• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fikih Sunnah, Jilid 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Fikih Sunnah, Jilid 1"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR

DAFTAR ISI

ISI

Pengantar Penerbit ... vii

Pengantar Penerbit ... vii

Pengantar tokoh ... ix

Pengantar tokoh ... ix

Pengantar Penulis ... xii

Pengantar Penulis ... xii

PENDAHULUAN PENDAHULUAN ... 1... 1

Universalitas dan Tujuan

Universalitas dan Tujuan Syariat Islam

Syariat Islam ...

...

...

...

... 22

Universalitas Risalah Islam ... 2

Universalitas Risalah Islam ... 2

Tujuan Risalah Islam ... 6

Tujuan Risalah Islam ... 6

Penerapan Huku Penerapan Hukum Islam atau Ilmu Fikih m Islam atau Ilmu Fikih ... 7... 7

THAHARAH THAHARAH ... 19... 19

THAHARAH ... 20

THAHARAH ... 20

PEMBAGIAN PEMBAGIAN DAN JENIDAN JENIS AIR S AIR ... 20... 20

Pertama: Air Mutlak ... 20

Pertama: Air Mutlak ... 20

1. 1. Air Air hujan, hujan, salju salju dan dan embun. embun. ... ... 2020 2. 2. Air Air laut. laut. ... ... 2121 3. 3. Air Air zamzam. zamzam. ... ... 2222 4. 4. Air Air yang yang berubah berubah disebabkan disebabkan lama lama tergenang tergenang ... ... 2222 Kedua: Air Musta Kedua: Air Musta’’mal (air yang mal (air yang pernah digunakpernah digunakan) an) ... 22... 22

Ketiga: Ketiga: Air Air yang yang bercampur bercampur dengan dengan benda benda suci suci 23 23 ... Keempat: Air yang bercampur najis ... 24

Keempat: Air yang bercampur najis ... 24

Air Sisa Minuman ... 26

Air Sisa Minuman ... 26 1.

1. Air Air sisa sisa minuman minuman manusia manusia ... .. 26 26  2.

(2)
(3)

3.

3. Air Air sisa sisa minuman minuman keledai, keledai, burung burung dan dan binatang binatang buas buas ... ... 27 27  4.

4. Air Air sisa sisa minuman minuman kucing kucing ... ... 2828 5.

5. Air Air sisa sisa minuman minuman anjing anjing dan dan babi...babi... ... ... 2929 AN-NAJ

AN-NAJÂÂSAH (NAJIS) ... 29SAH (NAJIS) ... 29

Jenis-jenis Najis ... 30 Jenis-jenis Najis ... 30 1. 1. Bangkai Bangkai ... ... 3030 2. 2. Darah Darah ... ... 3333 3. 3. Daging Daging babi babi ... ... 3434 4. 4. Muntah, Muntah, air air kencing, kencing, kotoran kotoran manusia manusia ... ... 3535 7. 7. Wadi Wadi ... ... 36 36  8. 8. Madzi Madzi ... ... 36 36  9. 9. Sperma Sperma ... ... 3838 10. 10. Kencing Kencing dan dan kotoran kotoran binatang binatang yang yang tidak tidak dimakan dimakan dagingnya dagingnya ... ... 3838 11. 11. Binatang Binatang Jallalah Jallalah ... ... 4040 12. 12. Minuman Minuman keras keras ... ... 4141 13. Anjing 42 13. Anjing 42 Cara Cara Menyucikan MenyucikanBadan dan Pakaian ... 42Badan dan Pakaian ... 42

Cara Menyucikan Tanah ... 43

Cara Menyucikan Tanah ... 43

Cara Membersihkan Mentega dan Sejenisny Cara Membersihkan Mentega dan Sejenisnya a ... 44... 44

Cara Menyucikan Kulit Bangkai ... 44

Cara Menyucikan Kulit Bangkai ... 44

Cara Menyucikan Cermin dan Sejenisnya ... 45

Cara Menyucikan Cermin dan Sejenisnya ... 45

Cara Menyucikan Sandal ... 45

Cara Menyucikan Sandal ... 45

Beberapa Hal yang Sering Dijumpai dalam Kehidupan Sehari-h Beberapa Hal yang Sering Dijumpai dalam Kehidupan Sehari-hari ...ari ... 46... 46

(QADHA (QADHA’’ HAJAT) BUANG AIR ... 48HAJAT) BUANG AIR ... 48

SUNNAH-SUNNAH FITRAH ... 58

SUNNAH-SUNNAH FITRAH ... 58

1.Berkhitan... 58

1.Berkhitan... 58

2.Mencukur bulu kemaluan. ... 59

2.Mencukur bulu kemaluan. ... 59

3.Mencabut bulu ketiak. ... 59

3.Mencabut bulu ketiak. ... 59

4.Memotong kuku. ... 59

4.Memotong kuku. ... 59

5.Memendekkan 5.Memendekkan kumis kumis atau atau menipiskannyamenipiskannya. . ... ... 5959  Memelihara dan  Memelihara dan Membiarkan JengMembiarkan Jenggot Hingga Lgot Hingga Lebat. ...ebat. ... 60.. 60

 Merapikan Rambut yang Lebat dan  Merapikan Rambut yang Lebat dan Panjang, dengan Cara Memberinya Minyak Panjang, dengan Cara Memberinya Minyak  atau Menyisirnya. ... 61

atau Menyisirnya. ... 61

 Membiarkan Uban dan Tidak Mencabut  Membiarkan Uban dan Tidak Mencabutnya nya ... 62... 62

(4)

 Diperbolehkannya Mengubah Warna Uban dengan Inai.

 Diperbolehkannya Mengubah Warna Uban dengan Inai. ... 63... 63

 Memakai Min  Memakai Minyak Kasturi dayak Kasturi dan Jenis n Jenis Minyak Wangi Minyak Wangi Lainnya Lainnya ... 64... 64

Wudhu ... 66

Wudhu ... 66

Dasar Diberlakukannya Wudhu ... 66

Dasar Diberlakukannya Wudhu ... 66

Keutamaan Wudhu ... 67 Keutamaan Wudhu ... 67 RUKUN WUDHU ... 70 RUKUN WUDHU ... 70 1.Niat. 1.Niat. ... ... 7070 2.Membasuh muka satu kali. ... 70

2.Membasuh muka satu kali. ... 70

3.Membasuh 3.Membasuh kedua kedua tangan htangan hingga ke ingga ke siku. siku. ... 70... 70

4.Mengusap kepala. ... 70

4.Mengusap kepala. ... 70

5.Membasuh kedu 5.Membasuh kedua kaki hina kaki hingga kedua gga kedua mata kaki. .mata kaki. ... 72... 72

6.Tertib 6.Tertib dan dan berurutan. .berurutan. ... .. 7373 SUNNAH-SUNNAH WUDHU ... 74

SUNNAH-SUNNAH WUDHU ... 74

1.Memulai wudhu dengan membaca basmalah. ... 74

1.Memulai wudhu dengan membaca basmalah. ... 74

2. Menggosok gigi atau bersiwak. ... 74

2. Menggosok gigi atau bersiwak. ... 74

3. Mencuci 3. Mencuci kedua telakedua telapak tangan sepak tangan sebanyak tigbanyak tiga kali. a kali. ... 76 ... 76 

4.Berkumur-kumur seba 4.Berkumur-kumur sebanyak tiga kali. nyak tiga kali. ... 77 .. 77 

5.Memasukkan air ke 5.Memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkannya sebanyak tiga hidung kemudian mengeluarkannya sebanyak tiga kali. kali. ... 77 ... 77 

6.Menyela-nyela jenggot. ... 78

6.Menyela-nyela jenggot. ... 78

7.Menyela-nyela 7.Menyela-nyela jari-jari jari-jari tangan datangan dan kakin kaki. . ... 79... 79

8.Membasuh 8.Membasuh sebanyak sebanyak tiga tiga kali. .kali. ... ... 7979 9.Tay 9.Tayâ â mun. ... 80mun. ... 80

10.Menggosok. ... 81

10.Menggosok. ... 81

11.Muw 11.Muwâ â lah. ... 81lah. ... 81

12.Mengusap 12.Mengusap kedua kedua telinga. ...telinga. ... ... 8181 13.Melebihi basuhan dari yang semestinya. ... 82

