DAFTAR
DAFTAR ISI
ISI
Pengantar Penerbit ... vii
Pengantar Penerbit ... vii
Pengantar tokoh ... ix
Pengantar tokoh ... ix
Pengantar Penulis ... xii
Pengantar Penulis ... xii
PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... 1... 1
Universalitas dan Tujuan
Universalitas dan Tujuan Syariat Islam
Syariat Islam ...
...
...
...
... 22
Universalitas Risalah Islam ... 2
Universalitas Risalah Islam ... 2
Tujuan Risalah Islam ... 6
Tujuan Risalah Islam ... 6
Penerapan Huku Penerapan Hukum Islam atau Ilmu Fikih m Islam atau Ilmu Fikih ... 7... 7
THAHARAH THAHARAH ... 19... 19
THAHARAH ... 20
THAHARAH ... 20
PEMBAGIAN PEMBAGIAN DAN JENIDAN JENIS AIR S AIR ... 20... 20
Pertama: Air Mutlak ... 20
Pertama: Air Mutlak ... 20
1. 1. Air Air hujan, hujan, salju salju dan dan embun. embun. ... ... 2020 2. 2. Air Air laut. laut. ... ... 2121 3. 3. Air Air zamzam. zamzam. ... ... 2222 4. 4. Air Air yang yang berubah berubah disebabkan disebabkan lama lama tergenang tergenang ... ... 2222 Kedua: Air Musta Kedua: Air Musta’’mal (air yang mal (air yang pernah digunakpernah digunakan) an) ... 22... 22
Ketiga: Ketiga: Air Air yang yang bercampur bercampur dengan dengan benda benda suci suci 23 23 ... Keempat: Air yang bercampur najis ... 24
Keempat: Air yang bercampur najis ... 24
Air Sisa Minuman ... 26
Air Sisa Minuman ... 26 1.
1. Air Air sisa sisa minuman minuman manusia manusia ... .. 26 26 2.
3.
3. Air Air sisa sisa minuman minuman keledai, keledai, burung burung dan dan binatang binatang buas buas ... ... 27 27 4.
4. Air Air sisa sisa minuman minuman kucing kucing ... ... 2828 5.
5. Air Air sisa sisa minuman minuman anjing anjing dan dan babi...babi... ... ... 2929 AN-NAJ
AN-NAJÂÂSAH (NAJIS) ... 29SAH (NAJIS) ... 29
Jenis-jenis Najis ... 30 Jenis-jenis Najis ... 30 1. 1. Bangkai Bangkai ... ... 3030 2. 2. Darah Darah ... ... 3333 3. 3. Daging Daging babi babi ... ... 3434 4. 4. Muntah, Muntah, air air kencing, kencing, kotoran kotoran manusia manusia ... ... 3535 7. 7. Wadi Wadi ... ... 36 36 8. 8. Madzi Madzi ... ... 36 36 9. 9. Sperma Sperma ... ... 3838 10. 10. Kencing Kencing dan dan kotoran kotoran binatang binatang yang yang tidak tidak dimakan dimakan dagingnya dagingnya ... ... 3838 11. 11. Binatang Binatang Jallalah Jallalah ... ... 4040 12. 12. Minuman Minuman keras keras ... ... 4141 13. Anjing 42 13. Anjing 42 Cara Cara Menyucikan MenyucikanBadan dan Pakaian ... 42Badan dan Pakaian ... 42
Cara Menyucikan Tanah ... 43
Cara Menyucikan Tanah ... 43
Cara Membersihkan Mentega dan Sejenisny Cara Membersihkan Mentega dan Sejenisnya a ... 44... 44
Cara Menyucikan Kulit Bangkai ... 44
Cara Menyucikan Kulit Bangkai ... 44
Cara Menyucikan Cermin dan Sejenisnya ... 45
Cara Menyucikan Cermin dan Sejenisnya ... 45
Cara Menyucikan Sandal ... 45
Cara Menyucikan Sandal ... 45
Beberapa Hal yang Sering Dijumpai dalam Kehidupan Sehari-h Beberapa Hal yang Sering Dijumpai dalam Kehidupan Sehari-hari ...ari ... 46... 46
(QADHA (QADHA’’ HAJAT) BUANG AIR ... 48HAJAT) BUANG AIR ... 48
SUNNAH-SUNNAH FITRAH ... 58
SUNNAH-SUNNAH FITRAH ... 58
1.Berkhitan... 58
1.Berkhitan... 58
2.Mencukur bulu kemaluan. ... 59
2.Mencukur bulu kemaluan. ... 59
3.Mencabut bulu ketiak. ... 59
3.Mencabut bulu ketiak. ... 59
4.Memotong kuku. ... 59
4.Memotong kuku. ... 59
5.Memendekkan 5.Memendekkan kumis kumis atau atau menipiskannyamenipiskannya. . ... ... 5959 Memelihara dan Memelihara dan Membiarkan JengMembiarkan Jenggot Hingga Lgot Hingga Lebat. ...ebat. ... 60.. 60
Merapikan Rambut yang Lebat dan Merapikan Rambut yang Lebat dan Panjang, dengan Cara Memberinya Minyak Panjang, dengan Cara Memberinya Minyak atau Menyisirnya. ... 61
atau Menyisirnya. ... 61
Membiarkan Uban dan Tidak Mencabut Membiarkan Uban dan Tidak Mencabutnya nya ... 62... 62
Diperbolehkannya Mengubah Warna Uban dengan Inai.
