• Tidak ada hasil yang ditemukan

Muhammadiyah dan Islam Progresif

Dalam dokumen Buku Reoritentasi Pembaharuan Islam (Halaman 113-200)

Selain pemikir muda progresif NU, pemikir muda Muham-madiyah pun mulai tumbuh dan menghasilkan wacana kritis. Usaha mener jemahkan kembali ajaran dasar Muhammadiyah, yaitu teologi al-Mâ‘ûn (pemihakan kepada orang miskin) yang dirintis KH. Ahmad Dahlan32—yang sebenarnya adalah pe-ngembangan amal usaha Muhammadiyah agar dapat meng-atasi masalah riil kehidupan kaum dlu‘afâ’ (miskin, tertin-das)—menjadi perhatian mereka. KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai orang yang menghargai berbagai kelompok agama. Beliau juga dikenal sebagai teman di antara para pendeta Kristen dan pastor Katolik. Ini merupakan salah satu indikasi bahwa Dahlan menunjukkan sikap inklusif dan plural.33 Sikap inklusif dan plural inilah yang menjadi spirit pemikir muda progresif di ling kungan Muhammadiyah.

Dibandingkan pemikir muda NU, gerakan- gerakan sosial pe mikir muda Muhammadiyah sangat ketinggalan dalam me-rintis LSM. Generasi muda NU telah meme-rintis LSM sudah sejak tahun 1980-an, sedangkan fenomena demikian baru muncul di lingkungan Muham madiyah pada paruh akhir dekade 1990-an. Pada periode kepemim pinan Ahmad Syafi i Maarif, sedikitnya ada tiga komunitas intelektual Muhammadiyah yang muncul riyati Samatan menulis disertasi mengenai Dinamika Pemikiran Ka-langan Muda Nahdlatul Ulama (Studi Komunikasi Peradaban tentang Transformasi Pemikiran Sosio-Kultural Keagamaan Kalangan Muda Nahdlatul Ulama Dewasa Ini) pada Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, 2007.

32 Mohamad Ali, Islam Muda Liberal, Post-Puritan, Post-Tradisio-nal, h. 36.

33 Fuad Fachruddin, Agama dan Pendidikan Demokrasi: Pengalam-an Muhammadiyah dPengalam-an Nahdlatul Ulama, h.112.

mewadahi pemikir muda progresif Muhammadiyah, yaitu Pusat Studi Agama dan Peradaban ( PSAP), Maarif Institute, dan Ja-ringan Intelektual Muda Muhamma diyah ( JIMM). Munculnya kelompok ini mengawali babak baru perjalanan Muhammadiyah sebagai gerakan intelektual dan pemikiran baru Islam. Gerakan-gerakan ini awalnya masih terbatas di Jakarta, Yogyakarta dan Malang. Meski masih baru, namun lontaran-lontaran pemikiran kritisnya sudah mampu menarik perhatian publik, khususnya warga Muhammadiyah.

PSAP Muhammadiyah awalnya ditangani oleh Pramo-no U. Tantowi dan kawan-kawan, merupakan lembaga studi yang meneguh kan komitmen untuk mewujudkan masyarakat demokratis dan ber keadaban yang berbasis pada nilai-nilai ke-agamaan dan kemanu siaan. Maarif Institute for Culture and Humanity pada mulanya adalah suatu kepanitiaan yang akan mempersiapkan peringatan 70 tahun Ahmad Syafi i Maarif dengan menerbitkan sejumlah buku tentang ataupun karya beliau. Tetapi mengingat adanya dinamika kebangsaan yang mengarah pada disintegrasi dan gerakan Islam modernis yang cenderung politis-eksklusif, Maarif Institute ter panggil untuk mencari jalan baru bagi krisis tersebut dengan mengem bang-kan wacana Muhammadiyah sebagai “tenda bangsa”, berupa konsolidasi kekuatan bangsa yang bersifat inklusif dan plural. Pemikir muda yang mengembangkan Maarif Institute seka-rang adalah Raja Juli Antoni dan Fajar Riza ul-Haq.34

