BAB III: MURTAD SEBAGAI SALAH SATU ALASAN PERCERAIAN
D. Murtad Sebagai Salah Satu Alasan Perceraian
Menurut Satrio M. Karim bahwa perbuatan pindah agama dapat dijadikan alasan untuk melakukan perceraian. Karena masalah pindah agama merupakan masalah yang tersangkut dengan perbuatan kekafiran yang memicu masalah besar yang sulit untuk diselesaikan dengan cara damai. Peraliahan agama tersebut dapat menimbulkan keretakan dalam rumah tangga hingga berakhir dengan perceraian. Selain itu, peralihan agama membahwa akibat pada sulitnya menetapkan status agama anak, pemeliharaan, pendidikan, pembiayaan, dan tentang harta warisan, harta bersama antara suami istri.
Sebab akibat dari peralihan agama tersebut bukan saja dirasakan oleh suami istri, lebih dari itu akan dirasakan dan berpengaruh kepada keluarga secara keseluruhan.123 Murtad sebagai alasan perceraian diatur dalam Pasal 116 huruf h Kompilasi Hukum Islam, yang berbunyi: “Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga”
Ketentuan dalam Pasal 116 huruf h mengenai alasan perceraian yang disebabkan peralihan agama atau murtad sebaiknya tidak perlu memuat klausul “yang menyebabkan ketidakrukunan dalam rumah tangga”. Sebab, klausul ini membuat kesan bahwa murtad tidak sepenuhnya menjadi alasan perceraian, melainkan ada alasan lain setelah alasan itu. Klausul “yang
123 Hamid Pongoliu “Perceraian Akibat Peralihan Agama:Studi Kasus Tentang Putusan Hakim Pengadilan Agama Gorontalo, Al- Mizan Vol. 11 No. 1, Juni 2015, hal. 55
menyebabkan ketidakrukunan dalam rumahtangga” ini sebenarnya dapat digolonggkan kedalam ketentuan Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam yang ketentuannya memuat alasan perceraian antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Menurut hukum Islam perihal salah satu pihak murtad atau beralih agama dalam perkawinan bahwa perkawinan itu telah fasakh (rusak) baik itu menyebabkan terjadi atau tidak terjadinya ketidakrukunan dalam rumahtangga.
Sementara itu, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tidak mengatur mengenai alasan perceraian yang disebabkan karena peraralihan agama atau murtad dikarenakan negara kita menganut prinsip kebebasan beragama. Kendati demikian, undang-undang perkawinan tidak mengenal adanya perkawinan beda agama sebagaimana telah dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Hal ini diperkuat dengan ketentuan Pasal 8 huruf (f) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang merumuskan
“Perkawinan dilarang antara dua orang yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin”. Larangan-larangan perkawinan tersebut walaupun mengandung pencegahan, namun juga dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan pemutusan perkawinan.
BAB IV
DASAR PERTIMBANGAN HAKIM ATAS PUTUSAN NOMOR:
208/Pdt.G/2013/PA.Pst
A. Kasus Posisi
Kasus tentang perceraian yang disebabkan karena murtad dalam perkawinan yang dilaksanakan menurut hukum Islam terdapat dalam putusan nomor:
208/Pdt.G/2013/PA.Pst yang telah diputuskan di Pengadilan Agama Kota Pematangsiantar pada hari Selasa tanggal 15 April 2014 bertepatan dengan tanggal 15 Jumadil Akhir 1435 Hijriyah. Perkara ini terjadi antara suami sebagai Pemohon dan istri sebagai Termohon. Pemohon berumur 56 tahun, agama Islam, pekerjaan jual beli mobil, bertempat tinggal di Kota Pematangsiantar. Termohon berumur 47 tahun, agama Islam, pekerjaan PNS Kejaksaan Negeri, bertempat tinggal di Kota Medan.
