• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: DASAR PERTIMBANGAN HUKUM ATAS PUTUSAN

B. Pertimbangan Hakim

Hakim dalam menerapkan suatu putusan mengunakan pertimbangan-pertimbangan dan landasan hukum. Pertimbangan hakim merupakan salah satu

aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, di samping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti, baik, dan cermat, maka putusan hakim yang berasal dari pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung.124 Pertimbangan hakim adalah berupa pertimbangan hukum yang menjadi dasar bagi hakim untuk menjatuhkan suatu putusan. Menurut Goodheart sebagaimana dikutip oleh Peter Mahmud menyebut pertimbangan hakim ini dengan istilah “ratio decidenci” yakni alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusannya. Ratio decidenci tersebut terdapat dalam konsideran “menimbang” pada pokok perkara.125

Adapun pertimbangan hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama Pematangsiantar dalam Memutuskan Perceraian pada Perkara Nomor 208/Pdt.G/2013/PA.Pst sebagai berikut:

I. Dalam Konvensi;

Menimbang, bahwa Pemohon dan Termohon telah dipanggil secara resmi dan patut untuk datang ke persidangan dan hal ini telah sesuai dengan ketentuan Pasal 145 R.Bg jo Pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun

124 Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 140

125 Rusli Muhammad, Potret Lembaga Peradilan Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hal. 136- 144

1975, oleh karena itu panggilan a quo telah dilaksanakan secara resmi dan patut. Dan kedua belah pihak telah hadir in persoon di persidangan;

Menimbang, bahwa majelis hakim telah mendamaikan Pemohon dan Termohon agar mempertahankan rumah tangganya, sesuai maksud Pasal 82 ayat (1) dan (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 dan perubahan kedua dengan undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, akan tetapi perdamaian tidak berhasil.

Dan bahkan upaya perdamaian melalui mediasi telah dilaksanakan pada tanggal 7 Januari 2014 yang dihadiri oleh Pemohon dan Termohon dengan Mediator Drs. H. Juwaini, S.H., M.H. yang hasilnya gagal, dengan demikian telah terpenuhi maksud ketentuan Pasal 7 ayat (5) dan (6), Pasal 11 ayat (1, 2 dan 3) serta Pasal 18 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008;

Menimbang, bahwa setelah membaca permohonan Pemohon, maka yang menjadi pokok masalah dalam perkara ini adalah Pemohon mengajukan permohonan untuk diberi izin menjatuhkan talak satu raj’i terhadap Termohon di hadapan sidang Pengadilan Agama Pematangsiantar dengan dalil yang dijadikan dasar hukum yaitu bahwa Termohon telah beralih agama ke agama Kisten Khatolik dan telah diuraikan pada bagian duduk perkara;

Menimbang bahwa dalam jawabannya, Termohon mengakui sebagian dalil-dalil Pemohon dan membantah sebagian lainnya;

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P. (akta otentik) yang merupakan syarat mutlak (conditio sine qua non) mengajukan permohonan

cerai talak dan ternyata Pemohon dan Termohon masih terikat dalam perkawinan, dan ketika Pemohon dan Termohon adalah pihak-pihak yang berhak dan berkepentingan mengajukan perkara ini (persona standi in judicio) dan secara kompetensi relatif Pengadilan Agama Pematangsiantar berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini;

Menimbang, bahwa oleh karena Termohon membantah sebagian posita/fundamentum petendi permohonan Pemohon, maka kepada Pemohon dibebankan wajib bukti, dan untuk itu telah didengar keterangan saksi-saksi keluarga dan atau orang dekat dari masing-masing pihak sebagaimana kehendak rumusan Pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan ketentuan Pasal 154 Kompilasi Hukum Islam;

Menimbang, bahwa untuk memenuhi kehendak pasal tersebut, untuk membuktikan dalil pernikahannya dengan Termohon, Pemohon telah mengajukan bukti tertulis (surat) yang diberi tanda P.1. Bukti mana menjelaskan tentang pernikahan Pemohon dengan Termohon yang dilangsungkan secara sah dan telah dicatat sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan alat bukti a quo telah dimeterai dan di-nazegelen serta telah dicocokkan dengan aslinya dan ternyata sesuai dan alat bukti a quo merupakan akta autentik, oleh karenanya bukti tersebut mempunyai nilai pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht) dan mengikat (bindende bewijskracht) dan telah memenuhi syarat formil dan materil alat bukti tertulis sebagaimana diatur dalam Pasal 1870 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) jo. Pasal 285 RBg serta telah memenuhi maksud Pasal 2 ayat 3

Undang-undang Nomor 13 tahun 1985 Tentang Bea Materai dan Pasal 301 ayat 2 RBg ;

Menimbang, bahwa Pemohon juga mengajukan bukti tertulis fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Termohon yang diberi tanda P.2 dan alat bukti a quo telah dimeterai dan di-nazegelen serta telah dicocokkan dengan aslinya dan ternyata sesuai sehingga merupakan akta autentik, oleh karenanya bukti a quo mempunyai nilai pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht) dan mengikat (bindende bewijskracht) dan alat bukti a quo menjelaskan bahwa Termohon beragama Kristen dan alat bukti tersebut telah memenuhi syarat formil dan materil alat bukti tertulis sebagaimana diatur dalam Pasal 1870 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) jo.

