• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Multiplikasi dan Pertumbuhan Binahong

Berdasarkan data yang diperoleh sampai akhir pengamatan, kultur tanaman binahong selama perlakuan tidak mengalami kontaminasi, sehingga eksplan tumbuh dengan tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Pertumbuhan merupakan proses kehidupan tanaman yang mengakibatkan penambahan ukuran tanaman semakin besar dan juga menentukan hasil penambahan ukuran tanaman secara keseluruhan yang dikendalikan oleh sifat alami tanaman (genetik) dibawah pengaruh faktor lingkungan (Sitompul dan Guritno 1995). Pada fase pertumbuhan vegetatif ditandai dengan berbagai aktifitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berhubungan dengan pembentukan dan pembesaran daun, pembentukan meristem apikal atau lateral dan pertumbuhannya menjadi cabang- cabang serta pembentukan sistem perakaran (Lakitan 1996). Pertumbuhan tanaman disebabkan oleh pembelahan sel, pembesaran sel, dan diferensiasi sel.

Pertumbuhan sudah terlihat pada minggu pertama pengamatan yaitu dengan bertambahnya jumlah tunas, tinggi, jumlah daun dan jumlah akar serta terbentuk kalus pada eksplan. Pertumbuhan terus bertambah sejalan dengan bertambahnya waktu pengamatan hingga akhir pengamatan (8 MST). Data perubahan rata-rata pertumbuhan yaitu jumlah tunas, pertambahan tinggi, jumlah daun, dan jumlah akar dapat dilihat pada lampiran 3.

Pemberian perlakuan berbagai jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda terhadap parameter yang diamati menunjukkan pengaruh yang berbeda- beda. Berdasarkan hasil analisis statistik maka diperoleh nilai sidik ragam dari pemberian perlakuan pada media terhadap parameter jumlah tunas, pertambahan tinggi, jumlah daun, dan jumlah akar dapat dilihat pada lampiran 4, sehingga dapat diketahui pengaruhnya (Tabel 4).

Tabel 4 Rekapitulasi sidik ragam penggunaan beberapa jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda pada eksplan binahong (Anredera cordifolia

[Ten.] Stennis) Parameter Pengamatan ke – (MST) 1 2 3 4 5 6 7 8 Jumlah tunas a. Tunas adventif ** ** ** ** ** ** ** ** b. Tunas lateral ** ** ** ** ** ** ** ** Pertambahan tinggi ** ** ** ** ** ** ** ** Jumlah daun tn * ** ** ** ** ** ** Jumlah akar tn ** ** ** ** ** ** **

Keterangan : tn : Tidak berpengaruh nyata

* : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95 % ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 95 %

Pengaruh perlakuan beberapa jenis sitokinin (AdSO4, BAP, kinetin dan

thidiazuron) dengan konsentrasi yang berbeda terhadap parameter pertumbuhan eksplan binahong yang diamati diuraikan sebagai berikut :

4.2.1 Multiplikasi Tunas Binahong

Tunas merupakan bagian yang dapat dijadikan parameter keberhasilan dari kegiatan budidaya karena dari tunas dapat diperbanyak menjadi individu baru. Hormon sitokinin dan unsur hara yang tersedia dalam media tidak secara mutlak mempengaruhi pertumbuhan tunas karena setiap tanaman memiliki hormon endogen yang dapat membentuk tunas dengan sendirinya. Penambahan jumlah tunas dapat dijadikan salah satu parameter yang diukur secara kuantitatif.

Pembentukan tunas baru mulai terlihat pada minggu pertama setelah tanam. Tahap pembentukan tunas diawali dengan munculnya calon tunas berupa tonjolan berwarna hijau yang terdapat pada bagian pangkal yang telah membentuk kalus

dan ketiak daun. Pada saat penelitian dapat dibedakan menjadi dua jenis tunas yaitu tunas adventif dan tunas lateral yang dapat dilihat pada gambar 5. Tunas adventif adalah tunas yang muncul pada bagian pangkal eksplan yang telah membentuk kalus. Menurut Devilana (2005) tunas adventif adalah tunas yang terbentuk tidak pada tempatnya, sedangkan tunas lateral adalah tunas yang terbentuk pada ketiak daun (Gardner et al 1991). Pada tunas lateral berpeluang untuk menjadi cabang-cabang baru.

