• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

MOTIVASI MENONTON TELEVIS

Motivasi Menonton

Motivasi utama responden dalam menonton televisi adalah motivasi hiburan, kemudian motivasi informasi, motivasi identitas pribadi, dan motivasi integrasi dan interaksi sosial. Hasil ini sesuai dengan penelitian Hadiyanto (2004) yang menyatakan bahwa motif hiburan banyak diungkapkan oleh responden peternak baik di desa rural maupun di desa urban. Televisi terbukti banyak digunakan oleh responden sebagai media hiburan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Susanto (2009) yang mengungkapkan bahwa program berbagai televisi nasional, meskipun memiliki programming dengan coverage ideal seperti educational, news, dan entertainment, dan sejumlah atribut ideal lain tetapi yang sangat menonjol adalah fungsi hiburan (Tabel 3).

Tabel 3 Persentase responden menurut jenis motivasi menonton di RT 01 RW 06 Desa Karehkel tahun 2013

*rentang skor 1 - 6

Motivasi Informasi

Hasil menunjukkan bahwa responden memiliki motivasi informasi yang cukup tinggi dengan rataan skor 4.40. Siaran televisi banyak memberikan hal-hal yang berkaitan dengan informasi bagi responden. Motivasi informasi yang dominan adalah untuk mengetahui berita tentang kejadian-kejadian penting dibandingkan hanya sekedar untuk mengetahui keadaan lingkungan sekitar mereka. Selain itu, responden menonton televisi untuk memperoleh informasi- informasi penting dan mendapatkan tambahan pengetahuan maupun wawasan. Hasil ini berkaitan dengan kebutuhan individual menurut Effendy (2003), dimana motivasi informasi seseorang termasuk ke dalam cognitive needs (kebutuhan kognitif), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan.

Motivasi Identitas Pribadi

Hasil menunjukkan bahwa responden memiliki motivasi identitas pribadi yang cukup tinggi dengan rataan skor 4.00. Meskipun responden tidak menonton televisi untuk meningkatkan potensi diri dan menguatkan norma-norma masyarakat, namun banyak responden menonton televisi untuk menguatkan nilai- nilai agama mereka karena mayoritas beragama muslim. Selain itu, responden dapat mencontoh perilaku baik yang dapat ditiru untuk diterapkan dalam

Jenis motivasi Sebaran (%) Rataan skor*

Rendah Tinggi

Motivasi informasi 20.0 80.0 4.40

Motivasi identitas Pribadi 27.5 72.5 4.00

Motivasi integrasi dan interaksi sosial 30.0 70.0 3.92

Motivasi hiburan 15.0 85.0 4.62

30

kehidupannya dan beberapa menonton televisi untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Hasil ini berkaitan dengan kebutuhan individual menurut Effendy (2003), dimana motivasi identitas pribadi seseorang termasuk ke dalam personal integrative needs (kebutuhan pribadi secara integratif), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individual.

Motivasi Integrasi dan Interaksi Sosial

Hasil menunjukkan bahwa responden memiliki motivasi integrasi dan interaksi sosial yang cukup tinggi dengan rataan skor 3.92. Motivasi responden adalah untuk mengetahui keadaan tentang oranglain, untuk mencari bahan percakapan dengan keluarga, teman atau orang lain mengenai acara televisi yang ditontonnya, untuk mendapatkan kesempatan berkumpul dengan orang lain pada saat mereka menonton bersama, dan untuk meningkatkan rasa kepedulian maupun tenggang rasa terhadap oranglain. Hasil ini berkaitan dengan kebutuhan individual menurut Effendy (2003), dimana motivasi integrasi dan interaksi sosial termasuk ke dalam social integrative needs (kebutuhan sosial secara integratif), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman, dan dunia.

Motivasi Hiburan

Hasil menunjukkan bahwa respnden memiliki motivasi hiburan yang cukup tinggi dengan rataan skor 4.62. Motivasi hiburan yang dominan adalah untuk mendapatkan rasa senang/gembira karena acara yang bersifat menghibur lebih menarik perhatian responden untuk menyaksikan acara tersebut. Selebihnya responden menonton televisi untuk mengisi waktu luang mereka, melepas rasa lelah setelah seharian bekerja di sawah atau aktivitas lainnya, dan untuk menenangkan pikiran sambil bersantai. Hasil ini berkaitan dengan kebutuhan individual menurut Effendy (2003), dimana motivasi informasi seseorang termasuk ke dalam Escapict needs (kebutuhan pelepasan), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan hasrat ingin melarikan diri dari kenyataan, kelepasan emosi, ketegangan dan kebutuhan akan hiburan.

Hubungan Karakteristik Petani dengan Motivasi Menonton

Hasil pengujian menunjukkan bahwa karakteristik petani terbukti berhubungan nyata dengan motivasi menonton yang ditunjukkan oleh usia dengan motivasi informasi dan motivasi identitas pribadi, tingkat pendapatan dengan motivasi informasi dan motivasi identitas pribadi (Tabel 4).