Diperbolehkannya Mengubah Warna Uban dengan Inai. ... 63... 63
Memakai Min Memakai Minyak Kasturi dayak Kasturi dan Jenis n Jenis Minyak Wangi Minyak Wangi Lainnya Lainnya ... 64... 64
Wudhu ... 66
Wudhu ... 66
Dasar Diberlakukannya Wudhu ... 66
Dasar Diberlakukannya Wudhu ... 66
Keutamaan Wudhu ... 67 Keutamaan Wudhu ... 67 RUKUN WUDHU ... 70 RUKUN WUDHU ... 70 1.Niat. 1.Niat. ... ... 7070 2.Membasuh muka satu kali. ... 70
2.Membasuh muka satu kali. ... 70
3.Membasuh 3.Membasuh kedua kedua tangan htangan hingga ke ingga ke siku. siku. ... 70... 70
4.Mengusap kepala. ... 70
4.Mengusap kepala. ... 70
5.Membasuh kedu 5.Membasuh kedua kaki hina kaki hingga kedua gga kedua mata kaki. .mata kaki. ... 72... 72
6.Tertib 6.Tertib dan dan berurutan. .berurutan. ... .. 7373 SUNNAH-SUNNAH WUDHU ... 74
SUNNAH-SUNNAH WUDHU ... 74
1.Memulai wudhu dengan membaca basmalah. ... 74
1.Memulai wudhu dengan membaca basmalah. ... 74
2. Menggosok gigi atau bersiwak. ... 74
2. Menggosok gigi atau bersiwak. ... 74
3. Mencuci 3. Mencuci kedua telakedua telapak tangan sepak tangan sebanyak tigbanyak tiga kali. a kali. ... 76 ... 76
4.Berkumur-kumur seba 4.Berkumur-kumur sebanyak tiga kali. nyak tiga kali. ... 77 .. 77
5.Memasukkan air ke 5.Memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkannya sebanyak tiga hidung kemudian mengeluarkannya sebanyak tiga kali. kali. ... 77 ... 77
6.Menyela-nyela jenggot. ... 78
6.Menyela-nyela jenggot. ... 78
7.Menyela-nyela 7.Menyela-nyela jari-jari jari-jari tangan datangan dan kakin kaki. . ... 79... 79
8.Membasuh 8.Membasuh sebanyak sebanyak tiga tiga kali. .kali. ... ... 7979 9.Tay 9.Tayâ â mun. ... 80mun. ... 80
10.Menggosok. ... 81
10.Menggosok. ... 81
11.Muw 11.Muwâ â lah. ... 81lah. ... 81
12.Mengusap 12.Mengusap kedua kedua telinga. ...telinga. ... ... 8181 13.Melebihi basuhan dari yang semestinya. ... 82
13.Melebihi basuhan dari yang semestinya. ... 82
14.Mempergunakan air secukupny 14.Mempergunakan air secukupnya, meskipun berwudhu dengan air laut. a, meskipun berwudhu dengan air laut. ... 83... 83
15.Berdoa ketika sedang wudhu. 15.Berdoa ketika sedang wudhu... 84... 84
16.Berdoa setelah wudhu. ... 85
16.Berdoa setelah wudhu. ... 85
17.Mengerjakan shalat dua raka 17.Mengerjakan shalat dua raka’’at setelah wudhu. at setelah wudhu. ............ 86 ... 86
Beberapa Hal yang Perlu Diperha Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berwudhu tikan Saat Berwudhu ... 87.. 87
PERKARA YAN PERKARA YANG MEMBATALKAN WUG MEMBATALKAN WUDHU DHU ... 87... 87
1.Segala sesuatu yang keluar kedua kemaluan ... 88
2.Tidur pulas dan tidak menetap pada duduknya. ... 89
2.Tidur pulas dan tidak menetap pada duduknya. ... 89
3.Hilangnya akal. ... 90
3.Hilangnya akal. ... 90
4.Menyentuh 4.Menyentuh kemaluan kemaluan dengan tanpdengan tanpa penghalanga penghalang. . ... 90... 90
PERKARA YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU PERKARA YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU... 92... 92
1.Menyentuh muhrim perempuan tanpa penghalang ... 92
1.Menyentuh muhrim perempuan tanpa penghalang ... 92
2.Keluar darah yang 2.Keluar darah yang bukan dari kemaluan, baik karena bukan dari kemaluan, baik karena luka, bekam, maupun mimisan,luka, bekam, maupun mimisan, baik darah yang keluar sedik baik darah yang keluar sedikit ataupun banyak. it ataupun banyak. ... 93... 93
3. Muntah baik yang memenuhi mulutny 3. Muntah baik yang memenuhi mulutnya atau tidak. a atau tidak. ... 93... 93
4. Memakan daging unta. ... 93
4. Memakan daging unta. ... 93
5.Adanya sifat ragu dalam diri orang 5.Adanya sifat ragu dalam diri orang yang sudah berwudhu. yang sudah berwudhu. ... 94... 94
6.Tertawa terbahak-bahak. ... 95
6.Tertawa terbahak-bahak. ... 95
7.Memandikan mayat. ... 95
7.Memandikan mayat. ... 95
BEBERAPA PERKARA YANG BERHUBUNGAN BEBERAPA PERKARA YANG BERHUBUNGAN DENGAN WUDHU ... 96
DENGAN WUDHU ... 96
Perkara yang Mewajib Perkara yang Mewajibkan Wudhu kan Wudhu ... 96.. 96
1.Shalat 1.Shalat . . ... ... 96 96 2.Ketika 2.Ketika hendak hendak Thawaf Thawaf di di Baitullah. Baitullah. ... .. 96 96 3.Menyentuh Al-Qur 3.Menyentuh Al-Qur ’’an. ... 97 an. ... 97
Beberapa Kondisi yang Dianjurkan Untuk Wudh Beberapa Kondisi yang Dianjurkan Untuk Wudhu u ... 98... 98
1.Ketika akan dzikir kepada Allah swt. ... 98
1.Ketika akan dzikir kepada Allah swt. ... 98
2.Ketika hendak tidur. ... 99
2.Ketika hendak tidur. ... 99
3.Disunnahkan wudhu bagi orang yang junub ... 100
3.Disunnahkan wudhu bagi orang yang junub ... 100
4.Sebelum mandi, baik mand 4.Sebelum mandi, baik mandi wajib maupun mandi sunah. i wajib maupun mandi sunah. ... ... 101101 5.Setelah memaka 5.Setelah memakan makanan yang dipanggann makanan yang dipanggang dengan api. ...g dengan api. ... ... 101... 101
6.Memperbarui wudhu setiap kali akan mengerjakan shalat. ... 102
6.Memperbarui wudhu setiap kali akan mengerjakan shalat. ... 102
Beberapa Hal yang Beberapa Hal yang Perlu DiperhatikPerlu Diperhatikan Bagi an Bagi Orang yang Berwudhu Orang yang Berwudhu ... ... 103103 MENGUSAP KHUF ... 104
MENGUSAP KHUF ... 104
Dasar Pensyariatannya ... 104
Dasar Pensyariatannya ... 104
Disyariatkan Me Disyariatkan Mengusap Kngusap Kaus Kaki aus Kaki ... 105... 105
Syarat-syarat Mengusap Khuf dan Sejenisnya... 107
Syarat-syarat Mengusap Khuf dan Sejenisnya... 107
Tempat Mengusap ... 108
Tempat Mengusap ... 108
Masa Berlaku Mengusap Khuf ... 108
Masa Berlaku Mengusap Khuf ... 108
Cara mengusap ... 109
Cara mengusap ... 109
Beberapa hal yang Membatalkan Mengu Beberapa hal yang Membatalkan Mengusap Khuf sap Khuf ... 110... 110
Mandi... 111
Definisi Mandi ... 111
Beberapa Hal yang Mewajibkan Mandi ... 112
1.Keluarnya sperma karena rangsangan syahwat. ... 112
2.Bertemunya dua kelamin (baca: hubungan intim). ... 114
3.Berhentinya haid dan nifas. ... 115
4.Meninggal dunia. ... 116
5.Orang kafir yang memeluk agama Islam. ... 116