13.Melebihi basuhan dari yang semestinya. ... 82

14.Mempergunakan air secukupny 14.Mempergunakan air secukupnya, meskipun berwudhu dengan air laut. a, meskipun berwudhu dengan air laut. ... 83... 83

15.Berdoa ketika sedang wudhu. 15.Berdoa ketika sedang wudhu... 84... 84

16.Berdoa setelah wudhu. ... 85

16.Berdoa setelah wudhu. ... 85

17.Mengerjakan shalat dua raka 17.Mengerjakan shalat dua raka’’at setelah wudhu. at setelah wudhu. ............ 86 ... 86 

Beberapa Hal yang Perlu Diperha Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berwudhu tikan Saat Berwudhu ... 87.. 87

PERKARA YAN PERKARA YANG MEMBATALKAN WUG MEMBATALKAN WUDHU DHU ... 87... 87

1.Segala sesuatu yang keluar kedua kemaluan ... 88

(5)

2.Tidur pulas dan tidak menetap pada duduknya. ... 89

2.Tidur pulas dan tidak menetap pada duduknya. ... 89

3.Hilangnya akal. ... 90

3.Hilangnya akal. ... 90

4.Menyentuh 4.Menyentuh kemaluan kemaluan dengan tanpdengan tanpa penghalanga penghalang. . ... 90... 90

PERKARA YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU PERKARA YANG TIDAK MEMBATALKAN WUDHU... 92... 92

1.Menyentuh muhrim perempuan tanpa penghalang ... 92

1.Menyentuh muhrim perempuan tanpa penghalang ... 92

2.Keluar darah yang 2.Keluar darah yang bukan dari kemaluan, baik karena bukan dari kemaluan, baik karena luka, bekam, maupun mimisan,luka, bekam, maupun mimisan, baik darah yang keluar sedik baik darah yang keluar sedikit ataupun banyak. it ataupun banyak. ... 93... 93

3. Muntah baik yang memenuhi mulutny 3. Muntah baik yang memenuhi mulutnya atau tidak. a atau tidak. ... 93... 93

4. Memakan daging unta. ... 93

4. Memakan daging unta. ... 93

5.Adanya sifat ragu dalam diri orang 5.Adanya sifat ragu dalam diri orang yang sudah berwudhu. yang sudah berwudhu. ... 94... 94

6.Tertawa terbahak-bahak. ... 95

6.Tertawa terbahak-bahak. ... 95

7.Memandikan mayat. ... 95

7.Memandikan mayat. ... 95

BEBERAPA PERKARA YANG BERHUBUNGAN BEBERAPA PERKARA YANG BERHUBUNGAN DENGAN WUDHU ... 96

DENGAN WUDHU ... 96

Perkara yang Mewajib Perkara yang Mewajibkan Wudhu kan Wudhu ... 96.. 96

1.Shalat 1.Shalat . . ... ... 96 96  2.Ketika 2.Ketika hendak hendak Thawaf Thawaf di di Baitullah. Baitullah. ... .. 96 96  3.Menyentuh Al-Qur  3.Menyentuh Al-Qur ’’an. ... 97 an. ... 97 

Beberapa Kondisi yang Dianjurkan Untuk Wudh Beberapa Kondisi yang Dianjurkan Untuk Wudhu u ... 98... 98

1.Ketika akan dzikir kepada Allah swt. ... 98

1.Ketika akan dzikir kepada Allah swt. ... 98

2.Ketika hendak tidur. ... 99

2.Ketika hendak tidur. ... 99

3.Disunnahkan wudhu bagi orang yang junub ... 100

3.Disunnahkan wudhu bagi orang yang junub ... 100

4.Sebelum mandi, baik mand 4.Sebelum mandi, baik mandi wajib maupun mandi sunah. i wajib maupun mandi sunah. ... ... 101101 5.Setelah memaka 5.Setelah memakan makanan yang dipanggann makanan yang dipanggang dengan api. ...g dengan api. ... ... 101... 101

6.Memperbarui wudhu setiap kali akan mengerjakan shalat. ... 102

6.Memperbarui wudhu setiap kali akan mengerjakan shalat. ... 102

Beberapa Hal yang Beberapa Hal yang Perlu DiperhatikPerlu Diperhatikan Bagi an Bagi Orang yang Berwudhu Orang yang Berwudhu ... ... 103103 MENGUSAP KHUF ... 104

MENGUSAP KHUF ... 104

Dasar Pensyariatannya ... 104

Dasar Pensyariatannya ... 104

Disyariatkan Me Disyariatkan Mengusap Kngusap Kaus Kaki aus Kaki ... 105... 105

Syarat-syarat Mengusap Khuf dan Sejenisnya... 107

Syarat-syarat Mengusap Khuf dan Sejenisnya... 107

Tempat Mengusap ... 108

Tempat Mengusap ... 108

Masa Berlaku Mengusap Khuf ... 108

Masa Berlaku Mengusap Khuf ... 108

Cara mengusap ... 109

Cara mengusap ... 109

Beberapa hal yang Membatalkan Mengu Beberapa hal yang Membatalkan Mengusap Khuf sap Khuf ... 110... 110

(6)

Mandi... 111

Definisi Mandi ... 111

Beberapa Hal yang Mewajibkan Mandi ... 112

1.Keluarnya sperma karena rangsangan syahwat. ... 112

2.Bertemunya dua kelamin (baca: hubungan intim). ... 114

3.Berhentinya haid dan nifas. ... 115

4.Meninggal dunia. ... 116 

5.Orang kafir yang memeluk agama Islam. ... 116 

BEBERAPA HAL YANG HARAM DILAKUKAN OLEH ORANG YANG JUNUB .... 117

1.Mengerjakan shalat. ... 117 

2.Thawaf. 117  3.Menyentuh atau membawa mushaf Al-Qur ’an . ... 117 

4.Membaca Al-Qur ’an. ... 118

5.Berdiam di dalam masjid. ... 119

MANDI SUNNAH ... 121

1.Mandi Jum’at. ... 121

2.Mandi pada Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha). ... 124

3.Mandi setelah memandikan mayat. ... 124

4.Mandi Ihram. ... 125

5.Mandi ketika hendak memasuki kota Mekah. ... 125

6.Mandi ketika hendak wuquf di Arafah. ... 126 

TATACARA MANDI... 126

Rukun-Rukun Mandi ... 126

1.Berniat. ... 126 

2.Membasuh seluruh anggota tubuh. ... 126 

Sunnah-sunnah Mandi ... 127

Tatacara Mandi Bagi Perempuan ... 129

Beberapa Masalah yang Berkaitan dengan Mandi ... 130

TAYAMUM ... 134

Definisi Tayamum ... 134

Dasar Diberlakukannya Tayamum ... 134

Tayamum Merupakan Keistimewaan Umat Rasulullah saw. ... 135

(7)

Sebab Diperbolehkannya Tayamum ... 136

Debu yang Digunakan untuk Tayamum ... 139

Tatacara Tayamum ... 140

Ibadah yang Boleh Dilakukan dengan Tayamum. ... 141

Beberapa Hal yang Membatalkan Tayamum ... 141

MENGUSAP PERBAN DAN SEJENISNYA ... 143

Landasan Hukum Mengusap Perban ... 143

Hukum Mengusap Perban ... 143

Waktu Diwajibkannya Mengusap Perban ... 144

Perkara yang Membatalkan Pengusapan Perban ... 144

Shalat Bagi Orang yang Tidak Mendapati Air dan Debu ... 144

HAID ... 146

Definisi Haid ... 146

Waktu haid ... 146

Warna darah haid ... 146

Masa Haid ... 148

Masa Bersuci di antara Dua Haid ... 148

N I F A S ... 149

Definisi Nifas ... 149

Waktu Nifas ... 149

BEBERAPA HAL YANG DIHARAMKAN BAGI WANITA YANG SEDANG HAID ATAU NIFAS... 150

ISTIHADHAH ... 153

Definisi Istihadhah ... 153

Kapan Darah yang Keluar dari Kemaluan Wanita Dikatakan Istihadhah?... 153

Hukum Bagi Wanita yang Keluar Darah Istihadhah ... 155

SHALAT ... 157

SHALAT ... 158

Kedudukan Shalat dalam Islam. ... 158

HUKUM MENINGGALKAN SHALAT ... 163

(8)

