• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Penelaahan Makro

5.1.2. Multiplier Effect

5.1.2.1 Multiplier Effect Output

Dalam model I-O, output memiliki hubungan timbal balik dengan permintaan akhir, artinya; jumlah output yang dapat diproduksi tergantung jumlah permintaan akhirnya. Namun demikian, dalam keadaan tertentu, output justru yang menentukan besarnya permintaan akhir (BPS 2000a).

Berdasarkan analisis diperoleh multiplier effect output sektor sayur-sayuran 2,727 dan sektor buah-buahan memiliki multiplier effect output dengan nilai 1,167. Hal ini berarti apabila permintaan akhir sektor sayur-sayuran meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap perekonomian wilayah (output) meningkat 2,727 milyar rupiah. Nilai multiplier effect output per sektor ditampilkan pada Gambar 14.

Gambar 14. Nilai multiplier effect terhadap output sektor-sektor perekonomian. Dibandingkan dengan sektor-sektor lain dalam sektor-sektor perekonomian

multiplier effect output sektor sayur-sayuran berada pada urutan ke tiga namun untuk sektor buah-buahan berada di urutan ke tiga belas. Multiplier effect output

sektor sayur-sayuran memberikan pengaruh dalam pembentukan output total,

2,727 1,272 1,217 1,208 1,194 1,167 1,139 1,105 1,083 1,070 1,022 1,020 1,010 0.00000 1.00000 2.00000 3.00000 Sayur‐sayuran Restoran Peternakan dan Hasil‐hasilnya Bank Perdagangan Besar & Eceran Buah‐buahan Hotel Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan Jasa Perorangan dan Rumahtangga Jasa Swasta Kehutanan Perikanan

Multiplier Effect Output

melalui skenario peningkatan final demand, khususnya konsumsi rumah tangga sebesar 10%, akan dicapai peningkatan output total sebesar 4,7405 % atau sebesar Rp. 14.260.662,2 juta. Multiplier effect output sektor buah-buahan juga memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan output total, melalui skenario peningkatan final demand, khususnya konsumsi rumah tangga sebesar 10%, akan dicapai peningkatan output total sebesar 2,045 % atau sebesar Rp. 6.166.448,36 juta. Sektor tanaman bahan makanan lainnya merupakan sektor yang mengalami peningkatan paling tinggi (40,7413%) diikuti oleh sektor pengangkutan (19,868%) dan perdagangan besar dan eceran (10,00%).

Skenario peningkatan final demand melalui belanja pemerintah mendapatkan peningkatan output total sebesar 9,053 % untuk tiap kenaikan 10% atau Rp 38.266.288,2 juta. Sektor yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah sektor pemerintahan umum (58,497%), sektor tanaman bahan makanan lainnya (11,541%) dan sektor tanaman perkebunan (7,493%). Sedangkan sektor sayur-sayuran mengalami peningkatan sebesar 0,5334% dan sektor buah-buahan mengalami peningkatan sebesar 0,204%

Skenario peningkatan final demand melalui investasi (pembentukan modal tetap bruto) sebesar 10% mampu meningkatkan output total sebesar Rp 84.997.443,33 juta (20,110%). Peningkatan yang paling tinggi dicapai oleh sektor tanaman bahan makanan lainnya (5,192%), konstruksi (4,284%) dan tanaman perkebunan(3,936%). Sektor sayur-sayuran berada pada peringkat ke-15 dengan peningkatan 0,047% dan sektor buah-buahan mengalami peningkatan sebesar 0,016% berada pada peringkat ke -21.

Peningkatan final demand sebesar 10% melalui skenario ekspor barang dan jasa mampu meningkatkan output total sebesar Rp 39.028.553 juta (9,233%). Sektor yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah tanaman makanan (45,545%), tanaman perkebunan (21,864%) dan sektor perdagangan besar dan eceran (17,870%). Sektor sayur-sayuran dengan peningkatan 13,216% menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor perekonomian dan sektor buah-buahan dengan peningkatan 0,635% menempati urutan ke-11 dari seluruh sektor perekonomian. Dengan demikian, sektor sayur-sayuran dan buah-buahan masih

memiliki prospek penting untuk dikembangkan bagi peningkatan perekonomian wilayah Kabupaten Karo.