BEBERAPA HAL YANG HARAM DILAKUKAN OLEH ORANG YANG JUNUB .... 117
1.Mengerjakan shalat. ... 117
2.Thawaf. 117 3.Menyentuh atau membawa mushaf Al-Qur ’an . ... 117
4.Membaca Al-Qur ’an. ... 118
5.Berdiam di dalam masjid. ... 119
MANDI SUNNAH ... 121
1.Mandi Jum’at. ... 121
2.Mandi pada Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha). ... 124
3.Mandi setelah memandikan mayat. ... 124
4.Mandi Ihram. ... 125
5.Mandi ketika hendak memasuki kota Mekah. ... 125
6.Mandi ketika hendak wuquf di Arafah. ... 126
TATACARA MANDI... 126
Rukun-Rukun Mandi ... 126
1.Berniat. ... 126
2.Membasuh seluruh anggota tubuh. ... 126
Sunnah-sunnah Mandi ... 127
Tatacara Mandi Bagi Perempuan ... 129
Beberapa Masalah yang Berkaitan dengan Mandi ... 130
TAYAMUM ... 134
Definisi Tayamum ... 134
Dasar Diberlakukannya Tayamum ... 134
Tayamum Merupakan Keistimewaan Umat Rasulullah saw. ... 135
Sebab Diperbolehkannya Tayamum ... 136
Debu yang Digunakan untuk Tayamum ... 139
Tatacara Tayamum ... 140
Ibadah yang Boleh Dilakukan dengan Tayamum. ... 141
Beberapa Hal yang Membatalkan Tayamum ... 141
MENGUSAP PERBAN DAN SEJENISNYA ... 143
Landasan Hukum Mengusap Perban ... 143
Hukum Mengusap Perban ... 143
Waktu Diwajibkannya Mengusap Perban ... 144
Perkara yang Membatalkan Pengusapan Perban ... 144
Shalat Bagi Orang yang Tidak Mendapati Air dan Debu ... 144
HAID ... 146
Definisi Haid ... 146
Waktu haid ... 146
Warna darah haid ... 146
Masa Haid ... 148
Masa Bersuci di antara Dua Haid ... 148
N I F A S ... 149
Definisi Nifas ... 149
Waktu Nifas ... 149
BEBERAPA HAL YANG DIHARAMKAN BAGI WANITA YANG SEDANG HAID ATAU NIFAS... 150
ISTIHADHAH ... 153
Definisi Istihadhah ... 153
Kapan Darah yang Keluar dari Kemaluan Wanita Dikatakan Istihadhah?... 153
Hukum Bagi Wanita yang Keluar Darah Istihadhah ... 155
SHALAT ... 157
SHALAT ... 158
Kedudukan Shalat dalam Islam. ... 158
HUKUM MENINGGALKAN SHALAT ... 163
Perdebatan Terkait Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat. ... 168
Pernyataan Syaukani ... 169
Kepada Siapa Shalat Diwajibkan? ... 169
Shalatnya Anak Kecil ... 170
Jumlah Shalat Fardhu ... 170
WAKTU-WAKTU SHALAT ... 171
Waktu Shalat Zhuhur ... 174
Batas Pelaksanaan Shalat Zhuhur di Akhir Waktu ... 175
Waktu Shalat Ashar ... 175
Waktu yang Diperbolehkan untuk Memilih dan yang Dimakruhkan ... 176
Menyegerakan Shalat Ashar ketika sedang Mendung. ... 176
Shalat Ashar merupakan Shalat al-Wustha ... 177
Waktu Shalat Maghrib... 178
Waktu Shalat Isya’... 179
Anjuran Mengakhirkan Shalat Isya’. ... 181
Tidur sebelum Shalat Isya’dan Bergurau Setelahnya. ... 181
Waktu Shalat Shubuh ... 182
Anjuran Menyegerakan Shalat Shubuh. ... 182
Hukum Ketika Hanya Sempat Mendapati Waktu Satu Raka’at ... 183
Tertidur atau Lupa Mengerjakan Shalat ... 184
Waktu-waktu yang Dilarang Mengerjakan Shalat ... 185
Pendapat Ahli Fikih Mengenai Shalat setelah Shalat Shubuh dan Ashar ... 187
Pandangan Para Ulama berkaitan dengan Shalat saat Matahari Terbenam, Terbit dan Tengah Hari. ... 187
Shalat Sunnah Setelah Terbitnya Fajar dan Sebelum Shalat Shubuh ... 189
Melaksanakan Shalat Saat Iqamah. ... 190
A D Z A N ... 191
Definisi Adzan ... 191
Keutamaan Adzan. ... 191
Sebab Disyariatkannya Adzan. ... 193
Tatacara Mengumandangkan Adzan ... 195
Mengucapkan Tatswib ... 196
Tatacara Iqamat ... 196
Doa Setelah Adzan ... 201
Doa dan Dzikir Ketika Iqamat ... 202
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Muazin ... 202
Hendaknya Adzan Dikumandangkan Tepat pada Waktunya ... 204
Jarak antara Adzan dan Iqamat ... 205
Orang yang Mengumandangkan Adzan, Dialah yang Berhak Untuk Iqamat ... 205
Berdiri Saat Iqamat Dikumandangkan. ... 205
Hukum Keluar dari Masjid setelah Adzan. ... 206
Adzan dan Iqamat bagi Orang yang Waktu Shalat Sudah Lewat. ... 206
Adzan Perempuan dan Iqamatnya ... 207
Masuk ke dalam Masjid Setelah Shalat Dilaksanakan ... 207
Jarak antara Iqamat dan Shalat. ... 208
Adzannya Orang yang Bukan Muazin Tetap ... 208
Kalimat Tambahan dalam Adzan. ... 208
SYARAT-SYARAT SHALAT ... 211
1. Mengetahui masuknya waktu shalat. ... 211
2. Suci dari hadas kecil ataupun hadas besar. ... 211
3. Badan, baju dan tempat yang dipergunakan shalat suci dari najis yang terlihat oleh pancaindra. ... 212
4. Menutup Aurat. ... 214
Batasan aurat laki-laki ... 215
Dasar orang yang mengatakan bahwa paha, pusar dan lutut termasuk aurat ... 216
Batasan aurat seorang perempuan. ... 217
Pakaian yang Wajib dan yang Sunnah. ... 218
Shalat dengan Kepala Terbuka ... 220
5. Menghadap Kiblat. ... 220
Shalat Bagi Orang yang Melihat Ka’bah dan yang Tidak Melihatnya. ... 220
Bagaimana Mengetahui Arah Kiblat? ... 221
Shalatnya Orang yang Tidak Mengetahui Arah Kiblat. ... 221
Kapan Kewajiban Menghadap Kiblat Menjadi Gugur? ... 222
1. Shalat sunat bagi orang yang berada di atas kendaraan. ... 222
TATACARA SHALAT ... 224
FARDHU-FARDHU SHALAT ... 226
1. Niat ... 226
2. Takbiratul Ihram... 227
3. Berdiri dalam Mengerjakan Shalat Fardhu. ... 228
Berdiri ketika Mengerjakan Shalat Sunat. ... 229
Shalat Bagi yang Tidak Mampu Berdiri ... 229
4. Membaca Al-Fâtihah setiap Raka’at dalam Shalat fardhu dan Shalat Sunnah... 229
Hukum Membaca Basmalah (Bismillahir rahmâ nir rahî m)... 231
Cara Shalat bagi Orang yang Tidak Bisa Membaca Al-F â tihah ... 232
5. Ruku’... 233
Bagaimana semestinya Ruku’ dilakukan? ... 233
6. Bangkit dari Ruku’(I’tidal) yang disertai Thuma’ninah ... 234
7. Sujud. ... 235
Batasan Thuma’ninah. ... 235
Bagian Anggota Tubuh saat Sujud. ... 235
8. Duduk Tahiyyat Akhir dengan Membaca Tasyahud. ... 236
Bacaan yang paling shahih dalam tasyahud. ... 237
9. Mengucapkan Salam. ... 239
Hukum Salam yang pertama dan yang kedua. ... 240
SUNNAH-SUNNAH SHALAT ... 241
1. Mengangkat kedua tangan ... 241
Pertama: Ketika takbiratul ihram. ... 241
Cara mengangkat kedua tangan ... 241
Waktu mengangkat kedua tangan. ... 242
Kedua: Ketika hendak ruku’... 243
Ketiga: Ketika bangkit dari ruku’... 243