Gambar 5 Tunas adventif (kiri) dan tunas lateral (kanan).

Hasil analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95% terhadap pemberian beberapa jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda pada parameter jumlah tunas adventif dan tunas lateral menghasilkan nilai probability

(p) yang sama yaitu <,0001. Nilai tersebut lebih kecil dari α (0,05), sehingga menunjukkan bahwa pemberian perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah tunas adventif dan tunas lateral yang terbentuk (Tabel 4). Selanjutnya perlu dilakukan uji lanjut wilayah Duncan (Tabel 5 dan 6).

Tabel 5 Pengaruh pemberian perlakuan terhadap rata-rata jumlah tunas adeventif tanaman binahong (Anredera cordifolia [Ten.] Stenis) pada akhir pengamatan (8 MST)

Konsentrasi Jenis Sitokinin

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

0,50 mg/l 0.00c 0.80bc 1,30ab 1,20abc

1,00 mg/l 0.00c 1,50ab 1,00abc 1,40ab

Lanjutan Tabel 5

Konsentrasi Jenis Sitokinin

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

2,00 mg/l 0.00c 1,30ab 1,70ab 1,80ab

Kontrol (MS) 0,00c

Keterangan:

Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata untuk minggu yang sama pada uji DMRT 5 %.

Tabel 5 memperlihatkan bahwa perlakuan kinetin 1,50 mg/l memberikan respon terbaik terhadap pembentukan tunas adventif yang berasal dari kalus. Hal ini ditandai dengan banyaknya rata-rata jumlah tunas yang terbentuk yaitu 2,10 tunas. Meningkatnya konsentrasi kinetin hingga 1,50 mg/l menyebabkan rata-rata jumlah tunas adventif yang dihasilkan juga meningkat, sedangkan pada kinetin 2,00 mg/l menunjukkan rata-rata jumlah tunas menurun. Hal yang sama juga terjadi pada eksplan yang ditanam pada media kultur dengan penambahan BAP dan thidiazuron. Konsentrasi 1,50 mg/l thidiazuron rata-rata jumlah tunas mengalami penurunan, tetapi pada konsentrasi 2,00 mg/l rata-rata jumlah tunas mengalami peningkatan yaitu 1,80 tunas. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kemampuan tanaman untuk merespon pemberian sitokinin.

AdSO4 konsentrasi 0,50 mg/ hingga 2,00 mg/l dan media kontrol tidak

terlihat adanya pembentukan tunas, sehingga menunjukkan adanya perbedaan antar perlakuan yang sangat nyata antara media perlakuan kinetin 1,50 mg/l dengan media perlakuan AdSO4 (0,50 mg/l hingga 2,00 mg/l) dan media kontrol.

Perubahan rata-rata jumlah tunas adventif yang dihasilkan pada pemberian beberapa jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6 memperlihatkan pembentukan tunas adventif pada kinetin 1,50 mg/l selalu meningkat, tetapi pada akhir pengamatan yaitu pada 8 MST rata-rata jumlah tunas tidak mengalami pertambahan atau tetap sama dengan rata-rata jumlah tunas pada 7 MST yaitu 2,10 tunas.

Gambar 6 Grafik rata-rata jumlah tunas adventif pada tanaman binahong yang terbentuk tiap minggu.

Tabel 6 Pengaruh pemberian perlakuan terhadap rata-rata jumlah tunas lateral tanaman binahong (Anredera cordifolia [Ten.] Stenis) pada akhir pengamatan (8 MST)

Konsentrasi Jenis Sitokinin

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

0,50 mg/l 0.00g 1,60def 0.30g 2,20bcd 1,00 mg/l 0.40g 3,20ab 0.60fg 1,20defg 1,50 mg/l 0.00g 3,90a 2,80abc 0.80efg 2,00 mg/l 0.10g 3,50a 1,80cde 0.90efg Kontrol (MS) 0.00g Keterangan:

Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata untuk minggu yang sama pada uji DMRT 5 %.

