• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

3. Mozaik

a. Pengertian Mozaik

Kata mozaik berasal dari bahasa Inggris yaitu “ mosaic”. Mozaik adalah karya seni, sebagaimana sebuah lukisan, sebuah patung dan karya seni lainnya.

Masing-masing karya seni mempunyai bahan dan teknik yang berbeda. Kalau sebuah lukisan bahannya adalah cat yang disapukan ke atas kanvas, sebuah patung bahannya adalah perunggu yang di cor atau kayu yang dipahat, maka mozaik tersebut dari elemen yang disusun direkatkan diatas sebuah permukaan bidang. elemen-elemen mozaik berupa benda pada dalam bentuk lempenan-lempengan, kubus- kubus kecil, potongan-potongan, kepingan-kepingan, atau bentuk lainnya. Ukuran elemen-elemen mozaik pada dasarnya hampir sama namun bentuk potongan dapat saja bervariasi. Dalam kamus Besar Bahas Indonesia dijelaskan bahwa pengertian mozaik adalah seni dekorasi bidang dengan kepingan-kepingan bahan kertas berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat. Elemen-elemen mozaik dapat saja ditempelkan diatas bidang datar, bidang lengkung, ataupun bentuk tiga dimensi.

Sedangkan untuk elemen dapat digunakan mulai dari bahan yang lunak dan lentur sampai yang kaku dan kertas.22 Berdasarkan penjelasan di atas bahwasanya mozaik merupakan karya yang ditempel pada berbagai bidang baik bidang datar, bidang lengkung, maupun bidang tiga dimensi. Mozaik terdiri dari potongan-potongan kecil yang di tempel dengan perekat. Bahan yang digunakan bisa dari bahan lentur, kertas tergantung pada bahan dan teknik yang digunakan.

Mely Novikasari menjelaskan bahwa mozaik adalah pembuatan karya seni rupa dua atau tiga dimensi yang menggunakan material atau bahan dari

22Yunisrul, “Pembelajaran Seni Rupa di SD”. ( Yogyakarta : DEEPUBLISH 2020) 153

kepingan yang sengaja dibuat dengan cara potongan-potongan atau sudah dibentuk potongan kemudain disusun, ditempelkan pada bidang datar dengan cara di lem.

Kepingan benda-benda itu, diantaranya: kepingan pecahan keramik, potongan kertas, potongan kaca, potongan daun, potongan kayu. 23 Dari pengertian di atas bahwasanya mozaik meruapakan karya seni rupa dua atau tiga dimensi yang dalam pembuatannya dari kepingan-kepingan yang telah di potong-potong lalu ditempel menggunakan lem. Kepingan tersebut bisa berupa kepingan keramik, kertas, kayu, daun, dan lain-lain.

Mozaik merupakan karya seni tempel yang mengkombinasikan kepingan bahan disusun membentuk sesuai dengan yang diinginkan. Kepingan bahan bisa berupa kepingan kertas, kepingan kulit telur, kepingan keramik, kepingan kaca, kepingan daun, kepingan batu, kepingan kayu, atau kepingan lainnya. Kepingan ditempel pada media kertas, kanvas, bisa juga lantai atau dinding yang tekah diberi pola dari berbagai macam bentuk kepingan yang tidak karuan. Kepingan dari berbagai warna sehingga membnetuk gambaran yang diinginkan.24 Dari penjelasan di atas bahwasanya mozaik merupakan sebuah karya yang teknik pengerjaanya dengan di tempel, bahan yang digunakan pun beragam bisa dari kertas, kayu, kaca, dan lain-lain. Kepingan-kepingan tersebut bisa dari berbagai warna lalui di susun sesuai dengan yang diinginkan. Media yang bisa digunakan untuk menempel bisa berupa kertas, kanvas, juga dinding.

