• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

B. Munculnya Dikotomi Ilmu dalam Islam

Dikotomi ilmu dalam studi Islam terkait erat dengan pembagian kelompok ilmu Islam dalam pengertian ilmu agama ini berimbas pada kemunculan dikotomi kelembagaan dalam pendidikan Islam. Akibatnya muncul pula istilah sekolah-sekolah agama dan

20

sekolah-sekolah umum. Sekolah agama berbasis ilmu-ilmu “Agama” dan sekolah umum berbasis ilmu-ilmu “Umum”.

Kemunculan dikotomi sekolah umum dan sekolah madrasah yang merupakan perwakilan sekolah agama pada sisi lain merupakan wujud konkret dikotomi dalam pendidikan Islam. Kondisi ini lebih parah dengan dikeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga Menteri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kebudayaan dan Menteri Agama pada tahun 1975 yang telah mempersamakan pedudukan sekolah umum dengan madrasah yang statusnya masih sebagai sekolah agama.

Pengintegrasian ini menimbulkan kesalahpahaman dalam dunia pendidikan. Pendidikan Islam yang bersifat umum disamakan dengan pendidikan agama Islam dalam arti khusus. Akibatnya penunggalan dalam “Pendidikan Islam” makin rancu pada penggunaan istilah bagi semua jenis, jenjang, model, dan bidang studi. Pendidikan Islam yang lebih tepat bagi sebutan institusi yang sebagai bagian dari sebuah institusi. Pendidikan agama Islam yang lebih tepat bagi sekolah umum disebut sebagai pendidikan Islam atau sebaliknya tanpa penjelasan konseptual. Sekolah Islam, madrasah dan pesantren yang tepat disebut pendidikan Agama Islam, atau sebaliknya. Di sekolah ini pun masih terdapat pembelajaran pendidikan agama Islam.21

21

2. Penyebab dan akibat munculnya dikotomi ilmu dalam Islam

Kemunculan dikotomi ilmu Islam dan ilmu umum, menurut Azyumardi Azra yang dikutip oleh Jasa Ungguh Muliawan, bermula dari historical accident atau kecelakaan sejarah, yaitu ketika ilmu-ilmu umum (keduniaan) yang bertitik tolak pada penelitian empiris, rasio, dan logika mendapat serangan yang hebat dari kaum fuqaha.22

Dunia Islam kemudian mengembangkan “ideologi ilmiah” dengan menempatkan seluruh khasanah pemikiran Barat dan Yunani sebagai kebatilan. Jarang ilmuwan muslim berpikiran bahwa dalam beberapa hal, dikotomi ilmu mempunyai sisi baik. Inti dari persoalan keberatan atau tidak setuju keberadaan dikotomi ilmu semacam itu lebih banyak berkaitan dengan persoalan politik.

Bagi umat Islam, lembaga-lembaga pendidikan Islam pada umumnya dijadikan simbol kejayaan Islam. Persoalan pendidikan Islam bukan murni lagi terkait masalah sistem keilmuan, tetapi menyangkut juga ideologi, atau proses ideologisasi. Akibatnya, pemikiran pendidikan Islam secara kefilsafatan juga mengalami ideologisasi ilmiah tersebut. Salah satu faktor mencolok lain penyebab kemunculan dikotomi ilmu adalah fanatisme dalam beragama. Sikap fanatisme dalam beragama dalam kehidupan bermasyarakat

22

melahirkan sikap eksklusivisme. Gerakan Islam termasuk dalam kategori gerakan eksklusif tersebut.23

Secara normatif konseptual dalam Islam tidak dijumpai istilah dikotomi ilmu.24 Jika menoleh pegangan Islam yakni al-Quran dan Hadis tidak ditemukan baik secara tersirat terlebih lagi tersurat menemukan dalil mengenai dikotomi ilmu. Justru sebaliknya Islam mengajarkan untuk menuntut semua cabang ilmu, Allah berfirman dalam QS. al-Mujadalah, 58:11































































yang artinya Hai orang-orang yang beriman apabila kamu

dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka

lapangkanlah niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari firman tersebut sangat jelas bahwa, Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Nabi Saw juga bersabda:

ف ملعلا بلط

ةملسلماو ملسم لك لع ةضر

23 Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam …, 207.

