• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHIDUPAN POLITIK KAMPUS Di YOGYAKARTA TAHUN 1966-1969

PERISTIWA 2 MARET 1969 DAN AKIBAT YANG DITIMBULKAN

A. Munculnya Peristiwa 2 Maret 1969 Di Yogyakarta

Didalam negara berkembang, perguruan tinggi mempunyai kedudukan penting untuk membantu pembangunan nasional. Berkaitan dengan kenyataan tidak ada satu bangsa dapat mencapai dan mempertahankan tingkat kemajuan pembangunan tanpa memiliki komponen kesarjanaan. Oleh sebab itu, perguruan tinggi di negara berkembang menyerap pengetahuan dari luar dan mengembangkan pengetahuan setempat untuk digunakan sebagai dasar kemampuan pembangunan. Perguruan tinggi merupakan lembaga sentral mengakumulasi dan menciptakan pengetahuan sebagai pusat kegiatan intelektual, penyebarluas pengetahuan mahasiswa dan masyarakat. Gerakan mahasiswa khususnya Dewan Mahasiswa UGM cenderung mengarah langsung pada kekuasaan, militer mulai dipandang sebagai lawan. Kelompok mahasiswa umumnya mempunyai kesempatan politik lebih tinggi dari pada masyarakat umum. Kesempatan ini menjadi modal mendorong kekuatan-kekuatan dalam masalah melibatkan perpolitikan.57

Militer muncul sebagai pimpinan politik modern di negara-negara timur, kelompok sosial paling kuat memonopoli kekuasaan di masyarakat. Militer

57

Hariman Siregar, Hati Nurani Seorang Demonstran. (Jakarta : Mustika Utama, 1994), hal 158.

menjadi golongan saingan, dan makin lama menjadi tantangan bagi kaum inteligensia sipil.58

Latarbelakang kondisi perkuliahan dan pengajaran kurang memadai serta munculnya tangsi-tangsi militer di kota Yogyakarta berdampak sosiologis menyimpan potensi konflik kesatuan militer dengan masyarakat maupun kesatuan militer dengan kesatuan lain termasuk dengan mahasiswa. Berdirinya pusat AAU di Maguwo59 menyimpan potensi konflik. Pada tanggal 9 April 1960 di Lanuma Adisutjipto diadakan upacara peletakan batu pertama pendirian gedung Akademi Angkatan Udara. Lanuma Adisutjipto60 menjadi tempat pendidikan para calon perwira Angkatan Udara. Pada tahun 1965 tempat pendidikan diresmikan menjadi Akademi Angkatan Udara (AAU) dengan semboyan “Vidya Karma Vira

58

Harry J. Benda,”Kaum Inteligensia Timur Sebagai Golongan Elite Politik”, dalam Sartono Kartodirdjo (eds). Elite Dalam Perspektif Sejarah. (Jakarta: LP3ES, 1981), hal 154.

59

Maguwo merupakan Operational Base/ Operasi Pemboman pertama dilancarkan serangan terhadap sasaran kedudukan Belanda pada pagi hari tanggal 29 Juli 1947.www.tni/au.co.id diakses tanggal 20 Maret 2010, pukul 19.50 WIB.

60

Sekolah penerbangan Indonesia dimulai sebelum perang. Pada 1 Agustus 1921 pemerintah Belanda dibuka sekolah penerbangan pertama di Indonesia di Kalijati Subang, Jawa Barat: Sekolah Penerbangan Kalijati. Pada 1 Januari 1940, institusi menjadi Penerbangan Militer (Militaire Luchvaart). Terdapat seorang warga pribumi, lulusan Militaire Academy Breda (Belanda), Letnan R. Suryadi Suryadarma. Penerbang pengintai ditugaskan menjadi instruktur di Sekolah Penerbang Kalijati.