Pasal 285 RBg serta telah memenuhi maksud Pasal 2 ayat 3 Undangundang Nomor 13 tahun 1985 Tentang Bea Materai dan Pasal 301 ayat 2 RBg;

Menimbang, bahwa selain bukti tertulis, Pemohon juga menghadirkan bukti saksi sebanyak 5 (lima) orang dan kelima orang saksi Pemohon tersebut secara formil dapat diterima karena telah disumpah menurut agama yang dianut dan saksi-saksi tersebut tidak terhalang untuk menjadi saksi dan hal ini sesuai Pasal 172 R.Bg;

Menimbang, bahwa untuk memenuhi kehendak undang-undang dan untuk menguatkan dalil-dalil permohonannya, Pemohon telah menghadirkan Saksi Pertama sepupu Pemohon, Saksi Kedua teman Termohon sekantor, Saksi Ketiga abang kandung Pemohon, Saksi Keempat adik kandung Pemohon dan Saksi Kelima adik ipar Pemohon sebagai saksi-saksi di

persidangan dan kelimanya telah disumpah menurut agama yang dianut masing-masing. Maka menurut Majelis Hakim, terkait perkara ini, kelimanya telah memenuhi syarat formil kesaksian dan untuk itu dapat didengar/diterima keterangannya untuk dipertimbangkan sebagai alat bukti dalam perkara ini.

Adapun keterangan saksi-saksi tersebut telah diuraikan sebagaimana dalam duduk perkara;

Menimbang, bahwa keterangan (dibawah sumpahnya) yang diberikan kelima saksi tersebut bersumber dari pendengaran, penglihatan dan pengetahuan sendiri yang pada pokoknya bersesuaian antara satu dengan lainnya serta telah mengungkapkan fakta yang cukup relevan dan obyektif yang bersesuaian dengan dalil-dalil permohonan Pemohon, bahwa Termohon telah murtad (keluar dari agama islam) dan bahkan saksi kedua Pemohon yang merupakan teman sekantor Terrmohon dengan melihat sendiri bahwa Termohon dilantik secara agama Kristen dan saksi-saksi yang lainnya melihat langsung Termohon pergi ke gereja untuk beribadah, oleh karenanya keterangan kelima saksi Pemohon tersebut telah memenuhi batas minimal alat bukti saksi dan telah memenuhi syarat materil kesaksian dan alat bukti a quo mempunyai nilai pembuktian yang sempurna (volledig bewijskracht) dan mengikat (bindende bewijskracht) dan dapat diterima sebagai bukti untuk membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatan Penggugat. Hal mana telah sejalan dengan maksud Pasal 307, 308, dan 309 RBg;

Menimbang, bahwa berdasarkan dalil-dalil/posita permohonan Pemohon yang telah dibuktikan secara sah di atas, maka majelis hakim

mengkonstatir peristiwa konkret tersebut dan menemukan fakta-fakta/peristiwa hukum sebagai berikut:

1. Bahwa Pemohon dan Termohon adalah suami isteri sah, menikah pada tanggal 24 Juli 1983 di Kecamatan Kabupaten Simalungun, kabupaten Simalungun dan selama dalam ikatan perkawinan telah memperoleh anak 3 (tiga) orang anak;

2. Bahwa ketidak rukunan rumah tangga Pemohon dan Termohon mulai terjadi sejak tahun 1990 dan terus berkelanjutan;

3. Bahwa Termohon telah beralih kembali ke agamnya yang semula (murtad);

4. Bahwa pihak keluarga telah berupaya secara optimal mendamaikan Pemohon dan Termohon namun tidak berhasil; Menimbang, bahwa di persidangan telah ditemukan fakta Termohon telah murtad oleh karenanya Majelis Hakim cukup mempedomani hal tersebut;

Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 75 huruf a Kompilasi Hukum Islam tahun 1991 yang bunyinya perkawinan yang batal karena salah satu dari suami atau isteri murtad;

Menimbang, bahwa hadits qauly serta kaidah hukum dan doktrin pakar hukum Islam yang menegaskan sebagai berikut:

1. (Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain). Sunan Ibni Majah, Kitab al-Ahkam, Hadits nomor 2331

2. Apabila salah seorang dari suami isteri murtad dari Islam dan tidak mau kembali lagi sama sekali, maka akad nikahnya difasakh (dibatalkan) disebabkan kemurtadannya yang terjadi mendatang/setelah akad nikah.