Keempat: Ketika berdiri untuk melanjutkan raka’at ketiga. ... 244
Persamaan antara Laki-laki dan Perempuan dalam Masalah Sunnah Mengangkat Tangan.. ... 245
2. Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri. ... 245
3. Membaca doa iftitah. ... 247
4. Isti’âdzah... 252
Membaca Isti’â dzah dengan suara pelan. ... 252
Isti’â dzah disyariatkan hanya pada raka’at pertama. ... 252
5. MembacaÂmîn. ... 253
Anjuran membaca ‘Âmî n’ bersamaan dengan imam. ... 255
6. Membaca surah Al-Qur’an setelah Al-Fâtihah. ... 256
Cara membaca ayat Al-Qur ’an setelah membaca Al-F â tihah. ... 258
Petunjuk Rasulullah saw. berkaitan membaca surah setelah membaca Al-F â tihah. ... 259
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Shubuh. ... 260
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Zhuhur. ... 260
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Ashar. ... 261
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Maghrib. ... 261
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Isya’. ... 262
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Jum’at. ... 262
Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Hari Raya. ... 262
Membaca surah tertentu ... 264
Memanjangkan raka’at pertama saat shalat Shubuh. ... 265
Cara Rasulullah saw. membaca surah (Al-Qur ’an) ... 265
Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membaca surah Al-Qur ’an ... 265
Shalat yang disertai dengan membaca suara keras dan suara pelan. ... 267
Hukum Membaca Al-F â tihah bagi Makmum ... 268
7. Takbiratul Intiqâl (Takbir Selain Takbiratul Ihram) ... 270
8. Cara Melakukan Ruku’... 271
9. Bacaan Ketika Ruku’... 272
10. Bacaan Ketika Bangkit dari Ruku’dan Ketika I’tidal. ... 274
11. Cara Menurunkan (badan) dan Bangkit dari sujud. ... 277
12. Cara Sujud. ... 278
13. Lamanya Sujud dan Dzikir yang Dibaca. ... 279
Doa di antara Dua Sujud. ... 286
15. Duduk Istirahat. ... 286
16. Cara Duduk saat Tasyahud. ... 287
17. Tasyahud Pertama. ... 289
Anjuran untuk meringankan tasyahud ... 291
18. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad saw. ... 291
19. Doa setelah Tasyahud Akhir dan sebelum Salam. ... 293
20. Dzikir dan Doa setelah Salam ... 298
SHALAT-SHALAT SUNNAH ... 308
Penetapan Shalat Sunnah ... 308
Anjuran agar Shalat Sunnah Dilakukan di Rumah ... 309
Keutamaan Berdiri Lama dalam Shalat Sunnah Melebihi Keutamaan Banyak Sujud ... 311
Hukum Mengerjakan Shalat Sunnah dengan Posisi Duduk ... 311
MACAM-MACAM SHALAT SUNNAH ... 312
SHALAT SUNNAH FAJAR (SHUBUH) ... 313
Keutamaan Shalat Sunnah Fajar... 313
Meringankan Pelaksanaan Shalat Sunnah Fajar ... 314
Surah-Surah yang Dibaca dalam Shalat Sunnah Fajar ... 315
Doa Setelah Mengerjakan Shalat Sunnah Fajar ... 317
Berbaring Sesudah Shalat Sunnah Fajar ... 318
Mengqadha’Shalat Sunnah Fajar ... 319
SHALAT SUNNAH ZHUHUR ... 320
Riwayat yang Menyatakan Empat Raka’at ... 320
Riwayat yang Menyatakan Enam Raka’at ... 320
Riwayat yang Menyatakan Delapan Raka’at ... 321
Keutamaan Shalat Empat Raka’at Sebelum Zhuhur ... 322
Mengqadha’Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Zhuhur ... 323
SHALAT SUNNAH MAGHRIB ... 324
Surah yang Dianjurkan Untuk Dibaca dalam Shalat Sunnah ... 324
SHALAT SUNNAH ISYA’... 325
1. Dua Raka’at atau Empat Raka’at Sebe-lum Ashar... 325
2. Dua Raka’at Sebelum Maghrib ... 326
3. Dua Raka’at Sebelum Isya’... 326
Anjuran Adanya Jeda antara Shalat Wajib dan Sh alat Sunnah sekitar Waktu yang Dibutuhkan untuk Satu Kali Shalat ... 327
SHALAT WITIR ... 327
Keutamaan dan Hukum Shalat Witir ... 327
Waktu Shalat Witir ... 329
Anjuran untuk Menyegerakan atau Mengakhirkan Shalat Witir ... 330
Jumlah Raka’at Shalat Witir ... 331
Bacaan dalam Shalat Witir ... 334
Qunut dalam Shalat Witir... 334
Waktu Qunut ... 335
Berdoa sesudah Shalat Witir... 336
Tidak Ada Dua Kali Witir dalam Satu Malam ... 337
Mengqadha’Shalat Witir ... 338
QUNUT DALAM SHALAT LIMA WAKTU ... 339
Qunut dalam Shalat Shubuh ... 340
SHALAT MALAM (QIYAMUL LAIL) ... 342
Keutamaan Shalat Malam ... 342
Adab dalam Melaksanakan Shalat Malam ... 345
Waktu Pelaksanaan Shalat Malam ... 351
Waktu yang Paling Utama ... 351
Jumlah Raka’at Shalat Malam ... 353
Mengqadha’Shalat Malam ... 355
SHALAT MALAM BULAN RAMADAN ... 355
Penetapan Shalat Malam (Tarawih) Bulan Ramadhan ... 355
Jumlah Raka’at Shalat Tarawih ... 356
Shalat Tarawih dengan Berjamaah ... 358
Surah yang Dibaca dalam Shalat Tarawih ... 358
SHALAT DHUHA ... 359
Keutamaan Shalat Dhuha ... 359
Waktu Shalat Dhuha ... 362
Jumlah Raka’at Shalat Dhuha ... 363
SHALAT ISTIKHARAH ... 364
SHALAT TASBIH ... 366
SHALAT HAJAT ... 367
SHALAT TAUBAT ... 368
SHALAT GERHANA ... 369
Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana ... 371
SHALAT ISTISQA’... 372
SUJUD TILAWAH ... 379
Keutamaan Sujud Tilawah ... 380
Hukum Sujud Tilawah ... 380
Ayat-ayat Sajadah ... 381
Syarat-syarat Sujud Tilawah ... 384
Doa dalam Sujud Tilawah ... 385
Sujud Tilawah dalam Shalat ... 386
Ayat Sajadah yang Berulang-ulang ... 387
Mengqadha’ Sujud Tilawah ... 387
SUJUD SYUKUR ... 387
SUJUD SAHWI ... 389
Cara Sujud Sahwi... 389
Keadaan-Keadaan yang Disyariatkan Melakukan Sujud Sahwi ... 391
SHALAT JAMAAH ... 395
Shalat Jamaah di Masjid bagi Kaum Wanita ... 397
Shalat Jamaah Dianjurkan di Masjid yang Terjauh dan Jamaahnya Lebih Banyak. ... 398
Anjuran agar Berjalan dengan Te-nang saat Pergi ke Masjid ... 400
Imam Dianjurkan Memperingan Shalat ... 400
Memanjangkan Bacaan Raka’at Pertama dan Menunggu Orang yang Baru Datang ke Masjid agar Sempat Berjamaah ... 402
Shalat Jamaah Boleh Dilakukan Hanya dengan Seorang Imam
dan Se-orang Makmum. ... 405
Imam Dibolehkan Merubah Niat Menjadi Makmum ... 406
Cara Shalat Seseorang yang Tertinggal dalam Shalat Jamaah ... 407
Beberapa Hal yang Memboleh-kan Seseorang Meninggalkan Shalat Jamaah ... 408
1. Ketika udara sangat dingin dan hujan turun dengan lebat. ... 408
2. Ketika makanan sudah disajikan. ... 409
3. Desakan (kebelet) buang air besar atau kecil. ... 410