23Anisa Sukmawati, Taopik Rahman, Rosarina Giyartin, “ Media Mozaik Untuk Menfasilitasi Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun : Tinjauan Literatur Sistematis”. (Jurnal PAUD Agapedia, Vol 5, No 2 Desember 2021) 248

24 Arina Restian,” Pendidikan Seni Rupa Estetik Sekolah Dasar”. ( Malang: UMM Press 2020) 134

b. Bahan Dan Alat Yang Digunakan Pada Teknik Mozaik

Bahan yang digunakan dalam membuat mozaik terdiri atas : bahan yang lentur idan lunak serta bahan yang kaku dan kertas. Bahan yang lentur dan lunak terdiri dari kertas, plastik, daun-daunan, dan kulit tumbuhan sedangkan bahan-bahan yang kaku dan kertas terdiri dari kaca, batu, logam keramik, kayu dan tempurung (balok kelapa). Bahan yang akandilemkan untuk membuat karya mozaik banyak sekali yang peting bahan tersebut bisa dipotong-potong menjadi lempengan. Bentuk lempengan tersebut bebas yang penting apabila lempengan tersebut dilemkan bisa disusun dengan rapi. Dalam penyusunan warna sangat menentukan hasil karya.

Pewarnaan terjadi tidak dicat tetapi gambarnya terbentuk karena susunan warna yang dipakai. Dari bahan tersebut atas bahan mempunyai karakteristik yang berbeda, oleh karena itu berbeda juga peneglolaanya.

Bahan perekat diaman bahan tersebut digunakan untuk merekatkan atau melemkan potongan-potongan ke dasaran, bahan perekat yang dipakai ditentukan dengan jenis bahan yang akan direkatkan, juga ditentukan dengan teknik merekatkan bahan pada bidang dasar mozaik tekniknya melalui teknik penempelan yaitu menmpelkan elemen-elemen atau potongan-potongan ke dasaran gambar yang telah dikasih bingkai kemudian dilanjutkan dengan dicorkan dengan bahan semen.

Berdasarkan teori di atas bahwasanya baan yang digunakan bisa berupa bahan lunak, bahan lentur ataupun bahan kaku. Bahan yang lentur dan lunak biasanya berupa plastic, kertas, daun dll, sedangkan baan yang kaku biasanya berupa kaca, logam, kayu, keramik, dan lain-lainnya. Untuk bahan perekat

disesuaikan dengan bahan yang digunakan untuk menempel pada gambar atau bidangnya.

Alat untuk pembuatan mozaik disesuaikan dengan bahan yanga akan dipakai seperti alat yang digunakan untuk memotong : gunting, pisau, pemotong kaca, gergaji, alat untuk mengaduk, sendok semen, untuk memudahkan memindahkan potongan-potongan kertas ke dasaran yang telah diberikan lem memggunakan jarum bingkai, dan lain-lain.25

Berdasarkan teori di atas bahwasanya bahan alat yang digunakan dalam teknik mozaik bisa berupa gunting, pisau, gergaji, alat untuk mengaduk, sendok semen, dan lain-lainnya. Dalam penggunaan anak juga disesuaikan dengan bidang yang digunakan, contonya jika bidang yang digunakan berupa gambar dua dimensi yang bahannya berupa kertas maka alat yang digunakan cukup menggunakan gunting dan bahan yang digunakan lem kertas.

c. Langkah-Langkah Membuat Karya Mozaik

Menurut Hasnawati proses pembuatan seni mozaik dilakukan dengan cara menempel potongan-potongan kecil dan sebuah bahan/benda tertentu. Banyak sekali jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mozaik. Karakteristik bahan yang dapat dibuat mozaik adalah bahan yang bisa dipotong-potongmenjadi bagian-bagian kecil seperti kayu, kaca, batu, plastik, daun kering, kertas. Langkah-langkah membuat seni mozaik

1. Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan seni mozaik.