Selain PSAP dan Maarif Institue, ada sekelompok pemikir muda yang kemudian berhimpun dalam Jaringan Intelektual Muda Mu hammadiyah ( JIMM) telah mendobrak kejumudan

34 Mohamad Ali, Islam Muda Liberal, Post-Puritan, Post-Tradisio-nal, h. 104-105.

atau konserva tivisme Muhammadiyah35 melalui keberanian mereka menafsir ulang al-Qur’an sebagai fi rman Tuhan yang menjadi gagasan keimanan dalam kehidupan yang berubah secara cepat.36

Para pemikir muda progresif Muhammadiyah— seperti masih akan dijelaskan di bawah—berkembang untuk suatu tujuan utama, yaitu merajut jejaring dan solidaritas kaum in-telektual muda Muslim untuk pencerahan akal budi dan nu-rani, pembebasan, mewujudkan demokrasi dan transfromasi sosial. Program utama mereka adalah pedagogik kemanusia-an melalui kampkemanusia-anye media, mimbar ilmiah, mimbar jalkemanusia-ankemanusia-an

35 Perkembangan yang terjadi di Muhammadiyah ini menarik ka-rena hal ini memang sudah pernah disinyalir oleh Nurcholish Madjid yang mengatakan bahwa Muhammadiyah telah berhenti menjadi orga-nisasi pembaru, sedangkan rekannya yaitu NU justru telah mengalami pembaruan. Jika Muhammadiyah sekarang meluncur ke arah konserva-tisme dan fundamentalisme, maka di NU justru mengalami liberalisasi pemikiran. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa munculnya anak-anak muda berhaluan progresif di Muhammadiyah adalah antitesis dari kelompok tua yang berhaluan puritan dan konservatif. Lihat, M. Dawam Rahardjo, “Kata Pengantar: Membaca Shofan, Membaca Masa Depan Muhammadiyah” dalam Ali Usman (ed.), Menegakkan Pluralisme: Fundamentalisme-Konservatif di Tubuh Muhammadiyah ( Yogyakarta: Ar-Ruzzmedia-LSAF, 2008), h.15.

36 Pradana Boy ZTF dan M. Hilmi Faiq (ed), Kembali ke al-Qur’an: Menafsir Makna Zaman ( Malang: UMM Press, 2004). Dalam buku ini termuat 19 artikel aktivis JIMM yang menulis mengenai penafsiran baru teologi Islam dengan pendekatan hermeneutika. Lihat juga Kata Pengantar Moeslim Abdurrahman, “Memperebutkan Ke-benaran Firman” dalam buku JIMM yang terbaru, Zuly Qodir dkk. (ed.), Muhammadiyah Progresif: Manifesto Pemikiran Kaum Muda ( Yogyakarta: Lesfi - JIMM, 2007), h. xxii.

terorganisir; Advokasi intelektual dan gerakan untuk keadilan sosial; Publikasi gagasan dan wacana keislaman yang inklusif, toleran dan berwawasan multikultural; Menggalang jejaring di kalangan intelektual muda Muslim, lintas agama, etnik dan kultural untuk mempersiapkan masa depan kepemimpinan transformatif; serta membangun komunikasi dan relasi dengan berbagai lembaga yang memiliki kepedulian serupa untuk ke-sepahaman dan kolaborasi demi perubahan sosial berkeadilan dan berkeadaban.37 Isu sekularisme, li beralisme dan pluralisme termasuk salah satu isu yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga Islam modernis ini.

Menurut Zuly Qodir—salah satu pendiri JIMM — JIMM adalah sebuah paguyuban pemikir muda Muhammadiyah yang secara resmi kebanyakan sudah tidak lagi menjadi peng-urus dalam Muhamma diyah tapi masih sebagai anggota. Me-reka memiliki gaya berpikir dan metode penafsiran al-Qur’an yang berbeda dengan mereka yang menjadi pimpinan di ting-kat wilayah, daerah, maupun pimpinan pusat.38 Perintis JIMM adalah Zuly Qodir, Sukidi Mulyadi, dan Zakiyuddin Baidhawy. Sejak kelahirannya pada Oktober 2003 dengan du-kungan oleh Moeslim Abdurrahman dan Ahmad Syafi i Maa-rif, JIMM telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan seputar diseminasi Islam, sekularisme, liberalisme dan pluralisme di Indonesia.