Duduk Perkara
Didalam duduk perkara disebutkan bahwa Penggugat dalam suratnya tanggal 01 Oktober 2013 telah mengajukan gugatan perceraian/pembatalan nikah terhadap Termohon yang isinya mengemukakan posita dan petitum sebagai berikut:
1. Bahwa Pemohon adalah suami sah Termohon, menikah pada tanggal 24 Juli1983, sesuai dengan Buku Kutipan Akta Nikah Nomor:
123/17/IX/1989 tanggal 16 Nopember 1989, yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Simalungun,;
2. Bahwa setelah menikah Pemohon dan Termohon tinggal bersama di rumah orang tua Termohon selama 4 tahun, kemudian pindah di
Kabupaten Simalungun selama 8 tahun dan terakhir pindah ke Pematangsiantar seperti di alamat tersebut di atas, dan di sinilah tempat tinggal terakhir Pemohon dan Termohon;
3. Bahwa dalam perkawinan tersebut Pemohon dengan Termohon telah bergaul sebagaimana layaknya suami isteri (ba'da dukhul) dan telah dikaruniai 3 orang anak masing-masing bernama:
a. Anak Pertama Pemohon dan Termohon (pr), lahir tanggal 20 Agustus 1984;
b. Anak Kedua Pemohon dan Termohon (lk), lahir tanggal 15 September 1988;
c. Anak Ketiga Pemohon dan Termohon (lk), lahir tanggal 03 Oktober 1990 dan saat ini anak tersebut dalam asuhan Termohon;
4. Bahwa rumah tangga Pemohon dan Termohon rukun damai selama lebih kurang 4 tahun, dan setelah itu sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang disebabkan Termohon pindah keagamanya semula :
5. Bahwa pada akhir tahun 1987 terjadi perselisihan dan pertengkaran antara Pemohon dan Termohon, disebabkan Termohon ikut dalam pembangunan gereja di tempat tinggal Pemohon dan Termohon di Kabupaten Simalungun, dan saat ditegur oleh Pemohon, Termohon tidak memperdulikan omongan Pemohon;
6. Bahwa pada tahun 1999 terjadi perselisihan dan pertengkaran antara Pemohon dan Termohon, disebabkan Termohon dilantik menjadi TU di Kejaksanaan Negeri Pematangsiantar menurut agama Kristen, mengetahui
hal tersebut Pemohon marah dan menegur Termohon, tetapi Termohon tidak mengakuinya;
7. Bahwa pertengkaran dan perselisihan antara Pemohon dan Termohon selalu terjadi disebabkan Termohon bersikeras untuk tetap menganut ke agama semula Termohon, dan tidak mau untuk untuk mengakui agama Pemohon;
8. Bahwa puncak perselisihan dan pertengkaran antara Pemohon dan Termohon terjadi pada tanggal 8 Agustus tahun 2013 disebabkan Pemohon meminjamkan uang kepada adik Pemohon tanpa sepengetahuan Termohon, dan setelah Termohon mengetahui hal tersebut, Termohon memaki serta mencaci Pemohon dengan kata-kata yang tidak bisa diterima oleh Pemohon;
9. Bahwa sejak 8 Agustus 2013 antara Pemohon dan Termohon sudah pisah rumah, tidak berbicara, dan tidak pernah melakukan hubungan suami isteri selama lebih kurang 1 bulan;
10. Bahwa pihak keluarga tidak pernah mendamaikan Pemohon dan Termohon;
11. Bahwa pengahasilan kotor Pemohon dalam sebulan adalah lebih kurang Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah);
B. Pertimbangan Hakim
Hakim dalam menerapkan suatu putusan mengunakan pertimbangan-pertimbangan dan landasan hukum. Pertimbangan hakim merupakan salah satu
aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, di samping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti, baik, dan cermat, maka putusan hakim yang berasal dari pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung.124 Pertimbangan hakim adalah berupa pertimbangan hukum yang menjadi dasar bagi hakim untuk menjatuhkan suatu putusan. Menurut Goodheart sebagaimana dikutip oleh Peter Mahmud menyebut pertimbangan hakim ini dengan istilah “ratio decidenci” yakni alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya. Ratio decidenci tersebut terdapat dalam konsideran “menimbang” pada pokok perkara.125
Adapun pertimbangan hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama Pematangsiantar dalam Memutuskan Perceraian pada Perkara Nomor 208/Pdt.G/2013/PA.Pst sebagai berikut:
I. Dalam Konvensi;
Menimbang, bahwa Pemohon dan Termohon telah dipanggil secara resmi dan patut untuk datang ke persidangan dan hal ini telah sesuai dengan ketentuan Pasal 145 R.Bg jo Pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun
124 Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 140
125 Rusli Muhammad, Potret Lembaga Peradilan Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hal. 136- 144
1975, oleh karena itu panggilan a quo telah dilaksanakan secara resmi dan patut. Dan kedua belah pihak telah hadir in persoon di persidangan;
Menimbang, bahwa majelis hakim telah mendamaikan Pemohon dan Termohon agar mempertahankan rumah tangganya, sesuai maksud Pasal 82 ayat (1) dan (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 dan perubahan kedua dengan undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, akan tetapi perdamaian tidak berhasil.
