Di antara lembaga-lembaga Islam Progresif dari kalangan tradisional, terutama NU15 yang muncul pasca reformasi adalah: Jaringan Islam Liberal ( JIL) Jakarta, yang dimotori oleh Ulil Abshar-Abdalla. Mereka mempunyai sumbangan penting dalam menyuburkan ide-ide Islam Progresif tentang sekularisme, liberalisme dan pluralisme melalui program ra-dio, media, iklan layanan masyarakat, dan terbitan-ter bitan buku.16 Kemudian, Lembaga Kajian Islam dan Sosial ( LKiS) di Yogyakarta. Komunitas ini memiliki caranya sendiri dalam mengemas program berkaitan dengan sekularisme, liberalis-me, dan pluralisme. LKiS menerbitkan buku-buku keislaman kritis dan transformatif, juga melakukan penelitian dan kajian secara regular, pendampingan masyarakat, khususnya
maha-15 Marzuki Wahid, “ Post-Tradisionalisme Islam: Gairah Baru Pe-mikiran Islam di Indonesia”, dalam Jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No. 10 Tahun 2001, h. 16.
siswa, dan menerbitkan selebaran Jumat al-Ikhtilaf. Kemudian LAKPESDAM (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) NU Jakarta dengan jaringannya di seluruh Indonesia. Selain menerbitkan buku, mengadakan pelatihan, penelitian, dan pendampingan masya rakat, LAKPESDAM NU juga menerbitkan jurnal ilmiah Tashwirul Afkar, di mana gagasan-gagasan tentang sekularisme, liberalisme dan plural-isme diadvokasikan pada pembacanya yang mayoritas adalah intelektual muda NU. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat ( P3M) Jakarta telah mengembangkan seku-larisme, liberalisme dan pluralisme dalam bahasa pesantren. Dalam perjalanan organisasinya, P3M cukup berperan mende-wasakan masyarakat—khususnya kalangan NU yang berada di pesantren—dalam hal pemikiran progresif Islam, seperti pengembangan argumen Islam untuk sekularisme, liberalisme dan pluralisme.17
Lembaga-lembaga yang disebut di atas adalah komunitas ilmiah yang secara intens tidak saja melakukan kajian tetapi juga penelitian atas berbagai pemikiran keagamaan, fi lsafat dan teori-teori sosial. Isu sekularisme, liberalisme dan pluralis-me pluralis-mendapat perhatian utama.18 Sebagian besar latar belakang pendidikan mereka yang bekerja pada lembaga-lembaga ini, se-lain sarjana, adalah pondok pesantren salafi yah (tradisional).19
17 Muhammad Ali, “Gerakan Islam Moderat di Indonesia Kontem-porer”, h. 219-220. Lihat juga Angela Rabasa, et.all. Building Mode-rate Muslim networks, khususnya bab “Secular Muslims: A Forgotten Dimension in the War of Ideas” h. 121-138.
18 Muhammad Ali, “Gerakan Islam Moderat di Indonesia Kontem-porer”, h. 14.
19 Sebelum masuk pada jenjang pendidikan tinggi, mereka rata-rata telah menjalani pendidikan di pondok-pondok pesantren di desa-desa.