ORANG YANG LEBIH LAYAK MENJADI IMAM... 410
Orang-orang yang Diperbolehkan Menjadi Imam ... 412
Orang yang Tidak Sah Menjadi Imam... 414
Seorang Perempuan Hanya Bisa Menjadi Imam untuk Sesama Perempuan ... 414
Hukum Menentukan Seorang Laki-laki Sebagai Imam Khusus untuk Kaum Wanita ... 415
Orang Fasik dan Pelaku Bid ’ah Dimakruhkan Menjadi Imam ... 415
Hukum Memisahkan Diri dari Imam karena Adanya Uzur ... 416
Mengulangi Shalat Berjamaah ... 416
Anjuran Bagi Imam agar Membalikkan Badan ke Kanan atau Kiri Setelah Mengucapkan Salam dan Berpindah dari Tempat Duduknya ... 418
Hukum Posisi Imam atau Makmum yang Lebih Tinggi ... 419
Makmum yang berada di Balik Tirai ketika Shalat dengan Imam. ... 420
Hukum Bermakmum dengan Orang yang Ketinggalan Fardhu Shalat. ... 420
Menggantikan Imam ... 421
Imam yang Dibenci Makmumnya ... 422
POSISI IMAM DAN MAKMUM ... 423
Posisi Makmum Ketika Sendirian, Berdua atau Lebih. ... 423
Posisi Imam ... 423
Shaff bagi Anak-anak dan Kaum Wanita ... 424
Anjuran Meratakan Barisan dan Menutupi Celah Barisan
yang Masih Kosong ... 427
Anjuran Mengisi Barisan Pertama dan Berada di Sebelah Kanan ... 429
Mengulangi Bacaan Takbir Intiqâl ... 430
MASJID ... 431
Keistimewaan Umat Rasulullah saw. ... 431
Keutamaan Membangun Masjid ... 432
Berdoa Ketika Hendak Berangkat ke Masjid ... 432
Berdoa Ketika Masuk atau Kelu-ar dari Masjid ... 434
Keutamaan Datang ke Masjid dan Duduk di Dalamnya ... 435
Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid... 437
Masjid-Masjid yang Lebih Diutamakan ... 437
Bermegah-megahan dalam Membangun Masjid ... 438
Membersihkan Masjid dan Memberinya Wewangian ... 439
Merawat Masjid ... 440
Hukum Mencari Barang yang Hilang, Jual Beli dan Bersyair dalam Masjid ... 441
Mengemis dalam Masjid ... 442
Mengeraskan Suara dalam Masjid ... 443
Berbicara dalam Masjid ... 444
Makan, Minum, dan Tidur dalam Masjid ... 444
Hukum Menjalinkan Jari ... 444
Hukum Shalat di antara Tiang-tiang Masjid ... 445
TEMPAT-TEMPAT YANG DILARANG UNTUK DIJADIKAN TEMPAT SHALAT . 446 1. Kuburan atau Tempat Pemakaman ... 446
2. Gereja atau Sinagog ... 448
3. Tempat Pembuangan Sampah, Tempat Penyembelihan Hewan, Tengah Jalan, Pemberhentian Unta, Kamar Mandi, dan di Atas Ka’bah ... 448
4. Di dalam Ka’bah ... 449
TIRAI DI DEPAN ORANG YANG MENUNAIKAN SHALAT ... 450
Hukumnya ... 450
Bentuk Tirai ... 451
Tirai Imam Merupakan Tirai Makmum Juga ... 452
Diharamkan Melintas di antara Tempat Berdiri Seseorang
yang Sedang Shalat ... 453
Disyari’atkan Mencegah Orang yang Hendak Melintas di Depan Seseorang yang Sedang Shalat ... 455
Tidak ada Perkara yang Dapat Menghentikan Shalat ... 456
BEBERAPA HAL YANG DIBOLEHKAN DALAM SHALAT ... 457
1. Menangis, mengeluh atau merintih ... 457
2. Menoleh ke arah mana pun jika diperlukan ... 458
3. Membunuh Ular, Kalajengking, Kumbang, dan binatang-binatang lain yang berba-haya, meskipun usaha membunuhnya memerlukan banyak gerakan ... 460
4. Berjalan sejenak karena keperluan ... 461
5. Menggendong dan membopong anak kecil dalam shalat ... 462
6. Memberi salam kepada seseorang yang sedang shalat ... 464
7. Membaca tasbih dan bertepuk tangan ... 465
8. Mengingatkan bacaan imam ... 466
9. Membaca hamdalah apabila bersin atau ketika memperoleh nikmat ... 466
10. Sujud di atas baju atau serban seseorang yang sedang shalat karena ada halangan ... 467
Ringkasan Hal-hal yang Dibolehkan dalam Shalat ... ... 467
11. Membaca ayat dengan melihat mush-af al-qur ’an ... 469
12. Aktivitas batin yang tidak ada kaitannya dengan shalat ... 469
BEBERAPA HAL YANG MAKRUH DALAM SHALAT ... 472
1. Mempermainkan baju atau anggota badannya kecuali jika diperlukan ... 472
2. Berkacak pinggang ketika shalat ... 473
3. Mengarahkan pandangan mata ke langit ... 473
4. Melihat sesuatu yang dapat melalai-kan shalat ... 473
5. Memejamkan kedua mata ... 474
6. Memberi isyarat dengan kedua tangan ketika memberi salam ... 474
7. Menutup mulut dan memanjangkan kain hingga menutup mata kaki ... 474
9. Menahan kencing, buang air besar, atau hal-hal lain
yang dapat mengganggu ke-tenangan shalat ... 475
10. Shalat ketika sedang mengantuk ... 476
11. Shalat di tempat tertentu di dalam masjid, kecuali imam ... 477
BEBERAPA HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT ... 477
1. Makan dengan sengaja ... 477
2. Minum dengan sengaja ... 477
3. Berbicara dengan sengaja dan bu-kan untuk kepentingan shalat ... 478
4. Banyak bergerak dengan sengaja ... 480
5. Sengaja meninggalkan rukun atau syarat shalat tanpa ada halangan ... 481
6. Tersenyum dan tertawa terbahak-bahak dalam shalat ... 481
MENGQADHA’ SHALAT ... 482
SHALATNYA ORANG SAKIT... 488
SHALAT KHAUF DAN TATACARANYA ... 490
1. Musuh tidak berada pada arah kiblat ... 491
2. Arah musuh tidak berada di kiblat ... 492
3. Imam shalat dengan masing-masing kelompok sebanyak dua raka’at ... 492
4. Musuh berada pada arah kiblat ... 493
5. Kedua kelompok sama-sama shalat bersama imam ... 494
6. Setiap kelompok shalat bersama imam hanya satu raka’at ... 495
Cara Shalat Khauf Maghrib ... 495
Shalat dalam Keadaan Gawat ... 496
Shalat Orang yang Mengejar atau Dikejar Musuh ... 496
SHALAT DALAM PERJALANAN ... 497
Mengqashar Shalat yang Jumlah Raka’atnya Empat ... 498
Jarak yang Diperbolehkan Mengqashar Shalat ... 500
Tempat yang Diperbolehkan Mengqashar Shalat ... 502
Kapan Musafir Harus Melaksanakan Shalat dengan Raka’at Penuh? ... 503
Shalat Sunnah dalam Perjalanan... 507
MENJAMAK SHALAT DAN WAKTU PELAKSANAANYA... 508
1. Berada di Arafah dan Muzdalifah ... 509
2. Saat dalam Bepergian ... 509
3. Saat Turun Hujan ... 511
4. Karena Sakit atau Berhalangan ... 512
5. Karena Adanya Keperluan ... 512
Keterangan Tambahan tentang Menjamak Shalat ... 514
SHALAT DALAM KAPAL LAUT, KERETA API, DAN PESAWAT TERBANG ... 514
FIKIH SUNNAH
[JILID I ]
Takhrij dan Tahkik Hadits
Muhammad Nashiruddin Al-Albani
…
¡
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah.”
