• Tidak ada hasil yang ditemukan

47 kebaikan lainnya) untuk memperbaiki keburukan yang dilancarkan

A. Kisah Musa dalam Alquran

3. Musa Diangkat Menjadi Nabi dan Kembali ke Mesir

1.

Pengangkatan Musa sebagai Nabi dan Rasul

Genap sepuluh tahun melaksanakan persyaratan pernikahan dengan putri Shu‘ayb, Musa memohon kepada Shu‘ayb untuk kembali ke tanah kelahirannya, Mesir, beserta keluarganya. Riwayat dari Ibn ‘Abba>s ra. menyatakan bahwa Musa telah menyelesaikan batas waktu yang maksimal dari kedua batas pilihan, dan ia menepati batas waktu itu yaitu selama sepuluh tahun.153 Musa menyiapkan tunggangan dan perbekalan yang dibutuhkan selama dalam perjalanan ke Mesir, termasuk beberapa kambing yang ia peroleh dari mertuanya dan tongkat yang ujungnya terbelah dua.154 Allah swt. berfirman dalam surah al-Qas}as} [28]: 29155:

ٓىَسوُمٓ َٰىَضَقٓاَّمَلَف

berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu

152 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 829. Baca juga al-Najja>r, Qas}as} al-Anbiya>’, 207.

153 Muh}ammad ‘Ali> al-S{a>bu>ni>, S{afwah al-Tafa>si>r (Bairu>t: Da>r al-Qur’a>n al-Kari>m, 1981), Jil. 2, 432.

154 ‘Ima>d al-Di>n Abi> al-Fida>’ Isma>‘i>l bin Kathi>r al-Dimasyqi>, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah (Giza/Ji>zah: Da>r H{ijr, 1997), Juz 2, 52-53. Baca juga ‘Ima>d al-Di>n Abi> al-Fida>’

Isma>‘i>l bin Kathi>r al-Dimasyqi>, Qas}as} al-Anbiya>’ (Makkah: Maktabah al-T{a>lib al-Ja>mi‘i>, 1988), 363.

155 Kisah ini juga disebutkan dalam QS. T{a>ha> [20]: 9-10 dan QS. Al-Naml [27]: 7.

Redaksi QS. T{a>ha> [20]: 9-10: Mesir) ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu (untuk menghangatkan badan) atau aku akan mendapat petunjuk di (sekitar) tempat api itu.

Redaksi QS. Al-Naml [27]: 7:

(Ingatlah) ketika Musa (dalam perjalanan dari Madya>n menuju Mesir) berkata kepada keluarganya: “Sesungguhnya aku melihat api. Aku akan membawa kepadamu kabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu sesuluh api supaya kamu dapat menghangatkan badan.”

118

dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.

Al-Badra>wi> menyatakan Musa bermukim di Madya>n selama sepuluh tahun.

Bila usia Musa ketika memasuki Madya>n adalah 45 tahun, maka saat ia kembali ke Mesir adalah 55 tahun. Pada usia inilah untuk pertama kali Musa menyampaikan pesan Allah swt. kepada Firaun.156 Menurut al-Badra>wi>, ini lebih rasional dibanding keterangan dari Bible (Perjanjian Lama) yang menyatakan “Adapun Musa 80 tahun usianya dan Harun 83 tahun ketika mereka berbicara kepada Firaun” (Kitab Keluaran [7]: 7). Dari keterangan ini menunjukkan bahwa Musa berada di Madya>n kurang lebih 35 tahun. Justru tidak memungkinkan bagi Musa untuk berpikir kembali ke Mesir mengingat usianya yang terlampau tua.157

Sepuluh tahun Musa bermukim di Madya>n, dan ia telah menikah dengan dikaruniai dua anak laki-laki yang bernama Gersom dan Eliazer, tentu menimbulkan rasa kangen di hatinya akan tanah kelahiran dan keluarganya di Mesir.158 Selama sepuluh tahun tinggal di Madya>n, Musa telah banyak belajar dan membiasakan diri disiplin, pekerja keras, dan tekun sebagai pelaksanaan kewajiban dari syarat pernikahan yang ditawarkan Shu‘ayb. Hal ini secara implisit juga disebutkan dalam QS. T{a>ha> [20]: 40:

"

ُٓثٓ َنَي ۡدَمِٓلۡهَأٓٓيِفٓ َنيِنِسٓ َتۡثِبَلَف

َّٓمٓ

َٰٓىَسوُمََٰيٓ ٖرَدَقٓ َٰىَلَعٓ َتۡئِج

ٓ .ٓ

“... Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madya>n, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa.”

