• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KEBIJAKAN PEMERINTAH INDONESIA DALAM MENANGANI

C. Moratorium Penempatan PRT Indonesia Ke Arab Saudi

E. Peran Perwakilan Republik Indonesia (RI) Di Luar Negeri Dalam

Melindungi PRT Di Luar Negeri

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

16

BAB II

GAMBARAN UMUM TKI DI ARAB SAUDI

A. Sejarah Pengiriman TKI Ke Luar Negeri

Perpindahan tenaga kerja Indonesia antar pulau dan luar negeri tidak bisa

dipisahkan dari masa orde lama dan orde baru, bahkan sejak masa penjajahan di

tahun 1887. Pada tahun tersebut, tenaga kerja dikirim ke beberapa daerah jajahan

seperti Suriname, Kaledonia dan Belanda (Awani 2003: 34). Pada masa sebelum

kemerdekaan Indonesia, migrasi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri

dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui penempatan buruh kontrak ke

negara Suriname, Amerika Selatan, yang juga merupakan wilayah koloni Belanda

(www.bnp2tki.go.id). Pada masa kolonial di awal abad dua puluh, kebanyakan

pembuatan kebijakan ditujukan untuk meningkatkan produktifitas pertanian,

sehingga banyak tenaga kerja dari jawa dipindah ke luar Jawa. Kebijakan migrasi

yang dibangun pada masa penjajahan adalah suatu alat yang berguna untuk

menghasilkan tujuan dan kepentingan negara serta elit berkuasa (Komnas

Perempuan 2002: 4).

Geliat perusahaan jasa pengerah TKI pada era awal 1970-an terus

meningkat. Pada saat itu di kawasan Timur Tengah terjadi masa keemasan minyak

atau disebut oil booming, dengan ditemukannya cadangan minyak dalam jumlah

tidak sedikit dan dilakukan ekplorasi besar-besaran, yang menjadikan

negara-negara Arab di Timur Tengah utamanya Arab Saudi mendadak kaya raya (Tri

Nuke 2007: 45). Fenomena ini semakin memperbanyak lahirnya orang-orang kaya

17

di Arab Saudi, sehingga membuka lapangan kerja yang begitu luas untuk diisi

berbagai pihak termasuk pada akhirnya mendorong arus pengiriman PRT ke Arab

Saudi. Namun demikian, peluang tersebut ditangkap oleh perusahaan jasa

pengerah TKI dengan hanya menempatkan PRT untuk pengguna perseorangan.

Kondisi migrasi berlanjut hingga memasuki masa kemerdekaan, orde lama,

orde baru dan reformasi. Tanggal 3 Juli 1947 merupakan hari bersejarah bagi

lembaga Kementerian Perburuhan dalam era kemerdekaan Indonesia. Melalui

Peraturan Pemerintah No. 3 tahun 1947 dibentuk lembaga yang mengurus

masalah perburuhan di Indonesia dengan nama Kementerian Perburuhan

(www.bnp2tki.go.id).

Migrasi juga tidak hanya terjadi secara nasional, namun internasional.

Fenomena migrasi juga dapat dilihat sebelum perang dunia II, banyak warga

negara Indonesia yang dikirim ke Malaysia, Guyana dan New Caledonia. Setelah

perang dunai II, mulai ada tenaga kerja yang bekerja di Singapura dan negara

lainnya. Perpindahan tenaga kerja Indonesia saat itu sebenarnya hanya untuk

mencukupi kebutuhan tenaga kerja di beberapa negara tersebut dan tidak masuk

dalam kebijakan pemerintah di bidang pekerjaan (Prijono 1999: 126). Salah satu

alasan mengapa fenomena migrasi tenaga kerja ini terjadi adalah karena negara

asal belum bisa menciptakan lapangan kerja yang kondusif serta penghasilan yang

mencukupi untuk kebutuhan hidup.