Proses menjadi “santri kota” dimulai ketika kalangan muda ini masuk pada jenjang pendidikan tinggi. Sebagian be-sar di antara me reka masuk ke IAIN atau institusi keagamaan lainnya, sebagai pilihan utama, selain pendidikan di luar jalur pendidikan agama. Kalangan muda NU ini kemudian mera-sakan bahwa diri mereka berbeda de ngan yang lain. Mereka menyadari mempunyai ikatan dengan “ Islam Tradisi” (NU) setelah berinteraksi dengan yang lain—terutama yang berasal dari sub-kultur Muhammadiyah atau umum. Latar belakang sebagai penganut lslam Tradisi inilah yang kemudian mem-bentuk identitas diri mereka ketika sudah sarjana, dan beker-ja dalam bidang pemikiran Islam di lembaga-lembaga LSM berkultur NU. Mereka membentuk citra tersendiri, terutama dalam konsep pemikiran dan gerakan yang dikembangkannya. Basis organisasi kemahasiswaannya selain di jajaran organisasi NU, juga di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ). Kalangan muda tradisional ini menjalani masa-masa menjadi santri di desa dalam dua tahap. Tahap pertama, persentuhan mereka dengan pesantren didapatkan di lingkungan tempat mereka tumbuh, karena keberadaan pondok pesantren ada di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka biasa belajar di dua tempat, sekolah formal (SD) pada pagi hari, dan sore harinya ngaji pada guru-guru agama tertentu, atau mengambil jalur formal lewat Madrasah Ibtidaiyah. Tahap kedua, setamat SD, mereka mondok di pesantren-pesantren tertentu di luar desa mereka. Sebagian besar kalangan muda memilih menjadi santri di pondok-pondok pesantren dengan dua alasan. Pertama, adanya pondok pesantren yang terkenal di daerah tersebut. Kedua, adanya kiai tertentu yang mereka kagumi sebagai pembina di pondok pesantren tempat mereka belajar. Lihat, Nuriyati Samatan, Dinamika Pemikiran Ka-langan Muda Nahdlatul Ulama, Disertasi pada Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung 2007, h. 222-223.
Martin van Bruinessen—seorang ahli Islam di Indonesia dari Belanda—melukiskan fenomena ini sebagai hal yang luar biasa dalam fenomena Islam di Indonesia kontemporer, teruta-ma menjelang reforteruta-masi.
“Banyak di antara orang muda ini berpengalaman dalam berba-gai kegiatan pengembangan masyarakat, dan memiliki kepedulian kepada masalah-masalah sosial dan ekonomi. Organisasi mah-a siswmah-a ymah-ang bermah-afi limah-asi ke NU, PMII, selmah-ammah-a bebermah-apmah-a tmah-ahun ini telah menjadi salah satu organisasi mahasiswa paling dinamis da-lam hal perdebatan intelektual. Kontras dengan mahasiswa Isda-lam modernis, anggota PMII biasanya mempunyai penguasaan lebih baik terhadap ilmu tradisional, tetapi bacaan mereka jauh lebih luas dari kurikulum tradisional semata. Sementara maha siswa mo-dernis masih banyak dipengaruhi para pengarang seperti [Abu A’la al-] Maududi dan Sayyid Qutb. Mahasiswa PMII memper lihatkan minat yang besar kepada para pengarang yang lebih radikal, se-perti Hassan Hanafi , fi lsuf Mesir itu. Diskusi-diskusi di lingkung-an mereka menjurus ke pokok persoallingkung-an keterbelaklingkung-anglingkung-an Dunia Ketiga, keadilan ekonomi, dan hak asasi, termasuk pertanyaan yang sulit tentang hak-hak perempuan dalam Islam.20
Secara umum, gerakan kaum muda NU ini bersifat libe-ral dan terbuka, apresiatif terhadap hal-hal baru, tetapi te-tap merakyat. Mereka mempunyai sikap toleransi yang tinggi, penghormatan pada hak asasi manusia, dan konsistensi pada penguatan civil society. Menurut Djohan Effendi—yang me-nulis disertasi doktornya tentang perkembangan kaum muda
20 Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Penca-rian Wacana Baru ( Yogyakarta: LKiS, 1997), h. 233-234.