5.1.2.2 Multiplier Effect Nilai Tambah Bruto

Nilai tambah bruto (NTB) adalah input primer yang merupakan bagian dari input secara keseluruhan. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan tabel I-O, maka hubungan antara NTB dengan output bersifat linier. Artinya peningkatan atau penurunan output akan diikuti secara proporsional oleh kenaikan dan penurunan NTB. Dampak NTB sektor-sektor perekonomian berdasarkan urutan dari yang tertinggi hingga terendah ditampilkan pada Tabel 20.

Tabel 20 Peringkat dampak sektor-sektor perekonomian terhadap NTB

No. Sektor Perekonomian Dampak

terhadap NTB

1 Komunikasi 8,2894

2 Listrik dan gas 2,2443

3 Sayur-sayuran 2,1122

4 Real estate 1,6647

5 Industri bukan migas 1,6647

6 Restoran 1,4994 7 Konstruksi 1,4153 8 Hotel 1,3032 9 Swasta 1,2959 10 Pengangkutan 1,2943 11 Bank 1,2830 12 Jasa Perusahaan 1,2623 13 Penggalian 1,1958

14 Minyak dan gas bumi 1,1872

15 Peternakan dan hasil-hasilnya 1,1797

16 Air bersih 1,1712

17 Perdagangan besar dan eceran 1,1540

18 Perikanan 1,1379

19 Kehutanan 1,1270

20 Buah-buahan 1,1249

21 Jasa Perorangan dan Rumah Tangga 1,1055

22 Tanaman bahan makanan lainnya 1,0989

23 Tanaman Perkebunan 1,0640

Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa sektor sayur-sayuran memiliki nilai dampak terhadap NTB sebesar 2,112 yang berarti bahwa apabila permintaan akhir sektor sayur-sayuran meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap NTB akan meningkat 2,112 milyar rupiah dan sektor buah-buahan memiliki nilai dampak terhadap NTB sebesar 1,125 yang berarti bahwa apabila permintaan akhir sektor buah-buahan meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap NTB akan meningkat 1,125 milyar rupiah. Sektor-sektor yang memiliki dampak NTB paling tinggi adalah sektor komunikasi (8,289) dan sektor listrik dan gas (2,244). Tingginya nilai dampak sektor komunikasi dikarenakan kuatnya keterkaitan sektor tersebut dengan sektor-sektor perekonomian lain di Kabupaten Karo.

5.1.2.3 Multiplier Effect Pendapatan

Berdasarkan analisis multiplier effect terhadap pendapatan sektor-sektor perekonomian, diperoleh lima sektor yang memiliki nilai tertinggi, yaitu: peternakan dan hasil-hasilnya, komunikasi, real estate, minyak dan gas bumi, dan sektor sayur-sayuran. Sektor sayur-memiliki nilai 2,906, artinya apabila permintaan akhir sektor sayur-sayuran meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap pendapatan wilayah akan meningkat 2,906 milyar rupiah dan untuk sektor buah-buahan memiliki nilai 1,188 artinyaapabila permintaan akhir sektor buah-buahan meningkat 1 milyar rupiah, maka dampak terhadap pendapatan wilayah akan meningkat 1,188 milyar rupiah (Gambar 15).

Gambar 15. Nilai multiplier effect pendapatan sektor-sektor perekonomian. 3,138 2,906 1,779 1,583 1,538 1,403 1,276 1,238 1,227 1,188 1,171 1,170 1,120 1,060 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Peternakan dan Hasil-hasilnya Sayur-sayuran Jasa Perorangan dan Rumahtangga Swasta Restoran Industri Bukan Migas Perdagangan Besar & Eceran Hotel Perikanan Buah-buahan Bank Kehutanan Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan

5.1.3 Hasil Sintesa PerekonomianKabupaten Karo Secara Makro

Berdasarkan seluruh indikator keterkaitan dan multiplier effect melalui analisis I-O di atas diketahui bahwa sektor sayur-sayuran dan buah-buahan tidak tergolong sebagai sektor strategis. Menurut Rustiadi et al. (2009) sektor strategis adalah sektor yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang besar serta mampu menciptakan angka pengganda (multiplier) yang besar dalam perekonomian. Indikator tersebut kontradiktif dengan besarnya potensi sayur- sayuran dan buah-buahan yang dimiliki serta sumbangan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan terhadap PDRB. Potensi produksi yang belum termanfaatkan serta pangsa pasar yang besar menjadi modal untuk menjadikan sektor-sektor tersebut sebagai sektor unggulan. Dilihat dari nilai PDRB Kabupaten Karo, sub sektor Hortikultura dan Tanaman Pangan yang dikelompokkan dalam Sektor Bahan Makanan berkontribusi sebesar 97,24 % terhadap nilai total sumbangan PDRB dari sektor Pertanian, atau sekitar 77,90 % terhadap nilai PDRB Kabupaten Karo.   Penyerapan tenaga kerja pada subsektor hortikultura (49,64%), termasuk dalam kategori sedang sampai tinggi, dengan basis di perdesaan, karena itu pengembangan subsektor ini telah berkontribusi secara signifikan terhadap