Pada awalnya pengiriman TKI dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda

dengan cara mengirim buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan yang

saat itu merupakan jajahan Belanda. Saat itu TKI dikirim karena Suriname

18

kekurangan tenaga kerja untuk mengurus perkebunan karena budak asal Afrika

yang bekerja di perkebunan Suriname dibebaskan pertengahan 1863 sebagai

bentuk pelaksanaan dari politik penghapusan perbudakan. Gelombang pertama

TKI yang dikirim tiba di Suriname 9 Agustus 1890 dengan jumlah 94 orang.Mulai

saat itu pemerintah Hindia Belanda secara reguler mengirimkan TKI ke Suriname.

Pengiriman TKI ke Suriname oleh pemerintah Hindia Belanda berakhir pada 1939

dengan jumlah total mencapai 32.986 orang (www.artikelbahasaindonesia.org).

Arab Saudi menjadi tujuan pengiriman TKI karena ada hubungan religius

yang erat antara Indonesia dengan Arab Saudi yaitu melalui jalur ibadah haji.

Pada saat orang Indonesia melaksanakan ibadah haji mereka berinteraksi dengan

warga lokal Arab Saudi, bahkan ada yang kemudian menikah, menetap dan

membuka usaha di sana. Lambat laun hubungan semakin erat sampai kemudian

hari ada yang mengajak saudaranya ke Arab Saudi untuk bekerja

(www.merdeka.com).

Jumlah TKI yang tercatat pertama kali pada 1983, yakni sebanyak 27.671

orang. Mereka bekerja di delapan negara. Jumlah itu bertambah pada 1992 yang

mencapai 158.750 orang. Setelah 1980, pemerintah baru menetapkan regulasi

untuk mengatur pengiriman TKI karena pemerintah melihat nilai positif dan nilai

ekonomis tinggi (www.merdeka.com).

19

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi PRT Indonesia Bekerja Di Luar

Negeri

Pada mulanya mobilitas PRT ke luar negeri terjadi berdasarkan pada

prakarsa dan upaya dari PRT itu sendiri. Dampak positif dari kegiatan tersebut

adalah sebagai upaya untuk menanggulangi masalah pengangguran, meningkatkan

keterampilan kerja dan mendatangkan keuntungan berupa naiknya devisa negara

(Natalis 2005: 97).

Berbagai faktor yang mempengaruhi mobilitas PRT di luar negeri antara

lain (Mardjono 2007: 70) :

 Kemudahan informasi, komunikasi dan transportasi, pengalaman kerja ke

luar negeri serta daya tarik upah yang lebih tinggi.

 Terbukanya pasar kerja luar negeri dengan dominsai peran agen

penempatan yang lebih menjanjikan kemudahan memperoleh pekerjaan,

penghasilan tinggi dan proses cepat serta janji-janji keuntungan lainnya.

 Kesenjangan birokrasi lintas sektoral dalam negeri dalam pelayanan

bekerja ke luar negeri serta masih lemahnya penegakan hukum.

Menurut Everett Lee, bahwa faktor utama seseorang melakukan migrasi

adalah faktor tempat asal, dalam arti orang yang gagal dalam ekonomi dan social.

Mereka berharap di tempat tujuan akan memperoleh pekerjaan dan penghasilan

yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperoleh di daerah asalnya.

Orang-orang yang melakukan migrasi ini adalah mereka yang betul-betul potensial, yaitu

yang masih produktif (Uke 2003: 327). Sedangkan menurut Mantra, arus migrasi

20

penduduk dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi di suatu wilayah karena alasan

utama seseorang untuk berpindah adalah alasan ekonomi (Uke 2003: 327).

Salah satu faktor yang mendorong PRT bekerja di luar negeri, antara lain

karena tingginya upah yang akan diterima dibandingkan dengan upah di dalam

negeri. Upah yang ditawarkan cukup tinggi, berkisar antara 1 sampai 2 juta

rupiah. Bahkan ada yang memperoleh pendapatan sampai sekitar 10 juta rupiah,

tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Juga tergantung dari negara tujuan

yaitu tergantung dari kesepakatan bersama antara pihak pengerah tenaga kerja

dengan pihak penerima tenaga kerja (Nurhayati 2003: 335).

