| 72 |studi di luar negeri
A.2. Spektrum Fragmentasi Internal/Ideologi Muhammadiyah
2. Muhammadiyah Liberal-Progresif
Kemunculan kelompok yang dicap liberal di Muhammadiyah yang muncul belakangan setelah gegap gempita JIL (Jaringan Islam Liberal) memang merupakan implikasi dari meluasnya wacana liberalisasi dalam pemikiran Islam maupun sosial, politik, budaya. Antipati terhadap JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) wajar manakalah JIL sudah
41 Perempuan, misalnya, tak diperkenankan ke luar rumah selama sehari atau lebih, kecuali ditemani oleh muhrimnya. Inilah, antara lain, produk keputusan Majelis Tarjih tahun 1932. Begitu pula soal kerudung, aurat, baju, dan seterusnya, diatur sepenuhnya melalui keputusan Majelis yang berorientasi pada fikih dan syariat Islam. Padahal setiap bentuk intervensi terhadap kebebasan individu, dengan sendirinya, melawan semangat liberalisme.
sekian lama harus berhdapan dengan caci makai kelompok Islam garis keras atau fundamental. Tidak jauh berbeda dengan Ulil Abshor yang memang berlatar belakang santri tapi dia tidak di pesantren hal yang sama terjadi di JIMM yang berarti tidak punya otoritas untuk bicara Is- lam.42 JIMM dibalik kelompok aktivis muda Muhammadiyah, di belakang-
nya terdapat kelompok senior seperti Dawam Raharjo, Syafii Maarif, Muhajir Effendi, Muslim Abdurrahman. Tapi kelompok senior yang dilabeli liberal Munir Mulkhan, Amin Abdullah, yang terpental dalam Muktamar Muhammadiyah di Malang tahun 2005.
Kelahiran JIMM, yang baru beberapa bulan, telah melahirkan keresahan dalam diri gerakan Muhammadiyah. Selain keresahan, beberapa kalangan memang menaruh harapan yang optimis terhadap kelahiran jaringan ini. Letak optimisme itu, misalnya, terwujud dalam ungkapan bahwa dalam Muhammadiyah, dinamika pemikiran Islam mengalami stagnasi. Dengan bahasa yang agak bombastis, bisa disebut bahwa selama perjalanannya yang cukup panjang itu, Muhammadiyah telah mengalami, meminjam istilah Zakiyuddin Baidhawy, moratorium tajdid. Sehingga kelahiran JIMM dianggap sebagai upaya menghidupkan kembali ruh pemikiran dalam Muhammadiyah.43
Tidak bisa dipungkiri memang, bahwa kelahiran JIMM, telah mem- bangkitkan sebuah dikotomi dalam MD. Berbagai dikotomi menyangkut Muhammadiyah dari aspek apapun memang sering dan mulai banyak disinyalir. Tetapi, menyangkut JIMM, dikotomi yang paling mengemuka adalah bahwa JIMM adalah “virus liberal” dalam Muhammadiyah. Sehingga dikotomi Muhammadiyah literal dan Muhammadiyah liberal belakangan mulai mengemuka. Kategori ini adalah menyangkut wacana pemikiran Islam. Muhammadiyah liberal biasanya dicirikan dengan penerimaan terhadap hermeneutik, pluralisme agama, kesetaraan gen- der, dan dakwah kultural. Sedangkan Muhammadiyah literal justru keba-
42Baca Abdurrahman Wahid ’Ulil dengan Liberalismenya’ dalam Pengantar buku Ulil Abshar Abdillah, Menjadi Islam Liberal, (Jakarta: JIL dan Freedom Institute, Nalar, 2005), hlm.xii
43 Baca juga tesis Moh. Mudzakkir, JIMM dan Diskontinuitas Pembaharuan Pemikiran
David Efendi
|
9 2|
likannya, mereka menolak hermeneutika, pluralisme agama, keseteraan gender, dan sangat berhati-hati dengan gagasan dakwah kultural.
Sementara, Muhammadiyah kultural merujuk kepada sekelompok orang MD yang menjaga jarak dengan -dan bahkan terkesan menghindari- persoalan-persoalan struktural, baik pada tingkatan kenegaraan maupun tingkatan internal MD sendiri. Fokus kelompok terakhir ini adalah pada kerja-kerja intelektual dan mendinamisasi MD sebagai ruh dan state of mind. Meskipun sulit disepakati secara bulat, kita memang tidak bisa menampik kenyataan ini. Atas kenyataan ini, maka JIMM seringkali dilabeli sebagai sayap Muhammadiyah liberal dan kultural. Jelas, sebutan itu me- mang bukan lahir dalam ruang kosong, tetapi ia berdasar pada fakta- fakta empiris yang berkembang selama ini. Bahwa JIMM sebagai gerakan kultural itu memang sesuatu yang nyata dan tidak bisa dihindari oleh siapapun, jika yang dimaksudkan dengan kultural adalah sikap apolitis dan keberpihakan pada domain intelektual. Tetapi dalam hal Muham- madiyah liberal, tampaknya ada kecenderungan distortif dalam memaknai kata ini. Istilah liberal seolah-olah menjadi momok di Muhammadiyah, atau tepatnya sebagian kalangan dalam Muhammadiyah. Umumnya, istilah ini senantiasa dilekatkan kepada gagasan pemikiran ala Barat. Islam li- beral sendiri, seperti lazim diketahui bersama, diperkenalkan oleh Leonard Binder dan Charles Kurzman.