Tabel 6 menunjukkan bahwa tunas lateral di bagian ketiak daun banyak dihasilkan oleh eksplan yang ditanam pada media perlakuan BAP 1,50 mg/l yaitu 3,90 tunas. Pemberian konsentrasi BAP 0,50 mg/l hingga 1,50 mg/l menghasilkan rata-rata jumlah tunas lateral yang mengalami peningkatan, sedangkan BAP 2,00 mg/l rata-rata jumlah tunas mengalami penurunan. Perlakuan kinetin juga mengalami kondisi yang sama seperti BAP. Thidiazuron dalam konsentrasi terendah (0,5 mg/l) dapat memacu pembentukan tunas lateral lebih baik

dibandingkan dengan thidiazuron konsentrasi 1,00 mg/l hingga 2,00 mg/l. Rata- rata jumlah tunas lateral yang terus bertambah pada tiap minggu ditunjukkan pada gambar 7.

Gambar 7 Grafik rata-rata jumlah tunas lateral pada tanaman binahong yang terbentuk tiap minggu.

Gambar 6 dan 7 menunjukkan bahwa pada media kontrol hingga akhir pengamatan tidak terbentuk tunas baru. Hal ini dimungkinkan unsur hara yang terdapat dalam media dan hormon endogen tanaman tidak dapat menstimulasi pembentukan tunas. Perlakuan berupa penambahan berbagai jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda mampu menghasilkan tunas baru bahkan dalam jumlah yang banyak. Kondisi tersebut terjadi karena tanaman dapat merespon sitokinin eksogen untuk pembentukan tunas. Respon yang muncul pada tumbuhan bergantung pada spesies, bagian tumbuhan, fase perkembangan, konsentrasi hormon, interaksi antarhormon, dan berbagai faktor lingkungan (Salisbury and Ross 1992).

Konsentrasi yang diberikan dapat berpengaruh terhadap penambahan jumlah tunas, tetapi apabila konsentrasi terus dinaikkan akan mengakibatkan penurunan jumlahnya. Hal ini diduga pada penambahan sitokinin dengan konsentrasi tinggi, tanaman sudah tidak responsif. Kandungan sitokinin dalam jaringan yang sangat tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi

terhambat. Kondisi seperti ini yang membedakan antara hormon dan unsur hara lainnya. Hormon biasa digunakan dalam konsentasi yang sangat rendah, mendekati 1 µM, sedangkan unsur hara seperti gula, asam amino, asam organik, dan beberapa metabolit lainnya diperlukan oleh tumbuhan dalam konsentrasi yang cukup tinggi yaitu 1 sampai 5 mM (Salisbury and Ross 1992). Menurut Abidin (1985) dengan penggunaan sitokinin pada kadar yang optimum dapat merangsang pembentukan tunas.

Menurut Santoso dan Nursandi (2003) bahwa sitokinin berperan dalam merangsang terjadinya pembelahan sel, pembentukan tunas, dan mendorong proliferasi meristem ujung. Selain itu pemberian sitokinin tunggal tanpa penambahan auksin dapat meningkatkan jumlah tunas dengan cara melipatgandakan jumlah mata tunas (Skoog dan Tsui 1951 dalam Ratnaningsih 2001).

Rata-rata jumlah tunas adventif dan tunas lateral dalam setiap kultur terus meningkat dengan bertambahnya umur sampai dengan 8 MST. Gambar 8 menunjukkan bahwa BAP 1,50 mg/l menghasilkan penambahan jumlah tunas adventif dan tunas lateral, tetapi lebih didominasi oleh penambahan jumlah tunas lateral. Menurut Prawiranata dkk 1995 bahwa dengan adanya sitokinin dalam jaringan tanaman dapat menghilangkan dormansi yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan tunas dengan cara mendorong pembelahan sel di bagian ujung dari tunas lateral serta mengubahnya menjadi meristem yang aktif.

Gambar 8 Pembentukan tunas adventif dan tunas lateral tanaman binahong pada perlakuan BAP 1,50 mg/l saat eksplan berumur 3 MST (kiri) dan 7 MST (kanan).