Wilayah Timur Tengah menjadi salah satu tujuan yang disasar oleh

perempuan pencari kerja dan keluarganya khususnya bagi mereka yang tinggal di

wilayah dimana budaya agama (Islam) adalah lebih baik dari pada bekerja dengan

majikan yang beragama lain. Selain itu, khususnya di Arab Saudi, harapan bahwa

PRT bisa sekaligus menunaikan ibadah haji pun menjadi pertimbangan yang

penting. Harapan-harapan yang tinggi dieksploitir oleh pihak-pihak yang

mengambil keuntungan dari mereka (Sri 2007: 67).

Menjadi Tenaga Kerja di luar negeri harus memenuhi

persyaratan-persyaratan tertentu yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 34

Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar

negeri (pasal 35), yaitu sebagai berikut:

1. Berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun kecuali bagi calon

yang akan dipekerjakan pada pengguna perseorangan sekurang-kurangnya

berusia 21 (dua puluh satu) tahun;

21

2. Sehat jasmani dan rohani;

3. Tidak dalam keadaan hamil;

4. Berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat

Pertama (SLTP) atau sederajat.

C. Penempatan TKI Ke Arab Saudi

Secara kultural tradisional, masyarakat Indonesia telah mempunyai jalinan

hubungan yang erat dengan masyarakat Arab Saudi sejak zaman penjajahan

Belanda, jauh sebelum sebelum kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Jalinan

hubungan tersebut dilatarbelakangi oleh persamaan budaya dalam keyakinan

beragama yang sama-sama pemeluk agama Islam (Makarim 2006). Sejak lama,

jema’ah haji Indonesia dari tahun ke tahun secara teratur selalu hadir dalam

musim haji tersebut yang jumlahnya terus bertambah. Dari proses perjalanan haji

ini, banyak jema’ah Indonesia yang tidak mau pulang ke Tanah Air dan memilih

bermukim di Arab Saudi dengan alasan menuntut di bidang ilmu ke-Islaman dan

bahasa Arab serta mencari kehidupan yang lebih baik.

Hubungan tradisional ini terus berlanjut hingga saat ini. Bagi masyarakat

Indonesia, Arab Saudi merupakan tanah impian baik dari segi faktor religi,

keilmuan bidang ke-Islaman maupun dari segi ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari

terus meningkatnya jumlah jema’ah umroh dan haji Indonesia setiap tahun, serta

menjadi negara tujuan pasokan PRT keluar negeri terbesar. Secara formal

hubungan kedua negara terselenggara dengan dibukanya hubungan diplomatik

22

pada tahun 1951 yang sampai saat ini dapat terjaga serta berjalan dengan baik

bahkan terus meningkat (Makarim 2006).

Arab Saudi merupakan negara tujuan penempatan yang menyerap tenaga

kerja Indonesia terbanyak dibanding dengan negara-negara tujuan penempatan

TKI yang lain. Namun, pada tahun 2012 terdapat penurunan angka penempatan

TKI, penurunan angka tersebut terjadi dikarenakan adanya moratorium

penempatan TKI di sektor informal atau domestik.

