JENIS-JENIS NAJIS 34
4. Muntah 43 , air kencing, kotoran manusia
Para ulama sepakat bahwa semua benda di atas (muntah, air kencing, dan kotoran manusia pada umumnya) adalah najis. Tapi untuk muntah yang sedikit, ia masih dimaafkan. Begitu juga halnya dengan kencing bayi laki-laki yang hanya meminum air susu, cara membersihkannya cukup dengan memercikkan air. Adapun dalilnya adalah hadits Ummu Qais ra., “Dia pernah mendatangi Rasulullah saw. dengan membawa bayi laki-lakinya yang belum memakan makanan apapun. Saat itu, sang bayi kencing di pangkuan beliau. Lalu Rasulullah saw. meminta air dan memercikkannya (an-Nadhu)44 pada pakaian yang terkena kencing bayi, tidak membasuhnya.”45
Ali ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
.
43
Pengarang (Sayyid as-Sabiq) tidak menyebutkan dalil najisnya muntah manusia. Dengan demikian, beliau tidak sependapat dengan Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa muntah manusia adalah suci. Lihat Tamâm al-Minnah : (53).
44 An-Nadhu adalah memercikkan air sebanyak-banyaknnya namun tidak sampai menjadikan air itu mengalir. Makna seperti ini lah yang dimaksud dengan ar-Rasy dalam beberapa riwayat lain.
45
HR al-Bukhari dalam kitab: Al-Wudhû’ , bab. Bawl ash-Shibyân , jilid: I, hal: 65; Muslim dalam kitab: Ath-Thahârah , bab. Hukm Bawl Ath-thifl ar-Râdhi’ wa Kaifuiyah Ghuslih : (102), jilid: I, hal: 237.
”Kencing bayi laki-laki cukup dipercikkan air padanya, sedangkan kencing bayi perempuan hendaknya dicuci.”46
Qatadah berkata, “Kondisi itu selama bayi belum diberi makan. Tetapi, jika sudah diberi makan sebagaimana layaknya orang dewasa, maka kencingnya wajib dicuci.” (
HR Ahmad)
Redaksi hadits di atas sesuai dengan riwayat Imam Ahmad dan Ashhâb as-Sunan kecuali Nasa’i. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab Fath al-Bâri. Sanad hadits ini shahih.
Jadi, cara menyucikan kencing laki-laki yang belum memakan makanan apapun selain air susu ibunya cukup dengan memercikkan air pada tempat yang terkena air kencingnya. Tapi, apabila bayi sudah diberi makan, para ulama sepakat, bahwa air kencingnya harus dicuci (sebagaimana layaknya air kencing orang dewasa). Mungkin salah satu alasan, mengapa air kencing bayi laki-laki cukup hanya dengan memercikkan air padanya adalah, karena banyak orang yang ingin mengendongnya. Sedangkan bayi laki-laki sering kali kencing, sehingga apabila diwajibkan membasuh pakaian yang terkena kencingnya, tentu hal ini akan memberi kesusahan dan kesulitan. Karenanya, jika bayi laki-laki kencing, cara untuk menyucikannya cukup dengan memercikkan air.
7. Wadi
Wadi adalah air berwarna putih kental yang keluar mengiringi air kencing. Para ulama sepakat dan tidak ada perbedaan di antara mereka bahwa wadi hukumnya adalah najis. Aisyah ra. berkata, “Wadi keluar setelah kencing. Karena itu, hendaknya seseorang mencuci kemaluannya, lalu wudhu dan tidak perlu mandi.” (
HR Ibnu Mundzir
)46
HR Abu Daud dalam kitab:Ath-Thahârah , bab. Bawl ash-Shabiyy Yushib At-Tsawb , jilid: I, hal: 262-263; TirmidziTirmidzi dalam Abwâb ash-Shalâh , bab. Mâ Dzukir fî Nadhh Bawl al-Ghulam ar-Radhi’ : (610), jilid: II, hal: 509-510; Ibnu Majah dalam kitab: Ath-Thahârah , bab. Mâ Jâ’a fî Bawl ash-Shabiyy al-Ladzi lam Yuth’im : (527), jilid: I, jlm: 175; Musnad Ahmad , jilid: I, hal: 76. Dan diklasifikasikan sebagai shahih oleh al-Albani dalam Irwâ’ al- Ghalîl , jilid: I, hal: 188-190.
