metode Hvorslev memiliki rentang 0,276 m/hari – 11,847 m/hari. Rentang nilai K dari kedua metode tidak terlalu jauh karena lokasi sumur observasi dilapangan yang tidak terlalu jauh, sedangkan hasil perhitungan dengan kedua metode pada sumur yang sama didapatkan bahwa hasilnya tidak terlalu signifikan perbedaannya sehingga hasil perhitungan kedua metode bisa diterima.

55 4.4 Analisis Aliran Air Tanah

4.4.1 Pengukuran Aliran Air Tanah

Aliran air tanah di sekitar sekat kanal dianalisis untuk memahami efek dari penyekatan kanal di lahan gambut. Analisis dilakukan dengan menggunakan alat paper disc velocimeter (PDV) yang dipasang di dipwells pemantauan di sekitar sekat kanal. PDV adalah metode sederhana dan murah yang digunakan tanpa listrik yang dikembangkan oleh Universitas Yamaguchi untuk mengukur aliran air tanah (Yamamoto, dkk., 2018) seperti ditunjukkan pada Gambar 4.16. Berdasarkan uji laboratorium, PDV dapat digunakan untuk mengukur kecepatan air tanah dengan kisaran 0,03 cm/menit hingga 0,3 cm/menit dan juga arah kecepatan dengan akurasi sekitar 33%. Metode ini diterapkan untuk memahami hidraulik air tanah di lahan gambut tropis sebagai dampak upaya pembasahan kembali menggunakan sekat kanal. Lima dipwells dalam setiap transek dari tiga transek disiapkan untuk pengukuran menggunakan PDV. Transek-1 dan Transek-2 terletak di sisi hulu dari sekat kanal dengan jarak masing-masing sekitar 400 m dan 100 m. Transect-3 terletak di sisi hilir sekat kanal dengan jarak sekitar 100 m.

(b) (a) (c)

Gambar 4.16 Grafik Perbandingan Nilai K Metode Bouwer and Rice (1976) dan

56 Gambar 4.17 Cross section pada masing-masing transect

Gambar 4.18 Kondisi paper disc sebelum dan setelah digunakan untuk pengukuran, dan setelah dianalisis

Tailing Dot

Gambar 4.19 Analisis kecepatan aliran dari paper disc tailing menggunakan ImageJ

57 4.4.2 Aliran Air Tanah di Sekitar Sekat Kanal

Pengukuran aliran air tanah di sekitar sekat kanal dilakukan untuk memahami dampak dari penyekatan kanal untuk upaya pembasahan kembali di lahan gambut tropis. Peta besarnya dan arah kecepatan sebagai hasil pengukuran dari 15 dipwells disajikan pada Gambar.4.20. Peta tersebut menunjukkan bahwa kecepatan Transect-3 memiliki magnitude lebih tinggi daripada Transect-2 dan Transect-1 (juga lihat Gambar 4.21).

Fenomena ini disebabkan oleh penyekatan kanal. Penyekatan kanal membuat permukaan air di sisi hulu kanal meningkat dan sisi hilir tidak terpengaruh. Ada perbedaan ketinggian air (head) antara bagian hulu dan hilir sekat kanal karena penyekatan kanal. Meningkatnya permukaan air di sisi hulu sekat kanal mengalir ke lahan gambut dan membuat permukaan air tanah semakin tinggi. Ini membuat permukaan air tanah di lahan gambut di bagian hulu sekat kanal lebih tinggi daripada di lahan gambut di bagian hilir sekat kanal, seperti yang ditunjukkan pada Gambar. 4.21. Akibatnya, head di Transek-3 lebih tinggi yang menyebabkan kecepatan air tanah lebih tinggi dari sebelumnya penyekatan kanal. Namun, aliran air tanah di sisi hulu sekat kanal cenderung lebih rendah daripada di sisi hilir. Ini karena permukaan air tanah dipertahankan dalam kondisi stabil karena penyekatan kanal.

Temuan ini menunjukkan efektivitas penyekatan kanal pada upaya pembasahan kembali di lahan gambut tropis.

Secara teoritis, air tanah mengalir dari permukaan air tanah tinggi ke rendah. Pengukuran menggunakan PDV juga dapat mengidentifikasi arah aliran air tanah. Peta arah aliran air tanah sebagai hasil pengukuran PDV disajikan pada Gambar. 4.20 dan Gambar. 4.21.