progresif NU ini pada Deakin University di Australia—salah satu hal yang menarik dari gerakan ini adalah bahwa para kiai muda itu mengembangkan dan mengapresiasi gagasan-gagasan baru dengan berpijak pada tradisi intelektualnya yang kaya.21
Keberadaan intelektual muda progresif NU di jalur kul-tural ini, berbeda dengan kondisi ketika Abdurrahman Wahid memainkan peran dengan menggerakkan struktur NU, menjadi penyeimbang antara dunia pesantren dengan pemikiran ulama yang cenderung konservatif, dan memacu pemikiran-pemikiran progresif. Kalangan muda progresif NU yang saat ini berada di jalur kultural merupakan arus baru dalam perkembangan “li-beral” dalam organisasi tradisional ini.22 Barangkali intelektual muda progresif NU yang berada di jalur kultural ini mempu-nyai kesadaran intelektual yang begitu mendalam sehingga seolah tidak mau ketinggalan oleh gerakan-gerakan Islam lainnya yang telah lebih dulu mengalami kemajuan di bidang intelektual, semisal intelektual muda progresif Muhammadi-yah yang sekarang juga tumbuh seperti jamur. Pemikir muda progresif NU ini bangkit dan seolah memahami benar pesan Nurcholish Madjid, bahwa “Ketika bangsa gagal memahami masa lalu, maka yang akan terjadi adalah kemiskinan inte-lektual.”23 Menurut Martin van Bruinessen, keberadaan
inte-21 Lihat juga Marzuki Wahid, “ Post-Tradisionalisme Islam: Gairah Baru Pemikiran Islam di Indonesia”, h. 16.
22 La Ode Ida, NU Muda, Kaum Progresif dan Sekularisme Baru ( Jakarta: Erlangga, 2004), h. xiv.
23 Nurcholish Madjid, “Jangan Tinggalkan Masa Lalu”, dalam Republika, Jum’at 25 Juni 1999, h. 8. Lihat juga, Yasmin, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradi-sional ( Jakarta: Quantum Teaching, 2005), h. 128.
lektual muda progresif ini yang sekarang menjadi elit baru di lingkungan NU tidak lepas dari dukungan dan perlindungan sejumlah tokoh dari kalangan elit NU seperti Fahmi Syaifud-din, Mustofa Bisri dan Abdurrahman Wahid.24
Kalangan muda NU ini disebut oleh Ken Miichi sebagai urban intellectual dimulai dari peran penting Abdurrahman Wahid dan Masdar F. Mas’udi yang merupakan jaringan in-telektual “kiri” sekaligus merupakan tokoh terkenal dari NU yang mempunyai lima karakter.25
Pertama, “radikal” (dalam arti “kiri”, bukan dalam arti
“ Islam Radikal” yang akan dibicarakan dalam buku ini). Ra-dikalisme ka langan muda NU muncul pada masa awal ketika mereka berkiprah di jalur kultural dan masih menjadi maha-siswa. Geliat pemikiran dan gerakan mulai tampak “radikal” misalnya di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakar-ta. Mereka inilah yang nantinya bergabung dalam LKiS dan menyebarkan jenis yang pada awal 1990-an terkenal dengan sebutan “ Kiri Islam”.26
Kedua, “kritis”. Pemikiran kritis ini tidak hanya ditujukan
kepada fenomena di luar NU, tetapi juga kritis terhadap kon-disi objektif NU, atau sebagai otokritik. Kritik yang banyak dilakukan oleh kalangan muda progresif NU adalah kritik wacana, terutama mengkritisi kitab kuning dan kemapanan
24 La Ode Ida, NU Muda, Kaum Progresif dan Sekularisme Baru, h. xiv
25 Nuriyati Samatan, Dinamika Pemikiran Kalangan Muda Nah-dlatul Ulama, h. 224. Lihat juga, Ken Miichi, “ Kiri Islam, Jaringan Intelektual dan Partai Politik: Sebuah Catatan Awal”, dalam Jurnal Tashwirul Afkar, Edisi No. 10 Tahun 2001.
26 Nuriyati Samatan, Dinamika Pemikiran Kalangan Muda Nah-dlatul Ulama, h. 229.
berpikir di kalangan ulama maupun kalangan masyarakat
Nahdlîyîn (NU).27 Kegiatan ini menjadi penting karena Kitab Kuning tidak pernah dipermasalahkan sebelumnya. Pembaca-an kritis ini Pembaca-antara lain dilakukPembaca-an untuk mencari relevPembaca-ansi so-sial dari kitab yang selama ini berada dalam posisi “mapan” bagi kalangan Nahdlîyîn. Gerakan kritis ini sempat terhenti karena keberatan kalangan ulama konservatif.28 Di kemudian hari pembacaan kritis terhadap Kitab Kuning ini dilanjutkan oleh Masdar F. Mas’udi melalui P3M sejak masa reformasi (1998), dan sekarang sudah menjadi tradisi semua pemikir Islam Progresif NU satu generasi di bawah Masdar.