Dan bahkan upaya perdamaian melalui mediasi telah dilaksanakan pada tanggal 7 Januari 2014 yang dihadiri oleh Pemohon dan Termohon dengan Mediator Drs. H. Juwaini, S.H., M.H. yang hasilnya gagal, dengan demikian telah terpenuhi maksud ketentuan Pasal 7 ayat (5) dan (6), Pasal 11 ayat (1, 2 dan 3) serta Pasal 18 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008;
Menimbang, bahwa setelah membaca permohonan Pemohon, maka yang menjadi pokok masalah dalam perkara ini adalah Pemohon mengajukan permohonan untuk diberi izin menjatuhkan talak satu raj’i terhadap Termohon di hadapan sidang Pengadilan Agama Pematangsiantar dengan dalil yang dijadikan dasar hukum yaitu bahwa Termohon telah beralih agama ke agama Kisten Khatolik dan telah diuraikan pada bagian duduk perkara;
Menimbang bahwa dalam jawabannya, Termohon mengakui sebagian dalil-dalil Pemohon dan membantah sebagian lainnya;
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P. (akta otentik) yang merupakan syarat mutlak (conditio sine qua non) mengajukan permohonan
cerai talak dan ternyata Pemohon dan Termohon masih terikat dalam perkawinan, dan ketika Pemohon dan Termohon adalah pihak-pihak yang berhak dan berkepentingan mengajukan perkara ini (persona standi in judicio) dan secara kompetensi relatif Pengadilan Agama Pematangsiantar berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini;
Menimbang, bahwa oleh karena Termohon membantah sebagian posita/fundamentum petendi permohonan Pemohon, maka kepada Pemohon dibebankan wajib bukti, dan untuk itu telah didengar keterangan saksi-saksi keluarga dan atau orang dekat dari masing-masing pihak sebagaimana kehendak rumusan Pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan ketentuan Pasal 154 Kompilasi Hukum Islam;
Menimbang, bahwa untuk memenuhi kehendak pasal tersebut, untuk membuktikan dalil pernikahannya dengan Termohon, Pemohon telah mengajukan bukti tertulis (surat) yang diberi tanda P.1. Bukti mana menjelaskan tentang pernikahan Pemohon dengan Termohon yang dilangsungkan secara sah dan telah dicatat sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan alat bukti a quo telah dimeterai dan di-nazegelen serta telah dicocokkan dengan aslinya dan ternyata sesuai dan alat bukti a quo merupakan akta autentik, oleh karenanya bukti tersebut mempunyai nilai pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht) dan mengikat (bindende bewijskracht) dan telah memenuhi syarat formil dan materil alat bukti tertulis sebagaimana diatur dalam Pasal 1870 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) jo. Pasal 285 RBg serta telah memenuhi maksud Pasal 2 ayat 3
Undang-undang Nomor 13 tahun 1985 Tentang Bea Materai dan Pasal 301 ayat 2 RBg ;
Menimbang, bahwa Pemohon juga mengajukan bukti tertulis fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Termohon yang diberi tanda P.2 dan alat bukti a quo telah dimeterai dan di-nazegelen serta telah dicocokkan dengan aslinya dan ternyata sesuai sehingga merupakan akta autentik, oleh karenanya bukti a quo mempunyai nilai pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht) dan mengikat (bindende bewijskracht) dan alat bukti a quo menjelaskan bahwa Termohon beragama Kristen dan alat bukti tersebut telah memenuhi syarat formil dan materil alat bukti tertulis sebagaimana diatur dalam Pasal 1870 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) jo.