Arah aliran menunjukkan kesesuaian yang baik dengan teori bahwa aliran harus dari elevasi tinggi ke air tanah yang lebih rendah. Sebagian besar pengukuran di dipwell di Transect-3 menunjukkan arah aliran ke hilir yang memiliki elevasi air tanah lebih rendah dan head tinggi karena penyekatan kanal. Namun, arah aliran air tanah di Transect-1 dan Transect-2 tidak dalam pola yang sama tetapi masih mengikuti teori dasar aliran. Ini karena permukaan air tanah di sisi hulu dari sekat kanal berada dalam kondisi stabil karena penyekatan kanal. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada elevasi air tanah di hulu sekat kanal. Namun, alirannya akan menuju area lahan gambut dari kanal jika permukaan air di kanal mulai meningkat. Kondisi ini biasanya terjadi pada awal musim hujan.

58 Gambar 4.20 Peta besarnya dan arah kecepatan air tanah

Gambar 4.21 Peta ketinggian permukaan air tanah dan arah aliran

59 4.4.3 Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran air tanah di sisi hulu sekat kanal cenderung lebih rendah daripada di sisi hilir. Ini karena permukaan air tanah dipertahankan dalam kondisi stabil karena penyekatan kanal. Namun, ada perbedaan head yang besar antara hulu dan hilir sekat kanal yang membuat Transect-3 memiliki kecepatan lebih tinggi.

Temuan ini menunjukkan efektivitas penyekatan kanal pada upaya pembasahan kembali di lahan gambut tropis.

4.5 Analisis Keseimbangan Air pada KHG

4.5.1 Pembagian Sub-KHG

Pembagian Sub-KHG dilakukan untuk membuat analisis kesembangan air lebih detil.

Pada KHG Pulau Tebing Tinggi dibagi menjadi 5 Sub-KHG berdasarkan kondisi topografi dan kedalaman gambutnya, yaitu Sub-KHG1, Sub-KHG2, Sub-KHG3, Sub- KHG4, dan Sub-KHG5. Pembagian Sub-KHG disajikan pada Gambar 4.22.

Gambar 4.22 pembagian Sub-KHG Pulau Tebing Tinggi

60 4.5.2 Analisis Keseimbangan Air Sub-KHG1

Pada Gambar 4.23 dan Tabel 4.5 disajikan hasil analisis keseimbangan air pada sub- KHG1. Seperti ditunjukkan pada gambar, Sub-KHG1 mengalami deficit pada bulan Januari hingga Maret dan bulan Juni. Pada kondisi ini maka direkomedasikan pengaturan tata air dengan prinsip menyimpan kelebihan air pada bulan-bulan Oktober sampai Desember dan pada bulan-bulan April hingga Mei untuk dimanfaatkan pada bulan-bulan kering.

Tabel 4.5 Analisis Keseimbangan Air pada Sub-KHG1

Gambar 4.23 Kondisi keseimbangan air di Sub-KHG1 Pulau Tebing Tinggi

61 4.5.3 Analisis Keseimbangan Air Sub-KHG2

Pada Gambar 4.24 dan Tabel 4.6 disajikan hasil analisis keseimbangan air pada sub- KHG2. Seperti ditunjukkan pada gambar, Sub-KHG2 mengalami deficit pada bulan Januari hingga Maret dan bulan Juni, Agustus dan September. Pada kondisi ini maka direkomedasikan pengaturan tata air dengan prinsip menyimpan kelebihan air pada bulan- bulan Oktober sampai Desember dan pada bulan-bulan April hingga Mei untuk dimanfaatkan pada bulan-bulan kering.