Musa dan keluarganya (istri dan kedua anaknya) mengadakan perjalanan menuju Mesir. Waktu malam pun tiba, Musa dan keluarganya tersesat di jalan sekitar gunung T{ursina. Hawa dingin menyelimuti mereka dan tiba-tiba datanglah angin yang bertiup kencang hingga memporak-porandakan barang perbekalan dan hewan ternaknya. Di tengah kebingungan mencari jalan dan gelapnya malam, Musa melihat api dari tempat yang jauh. Musa kemudian berjalan menuju ke tempat api

156 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 828.

157 Sebagaimana dikutip oleh Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 828. Lebih jauh, dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa “Lama sesudah itu matilah Raja Mesir. Tetapi orang Isra>>’i>>l masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga mereka teriak minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka berteriak, lalu Ia ingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishaq, dan Yakub.

Maka Allah melihat orang Isra>>>>’i>l itu, dan Allah memperhatikan mereka.” (Keluaran [2]: 23-25). Informasi inilah yang menjadi dalih bagi sebagian sejarawan dan sebagian cendekiawan muslim (sebagaimana telah penulis sampaikan di awal Bab 2) mengatakan adanya dua Firaun yang sezaman dengan Musa. Baca juga Louay Fatoohi dan Shetha al-Dargazelli, History Testifies to the Infallibility of the Qur’an (Kuala Lumpur: A. S.

Noordeen, 1999). Buku ini telah dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Bangsa Israel dalam Bibel dan Al-Qur’an (Bandung: Mizania, 2007), 186.

158 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 829; ‘Abd al-Wahha>b al-Najja>r, Qas}as} al-Anbiya>’ (Mesir: Mat}ba‘ah al-Nas}r, 1936), Cet. ke-2, 207; dan baca juga Akhlaq Husain, Moses versus Pharaoh (Karachi: International Islamic Publisher, 1979), 41.

119 yang ia lihat dengan harapan ia dapat bertemu seseorang yang dapat memberikan petunjuk jalan. Selain itu, Musa berharap dapat membawa api yang ia lihat agar keluarganya dapat menghangatkan badan dengan api tersebut.159

Para ahli tafsir―sebagaimana dikutip oleh Ibn Kathi>r―mengatakan perjalanan Musa dengan keluarganya ke Mesir terjadi pada malam yang sangat gelap dan dingin. Di tengah perjalanan, mereka tersesat dan tidak mengetahui jalan yang biasanya digunakan oleh orang-orang. Kemudian Musa berusaha untuk menyalakan api pada batang kayu, namun tidak menyala sama sekali. Sedangkan malam semakin gelap dan dingin.160

Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba Musa melihat api di lereng gunung, yaitu lereng gunung yang berada di sebelah kanan Musa. Redaksi ayat

ِٓهِلۡهَ ِلۡٓ َلاَق

ْٓآوُثُك ۡم ٱ

ا ٗراَنٓ ُت ۡسَناَءٓ ٓي نِإ ٓ

menunjukkan seakan-akan hanya Musa-lah yang melihat api

tersebut. Sebab api tersebut sebenarnya adalah cahaya, dan tidak semua orang dapat melihatnya.161 Musa menuju ke titik api yang dilihatnya dengan harapan ia dapat bertanya kepada orang-orang yang ada di sana tentang jalan yang benar menuju Mesir. Secara implisit, dalam al-Qas}as} [28]: 29 menunjukkan keadaan malam yang gelap dan dingin.

Ja>d al-Mawla> mengatakan bawa Musa mondar-mandir mencari arah yang benar. Dalam pencarian dalam kondisi gelap itu, Musa melihat cahaya api dari gunung Sinai. Ia memacu tunggangannya dan berjalan sendirian mendekati sumber cahaya itu. Ia berharap mendapatkan petunjuk dari seseorang yang ada di titik api tersebut atau membawa api yang dapat menghangatkan badan keluarganya.162

Jika seorang musafir yang sedang dalam perjalanan melintasi gurun di tengah malam dan suasana dingin mencekam, dan ia melihat ada api, tentu ia akan gembira. Jika ada api, hampir bisa dipastikan ada orang yang tengah menyalakannya untuk menghangatkan badan di sekitar api tersebut. Sebagaimana dalam QS. T{a>ha> [20]: 10 menyebutkan: atau aku akan mendapat petunjuk di (yakni seorang penunjuk jalan) di (sekitar) tempat api itu.