Pada 1939 Sekolah Penerbang digabungkan dengan Sekolah Pengintai di Lapangan Andir Bandung. Direkrut 10 siswa –5 orang berhasil mencapai Kleine Militaire Brevet (KMB), antara lain Husein Sastranegara, Sulistio, dan H. Sujono; 2 orang mencapai Groote Militaire Brevet (GMB), Adisutjipto dan Sambudjo Hurip, dan 3 orang kena grounded. Penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Pemerintah RI, Pangkalan Udara Andir membuka Sekolah Penerbang Lanjutan (SPL) pada 1950, menghasilkan 3 angkatan. Angkatan pertama,1950: 10 penerbang militer dan 11 penerbang sipil. Diantara ada Rusman Nurjadin (Gubernur AAU tahun 1969). Angkatan kedua, 1952, meluluskan 16 penerbang antara lain, Ashadi Tjahjadi, Sompil Basuki, dan Suwoto Sukendar. Angkatan ketiga 8 orang, antara lain, Nurtanio dan Supadio. Akademi Angkatan Udara dimulai sejak didirikan Lembaga Pendidikan Perwira TNI AU di Maguwo, Yogyakarta, di tahun kemerdekaan RI. Akhir Desember 1945, Komodor Udara Suryadi Suryadarma merencanakan pembentukan personil AU, diserahkan Agustinus Adisutjipto. Hasibuan, Imran. & Abriyanto, M., & Djunaedi, Purwadi, Elang dan pejuang tanah air : biografi Marsekal (Purn.) Roesman Nurjadin, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal 22.

Pakca”.61 Untuk panggilan para Taruna Akademi Angkatan Udara diubah menjadi “Karbol”.62 Tanggal 5 Oktober 1966, Lembaga-lembaga pendidikan militer yaitu: Akademi Militer Nasional (AMN), Akademi Angkatan laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Kepolisian (AAK) diintegrasikan menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).63 Dengan demikian sebutan Akademi Angkatan Udara menjadi AKABRI Bagian Udara. AKABRI pada tahun awal berdiri memiliki rencana menambah fasilitas Pangkalan Udara Gading di Wonosari Gunung Kidul.

Disamping itu pihak AKABRI berhasil mendirikan museum Pimpinan Angkatan Udara V (Pangkowilu), tanggal 4 April 1969 diresmikan berdirinya

61

Wawancara dengan Kapten Sus Hamdi Londong pada 1 Maret 2010. 62

Wawancara dengan Marsekal Muda TNI Purn Lambert F Silooy pada 1 Maret 2010.

63

http://tni-au.mil.id:8080/kotama/riwayatmu-doeloe-halaman-2 diakses tanggal 20 Februari 2010, pukul 20.35 WIB.

Sumber. Http/ tni-au/co.id Sumber. Http/ tni-au/co.id Gambar.3.1 Pangkalan Udara

Gading di Wonosari GunungKidul

Gambar.3.2 Lapangan Terbang Gading dengan panjang R/W1200 M

Museum Pusat Angkatan Udara Roesman Nuryadin.64 Museum ini menjadi cikal bakal museum Dirgantara Mandala.65

Gerakan mahasiswa di Indonesia tidak berbeda dengan gerakan mahasiswa pada umumnya dibeberapa belahan dunia. Gerakan mahasiswa didominasi para pemuda yang memiliki watak perubahan. Lahirnya gerakan mahasiswa tidak dengan perencanaan matang, melainkan momentum politik di Indonesia. Pembuktian gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks zaman, memberikan kesimpulan gerakan dalam orientasi dan tindakan politik. Mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struktural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik cermin dari mahasiswa Indonesia memahami masyarakat, menentukan pemihakan dan kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologi.

Perubahan cepat penguasa orde baru berhasil memanfaatkan potensi ekonomi dan penerapan pendekatan kekuasaan. Bidang politik, menjalankan kebijakan pembangunan nasional, menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan Universitas Gadjah Mada menjelang tahun 1970-an. Kebijakan pembangunan dilakukan masa orde baru meninggalkan kemampuan ekonomi sebagian penduduk dan pemerintah untuk membiayai pendidikan. Pengaruhnya,

64

Sejak dikeluarkannya Instruksi Menteri / Panglima Angkatan Udara No. 2 tahun 1967 tanggal 30 Juli 1967 tentang peningkatan kegiatan bidang sejarah, budaya dan Museum Angkatan Udara, Atas dasar pertimbangan tersebut, maka Kepala Staf TNI Angkatan Udara mengeluarkan keputusan No. Kep / 11 / IV / 1978 tanggal 17 April 1978 menetapkan bahwa Museum Pusat AURI yang semula berkedudukan di Jakarta dipindahkan di Yogyakarta, diintegrasikan dengan Museum Pendidikan/ Karbol menjadi Museum Pusat TNI Angkatan Udara dengan memanfaatkan gedung Link Trainer di kawasan kesatrian AKABRI Bagian Udara.