Perdebatan Terkait Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat. ... 168

Pernyataan Syaukani ... 169

Kepada Siapa Shalat Diwajibkan? ... 169

Shalatnya Anak Kecil ... 170

Jumlah Shalat Fardhu ... 170

WAKTU-WAKTU SHALAT ... 171

Waktu Shalat Zhuhur ... 174

 Batas Pelaksanaan Shalat Zhuhur di Akhir Waktu ... 175

Waktu Shalat Ashar ... 175

Waktu yang Diperbolehkan untuk Memilih dan yang Dimakruhkan ... 176 

 Menyegerakan Shalat Ashar ketika sedang Mendung. ... 176 

Shalat Ashar merupakan Shalat al-Wustha ... 177 

Waktu Shalat Maghrib... 178

Waktu Shalat Isya’... 179

 Anjuran Mengakhirkan Shalat Isya’. ... 181

Tidur sebelum Shalat Isya’dan Bergurau Setelahnya. ... 181

Waktu Shalat Shubuh ... 182

 Anjuran Menyegerakan Shalat Shubuh. ... 182

Hukum Ketika Hanya Sempat Mendapati Waktu Satu Raka’at ... 183

Tertidur atau Lupa Mengerjakan Shalat ... 184

Waktu-waktu yang Dilarang Mengerjakan Shalat ... 185

Pendapat Ahli Fikih Mengenai Shalat setelah Shalat Shubuh dan Ashar ... 187

Pandangan Para Ulama berkaitan dengan Shalat saat Matahari Terbenam, Terbit dan Tengah Hari. ... 187

Shalat Sunnah Setelah Terbitnya Fajar dan Sebelum Shalat Shubuh ... 189

Melaksanakan Shalat Saat Iqamah. ... 190

A D Z A N ... 191

Definisi Adzan ... 191

Keutamaan Adzan. ... 191

Sebab Disyariatkannya Adzan. ... 193

Tatacara Mengumandangkan Adzan ... 195

 Mengucapkan Tatswib ... 196 

Tatacara Iqamat ... 196

(9)

Doa Setelah Adzan ... 201

Doa dan Dzikir Ketika Iqamat ... 202

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Muazin ... 202

 Hendaknya Adzan Dikumandangkan Tepat pada Waktunya ... 204

 Jarak antara Adzan dan Iqamat ... 205

Orang yang Mengumandangkan Adzan, Dialah  yang Berhak Untuk Iqamat ... 205

 Berdiri Saat Iqamat Dikumandangkan. ... 205

 Hukum Keluar dari Masjid setelah Adzan. ... 206 

 Adzan dan Iqamat bagi Orang yang Waktu Shalat Sudah Lewat. ... 206 

 Adzan Perempuan dan Iqamatnya ... 207 

 Masuk ke dalam Masjid Setelah Shalat Dilaksanakan ... 207 

 Jarak antara Iqamat dan Shalat. ... 208

 Adzannya Orang yang Bukan Muazin Tetap ... 208

Kalimat Tambahan dalam Adzan. ... 208

SYARAT-SYARAT SHALAT ... 211

1. Mengetahui masuknya waktu shalat. ... 211

2. Suci dari hadas kecil ataupun hadas besar. ... 211

3. Badan, baju dan tempat yang dipergunakan shalat suci dari najis yang terlihat oleh pancaindra. ... 212

4. Menutup Aurat. ... 214

 Batasan aurat laki-laki ... 215

 Dasar orang yang mengatakan bahwa paha, pusar  dan lutut termasuk aurat ... 216 

 Batasan aurat seorang perempuan. ... 217 

Pakaian yang Wajib dan yang Sunnah. ... 218

Shalat dengan Kepala Terbuka ... 220

5. Menghadap Kiblat. ... 220

Shalat Bagi Orang yang Melihat Ka’bah dan yang Tidak Melihatnya. ... 220

 Bagaimana Mengetahui Arah Kiblat? ... 221

Shalatnya Orang yang Tidak Mengetahui Arah Kiblat. ... 221

Kapan Kewajiban Menghadap Kiblat Menjadi Gugur? ... 222

1. Shalat sunat bagi orang yang berada di atas kendaraan. ... 222

(10)

TATACARA SHALAT ... 224

FARDHU-FARDHU SHALAT ... 226

1. Niat ... 226

2. Takbiratul Ihram... 227

3. Berdiri dalam Mengerjakan Shalat Fardhu. ... 228

 Berdiri ketika Mengerjakan Shalat Sunat. ... 229

Shalat Bagi yang Tidak Mampu Berdiri ... 229

4. Membaca Al-Fâtihah setiap Rakaat dalam Shalat fardhu dan Shalat Sunnah... 229

 Hukum Membaca Basmalah (Bismillahir rahmâ nir rahî m)... 231

Cara Shalat bagi Orang yang Tidak Bisa Membaca Al-F â tihah ... 232

5. Ruku’... 233

 Bagaimana semestinya Ruku’ dilakukan? ... 233

6. Bangkit dari Ruku’(Itidal) yang disertai Thumaninah ... 234

7. Sujud. ... 235

 Batasan Thuma’ninah. ... 235

 Bagian Anggota Tubuh saat Sujud. ... 235

8. Duduk Tahiyyat Akhir dengan Membaca Tasyahud. ... 236

 Bacaan yang paling shahih dalam tasyahud. ... 237 

9. Mengucapkan Salam. ... 239

 Hukum Salam yang pertama dan yang kedua. ... 240

SUNNAH-SUNNAH SHALAT ... 241

1. Mengangkat kedua tangan ... 241

Pertama: Ketika takbiratul ihram. ... 241

Cara mengangkat kedua tangan ... 241

Waktu mengangkat kedua tangan. ... 242

Kedua: Ketika hendak ruku’... 243

Ketiga: Ketika bangkit dari ruku’... 243

Keempat: Ketika berdiri untuk melanjutkan raka’at ketiga. ... 244

Persamaan antara Laki-laki dan Perempuan dalam Masalah Sunnah Mengangkat Tangan.. ... 245

2. Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri. ... 245

(11)

3. Membaca doa iftitah. ... 247

4. Isti’âdzah... 252

 Membaca Isti’â dzah dengan suara pelan. ... 252

 Isti’â dzah disyariatkan hanya pada rakaat pertama. ... 252

5. MembacaÂmîn. ... 253

 Anjuran membaca ‘Âmî nbersamaan dengan imam. ... 255

6. Membaca surah Al-Qur’an setelah Al-Fâtihah. ... 256

Cara membaca ayat Al-Qur ’an setelah membaca Al-F â tihah. ... 258

Petunjuk Rasulullah saw. berkaitan membaca surah setelah membaca Al-F â tihah. ... 259

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Shubuh. ... 260

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Zhuhur. ... 260

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Ashar. ... 261

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Maghrib. ... 261

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Isya’. ... 262

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Jum’at. ... 262

Surah yang dibaca (Rasulullah) ketika shalat Hari Raya. ... 262

 Membaca surah tertentu ... 264

 Memanjangkan raka’at pertama saat shalat Shubuh. ... 265

Cara Rasulullah saw. membaca surah (Al-Qur ’an) ... 265

 Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membaca surah Al-Qur ’an ... 265

Shalat yang disertai dengan membaca suara keras dan suara pelan. ... 267 

 Hukum Membaca Al-F â tihah bagi Makmum ... 268

7. Takbiratul Intiqâl (Takbir Selain Takbiratul Ihram) ... 270

8. Cara Melakukan Ruku’... 271

9. Bacaan Ketika Ruku’... 272

10. Bacaan Ketika Bangkit dari Ruku’dan Ketika Itidal. ... 274

11. Cara Menurunkan (badan) dan Bangkit dari sujud. ... 277

12. Cara Sujud. ... 278

13. Lamanya Sujud dan Dzikir yang Dibaca. ... 279

(12)