Musa menuju ke tempat api yang dilihatnya. Musa melihat api itu berada di atas pohon anggur. Ia berhenti sejenak karena terpesona oleh keindahan cahaya api dan warna hijau yang memancar dari pohon anggur itu. Musa mendekat ke api itu yang tidak mendatangkan panas yang membuat dedaunan layu dan menghilangkan indahnya warna yang hijau. Ada riwayat dari Ibn ‘Abba>s ra. yang menyatakan bahwa yang tampak oleh Musa itu sesungguhnya bukanlah api,

159 Al-S{a>bu>ni>, S{afwah al-Tafa>si>r, Jil. 2, 432.

160 Ibn Kathi>r, Qas}as} al-Anbiya>’, 364. Baca juga Ibn Kathi>r, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Juz 2, 53-54. Akhlaq Husein menyatakan bahwa perjalanan Musa dengan keluarganya dari Madya>n ke Mesir ini terjadai pada musim dingin (winter). Silakan baca Husain, Moses versus Pharaoh, 41.

161 Ibn Kathi>r, Qas}as} al-Anbiya>’ >, 364; dan Ibn Kathi>r, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Juz 2, 54.

162 Muh}ammad Ah}mad Ja>d al-Mawla>, Qas}as} al-Qur’a>n (Bairu>t: Da>r al-Jayl, t.th.), 118.

120

melainkan cahaya. Ia adalah cahaya Allah swt. yang tampak dalam pandangan Musa sebagai api.163

Riwayat lain tentang api yang tampak oleh Musa adalah dari Sa‘i>d bin Jubair ra. menyatakan bahwa apa yang dilihat Musa pada hakikatnya adalah api itu sendiri, namun api itu adalah salah satu hijab yang menyelubungi Allah swt.

Makna tersebut ditunjukkan oleh hadis yang diriwaytkan dari Abu> Mu>sa> al-Ash‘ari>

ra. bahwa Nabi Muh}ammad saw. bersabda: “Hijab-Nya adalah api. Andai saja hijab(cahaya, keagungan, dan keindahan wajah)-Nya disingkapkan, niscaya akan terbakar hangus segala yang ada di dalam pandangan mata.”164

Musa sangat terpesona dengan pemandangan yang ada di depan matanya hingga ia tertarik untuk semakin dekat dan semakin ingin tahu apa sesungguhnya yang ada di balik api itu. Kemudian datanglah suara panggilan dari tepi jurang (lembah) yang diberkahi itu, yaitu dari arah pohon. Suara itu berkata: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” “Hai Musa, sesungguhnya yang sekarang berbicara dan bercaka-cakap denganmu adalah Aku, Allah Dzat Yang Mahaagung lagi Mahabesar. Dzat Yang Mahasuci dari sifat-sifat kekurangan.

Tuhan manusia, jin, dan semua makhluk.165 Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. Al-Qas}as} [28]: 30166:

163 Riwayat dari Ibn ‘Abba>s ra. sebagaimana dikutip oleh Shiha>b al-Di>n al-Sayyid Mah}mu>d al-Alu>si> al-Baghda>di>, Ru>h} Ma‘a>ni> fi> Tafsi>r Qur’a>n ‘Az}i>m wa Sab‘ al-Matha>ni> (Bairu>t: Da>r Ih}ya>’ al-Tura>th al-‘Arabi>, t.th.), Juz 16, 167.

164 Muslim bin al-H{ajja>j bin Muslim al-Qushayri> al-Naisa>bu>ri>, S{a>h}i>h Muslim (Bairu>t: Da>r al-T{aibah, 2006), Kita>b al-I<ma>n (1), Bab ke-79 fi> qaulihi ta‘a>la>: Inna Alla>h la>

yana>m, Hadis nomor 179 dan 293, 96. Redaksi hadisnya:

َح

165 Al-S{a>bu>ni>, S{afwah al-Tafa>si>r, Jil. 2, 432.

166 Kisah ini juga disebutkan dalam QS. Al-Naml [27]: 8-9 dan QS. T{a>ha> [20]: 11-13. Redaksi QS. Al-Naml [27]: 8-9 adalah:

اَّمَلَف

diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (9) (Allah berfirman):

“Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Redaksi QS. T{a>ha> [20]: 11-13 adalah:

ٓ َٰٓىَسوُمََٰيٓ َيِدوُنٓاَهَٰىَتَأٓٓاَّمَلَف

(12) “Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, T}uwa>,” (13) “Dan

121

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”