Tabel 4.6 Analisis Keseimbangan Air pada Sub-KHG2

Parameters Symbol Unit Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des

Temperature T oC 28.40 28.80 28.65 28.72 28.88 29.03 28.35 28.41 27.95 27.64 28.05 28.00 Presipitasi P mm 84.16 72.58 140.57 205.85 191.18 140.69 147.89 136.65 133.86 193.73 273.62 243.99 Potential Evapotranspiration PE mm 148.49 142.63 154.32 150.96 159.72 158.25 147.35 148.72 133.96 131.80 136.08 139.52 P-PE mm -64.33 -70.04 -13.76 54.89 31.46 -17.56 0.54 -12.07 -0.09 61.92 137.54 104.47 Accumulated Potensial Water Loss APWL mm 64.33 134.37 148.13 0.00 0.00 17.56 0.00 12.07 12.17 0.00 0.00 0.00 Available Water Capacity AWC mm 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 Soil Moisture Storage ST mm 97.43 65.91 61.04 139.50 139.50 126.48 139.50 130.41 130.34 139.50 139.50 139.50 Monthly Soil Moisture Storage Difference ΔST mm -42.07 -31.52 -4.87 78.46 0.00 -13.02 13.02 -9.09 -0.07 9.16 0.00 0.00 Actual Evapotranspiration AE mm 126.23 104.10 145.44 150.96 159.72 153.71 147.35 148.72 133.96 131.80 136.08 139.52

Surplus S mm 0.00 0.00 0.00 54.89 31.46 0.00 0.54 0.00 0.00 61.92 137.54 104.47

Deficit D mm 22.26 38.52 8.89 0.00 0.00 4.54 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Direct Runoff DRO mm 52.24 26.12 13.06 33.98 32.72 16.36 8.45 4.23 2.11 32.02 84.78 94.63

Gambar 4.24 Kondisi keseimbangan air di Sub-KHG2 Pulau Tebing Tinggi

62 4.5.4 Analisis Keseimbangan Air Sub-KHG3

Pada Gambar 4.25 dan Tabel 4.7 disajikan hasil analisis keseimbangan air pada sub- KHG3. Seperti ditunjukkan pada gambar, Sub-KHG3 mengalami deficit pada bulan Januari hingga Maret dan bulan Juni dan Agustus. Pada kondisi ini maka direkomedasikan pengaturan tata air dengan prinsip menyimpan kelebihan air pada bulan- bulan Oktober sampai Desember dan pada bulan April hingga Mei untuk dimanfaatkan pada bulan-bulan kering.

Tabel 4.7 Analisis Keseimbangan Air pada Sub-KHG3

Parameters Symbol Unit Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Monthly Soil Moisture Storage

Difference

Gambar 4.25 Kondisi keseimbangan air di Sub-KHG3 Pulau Tebing Tinggi

63 4.5.5 Analisis Keseimbangan Air Sub-KHG4

Pada Gambar 4.26 dan Tabel 4.8 disajikan hasil analisis keseimbangan air pada sub- KHG2. Seperti ditunjukkan pada gambar, Sub-KHG4 mengalami deficit pada bulan Januari hingga Maret dan bulan Juni dan Agustus. Pada kondisi ini maka direkomedasikan pengaturan tata air dengan prinsip menyimpan kelebihan air pada bulan- bulan Oktober sampai Desember dan pada bulan April hingga Mei untuk dimanfaatkan pada bulan-bulan kering.

Tabel 4.8 Analisis Keseimbangan Air pada Sub-KHG4

Parameters Symbol Unit Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Accumulated Potensial Water Loss APWL mm 65.4

0 136.87 161.23 0.0 Monthly Soil Moisture Storage

Difference

ΔST mm -42.65 -31.85 -8.26 82.76 0.0

0 -9.48 9.48 -11.43 -1.79 13.21 0.0

0 0.00

Actual Evapotranspiration AE mm 125.75 103.0

0 138.23 150.96 159.72 155.12 147.35 144.83 133.23 131.8

Gambar 4.26 Kondisi keseimbangan air di Sub-KHG4 Pulau Tebing Tinggi

64 4.5.6 Analisis Keseimbangan Air Sub-KHG5

Pada Gambar 4.27 dan Tabel 4.9 disajikan hasil analisis keseimbangan air pada sub- KHG5. Seperti ditunjukkan pada gambar, Sub-KHG5 mengalami deficit pada bulan Januari hingga Maret. Pada kondisi ini maka direkomedasikan pengaturan tata air dengan prinsip menyimpan kelebihan air pada bulan-bulan Oktober sampai Desember dan pada bulan-bulan April hingga Mei untuk dimanfaatkan pada bulan-bulan kering.