25Hasnawati. Dwi Anggraini, “ Mozaik Sebagai Sarana Pengemabngan Kreativitas Anak Dalam Pembelajaran Seni Rupa Menggunakan Metode Pembinaan Kreativitas Dan Keterampilan”. ( Jurnal PGSD: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 9, No 2 2016) 228-229

2. Buat pola maupun sebuah gambar pada kertas atau bidang datar yang akan kita buat mozaik.

3. Potong bahan-bahan menjadi potongan kecil.

4. Lakukan proses penempelan satu persatu bahan-bahan yang telah kita potong, pada kertas yang dimana telah dibentuk pada gambar yang dimana telah dibuat sebelumnya. 26

Berdasarkan teori di atas bahwasannya langkah-langkah dalam membuat mozaik yaitu pertama arus menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam teknik mozaik, kedua, hendaknya membuat pola pada gambar atau bidang yang telah ditentukan, ketiga, potonglah bahan-bahan tersebut ingga berbentuk kecil, keempat, proses terakhir yaitu melakukan penempelan satu persatu bahan yang tela dipotong tersebut pada kertas gambar atau pada bidang yang tela dibuat sebelumnya.

d. Pengaruh Mozaik dalam Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus

Mozaik merupakan seni karya yang diasilkan dari potongang-potongan kertas lalu disusun pada media gambar yang sudah disiapkan atau ditentukan. Bagi anak usia dini pemeblajaran melalui kegiatan mozaik dapat meningkatkan kemampuan motorik halusnya, selain itu melalui kegiatan ini anak juga dapat mengembangkan sosial emosionalnya, anak akan terlatih serta bersabar pada saat menyelesaikan tugasnya sampai selesai. Melalui bermain anak akan mudah mempelajari suatu kegiatan, sebab melalui bermain anak menyelesaikan tugas dengan keadaan hati yang senang tanpa ada paksaan. Sehingga melalui kegiatan

26Uus Kuswendi, Hana Sakura Putu Arga, Deden Herdiana Altaftazani, “ Environmental Literacy Di Sekolah Dasar”. ( Purwakarta : CV. Tre Alea Jacta Pedagogie 2020) 58

mozaik anak akan lebih dalam belajar dan kemampuan motorik alus anak akan meningkat dengan mudah dengan proses pembelajaran yang menyenangkan.27

Kegiatan mozaik akan dapat melatih perkembangan motorik halus anak, Karena apabila anak telah memiliki kematangan atau kesiapan dalam belajar keterampilan motorik anak akan lebi unggul dengan anak yang belum memiliki kesiapan untuk mempelajari keterampilan. Dengan memberikan kegiatan mozaik ini pada anak, maka akan menumbuhkan kreativitas yang dimiliki pada setiap anak usia dini sebab melalui kegiatan ini anak dapat menuangkan perasaan yang dimiliki anak serta dengan kegiatan ini rasa ingin tahu anak akan muncul pada saat anak melihat pola gambar yang telah ditentukan. Kegiatan mozaik akan dapat membuat anak berkreasi, selain melalui kegiatan menggambar, melukis, mencetak, guru bisa memberikan pengenalan seni lainnya seperti seni rupa yang dilakukan dengan cara menempel dengan jenis bahan tertentu diatas bidang dasar yang dipadukan dengan teknik melukis.28

B. Telaah Hasil Penelitian Terdahulu

Peneliti mencoba menggali informasi terhadap beberapa karya ilmiah lainnya yang relevan dengan permasalahan yang sedang diteliti sebagai bahan pertimbangan untuk membandingkan masalah-masalah yang diteliti.