Pembentukan tunas lateral dalam jumlah yang banyak menunjukkan bahwa dominasi apikal pada tanaman binahong berkurang. Hal ini disebabkan dengan pemberian sitokinin eksogen dapat meningkatkan kadar sitokinin dalam tunas lateral yang dorman meningkat dan dapat menyempurnakan hubungan pembulu- pembulu antara tunas lateral dengan bagian tumbuhan lain, sehingga unsur hara dapat diambil oleh tunas lateral untuk pertumbuhannya.

4.2.2 Pertambahan Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman merupakan parameter yang sering diamati dalam pengambilan data secara kuantitatif karena pada kenyataannya ukuran tinggi paling mudah dilihat. Tinggi tanaman sebagai indikator pertumbuhan dapat dianjurkan pada tanaman berbatang tunggal dengan percabangan lateral terbatas dengan kondisi cahaya yang optimal (Lakitan 1996).

Hasil analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95% untuk eksplan binahong terhadap parameter pertambahan tinggi ditunjukkan pada tabel 4 bahwa perlakuan berbagai jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata dengan nilai probability (P) yaitu 0,0003 lebih kecil

dari α (0,05), sehingga perlu diuji lanjut wilayah Duncan untuk mengetahui

perbedaan pengaruh perlakuan (Tabel 7).

Tabel 7 Pengaruh pemberian perlakuan terhadap rata-rata pertambahan tinggi tanaman binahong (Anredera cordifolia [Ten.] Stenis) pada akhir pengamatan (8 MST)

Konsentrasi Jenis Sitokinin

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

0,50 mg/l 1,86c 1,18c 4,33a 1,04c 1,00 mg/l 2,15bc 1,97c 0.68c 2,49bc 1,50 mg/l 1,72c 1,20c 2,32bc 0.90c 2,00 mg/l 1,86c 1,54c 1,57c 3,73ab Kontrol (MS) 1,55c Keterangan:

Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata untuk minggu yang sama pada uji DMRT 5 %.

Tabel 7 menunjukkan bahwa pada kinetin 0,50 mg/l menghasilkan pertambahan tinggi terbaik bila dibandingkan dengan perlakuan lain yaitu 4,33 cm, sedangkan pertambahan tinggi terendah dihasilkan pada kinetin 1,00 mg/l yaitu 0,68 cm. Hasil tersebut bertolak belakang dengan rata-rata jumlah tunas yang dihasilkan, karena pada kinetin 0,50 mg/l menghasilkan rata-rata jumlah tunas lateral yang rendah yaitu 0,30 tunas. Pada media perlakuan BAP 1,50 mg/l mampu menghasilkan rata-rata jumlah tunas lateral tertinggi, tetapi pertambahan tingginya rendah yaitu 1,20 cm. Thidiazuron 0,50 mg/l dengan rata-rata jumlah tunas tertinggi 2,20 tunas, sedangkan pertambahan tinggi yaitu 1,04 cm.

Pertambahan tinggi dalam penelitian ini berkorelasi negatif dengan pembentukan tunas. Pertambahan tinggi semakin rendah dengan peningkatan jumlah tunas, demikian pula sebaliknya. Hal ini diduga adanya persaingan dalam memperoleh nutrisi dan ruang tumbuh. Kompetisi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah tunas. Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan, kompetisi dapat terjadi diantara bagian-bagian tanaman pada tanaman yang sama dan disebut kompetisi intra tanaman (intraplant competition). Kompetisi disebabkan oleh dua faktor, yaitu hadirnya organ baru diantara organ yang lain dan terbatasnya faktor pertumbuhan yang ada, antara lain nutrisi dan ruang tumbuh.

Gambar 9 Rata-rata pertambahan tinggi tanaman binahong tiap minggu pada berbagai perlakuan.

Rata-rata pertambahan tinggi dapat dilihat pada gambar 9 yang menunjukkan bahwa semua perlakuan mengalami peningkatan setiap minggunya hingga akhir pengamatan. Tanaman binahong memberikan respon yang berbeda- beda pada pemberian beberapa jenis sitokinin terhadap tinggi tanaman. Pada gambar 9 menunjukkan bahwa penambahan kinetin 0,50 mg/l merupakan media yang paling tepat untuk pertambahan tinggi binahong dalam kultur in vitro.