Ibn Kathi>r menyebutkan ketika Musa sampai di sumber cahaya yang ia lihat, ia mendapatkan cahaya tersebut berkobar dari sebatang pohon al-‘ausaj yang masih hijau. Pohon tersebut berada di sebelah barat bukit sebelah kanan. Musa berdiri tertegun keheranan melihat cahaya tersebut yang tidak menghanguskan pohon tersebut.167

Meskipun ada rasa takut pada diri Musa, namun ia terpesona dengan pemandangan yang ada di depannya, yaitu cahaya yang berada pada sebatang pohon. Musa bahkan meletakkan telapak tangannya ke wajahnya karena kuatnya pantulan cahaya tersebut dan rasa takut yang ia rasakan.168 Musa tertarik mendekat dan semakin ingin tahu apa sebenarnya yang ada di balik cahaya itu. Saat itulah, ia mendengar suara memanggil dirinya yang berasal dari sisi kanan lembah. Allah swt. berfirman dalam QS. Maryam [19]: 52 yang artinya, “Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung T{u>r …”dan QS. Al-Qas}as} [28]: 30 yang artinya, “diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan ...”169

Saat itu Musa berada di kembah yang bernama T{uwa> menghadap kiblat.

Sedangkan pohon tersebut (al-‘ausaj) berada di sebelah kanan di bagian barat.

Kemudian Allah swt. memanggilnya di lembah suci T{uwa> dan memerintahkan kepadanya untuk menanggalkan terompahnya. Hal ini sebagai bentuk pengagungan, pemuliaan, dan penghormatan terhadap tempat yang barakah tersebut.170

Musa kemudian mendengar suara yang memanggilnya, Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.171 Suara itu memanggil namanya, tentu yang bersuara itu mengenal dirinya. Akhirnya, Musa mencari-cari dari mana datangnya suara tersebut. Semula Musa tidak percaya dengan apa yang didengarnya, meskipun dalam hatinya ia berkata, “Benarkah Tuhan telah memanggil namaku dan berbicara kepadaku?”172 berasal dari pohon Ausaj. Sialakn baca Abu> Ja‘far Muh}ammad bin Jari>r al-T{abari>, Ja>mi‘ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l Ay al-Qur’a>n atau Tafsi>r al-T{abari> (Kairo: Badr Hijr, 2001), Juz 18, 242.

168 Ibn Kathi>r, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Juz 2, 55; dan Ibn Kathi>r, Qas}as} al-Anbiya>’ >, 366.

169 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 833.

170 QS. T{a>ha> [20]: 11-12 dan QS. Al-Qas}as} [28]: 30.

171 QS. Al-Qas}as} [28]: 30.

172 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 833.

122

Satu sisi hati Musa merasa takut ketika ia meyakini bahwa yang berbicara kepadanya adalah Allah swt. Namun, pada sisi lain, ada rasa sangat gembira karena yang memilih darinya dan mengangkatnya sebagai Rasul adalah Allah swt. yang ketika itu berbicara kepadanya.173 Musa memaklumi ada misi kerasulan yang akan dibebankan kepadanya, sebagaimana firman Allah swt. dalam QS. T{a>ha> [20]: 13 yaitu:

اَنَأَو

َٓكُت ۡرَت ۡخٱ ٓ

ٓۡعِمَت ۡسٱ َٓٓف

َٰٓٓىَحوُيٓاَمِل ٓ

ٓ

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).”

Itulah wahyu pertama yang menahbiskannya sebagai utusan Allah swt.

(rasu>lulla>h). Pada saat itulah Allah swt. memberinya karamah dan keutamaan yang lebih besar karena Dia telah menetapkannya sebagai rasul utusan Allah swt. Ia ditugaskan untuk mengemban risalah-Nya dan menyampaikannya kepada manusia.174 Ima>m Fakhr al-Di>n al-Ra>zi> menyatakan bahwa redaksi QS. T{a>ha> [20]:

13 mendatangkan wibawa dan keagungan puncak, seakan-akan Allah swt.

berfirman: Telah datang kepadamu sebuah urusan besar dan menakutkan, maka bersiap-siaplah dan curahkan seluruh hati dan pikiranmu kepadanya.175