Operasi boyong perpindahan benda-benda koleksi museum dari Museum Pusat AURI di Jakarta (AKABRI Bagian Udara) November 1977. Dalam langkah penyempurnaan pemindahan berdasarkan Keputusan Kasau No. Skep/04/IV/1978 tanggal 17 April 1978, dilengkapi dengan nama Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala”. www.tni/au.co.id diakses tanggal 20 Maret 2010, Pukul 19.50 WIB.

65

animo memasuki perguruan tinggi semakin besar dan operasionalisasi kegiatan pendidikan di perguruan tinggi dibandingkan pada masa sebelumnya belum mengalami perbaikan secara optimal.

Perkembangan kekuasaan negara mulai memperlihatkan konsentrasi presiden Soeharto, Golkar, Militer.66 Timbul konsentrasi kekayaan dan modal pada kelompok tertentu, serta ketimpangan masyarakat ditengah-tengah pertumbuhan ekonomi menyebabkan letupan-letupan perlawanan dari dalam kampus. Sebagian besar mahasiswa Universitas Gadjah Mada berasal dari daerah perkotaan, adanya sekitar 30% mahasiswa berasal dari daerah pedesaan menunjukkan Universitas Gadjah Mada menjadi tujuan utama sebagaian besar lulusan sekolah menengah atas berasal dari keluarga kelas bawah yang ingin melanjutkan ke perguran tinggi karena rendahnya biaya hidup di Yogyakarta dan biaya kuliah di Universitas Gadjah Mada dibandingkan dengan kota-kota lain.67

Universitas Gadjah Mada telah berkembang sebagai perguruan tinggi yang memiliki 13 fakultas dengan hampir sepuluh ribu orang mahasiswa. Perkembangan mencapai puncak pada tahun 1969, pendidikan tinggi di Univesitas Gadjah Mada diselenggarakan di 18 fakultas. Kecemburuan sosial memuncak pada bulan Maret 1969 di Yogyakarta.

Sekian persoalan timbul pada tahun 1969 di Kota Yogyakarta, peristiwa yang terjadi tanggal 2 Maret 1969 Jam 18.30 di Yogyakarta atau disebut dengan “Tragedi Peristiwa 2 Maret 1969 Yogyakarta” peristiwa diawali dengan kejadian bentrok antara 2 orang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

66

Harold Crouch, Militer dan politik di Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1999), hal 56. 67

Sahid Susanto dan Bambang Purwanto. Universitas Gadjah Mada Dari Masa Ke Masa Menuju Otonomi Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: UGM Press, 2001), hal 8.

dengan Karbol AKABRI bagian Udara.68 Dimulai dengan umpatan mencela dari mahasiswa Fakultas Teknik69 Universitas Gadjah Mada oleh I. Suparjana dan Sajono secara spontanitas menimbulkan kemarahan dari karbol AKABRI bagian Udara.70 Umpatan-umpatan para mahasiswa merupakan sikap mencela terhadap simbol pemerintah.

Gambar.4.1 Logo AAU

Sumber. Http/ tni-au/co.id

Orientasi diambil untuk memihak atau melawan pemerintahan tergantung dari para intelektual memiliki kesempatan untuk masuk kedalam kehidupan professional. Sebab, semenjak tahun 1960-an hingga 1968 pengangguran intelektual tinggi, dan membesar seiring berkembang pendidikan di Indonesia.

68

Akademi Angkatan Udara dimulai sejak didirikannya Lembaga Pendidikan Perwira TNI AU di Maguwo, Yogyakarta, di tahun kemerdekaan RI. Akhir Desember 1945, Komodor Udara Suryadi Suryadarma merencanakan pembentukan personil AU, kemudian diserahkan kepada Agustinus Adisutjipto. Ksatrian AAU meliputi area seluas 69 hektar terletak ± 315 kaki diatas permukaan laut, dan berada 10,3 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Suasana lingkungan Ksatrian dengan pepohonan dan taman yang ditata menjadikan Komplek Ksatrian AAU sebagai tempat yang nyaman dan asri. www.tni/au.co.id diakses tanggal 20 Maret 2010, pukul 19.50 WIB.

69

Fakultas Teknik merupakan salah satu fakultas pertama dimiliki UGM. Fakultas ini pada mulanya memiliki 3 jurusan yang pada waktu itu di kenal dengan bagian, yaitu Jurusan Teknik Sipil, Teknik Kimia serta Teknik Mesin dan Listrik. Pada tahun 1950, Jurusan Teknik Mesin dan Listrik pada fakultas ini dibekukan. Sahid Susanto dan Bambang Purwanto.op.cit,.hal.45.