1. Skripsi Wida Restiyani, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Raden Intan Tahun 2018 dengan judul “Pengembangan Motorik Halus Anak Melalui Teknik Mozaik Pada Kelompok B Taman Kanak-Kanak At-Tawakal

27Intan Nursayyidah, Wahyudi, Imam Nurjaman, “ Pengaruh Kegiatan Mozaik Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4-6 Tahun”. ( Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol 7, No 2 Januari 2018) 16-17

28Nur Asia Rahim, Muhammad Akil Musi, Rusmaytadi, “ Pengaruh Kegiatan Mozaik Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Pada Kelompok B Taman Kanak-Kanak Nusa Makassar”. ( Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini Vol 6, No 1 Tahun 2020) 17

Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu”. Pada penelitian ini yaitu pada tahap awal sebelum guru menerapkan teknik mozaik, guru menetapkan tema terlebih dahulu dalam pembelajaran guna menjadi tolak ukur dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Lalu dilanjut dengan menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan sebagai pendukung dalam kegiatan yang akan dilakukan agar anak tertarik untuk belajar, maka guru menyiapkan gambar yang menarik yang dibutuhkan sebagai alat untuk menarik minat anak dalam pembelajaran. Dan didalam suatu pembelajaran dibutuhkan suatu bahan yang disiapkan oleh guru sebelum pembelajaran itu dimulai dengan menyiapkan bahan yang menarik sehingga anak tidak bosan dan dapat merangsang anak untuk bertanya sehingga dalam pembelajaran tidak monoton. Sebelum kegiatan atau pembelajaran dimulai, guru terlebih dahulu memberikan arahan dalam kegiatan secara klasikal. Kegiatan ini dilakukan oleh semua anak di dalam satu kelas, dalam satu waktu, dan juga kegiatan yang sama. Setelah itu guru baru memberikan penjelasan terkait mozaik, lalu guru hanya memberikan araha sedikit selebihnya dilanjutkan oleh anak secara bebas dalam menempelkan mozaiknya. Dari data akhir evaluasi perkembangan motorik halus anak dapat disimpulkan bahwasanya anak telah berkembang hari demi hari karena proses pembelajaran atau proses belajar mengajar yang tidak monoton dengan menggunakan buku paket saja, melainkan anak juga diajak belajar sambal bermain salah satunya dengan teknik mozaik menggunakan biji-bijian untuk mengembangkan motorik halus anak. Pada penelitian ini persamaan terletak pada kegiatan yang digunakan, yaitu sama-sama menggunakan teknik mozaik untuk perkembangan motorik halus anak, selain itu usia atau kelompok juga sama-sama pada anak usia 5-6 tahun. Perbedaan terletak pada jenis penelitian yang digunakan,

pada peneliti terdahulu menggunakan jenis penelitian kualitatif, dalam pengumpulan data yang diperlukan menggunakan sumber data yang terdiri dari observasi dan interview dengan guru, teknik pengumpulan data, wawancara yang dilakukan dengan guru, dokumentasi sebagai bukti yang akurat, serta analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan dan uji keabsaan.

Sedangkan peneliti menggunakan jenis penelitian PTK yaitu penelitian dengan menggunakan siklus sebagai acuan untuk mengetahui peningkatan yang terjadi pada motorik halus anak melalui kegiatan mozaik ini.

2. Skripsi Yesy Nur Azizah, Mahasiswa Program Studi Keperawatan Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun Tahun 2019 dengan judul “Efektivitas Kegiatan Mozaik dan Bermain Playdough Teradap Peningkatan Perkembangan Motorik Halus Anak Pra Sekolah Usia 3-4 Tahun di KB Permata Hati Desa Jogodayuh”. Pada hasil penelitian ini adanya peningkatan perkembangan motorik halus dan sesudah diberikan kegiatan mozaik terhadap perkembangan motorik halus pada anak pra sekolah usia 3-4 tahun di KB Permata Hati Desa Jogodayuh. Lalu ada juga peningkatan perkembangan motorik halus dan sesudah diberikan kegiatan playdough terhadap perkembangan motorik halus pada anak pra sekolah di KB Permata Hati Desa Jogodayuh. Tidak terdapat perbedaan evektivitas kegiatan mozaik dan bermain playdough terhadap peningkatan perkembangan motorik halus anak usia 3-4 tahun di KB Permata Hati Desa Jogodayuh dengan nilai p-value= 0.