37 Ahmad Fuad Fanani, “ Jihad Membumikan Pluralisme, Bersatu Menghadang Fundamentalisme” makalah dipresentasikan pada acara Workshop “Pluralisme, Demokrasi dan Civil Society” di Puncak, Bogor, 6-8 Juni 2007. Acara diselenggarakan PSIK Universitas Paramadina.

38 Zuly Qodir, Islam Syariah vis a vis Negara, Ideologi Gerakan Politik di Indonesia ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 198.

Tokoh-tokoh senior Muhammadiyah Progresif yang terli-bat dalam pengkaderan pemikir muda Muhammadiyah ada-lah Ahmad Syafi i Maarif, M . Dawam Rahardjo, Moeslim Ab-durrahman, M. Amin Abdullah, dan Abdul Munir Mulkhan. Merekalah yang banyak memberi inspirasi kepada pemikir muda progresif Muhammadiyah yang mempunyai komitmen kepada gagasan-gagasan sekularisme, liberalisme dan pluralis-me, termasuk ide-ide tentang demokrasi, tole ransi, hak asasi manusia dan kebebasan beragama. Kehadiran pemikir muda progresif Muhammadiyah ini dapat dibaca sebagai tonggak kebangkitan baru setelah sekian lama Muhammadiyah yang dikenal sebagai gerakan tajdîd (pembaruan) hanyut dalam tradisi skriptural-literer. Dengan cara berpikir generasi muda yang memilih jalannya sendiri, yakni jalan liberal-progresif, pemikir muda Muham madiyah ini—meminjam istilah Moes-lim Abdurrahman—“akan menuai panggilan sejarahnya sen-diri”. Menurut Moeslim, Muhamma diyah sekarang membu-tuhkan satu hal untuk kembali memutar dinamismenya dan kembali menggapai kemajuan. Harapan itu mungkin saja ter-jadi jika Muhammadiyah dikendalikan oleh pemikir-pemikir muda yang progresif, liberal dan pluralis ini.

Selanjutnya, di bawah ini akan dianalisis bagaimana di-seminasi dan mainstreaming (pengarusutamaan) sekularisme, liberalisme dan pluralisme pada lembaga-lembaga Islam di Indonesia yang berbasiskan “tradisional” Islam (terutama NU)—seperti Jaringan Islam Liberal ( JIL), Perhimpunan Pe-ngembangan Pesantren dan Ma syarakat ( P3M), The Wahid Institute ( TWI), Lembaga Pengem bangan Sumberdaya Manu-sia ( LAKPESDAM) NU, Lembaga Kajian Islam dan Masya-rakat ( LKiS); dan lembaga-lembaga berbasiskan “modernis”

(diantaranya Muhammadiyah)— seperti Lembaga Studi Aga-ma dan Filsafat (LSAF), Yayasan ParaAga-madina, International Center for Islam and Pluralism ( ICIP), Maarif Institute dan JIMM ; dan Universitas Islam Negeri ( UIN) Jakarta dan Yog-yakarta serta jaringan STAIN/ IAIN di seluruh Indonesia— yang merupakan gabungan para pemikir Muslim Progresif dari latarbelakang tradisionalis (sebagian NU) maupun mo-dernis (sebagian Muhammadiyah).

Urutan pemaparan berikut bersifat acak dan tidak menun-jukkan suatu perbedaan kedalaman dalam pengarusutamaan masalah seku larisme, liberalisme dan pluralisme pada lembaga tersebut.