{Fiqh Al-Sunnah, Jilid 2, Bab Al-fasakh};

Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 75 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam dinyatakan bahwa salah satu pihak suami isteri murtad;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut di atas, maka Majelis Hakim berkesimpulan sesuai dengan Pasal 70 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama bahwa kedua belah pihak tidak mungkin lagi didamaikan karena kondisi rumah tangga Pemohon dan Termohon telah pecah dan sudah tidak mungkin dipertahankan lagi, oleh karenanya sepatutnya petitum permohonan Pemohon dirubah dengan memperbaiki petitum angka 2 permohonan Pemohon menjadi memfasakhkan perkawinan Pemohon dengan Termohon sebagaimana akan ditegaskan dalam diktum amar putusan ini;

Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 84 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, maka majelis hakim berpendapat perlu untuk memerintahkan Panitera Pengadilan Agama Pematangsiantar untuk mengirimkan salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan

Agama yang mewilayahi tempat kediaman Pemohon dan Termohon serta tempat dilangsungkannya pernikahan Pemohon dan Termohon;

Menimbang, bahwa oleh karena Pemohon dan Termohon menikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan Kabupaten Simalungun Kabupaten Simalungun, maka salinan putusan harus dikirmkan kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Kabupaten Simalungun, Kabupaten Simalungun;

Menimbang, bahwa saat ini Pemohon bertempat tinggal di Kecamatan Siantar Sitalasari Kota Pematangsiantar, maka salinan putusan harus dikirimkan kepada kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar untuk dicatat dan didaftar dalam daftar yang disediakan untuk itu;

Menimbang, bahwa oleh karena Termohon bertempat tinggal di Kecamatan Tuntungan, Kota Medan, maka salinan putusan harus dikirimkan kepada kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Tuntungan, Kota Medan untuk dicatat dan didaftar dalam daftar yang disediakan untuk itu;

II. Dalam Rekonvensi;

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugat balik (rekonvensi) Tergugat sebagaimana telah diuraikan di atas;

Menimbang, bahwa oleh karena gugat rekonvensi diajukan bersamaan dengan jawaban pokok perkara dan gugatan rekonpensi tersebut pada pokoknya erat kaitannya dengan hak-hak Penggugat rekonvensi akibat

perkawinan yang putus karena perceraian, maka gugatan rekonvensi tersebut dapat dipertimbangkan;

Menimbang, bahwa dengan adanya rekonvensi tersebut, maka kedudukan Tergugat disebut Penggugat rekonvensi sedangkan Penggugat disebut Tergugat rekonvensi;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan rekonvensi tersebut Tergugat rekonvensi telah menyampaikan jawaban secara tertulis yang pokoknya menyatakan menolak sebagian dalil-dalil rekonvensi Penggugat dan keberatan terhadap rekonvensi tersebut;

Menimbang, bahwa apa yang telah dipertimbangkan dalam konvensi secara mutatis mutandis termasuk pula merupakan pertimbangan dalam rekonvensi ini;

Menimbang, bahwa dalam gugatan rekonvensi tersebut Penggugat rekonvensi menuntut agar Tergugat rekonvensi dihukum untuk memberikan kepada Penggugat rekonvensi yaitu berupa hak dan pembayaran sejumlah uang akibat perceraian sebagaimana tersebut di atas;

Menimbang, bahwa terhadap tuntutan-tuntutan tersebut, majelis hakim mempertimbangkan sebagai berikut:

Menimbang, bahwa oleh karena telah terbukti dan menyakinkan Penggugat rekonvensi telah murtad (keluar dari agama islam), dan perkawinan Penggugat rekonvensi dengan Tergugat rekonvensi di putus dengan fasakh (pembatalan perkawinan/perkawinan putus atas putusan pengadilan) yang mengakhiri hubungan suami isteri seketika sedangkan gugatan rekonvensi

Penggugat berkaitan dengan akibat dari perceraian, maka Majelis Hakim berpendapat gugatan Penggugat a quo tidak berdasarkan hukum/beralaskan hukum oleh karenanya harus dinyatakan tidak dapat diterima;

Menimbang, bahwa oleh karena gugatan rekonvensi tersebut tidak dapat diterima, maka harus dinyatakan dalam bagian rekonvensi menyatakan gugatan Penggugat rekonvensi tidak dapat diterima (Niet ontvankelijk verklaard);

III. Dalam Konvensi dan Rekonvensi;

Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 89 ayat (1) dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, semua biaya perkara dibebankan kepada Pemohon Konvensi/ Tergugat Rekonvensi;

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Hakim memberikan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan permohonan Pemohon;

2. Memfasakhan perkawinan Pemohon dengan Termohon;

3. Memerintahkan Panitera Pengadilan Agama Pematangsiantar untuk mengirimkan salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kabupaten Simalungun, dan Kecamatan Siantar Sitalasari serta Kecamatan Tuntungan, Kota Medan;

4. Menyatakan gugatan balik Termohon tidak dapat diterima untuk seluruhnya.

5. Membebankan biaya perkara kepada Pemohon sebesar Rp.591.000,-

Dokumen terkait