(Al-Hasyr [59]: 7)
KATA PENGANTAR
Oleh: al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna
CBA
“
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
”
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad saw., keluarga, dan sahabatnya hingga hari
kiamat.
Allah swt. berfirman,
½¼»º¹
¾
¿
ÆÅÄÃÂÁÀ
“
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
”
(At-Taubah [9] : 122)
Sesungguhnya sebaik-baik amal yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada
Allah swt. adalah menyebarkan dakwah Islam, memperkenalkan Syariat Islam,
terutama yang berkaitan dengan aspek hukum-hukum fikih. Sehingga umat Islam
dapat memahami secara jelas dalam melaksanakan ibadah dan amalan perbuatan
mereka sesuai dengan tata cara yang benar. Rasulullah saw. bersabda,
.
“
Jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi seseorang, maka diberikan-Nya
suatu pemahaman dalam urusan agama. Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh
dengan belajar. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun
dirham, mereka hanya mewariskan ilmu pengetahuan. Maka, barangsiapa yang
telah menggapainya, sungguh ia telah mendapat bagian yang melimpah..
1”
Usaha yang paling baik, bermanfaat, dan berpengaruh terhadap hati dan akal
dalam mempelajari fikih Islam, khususnya yang berkaitan dengan hukum-hukum
ibadah dan kajian-kajian umum yang ditujukan kepada masyarakat awam, adalah
menghindari penggunaan istilah-istilah khusus dan definisi yang sulit dipahami.
Kajian fikih Islam sebisa mungkin dikaitkan dengan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan
Sunnah dengan penjelasan yang sistematik dan mudah dipahami. Di samping itu,
menitikberatkan pada hikmah dan manfaat di balik pemberlakuan sebuah hukum
bertujuan agar para pembaca yang mendalami ilmu fikih seakan berdialog secara
langsung dengan Allah dan rasul-Nya, juga dapat mengambil pelajaran yang
bermanfaat dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat. Hal ini tentunya
1 Hadits ini bukanlah dalam susunan satu redaksi, tapi terdiri dari tiga penggalan hadits. Penggalan
pertama, yaitu ‘ Jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi seseorang, maka diberikan-Nya suatu pemahaman dalam urusan agama.’ dari Mu’âwiyah dan merupakan hadits yang disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits. HR Bukhari, hal: 7460. Muslim, kitab: az-Zakât , bab an- Nahyu ‘an al-Musa’alah hal: 1037. Sedangkan, penggalan kedua merupakan bagian dari hadits Abu Darda’ ra., di mana bagian pertamanya, berbunyi: ‘ Barangsiapa yang menapaki jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga…’ HR Abu Daud, kitab, Al-‘Ilm, bab, “Al- Hatts ‘ala Thalab al-‘Ilm“ hal: 3641, 3642. Tirmidzi, kitab, “ Al-‘Ilmu,” bab, “Fadhl Thalab al-‘Ilm” hal: 2683. Ibnu Majah, “al-Muqaddimah,” bab “Fadhlu al-‘Ulamâ” hal:223. Al-Albani mengklasifikasikannya sebagai hadits shahih dalam Shahih al-Jâmi’,Shahih At-Targhîb, hal: 8) dan Shahîh Ibnu Mâjah, hal: 182. Sedangkan hadits (penggalan ketiga) yang berbunyi, ‘Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar ’ adalah hadits shahih. Lihat Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah, ha: 342.
akan menjadi motivasi tersendiri bagi para pembaca untuk terus meningkatkan
wawasan keilmuan dan penerimaannya atas pengetahuan.
Usaha dan cara Inilah yang dilakukan oleh al-Ustadz Syekh Sayyid Sabiq ketika
menulis karyanya yang berjudul “Fiqh as-Sunnah.” Beliau menulis buku ini
dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dicerna, banyak mengandung
manfaat dengan menjelaskan hukum-hukum fikih secara sistematik. Usahanya ini,
insya Allah,
akan mendapat pahala dari Allah serta mengundang perasaan kagum
dari pemeluk agama yang mulia ini. Semoga Allah memberi balasan atas
jasa- jasanya yang telah dipersembahkan untuk memperjuangkan kejayaan agama,
umat, dan dakwah dengan sebaik-baik balasan. Semoga Allah menjadikan karya
ini sebagai amal kebaikan bagi dirinya dan juga umat manusia seluruhnya.
KATA PENGANTAR
Oleh: as-Sayyid Sabiq
CBA
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.“
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., pemimpin
umat manusia sejak zaman dahulu hingga akhir zaman. Demikian juga, kepada
seluruh keluarga dan orang-orang yang mengikuti petunjuk dan ajarannya hingga
hari kiamat.
Buku ini merupakan jilid pertama dari kitab fikih sunnah. Jilid pertama ini
membahas masalah-masalah fikih Islam yang disertai dalil-dalil yang bersumber
dari Al-Qur`an, Sunnah yang shahih dan
Ijma
’ para ulama.
Kajian dalam buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dan
lengkap, yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang harus dilalui oleh setiap
individu muslim. Di samping itu, saya berusaha untuk tidak mengangkat
perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama. Namun, jika tidak dapat
dimungkinkan karena permasalahan yang mengharuskannya, maka saya akan
mengemukakannya dengan sekilas.
Dengan begitu, buku ini diharapkan dapat menampilkan gambaran fikih Islam
yang benar. Inilah di antara misi diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai utusan
Allah di permukaan bumi ini. Buku ini juga diharapkan dapat membuka pintu
pemahaman umat manusia mengenai Allah dan rasul-Nya, mempersatukan umat
Islam supaya tetap berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Sunnah serta
menghilangkan perbedaan pendapat dan bid’ah fanatisme pada mazhab. Buku ini
juga diharapkan dapat menghapus prasangka (sebagian orang) yang menyatakan
bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
Inilah kontribusi yang saya persembahkan sebagai bakti saya kepada agama.
Semoga bermanfaat bagi saudara-saudaraku yang se-keyakinan. Kami senantiasa
berdoa kepada Allah swt., agar amal bakti ini bermanfaat, disertai keikhlasan dan
hanya mengharapkan keridhaan-Nya semata. Hanya Allah, tempat kita berpegang,
Dia lah sebaik-baik pelindung.
Kairo, 15 Sya’ban 1365 H
PENDAHULUAN
Universalitas dan Tujuan Syariat Islam
Allah swt. mengutus Nabi Muhammad saw. dengan membawa ajaran agama yang
suci, mudah, dan syariat yang lengkap. Ajaran yang dibawa Rasulullah saw.
menjamin kemuliaan hidup umat manusia. Dengannya, manusia akan memperoleh
derajat tertinggi dan sempurna. Selama lebih kurang 23 tahun, Rasulullah saw.
mengajak umat manusia menuju jalan yang telah digariskan Allah swt., dan beliau
berhasil menyebarkan agama dan mempersatukan umat manusia untuk
memeluknya.
Universalitas Risalah Islam
Risalah Islam bukanlah risalah yang bersifat lokal, terbatas hanya pada satu
generasi atau suku-bangsa tertentu, sebagaimana risalah-risalah keagamaan yang
diturunkan sebelum Islam. Risalah Islam merupakan ajaran yang bersifat
universal; ia ditujukan bagi seluruh umat manusia hingga hari kiamat; ajaran
Islam tidak dikhususkan untuk negeri tertentu atau masa tertentu. Allah swt.
berfirman,
¤
¥
¦
§
¨
©
ª
«
¬
®
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqân (Al-Qur'an) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”
(Al-Furqân [25]: 1)
Allah swt. berfirman,
…
¢
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.