penyerapan tenaga kerja di perdesaan. Upaya pengembangan yang dapat dilakukan

dalam mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain dalam internal wilayah Kabupaten Karo.

Keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain yang rendah terutama dikarenakan output sektor tersebut lebih banyak digunakan untuk memenuhi permintaan akhir dibandingkan ditransaksikan antar sektor perekonomian dalam proses produksi. Dari output total sektor sayur-sayuran sebesar Rp 1.800.702,023 juta, permintaan antara sektor sayur-sayuran hanya sebesar 25,118% (Rp 45.390,039 juta), sedangkan permintaan akhir mencapai 74,881% (Rp 135.311,984 juta). Output total sektor buah-buahan sebesar Rp 55715,643 juta, permintaan antara hanya sebesar 9,744 % (Rp. 5.428,860 juta), sedangkan permintaan akhir mencapai 90,256% (Rp 50.286,783 juta). Dilihat dari komposisi permintaan akhir (final demand) sektor sayur-sayuran, pengeluaran konsumsi rumah tangga menempati persentase paling besar yaitu 71,30% dan

sisanya adalah ekspor barang dan jasa 28,700 %. Komposisi permintaan akhir (final demand) sektor buah-buahan, pengeluaran konsumsi rumah tangga menempati persentase paling besar dengan angka 98,3867% dan sisanya adalah ekspor barang dan jasa 1,613%. Pengeluaran konsumsi pemerintah, investasi (pembentukan modal tetap bruto) dan perubahan stok tidak memiliki permintaan akhir dari sektor sayur-sayuran dan buah-buahan.

Selain nilai transaksi antar sektor yang rendah, jumlah sektor yang terkait dengan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan juga sedikit. Keterkaitan ke depan sektor sayur-sayuran hanya terkait dengan 8 sektor, yaitu: (1) sayur-sayuran, (2) peternakan dan hasil-hasilnya, (3) industri bukan migas, (4) restoran, (5) hotel, (6) swasta, (7) jasa perorangan dan rumah tangga dan (8) pengangkutan. Keterkaitan ke belakang, sektor sayur-sayuran terkait dengan 13 sektor, yaitu: (1) sayur-sayuran, (2) tanaman perkebunan, (3) peternakan dan hasil-hasilnya, (4) industri bukan migas, (5) konstruksi, (6) perdagangan besar dan eceran, (7) restoran, (8) pengangkutan, (9) komunikasi, (10) Bank, (11) real estate, (12) jasa perusahaan dan (13) jasa perorangan dan rumah tangga. Ke depan sektor buah- buahan hanya terkait dengan 8 sektor, yaitu: (1) buah-buahan, (2) peternakan dan hasil-hasilnya, (3) industri bukan migas, (4) perdagangan besar dan eceran, (5) restoran,(6) hotel, (7) swasta dan (8) jasa perorangan dan rumah tangga. Ke belakang, sektor buah-buahan terkait dengan 13 sektor, yaitu: (1) buah-buahan, (2) peternakan dan hasil-hasilnya, (3) konstruksi, (4) perdagangan besar dan eceran, (5) restoran, (6) hotel, (7) pengangkutan, (8) Komunikasi (9) Bank, (10) real estate, (11), jasa perusahaan (12) swasta dan (13) jasa perorangan dan rumah tangga.