Tabel 2.1

Penempatan Tenaga Kerja Indonesia berdasarkan negara penempatan

tahun 2006 – 2012

No Negara Penempatan Tahun Jumlah 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 1. Arab Saudi 281.08 7 257.21 7 234.64 4 276.233 228.890 137.643 11.814 1.427.928 2. Malaysia 219.65 8 222.19 8 187.12 3 123.886 116.056 134.108 46.296 1.049.325 3. Taiwan 45.706 50.810 59.522 59.335 62.048 73.498 30.669 381.588 4. Singapore 28.661 37.469 21.807 33.077 39.623 47.781 20.430 228.875 5. United Emirated Arab 22.685 28.184 38.092 40.391 37.337 39.857 14.274 220.820 6. Hongkong 20.100 29.973 30.204 32.417 33.262 50.283 18.237 214.476 7. Kuwait 24.600 25.756 29.218 23.041 563 2.723 693 106.594 8. Qatar 7.980 10.449 8.582 10.010 13.559 16.578 8.476 75.634 9. Yordania 10.978 12.062 11.155 10.932 5.695 134 29 50.985 10. Oman 5.210 7.150 8.309 9.700 9.259 7.292 3.375 50.295 11. Brunei Darussalam 8.482 5.852 3.861 4.785 7.360 10.805 5.703 46.848 12. Korea Selatan 4.035 3.830 8.134 1.890 7.596 11.390 6.399 43.274 13. Amerika Serikat - 1.263 66 47 475 13.746 5.088 20.685 14. Bahrain 639 2.267 2.324 2.837 4.844 4.375 2.832 20.118 15. Syria - - - 1.155 6.381 4.222 1 11.759 16. Italia - 953 7 - 13 3.408 1.765 6.146 17. Jepang 36 96 232 362 233 2.508 1.441 4.908 18. Aljazair - - 499 453 609 1.084 563 3.208 19. Afrika Selatan - 111 - - 12 2.009 786 2.918 20. Macao - 164 468 674 826 582 148 2.862

Sumber: www.bnp2tki.go.id

23

Arab Saudi merupakan negara yang menyerap TKI terbanyak di sektor

informal sebanyak 105.071 orang atau 33,09 % dari jumlah keseluruhan

penempatan TKI pada sektor informal dan ini didominasi oleh PRT perempuan

sebanyak 102.305 orang atau 97,37 % dari jumlah TKI sektor informal di negara

tersebut (Pusdatinaker Kemnakertrans 2012: 46).

Tabel 2.2

Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri Menurut Negara Tujuan

Penempatan dan Sektor Tahun 2011 (orang)

Negara Tujuan

Penempatan

Sektor

Jumlah

Formal Informal

Saudi Arabia 31.421 105.071 136.491

Malaysia 126.449 6.363 132.812

Taiwan 18.612 59.484 78.096

Hongkong 1.999 47.811 49.811

Singapore 9.290 38.031 47.320

United Arab Emirates 8.142 31.386 39.528

Qatar 3.942 12.512 16.454

United States 13.565 50 13.615

Korea Selatan 11.221 60 11.281

Brunei Darussalam 9.138 1.561 10.699

Lainnya 29.817 15.157 44.974

Jumlah 263.596 317.485 581.081

Sumber: BNP2TKI. Diolah Pusdatinaker

Adapun kelemahan sistem penempatan dan perlindungan PRT di Arab

Saudi, yaitu sebagai berikut (BNP2TKI 2013: 23):

1. Tidak adanya kerjasama bidang ketenagakerjaan yang melindungi

tenaga kerja sektor domestik antara Pemerintah Arab Saudi dengan

Pemerintah Indonesia.

24

2. Kebijakan moratorium menyebutkan maraknya pengiriman PRT illegal

yang memanfaatkan visa umrah/kunjungan atau masuk melalui negara

ketiga (transit).

3. Masih banyaknya Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta

(PPTKIS) yang menempatkan PRT secara non prosedural.

4. Adanya kebijakan yang memungkinkan diubahnya visa umrah atau visa

kunjungan menjadi visa kerja di Arab Saudi.

5. Masih banyaknya oknum yang memanfaatkan izin PRT cuti sebagai

modus menempatkan PRT di masa moratorium.