24 Abd. Rahman Assegaf, Pengantar dalam buku Pendidikan Islam Integratif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, vii.

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim (Lelaki maupun perempuan)”. Ini mengindikasikan Islam sangat menjunjung tinggi keutamaan ilmu.

Lantas, mengapa terjadi dikotomi ilmu? Dikotomi dalam pendidikan Islam timbul akibat dari beberapa hal. Pertama, faktor perkembangan pembidangan ilmu itu sendiri, yang bergerak demikian pesat sehingga membentuk berbagai cabang disiplin ilmu, bahkan anak cabangnya. Hal ini menyebabkan jarak ilmu dengan induk, filsafat, dan antara ilmu agama dengan ilmu umum kian jauh. Epistemologi merupakan salah satu wilayah kajian filsafat yang disebut juga dengan fisafat umum (philosophy of knowledge). Epistemologi membahas tentang apa itu “tahu” bagaimana cara mengetahui, untuk apa mengetahui, juga tentang dasar-dasar, sumber, tujuan dan klasifikasi pengetahuan. Dari epistemologi muncullah struktur ilmu pengetahuan sampai ke anak cabang.25 Sebagai contoh, ketika filsafat sebagai induk segala ilmu mengalami pembidangan dalam struktur ilmu, termasuk dalam hal ini adalah ilmu pendidikan, disiplin ilmu pendidikan terpecah menjadi cabang ilmu yang makin spesifik: teknologi pendidikan, psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan, dan seterusnya. Kemudian cabang ilmu pendidikan tersebut pecah lagi

25

menjadi anak cabang, semisal perencanaan pendidikan perencanaan kurikulum, strategi belajar mengajar dan seterusnya.26

Kedua faktor historis perkembangan Islam ketika mengalami stagnan atau kemunduran sejak abad pertengahan (tahun 1250-1800M), yang pengaruhnya bahkan masih terasa sampai kini atau meminjam istilah Azyumardi Azra, hal ini disebabkan karena kesalahan sejarah (historical accident). Pada masa ini, dominasi fugaha dalam istilah Islam sangatlah kuat, sehingga terjadi kristalisasi anggapan bahwa ilmu agama tergolong fardu’ain atau kewajiban individu, sedangkan ilmu umum termasuk fardu kifayah atau kewajiban kolektif.27

Ketiga faktor internal kelembagaan pendidikan Islam yang kurang mampu melakukan upaya pembenahan dan pembaruan akibat kompleksnya problematika ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya yang dihadapi umat dan Negara yang berpenduduk mayoritas Islam.28

Sedangkan secara jelas Azyumardi Azra menyebutkan bahwa permasalahan dikotomi pendidikan (ilmu) pertama berkaitan dengan situasi objektif pendidikan Islam, yaitu adanya krisis konseptual baik itu pada tataran epistemologinya. Krisis konseptual tentang definisi atau terjadinya pembatasan ilmu-ilmu dalam sistem pendidikan Islam

26 Abd. Rahman Assegaf, Pengantar dalam Buku Pendidikan Islam Integratif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, vii.

27Abd. Rahman Assegaf, Pengantar dalam Buku Pendidikan…, viii. 28 Abd. Rahman Assegaf, Pengantar dalam Buku Pendidikan …, ix.

itu sendiri atau melihat konteks Indonesia adalah Sistem Pendidikan Nasional. Kedua adalah krisis kelembagaan, hal ini berkaitan dengan permasalahan yang pertama. Krisis kelembagaan ini adalah adanya dikotomisasi antara lembaga-lembaga pendidikan yang menekankan pada salah satu aspek dari ilmu-ilmu yang ada, apakah ilmu-ilmu agama ataukah ilmu-ilmu umum. Keadaan ini jelas terefleksi di Indonesia, misalnya dengan adanya dualism system pendidikan, pendidikan agama yang diwakili madrasah dan pesantren dengan pendidikan umum. Mulai dari tingkat dasar (Madrasah Ibtidaiyah) sampai ke tingkat pendidikan tinggi terdapat IAIN dan perguruan tinggi umum.29

