• Tidak ada hasil yang ditemukan

Monografi Komposisi Resep

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 95-103)

BAB 3 ANALISIS RESEP

3.2. Monografi Komposisi Resep

1. Diazepam

a. Indikasi

Keadaan neurotis, psikosomatis, penyakit otot yang bersifat rheumatis dan traumatis, meringankan gejala yang timbul karena penghentian alkohol akut, status epileptikus, pre dan post operasi.

b. Kontra indikasi:

Psikosis berat; kehamilan trisemester 1; glaukoma sudut sempit. Bayi prematur, serangan asma akut.

c. Efek samping:

Gangguan mental, mengantuk, amnesia, ketergantungan, penglihatan kabur, retensi urin, depresi pernapasan, hipotensi.

RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita

Jl . LetJend. S. Parman Kav. 87 Slipi, Jakarta

Jakarta, 13-3-2012 R/ Diazepam 1 mg Ibuprofen 400 mg Amitriptilin 2,5 mg Mf cap dtd no. XX S 3 dd cap 1 Obat sakit kepala

Pro : Ny. MH

9

d. Perhatian:

Hamil, laktasi, neonatus, usia lanjut, epilepsi, miastenia gravis, penyakit KV, hati, ginjal, insufisiensi pulmonal.

e. Dosis:

Anak sampai 6 tahun: 3 x sehari 1-2 mg; 6-14 tahun: 3 x sehari 2-4 mg; Dewasa: Dosis lazim: 3 x sehari 2-5 mg bila perlu dosis dapat diperbesar menjadi 3 x sehari 10 mg.

f. Interaksi:

Asam valproat, beta bloker, simetidin, alkohol, depresan SSP yang lain.

2. Ibuprofen

a. Indikasi:

Sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, rasa sakit pada saat haid. Rasa sakit/nyeri setelah operasi.

b. Kontra indikasi:

Ulkus peptikum, hipersensitif terhadap ibuprofen atau obat-obat anti radang non steroid lainnya, masa menyusui.

c. Efek samping:

Gangguan saluran pencernaan dan perdarahan, sakit kepala, ulkus peptikum, pusing, gugup, depresi, mengantuk, kulit kemerahan, gatal-gatal, tinitus (telinga berdenging tanpa rangsang dari luar), edema, insomnia, penglihatan buram, agranulositosis, trombositopenia.

d. Perhatian:

Asma atau bronkospasme, penyakit kardiovaskular, kelainan

perdarahan. e. Dosis:

Dewasa: 3 kali sehari 400 mg. Anak-anak : 20 mg/kg berat badan/hari dibagi menjadi beberapa kali pemberian.

10

Universitas Indonesia

3. Amitriptilin

a. Indikasi:

Pasien dengan gejala-gejala utama depresi terutama bila berkaitan dengan kecemasan, tegang, atau kegelisahan. Depresi neurotik.

b. Kontra indikasi:

Bersamaan dengan terapi yang menggunakan MAOI, Fase

penyembuhan akut setelah infark miokardial.

c. Efek samping:

Efek antikolinergik seperti mulut kering, retensi urinaria, konstipasi, palpitasi, takikardi, gingivitis; efek endokrin seperti perubahan libido, impotensi, gynecomastia, galactorrhea; tinitus (telinga berdenging), berat badan turun atau bertambah, mengantuk, cemas, insomnia, hipotensi, pusing, gangguan kulit, bingung, aritmia, mania, gangguan pencernaan.

d. Perhatian:

Penyakit hati, gagal hati, dan kerusakan hati, kelainan kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), retensi urinaria, konstipasi, glaukoma sudut sempit, meningkatkan tekanan dalam mata, hipertiroidisme, kecenderungan bunuh diri, hamil, menyusui dan pasien di bawah 12 tahun, epilepsi.

e. Dosis:

Dosis awal 3-4 tablet, kemudian ditingkatkan sampai 6 tablet dalam dosis terbagi. Dosis dapat ditingkatkan bertahap setiap minggu tergantung dari respon klinik penderita dan tidak melebihi 12 tablet perhari. Untuk pasien depresi di rumah sakit, sehari 4 tablet dalam dosis terbagi, kemudian ditingkatkan sampai 12 tablet dalam dosis terbagi. Untuk pasien tua dan remaja di atas 16 tahun, sehari 1-2 tablet, kemudian ditingkatkan sampai sampai 4 tablet sehari dalam dosis terbagi.

BAB 4 PEMBAHASAN

Peran apoteker di apotek adalah sebagai pemberi informasi obat kepada pasien. Selain itu, apoteker juga dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai resep yang ditulisnya untuk mencapai efek terapi yang diharapkan serta memonitor kepatuhan pasien penggunaan obat.