4.2.3 Jumlah Daun

Menurut Humphries dan Wheeler (1963) dalam Gardner et al (1991) daun merupakan salah satu organ tanaman yang diperlukan untuk penyerapan dan pengubahan energi cahaya. Energi tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan. Pembentukan jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan. Daun dapat dijadikan salah satu parameter pengamatan karena daun berfungsi sebagai penerima cahaya dan alat fotosintesis (Sitompul dan Guritno 1995). Pada pengamatan daun, parameter yang diamati hanya jumlah daun yang terbentuk pada eksplan.

Daun yang terbentuk dari setiap perlakuan penambahan jenis sitokinin memiliki perbedaan. Dalam media kultur yang telah ditambah AdSO4

memperlihatkan kondisi daun yang berwarna hijau muda segar, berukuran besar dan relatif seragam, sedangkan pada media perlakuan BAP, kinetin dan thidiazuron daun berwarna hijau tua dan beberapa diantaranya terdapat warna merah keunguan pada bagian permukaan bawah daun. Selain itu ukuran daun yang dihasilkan dari ketiga jenis sitokinin tersebut relatif kecil. Hal ini dimungkinkan pada hormon BAP, kinetin, dan thidiazuron lebih terkonsentrasi untuk pembentukan tunas.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95 % maka dapat diketahui bahwa pemberian perlakuan beberapa jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah daun (tabel 3) dengan nilai probability (P) yaitu <,0001 lebih kecil dari

nilai α (0,05), sehingga perlu dilakukan uji lanjut duncan yang dapat dilhat pada

Tabel 8 Pengaruh pemberian perlakuan terhadap rata-rata jumlah daun Tanaman binahong (Anredera cordifolia [Ten.] Stenis) pada akhir pengamatan (8 MST)

Konsentrasi Jenis sitokinin

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

0,50 mg/l 4,60a 1,30d 4,70a 0.60d 1,00 mg/l 4,60a 1,50d 1,90bcd 2,00bcd 1,50 mg/l 3,50ab 0.90d 2,20bcd 1,30d 2,00 mg/l 4,50a 1,50d 1,70cd 3,30abc Kontrol (MS) 4,30a Keterangan :

Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata untuk kolom yang sama pada uji DMRT 5 %.

Perlakuan beberapa jenis sitokinin dengan konsentrasi yang berbeda pada media kultur memberikan respon terhadap jumlah daun yang bervariasi. Rata-rata jumlah daun dalam setiap kultur pada setiap minggunya mengalami perubahan dapat dilihat pada gambar 10.

Gambar 10 Rata-rata jumlah daun binahong tiap minggu pada berbagai perlakuan.

Gambar 10 menunjukkan bahwa penambahan jumlah daun pada setiap perlakuan berbeda-beda. Rata-rata jumlah daun pada akhir pengamatan terbanyak adalah 4,70 helai yang dihasilkan pada kinetin 0,50 mg/l. Penambahan konsentrasi kinetin semakin tinggi menunjukkan jumlah daun yang semakin sedikit. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perlakuan penambahan thidiazuron dan BAP pada media. semakin tinggi konsentrasi thidiazuron dan BAP yang diberikan maka semakin banyak daun yang dihasilkan.

Setiap minggu rata-rata jumlah daun mengalami perubahan, hal ini disebabkan terjadinya pertambahan dan pengurangan jumlah daun. Pertumbuhan terlihat dengan adanya daun baru yang terbentuk, sedangkan pengurangan dapat diketahui karena daun mengalami kerontokan. Kerontokan pada daun yang terjadi pada minggu ketiga untuk perlakuan thidiazuron 1,50 mg/l dan BAP 1,5 mg/l. Hingga akhir pengamatan kerontokan daun terus terjadi. Daun yang rontok dari batang didahului dengan perubahan struktur dan susunan kimia pada daerah di sekitar pangkal petiola (Tjondronegoro dkk 1989). Hal ini terjadi karena dalam media terjadi kekurangan unsur nitrogen (N), perubahan pH dan akumulasi zat pengatur tumbuh lainnya seperti Asam Abisat (ABA). Menurut Lakitan (1996 ) ABA berperan dalam menyebabkan penguguran daun, bunga atau buah. Selain ABA juga terdapat ZPT lain yang berperan dalam proses perontokan organ tanaman yaitu etilen. Daun yang rontok mengalami perubahan warna hal ini dapat dilihat pada gambar 10.