” ( Sabâ’ [34]:
28)
Allah swt. berfirman,
¡
¢
£
¤
¥
§¦
¨
©
ª
«
¬
®
°
±
²
³
´
“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka
berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman
kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia,
supaya kamu mendapat petunjuk."
(Al-A’râf [7] : 158)
Dalam salah satu hadits shahih disebutkan,
“Setiap nabi diutus khusus kepada bangsanya, dan aku diutus untuk yang berkulit putih dan yang berkulit hitam.”2
Di antara bukti universalitas dan syumûliah ajaran Islam adalah:
1) Tidak terdapat suatu perkara di dalam ajaran Islam yang sulit untuk diyakini atau dilaksanakan oleh umat manusia. Allah swt. berfirman,
§
¨
©
ª
«
…
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Al-Baqarah [2]: 286)
Allah swt. berfirman,
§
¨
©
ª
«
¬
®
…
º
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu.”
(Al-Baqarah (2): 185)
Allah swt. berfirman,
¢¡
…
Æ
“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan
.”
(Al-Hajj [22]: 78)
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Maqburi bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda,
.
“
Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tidak ada seorang pun yang mempersulit
agama ini, melainkan ia akan dikalahkan olehnya (merasa kesulitan dalam
melaksanakannya, penj).
”
3Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
.
“
Agama yang lebih disukai Allah adalah agama yang benar dan penuh
toleransi.
”
42) Permasalahan yang tidak berubah, baik waktu dan tempatnya seperti akidah
dan ibadah, dijelaskan dengan sempurna dan terperinci. Di samping itu,
diterangkan dengan nash-nash yang lebih lengkap sehingga seseorang tidak perlu
lagi menambah ataupun menguranginya. Adapun permasalahan yang dapat
berubah berdasarkan perkembangan waktu dan tempat, seperti problematika
kemasyarakatan, urusan politik dan peperangan, semuanya dijelaskan secara
umum agar dapat mengikuti kemaslahatan dan kebutuhan umat manusia di
sepanjang masa. Di samping itu, dapat juga dijadikan sebagai pedoman bagi para
pemimpin dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, karena perkara-perkara
seperti ini bersifat fleksibel.
3 HR Bukhari kitab, “Al-Îmân”, bab, “Ad-Din Yusr”, jilid I, hal: 116. Nasa’i kitab, “Al-Îmân,”
bab, “Ad-Din Yusr,” No: 5034, jilid XII, hal: 122. Sunan al-Kubrâ karya Baihaqi kitab, “ as-Shalâh,” jilid III 3, hal: 18.
4 Syarh as-Sunnah, jilid VI, hal: 47 dan Bukhari menganggapnya sebagai mu’allaq, kitab “
Al-Îmân,” bab. “Ad-Din Yusr,” sabda Rasulullah saw. .: “ Agama yang lebih disukai Allah adalah agama yang benar dan penuh toleransi”, jilid, I, hal, 116.
Pengarang Fath al-Bâri berkata, “Hadits mu’allaq ini tidak disebutkan sanadnya oleh pengarang (Imam Bukhari, red) dalam Shahîhnya. Sebab tidak memenuhi syarat yang biasa digunakan dalam meneliti keshahihan sebuah hadits. Bagaimanapun adanya, beliau menganggap hadits ini sebagai hadits yang mawshûl dalam kitab “al-Âdab al-Mufrad . “ Demikian juga dengan Ahmad Ibnu Hanbal dan ulama lain. Mereka meriwayatkan dari Muhammad Ibnu Ishaq, dari Daud Ibnu al-Hushien, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan sanad hasan. Disebabkan hadits ini tidak memenuhi syarat Bukhari, beliau hanya mencantumkannya di bagian bab saja. Namun, beliau juga menganggap hadits ini kuat, karena kesesuaian maknanya dengan ajaran Islam yang meliputi kemudahan dan toleransi.” LihatFath al-Bâri, jilid I, hal: 93.
2) Semua ajaran Islam bertujuan untuk menjaga kepentingan agama, jiwa, akal,
keturunan dan harta. Hal ini sesuai dengan fitrah dan akal, perkembangan zaman
serta dilaksanakan di setiap tempat dan masa. Allah swt. berfirman,
S
T
U
V
W
X
Y
Z
[
\
^]
_
`
a
b
c
d
e
f
g
ih
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z
{
|
}
~
“Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah
dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang
mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi
orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja)
di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang
yang mengetahui. Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang
keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa,
melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan)
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak
kamu ketahui.”
(Al-A’râf [7]: 32-33)
Allah swt. berfirman,
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
ML
N
O
P
Q
R
TS
U
V
W
YX
Z
[
\
]
^
_
`
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z
{
|
}
~
“Dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat;
Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman:
"Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang aku kehendaki dan rahmat-Ku
meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang
yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada
ayat-ayat kami". (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang Ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi
mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka
dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik
dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka
beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang
yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya
yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka Itulah orang-orang
yang beruntung.”
(Al-A’râf [7]: 156-157)
Tujuan Risalah Islam
Tujuan yang ingin dicapai oleh risalah Islam adalah untuk membersihkan dan menyucikan jiwa, dengan cara mengenal Allah dan beribadah hanya kepada-Nya. Selain itu, Islam juga ditujukan untuk mengukuhkan hubungan antara sesama manusia serta menegakkannya dengan disertai rasa saling menyayangi, persamaan dan keadilan. Dengan demikian, kebahagiaan umat manusia dapat terwujud, baik di dunia maupun di akhirat. Allah swt. berfirman,
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
[
\
]
^
_
`
a
b
c
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara
mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka
dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”
Dalam kesempatan yang lain, Allah swt. Berfirman,
“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.”
(Al-Anbiyâ’ [21]: 107)
Tujuan risalah Islam ini juga dinyatakan dalam sebuah hadits yang berbunyi,
“
Aku (diutus sebagai) rahmat yang memberi petunjuk .
”
5Penerapan Hukum Islam atau Ilmu Fiqh
Tasyri’
Islam merupakan salah satu aspek terpenting yang diatur dalam risalah
Islam dan sekaligus mencerminkan sisi ilmiah dari risalah ini. Hukum Islam yang
murni seperti hukum-hukum ibadah bersumber pada wahyu Allah yang
diturunkan kepada Rasulullah saw.. sebagaimana yang tercantum di dalam
Al-Qur`an, Sunnah atau ijtihad yang telah ditetapkan (aturan-aturannya). Dalam hal
ini, tugas Rasulullah saw. hanya menyampaikan dan memberikan penjelasan
tentang risalah agama yang diembannya. Allah swt. berfirman,
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
5 Dalamal-Mustadrak oleh Hakim, jilid: 1, hal: 35, lafal hadits ini sebagai berikut: “Wahai sekalian
umat manusia! Sebenarnya aku (diutus sebagai) yang memberi petunjuk.” Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim. Dalam pandangan mereka, riwayat Imam Malik Ibnu Sa’id dapat dijadikan sebagai hujjah. Perawi yangtsiqah apabila meriwayatkan hadits secara sendirian, tetap bisa diterima riwayatnya.” Pernyataan al-Hakim ini, didukung oleh adz-Dzahabi. Ia berkata, “Riwayat hadits ini sesuai dengan syarat Imam Bukhari dan Muslim. Perawi yangtsiqah apabila meriwayatkan hadits secara sendirian tetap dapat diterima.” HR Baihaqi dalam “Syu’âb al-Îmân,” jilid, II, hal: 164. Ibnu Sa’ad dalam Ath-thabaqât , jilid, III, hal: 192 dan dikategorikan sebagai shahih oleh al-Albani dalam Ghâyah al-Marâm: (1) dan Silsilah al-Ahâdits as-Shahihah: hal: 490.
