• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Media Alternatif

2.2.3. Monosodium Glutamat

Monosodium Glutamate (MSG) adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu. Dan natrium (sodium) dari asam glutamat (salah satu asam amino non-esensial penyusun protein). MSG terdiri dari 78% glutamat, 12% natrium dan 10% air. MSG dijual sebagai kristal halus berwarna putih, dan penampakannya mirip gula pasir atau garam dapur. Glutamat adalah salah satu dari 20 asam amino penyusun protein. Sebagai asam amino, glutamat termasuk dalam kelompok non esensial, yang artinya tubuh mampu memproduksi sendiri. Glutamat ada di setiap makhluk hidup baik dalam bentuk terikat maupun bebas. Glutamat sebagai asam amino non-essensial ditemukan pada tahun 1866 oleh seorang ilmuwan Jerman bernama Prof. Ritthausen yang berhasil mengisolasinya dari gluten (protein gandum).

Glutamat yang masih terikat dengan asam amino lain sebagai protein tidak memiliki rasa. Hanya jika glutamat yang dalam bentuk bebas memiliki rasa

Umami (gurih). Dengan demikian, semakin tinggi kandungan glutamate bebas dalam suatu makanan, semakin kuat rasa umaminya.

Kadar glutamat dalam makanan bervariasi tergantung dari macam makanan, kondisi makanan (mentah atau matang) dan proses pengolahannya Tomat mentah yang berwarna hijau hanya mengandung 20 mg/100 g glutamat bebas dan setelah matang meningkat drastis menjadi 246 mg/100 g. Sementara air susu sapi yang hanya mengandung 1 mg/100 g glutamat bebas, setelah melalui proses enzimatik, fermentasi dan disimpan selama dua tahun meningkat kandungan glutamat bebasnya menjadi 1680 mg/100 g sebagai keju Parmegiana Regiano.

2.2.4. Terasi

Terasi merupakan produk awetan ikan-ikan kecil arau rebon yang telah diolah melalui proses pemeraman atau fermentasi, penggilingan atau penumbukan, dan penjemuran yang berlangsung kurang lebih 20 hari. Ke dalam produk terasi tersebut, ditambahkan garam yang berfungsi sebagai pengawet.

Ada beberapa jenis terasi. Bila dilihat dari bahan dasar yang digunakan, terdapat tiga macam terasi. Ada terasi udang, ikan, dan terasi campuran antara ikan dan udang. Kualitas terasi bisa dilihat dari tekstur dan warnanya. Terasi yang bermutu baik, teksturnya tidak terlalu keras, juga tidak terlalu lembek. Terasi yang berwarna merah sebaiknya dihindari karena warna merah itu berasal dari bahan pewarna rhodamin B yang biasa digunakan untuk tekstil. Kandungan nutrisi pada terasi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan Nutrisi dalam 100 gram Terasi Udang

Komposisi Jumlah (gram)

Protein 30 Lemak 3,5 Karbohidrat 3,5 Mineral 23 Kalsium 100 Fosfor 250 Besi 0,0031 Air 40

sumber : Daftar Analisis Bahan Makanan Fak. Kedokteran UI ; Jakarta, 1992

2.2.5. Molases

Molasses merupakan cairan kental, rasanya agak pahit dan berwarna gelap, hasil produk samping dari pabrik gula. Menurut Paturau (1982), molases adalah keluaran terakhir yang diperoleh dari pembuaran gula tebu setelah melalui kristalisasi berulang dan merupakan sisa sirup tang tidak dapat mengkristal lagi dengan perlakuan sederhana. Menurut Baikow (1982), molases merupakan sisa sirup yang terbuang dari maskuit dan tidak dapat dikristalisasi lagi dalam pembuatan gula.

Menurut Paturau (1982), berdasarkan jumlah tebu yang digiling, jumlah molases yang dihasilkan bervariasi antara 2,2% – 3,7%, dengan rata-rata 2,7%. Molases sebagai hasil samping pabrik gula mempunyai kandungan gula sekitar 40% - 45% sangat dimungkinkan untuk diolah menjadi gula kembali, mengingat harga molases yang relatif lebih murah daripada harga gula kristal. Molases dapat digunakan secara langsung atau dapat dijadikan bahan baku pembuatan produk-produk yang bernilai ekonomis, misanlya untuk kecap, pupuk, pakan ternak, ataupun untuk industri fermentasi.