Secara umum masalah ketenagakerjaan tidak banyak berubah dari tahun ke

tahun yaitu masih lemahnya perlindungan terhadap PRT yang bekerja di luar

negeri. Namun demikian upaya pembenahan sistem maupun operasionalnya telah

dilakukan pemerintah Indonesia tanpa henti, meski hasil yang dicapai belum

sebagaimana yang diharapkan. Hal ini dapat dimengerti karena masalah

ketenagakerjaan sangat komplek dan menyangkut banyak pihak dengan

kepentingan yang berbeda (multidimensional). Dan, hingga saat ini penanganan

masalah ketenagakerjaan khususnya PRT belum menemukan solusi yang tepat

dari kedua negara baik dari Indonesia maupun Arab Saudi.

25

BAB III

KONDISI KETENAGAKERJAAN DI ARAB SAUDI

A. Sistem Ketenagakerjaan Di Arab Saudi

Arab Saudi adalah sebuah negara luas di Timur Tengah yang memiliki

hubungan erat dengan Indonesia. Setiap tahun puluhan ribu orang Indonesia

bekerja di negara ini dengan sistem kontrak kerja. Kebanyakan tenaga kerja

Indoensia di Arab Saudi adalah wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah

tangga (Komnas HAM: 22).

Arab Saudi adalah negara monarki yang berdasarkan hukum Islam. Raja

adalah penguasa eksekutif sekaligus pembuat undang-undang. Kerena itulah,

selain mempunyai kedudukan sebagai pemimpin politik, raja berperan juga

sebagai imam atau pemimpin agama. Negara ini praktis tidak memiliki

undang-undang dasar, karena sumber hukumnya adalah agama Islam. Sebuah badan yang

disebut Syariah membuat segala peraturan untuk ketertiban masyarakat. Tetapi

beberapa peraturan tertentu dibuat dengan dekrit raja (Komnas HAM 2005: 23).

Hal-hal yang menjadi tradisi kerja di Arab Saudi yaitu (Komnas HAM

2005: 29) :

1. Wanita tidak boleh bergaul dengan dengan laki-laki bukan muhrimnya.

2. Memberi senyum kepada pria selain keluarga dekat dianggap rendahan

(aib).

3. Jangan menerima telepon tanpa seizin majikan, apalagi telepon dari pria.

4. Orang Arab memiliki sifat kasar, baik kata-kata maupun tindakan.

26

5. Mereka kadang-kadang menyebut kata bunuh, sapi, keledai tetapi tidak

berarti bahwa benar-benar mau dibunuh.

6. Majikan akan tersentuh hatinya apabila Anda mengucapkan kalimat,

“semoga Allah merahmati kedua orang tuamu”, atau, “semoa Allah

memperpanjang umurmu” (pada saat meminta gaji yang belum

dibayarkan).

7. Majikan suka berterus terang dan tidak sembunyi-sembunyi. Apabila

mereka tidak menyukai anda akan mengatakan, “Saya tidak suka Anda

melakukan hal itu.”

8. Tidak boleh berkencan, hubungan melalui telepon, menegur pria di

tempat umum dan menghubungi pria tanpa seizing majikan.

9. Apabila mengikuti majikan menghadiri pesta, sebaiknya makan terlebih

dahulu di rumah karena makan malam pesta biasanya jam 01.00 sampai

02.00 dini hari.

10.Jumlah anggota keluarga rata-rata antara 7 sampai 10 orang. Seringkali

orang tua atau saudara majikan tinggal serumah.

11.Rumah tinggal biasanya luas dengan 10 kamar dan pekerjaan

diselesaikan oleh satu orang pembantu saja.

12.Apabila kamar tidur terasa panas, anda dapat mencoba meminta kipas

angin pada majikan.

13.Peraturan makan adalah majikan laki-laki yang pertama, lalu wanita dan

terakhir anda.

27

14.Tata cara makan biasanya mereka menggunakan jari tangan bukan

dengan sendok.

15.Pemerintah Arab Saudi sangat ketat melakukan razia kepada orang asing

yang iqomah (izin tinggal)-nya telah berakhir masa berlakunya. Pekerja

yang tidak bekerja pada majikan dan umrohan, ditangkap, didenda,

ditahan dan kemudian dideportasi.