J

ARINGAN

I

SLAM

L

IBERAL

( JIL)

Lembaga Islam Progresif pertama yang mengembangkan penga-rus utamaan (mainstreaming) dan diseminasi ide-ide sekularis-me, libe ralisme dan pluralisme yang akan dianalisis adalah Jaringan Islam Liberal ( JIL). Sebenarnya pengharaman ide sekularisme, liberalisme dan pluralisme oleh Majelis Ulama Indonesia ( MUI) secara langsung ditujukan kepada pikiran-pikiran JIL ini, dan secara tidak langsung ditujukan kepada siapa saja, atau lembaga Islam apa saja yang mengembangkan pemikiran sekularisme, liberalisme dan pluralisme dalam kon-teks teologi Islam.39

Pikiran-pikiran JIL menjadi terkenal secara nasional dan kontro versial setelah Ulil Abshar-Abdalla—koordinator JIL—

39Lihat, “Fenomena JIL” dan “Fatwa MUI dan Gerakan JIL” dalam Syafi q Hasyim, Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme di Indonesia ( Jakarta: ICIP, 2007), h. 35-42.

menulis artikel di Kompas, 18 Nopember 2002. Artikel Ulil berjudul “Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam”.40 Artikel ini ditulis karena menurut Ulil pemikiran Islam sekarang ini cenderung membeku—istilahnya “men jadi paket yang sulit di-debat dan dipersoalkan”. Menurut Ulil, “paket” Tuhan yang disuguhkan oleh para pemikir Islam dan ulama telah men jadi begitu sederhana, take it or leave it! Sehingga menurut Ulil cara penyajian Islam yang seperti ini sangat berbahaya bagi kemajuan Islam.41

Apa yang dikemukan oleh Ulil dalam artikel ini meng-ulang semangat pembaruan Nurcholish pada tahun 1970-an yang menya jikan paper berjudul “Keharusan Pembaruan Pe-mikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”—yang disampai-kan dalam sebuah diskusi pada 2 Januari 1970. Paper Nur-cholish menjadi debat nasional dan kontroversial sejak itu ka-rena menegaskan perlunya sekularisasi. Sementara artikel Ulil menjadi kontroversial karena menegaskan perlunya menyegar-kan kembali pemikiran Islam—yang nanti amenyegar-kan terumusmenyegar-kan dalam kata kunci ide-ide sekitar sekularisme, liberalisme dan pluralisme. Sejak pemuatan artikel itu Jaringan Islam Liberal ( JIL ) dan Ulil menjadi pembicaraan nasional yang disambut hangat sebagai masa depan Islam, atau dihujat sama sekali!42

40 Artikel ini dimuat kembali dalam Ulil Abshar-Abdalla, Menjadi Muslim Liberal ( Jakarta: Penerbit Nalar dan JIL, 2005), h. 3-10.

41 Ulil Abshar-Abdalla, Menjadi Muslim Liberal, h. 3.

42 Salah satu penghujatan terhadap Ulil, menghasilkan “fatwa mati” oleh KH. Athian dari Forum Umat Islam (FUI) Bandung. Peng-hujatan terhadap Ulil dan JIL berpuncak pada rencana penyerangan sekretariat JIL di Komunitas Utan Kayu, Jl. Utan Kayu, Jakarta Pusat, oleh Forum Umat Islam (FUI) Utan Kayu dan Forum Pembela Islam ( FPI).

Peng hujatan tersebut tidak semata akibat pikiran-pikiran Ulil dan JIL, tetapi juga penamaan organisasi ini, yang sekaligus mau mempro mosikan “Islam Liberal”—istilah liberal memang pernah kontroversial penggunaannya di Indonesia, khususnya berkaitan dengan politik.43

Ulil Abshar-Abdalla dalam sebuah suratnya kepada KH. Ma’ruf Amin—Ketua Lembaga Fatwa MUI, ketika pada Ja-nuari 2008 menyatakan bahwa NU harus dibersihkan dari paham-paham Islam Liberal—menjelaskan pengertian Islam Liberal ini.