Peningkatan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik peningkatan keterkaitan ke belakang maupun ke depan. Peningkatan keterkaitan ke belakang sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor sayur-sayuran dan buah- buahan itu sendiri misalnya penggunaan benih lokal untuk kegiatan budidaya. Apalagi kebutuhan akan benih hortikultura semakin meningkat dan penyediaannya tampaknya sebagian berasal dari benih impor. Dan perkembangan industri perbenihan di Kabupaten Karo masih terbilang lambat. Kebanyakan

industri perbenihan masih dalam skala kecil atau masih dalam tingkat penangkar yang produksinya masih terbatas sehingga sebagian besar kebutuhan benih didatangkan dari luar. Ketergantungan akan benih impor akan menambah biaya produksi, ketergantungan ini juga memiliki resiko yang tinggi terhadap kelanjutan dan penyediaan benih. Untuk menjamin ketersediaan benih dengan harga yang terjangkau dan bisa tersedia setiap saat, maka perlu dilakukan pengembangan industri perbenihan yang modern di Kabupaten Karo. (Lampiran 4).

Adapun keterkaitan ke depan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor industri non migas dapat ditingkatkan dengan menyuplai produk sayur- sayuran dan buah-buahan sebagai bahan baku pada industri pengolahan dengan jumlah cukup dan mutu yang baik. Efek berantai akan dirasakan pula melalui peningkatan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor restoran, sektor tanaman bahan makanan lainnya, sektor perdagangan besar dan eceran (komoditas dagangan) maupun sektor angkutan yang menunjang mobilitas barang. Saat ini kebanyakan industri pengolahan tidak berada di lokasi sentra, tetapi berada di ibukota provinsi. Contohnya komoditas markisa yang dihasilkan di Kabupaten Karo pabrik pengolahannya sebagian besar berada di kota Medan. Di Kabupaten Karo sendiri hanya terdapat 3 (tiga) industri pengolahan yaitu 2(dua) industri pengolahan markisa dan 1 (satu) pengolahan sayuran yang terdapat di Berastagi. (Kabupaten Karo dalam angka, 2009). Bila pabrik pengolahan markisa berada di dalam kawasan sentra maka akan meningkatkan keuntungan karena berkurangnya biaya transportasi serta limbah atau sisa-sisa produk tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk pertanian.

Peningkatan keterkaitan sektor sayur-sayuran dan buah-buahan dengan sektor-sektor lain juga akan meningkatkan multiplier effect terhadap output, nilai tambah bruto, serta pendapatan. Dengan demikian melalui upaya tersebut diharapkan sektor hortikultura dapat menjadi sektor unggulan sebagaimana halnya jika dilihat melalui sumbangan terhadap PDRB dan output total yang terbentuk selama ini.

Penggolongan PDRB tanpa keterkaitan antar sektor hortikultura (sayur- sayuran dan buah-buahan) dengan industri pengolahan hasil dan perdagangan

pada hakekatnya memiliki kelemahan karena belum mencerminkan keterkaitan antar sektor ekonomi. Kenyataannya dalam perekonomian daerah di Indonesia sebagian besar kegiatan industri pengolahan adalah pengolahan hasil pertanian. Demikian juga sektor perdagangan, sebagian besar adalah perdagangan hasil pertanian primer maupun produk olahannya. Artinya kegiatan sektor pengolahan, perdagangan, pengangkutan merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan sektor pertanian di daerah yang disebut sebagai kegiatan sektor agribisnis.

Secara diagram keseluruhan hasil sintesa diatas dapat dilihat pada Gambar 16.

Keterkaitan Ke Belakang Sektor

Tidak Langsung Langsung Pusat Pertumbuhan Keterkaitan Ke depan Langsung Tidak Langsung

Gambar 16 Keterkaitan Sektor Hortikutura (Sayur-sayuran dan Buah- buahan) dalam Perekonomian Kabupaten Karo .

Keterangan:

1-3 : sektor yang outputnya merupakan input bagi sektor hortikultura (sayur- sayuran dan buah-buahan) contohnya bibit, pupuk, alsintan. Dalam perekonomian Kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah :

Sektor Hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan

10  2  3  5  6  7  8  9  13  11  12  14  15  16  17  18  MP 

sektor sayur-sayuran, buah-buahan (penyedia bibit), industri bukan migas (pupuk, alsintan), perdagangan besar dan eceran (penyedia saprodi). 4-9 : sektor hulu yang outputnya merupakan input bagi sektor 1-3. Dalam

perekonomian Kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah sektor sayur-sayuran, buah-buahan, industri bukan migas, perdagangan besar dan eceran.