Tabel 4.9 Analisis Keseimbangan Air pada Sub-KHG5

Parameters Symbol Unit Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des

Temperature T oC 28.40 28.80 28.65 28.72 28.88 29.03 28.35 28.41 27.95 27.64 28.05 28.00 Presipitasi P mm 98.23 87.58 159.52 216.89 234.05 152.93 183.68 155.48 131.64 188.20 309.17 314.20 Potential Evapotranspiration PE mm 148.49 142.63 154.32 150.96 159.72 158.25 147.35 148.72 133.96 131.80 136.08 139.52 P-PE mm -50.26 -55.04 5.20 65.93 74.32 -5.32 36.34 6.76 -2.32 56.40 173.09 174.69 Accumulated Potensial Water Loss APWL mm 50.26 105.30 0.00 0.00 0.00 5.32 0.00 0.00 2.32 0.00 0.00 0.00 Available Water Capacity AWC mm 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 139.50 Soil Moisture Storage ST mm 105.38 77.51 139.50 139.50 139.50 135.42 139.50 139.50 137.71 139.50 139.50 139.50 Monthly Soil Moisture Storage Difference ΔST mm -34.12 -27.87 61.99 0.00 0.00 -4.08 4.08 0.00 -1.79 1.79 0.00 0.00 Actual Evapotranspiration AE mm 132.35 115.45 154.32 150.96 159.72 157.01 147.35 148.72 133.43 131.80 136.08 139.52

Surplus S mm 0.00 0.00 5.20 65.93 74.32 0.00 36.34 6.76 0.00 56.40 173.09 174.69

Deficit D mm 16.14 27.17 0.00 0.00 0.00 1.24 0.00 0.00 0.52 0.00 0.00 0.00

Direct Runoff DRO mm 87.34 57.26 31.23 48.58 61.45 30.73 33.53 20.14 10.07 33.24 103.16 138.93

Gambar 4.27 Kondisi keseimbangan air di Sub-KHG5 Pulau Tebing Tinggi

65 4.5.7 Limpasan Langsung KHG Pulau Tebing Tinggi

Pada Gambar 4.28 disajikan hasil perhitungan limpasan langsung (Direct Runoff, DRO) pada analisis keseimbangan air KHG Pulau Tebing Tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa, limpasan langsung yang terbesar adalah pada Sub-KHG-1, kemudian diikuti Sub- KHG4, Sub-KHG-2, Sub-KHG-5 dan Sub KHG-3.

Gambar 4.28 Kondisi keseimbangan air di Sub-KHG5 Pulau Tebing Tinggi

4.6 Pemodelan Hidrolika Kanal

4.6.1 Pembuatan Geometri Kanal

Langkah pertama pembuatan model numerik hidrolika saluran dilakukan dengan pengukuran dan peniruan geometri saluran dengan memasukkan data-data penampang lintang saluran. Pada Gambar 4.29 disajikan hasil pembuatan geometri saluran pada model numerik. Peniruan hidrolika saluran dengan memasukkan data debit di bagian hulu saluran.

66 Gambar 4.29 Pembuatan geometri saluran pada model hidrolika

4.6.2 Hasil Simulasi

Hasil Simulasi model hidrolika dalam gambar 3d disajikan pada Gambar 4.30, hasil detil simulasi model hidrolika disajikan pada Tabel

Gambar 4.30 Tampilan 3D hasil simulasi model matematik

Tabel 4.10 Tabel output simulasi model hidrolika

66

Tabel 4.11 Tabel output simulasi model hidrolika pada penampang-3

67

68

V. PENUTUP

Beberapa kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penyekatan kanal memiliki dampak yang baik untuk menjaga ketinggian air tanah dan menjaga lahan gambut pada kondisi selalu basah sampai jarak 400 m ke daerah hulu dari sekat kanal dan sekitar 1 m jarak tegak lurus ke kanal. Penyekatan kanal akan berdampak baik pada pembasahan kembali di lahan gambut hingga jarak 201 m yang tegak lurus ke kanal jika kenaikan permukaan air di kanal lebih dari 0,45 m. Namun, setidaknya diperlukan sekitar 0,6 m kenaikan permukaan air di kanal untuk memenuhi kedalaman air tanah di lahan gambut untuk memenuhi peraturan Indonesia (0,4 m) untuk restorasi lahan gambut.