70

Terjadi ketidakseimbangan antara lowongan kerja dengan jumlah universitas. Besarnya pengangguran intelektual, kalangan intelektual jauh dari kekuasaan dan semakin cenderung mengkritik pemerintahan.

Anggota AKABRI bagian Udara memiliki postur kekar, lebih leluasa untuk melakukan pemukulan terhadap 2 orang mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Mahasiswa UGM terluka cukup parah. Pemukulan mahasiswa terjadi tepat di depan Gedung Senisono Yogyakarta.71

Para karbol AKABRI bagian Udara melakukan pemukulan terhadap mahasiswa, meminta kartu identitas diri para mahasiswa. Mahasiswa memberikan kartu identitas diri, para karbol balik ke kamp. Pemukulan tidak berakhir, 2 karbol melakukan pemukulan mengajak karbol lain dalam jumlah banyak untuk mendatangi rumah dan mengambil 2 mahasiwa, I. Suparjana dan Sajono. Kedua mahasiswa naik bus bersama dengan karbol-karbol dalam rombongan dan mendapat perlakuan pemukulan kembali.72

Pasca kejadian pemukulan, mahasiswa datang ke Lanuma Adi Sucipto, Yogyakarta dan mendapat nasehat. Pemberitaan tadi para mahasiswa ditingkat organisasi kampus menyesalkan peristiwa itu terjadi. Para mahasiswa dari organisasi kampus UGM mendapat informasi langsung dari I. Suparjana dan Sajono. Pengurus dari DEMA (Dewan Mahasiswa) Fakultas Teknik menilai keduanya mendapat perlakuan tidak tepat. Dewan mahasiswa merupakan lembaga kemahasiswaan berperan dalam menggalang komunikasi antar universitas diberbagai kota besar dalam berbagai demonstrasi di Indonesia.

71

Wawancara dengan Marimin pada 20 September 2009. 72Suara Merdeka, 12 Mei 1969.

Para mahasiswa organisasi ditingkat fakultas berkoordinasi dengan tingkat universitas dikoordinator didalam DEMA yang dipimpin oleh Sutomo Parastho. Terjadi koordinasi baik dengan pihak organisasi universitas Ketua Dewan Mahasiswa beserta anggota dari pengurus DEMA Fakultas Teknik UGM meminta nasehat dosen-dosen dan menghadap kepada rektorat dipimpin oleh Soeroso H. Prawirohardjo memiliki masa jabatan sebagai petinggi kampus hingga masa periode 1968-1973.73

Pihak universitas diwakili Soeroso H Prawirohadjo merasa ikut prihatin akan insiden dialami oleh kedua mahasiswa. Kadema Fakultas Teknik secara langsung menegaskan diri untuk menghadap gubernur AKABRI bagian Udara tepat pada tanggal 14 April 1969. Pada kesempatan tersebut menyampaikan maksud tujuan kedatangan menuntut keadilan hukum atas tindakan 2 karbol dari AKABRI bagian Udara. Oleh Gubernur AKABRI tindakan perlu klarifikasi lebih detail untuk menyelesaikan masalah dengan mengumpulkan data-data otentik terlebih dahulu sebelum menanggapi peristiwa pada 2 Maret 1969 dilakukakan karbol AKABRI bagian Udara tersebut.

Diangg

73

Soeroso H Prawirohardjo atau sering di panggil dengan Pak Soeroso lahir di Semarang pada tanggal 16 Maret 1935. Rektor UGM yang beristerikan Wahyuningdyah dengan tiga orang anak ini menyelesaikan pemdidikan SD tahun 1948, SMP tamat tahun 1952 dan SMA selesai pada tahun 1955 selesai menyelesaikan pendidikan di SMA, Soeroso kemudian memasuki Perguruan Tinggi di UGM dan memperoleh gelar sarjana dalam bidang Hukum Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada tahun 1960. Pendidikannya di teruskan di University Of Pittssburg USA dan memperoleh Gelar Master of Art pada tahun 1962. Riwayat pekerjaannya adalah menjabat sebagai asisten di Fakultas Sosial dan Politik UGM tahun 1959-1963. Pada tahun 1963 diangkat sebagai Lektor muda dan selanjutnya sebagai Lektor mulai akhir tahun 1966. Kariernya mulai meningkat ketika diangkat menjadi Dekan Fakultas Sosial dan Politik UGM di tahun 1966-1968. Pada tanggal 28 September 1966-1968. Soeroso di angkat menjadi Rektor UGM. Lihat Sahid Susanto dan Bambang Purwanto, Rektor-Rektor Universitas Gadjah Mada : Biografi Pendidikan, (Yogyakarta; UGM Pers, 2002), hal 76.