Mengenai air sperma, wadi dan madzi, Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Keluarnya air sperma mewajibkan mandi (besar). Sementara keluarnya madzi dan wadi tidak mewajibkan mandi dan orang yang bersangkutan tetap dalam keadaan suci (dari hadas besar).” (
HR Atsram dan Baihaqi
)Sedangkan redaksi Baihaqi adalah, “ Jika kamu keluar wadi dan madzi, maka cucilah kemaluanmu dan berwudhulah sebagaimanakamu berwudhu untuk mengerjakan shalat.”
8. Madzi
Madzi adalah air berwarna putih berlendir yang keluar akibat mengkhayal bersetubuh atau efek dari cumbu rayu. Terkadang, seseorang tidak merasakan apa-apa pada saat keluarnya madzi. Madzi dapat keluar dari kaum laki-laki dan perempuan, tapi biasanya kaum perempuan lebih banyak mengeluarkan madzi. Para ulama sepakat bahwa madzi hukumnya najis. Dan jika mengenai anggota badan, maka wajib dicuci. Jika terkena pakaian, cara menyucikannya cukup dengan memercikkan air padanya, sebab madzi termasuk bentuk najis yang sulit dihindari. Di samping itu, madzi juga sering dialami para remaja. Karenanya, madzi lebih layak mendapatkan keringanan dibandingkan air kencing bayi laki-laki sekali pun.
Dari Ali ra., ia berkata,
:
.
“ Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Kemudian aku menyuruh seseorang agar menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw.. Karena aku malu bertanya secara langsung, mengingat posisi puterinya (sebagai isteriku.) Ia lantas menanyakan kepada Rasulullah saw. dan beliau menjawab, ‘Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu’!47(
HR Bukhari)
47
HR Bukhari kitab: Al-Ghusl , bab. Ghusl al-Madzi wa Al-Wudhû’ minhu , jilid: I, hal: 76. Muslim kitab: Ath-Thahârah , bab. Al-Madzi , jilid: III, hal: 212. Abu Daud kitab: Ath-
Dari Sahal bin Hanif ra., ia berkata, “Aku sering menghadapi kesulitan dengan seringnya keluar madzi, sehingga aku sering mandi. Akhirnya, aku ceritakan keadaan ini kepada Rasulullah saw.. Beliau lalu bersabda, “Kamu cukup dengan berwudhu’!’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya jika mengenai pakaianku?’ Beliau menjawab , ‘Cukup dengan mengambil air, lalu memercikkannya ke pakaianmu yang terkena madzi’.”48 (
HR Abu
Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Ia berkata, hadits ini hasan shahih.Dalam hadits ini terdapat Muhammad bin Ishaq. Beliau dianggap sebagai perawi yang dha’if, jika meriwayatkan hadits dengan menggunakan redaksi ‘an’ana (dari perawi si fulan, dari perawi si fulan). Sebab, hadits di atas terdapat perawi yang mudallas. Namun, pada konteks ini, ia meriwayatkan hadits dengan redaksi haddatsana (telah bercerita kepada kami), karenanya, ia tidak dianggap sebagai dha’if .
Al-Astram ra. juga meriwayatkan hadits ini dengan redaksi, “Aku banyak menemukan kesusahan karena madzi sering keluar. Lalu aku menemui Rasulullah saw. dan menceritakan masalah yang aku alami. Beliau lantas bersabda , “Kamu cukup mengambil air, lalu memercikkan padanya.”