10-12: sektor yang inputnya berasal dari sektor hortikultura, contohnya pabrik pembuatan kripik kentang, pabrik pengolahan sirup, dll. Dalam perekonomian kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah industri non migas, jasa perorangan dan rumah tangga, restoran, hotel. 13-18 : sektor yang inputnya berasal dari sektor 10-12 contohnya industri

pengolahan sirup, keuangan, dan lainnya. Dalam perekonomian Kabupaten Karo yang masuk dalam sektor ini adalah Bank, industri non migas, perdagangan besar dan eceran, jasa perorangan dan rumah tangga, jasa swasta, hotel dan restoran.

MP : Multiplier Effect. Dalam perekonomian kabupaten Karo multiplier effect pendapatan dari sektor sayur-memiliki nilai 2,9060 dan untuk sektor buah-buahan memiliki nilai 1,1879. Untuk multiplier effect output sektor sayur-sayuran 2,72714 dan sektor buah-buahan memiliki multiplier effect

output dengan nilai 1,16726.

Atas dasar pemikiran tersebut, terlihat bahwa sektor hortikultura diharapkan dapat menjadi sektor yang strategis akibat besaran sumbangan yang diberikannya dalam perekonomian Kabupaten Karo serta keterkaitan sektoral dan spasialnya. Perkembangan sektor tersebut memberikan dampak langsung dan tidak langsung yang cukup signifikan. Dampak tidak langsung akibat perkembangan sektor tersebut berpengaruh terhadap perkembangan sektor-sektor lainnya, dan secara spasial berpengaruh secara luas di wilayah sasaran.

Tabel 21 Ringkasan Sektor Sayur-Sayuran

Uraian Peranan Keterkaitan Ke Belakang

Keterkaitan Ke Depan

Multiplier

PDRB Tot. Output DBL IDP DFL IDK Out. Mult. NTB Mult. Pend. Mult. Nilai 135.311,984 180.702,023 0,830 1,222 0,281 0,682 2,727 2,112 2,906 Persen 4,25 4,24 - - - - - - - Rangking 8 8 2 1 5 3 3 3 5 Keterangan Rendah Menarik sektor Hulu Tidak Mendorong Sektor Hilir

Efek Pengganda Tinggi

Rendah Rendah namun berindikasi menjadi sektor unggulan

Tabel 22 Ringkasan Sektor Buah-Buahan

Uraian Peranan Keterkaitan Ke Belakang

Keterkaitan Ke Depan

Multiplier

PDRB Tot. Output DBL IDP DFL IDK Out. Mult. NTB Mult. Pend. Mult. Nilai 50.286,83 55.715,643 0,132 1,583 0,096 0,556 1,167 1,124 1,187 Persen 1,58 1,30 - - - - - - - Rangking 10 10 8 11 9 10 13 20 18 Keterangan

Peranan Rendah Tidak Menarik sektor Hulu

Tidak Mendorong Sektor Hilir

Efek Pengganda Tinggi

Rendah Rendah namun berindikasi menjadi sektor unggulan

5.2. Penelaahan Secara Mikro

5.2.1 Tingkat Perkembangan Subsistem-subsistem Agribisnis Hortikultura

Menurut Saragih (2001) agribisnis sebagai bentuk modern pertanian primer, mencakup empat subsistem yaitu : (1) Subsistem agribisnis hulu (Up-stream agribussiness) yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana produksi pertanian primer, (2) Subsistem usahatani (On farm agribussiness) disebut sebagai sektor pertanian primer, (3) Subsistem agribisnis hilir (Down stream agribussiness) yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan baik untuk siap diolah dan siap untuk dikonsumsi beserta kegiatan perdagangannya di pasar domestik dan internasional serta (4) Subsistem jasa layanan pendukung (Supporting agribussiness) seperti lembaga keuangan,

penyuluhan, penelitian pengembangan dan kebijakan pemerintah. Analisis sistem agribisnis dilakukan secara deskriptif terhadap subsistem hulu, usahatani, hilir, pemasaran dan jasa di ketiga wilayah fokus kajian yakni : Tiga Panah, Simpang Empat, dan Barus Jahe.