 Doa di antara Dua Sujud. ... 286 

15. Duduk Istirahat. ... 286

16. Cara Duduk saat Tasyahud. ... 287

17. Tasyahud Pertama. ... 289

 Anjuran untuk meringankan tasyahud ... 291

18. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad saw. ... 291

19. Doa setelah Tasyahud Akhir dan sebelum Salam. ... 293

20. Dzikir dan Doa setelah Salam ... 298

SHALAT-SHALAT SUNNAH ... 308

Penetapan Shalat Sunnah ... 308

Anjuran agar Shalat Sunnah Dilakukan di Rumah ... 309

Keutamaan Berdiri Lama dalam Shalat Sunnah Melebihi Keutamaan Banyak Sujud ... 311

Hukum Mengerjakan Shalat Sunnah dengan Posisi Duduk ... 311

MACAM-MACAM SHALAT SUNNAH ... 312

SHALAT SUNNAH FAJAR (SHUBUH) ... 313

Keutamaan Shalat Sunnah Fajar... 313

Meringankan Pelaksanaan Shalat Sunnah Fajar ... 314

Surah-Surah yang Dibaca dalam Shalat Sunnah Fajar ... 315

Doa Setelah Mengerjakan Shalat Sunnah Fajar ... 317

Berbaring Sesudah Shalat Sunnah Fajar ... 318

Mengqadha’Shalat Sunnah Fajar ... 319

SHALAT SUNNAH ZHUHUR ... 320

 Riwayat yang Menyatakan Empat Raka’at ... 320

 Riwayat yang Menyatakan Enam Raka’at ... 320

 Riwayat yang Menyatakan Delapan Raka’at ... 321

Keutamaan Shalat Empat Raka’at Sebelum Zhuhur ... 322

Mengqadha’Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Zhuhur ... 323

SHALAT SUNNAH MAGHRIB ... 324

Surah yang Dianjurkan Untuk Dibaca dalam Shalat Sunnah ... 324

SHALAT SUNNAH ISYA’... 325

(13)

1. Dua Raka’at atau Empat Rakaat Sebe-lum Ashar... 325

2. Dua Raka’at Sebelum Maghrib ... 326 

3. Dua Raka’at Sebelum Isya... 326 

 Anjuran Adanya Jeda antara Shalat Wajib dan Sh alat Sunnah sekitar Waktu yang Dibutuhkan untuk Satu Kali Shalat ... 327 

SHALAT WITIR ... 327

Keutamaan dan Hukum Shalat Witir ... 327

Waktu Shalat Witir ... 329

 Anjuran untuk Menyegerakan atau Mengakhirkan Shalat Witir ... 330

Jumlah Raka’at Shalat Witir ... 331

Bacaan dalam Shalat Witir ... 334

Qunut dalam Shalat Witir... 334

Waktu Qunut ... 335

Berdoa sesudah Shalat Witir... 336

Tidak Ada Dua Kali Witir dalam Satu Malam ... 337

Mengqadha’Shalat Witir ... 338

QUNUT DALAM SHALAT LIMA WAKTU ... 339

Qunut dalam Shalat Shubuh ... 340

SHALAT MALAM (QIYAMUL LAIL) ... 342

Keutamaan Shalat Malam ... 342

Adab dalam Melaksanakan Shalat Malam ... 345

Waktu Pelaksanaan Shalat Malam ... 351

Waktu yang Paling Utama ... 351

Jumlah Raka’at Shalat Malam ... 353

Mengqadha’Shalat Malam ... 355

SHALAT MALAM BULAN RAMADAN ... 355

Penetapan Shalat Malam (Tarawih) Bulan Ramadhan ... 355

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih ... 356

Shalat Tarawih dengan Berjamaah ... 358

Surah yang Dibaca dalam Shalat Tarawih ... 358

SHALAT DHUHA ... 359

Keutamaan Shalat Dhuha ... 359

(14)

Waktu Shalat Dhuha ... 362

Jumlah Raka’at Shalat Dhuha ... 363

SHALAT ISTIKHARAH ... 364

SHALAT TASBIH ... 366

SHALAT HAJAT ... 367

SHALAT TAUBAT ... 368

SHALAT GERHANA ... 369

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana ... 371

SHALAT ISTISQA’... 372

SUJUD TILAWAH ... 379

Keutamaan Sujud Tilawah ... 380

Hukum Sujud Tilawah ... 380

Ayat-ayat Sajadah ... 381

Syarat-syarat Sujud Tilawah ... 384

Doa dalam Sujud Tilawah ... 385

Sujud Tilawah dalam Shalat ... 386

 Ayat Sajadah yang Berulang-ulang ... 387 

 Mengqadha’ Sujud Tilawah ... 387 

SUJUD SYUKUR ... 387

SUJUD SAHWI ... 389

Cara Sujud Sahwi... 389

Keadaan-Keadaan yang Disyariatkan Melakukan Sujud Sahwi ... 391

SHALAT JAMAAH ... 395

Shalat Jamaah di Masjid bagi Kaum Wanita ... 397

Shalat Jamaah Dianjurkan di Masjid yang Terjauh dan Jamaahnya Lebih Banyak. ... 398

Anjuran agar Berjalan dengan Te-nang saat Pergi ke Masjid ... 400

Imam Dianjurkan Memperingan Shalat ... 400

Memanjangkan Bacaan Raka’at Pertama dan Menunggu Orang yang Baru Datang ke Masjid agar Sempat Berjamaah ... 402

(15)

Shalat Jamaah Boleh Dilakukan Hanya dengan Seorang Imam

dan Se-orang Makmum. ... 405

Imam Dibolehkan Merubah Niat Menjadi Makmum ... 406

Cara Shalat Seseorang yang Tertinggal dalam Shalat Jamaah ... 407

Beberapa Hal yang Memboleh-kan Seseorang Meninggalkan Shalat Jamaah ... 408

1. Ketika udara sangat dingin dan hujan turun dengan lebat. ... 408

2. Ketika makanan sudah disajikan. ... 409

3. Desakan (kebelet) buang air besar atau kecil. ... 410

ORANG YANG LEBIH LAYAK MENJADI IMAM... 410

Orang-orang yang Diperbolehkan Menjadi Imam ... 412

Orang yang Tidak Sah Menjadi Imam... 414

Seorang Perempuan Hanya Bisa Menjadi Imam untuk Sesama Perempuan ... 414

 Hukum Menentukan Seorang Laki-laki Sebagai Imam Khusus untuk Kaum Wanita ... 415

Orang Fasik dan Pelaku Bid ’ah Dimakruhkan Menjadi Imam ... 415

 Hukum Memisahkan Diri dari Imam karena Adanya Uzur ... 416 

  Mengulangi Shalat Berjamaah ... 416 

 Anjuran Bagi Imam agar Membalikkan Badan ke Kanan atau Kiri Setelah Mengucapkan Salam dan Berpindah dari Tempat Duduknya ... 418

 Hukum Posisi Imam atau Makmum yang Lebih Tinggi ... 419

 Makmum yang berada di Balik Tirai ketika Shalat dengan Imam. ... 420

 Hukum Bermakmum dengan Orang  yang Ketinggalan Fardhu Shalat. ... 420

 Menggantikan Imam ... 421

 Imam yang Dibenci Makmumnya ... 422

POSISI IMAM DAN MAKMUM ... 423

Posisi Makmum Ketika Sendirian, Berdua atau Lebih. ... 423

Posisi Imam ... 423

Shaff bagi Anak-anak dan Kaum Wanita ... 424

(16)

Anjuran Meratakan Barisan dan Menutupi Celah Barisan

yang Masih Kosong ... 427

Anjuran Mengisi Barisan Pertama dan Berada di Sebelah Kanan ... 429

Mengulangi Bacaan Takbir Intiqâl ... 430

MASJID ... 431

Keistimewaan Umat Rasulullah saw. ... 431

Keutamaan Membangun Masjid ... 432

 Berdoa Ketika Hendak Berangkat ke Masjid ... 432

 Berdoa Ketika Masuk atau Kelu-ar dari Masjid ... 434

Keutamaan Datang ke Masjid dan Duduk di Dalamnya ... 435

Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid... 437 

 Masjid-Masjid yang Lebih Diutamakan ... 437 

Bermegah-megahan dalam Membangun Masjid ... 438

Membersihkan Masjid dan Memberinya Wewangian ... 439

Merawat Masjid ... 440

Hukum Mencari Barang yang Hilang, Jual Beli dan Bersyair dalam Masjid ... 441

Mengemis dalam Masjid ... 442

Mengeraskan Suara dalam Masjid ... 443

Berbicara dalam Masjid ... 444

Makan, Minum, dan Tidur dalam Masjid ... 444

Hukum Menjalinkan Jari ... 444

Hukum Shalat di antara Tiang-tiang Masjid ... 445

TEMPAT-TEMPAT YANG DILARANG UNTUK DIJADIKAN TEMPAT SHALAT . 446 1. Kuburan atau Tempat Pemakaman ... 446 