Islam liberal lebih baik didefi nisikan sebagai “mazhab pemi kiran”, atau “manhaj al-fi kr”. Tetapi, kata “mazhab” pun sebetul nya kurang tepat, sebab istilah itu mengandaikan adanya suatu ke-seragaman serta metodologi yang jelas. Dalam pemikiran Islam liberal terdapat perbedaan pandangan yang sangat signifi kan mengenai beberapa isu. Meskipun demikian, ada sejumlah titik temu dalam beberapa hal. Sebagai mazhab pemikiran, Islam li-beral tidak secara langsung kontradiktoris dengan arus-arus pe-mikiran yang lain. Seseorang bisa menganut mazhab pepe-mikiran ini, seraya tetap menjadi seorang Syafi ‘i atau Asy‘ariyah, atau tetap berada dalam tradisi NU atau Muhammadiyah . Seseorang

43 Menarik, untuk mengembangkan pengertian yang lebih positif mengenai “ liberalisme”, aktivis JIL lewat program Freedom Institute mengembangkan sebuah program talkshow di radio 68H yang mem-beri penjelasan teoretis mengenai segi-segi positif liberalisme. Hasil talkshow ini telah diterbitkan dalam buku Hamid Basyaib (ed.), Mem-bela Kebebasan: Percakapan tentang Demokrasi Liberal ( Jakarta: Fre-edom Institute, 2006). Khusus bagian lima buku ini berbicara tentang agama dan kebebasan. Hamid Basyaib, sekarang adalah koordinator JIL menggantikan Ulil.

juga bisa berhaluan Islam liberal, seraya tetap menjadi seorang Syiah yang taat (contoh yang paling baik adalah Dr. Abdulkarim Soroush). Sudah tentu, menggabungkan antara wawasan Islam liberal dengan ke- Sunni-an atau ke- Syiah-an bisa menimbulkan pe nentangan dari dalam tradisi itu sendiri. Ini terjadi baik di ka-langan Sunni atau Syiah sendiri.

Sebagai mazhab pemikiran, Islam liberal tidak “mengendap” dalam satu organisasi, tetapi bisa masuk ke mana saja. Sebuah gagasan seperti udara: ia bisa masuk ke ruang mana pun dan bebas dihirup oleh siapa pun yang hendak menghirupnya. Oleh karena itu, mazhab atau, kalau istilah ini terlalu “tertutup”, wawasan Islam liberal masuk ke ormas Islam mana pun: NU, Muhamma diyah, Al-Irsyad, Persis, dan bahkan MUI sendiri. Le-bih ekstrem lagi, wawasan ini bahkan, diam-diam, tanpa disa-dari bisa juga masuk ke dalam “diri” KH. Ma’ruf Amin sendiri. Mendefi nisikan Islam liberal sangat tidak mudah. Saya sendiri, sebagai “pelaku” dari gagasan ini, juga sulit mendefi nisikannya. Sebetulnya, ini lumrah saja. Gagasan adalah sesuatu yang sifat-nya “fl uid”, cair.44

Istilah “Islam Liberal” seringkali digunakan oleh para pe-nulis Barat yang menganalisis perkembangan Islam yang ako-modatif terha dap ide-ide kemajuan, diantaranya yang terkenal di Indonesia adalah Leonard Binder dan Charles Kurzman.45

44 Surat Ulil Abshar-Abdalla kepada KH. Ma‘ruf Amin, lihat, http://www.wahidinstitute.org/indonesia/content/view/667/52/

45 Keduanya menulis buku yang berjudul mirip Islamic Liberalism (Binder), dan Liberal Islam (Kurzman). Kedua buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan menjadi bahan pem-bicaraan tentang gagasan Islam Liberal pada kalangan muda Islam Progresif. Lihat, Leonard Binder, Islam Liberal: Kritik terhadap

Ideolo-Namun dalam konteks Indonesia ada buku khusus yang ditu-lis oleh Greg Barton pada tahun 1995 mengenai kemunculan pemikiran progresif-liberal di kalangan pemikir Indonesia.46 Buku ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan tajuk Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran

Neomodernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid, yang diterbitkan

Parama-dina, tahun 1999. Pemikiran Islam liberal ini, yang disingkat sebagai “Islib” kemudian dipopularkan oleh satu kum pulan generasi muda yang prihatin de ngan perkembangan pemi ki-ran Islam—yang dipelopori diantaki-ranya oleh Luthfi Assyau-kanie, Ulil Abshar-Abdalla, Hamid Basyaib, dan Nong Darol Mahmada. Mereka kemudian menyebut kumpulan ini sebagai “Jaringan Islam Liberal” (JIL).

gi-ideologi Pembangunan ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001). Charles Kurzman, Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer ten-tang Isu-isu Global ( Jakarta, Paramadina, 2003).