Aturan-aturan buruh migran yang berlaku di Arab Saudi, antara lain sebagai

berikut (Komnas HAM 2005: 35) :

1. Arab Saudi tidak memiliki undang-undang dasar seperti yang dimiliki

negara lain, yang dijadikan undang-undang dasar adalah agama Islam.

Kerena itu di Arab Saudi masih berlaku hokum pancung, potong tangan,

dan cambuk kepada para pelanggar hukum.

2. Aturan tentang ketertiban masyarakat dibuat oleh sebuah lembaga yang

disebut Syariah dan berdasarkan dekrit raja.

3. Kekuasaan kehakiman berada di tangan seorang kadi yang mengepalai

badan pengadilan. Namun kekuasaan seorang kadi hanya terbatas pada

persoalan hokum dan peraturan yang dikeluarkan oleh Syariah. Jika

kasusnya menyangkut peraturan yang diundangkan dengan dekrit raja,

maka yang berhak mengadili bukan kadi melainkan gubernur atau

kepala daerah setempat.

28

B. Permasalahan PRT Indonesia Di Arab Saudi

Indonesia adalah negara pengirim buruh migran yang menduduki peringkat

signifikan di Asia, yakni kedua setelah Philipina. Setidaknya saat ini ada 6 juta

buruh migran Indonesia yang bekerja di 42 negara tujuan yang berasal dari 361

kabupaten/kota dan 33 provinsi di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut,

mayoritas bekerja di sektor domestik sebagai PRT (Pekerja Rumah Tangga)

migran dan memiliki kerentanan terhadap terjadinya praktek pelanggaran HAM

(Anis 2011: 413-414).

PPTKIS menurut Undang-Undang yang ada merupakan salah satu aktor

utama dalam penempatan buruh migran ke luar negeri, yaitu hampir 70% dari

keseluruhan proses migrasi tenaga kerja merupakan peran PPTKIS. Sehingga hal

ini menjadi salah satu sumber masalah. Perlu dilakukan perubahan pada peran

PPTKIS. Selama ini berdasarkan Undang-Undang yang ada, pendidikan pra

penempatan merupakan tanggung jawab PPTKIS dan seringkali menuai persoalan

karena pendidikan pra penempatan seringkali hanya diberikan secara formalitas

belaka (Anis 2011: 423-424).

Permasalahan yang dihadapi oleh PRT telah banyak dibahas oleh berbagai

pihak dari waktu ke waktu, baik di dalam maupun diluar negeri. Di tatanan

internasional, masalah PRT dibahas melalui kerangka bilateral, regional, maupun

internasional (Teguh 2010: 48).

29

Jumlah WNI yang tercatat di Perwakilan pada tahun 2010, berdasarkan data

Direktorat Perlindungan WNI dan BHI, sebanyak 1,1 juta orang. Dari 6.117 kasus

yang dialami PRT di Arab Saudi, melakukan pembunuhan 28 orang, gaji tidak

dibayar sebesar 26,82%, pekerjaan tidak sesuai Perjanjian Kerja (PK) 22,15%,

PRT tidak siap bekerja (11,41%), pelecehan seksual/pemerkosaan 10,44%,

penganiayaan 9,55%, sakit 7,06% dan meninggal dunia, hilang kontak, terancam

hukuman berat/mati dan overstay 12,57% (BPPK Kemlu 2011: 42).

Tabel 3.1

PRT Bermasalah di Arab Saudi Berdasarkan Jenis Masalah Tahun 2008-2012

NO JENIS

MASALAH

2008 2009 2010 2011 2012

(JUMLAH) (JUMLAH) (JUMLAH) (JUMLAH) (JUMLAH)