Ketiga, gerakan kalangan muda NU progresif ini berada
di luar struktur NU. Gerakan pemikiran yang mereka lakukan umumnya diorganisir melalui lembaga swadaya masyarakat ( LSM) yang independen. Dalam lembaga-lembaga inilah mere-ka menghasilmere-kan pemikiran yang kreatif dan mencerahmere-kan.29
Keempat, “resisten”. Resistensi dilakukan tidak hanya
terhadap gerakan yang dalam buku ini akan disebut “ Islam Fundamental Radikal” tetapi resistensi juga dilakukan terha-dap pengurus NU.30
27 Andree Feillard, NU vis-a-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna ( Yogyakarta: LKiS, 1999), h. 377
28 Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pen-carian Wacana Baru, h. 221. Andree Feillard, NU vis-a-vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, h. 377.
29 Perkembangan wacana pemikiran di lingkungan NU paska re-formasi ini, lihat, Rumadi, Post Tradisionalisme Islam: Wacana Intelek-tualisme dalam Komunitas NU ( Jakarta: Fahmina Institute, 2008).
30 Resistensi terhadap pengurus NU pernah dilakukan secara terbu-ka pada Musyawarah Besar Warga Nahdlatul Ulama pada 8-10 Okto-ber 2004 di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Gerakan
Kelima, gerakan pemikiran intelektual muda progresif NU
adalah terbuka . Keterbukaan ini ditunjukkan melalui dialog dan akomodasi pemikiran seperti pemikiran Timur kontem-porer ( Islam Timur Tengah), pemikiran Barat kritis (seperti fi lsafat sosial Barat), dan akomodasi terhadap khazanah lokal, baik lokalitas yang merupakan tradisi NU maupun khazanah lokal dalam masyarakat tradisi Indonesia. Akomodasi ini di-harapkan akan menghasilkan pemikiran Islam Indonesia yang unik, yang secara konseptual mampu membawa serta lokali-tas menuju kemodernan. Mereka ingin mengglobalkan Islam (globalized Islam) Indonesia.
Munculnya komunitas Islam Progresif NU sekarang ini telah merambah secara luas, dimulai dari aktivitas mahasiswa di dalam kampus sampai membentuk lembaga swadaya masya-rakat baru dengan sejumlah agenda untuk melakukan trans-formasi sosial, baik dalam bentuk kegiatan diskusi wacana kritis, gerakan sosial, gerakan kultural, penelitian ilmiah dan penerbitan buku. Isu sekularisme, liberalisme dan pluralisme menjadi salah satu isu yang secara intensif didalami oleh para pemikir sekaligus aktivis muda NU.31
yang mereka sebut sebagai “Kiri radikal terhadap elit-elit Nahdlatul Ulama” itu dihadiri oleh ribuan kalangan muda NU dari berbagai daerah. Kegiatan yang dimotori oleh kalangan muda NU ini didukung oleh beberapa kiai sepuh berpengaruh, antara lain Kiai Abdullah Ab-bas, Dr. Malik Madani, Tuan Guru Turmudi. Lihat, Nuriyati Samatan, Dinamika Pemikiran Kalangan Muda Nahdlatul Ulama, h. 239.
31 Perkembangan yang sangat intensif dan menarik inilah yang mendorong Rumadi menulis disertasi pada Sekolah Pascasarjana Uni-versitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2006, yang kemudi-an menjadi buku, Post Tradisionalisme Islam: Wackemudi-ana Intelektualisme dalam Komunitas NU ( Jakarta: Fahmina Institute, 2008). Juga