31 Tabel 4 Korelasi antara karakteristik petani dengan motivasi menonton

Karakteristik petani Koefisien korelasi 1) Motivasi menonton Informasi Identitas pribadi Integrasi dan interaksi sosial Hiburan Usia s 0.329* 0.425* - 0.027 0.003 Jenis kelamin 2 0.227 0.559 0.077 0.071 Tingkat pendidikan s - 0.066 0.203 - 0.014 - 0.170 Tingkat pendapatan s - 0.399* - 0.431* - 0.200 - 0.097 1)

s = Koefisien Rank Spearman, 2 = Koefisien Chi Square,

*

berhubungan nyata (p < 0.1) Kasus yang membuktikan hubungan nyata antara karakteristik petani dengan motivasi menonton dijelaskan sebagai berikut:

1) Hubungan Usia dengan Motivasi Informasi

Usia berhubungan nyata (p = 0.038 < 0.1) dengan motivasi informasi pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s = 0.329). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi usia, semakin tinggi motivasi informasi. Responden dengan usia tua memiliki motivasi informasi lebih besar dibandingkan usia muda, karena umumnya mereka memiliki pengalaman yang lebih baik mengenai berbagai peristiwa sehingga menginginkan menonton informasi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Asmar (2009) yang menunjukkan bahwa semakin tua umur seseorang, maka semakin tinggi motivasi informasi dalam menonton televisi lokal (Riau televisi).

2) Hubungan Usia dengan Motivasi Identitas Pribadi

Usia berhubungan nyata (p = 0.006 < 0.1) dengan motivasi identitas pribadi pada tingkat keeratan cukup berarti (s = 0.425). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi usia, semakin tinggi motivasi identitas pribadi. Responden dengan usia tua memiliki motivasi identitas pribadi lebih besar dibandingkan usia muda, karena umumnya mereka membutuhkan penunjang nilai-nilai pribadi dan sudah dapat mengidentifikasi nilai-nilai dari televisi. Hal ini sesuai dengan hasil penelititan Hendra (2011) yang menunjukkan bahwa semakin tinggi usia, semakin tinggi motivasi identitas pribadi mereka.

3) Hubungan Tingkat Pendapatan dengan Motivasi Informasi

Tingkat pendapatan berhubungan nyata (p = 0.032 < 0.1) negatif dengan motivasi informasi pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s = -0.399). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin rendah motivasi informasi. Responden dengan tingkat pendapatan tinggi memiliki alokasi jam kerja yang lebih banyak, sehingga tidak membutuhkan informasi melainkan suatu hiburan agar dapat melepas rasa lelah setelah seharian bekerja. Namun hal ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian Asmar (2009) yang menunjukkan bahwa golongan ekonomi tinggi memiliki motivasi informasi yang lebih besar. Fakta tersebut dapat dilihat dari kutipan responden yang menyatakan bahwa:

32

“Bapak pagi ke sawah, trus sore ampe malam ngojeg, jadi kalo pulang kerumah ya paling nonton kian santang atau brama kumbara. Cape pulang kerja kan enak bisa

nyantai sambil nonton sinetron” (DR, 43th).

4) Hubungan Tingkat Pendapatan dengan Motivasi Identitas Pribadi

Tingkat pendapatan berhubungan nyata (p = 0.005 < 0.1) negatif dengan

motivasi identitas pribadi pada tingkat keeratan yang cukup berarti (s = -0.431). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat

pendapatan, semakin rendah motivasi identitas pribadi. Responden dengan tingkat pendapatan tinggi tidak membutuhkan televisi untuk menemukan penunjang nilai-nilai pribadi maupun mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai lain karena mereka lebih banyak mendapatkan hal tarsebut dari lingkungan sekitar. Hasil ini sesuai dengan penelitian Asmar (2009) yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin rendah motivasi identitas pribadi yang dimilikinya.

Kasus karakteristik petani dengan motivasi menonton lainnya tidak menunjukkan hubungan nyata, tetapi beberapa korelasi menunjukkan tingkat keeratan yang rendah tetapi pasti (s = 0.20 - 0.40), yaitu tingkat pendidikan dengan motivasi identitas pribadi ( s = 0.203) dan tingkat pendapatan dengan motivasi integrasi dan interaksi sosial (s = 0.200). Hasil pengujian tidak adanya hubungan nyata menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan motivasi menonton di antara responden yang berbeda karaktersitik. Secara umum mereka memiliki motivasi menonton yang relatif sama.

Widjaja (2010) menyatakan bahwa pesan yang disampaikan melalui media massa ditujukan kepada umum dan disamping itu juga mengenai kepentingan umum. Selain itu, Cangara (2008) mengemukakan bahwa salah satu karaktersitik media massa adalah bersifat terbuka, artinya pesan dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, dan suku bangsa. Oleh karena itu, karakerisitk petani yang berbeda memiliki motivasi menonton yang relatif sama karena pada dasarnya siaran televisi bersifat umum bagi semua orang.

Hasil pengujian adanya hubungan nyata membuktikan bahwa karakterisitk petani berhubungan nyata dengan motivasi menonton. Hipotesis yang berbunyi “ada hubungan nyata antara karakteristik petani dengan motivasi menonton” dapat diterima untuk usia dengan motivasi informasi dan motivasi identitas pribadi, tingkat pendapatan dengan motivasi informasi dan motivasi identitas pribadi .

33

Dokumen terkait