“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).”
(An-Najm [53]: 3-4)
Adapun ketentuan hukum yang berkaitan dengan urusan duniawi seperti
pengadilan, politik dan peperangan, Rasulullah saw. diperintahkan untuk
bermusyawarah dalam menyelesaikannya. Terkadang, beliau mengemukakan
suatu pendapat, kemudian menariknya kembali berdasarkan pendapat sahabat
yang lebih baik. Beliau tidak segan-segan menarik kembali pendapatnya dan
menerima pendapat para sahabat, sebagaimana yang terjadi ketika perang Badar
dan Uhud.
Demikian juga para sahabat, mereka datang meminta pandangan dan pendapat
Rasulullah saw. berkaitan dengan perkara yang tidak mereka ketahui. Bahkan
ada di antara mereka yang hanya datang untuk meminta penjelasan atas maksud
yang tertera dalam nash-nash, dengan tujuan untuk memastikan pemahaman yang
selama ini dipahami, apakah benar ataukah tidak. Dalam keadaan seperti ini,
beliau terkadang membenarkan pemahaman yang dikemukakan oleh sahabatnya
dan terkadang juga menjelaskan letak kesalahan mereka.
Kaidah-kaidah umum dalam menetapkan suatu ketentuan sebagaimana yang telah
digariskan oleh Islam dan harus dijadikan sebagai panduan oleh kaum muslimin
adalah sebagai berikut:
1. Dilarang membahas suatu hukum atas suatu peristiwa yang belum berlaku
sehingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi secara nyata. Allah swt.,
¡
¢
£
¤
¥
¦
§
¨
©
ª
«
¬
®
°
±
²
³
´
¶
¸
¹
º
»
“
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu)
hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika
kamu menanyakan di waktu Al-Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan
diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyantun.
”
(Al-Mâidah [5] : 101)
Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwasanya Rasulullah saw.
melarang
membicarakan yang belum terjadi
.
”
62. Menjauhi banyak bertanya dan memutarbalikan permasalahan sehingga
menjadikannya sulit. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda,
“
Sesungguhnya Allah tidak senang atas diri kalian perkataan ini dan itu, banyak
bertanya dan menyia-nyiakan harta..
”
7Rasulullah saw. juga bersabda,
“
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah
kamu menyia-nyiakannya; menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kamu
melanggarnya; mengharamkan beberapa larangan, maka janganlah kamu
melanggarnya; dan mendiamkan atas suatu perkara sebagai rahmat bagi kalian,
tidak karena lupa, maka janganlah kamu membahasnya.
”
86 HR Abu Daud dalam kitab: Al-‘Ilm, bab. At-Tawaqqi fî al-Futyâ (3656), jil: 4, hlm: 65, Musnad
Ahmad , jil: 5, hlm: 435. Di sini, al-Awza’i memberi komentar terhadap hadits ini dengan berkata: “ Al-Aghluthât ; masalah-masalah yang sulit dan berat untuk dilaksanakan.” Hadits ini diklasifikasikan dalam hadits shahih oleh al-Albani. Lihat Tamâm al-Minnah: (45) dan Dha’îf al- Jâmi’: (6048).
7 Musnad Ahmad , jilid, IV, hal: 249. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Mughirah
Ibnu Syu’bah dengan lafal: “Sesungguhnya Allah swt. mengharamkan kepada kalian mendurhakai ibu…, dan membenci kamu apabila banyak mengatakan ini dan itu…”. Lihat Shahih al-Jâmi’, hal: 1895 dan Mukhtashar Shahîh Muslim, hal 1236.
8 HR ad-Daruquthni dalamSunannya, jilid IV, hal: 184. Hakim dalamal-Mustadrak , jilid IV, hal:
115. Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrâ, jilid X, hal: 12-13 dan dikategorikan sebagai hadits hasan oleh al-Albani dalamGhâyah al-Marâmdan tahqiqnya dalam kitab Riyadh ash-Shâlihîn: No: 1841.
Rasulullah saw. bersabda,
“
Orang yang paling besar dosanya adalah orang yang menanyakan suatu
perkara yang tidak diharamkan, lantas ia diharamkan karena pertanyaannya
itu.
”
93. Menghindari perselisihan dan perpecahan dalam soal agama. Allah swt.
berfirman,
¡
¢
£
¤
¥
¦
§
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu
dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(Al-Mu’minûn [23]:
52)
Allah swt. berfirman,
a
b
c
d
e
gf
…
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai,”
(Âli ‘Imrân [3]: 103)
Allah swt. berfirman,
D
E
F
G
IH
…
P
9 HR Bukhari dalam kitab: Al-I’tisham, bab. Mâ Yukrah min Katsrah as-Su’âl wa Takalluf ma la
Ya’nîh, jilid, IX,, hal: 117. Muslim dalam kitab, Al-Fadha’il, bab. Tawqiruhu shallalâhu ‘alai wasallam wa Tarku Iktsar Su’âlihi ‘amma la Dharurata ilaihi. No: 132, jilid: 4, hal: 1831; Musnad Ahmad , jilid: I, hal: 179.
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatanmu”
(Al-Anfâl [8]: 46)
Allah swt. berfirman,
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
…
}
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. (Al-An’âm [6] :
159) Allah swt. berfirman,
…
“…serta mereka juga menjadi tercerai-berai;…”(Ar-Rûm [30]: 32)
Allah swt. berfirman,
¡
¢
£
¤
¥
¦
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Âli ‘Imrân [3]: 105)
4. Mengembalikan permasalahan yang diperdebatkan kepada Al-Qur`an dan Sunnah. Hal tersebut merupakan wujud implementasi dari firman Allah swt.,
…
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), ”(An-Nisâ’ [4] : 59)
Allah swt. berfirman,
Á
Â
Ã
Ä
Å
Æ
…
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian)” (Asy-Syû’râ’ [42]: 10)
Hal ini disebabkan karena ajaran Islam telah diuraikan dengan begitu jelas di dalam Al-Qur`an. Allah swt. berfirman,
_
`
a
b
c
d
…
i
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu.”
(An-Nahl [16]: 89) Allah swt. berfirman,
p
q
r
s
t
u
…
{
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab.” (Al-An’âm [6]: 38)
Di samping penjelasan Al-Qur`an, Sunnah amaliah (perilaku Rasulullah) juga merupakan pegangan kedua yang turut menguraikan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan ajaran agama. Allah swt. berfirman,
U
V
W
X
Y
Z
[
\
…
_
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl [16]: 44)
¸
¹
º
»
¼
½
¾
¿
À
Á
Â
…
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu,”(An-Nisâ’ [04]: 105)
Dengan demikian, ajaran agama Islam telah sempurna dan tujuan dari syariat yang ada di dalamnya juga sudah jelas. Hal ini diperkuat dengan firman Allah,
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
vu
…
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Mâ’idah [5]: 3)
Jadi, selama permasalahan agama telah diuraikan dengan begitu jelas dan dalil yang menjadi landasannya adalah kuat, maka perbedaan pendapat tidak lagi berpengaruh dan memiliki ruang. Allah swt. berfirman,
“Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.”(Al-Baqarah [2]: 176)
Allah swt. berfirman,
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
QP
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
[
\
]
“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali
sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (An-Nisâ’ [4] : 66)