Bila dilihat dari sejarah pemikiran Islam, penggunaan istilah “Islam Liberal” berakar pada Syah Waliyullah (1703-1762) di India, dan muncul di antara gerakan-gerakan pemurnian Islam ala Wahabi pada abad ke-18. Bersamaan dengan berkembangnya Islam Liberal, muncul tokoh-tokohnya pada tiap zaman. Di antaranya Jamaluddin al-Afghani di Afganistan, Say-yid Ahmad Khan di India, dan Muhammad Abduh di Mesir—ketiganya hidup pada abad ke-19. Kemudian pada akhir abad ke-20 terdapat tokoh antara lain: Abdullah Ahmed An-Naim, Muhammad Arkoun, Fazlur Rahman, Riffat Hassan, dan Fatimah Mernissi. Dalam konteks Indonesia, tokoh yang cukup dikenal dalam mengembangkan wacana pemikiran Islam liberal adalah kelompok yang kemudian disebut dengan “Neo-Modernisme Islam di Indonesia”. Lihat, Luthfi Assyaukanie, “Dua Abad Islam Liberal”, Bentara, Kompas, 2 Maret 2007

46 Lihat, Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia ( Jakarta: Paramadina, 1999).

Tujuan dari dibentuknya JIL adalah untuk menyebarkan ga-gasan Islam Liberal kepada khalayak masyarakat. Agenda besar komunitas ini di antaranya adalah mencari kompatibilitas Islam dan demokrasi; menolak sistem negara-agama ( teokrasi)—de-ngan membela sekularisme; mengembangkan kebebasan berpikir dan berekspresi; mengembangkan kesetaraan hak-hak perem-puan, toleransi agama, dan membela hak-hak kaum minoritas non-Muslim. Agenda besar JIL ini terealisir pada tahun pertama melalui program radio dan penulisan artikel di Jawa Post dan sindikasinya pada lebih dari 70 koran lokal, setiap minggu, yang diberi tajuk “Islam dan Toleransi”, dan terbitnya buku-buku yang berasal dari kegiatan JIL.47

Sejarah kelahiran JIL diprakarsai dan difasilitasi oleh buda-yawan Goenawan Muhammad. Sekitar pertengahan bulan Pe-bruari 2001, Goenawan Muhammad mengundang para tokoh muda yang konsern dengan gerakan pembaruan—sekitar 100 orang—untuk berkumpul di Utan Kayu, Jakarta, guna mem-perbincangkan isu seputar “Islam Liberal”. Diskusi ini merupa-kan diskusi perdana dari serial diskusi bulanan yang amerupa-kan ber-langsung lama, sampai sekarang (dalam ling karan komunitas Teater Utan Kayu [ TUK]). Dari hasil perbin cangan diskusi ini, akhirnya terbentuklah komunitas epistemik yang diberi nama Jaringan Islam Liberal (JIL).

JIL didirikan pada tanggal 8 Maret 2001.48 Pendirian JIL kemu dian ditandai dengan peluncuran mailing list JIL, dan

47 Angela Rabasa, et.al., Building Moderate Muslim Networks, h. 110.

48 Deny Agusta, “ JIL: Gerbong Kemerdekaan Berpikir dan Berke-yakinan di Indonesia”, dalam Pluralisme dan Kebebasan Beragama: Laporan Penelitian Profi l Lembaga ( Jakarta: PSIK Universitas