Pasal 285 RBg serta telah memenuhi maksud Pasal 2 ayat 3 Undangundang Nomor 13 tahun 1985 Tentang Bea Materai dan Pasal 301 ayat 2 RBg;
Menimbang, bahwa selain bukti tertulis, Pemohon juga menghadirkan bukti saksi sebanyak 5 (lima) orang dan kelima orang saksi Pemohon tersebut secara formil dapat diterima karena telah disumpah menurut agama yang dianut dan saksi-saksi tersebut tidak terhalang untuk menjadi saksi dan hal ini sesuai Pasal 172 R.Bg;
Menimbang, bahwa untuk memenuhi kehendak undang-undang dan untuk menguatkan dalil-dalil permohonannya, Pemohon telah menghadirkan Saksi Pertama sepupu Pemohon, Saksi Kedua teman Termohon sekantor, Saksi Ketiga abang kandung Pemohon, Saksi Keempat adik kandung Pemohon dan Saksi Kelima adik ipar Pemohon sebagai saksi-saksi di
persidangan dan kelimanya telah disumpah menurut agama yang dianut masing-masing. Maka menurut Majelis Hakim, terkait perkara ini, kelimanya telah memenuhi syarat formil kesaksian dan untuk itu dapat didengar/diterima keterangannya untuk dipertimbangkan sebagai alat bukti dalam perkara ini.
Adapun keterangan saksi-saksi tersebut telah diuraikan sebagaimana dalam duduk perkara;
Menimbang, bahwa keterangan (dibawah sumpahnya) yang diberikan kelima saksi tersebut bersumber dari pendengaran, penglihatan dan pengetahuan sendiri yang pada pokoknya bersesuaian antara satu dengan lainnya serta telah mengungkapkan fakta yang cukup relevan dan obyektif yang bersesuaian dengan dalil-dalil permohonan Pemohon, bahwa Termohon telah murtad (keluar dari agama islam) dan bahkan saksi kedua Pemohon yang merupakan teman sekantor Terrmohon dengan melihat sendiri bahwa Termohon dilantik secara agama Kristen dan saksi-saksi yang lainnya melihat langsung Termohon pergi ke gereja untuk beribadah, oleh karenanya keterangan kelima saksi Pemohon tersebut telah memenuhi batas minimal alat bukti saksi dan telah memenuhi syarat materil kesaksian dan alat bukti a quo mempunyai nilai pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht) dan mengikat (bindende bewijskracht) dan dapat diterima sebagai bukti untuk membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatan Penggugat. Hal mana telah sejalan dengan maksud Pasal 307, 308, dan 309 RBg;
Menimbang, bahwa berdasarkan dalil-dalil/posita permohonan Pemohon yang telah dibuktikan secara sah di atas, maka majelis hakim
mengkonstatir peristiwa konkret tersebut dan menemukan fakta-fakta/peristiwa hukum sebagai berikut:
1. Bahwa Pemohon dan Termohon adalah suami isteri sah, menikah pada tanggal 24 Juli 1983 di Kecamatan Kabupaten Simalungun, kabupaten Simalungun dan selama dalam ikatan perkawinan telah memperoleh anak 3 (tiga) orang anak;
2. Bahwa ketidak rukunan rumah tangga Pemohon dan Termohon mulai terjadi sejak tahun 1990 dan terus berkelanjutan;
3. Bahwa Termohon telah beralih kembali ke agamnya yang semula (murtad);
4. Bahwa pihak keluarga telah berupaya secara optimal mendamaikan Pemohon dan Termohon namun tidak berhasil; Menimbang, bahwa di persidangan telah ditemukan fakta Termohon telah murtad oleh karenanya Majelis Hakim cukup mempedomani hal tersebut;
Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 75 huruf a Kompilasi Hukum Islam tahun 1991 yang bunyinya perkawinan yang batal karena salah satu dari suami atau isteri murtad;
Menimbang, bahwa hadits qauly serta kaidah hukum dan doktrin pakar hukum Islam yang menegaskan sebagai berikut:
1. (Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain). Sunan Ibni Majah, Kitab al-Ahkam, Hadits nomor 2331
2. Apabila salah seorang dari suami isteri murtad dari Islam dan tidak mau kembali lagi sama sekali, maka akad nikahnya difasakh (dibatalkan) disebabkan kemurtadannya yang terjadi mendatang/setelah akad nikah.