2. Gereja atau Sinagog ... 448

3. Tempat Pembuangan Sampah, Tempat Penyembelihan Hewan, Tengah Jalan, Pemberhentian Unta, Kamar Mandi, dan di Atas Ka’bah ... 448

4. Di dalam Ka’bah ... 449

TIRAI DI DEPAN ORANG YANG MENUNAIKAN SHALAT ... 450

Hukumnya ... 450

Bentuk Tirai ... 451

Tirai Imam Merupakan Tirai Makmum Juga ... 452

(17)

Diharamkan Melintas di antara Tempat Berdiri Seseorang

yang Sedang Shalat ... 453

Disyari’atkan Mencegah Orang yang Hendak Melintas di Depan Seseorang yang Sedang Shalat ... 455

Tidak ada Perkara yang Dapat Menghentikan Shalat ... 456

BEBERAPA HAL YANG DIBOLEHKAN DALAM SHALAT ... 457

1. Menangis, mengeluh atau merintih ... 457 

2. Menoleh ke arah mana pun jika diperlukan ... 458

3. Membunuh Ular, Kalajengking, Kumbang, dan binatang-binatang lain yang berba-haya, meskipun usaha membunuhnya memerlukan banyak gerakan ... 460

4. Berjalan sejenak karena keperluan ... 461

5. Menggendong dan membopong anak kecil dalam shalat ... 462

6. Memberi salam kepada seseorang yang sedang shalat ... 464

7. Membaca tasbih dan bertepuk tangan ... 465

8. Mengingatkan bacaan imam ... 466 

9. Membaca hamdalah apabila bersin atau ketika memperoleh nikmat ... 466 

10. Sujud di atas baju atau serban seseorang  yang sedang shalat karena ada halangan ... 467 

 Ringkasan Hal-hal yang Dibolehkan dalam Shalat ... ... 467 

11. Membaca ayat dengan melihat mush-af al-qur an ... 469

12. Aktivitas batin yang tidak ada kaitannya dengan shalat ... 469

BEBERAPA HAL YANG MAKRUH DALAM SHALAT ... 472

1. Mempermainkan baju atau anggota badannya kecuali jika diperlukan ... 472

2. Berkacak pinggang ketika shalat ... 473

3. Mengarahkan pandangan mata ke langit ... 473

4. Melihat sesuatu yang dapat melalai-kan shalat ... 473

5. Memejamkan kedua mata ... 474

6. Memberi isyarat dengan kedua tangan ketika memberi salam ... 474

7. Menutup mulut dan memanjangkan kain hingga menutup mata kaki ... 474

(18)

9. Menahan kencing, buang air besar, atau hal-hal lain

 yang dapat mengganggu ke-tenangan shalat ... 475

10. Shalat ketika sedang mengantuk ... 476 

11. Shalat di tempat tertentu di dalam masjid, kecuali imam ... 477 

BEBERAPA HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT ... 477

1. Makan dengan sengaja ... 477 

2. Minum dengan sengaja ... 477 

3. Berbicara dengan sengaja dan bu-kan untuk kepentingan shalat ... 478

4. Banyak bergerak dengan sengaja ... 480

5. Sengaja meninggalkan rukun atau syarat shalat  tanpa ada halangan ... 481

6. Tersenyum dan tertawa terbahak-bahak dalam shalat ... 481

MENGQADHA’ SHALAT ... 482

SHALATNYA ORANG SAKIT... 488

SHALAT KHAUF DAN TATACARANYA ... 490

1. Musuh tidak berada pada arah kiblat ... 491

2. Arah musuh tidak berada di kiblat ... 492

3. Imam shalat dengan masing-masing kelompok  sebanyak dua raka’at ... 492

4. Musuh berada pada arah kiblat ... 493

5. Kedua kelompok sama-sama shalat bersama imam ... 494

6. Setiap kelompok shalat bersama imam hanya satu raka’at ... 495

Cara Shalat Khauf Maghrib ... 495

Shalat dalam Keadaan Gawat ... 496

Shalat Orang yang Mengejar atau Dikejar Musuh ... 496

SHALAT DALAM PERJALANAN ... 497

Mengqashar Shalat yang Jumlah Raka’atnya Empat ... 498

Jarak yang Diperbolehkan Mengqashar Shalat ... 500

Tempat yang Diperbolehkan Mengqashar Shalat ... 502

Kapan Musafir Harus Melaksanakan Shalat dengan Raka’at Penuh? ... 503

Shalat Sunnah dalam Perjalanan... 507

(19)

MENJAMAK SHALAT DAN WAKTU PELAKSANAANYA... 508

1. Berada di Arafah dan Muzdalifah ... 509

2. Saat dalam Bepergian ... 509

3. Saat Turun Hujan ... 511

4. Karena Sakit atau Berhalangan ... 512

5. Karena Adanya Keperluan ... 512

Keterangan Tambahan tentang Menjamak Shalat ... 514

SHALAT DALAM KAPAL LAUT, KERETA API, DAN PESAWAT TERBANG ... 514

(20)

FIKIH SUNNAH

[JILID I ]

Takhrij dan Tahkik Hadits

Muhammad Nashiruddin Al-Albani



  

¡

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya

bagimu maka tinggalkanlah.”

(Al-Hasyr [59]: 7)

(21)

KATA PENGANTAR

Oleh: al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna

CBA

 Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada

  junjungan kita, Nabi Muhammad saw., keluarga, dan sahabatnya hingga hari

kiamat.

Allah swt. berfirman,

½¼»º¹

¾ 

¿

ÆÅÄÃÂÁÀ

 

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan

 perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa

orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk 

memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,

supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

(At-Taubah [9] : 122)

Sesungguhnya sebaik-baik amal yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada

Allah swt. adalah menyebarkan dakwah Islam, memperkenalkan Syariat Islam,

terutama yang berkaitan dengan aspek hukum-hukum fikih. Sehingga umat Islam

(22)

dapat memahami secara jelas dalam melaksanakan ibadah dan amalan perbuatan

mereka sesuai dengan tata cara yang benar. Rasulullah saw. bersabda,



 







 



 

























 

 





















.

  Jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi seseorang, maka diberikan-Nya

suatu pemahaman dalam urusan agama. Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh

dengan belajar. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun

dirham, mereka hanya mewariskan ilmu pengetahuan. Maka, barangsiapa yang

telah menggapainya, sungguh ia telah mendapat bagian yang melimpah..

1

Usaha yang paling baik, bermanfaat, dan berpengaruh terhadap hati dan akal

dalam mempelajari fikih Islam, khususnya yang berkaitan dengan hukum-hukum

ibadah dan kajian-kajian umum yang ditujukan kepada masyarakat awam, adalah

menghindari penggunaan istilah-istilah khusus dan definisi yang sulit dipahami.