Menurut Kirk dan Othmer (1963), molases dari gula tebu mempunyai nilai pH 5,5 – 6,5. Sifat yang masam dan pH yang rendah pada molases disebabkan oleh kandungan asam alifatik pada proses klarifikasi.

Kandungan gula dalam molases sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain varietas tebu, tanah, iklim, periode penanaman, cara

pengolahan tebu di perusahaan (Paturau,1982). Kandungan gula dalam molases juga dipengaruhi oleh efisiensi operasi pabrik gula, sistem pemanasan dan tipe serta kapasitas kristalizer (Baikow, 1982). Paturau (1982) menyatakan bahwa molases terdiri dari berbagai komposisi kimia. Komposisi kimia molases dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi Kimia Molases (Paturau, 1982)

Komposisi Kisaran (%) Rata-Rata (%)

Air 17-25 20 Sukrosa 30-40 35 Glukosa 4-9 7 Fruktosa 5-12 9 Gula pereduksi 1-5 3 Karbohidrat lain 2-5 4 Abu 7-15 12 Komponen nitrogen 2-6 4,5

Asam bukan nitrogen 2-6 5

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanah, serta Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. Penelitian dimulai sejak Juni hingga Desember 2010.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan untuk membuat media IPB RI-1 adalah: pupuk Urea, Pupuk SP-36, limbah ikan teri, terasi, dedak, MSG, gula merah dan air mineral serta inokulan mikroba (Azotobacter, Azospirillum dan Bakteri Pelarut Fosfat). Jumlah inokulan yang digunakan sebanyak 2% dari volume media. Inokulan mikroba adalah koleksi Prof. Dr. Iswandi Anas, Kepala Laboratorium Bioteknologi Tanah, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Komposisi bahan media IPB RI-1 disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Komposisi Bahan untuk Membuat 5 liter Media IPB RI-1

Komposisi Jumlah (gram)

Pupuk Urea 50 Pupuk SP-36 25 Limbah ikan teri 50

Terasi 12,5 Dedak 50 MSG 5 Gula merah 50

Air mineral 5 liter

Bahan yang digunakan membuat media IPB RI-2 antara lain : molases, air mineral dan inokulan mikroba (Azotobacter, Azospirillum dan Bakteri Pelarut Fosfat) sebanyak 2% dari volume media yang dibuat. Komposisi bahan media IPB RI-2 disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Komposisi Bahan untuk Membuat 5 liter Media IPB RI-2

Komposisi Jumlah Molases (5%) 250 ml

Air mineral 5 liter

Sebagai pembanding digunakan media Nutrient Broth produksi Difco™. Bahan yang digunakan membuat media Nutrient Broth antara lain

Nutrient Broth dan air mineral. Komposisi bahan media Nutrient Broth disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Komposisi Bahan untuk Membuat 500 ml Media Nutrient Broth Komposisi Jumlah Difco™ Nutrient Broth 4 gram

Air mineral 500 ml

Selain itu digunakan pula media agar antara lain : Nitrogen Free Media

untuk Azotobacter, Nitrogen Free Bromthymol Blue untuk Azospirillum dan Pikovskayauntuk Bakteri Pelarut Fosfat.

Hasil analisis unsur hara pada media IPB RI-1, media IPB RI-2 dan media

Nutrient Broth dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Kandungan N, P dan K pada Media IPB RI-1, IPB RI-2 dan Nutrient Broth

Media N P K

%

Media IPB RI-1 0,13 0,07 0,02 Media IPB RI-2 0,05 0,02 0,13

3.3. Pelaksanaan Penelitian

Metode penelitian meliputi persiapan bahan-bahan, pembiakan inokulan dalam media serta penghitungan sel mikroba dengan Metode Cawan Agar (Plate Counting) dan Metode MPN (Most Probable Number).