1 PHK Sepihak 8,457 7,672 10,850 4,123 1,679

2 Sakit Akibat

Kerja 5,085 6,229 8001 3681 1,573

3 Majikan

Bermasalah 1,493 767 2,192 3,996 2,175

4 Penganiayaan 1,509 2,411 2,342 1,031 531

5 Gaji Tidak

Dibayar 1,996 1,016 1,607 1,031 1,044

6 Pelecehan

Seksual 1,039 1,561 1,978 1,282 537

7 Sakit Bawaan 490 1,532 974 1041 60

8

Dokumen

Tidak

Lengkap

613 739 1,063 769 240

9 Kecelakaan

Kerja 283 603 526 354 136

10

Pekerjaan

Tidak Sesuai

PK

332 258 393 217 176

11 PRT Hamil 135 167 246 255 108

30

12

Tidak

Mampu

Bekerja

60 93 387 66 44

13 Majikan

Meninggal 68 65 219 182 95

14 Membawa

Anak 51 18 95 296 143

15 Komunikasi

Tidak Lancar 56 92 212 80 16

16 Masalah

Lainnya 368 537 591 573 383

TOTAL 22,035 23,760 31,676 18,977 8,940

Sumber: BNP2TKI

KBRI Riyadh mencatat jumlah PRT yang menghadapi masalah pada tahun

2010 sebanyak 3.016 orang. Dari jumlah 3.016 kasus tersebut, sebanyak 2.814

kasus berhasil diselesaikan melalui: proses di Kantor Urusan Ketenagakerjaan

Wanita (KUKW) sebanyak 2.344 kasus (77,72%), pindah majikan melalui

Disnaker setempat atau PPTKAS 168 kasus (5,57%) dan penyelesaian langsung di

KBRI sebanyak 302 kasus (10,01%). Dari kasus berat yang dihadapi PRT di Arab

Saudi, eksekusi hukuman mati terhadap PRT sebanyak 2 orang, bebas dari

hukuman mati/mendapat keringanan 6 orang, masih menjalani proses peradilan 17

orang dan berhasil dibebaskan 3 orang (BPPK Kemlu 2011: 42).

Menakertrans Muhaimin Iskandar mengungkapkan keberadaan PRT

Overstayer di Arab Saudi disebabkan antara lain karena PRT lari dari majikan

karena berbagai faktor, seperti tidak betah bekerja karena alasan tidak cocok

dengan majikan, beban kerja yang berlebihan dan lain-lain. Selain itu ada juga

yang tertipu oleh sindikat yang mempengaruhi dan menipu PRT dengan

iming-iming gaji lebih besar, sehingga berpindah majikan tanpa menyadari resiko status

31

keimigrasian yang sangat merugikan PRT tersebut. Selain itu Muhaimin

mengatakan proses pemulangan PRT Overstayer harus melalui karantina (Tarhil)

yang ditangani langsung oleh petugas imigrasi Arab Saudi. Tak hanya itu, tambah

Muhaimin PRT Overstayer yang akan pulang ke Indonesia harus menyelesaikan

segala permasalahan yang terkait kontrak kerja serta dipastikan tidak tersangkut

masalah dengan Kepolisian Arab Saudi sehingga dipastikan benar-benar clear dan

bebas masalah (www.news.okezone.com).

C. Faktor-faktor Penyebab Permasalahan PRT Indonesia Di Arab Saudi

Sekitar 70-80% permasalahan yang dialami oleh PRT berasal dari dalam

negeri (Indonesia). Permasalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

proses perekrutan yang masih didominasi oleh para calo/sponsor, pelatihan yang

tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa, koordinasi antar pemangku

kepentingan termasuk kementerian/lembaga terkait yang kurang memadai dan

tentu saja faktor sumber daya manusianya sendiri (BPPK Kemlu 2011: 5).

Kebutuhan pasar luar negeri akan tenaga kerja informal Indonesia

memunculkan dilemma tersendiri bagi pemerintah. Di satu sisi, pengiriman PRT

ke luar negeri menjadi solusi bagi tingginya tingkat pengangguran akibat

kurangnya ketersediaan lapangan kerja. Namun di sisi lain, kurangnya tingkat

pendidikan dan keterampilan menjadi penyebab utama banyaknya permasalahan

yang dihadapi PRT di luar negeri. Perbaikan kualitas sumber daya manusia

merupakan langkah perlindungan preventif yang utama untuk mengurangi

permasalahan PRT (BPPK Kemlu 2011: 5).