ap oleh Dewan Mahasiswa sebagai kelambanan dalam merespon situasi, Dewan Mahasiswa Fakultas Teknik UGM tidak hanya berusaha lewat cara tersebut. Dengan cara lain diharapkan mendapat respon pun para mahasiswa lakukan. Dengan cara pernyataan pers berhasil dimuat di surat-surat kabar Yogyakarta. Berita penyebarluasan itu mengakibatkan seluruh masyarakat Yogyakarta mengetahui peristiwa tersebut.

Para orang tua mahasiswa menyatakan ikut keprihatinan terhadap masalah di hadapi pemuda-pemuda. Kondisi secara tidak langsung beban mahasiswa terlalu berat disamping faktor ekonomi juga dipukuli oleh karbol AKABRI bagian Udara. Tuntutan dari mahasiswa untuk mengklarifikasi. Pihak AKABRI mengundang para wartawan surat kabar yang berada di Yogyakarta. Siaran pers diwakili oleh Gubernur AKABRI bagian udara Komodor Rusman.74 Komodor Rusmanpun akhirnya menyampaikan pernyataan.75

Gambar 5.1

Photo Diri Komodor Roesman.

74

Laksamana Udara Roesman Noerjadin menjabat mulai 31 Maret 1966 sampai 10 November 1969.http://tni-au.mil.id:8080/kotama/riwayatmu-doeloe-halaman-2 diakses tanggal 20 Februari 2010, pukul 20.15 WIB.

75

Sumber : Http://Tni-Au/Riwayatmu-Doeloe

Pernyataan terkait dengan Peristiwa 2 Maret bersamaan dengan pemberitaan terkait penjelasan tentang peristiwa kecelakaan dialami oleh pesawat terbang milik Angkatan Udara saat melakukan latihan. Peristiwa terjadi tanggal 11 April 1969, tiga hari sebelum kedatangan mahasiswa ke Lanuma untuk menanyakan penyelesaian 2 Maret 1969 di Yogyakarta. Terjadi pada jam 23.15 WIB mengakibatkan kerugian-kerugian dipihak AKABRI dan masyarakat berupa 2 orang AKABRI bagian Udara tewas dan sebuah pesawat T-34 hancur, 4 orang penduduk dari masyarakat tewas, 1 orang luka berat dan sebuah rumah hancur.

Mengenai Peristiwa 2 Maret 1969 , menurut Komodor Rusman

“Kenakalan anak-anak dan merupakan peristiwa perdata. Inisiden yang dialami mahasiswa semacam ini hanyalah perkelahian antara orang-orang muda dan apapun alasannya seringkali terjadi”76

Penjela san tersebut dinilai tidak memuaskan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada, mahasiswa menilai tindakan Taruna AKABRI bagian Udara adalah main hakim sendiri dan perselisihan tidak diselesaikan dengan main hakim sendiri melainkan dengan cara damai atau dibawa Pengadilan. Pemberitaan simpang siur itu menimbulkan kemarahan mahasiswa.77

Rasa tidak puas tidak selalu menimbulkan keinginan akan perubahan dalam bentuk aksi, sumber daya politik diperlukan untuk menerjemahkan

76Mertju Suar, 8 Mei 1969. 77

ketidakpuasan atau kemarahan menjadi aksi.78 Dipihak mahasiswa mendengar pernyatan Komodor Rusman, pimpinan mahasiswa dimotori oleh Dewan Mahasiswa melakukan koordinasi bersama dengan Kadema ditingkat fakultas beserta organisasi ekstra kampus, HMI dan GMNI.

Keadaan berlangsung terus tanpa adanya penilaian tepat, aktivitas gerakan mahasiswa menjawab krisis kepercayaan. Pasca pengklarifikasian peristiwa 2 Maret 1969 di Yogyakarta adalah gejala mengarah pada pembentukkan format gerakan mahasiswa lebih tajam dan radikal.