Ketiga kecamatan ini dianggap dapat mewakili analisis sistem agribisnis yang berlangsung di Kabupaten Karo, di samping itu juga ketiga wilayah ini merupakan wilayah sentra komoditas hortikultura yang memberikan sumbangan besar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Karo. Komoditas yang merupakan unggulan dari ketiga kecamatan tersebut adalah jeruk, kentang, kubis, dan wortel. Sumbangan terhadap PDRB tahun 2009 berdasarkan harga berlaku tahun 2009 adalah sebagai berikut: kentang : Rp. 2.490 juta, kubis : Rp. 2.198 juta, wortel: Rp. 468 juta dan jeruk Rp. 10.961,38 juta. Sumbangan dari keempat komoditas ini terhadap nilai total PDRB hortikultura sebesar 20%. Kesesuaian lahan untuk keempat komoditas tersebut di tiga kecamatan dapat dilihat pada Lampiran 5.

a. Subsistem Agribisnis Hulu (Up-stream agribussiness )

Subsistem agribisnis hulu adalah ragam kegiatan industri dan tata niaga/ perdagangan sarana produksi. Subsistem agribisnis hulu mencakup industri yang menghasilkan sarana produksi (input) pertanian, industri agro otomotif (mekanisasi pertanian), dan industri perbenihan. Pada prinsipnya, subsistem agribisnis hulu secara umum membangun industri jasa dan bersifat pendukung dalam pengembangan subsistem agribisnis usahatani maupun hilir. Manfaat yang diperoleh pengembangan sektor industri hulu adalah memberikan kemudahan bagi petani dalam mengelola agribisnis komoditi unggulan yang dikembangkannya. Berkembangnya subsistem agribisnis hulu menyebabkan pengelolaan subsistem usahatani menjadi lebih efisien dan dapat meningkatkan produktivitas/produksi komoditi yang dikembangkan (Departemen Pertanian, 2009).

Ketersediaan kios sarana produksi Tiga Panah, Simpang Empat, dan Barus Jahe sudah cukup baik. KUD yang ada dapat dimanfaatkan oleh petani secara optimal. KUD juga berperan dalam akses permodalan bagi petani. Partisipasi petani di dalam KUD sudah terbilang cukup baik. Hal ini terlihat dari banyaknya anggota kelompok tani yang ada di wilayah tersebut yang menjadi anggota KUD. Kelembagaan yang ada seperti kelompok tani dan gabungan kelompok tani juga

berperan dalam pertukaran informasi cara budidaya dan pemasaran bahkan juga dimungkinkan adanya pertukaran sarana produksi di antara kelompok tani. Selain membeli di kios saprodi,beberapa petani juga mengolah sendiri pupuk yang digunakan dalam usaha budidaya khususnya pupuk organik seperti pupuk kandang. Jumlah Kelompok tani yang sudah dapat mengolah pupuk kandang sendiri dapat dilihat pada Tabel 27.

Jumlah Kios yang menjual sarana produksi dan KUD dapat dilihat pada Tabel. 23.

Tabel 23 Jumlah Kios Sarana Produksi dan KUD.

No Kecamatan Kios KUD

1 Tiga Panah 27 5

2 Simpang Empat 48 1

3 Barus Jahe 30 4

Sumber : Kabupaten Karo Dalam Angka 2009.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa secara umum petani sudah dapat mengakses sarana produksi pertanian primer. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kinerja kelembagaan yang terlibat dalam kegiatan produksi dan perdagangan sarana produksi pertanian primer. Beberapa kelembagaan sudah dapat menyediakan sarana produksi bagi para anggotanya, tetapi terdapat juga kelembagaan yang belum dapat menyediakan sarana produksi pertanian primer. Beberapa petani memperoleh sarana produksi pertanian di kios saprodi dan KUD. Meskipun begitu, secara umum subsistem hulu di wilayah ini sudah terlihat lebih berkembang. Beberapa sarana produksi yang belum dapat diperoleh di masing- masing kecamatan biasanya dapat diperoleh di ibukota kabupaten yang jarak tempuhnya rata-rata 5-7 Km.

b. Subsistem Usahatani atau Pertanian Primer (On farm agribussiness)

Subsistem usahatani adalah subsistem pertanian dalam arti luas (produksi, operasi di lokasi usaha tani) yang menghasilkan produk primer. Subsistem usahatani berupa aktivitas pertanian skala ekonomi, baik secara individu maupun berkelompok dalam suatu kelembagaan. Jenis tanaman dan luas pertanaman yang diusahakan oleh kelompok tani di 3(tiga) kecamatan tertera pada Tabel 24 dan 25.