Beberapa organ tanaman memiliki pola pertumbuhan determinate

sedangkan organ-organ yang lain bersifat in-determinate. Pola pertumbuhan

determinate dicirikan oleh pertumbuhan organ sampai mencapai ukuran

maksimal. Kemudian pertumbuhan terhenti, organ menjadi tua dan akhirnya rontok. Organ tanaman yang mempunyai pola pertumbuhan determinate salah satunya adalah daun (Lakitan 1996).

4.2.4 Jumlah Akar

Akar merupakan organ vegetatif utama yang memasok air, mineral dan bahan-bahan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Gardner et al 1991). Pembentukan akar terjadi pada daerah pangkal eksplan dan ruas batang tanaman binahong. Akar yang terbentuk pada eksplan berwarna putih dan putih kecoklatan dengan banyak bulu halus disekitarnya (Gambar 11).

Gambar 12 Akar dan bulu-bulu akar yang terbentuk pada eksplan binahong.

Menurut Lakitan (2004) akar membentuk bulu-bulu akar bertujuan untuk memperluas permukaan kontaknya. Bulu akar merupakan penonjolan dari sel-sel epidermis akar. Lapisan sel ini berada pada bagian paling luar dan umumnya berbentuk agak pipih. Bulu-bulu akar ini terbentuk pada daerah dekat dengan ujung akar. Pembentukan akar sudah terlihat pada minggu pertama setelah tanam. Jumlah dan persentase eksplan berakar dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9 Jumlah dan persentase eksplan binahong berakar dalam berbagai media perlakuan pada akhir pengamatan (8 MST)

Konsentrasi Jumlah eksplan berakar / % eksplan berakar

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

0,50 mg/l 10 / 100 2 / 20 10 / 100 3 / 30

1,00 mg/l 10 / 100 2 / 20 5 / 50 3 / 30

1,50 mg/l 9 / 90 2 / 20 5 / 50 5 / 50

2,00 mg/l 10 / 100 2 / 20 4 / 40 7 / 70

Kontrol (MS) 10 /100

Hasil analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95 % terhadap jumlah akar menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan beberapa jenis sitokinin dengan

berbagai konsentrasi berpengaruh sangat nyata (P = <,0001 lebih kecil dari α =

0,05), sehingga perlu dilakukan uji lanjut duncan yang dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10 Pengaruh pemberian perlakuan terhadap rata-rata jumlah akar tanaman binahong (Anredera cordifolia [Ten.] Stenis) pada akhir pengamatan (8 MST)

Konsentrasi Jenis sitokinin

AdSO4 BAP Kinetin Thidiazuron

0,50 mg/l 7,10abc 2,90cdef 7,40abc 2,00def

1,00 mg/l 8,40ab 2,00def 4,20bcdef 4,50abcdef

1,50 mg/l 5,40abcde 0.60f 2,20def 3,00cdef

2,00 mg/l 6,40abcd 1,20ef 2,50def 7,90ab

Kontrol (MS) 8,80a

Keterangan :

Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata untuk kolom yang sama pada uji DMRT 5 %.

Gambar 13 Rata-rata jumlah akar binahong tiap minggu pada berbagai perlakuan.

Dari tabel 9 dan gambar 12 terlihat bahwa media MS menunjukkan persentase eksplan berakar dan jumlah akar terbanyak dibanding media yang telah diberi perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk pembentukan akar pada eksplan yang telah dikulturkan tanpa pemberian sitokinin lebih baik bila dibandingkan perlakuan lainnya karena sel tanaman dapat tumbuh, berkembang dan beregenerasi dalam media tanpa penambahan sitokinin yang biasanya berperan dalam pembentukan tunas.