3. Mengintegrasikan ilmu umum dan agama

Selain di dunia Barat dikotomi yang sama sebenar juga terjadi di dunia Islam. Akan tetapi hal itu berbeda dengan terjadinya di Barat yang menolak penyatuan (integrasi), di Islam sebaliknya diupayakan tumbuhnya penyatuan ilmu, sehingga tidak ada lagi dikotomi. Prinsipnya tidak adanya tidak adanya dikotomi dalam Islam ini, sebenarnya dapat juga dilihat dalam al-Quran, misalnya kata ilmu dalam berbagai bentuk terulang 854 kali. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang berbentuk dari akar katanya mempunyai arti kejelasan. Perhatikan kata ‘alam (bendera),

29 Azyumardi Azra, Paradigma Pendidikan Baru Pendidikan Nasional, Jakarta: Buku Kompas, 2002, 114-116.

‘ulmat (bibir sumbing), ‘a’alam (gunung-gunung), ‘alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Sekalipun demikian, kata ini berbeda dengan’arafa (mengetahui), a’rif (yang mengetahui) dan ma’rifah (pengetahuan).30 Sehingga wajarlah dari penjelasan diatas Islam agama yang rahmat untuk seluruh alam tidak pernah membedakan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Persoalan pengategorian kelompok ilmu umum dan ilmu dalam Islam, umumnya muncul lebih didorong atas kepentingan politik. Hal ini terlihat menonjol dengan kemunculan alasan akumulasi kuantitatif wilayah dan filsafat lebih banyak dipelajari di Negara-negara Barat dan agama dipelajari di Negara Timur, maka pertentangan ini menjadi dua pertentangan dua kelompok ilmu dengan istilah “Barat” dan “Timur”. Dalam pandangan Islam, bukan berarti “Barat”

kedudukannya lebih tinggi dari “Timur” atau sebaliknya.31

Integrasi ilmu agama dan umum hakikatnya adalah usaha menggabungkan atau menyatupadukan ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu-ilmu pada kedua bidang tersebut. Integrasi kedua ilmu tersebut merupakan sebuah keniscayaan tidak hanya untuk kebaikan umat Islam semata, tetapi bagi peradaban umat manusia seluruhnya, karena dengan integrasi, ilmu akan jelas terarah, yakni mempunyai ruh yang jelas untuk selalu mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan dan

30

M Quraish Shihab, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Ummat, Bandung: Mizan, 2007, 434-435.

31 Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005,211.

kebajikan jagat raya, bukan malah menjadi alat dehumanisasi, eksploitasi dan desruksi alam. Nilai-nilai itu tidak bisa tercapai bila dikotomi ilmu masih ada seperti saat ini.

Integrasi ilmu bukan hanya tuntutan zaman, tetapi legitimasi yang kuat secara normatif dari al-Quran dan hadits serta secara historis dari perilaku para ulama Islam yang telah membuktikan sosoknya sebagai ilmuwan integratif yang memberikan sumbangan luar ilmuwan integratif yang memberikan sumbangan luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia.32

Dalam pandangan penulis untuk mewujudkan madrasah yang berkualitas, salah satunya dengan mensinergikan dengan mengintegrasikan materi yang sifatnya umum dengan nilai-nilai Islam. Itulah yang memberikan nilai lebih dan menjadi karateristik madrasah dari lembaga lainnya, sehingga siswanya tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga emosi dan spiritualnya, dengan harapan menjadi insan-insan muslim yang berkualitas dan berakhlak.

C. Hubungan Islam dalam Pembelajaran Sains

Dokumen terkait