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter kepada apoteker untuk menyiapkan obat kepada pasien. Penulisan resep yang jelas sangat diperlukan sehingga resiko terjadinya medication error dapat dihindari. Resep yang lengkap terdiri dari nama, surat izin kerja, alamat dokter, tanggal penulisan, nama pasien, umur pasien, tanda R/, nama obat, cara pakai, jumlah obat, tanda tangan dokter. Saat menerima resep apoteker wajib memeriksa rasionalitas pengobatan, memberikan obat dan informasi obat yang benar kepada pasien meliputi tepat obat, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat cara penggunaan. Kelengkapan pada resep tersebut masih kurang lengkap karena tidak terdapat paraf dokter.

Obat yang diresepkan oleh dokter untuk Ny. MH berupa diazepam 1 mg, ibuprofen 400 mg, dan amitriptilin 2,5 mg. Berdasarkan obat yang diresepkan, diperkirakan bahwa Ny. MH mengalami depresi. Hal ini ditunjukkan dengan diresepkannya amitriptilin oleh dokter. Amitriptilin termasuk golongan antidepresan trisiklik yang bekerja dengan cara menghambat pengambilan kembali neurotransmitter serotonin dan noradrenalin di otak. Amitriptilin biasa digunakan sebagai antidepresi akibat kekurangan serotonin karena amitriptilin memiliki dua gugus metil pada strukturnya sehingga lebih responsif terhadap serotonin.

Pemberian diazepam pada Ny. MH berguna untuk mengatasi kecemasan yang dirasakan oleh pasien. Diazepam termasuk dalam golongan benzodiazepin yang berfungsi sebagai antiansietas. Kerja utama diazepam yaitu potensiasi inhibisi neuron dengan asam gamma-aminobutirat (GABA) sebagai mediator pada sistem syaraf pusat. Pemberian antiansietas dengan antidepresan memang diperlukan karena umumnya gangguan ansietas dan gangguan depresi terjadi

12

Universitas Indonesia

bersamaan (Stavrakaki dan Vargo, 1986). Efek samping diazepam berupa rasa mengantuk berguna agar pasien dapat istirahat karena pasien depresi sering kali mengalami kesulitan tidur.

Pemberian ibuprofen pada Ny. MH berguna untuk mengatasi sakit kepala yang diderita oleh pasien. Ibuprofen termasuk dalam golongan obat antiinflamasi non steroid. Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi tidak terlalu kuat.

Pada resep diketahui bahwa obat yang akan diterima pasien dalam bentuk sediaan kapsul. ketiga obat tersebut dijadikan bentuk sediaan kapsul dengan cara menggerus ketiganya dalam lumpang hingga homogen kemudian dimasukkan ke dalam cangkang kapsul. Hal penting yang harus diperhatikan pada kapsul adalah bentuk sediaan obat yang akan digunakan. Jika bentuk salah satu dari obat tersebut memiliki bentuk sediaan tablet atau kaplet salut maka obat tersebut tidak bisa dijadikan kapsul karena akan merusak obat tersebut seperti kestabilannya. Pada resep tersebut yang harus diperhatikan adalah bentuk sediaan ibuprofen karena beberapa produsen membuat tablet atau kaplet ibuprofen dalam sediaan salut. Jika ibuprofen yang digunakan merupakan sediaan salut maka ibuprofen diberikan secara terpisah (tidak dicampurkan menjadi kapsul). Jika ibuprofen yang digunakan merupakan tablet biasa maka bisa dibuat menjadi kapsul.

Interaksi antara obat-obat yang diberikan pada resep juga menjadi faktor pertimbangan dalam menentukan rasionalitas resep. Apabila pada resep terdapat obat-obat yang mempunyai interaksi saling merugikan, maka hal tersebut harus dikonsultasikan kepada dokter untuk kemungkinan menggantikan obat yang diresepkan dengan obat lain yang tidak berinteraksi. Pada resep tersebut, tidak ditemukan adanya interaksi obat.

Selain diberikan terapi dengan antidepresan pasien depresi juga harus diberikan konseling. Hal ini sangat berguna untuk mengetahui permasalahan yang menyebabkan pasien depresi.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Obat yang diresepkan oleh dokter sudah tepat dan rasional serta tidak memiliki interaksi yang merugikan.

5.2 Saran

Perlu dilakukan konseling rutin kepada pasien gangguan depresi tentang penyakit, pengobatan dan perubahan pola hidup.

14 Universitas Indonesia DAFTAR REFERENSI

Adnyana, Ketut., et al. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta : PT ISFI Penerbitan. Arozal, W. dan S. Gan. (2007). Psikotropik. dalam: Ganiswarna SG, ed.

Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. 161-178.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pharmaceutical Care untuk

Penderita Gangguan Depresi. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi

Komunitas dan Klinik Direktur Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Irawati, R. dan Siste, K. (2010). Buku ajar psikiatri: Gangguan Depresi. Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

Stavrakaki C, dan Vargo B. (1986). The Relationship Of Anxiety And Depression: A Review Of The Literature. British. J Psychiatry. 149:7-16

15

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 95-103)

Dokumen terkait