B. Aksi

Demonstrasi Mahasiswa dan Tuntutannya

Perjalanan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa memberikan kontribusi besar dalam semua aspek kehidupan, resiko ditimbulkan tidak ternilai secara materi. Berbeda pola umum menyalurkan dinamika sosial melalui lembaga politik mapan, gerakan mahasiswa cenderung melakukan melalui protes. Baik berbentuk kritik sosial secara umum, seperti mimbar bebas dan puisi protes, maupun sikap, ditandai aksi-aksi jalanan dan penyampaian sikap terhadap lembaga politik dan kekuasaan. Perilaku tersebut oleh komunitas mahasiswa disebut demokrasi atau demo, oleh penguasa disebut unjuk rasa.79

Unjuk rasa dikenal sebagai satu bentuk partisipasi politik. Gabriel A.Almond mengkatagorikan unjuk rasa sebagai bentuk partisipasi politik non

78

Eric Hoffer, Gerakan Massa ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), hal 25. 79

M.T.Arifin, “Arah Gerakan Aksi Protes Mahasiswa: Perspektif Sosiopolitik Pasca 1980-an”, dalam Anyar Stone (ed.), Mendayung Diantara HAM dan Demokrasi (Solo: Ramdhani, 1995), hal 95.

konvensional,80 dan membedakannya dengan partisipasi politik konvensional, seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, diskusi politik, kampanye, membentuk dan bergabung dengan kelompok kepentingan serta berkomunikasi secara individual dengan pejabat politik dan administratif. Bentuk partisipasi politik berwujud demonstrasi, protes, dan tindak kekerasan dipergunakan oleh orang untuk mempengaruhi kehidupan politik dan kebijakan pemerintah, apabila bentuk-bentuk aktivitas lain tidak dapat dilakukan atau nampak tidak efektif.

Memahami unjuk merupakan bentuk aktualisasi politik dilakukan dalam praktek politik di negara demokratis.81 Unjuk rasa, satu bentuk ekspresi politik masyarakat semestinya diterima dan diakomodasi dalam proses politik dan pemerintahan. Dapat dipandang sebagai prematur dari aktualisasi lain, yaitu gerakan massa.82

Demonstrasi bukan soal baru di Indonesia dan fenomena aktivitas politik modern bersifat non parlementer. Demonstrasi berbentuk aksi di pabrik-pabrik, di halaman atau lobbi gedung Dewan Perwakilan Rakyat dan institusi-institusi pemerintah, dan berbentuk aksi turun ke jalan. Diantaranya ada di Yogyakarta melibatkan mahasiswa khususnya UGM pada peristiwa 2 Maret 1969 di Yogyakarta. Pada bulan Mei 1969, pecahlah gelombang demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh mahasiswa, menuntut agar meminta pertanggung jawaban dari pihak AKABRI.

80

Gabriel A. Almond, “Sosialisasi, Kebudayaan dan Partisipasi Politik”, dalam Mohtar Mas’oed dan Colin Mc Andrews, Perbandingan Sistem Politik (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990), hal 46-47.

81

Eep Saefulloh Fatah,” Unjuk Rasa, Gerakan Mahasiswa Dan Demokrasi: Potret Pergeseran Politik Orde Baru,”dalam Prisma, No.4, April 1994, hal 3-6.

82

Perjuangan politik para mahasiswa menentang ketidakadilan hukum dan mengoreksi ketidakmerataan ekonomi. Berbagai cara dapat dilakukan mahasiswa dan digunakan untuk mendukung atau melawan kekuasaan. Cara-cara itu antara lain ialah petisi, demonstrasi, pemogokan bahkan aksi massa. Para mahasiswa dibandingkan dengan intelektual lebih mempunyai keahlian sebab dekat dengan rakyat. Kekuatan mahasiswa sanggup bergerak cepat, berkat jaringan komunikasi aktif.

Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, aktif dan merespon cepat terkait dengan perubahan ataupun gejolak dari masyarakat. Adanya permasalahan sosial dari pengangguran, ketidakmerataan kesejahteraan, bahkan ketidakpastian hukum, Dewan Mahasiswa memulai sikap profokatif bersamaan dengan muncul kesadaran sosial.