Kajian fikih Islam sebisa mungkin dikaitkan dengan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan

Sunnah dengan penjelasan yang sistematik dan mudah dipahami. Di samping itu,

menitikberatkan pada hikmah dan manfaat di balik pemberlakuan sebuah hukum

bertujuan agar para pembaca yang mendalami ilmu fikih seakan berdialog secara

langsung dengan Allah dan rasul-Nya, juga dapat mengambil pelajaran yang

bermanfaat dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat. Hal ini tentunya

1 Hadits ini bukanlah dalam susunan satu redaksi, tapi terdiri dari tiga penggalan hadits. Penggalan

pertama, yaitu ‘ Jika Allah menghendaki suatu kebaikan bagi seseorang, maka diberikan-Nya suatu   pemahaman dalam urusan agama.’ dari Mu’âwiyah dan merupakan hadits yang disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits. HR Bukhari, hal: 7460. Muslim, kitab: az-Zakât , bab an- Nahyu ‘an al-Musa’alah hal: 1037. Sedangkan, penggalan kedua merupakan bagian dari hadits Abu Darda’ ra., di mana bagian pertamanya, berbunyi: ‘  Barangsiapa yang menapaki jalan untuk  menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga…’ HR Abu Daud, kitab, Al-‘Ilm, bab, “Al-  Hatts ‘ala Thalab al-‘Ilm“ hal: 3641, 3642. Tirmidzi, kitab, “ Al-‘Ilmu,” bab, “Fadhl Thalab al-‘Ilm” hal: 2683. Ibnu Majah, “al-Muqaddimah,” bab “Fadhlu al-‘Ulamâ” hal:223. Al-Albani mengklasifikasikannya sebagai hadits shahih dalam Shahih al-Jâmi’,Shahih At-Targhîb, hal: 8) dan Shahîh Ibnu Mâjah, hal: 182. Sedangkan hadits (penggalan ketiga) yang berbunyi, ‘Sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar ’ adalah hadits shahih. Lihat Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah, ha: 342.

(23)

akan menjadi motivasi tersendiri bagi para pembaca untuk terus meningkatkan

wawasan keilmuan dan penerimaannya atas pengetahuan.

Usaha dan cara Inilah yang dilakukan oleh al-Ustadz Syekh Sayyid Sabiq ketika

menulis karyanya yang berjudul “Fiqh as-Sunnah.” Beliau menulis buku ini

dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dicerna, banyak mengandung

manfaat dengan menjelaskan hukum-hukum fikih secara sistematik. Usahanya ini,

insya Allah,

akan mendapat pahala dari Allah serta mengundang perasaan kagum

dari pemeluk agama yang mulia ini. Semoga Allah memberi balasan atas

jasa-  jasanya yang telah dipersembahkan untuk memperjuangkan kejayaan agama,

umat, dan dakwah dengan sebaik-baik balasan. Semoga Allah menjadikan karya

ini sebagai amal kebaikan bagi dirinya dan juga umat manusia seluruhnya.

(24)

KATA PENGANTAR

Oleh: as-Sayyid Sabiq

CBA

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.“

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga

senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., pemimpin

umat manusia sejak zaman dahulu hingga akhir zaman. Demikian juga, kepada

seluruh keluarga dan orang-orang yang mengikuti petunjuk dan ajarannya hingga

hari kiamat.

Buku ini merupakan jilid pertama dari kitab fikih sunnah. Jilid pertama ini

membahas masalah-masalah fikih Islam yang disertai dalil-dalil yang bersumber

dari Al-Qur`an, Sunnah yang shahih dan

 Ijma

’ para ulama.

Kajian dalam buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dan

lengkap, yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang harus dilalui oleh setiap

individu muslim. Di samping itu, saya berusaha untuk tidak mengangkat

perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama. Namun, jika tidak dapat

dimungkinkan karena permasalahan yang mengharuskannya, maka saya akan

mengemukakannya dengan sekilas.

Dengan begitu, buku ini diharapkan dapat menampilkan gambaran fikih Islam

yang benar. Inilah di antara misi diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai utusan

Allah di permukaan bumi ini. Buku ini juga diharapkan dapat membuka pintu

(25)

pemahaman umat manusia mengenai Allah dan rasul-Nya, mempersatukan umat

Islam supaya tetap berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Sunnah serta

menghilangkan perbedaan pendapat dan bid’ah fanatisme pada mazhab. Buku ini

  juga diharapkan dapat menghapus prasangka (sebagian orang) yang menyatakan

bahwa pintu ijtihad telah tertutup.

Inilah kontribusi yang saya persembahkan sebagai bakti saya kepada agama.

Semoga bermanfaat bagi saudara-saudaraku yang se-keyakinan. Kami senantiasa

berdoa kepada Allah swt., agar amal bakti ini bermanfaat, disertai keikhlasan dan

hanya mengharapkan keridhaan-Nya semata. Hanya Allah, tempat kita berpegang,

Dia lah sebaik-baik pelindung.

Kairo, 15 Sya’ban 1365 H

(26)

PENDAHULUAN

Universalitas dan Tujuan Syariat Islam

Allah swt. mengutus Nabi Muhammad saw. dengan membawa ajaran agama yang

suci, mudah, dan syariat yang lengkap. Ajaran yang dibawa Rasulullah saw.

menjamin kemuliaan hidup umat manusia. Dengannya, manusia akan memperoleh

derajat tertinggi dan sempurna. Selama lebih kurang 23 tahun, Rasulullah saw.

mengajak umat manusia menuju jalan yang telah digariskan Allah swt., dan beliau

berhasil menyebarkan agama dan mempersatukan umat manusia untuk

memeluknya.

Universalitas Risalah Islam

Risalah Islam bukanlah risalah yang bersifat lokal, terbatas hanya pada satu

generasi atau suku-bangsa tertentu, sebagaimana risalah-risalah keagamaan yang

diturunkan sebelum Islam. Risalah Islam merupakan ajaran yang bersifat

universal; ia ditujukan bagi seluruh umat manusia hingga hari kiamat; ajaran

Islam tidak dikhususkan untuk negeri tertentu atau masa tertentu. Allah swt.

berfirman,

¤

¥ 

¦

§ 

¨

©

ª 

« 

¬

®

(27)

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqân (Al-Qur'an) kepada

hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

(Al-Furqân [25]: 1)

Allah swt. berfirman,

  



 

¢

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya

sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.

” ( Sabâ’ [34]:

28)

Allah swt. berfirman,

 

 

 

 

 

 

 



 



 

 

¡ 

¢ 

£ 



¤

¥

§¦

¨ 

© 

ª

« 

¬ 

® 

 

° 

±

² 

³ 

´

“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu

semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan

(yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka

berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman

kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia,

supaya kamu mendapat petunjuk."

(Al-A’râf [7] : 158)

Dalam salah satu hadits shahih disebutkan,

  

         

(28)

“Setiap nabi diutus khusus kepada bangsanya, dan aku diutus untuk yang berkulit putih dan yang berkulit hitam.”2

Di antara bukti universalitas dan syumûliah ajaran Islam adalah:

1) Tidak terdapat suatu perkara di dalam ajaran Islam yang sulit untuk diyakini atau dilaksanakan oleh umat manusia. Allah swt. berfirman,

§

¨

© 

ª 

« 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(Al-Baqarah [2]: 286)

Allah swt. berfirman,

§ 

¨ 

© 

ª 

« 

¬ 

® 

 

º

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran

bagimu.”

(Al-Baqarah (2): 185)

Allah swt. berfirman,

 

¢¡

Æ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam

agama suatu kesempitan

.”

(Al-Hajj [22]: 78)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Maqburi bahwasanya

Rasulullah saw. bersabda,

(29)

          

.

Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tidak ada seorang pun yang mempersulit 

agama ini, melainkan ia akan dikalahkan olehnya (merasa kesulitan dalam

melaksanakannya, penj).

3

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

   





.

  Agama yang lebih disukai Allah adalah agama yang benar dan penuh

toleransi.

4

2) Permasalahan yang tidak berubah, baik waktu dan tempatnya seperti akidah

dan ibadah, dijelaskan dengan sempurna dan terperinci. Di samping itu,

diterangkan dengan nash-nash yang lebih lengkap sehingga seseorang tidak perlu

lagi menambah ataupun menguranginya. Adapun permasalahan yang dapat

berubah berdasarkan perkembangan waktu dan tempat, seperti problematika

kemasyarakatan, urusan politik dan peperangan, semuanya dijelaskan secara

umum agar dapat mengikuti kemaslahatan dan kebutuhan umat manusia di

sepanjang masa. Di samping itu, dapat juga dijadikan sebagai pedoman bagi para

pemimpin dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, karena perkara-perkara

seperti ini bersifat fleksibel.

3 HR Bukhari kitab, “Al-Îmân”, bab, Ad-Din Yusr”, jilid I, hal: 116. Nasa’i kitab, “Al-Îmân,”

bab, “Ad-Din Yusr,” No: 5034, jilid XII, hal: 122. Sunan al-Kubrâ karya Baihaqi kitab, “ as-Shalâh,” jilid III 3, hal: 18.