Parama-kemudian web-site JIL, www .Islamlib.com —yang sekarang merupakan salah satu web-site Islam di Indonesia terbaik . JIL bukanlah organisasi formal seperti halnya Muhammadi-yah ataupun Nahdlatul Ulama (NU). JIL hanyalah organisa-si jaringan saja, yang berorganisa-sifat cair dan “lepas”. Dalam organisa-situs resmi JIL dijelaskan defi nisi Islam liberal—penamaan yang dipergunakan dalam kata “Jaringan Islam Liberal”. Islam Liberal me nurut JIL adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam de ngan landasan: Pertama, membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kedua, mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks. Ketiga, mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Keempat, memi-hak pada yang minoritas dan tertindas. Kelima, me yakini ke-bebasan beragama. Keenam, memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Kehadiran komunitas JIL diharapkan dapat menyatukan orga nisasi- organisasi Islam formal yang kurang lebih memiliki konsentrasi pemikiran yang sama, yaitu membangun wacana keislaman yang progresif dan liberal. Para aktivis JIL adalah dosen, sarjana, peneliti, jurnalis, dan mahasiswa dari seluruh Indonesia, yang mempunyai peran mempertemukan berbagai macam orang atau kelompok di ling kungannya masing-ma-sing—yang kurang lebih memiliki kesamaan ide atau gagasan tentang wacana Islam Liberal di daerah-daerah seluruh In-donesia. Jaringan nasional ini dimungkinkan karena adanya per kembangan teknologi internet, sehingga mereka bisa me-dina, 2008), h.229-261. Saya ingin berterimakasih pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina yang telah menyi-apkan untuk studi saya ini bahan-bahan dasar mengenai 10 lembaga Islam yang bekerja untuk isu sekularisme, liberalisme dan pluralisme.

lakukan diskusi melalui mailing list. Dari sinilah terbangun suatu komunikasi intensif yang mengarah pada pertukaran ide atau gagasan di seputar per kembangan debat diskursus pe-mikiran Islam klasik dan kontem porer, baik yang sedang ha-ngat diperbincangkan di dalam maupun luar negeri. Melalui jaringan milis ini komunitas Islam Liberal ber upaya men dia-logkan dan mengontekstualisasikan wacana keislaman dengan problem-problem keindonesiaan yang sedang berkembang di tanah air, di antaranya pentingnya ide sekularisme, liberalis-me dan pluralisliberalis-me dalam liberalis-melindungi kebebasan beragama di Indonesia.49

49 Lihat, Zuly Qodir, Islam Liberal: Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 153. Mereka adalah suatu kelompok pemikir yang menghadirkan wacana keagamaan yang liberal, inklusif, toleran, dan plural untuk masyarakat luas termasuk pemuka agama lokal. Model Islam JIL ini memiliki ciri yang berbeda dari Islam tradisional karena sifatnya yang kritis, dinamis, dan progresif. Tema-tema yang diangkat dalam diskursus JIL merupakan tema-tema yang memang tidak semua orang mampu mengikuti dan memahaminya. Tema-tema tersebut jelas merupakan tema khas kalangan intelektual, yang telah dibekali dengan perangkat keilmuan, seperti ilmu-ilmu keislaman, ilmu politik, ilmu sosial kritis, sosiologi, antropologi, maupun ilmu sejarah. Sisi positif dari diskursus Islam Liberal adalah sosialisasi tema-tema yang dulunya dianggap sangat “elitis” dan hanya menjadi konsumsi kelompok yang merasa ulama, mujtahid dan intelektual Islam, tetapi sekarang bisa dinikmati oleh kalangan awam berkat jaringan internet. Tema-tema yang di-angkat memang merupakan tema yang sangat relevan dengan kondisi mutakhir keindonesiaan. Dengan aktualnya tema-tema sekularisme, li-beralisme dan pluralisme menunjukkan bahwa komunitas Islam Liberal hendak memberikan “warna baru” dalam memahami Islam, minimal mengembangkan Islam yang lebih kontekstual, bukan Islam yang

mo-Para intelektual muda Islam Progresif yang terlibat dalam

Dalam dokumen Buku Reoritentasi Pembaharuan Islam (Halaman 113-200)

Dokumen terkait