3.3.1. Persiapan bahan-bahan

Azotobacter, Azospirillum dan Bakteri Pelarut Fosfat yang diinokulasikan ke dalam media alternatif, dibiakkan dengan menggunakan shaker selama 4 hari dengan menggunakan media Nutrient Broth.

Pada media IPB RI-1, semua bahan-bahan dihaluskan lalu dicampur dalam satu wadah, lalu disaring dan kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121o C selama 15 menit. Hal yang sama dilakukan pada media IPB RI-2. Untuk media Nutrient Broth, digunakan Nutrient Broth produksi Difco™ yang dilarutkan dengan 500 ml air mineral, lalu disterilisasi dengan menggunakan autoklafpada suhu 121o C selama 15 menit.

3.3.2. Pembiakan Inokulan dalam Media

Inokulan Azotobacter, Azospirillum dan Bakteri Pelarut Fosfat diinokulasikan ke dalam 12 galon air mineral. Wadah ini terdiri dari 6 galon yang masing-masing berisi 5 liter media IPB RI-1, dan 6 galon yang masing-masing berisi 5 liter media IPB RI-2. Hal yang hampir sama dilakukan pada media

Nutrient Broth yakni dengan menginokulasikan Azotobacter, Azospirillum dan Bakteri Pelarut Fosfat ke dalam 6 erlenmeyer yang masing-masing berisi 500 ml media Nutrient Broth. Setelah itu tiap media diberikan perlakuan yakni dengan diberikan aerasi dan tidak diberikan aerasi. Jumlah semua biakan yang dibuat adalah 18 biakan, disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Media, Mikroba dan Perlakuan Aerasi pada Media

No. Kode /Nama Media Nama Bakteri Aerasi 1 IPB RI-1 Azotobacter Ya 2 IPB RI-1 Azotobacter tanpa 3 IPB RI-1 Azospirillum Ya 4 IPB RI-1 Azospirillum tanpa 5 IPB RI-1 Bakteri Pelarut Fosfat Ya 6 IPB RI-1 Bakteri Pelarut Fosfat tanpa 7 IPB RI-2 Azotobacter Ya 8 IPB RI-2 Azotobacter tanpa 9 IPB RI-2 Azospirillum Ya 10 IPB RI-2 Azospirillum tanpa 11 IPB RI-2 Bakteri Pelarut Fosfat Ya 12 IPB RI-2 Bakteri Pelarut Fosfat tanpa

13 Nutrient Broth Azotobacter Ya

14 Nutrient Broth Azotobacter tanpa 15 Nutrient Broth Azospirillum Ya 16 Nutrient Broth Azospirillum tanpa 17 Nutrient Broth Bakteri Pelarut Fosfat Ya 18 Nutrient Broth Bakteri Pelarut Fosfat tanpa

Azotobacter, Azospirillum dan Bakteri Pelarut Fosfat ditumbuhkan pada media IPB RI-1, IPB RI-2 dan Nutrient Broth dalam wadah air mineral yang telah dimodifikasi. Wadah air mineral dijadikan sebagai fermentor dan untuk perlakuan pemberian aerasi, udara yang steril dialirkan dengan menggunakan pompa akuarium dengan laju alir 1-2 liter/menit. Aerasi berfungsi sebagai penyuplai oksigen untuk sel mikroba. Laju oksigen yang disuplai ke dalam media dijaga stabil. Fluktuasi laju alir oksigen dapat mengganggu metabolisme sel karena oksigen terlarut tidak stabil. Selain aerasi, galon modifikasi juga dilengkapi dengan batu aerasi dan filter udara steril. Batu aerasi berfungsi sebagai pemecah gelembung-gelembung udara agar gelembung udara yang terbentuk berukuran kecil sehingga laju difusi oksigen ke dalam larutan lebih cepat dan meningkatkan kadar oksigen terlarutnya sedangkan filter udara steril berfungsi sebagai penyaring udara dari luar yang masuk ke dalam galon yang berisi media sehingga terhindar dari kontaminan mikroba lain.

3.3.3. Penghitungan Populasi Mikroba dengan Metode Cawan Agar

Dokumen terkait