{Fiqh Al-Sunnah, Jilid 2, Bab Al-fasakh};
Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 75 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam dinyatakan bahwa salah satu pihak suami isteri murtad;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut di atas, maka Majelis Hakim berkesimpulan sesuai dengan Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama bahwa kedua belah pihak tidak mungkin lagi didamaikan karena kondisi rumah tangga Pemohon dan Termohon telah pecah dan sudah tidak mungkin dipertahankan lagi, oleh karenanya sepatutnya petitum permohonan Pemohon dirubah dengan memperbaiki petitum angka 2 permohonan Pemohon menjadi memfasakhkan perkawinan Pemohon dengan Termohon sebagaimana akan ditegaskan dalam diktum amar putusan ini;
Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 84 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, maka majelis hakim berpendapat perlu untuk memerintahkan Panitera Pengadilan Agama Pematangsiantar untuk mengirimkan salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan
Agama yang mewilayahi tempat kediaman Pemohon dan Termohon serta tempat dilangsungkannya pernikahan Pemohon dan Termohon;
Menimbang, bahwa oleh karena Pemohon dan Termohon menikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan Kabupaten Simalungun Kabupaten Simalungun, maka salinan putusan harus dikirmkan kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Kabupaten Simalungun, Kabupaten Simalungun;
Menimbang, bahwa saat ini Pemohon bertempat tinggal di Kecamatan Siantar Sitalasari Kota Pematangsiantar, maka salinan putusan harus dikirimkan kepada kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar untuk dicatat dan didaftar dalam daftar yang disediakan untuk itu;
Menimbang, bahwa oleh karena Termohon bertempat tinggal di Kecamatan Tuntungan, Kota Medan, maka salinan putusan harus dikirimkan kepada kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Tuntungan, Kota Medan untuk dicatat dan didaftar dalam daftar yang disediakan untuk itu;
II. Dalam Rekonvensi;
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugat balik (rekonvensi) Tergugat sebagaimana telah diuraikan di atas;
Menimbang, bahwa oleh karena gugat rekonvensi diajukan bersamaan dengan jawaban pokok perkara dan gugatan rekonpensi tersebut pada pokoknya erat kaitannya dengan hak-hak Penggugat rekonvensi akibat
perkawinan yang putus karena perceraian, maka gugatan rekonvensi tersebut dapat dipertimbangkan;
Menimbang, bahwa dengan adanya rekonvensi tersebut, maka kedudukan Tergugat disebut Penggugat rekonvensi sedangkan Penggugat disebut Tergugat rekonvensi;
Menimbang, bahwa terhadap gugatan rekonvensi tersebut Tergugat rekonvensi telah menyampaikan jawaban secara tertulis yang pokoknya menyatakan menolak sebagian dalil-dalil rekonvensi Penggugat dan keberatan terhadap rekonvensi tersebut;
Menimbang, bahwa apa yang telah dipertimbangkan dalam konvensi secara mutatis mutandis termasuk pula merupakan pertimbangan dalam rekonvensi ini;
Menimbang, bahwa dalam gugatan rekonvensi tersebut Penggugat rekonvensi menuntut agar Tergugat rekonvensi dihukum untuk memberikan kepada Penggugat rekonvensi yaitu berupa hak dan pembayaran sejumlah uang akibat perceraian sebagaimana tersebut di atas;
Menimbang, bahwa terhadap tuntutan-tuntutan tersebut, majelis hakim mempertimbangkan sebagai berikut:
Menimbang, bahwa oleh karena telah terbukti dan menyakinkan Penggugat rekonvensi telah murtad (keluar dari agama islam), dan perkawinan Penggugat rekonvensi dengan Tergugat rekonvensi di putus dengan fasakh (pembatalan perkawinan/perkawinan putus atas putusan pengadilan) yang mengakhiri hubungan suami isteri seketika sedangkan gugatan rekonvensi
Penggugat berkaitan dengan akibat dari perceraian, maka Majelis Hakim berpendapat gugatan Penggugat a quo tidak berdasarkan hukum/beralaskan hukum oleh karenanya harus dinyatakan tidak dapat diterima;
Menimbang, bahwa oleh karena gugatan rekonvensi tersebut tidak dapat diterima, maka harus dinyatakan dalam bagian rekonvensi menyatakan gugatan Penggugat rekonvensi tidak dapat diterima (Niet ontvankelijk verklaard);
III. Dalam Konvensi dan Rekonvensi;
Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 89 ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, semua biaya perkara dibebankan kepada Pemohon Konvensi/ Tergugat Rekonvensi;
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Hakim memberikan putusan sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon;
2. Memfasakhan perkawinan Pemohon dengan Termohon;
3. Memerintahkan Panitera Pengadilan Agama Pematangsiantar untuk mengirimkan salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kabupaten Simalungun, dan Kecamatan Siantar Sitalasari serta Kecamatan Tuntungan, Kota Medan;