Pertumbuhan akar pada media kontrol sangat dipengaruhi oleh auksin yang terdapat pada batang eksplan. Selain itu penambahan vitamin B (B1 dan thiamin) dapat memacu pembentukan akar (Salibury and Ross 1992). Dalam kultur jaringan thiamin juga diberikan dalam media.

Eksplan yang tumbuh pada media perlakuan, persentase berakar dan jumlah akar mengalami penurunan terutama pada perlakuan penambahan BAP. konsentrasi BAP 0,50 mg/l hingga 2,00 mg/l memberikan persen berakar dan jumlah akar yang lebih rendah dibanding perlakuan lainnya. Menurut Intania (2005) pemberian BAP cenderung menghambat perakaran. Hal ini terjadi karena pembelahan sel pada meristem-meristem akar terhambat.

4.2.5 Kalus

Kalus adalah sekumpulan sel yang membelah secara tidak teratur. Menurut Gunawan (1987) kalus merupakan satu kumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah dari secara terus menerus. Secara alamiah, kalus dibentuk oleh semua tanaman yang dikulturkan dan sebagai cara perlindungan tanaman terhadap luka yang ditimbulkan akibat proses pemotongan saat persiapan bahan eksplan.

Menurut Fitriani (2005) pengkalusan ini juga terjadi bila tanaman mengalami stress. Selain upaya perlindungan oleh tanaman, pembentukan kalus dapat dipengaruhi oleh bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan, metode budidaya in vitro, dan zat-zat yang ditambahkan pada media dasar (Suryowinoto 1996 dalam Ibrahim dkk 2004).

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan terhadap parameter kalus maka pada minggu pertama kalus sudah terbentuk yaitu pada media yang telah diberikan tambahan BAP, kinetin, dan thidiazuron. Pada akhir pengamatan hampir semua eksplan membentuk kalus. Jumlah paling tinggi dicapai pada perlakuan BAP 1,00 mg/l hingga 2,00 mg/l; kinetin 1,50 mg/l dan 2,00 mg/l; serta thidiazuron 1,00 mg/l-2,00 mg/l, sedangkan pada media kontrol dan media perlakuan tidak terbentuk kalus kecuali pada AdSO4 1,50 mg/l (gambar 13).

Kalus yang dihasikan berada pada bagian pangkal eksplan berwarna putih bening dan hijau. Kalus yang berwarna hijau menunjukkan adanya klorofil dalam jaringan eksplan yang berperan penting untuk proses fotosintesis. Semakin hijau warna kalus pada eksplan, maka semakin tinggi pula kemampuan eksplan untuk berfotosintesis dalam mempertahankan kemampuan hidupnya (Mayasari 2005). Perubahan warna kalus yang hijau menjadi coklat kehitaman sangat terlihat pada akhir pengamatan (gambar 14). Hal ini terjadi disebabkan hilangnya polarisasi yang dapat mendorong pembantukan klorofil dan terjadinya dekomposisi klorofil ( Santoso dan Nursandi 2003).

Gambar 15 Pembentukan kalus pada bagian pangkal eksplan binahong.

Pada beberapa eksplan binahong yang berkalus telah membentuk embiro somatik lalu tumbuh menjadi tunas (gambar 15) tunas yang dihasilkan pada eksplan yang berkalus relatif lebih banyak daripada jumlah eksplan yang tidak berkalus. Pertumbuhan tunas pada eksplan binahong yang berkalus lebih lama, karena eksplan lebih memprioritaskan pada proses penutupan luka dibagian tubuh tanaman untuk menuju pertumbuhan. Menurut Wattimena (1988) umumnya kalus menghasilkan tunas sangat lambat, namun pada beberapa tanaman dan kondisi tertentu yang belum sepenuhnya dipahami memiliki kemampuan tinggi untuk beregenerasi membentuk tunas atau embriosomatik.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pada tahapan sterilisasi dengan menggunakan larutan alkohol 70% menghasilkan persentase tingkat keberhasilan tertinggi yaitu 92,76 % dengan kontaminasi jamur dan bakteri terendah.

2. Pemberian perlakuan beberapa jenis sitokinin (AdSO4, BAP, kinetin dan

Dokumen terkait