Wacana anti-liberalisme mewarnai suasana Muktamar MD ke-45 di Malang, Jawa Timur. Liberalisme Islam dinilai sebagai “virus” baru di organisasi itu. Di luar sidang, kita dapat melihat “pojok anti-liberal” di salah satu stan penjualan buku bazar Muktamar. Di sana dijual, misalnya, majalah Tabligh Muhammadiyah dan puluhan buku non-akademis bersemangat anti-liberalisme. Di ruang muktamar sendiri, kita dapat mendengarkan salah satu pandangan umum yang memohon pimpinan pusat supaya “menertibkan” pemikiran liberalisme Islam dalam MD.
Terpentalnya sayap pemikir muslim liberal seperti Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dari formatur 13, juga dapat dibaca sebagai keme- nangan anti-liberalisme dalam Muktamar. Secara akademis, kita dapat bertanya: mengapa Muhammadiyah, pada awalnya lahir sebagai gerakan
modernis-reformis, justru melahirkan dua sayap: liberal dan anti-liberal? Kejayaan MD liberal disinyalir oleh kaum konservatif makin bersinar terang dalam kepemimpinan Syafi’i Ma’arif. Kader-kader mudanya diberi ruang gerak yang sebebas-bebasnya untuk menafsirkan Islam secara progresif dan liberal. Kontestasi terbuka antara sayap liberal dan anti- liberal terjadi di MD sendiri, tidak melalui fisik tentu saja, tetapi melalui wacana dan kontra-wacana.44 Gayung bersambut, tanggal 18-20 No-
vember 2009 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) JIMM menggelar “Tadarus Pemikiran Islam: Kembali ke Al-Quran, Menafsir Makna Zaman” bisa dikatakan sebagai gebrakan baru di kalangan muda Muhammadiyah dalam sepanjang sejarah berdirinya. Ini merupakan peristiwa kultural yang jarang terjadi buat organisasi Islam yang sangat hegemonik dan formalis.45
Perhelatan ini menjadi semakin gereget sebab diadakan oleh komunitas JIMM yang kontroversial lantaran cap liberal anggotanya yang notabene aktivis Muhammadiyah. Ini merupakan peristiwa langka yang akan sangat monumental jika nanti benar-benar menemukan bentuknya yang paling terang, yakni sebagai gerakan kultural yang dicirikan oleh kaum intelektual.46 44 Buya Syafii Maarif, dikenal sebagai murid pemikir muslim liberal asal Pakistan, Fazlur Rahman, di Universitas Chicago. Syafii Maarif dicap liberal dan merupakan bagian dari kelompok Paman Sam bersama Amin Abdullah dan Munir Mulkhan. Baca Sukidi Mulyadi, Mahasiswa Teologi di Harvard University, Cambridge, AS, ”Muhammadiyah Liberal dan Anti-Liberal“, Majalah TEMPO, edisi. 20/XXXIV/11-17 Juli 2005.
45 JIL sebagai sekumpulan anak muda liberal NU, dan JIMM sebagai sekumpulan anak muda Muhammadiyah yang dianggap berhaluan liberal. Dalam kegiatan ini, masalah seperti kesetaraan jender, pluralisme agama, hubungan antaragama, HAM, politik Is- lam, demokrasi, sampai dengan neoliberalisme menjadi bagian kajian kaum muda antargenerasi ini. Sementara kaum konservatif biasanya lebih memilih tema ibadah ritual yang lebih berorientasi praksis dan amalan sehari-hari. Tentu pilihan kaum konservatif tidak salah, hanya saja hemat saya tidak cukup dengan membahas masalah klasik semacam itu, padahal telah demikian banyak buku/kitab membahas tentang tema tersebut.
Hal ini menjadikan pertempuran atau perang dingin antar faksi dalam MUhammadiyah menjadi semaakin sengit setelah pada Muktamar 2005 Syafii Maarif membela habis- habisan kelompok Anak Muda Progresif yang sering disetarakan dengan JIL
46 Zuly Qodir, Opini, Bangkitnya “Second” Muhammadiyah, Kompas, Kamis, 20 Novem- ber 2003
David Efendi
|
9 4|
Kelahiran JIMM ini menambah jumlah pengelompokan Muham- madiyah yang kemudian terbagi menjadi Muhammadiyah liberal dan Muhammadiyah literal, Muhammadiyah kultural dan Muhammadiyah struktural.47
Banyak pengamat mengkritisi keadaan kontemporer Muhammadiyah, salah satunya adalah peran MD, yang menurut Gumilar (2009), perlu dikembalikan sebagai gerakan pembaharuan Islam yang sadar akan beban sejarah yang dipikulnya. Menurutnya, MD harus lebih dewasa dan matang dalam merespon persoalan krusial dan MD terbuka pada perkembangan pikiran-pikiran progresif-liberatif, sehingga MD tidak menjadi eksklusif- tektualis. Dan MD juga perlu memelopori dialog antargenerasi untuk merumuskan kembali prinsip purifikasi dan dinamisasi Islam dengan berbagai problem dan perkembangan zaman sekarang ini.48 Gumilar juga
mengingatkan lagi bahwa perkembangan wacana pemikiran Islam yang sedemikian cepat makin menjelaskan bahwa gaya konservatif tidak bisa lagi memadai untuk merespon masalah aktual yang terus bergulir.