546. Hasil dibuktikan bahwa kedua terapi ini sama-sama efektif dalam meningkatkan perkembangan motorik halus anak tetapi dari hasil rata-rata perkembangan perkembangan motorik halus kegiatan mozaik lebih efektif dibandingkan bermain playdough. Persamaannya yaitu terletak pada kegiatan yang

digunakan yaitu menggunakan kegiatan mozaik sebagai pembelajaran untuk perkembangan motorik halus anak. Perbedaan terletak pada jenis penelitian yaitu penelitian terdahulu menggunakan jenis kuantitatif dengan rancangan penelitian quarsi-eksprerimen, sedangkan peneliti menggunakan jenis penelitian PTK dengan menggunakan model Kurt Lewin dengan adanya empat al yang arus dilakukan dalam penelitian yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Perbedaan juga terletak pada usia anak yang diteliti, pada penelitian terdahulu meneliti usia anak pra sekolah yaitu usia 3- 4 taun, juga tidak hanya menggunakan kegiatan mozaik, melainkan juga menggunakan playdough. Sedangkan peneliti hanya menggunakan satu kegiatan sebagai bahan untuk dilakukannya penelitian.

3. Skripsi Uswatun Hasanah, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Jurusan Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Tahun 2013 dengan judul “Identifikasi Pengembangan Motorik Halus Menggunakan Kegiatan Mozaik Anak TK Kelompok B di Gugus II Kecamatan Sanden Bantul. Pada hasil penelitian bahwasanya ditemukan perkembanagn motorik halus di TK kelompok B di gugus II kecamatan sanden bantul sudah sangat baik. Terlihat dari hasil yang menunjukkan bahwa sebagian besar atau sebesar 82,37% dari jumlah seluruh anak kelompok B di gugus II telah mempunyai kemampuan motorik halus pada kegiatan mozaik dalam kategori yang sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil observasi terhadap empat kemampuan motorik halus tersebut terdapat tiga kemampuan yang suda mampu dikuasai olehs ebagian besar anak yaitu kemampuan menirukan bentuk, kemampuan menggunakan alat tulis dengan benar dan kemampuan bereksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan. Persamaan antara keduanya terleta pada

kegiatan yang duguankan yaitu kegiatan mozaik pada perkembangan motorik halus anak dan juga persamaan pada pemilihan kelompok yaitu sama-sama memilih kelompok B. perbedaan telihat pada jenis penelitian, penelitian terdahulu menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif jenis survey. Sedangkan peneliti menggunakan jenis penelitian PTK yaitu penelitian tindakan kelas.

C. Kerangka Berfikir

Berdasarkan telaah penelitian terdahulu dan landasaran teori diatas, dapat diajukan kerangka berfikir sebagai berikut : bahwasanya jika penerapan kegiatan mozaik mampu meningkatkan kemampuan motorik halus anak, karena kegiatan mozaik anak-anak dapat menggerakan otot-otot kecil dan kematangan syaraf, serta dengan kegiatan ini juga anak dapat berkreasi melalui potongan-potongan kertas. Kegiatan mozaik juga membantu anak dalam mengkoordinasikan antara mata dengan tangan, melatih kreativitas anak melalui jari-jari tangan. Selain dapat melatih kepekaan jari serta kematangan syaraf pada otot-oto kecil anak.

D. Pengajuan Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka teori, kerangka berfikir di atas dapat diajukan hipotesis penelitian, yaitu : jika kegiatan mozaik diterapkan maka perkembangan motorik halus anak pada indikator kepekaan jari tangan, koordinasi antara mata dan tangan, penggunaan otot-otot kecil dan kematangan syaraf anak akan meningkat.

Dokumen terkait