2. Dengan penyekatan kanal, pengatusan di lahan terjadi lebih lambat. Mekanisme pengatusannya adalah sebagai berikut: Pada musim hujan, pengatusan terjadi pada lahan secara langsung dengan evaporasi dan aliran air di kanal. Pada musim kering ketika sebagian kanal sudah kering, penguapan menyebabkan elevasi TMA di kanal terjadi lebih cepat, sehingga pengatusan di lahan selain melalui evaporasi juga mengalir ke kanal.

3. Dari hasil penelitian tentang konduktivitas hidrolik yang dilakukan di Desa Lukun dengan menggunakan metode slug test dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan perhitungan yang sudah dilakukan untuk nilai konduktivitas hidrolik (K) pada 12 sumur observasi yang berada di Desa Lukun didapatkan bahwa nilai K dengan metode Bouwer and Rice (1976) memiliki rentang 0,366 m/hari – 14,146 m/hari. Sedangkan untuk metode Hvorslev memiliki rentang 0,276 m/hari – 11,847 m/hari. Rentang nilai K dari kedua metode tidak terlalu jauh karena lokasi sumur observasi dilapangan yang tidak terlalu jauh, sedangkan hasil perhitungan dengan kedua metode pada sumur yang sama didapatkan bahwa hasilnya tidak terlalu signifikan perbedaannya sehingga hasil perhitungan kedua metode bisa diterima.

4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran air tanah di sisi hulu sekat kanal cenderung lebih rendah daripada di sisi hilir. Ini karena permukaan air tanah dipertahankan dalam kondisi stabil karena penyekatan kanal. Namun, ada perbedaan

69 head yang besar antara hulu dan hilir sekat kanal yang membuat Transect-3 memiliki kecepatan lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan efektivitas penyekatan kanal pada upaya pembasahan kembali di lahan gambut tropis.

5. Berdasarkan analisis keseimbangan air dapat disimpulkan bahwa limpasan langsung yang terbesar adalah pada Sub-KHG-1, kemudian diikuti Sub-KHG4, Sub-KHG-2, Sub-KHG-5 dan Sub KHG-3.

6. Dari hasil simulasi model hidrolika disimpulkan bahwa Penyekatan kanal menunjukkan dampak yang bagus untuk menjaga kebasahan lahan gambut di sekitar penyekatan kanal.

70

DAFTAR PUSTAKA

Ballard, C. E., N. McIntyre, H. S. Wheater, J. Holden, and Z. E. Wallage. 2011.

“Hydrological Modelling of Drained Blanket Peatland.” Journal of Hydrology 407 (1–4). Elsevier B.V.:81–93. https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2011.07.005.

Holden, J., Z. E. Wallage, S. N. Lane, and A. T. McDonald. 2011. “Water Table Dynamics in Undisturbed, Drained and Restored Blanket Peat.” Journal of Hydrology. https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2011.03.010.

Koh, Lian Pin, Jukka Miettinen, Soo Chin Liew, and Jaboury Ghazoul. 2011.

“Remotely Sensed Evidence of Tropical Peatland Conversion to Oil Palm.”

Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 108 (12):5127–32. https://doi.org/10.1073/pnas.1018776108.

Murdiyarso, D., K. Hergoualc’h, and L. V. Verchot. 2010. “Opportunities for Reducing Greenhouse Gas Emissions in Tropical Peatlands.” Proceedings of the National Academy of Sciences 107 (46):19655–60.

https://doi.org/10.1073/pnas.0911966107.

Rahman, Mir Mustafizur, Gregory J. McDermid, Maria Strack, and Julie Lovitt. 2017.

“A New Method to Map Groundwater Table in Peatlands Using Unmanned Aerial Vehicles.” Remote Sensing 9 (10):1057. https://doi.org/10.3390/rs9101057.

71

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN LAPANGAN

Foto-1. Kegiatan kick off meeting (1 Juli 2019)

Foto-2. Kegiatan persiapan lapangan (2 Juli 2019)

72 Foto-3. Uji karakteristik gambut menggunakan alat geo-listrik (3 Juli 2019)

Foto-4. Pengukuran aliran air tanah menggunakan PDV (3 Juli 2019)

73 Foto-5. Sludge Test (4 Juli 2019)

Foto-6. Monitoring Hidrologi

Dokumen terkait