32

Secara garis besar, faktor yang menjadi penyebab utama timbulnya

permasalahan PRT, pada tiap-tiap proses penempatan, antara lain (BPPK Kemlu

2011: 6-13):

1. Pada tahap rekruitmen.

a. Dominasi peran calo/sponsor dalam proses perekrutan.

Proses rekruitmen yang masih didominasi oelh keterlibatan calo, dan

sekarang telah menjadi percaloan terstruktur, sulit untuk dihilangkan.

Bahkan infrastruktur penempatan PRT dianggap telah terdistorsi sehingga

sulit membedakan proses penempatan PRT secara prosedural dan

no-prosedural (illegal). Sponsor membantu menguruskan dan bahkan

memalsukan hampir semua persyaratan administrasi pendaftaran yang

diperlukan PRT dan calon PRT tinggal menandatanganinya. Pemalsuan

identitas diri ini seringkali menyulitkan PRT terutama ketika mereka

menghadapi masalah dan memerlukan perlindungan. Dibalik kemudahan

yang diberikan sponsor, sering terjadi praktek-praktek penipuan dan

pemerasan terhadap calon PRT.

b. Mengutamakan kebutuhan negara penempatan tenaga kerja tanpa

mengindahkan rambu-rambu Undang-Undang.

UU No.39 tahun 2004 telah menyebutkan bahwasanya penempatan

PRT hanya dilakukan ke negara-negara yang memiliki MoU dengan

Indonesia. namun pada prakteknya, penempatan dilakukan juga ke

negara-negara yang tidak memiliki MoU dengan Indonesia mengingat

33

kebutuhan di negara tersebut yang sangat besar terhadap tenaga kerja

asing, terutama tenaga kerja sektor informal.

2. Pada tahap pelatihan.

a. Belum ditanganinya penyiapan tenaga kerja migran secara

profesional.

Lemahnya kualitas calon PRT antara lain disebabkan tidak semua PPPRTS

mempersiapkan (mengadakan pelatihan) calon PRT sesuai ketentuan yang

berlaku. Banyak kasus PRT yang menghadapi kesulitan di negara tujuan

akibat kurang dipersiapkan dalam hal keterampilan, kemampuan bahasa

maupun pengetahuan tentang budaya dan kebiasaan masyarakat di negara

tujuan.

b. Belum adanya jaminan kemampuan calon PRT melalui sertifikasi.

Sebagai dampak dari pelaksanaan pelatihan yang terkesan hanya

sebagai formalitas, maka dalam hal ini pemberian sertifikat masih ditemui

kasus sertifikasi yang tidak melalui proses pelatihan, standar pelatihan

yang diharuskan atau tanpa melalui tahap uji keterampilan. Bahkan dalam

praktek ditemui banyak sertifikat diberikan tanpa melalui proses pelatihan

sama sekali.

34

3. Pada tahap pemberangkatan.

a. Lemahnya koordinasi antar instansi terkait dalam pengurusan

dokumen perjalanan.

Dari sisi kelembagaan, dalam penyelenggaraan penempatan PRT

seharusnya banyak stakeholders yang terlibat, yaitu: Kemnakertrans,

BNP2PRT, PPPRTS, asuransi, jasa transportasi, LSM, DPR/organisasi

sosial politik, akademisi. Namun demikian, Kemenakertrans sesuai

fungsinya sebagai regulator, fasilitator dan pengawas serta BNP2PRT

sebagai pelaksana penempatan dan perlindungan PRT di luar negeri

merupakan instansi yang sangat dominan dalam penyelenggaraan

penempatan PRT ke luar negeri. Dalam prakteknya, pelaksanaan

penempatan banyak didominasi oleh pihak swasta (bisnis), khususnya

Dokumen terkait