4 Syarh as-Sunnah, jilid VI, hal: 47 dan Bukhari menganggapnya sebagai mu’allaq, kitab

Al-Îmân,” bab. “Ad-Din Yusr,” sabda Rasulullah saw. .: “  Agama yang lebih disukai Allah adalah agama yang benar dan penuh toleransi”, jilid, I, hal, 116.

Pengarang Fath al-Bâri berkata, “Hadits mu’allaq ini tidak disebutkan sanadnya oleh pengarang (Imam Bukhari, red) dalam Shahîhnya. Sebab tidak memenuhi syarat yang biasa digunakan dalam meneliti keshahihan sebuah hadits. Bagaimanapun adanya, beliau menganggap hadits ini sebagai hadits yang mawshûl dalam kitab “al-Âdab al-Mufrad . “ Demikian juga dengan Ahmad Ibnu Hanbal dan ulama lain. Mereka meriwayatkan dari Muhammad Ibnu Ishaq, dari Daud Ibnu al-Hushien, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan sanad hasan. Disebabkan hadits ini tidak memenuhi syarat Bukhari, beliau hanya mencantumkannya di bagian bab saja. Namun, beliau juga menganggap hadits ini kuat, karena kesesuaian maknanya dengan ajaran Islam yang meliputi kemudahan dan toleransi.” LihatFath al-Bâri, jilid I, hal: 93.

(30)

2) Semua ajaran Islam bertujuan untuk menjaga kepentingan agama, jiwa, akal,

keturunan dan harta. Hal ini sesuai dengan fitrah dan akal, perkembangan zaman

serta dilaksanakan di setiap tempat dan masa. Allah swt. berfirman,

S

T

U

[

^] 

_

`

b

f

ih 



k



 m 



o

p



r

 v



w

x

z

{

 | 



~

 

 

 



 

 

 



 

“Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah

dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang

mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi

orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja)

di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang

  yang mengetahui. Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang

keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa,

melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan)

mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah

untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak 

kamu ketahui.”

(Al-A’râf [7]: 32-33)

Allah swt. berfirman,

A

E

G

H

K

ML 

N

O

R

TS 

U

V

W  

        

YX

Z



\

]

_

`

c

d

l

o

r

s

u

x

y

{

|

 

 

         



 

 

 

 

 

 

 

 

(31)

“Dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat;

Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman:

"Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang aku kehendaki dan rahmat-Ku

meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang

  yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada

ayat-ayat kami". (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang Ummi yang

(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi

mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka

dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik 

dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka

beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang

  yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya

 yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka Itulah orang-orang

 yang beruntung.”

(Al-A’râf [7]: 156-157)

Tujuan Risalah Islam

Tujuan yang ingin dicapai oleh risalah Islam adalah untuk membersihkan dan menyucikan jiwa, dengan cara mengenal Allah dan beribadah hanya kepada-Nya. Selain itu, Islam juga ditujukan untuk mengukuhkan hubungan antara sesama manusia serta menegakkannya dengan disertai rasa saling menyayangi, persamaan dan keadilan. Dengan demikian, kebahagiaan umat manusia dapat terwujud, baik di dunia maupun di akhirat. Allah swt. berfirman,

 N

O

P

Q

R

S

T

 U



V

W

X

\

 ]  



_

a

c

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara

mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka

dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan

sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,”

(32)

Dalam kesempatan yang lain, Allah swt. Berfirman,

 

 



 



“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi

semesta alam.”

(Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Tujuan risalah Islam ini juga dinyatakan dalam sebuah hadits yang berbunyi,

  

 Aku (diutus sebagai) rahmat yang memberi petunjuk .

5

Penerapan Hukum Islam atau Ilmu Fiqh

Tasyri’

Islam merupakan salah satu aspek terpenting yang diatur dalam risalah

Islam dan sekaligus mencerminkan sisi ilmiah dari risalah ini. Hukum Islam yang

murni seperti hukum-hukum ibadah bersumber pada wahyu Allah yang

diturunkan kepada Rasulullah saw.. sebagaimana yang tercantum di dalam

Al-Qur`an, Sunnah atau ijtihad yang telah ditetapkan (aturan-aturannya). Dalam hal

ini, tugas Rasulullah saw. hanya menyampaikan dan memberikan penjelasan

tentang risalah agama yang diembannya. Allah swt. berfirman,

K

M

O

Q

S

U

5 Dalamal-Mustadrak oleh Hakim, jilid: 1, hal: 35, lafal hadits ini sebagai berikut: “Wahai sekalian

umat manusia! Sebenarnya aku (diutus sebagai) yang memberi petunjuk.” Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim. Dalam pandangan mereka, riwayat Imam Malik Ibnu Sa’id dapat dijadikan sebagai hujjah. Perawi yangtsiqah apabila meriwayatkan hadits secara sendirian, tetap bisa diterima riwayatnya.” Pernyataan al-Hakim ini, didukung oleh adz-Dzahabi. Ia berkata, “Riwayat hadits ini sesuai dengan syarat Imam Bukhari dan Muslim. Perawi yangtsiqah apabila meriwayatkan hadits secara sendirian tetap dapat diterima.” HR Baihaqi dalam “Syu’âb al-Îmân,” jilid, II, hal: 164. Ibnu Sa’ad dalam Ath-thabaqât , jilid, III, hal: 192 dan dikategorikan sebagai shahih oleh al-Albani dalam Ghâyah al-Marâm: (1) dan Silsilah al-Ahâdits as-Shahihah: hal: 490.

(33)

“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut kemauan hawa

nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan

(kepadanya).”

(An-Najm [53]: 3-4)

Adapun ketentuan hukum yang berkaitan dengan urusan duniawi seperti

pengadilan, politik dan peperangan, Rasulullah saw. diperintahkan untuk

bermusyawarah dalam menyelesaikannya. Terkadang, beliau mengemukakan

suatu pendapat, kemudian menariknya kembali berdasarkan pendapat sahabat

yang lebih baik. Beliau tidak segan-segan menarik kembali pendapatnya dan

menerima pendapat para sahabat, sebagaimana yang terjadi ketika perang Badar

dan Uhud.

Demikian juga para sahabat, mereka datang meminta pandangan dan pendapat

Rasulullah saw. berkaitan dengan perkara yang tidak mereka ketahui. Bahkan

ada di antara mereka yang hanya datang untuk meminta penjelasan atas maksud

yang tertera dalam nash-nash, dengan tujuan untuk memastikan pemahaman yang

selama ini dipahami, apakah benar ataukah tidak. Dalam keadaan seperti ini,

beliau terkadang membenarkan pemahaman yang dikemukakan oleh sahabatnya

dan terkadang juga menjelaskan letak kesalahan mereka.

Kaidah-kaidah umum dalam menetapkan suatu ketentuan sebagaimana yang telah

digariskan oleh Islam dan harus dijadikan sebagai panduan oleh kaum muslimin

adalah sebagai berikut:

1. Dilarang membahas suatu hukum atas suatu peristiwa yang belum berlaku

sehingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi secara nyata. Allah swt.,

 

¡

¢ 

£

¤

¥ 

¦ 

§ 

¨ 

©

ª

«

¬

®

 

° 

± 

²

³

´ 

¶

¸

¹

º

»

 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu)

hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika

kamu menanyakan di waktu Al-Qur'an itu sedang diturunkan, niscaya akan

(34)

diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha

Pengampun lagi Maha Penyantun.

(Al-Mâidah [5] : 101)

Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwasanya Rasulullah saw.

melarang

membicarakan yang belum terjadi

.

6

2. Menjauhi banyak bertanya dan memutarbalikan permasalahan sehingga

menjadikannya sulit. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda,

     

   

Sesungguhnya Allah tidak senang atas diri kalian perkataan ini dan itu, banyak 

bertanya dan menyia-nyiakan harta..

7

Rasulullah saw. juga bersabda,

     

         

 

     

  

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah

kamu menyia-nyiakannya; menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kamu

melanggarnya; mengharamkan beberapa larangan, maka janganlah kamu

melanggarnya; dan mendiamkan atas suatu perkara sebagai rahmat bagi kalian,

tidak karena lupa, maka janganlah kamu membahasnya.