Tabel 24. Jenis Komoditas Yang Diusahakan

No Komoditas Kecamatan

Simpang Empat

Barus Jahe Tiga Panah

1 Alpukat v v v 2 Jambu Biji v v 3 Jambu Air v 4 Jeruk v v v 5 Pisang v v v 6 Markisa v v v 7 Bawang Daun v v v 8 Kentang v v v 9 Kubis v v v 10 Sawi v v v 11 Wortel v v v 12 Cabai Merah v v v 13 Tomat v v 14 Buncis v v v 15 Kol Bunga v v v 16 Lobak v v 17 Cabe Rawit v 18 Terong v 19 Labu Siam v

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karo. Ket : v : diusahakan

Jika diperhatikan pada Tabel 25 terlihat bahwa terdapat keragaan dalam luas pertanaman dan persentase lahan yang digunakan, hal ini juga tentunya akan berpengaruh produktivitas komoditas di masing-masing wilayah.

Produktivitas tersebut juga dipengaruhi oleh perlakuan yang digunakan oleh petani di masing-masing kecamatan. Petani juga sudah mulai menyadari pentingnya melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan Good Agricultural Practices (GAP) atau norma budidaya dengan baik dan benar. Petani juga sudah dapat melaksanakan pengendalian hama penyakit tanaman sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Budidaya pertanian secara organik juga sudah dilakukan oleh beberapa petani, bahkan terdapat pula petani yang menanamnya di halaman rumah. Hal ini ditunjang dengan adanya sosialisasi penerapan GAP dan PHT dengan metode sekolah lapang. Jumlah kelompok tani dan kelompok tani yang sudah dapat menerapkan GAP dan PHT dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 25. Luas Pertanaman Komoditas Hortikultura.

No Komoditas Luas Pertanaman (Ha) Persentase Penggunaan lahan kering

Untuk Pertanaman Komoditas Simpang Empat Tiga Panah Barus Jahe Simpang Empat Tiga Panah Barus Jahe 1 Alpukat 6,7 2,1 3,5 0,072 0,011 0,027 2 Jambu Biji 2 0 0,99 0,021 0 0,007 3 Jambu Air 4 0 0 0,043 0 0 4 Jeruk 2066,33 1186,6 2298 22,380 6,445 17,947 5 Pisang 1 4,1 70 0,010 0,022 0,547 6 Markisa 7,8 327,93 38,71 0,084 1,781 0,302 7 Bawang Daun 23 10 19 0,259 0,054 0,149 8 Kentang 347 96 90 3,758 0,521 0,702 9 Kubis 752 128 65 8,144 0,700 0,507 10 Sawi 587 228 130 6,357 1,238 1,015 11 Wortel 821 49 36 8,892 0,266 0,281 12 Cabai Merah 654 154 76 7,083 0,836 0,593 13 Tomat 152 52 0 1,646 0,282 0 14 Buncis 821 49 36 8,892 0,266 0,281 15 Kol Bunga 376 90 52 4,072 0.488 0,406 16 Lobak 134 16 0 1,451 0,086 0 17 Terong 0 15 0 0 0,081 0 18 Labu Siam 0 4 0 0 0,021 0

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karo (diolah)

Keterangan: Luas Lahan Kering Kecamatan Tigapanah :18.410 Ha; Barusjahe : 12.804 Ha dan Simpang Empat : 9,233 Ha

c. Subsistem Agribisnis Hilir (Down Stream Agribussiness)

Subsistem industri hilir mencakup kegiatan pengolahan dan pemasaran, yang sering disebut agroindustri. Subsistem hilir merupakan kegiatan industri yang mengolah hasil hilir, yaitu kegiatan industri yang mengolah hasil pertanian menjadi produk olahan baik poduk antara (intermediate product), maupun produk akhir. Manfaat aktivitas subsistem agribisnis hilir adalah dapat meningkatkan nilai tambah, mempermudah pemasaran produk, meningkatkan daya saing produk, menambah pendapatan petani dan membuka peluang penyerapan tenaga kerja.

Subsistem hilir sektor hortikultura mencakup kegiatan pasca panen dan pengolahan. Teknologi pasca panen hortikultura di ketiga kecamatan masih

bergerak pada tahap sortasi, grading dan packing dengan menggunakan alat tradisional yang masih sangat tradisional.

d. Subsistem Jasa Layanan Pendukung (Supporting Agribussiness )

Subsistem jasa merupakan subsistem yang menyediakan jasa bagi subsistem agribisnis hulu,subsistem usahatani, dan subsistem agribisnis hilir. Subsistem jasa antara lain meliputi penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, akses modal,