Mahasiswa diorganisir oleh organisasi mahasiswa Dewan Mahasiswa dan Majelis Mahasiswa sebagai lembaga mempersatukan berbagai potensi dan kekuatan mahasiswa untuk menentang kebijakan pemerintah.83 Pada umumnya mahasiswa melakukan aksi demonstrasi bila ketidakpuasan mahasiswa terjalin dengan keresahan masyarakat. Jalinan ketidakpuasan disusun berdasarkan ideologi yang menajamkan ketidakpuasan.84

Tindakan kekecewaan dan penyesalan menimbulkan sikap protes terhadap peristiwa dan cara penyelesaiannya, maka para mahasiswa Universitas Gadjah Mada protes dengan melakukan demonstrasi dilakukan oleh sekitar 3000

83

Muchtar E. Harahap dan Andris Basril, Gerakan Mahasiswa Dalam Politik Indonesia

(Jakarta: Network For South East Asian Studies, NSEAS, 1999), hal 228. 84

Philip G. Albath (ed), Politik Dan Mahasiswa: Perspektif Dan Kecenderungan Masa Kini, (Jakarta: Gramedia, 1988), hal xii.

mahasiswa dari beberapa fakultas di UGM dan element organisasi kemahasiswaan. Bahkan dapat dikatakan kondisi sebelumnya Universitas besar di Indonesia telah menjadi semacam Universitas Massa.85 Pada tahun 1969, jumlah mahasiswa di Universitas Gadjah Mada mencapai lebih dari 15.000 orang. Hari Sabtu 10 Mei 1969 awal aksi demonstrasi dari markas DEMA Universitas UGM dipimpin oleh Sutomo Parastho dari kampus UGM fakultas HSEP (Hukum, Sosial, Ekonomi, Politik) bertepat di Pagelaran, demonstrasi dimulai jam 09.30 ribuan mahasiswa berkumpul di tanah lapang Alun-Alun, akan aksi demonstrasi tersebut mengakibatkan tak seorang pun karbol AKABRI bagian udara berada di tengah kota Yogyakarta. Gerakan massa mahasiswa turun ke jalan merupakan cara untuk mendorong tuntutan. Keprihatinan mahasiswa akan keadaan sosial ekonomi yang sedang dialami serta kekhawatiran akan masa depan membangkitkan mahasiswa untuk menentukan penilaian, sikap dan gerakan korektif-kolektif.

Para karbol AKABRI bagian Udara Yogyakarta tidak boleh masuk ke kota Yogyakarta akibat peristiwa Pemukulan 2 Maret 1969 di Yogyakarta, menimbulkan tindakan demonstrasi mahasiswa UGM di sepanjang Malioboro86 masih twice traffic. Di tempat-tempat sering dikunjungi karbol berderet-deret pemuda dan mahasiswa, umumnya adalah mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada.87

85

Robert Brym, Intelektual dan Politik, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), hal 25. 86

Jalan Malioboro merupakan jalan yang membujur dari Utara ke Selatan menghubungkan antara Tugu dan Kraton Yogyakarta. www.wikipedia.com.

87

Meningkatnya jumlah mahasiswa dalam aksi demonstrasi, mendapat tantangan dari ABRI Angkatan Darat, dari Komando Resort Militer (Korem) 072 Yogyakarta. Dengan dasar masih berlakunya SOB (Negara Dalam Keadaan Bahaya) di Jawa Tengah dan Yogyakarta maka dari pihak ABRI Angkatan Darat melakukan patroli, melarang segala aksi demonstrasi. Larangan berdemonstrasi dan corat-coret serta pemasangan spanduk tanpa ijin yang berlaku disingkirkan.

Mahasiswa terpaksa membubarkan diri bersamaan iring-iringan patroli ABRI, pemimpin mahasiswa memerintahkan para demonstran kembali ke fakultas masing-masing yang tersebar di beberapa daerah Yogyakarta. Perintah dilakukan guna mahasiswa tidak terlibat bentrok terhadap ABRI Angkatan Darat. Dari segi mahasiswa berjumlah ribuan, mahasiswa sama sekali tidak membawa senjata atau pelengkap diri dalam menghadapi tantangan dari pihak keamanan. Pada saat membubarkan diri tersebut terdengar pemuntahan peluru oleh alat-alat negara di Alun-Alun. Mahasiswa berbalik ke kompleks pusat UGM di Bulak Sumur, Kampus Bulaksumur menjadi pusat kegiatan dan simbol Universitas Gadjah

Dokumen terkait