4. Menyatakan gugatan balik Termohon tidak dapat diterima untuk seluruhnya.
5. Membebankan biaya perkara kepada Pemohon sebesar Rp.591.000,-
C. Analisis Hukum
Alasan Majelis Hakim Pengadilan Agama Pematangsiantar dalam mengabulkan cerai talak yang diajukan oleh Pemohon didasarkan pada fakta hukum, sebagai berikut:
1. Bahwa Pemohon dan Termohon adalah suami istri yang sah, menikah pada tanggal 24 Juli 1983 di Kabupaten Simalungun yang diperkuat dengan adanya alat bukti tertulis yaitu Fotocopy Buku Kutipan Akta Nikah Nomor: 123/17/IX/1989 tanggal 16 Nopember 1989 dikeluarkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Simalungun;
2. selama dalam ikatan perkawinan telah memperoleh tiga orang anak;
3. Bahwa ketidakrukunan rumah tangga Pemohon dan Termohon mulai terjadi sejak tahun 1990 dan terus menerus berkelanjutan;
4. Bahwa Termohon telah beralih kembali ke agamanya yang semula (murtad):
Hal ini dipedomi hakim melalui persidangan dalam sidang pembuktian yang diajukan Termohon yaitu fotocopy Kartu Tanda penduduk (KTP) atas nama Termohon TERMOHON SEMBIRING, Nik 02.5306.490266.002 yang dikeluarkan oleh Camat Kecamatan Siantar Martoba Kota Pematangsiantar yang telah bermaterai serta telah dicocokkan dengan aslinya, dan juga keterangan dari para saksi sebanyak lima orang;
5. Bahwa pihak keluarga telah berupaya secara optimal mendamaikan Pemohon dan Termohon namun tidak berhasil;
Terkait fakta-fakta hukum tersebut, maka dalil permohonan Pemohon telah memenuhi ketentuan Pasal 116 huruf h Kompilasi Hukum Islam mengenai salah satu pihak beralih agama atau murtad dan terjadi ketidakrukunan dalam rumah tangga. Namun, Majelis Hakim tidak memuat Pasal 116 huruf h Kompilasi Hukum Islam sebagai dasar pertimbangan hukumnya. Dimana, salah satu dasar pertimbangan Majelis Hakim menggunakan Pasal 75 huruf a Kompilasi Hukum Islam yang memuat ketentuan : “perkawinan yang batal karena salah satu dari suami atau istri murtad”, dimana bunyi kesuluruhan Pasal 75 Kompilasi hukum Islam tersebut adalah:
Pasal 75
Keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap : a. perkawinan yang batal karena salah satu dari suami atau isteri murtad;
b. anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut;
c. pihak ketiga sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan ber`itikad baik, sebelum keputusan pembatalan perkawinan kekutan hukum yang tetap.
Jika kita cermati maksud dari Pasal tersebut, bahwa pembatalan perkawinan menyebabkan perkawinan berlaku surut, artinya dianggap bahwa perkawinan tersebut tidak pernah ada, kecuali dalam tiga hal yang disebutkan dalam pasal 75 Kompilasi Hukum Islam di atas. Maka, maksud dari Pasal 75 huruf a dapat diartikan bahwa perkawinan yang batal karena murtad tidak berlaku surut, artinya
perkawinan tersebut tetap dianggap pernah terjadi namun rusak atau terputus karena murtadnya salah seorang dari suami atau istri.
Penulis beranggapan, selain Pasal 75 huruf a Kompilasi Hukum Islam yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan hukum, hendaknya Majelis Hakim memuat juga Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam huruf h sebagai dasar pertimbangan hukumnya.
Selain daripada itu, Penulis setuju dengan hakim mengenai putusan
Selain daripada itu, Penulis setuju dengan hakim mengenai putusan