8

6 HR Abu Daud dalam kitab: Al-‘Ilm, bab.  At-Tawaqqi fî al-Futyâ (3656), jil: 4, hlm: 65, Musnad 

 Ahmad , jil: 5, hlm: 435. Di sini, al-Awza’i memberi komentar terhadap hadits ini dengan berkata: “ Al-Aghluthât  ; masalah-masalah yang sulit dan berat untuk dilaksanakan.” Hadits ini diklasifikasikan dalam hadits shahih oleh al-Albani. Lihat Tamâm al-Minnah: (45) dan Dha’îf al- Jâmi’: (6048).

7  Musnad Ahmad , jilid, IV, hal: 249. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Mughirah

Ibnu Syu’bah dengan lafal: “Sesungguhnya Allah swt. mengharamkan kepada kalian mendurhakai ibu…, dan membenci kamu apabila banyak mengatakan ini dan itu…”. Lihat Shahih al-Jâmi’, hal: 1895 dan Mukhtashar Shahîh Muslim, hal 1236.

8 HR ad-Daruquthni dalamSunannya, jilid IV, hal: 184. Hakim dalamal-Mustadrak , jilid IV, hal:

115. Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrâ, jilid X, hal: 12-13 dan dikategorikan sebagai hadits hasan oleh al-Albani dalamGhâyah al-Marâmdan tahqiqnya dalam kitab Riyadh ash-Shâlihîn: No: 1841.

(35)

Rasulullah saw. bersabda,

         

   

Orang yang paling besar dosanya adalah orang yang menanyakan suatu

  perkara yang tidak diharamkan, lantas ia diharamkan karena pertanyaannya

itu.

9

3. Menghindari perselisihan dan perpecahan dalam soal agama. Allah swt.

berfirman,

¡ 

¢ 

£

¤

¥ 

¦

§

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu

dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”

(Al-Mu’minûn [23]:

52)

Allah swt. berfirman,

a

d

gf

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah

kamu bercerai berai,”

(Âli ‘Imrân [3]: 103)

Allah swt. berfirman,

D

G

IH

P

9 HR Bukhari dalam kitab: Al-I’tisham, bab. Mâ Yukrah min Katsrah as-Su’âl wa Takalluf ma la

Ya’nîh, jilid, IX,, hal: 117. Muslim dalam kitab, Al-Fadha’il, bab. Tawqiruhu shallalâhu ‘alai wasallam wa Tarku Iktsar Su’âlihi ‘amma la Dharurata ilaihi. No: 132, jilid: 4, hal: 1831; Musnad   Ahmad , jilid: I, hal: 179.

(36)

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi

gentar dan hilang kekuatanmu”

(Al-Anfâl [8]: 46)

Allah swt. berfirman,

k

m

n

r

}

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi  bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. (Al-An’âm [6] :

159) Allah swt. berfirman,





“…serta mereka juga menjadi tercerai-berai;…”(Ar-Rûm [30]: 32)

Allah swt. berfirman,

 

 

 

 

¡ 

¢

£

¤

¥

¦

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Âli ‘Imrân [3]: 105)

4. Mengembalikan permasalahan yang diperdebatkan kepada Al-Qur`an dan Sunnah. Hal tersebut merupakan wujud implementasi dari firman Allah swt.,

 

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), ”(An-Nisâ’ [4] : 59)

(37)

Allah swt. berfirman,

Á

 

à

Ä

Å

Æ

 

 

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian)” (Asy-Syû’râ’ [42]: 10)

Hal ini disebabkan karena ajaran Islam telah diuraikan dengan begitu jelas di dalam Al-Qur`an. Allah swt. berfirman,

_

`

d

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” 

(An-Nahl [16]: 89) Allah swt. berfirman,

 u

{

“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab.” (Al-An’âm [6]: 38)

Di samping penjelasan Al-Qur`an, Sunnah amaliah (perilaku Rasulullah) juga merupakan pegangan kedua yang turut menguraikan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan ajaran agama. Allah swt. berfirman,

 U

Z

[

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl [16]: 44)

(38)

¸

¹

º 



» 

¼ 

½ 

¾

¿ 

À 



Á

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu,”(An-Nisâ’ [04]: 105)

Dengan demikian, ajaran agama Islam telah sempurna dan tujuan dari syariat yang ada di dalamnya juga sudah jelas. Hal ini diperkuat dengan firman Allah,

o

p

vu

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Mâ’idah [5]: 3)

Jadi, selama permasalahan agama telah diuraikan dengan begitu jelas dan dalil yang menjadi landasannya adalah kuat, maka perbedaan pendapat tidak lagi berpengaruh dan memiliki ruang. Allah swt. berfirman,

 

 

 

 

 

 



“Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.”(Al-Baqarah [2]: 176)

Allah swt. berfirman,

C  

         

D

G

M

O

QP

T

U

Y

Z

\

]

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali 

(39)

sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (An-Nisâ’ [4] : 66)

Para sahabat dan generasi berikutnya yang diakui sebagai generasi saleh, telah

mengamalkan kaidah-kaidah ini dalam menggali hukum-hukum Islam. Perbedaan

pendapat yang terjadi di antara mereka sangatlah terbatas. Itu pun hanya dipicu

karena adanya perbedaan tingkat pemahaman mereka dalam memahami sebuah

nash, di mana sebagian mereka mengetahui akan permasalahan, sedangkan

sebagian yang lain tidak mengetahuinya.

Ketika muncul imam mazhab yang empat, mereka juga mengikuti tradisi generasi

sebelumnya. Meskipun di antara mereka masih didapati perbedaan, di mana yang

satu lebih mengutamakan pendekatan Sunnah dalam menggali hukum, seperti

ulama Hijaz yang sangat terkenal sebagai penghimpun Sunnah dan perawi hadits.

Sedangkan sebagian yang lain lebih mengedepankan pendekatan akal dalam

menggali hukum, seperti ulama Iraq. Sehingga sangat minim ditemukan pakar

hadits dari kalangan mereka. Hal ini disebabkan jauhnya negeri mereka dari

tempat turunnya wahyu.

Imam-imam tersebut telah mencurahkan segala daya dan upaya mereka untuk

memperkenalkan agama ini kepada umat manusia dan membimbing mereka

menuju jalan yang benar. Pada waktu yang bersamaan, mereka melarang umat

Islam melakukan

taqlid 

kepada mereka. Mereka berkata, “Tidak seorang pun

dibenarkan mengikuti pendapat kami tanpa mengetahui dalil yang kami gunakan

dalam menentukan hukum terlebih dahulu.” Bahkan dengan tegas mereka

menyatakan bahwa mazhab mereka adalah hadits yang shahih. Mereka tidak

menginginkan sekiranya pendapat dan ijtihad mereka dijadikan sebagai pegangan

begitu saja seperti Rasulullah saw. yang

makshum

(terpelihara dari berbagai

kesalahan). Tujuan mereka beristimbat dalam menentukan hukum hanyalah

membantu umat Islam dalam memahami hukum-hukum Allah dengan cara yang

benar.

Referensi

Dokumen terkait

Kebutuhan system pencahayaan alami (matahari) dan buatan pada suatu ruangan harus di pertimbangkan karena berkaitan erat dengan kegiatan yang di

pembelajaran grup investigasi adalah siswa lebih percaya pada kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari informasi dari sumber lain, dan dapat belajar dari siswa

Skripsi yang berjudul “PENGARUH PELATIHAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KEMAMPUAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (Studi pada PT. INDOHAMAFIS BALI) ”

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pada pengembangan ini adalah berupa sistem pencarian informasi buku berbasis web menggunakan Moving Contracting Window

yang harus di tuntaskan. Penaggulangan penyakit masyarakat yaitu prostitusi harus ada peran dari masyarakat yaitu penanaman nilai budi pekerti dan etika diperlukan

Dari nilai yang telah diinputkan hasilnya akan menjadi bahan perhitungan untuk didapat hasil keputusan perangkingan siswa yang menjadi peserta lomba cerdas cermat

Dalam rangka mendukung pencapaian prioritas nasional sebagaimana telah ditetapkan dalam visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang dijabarkan dalam RPJMN periode

1) pengajar pengampu mata pelajaran umum harus memiliki kualifikasi serendah rendahnya Diploma III dan akta mengajar serta hanya mengampu mata pelajaran yang