Al-Badra>wi> dalam bukunya, Qas}as} al-Anbiya>’ wa al-Ta>ri>kh, menyatakan bahwa sejatinya Musa pernah mendengar perihal wahyu dan kenabian yang menyebar luas di kalangan orang-orang Isra>’i>l. Mereka seringkali menceritakan bahwa Allah swt. kelak akan mengutus seorang rasul yang akan memerdekakan mereka dari penindasan Firaun. Musa sempat bertanya, kapan Rasul Tuhan itu datang? Jika sang juru selamat datang untuk orang-orang Ibrani dan mencampakkan cambuk yang selama ini mendera mereka, maka hati Musa berikrar bahwa jika Tuhan mengutus Rasul-Nya, maka dialah orang pertama yang akan berdiri di sampingnya untuk memberi dukungan.176

Musa telah berikrar bahwa dirinya akan menjadi orang pertama yang membela menyingkirkan kezaliman dari Bani> Isra>>’i>l. Namun, jika ternyata Rasul yang akan diutus Tuhan tidak lain adalah dirinya sendiri, maka kerasulan itu merupakan suatu hakikat yang tidak pernah terbersit dalam pikirannya. Karena kerasulan itu adalah karunia kemuliaan di atas segala kemuliaan dan penghormatan sebesar apa pun bentuknya penghormatan itu.177

2. Wahyu dan Mukjizat

Musa menerima wahyu pertama kali ketika ia dalam perjalanan dari Madya>n ke Mesir. Di tengah perjalanan, tepatnya di lembah T{uwa>, gunung Sinai, Musa diangkat sebagai Rasul dan menerima wahyu pertama. Kisah Musa di lebah

173 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 834.

174 Al-Mawla>, Qas}as} al-Qur’a>n, 119.

175 Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Mafa>ti>h} al-Ghayb atau Tafsi>r al-Kabi>r, (Bairu>t: Da>r al-Fikr, 1981), Cet. ke-1, Juz 22, 19.

176 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 834.

177 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 834.

123 T{uwa> ini dalam surah al-Qas}as} [28] tidak diinformasikan secara eksplisit, namun misi kerasulan Musa diinformasikan pada surah T{a>ha> [20]: 14.

Pada QS. Al-Qas}as} [28]: 30, Musa mendatangi suara panggilan dari tepi jurang (lembah) yang diberkahi, tepatnya dari arah sebatang pohon yang tumbuh di lembah tersebut. Suara itu berkata: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” “Hai Musa, sesungguhnya yang sekarang berbicara dan bercaka-cakap denganmu adalah Aku, Allah Zat Yang Mahaagung lagi Mahabesar.

Zat Yang Mahasuci dari sifat-sifat kekurangan. Tuhan manusia, jin, dan semua makhluk.178

Inilah wahyu pertama yang diterima Musa. Wahyu tersebut berupa suara panggilan kepadanya dan menyatakan bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah Allah swt, Tuhan semesta alam. Tuhan manusia, jin, dan semua makhluk alam semesta. Rincian wahyu pertama yang diterima Musa disebutkan dalam QS.

T{a>ha> [20]: 14-16: Aku.” (15) “Sesungguhnya hari Kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (16) “Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan dari (hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.

Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dengan nama Allah.

Penyebutan nama Allah ini mengandung makna bahwa “Akulah Allah yang berhak memerintah dan melarang.”179 Di sini terdapat perbedaan bahwa karunia keilahian (ulu>hiyyah) adalah taklif, yaitu pembebanan suatu tugas atau kewajiban.

Sedangkan karunia rubu>biyyah adalah nikmat dan kebaikan yang dirasakan oleh hamba Tuhan di kehidupan dunia.180

Redaksi tidak ada Tuhan (yang kuasa dan berhak disembah) melainkan Aku, adalah akhir dan sekaligus sumber dari segala sesuatu. Maksudnya, sesuatu yang memancarkan, perilaku, sikap, dan jalan hidup keimanan, bahkan kalimat tersebut merupakan kalimat tauhid yang disebut Nabi Muh}ammad saw. sebagai Kalimat terbaik yang terucap oleh aku dan oleh para nabi sebelum aku.181

178 Al-S{a>bu>ni>, S{afwah al-Tafa>si>r, Jil. 2, 432.

179 Al-Badra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, Juz 4, 834.

180 Muh}ammad Mutawalli al-Sha‘ra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’ (Mesir: Da>r al-Quds, 2005), 267.

181 Al-Sha‘ra>wi>, Qas}as} al-Anbiya>’, 271. Pada Sunan al-Tirmidzi> disebutkan:

ْنَع ْيِبَأ ْنَع ٍبْيَعُش ْنِب وِرْمَع ِهِّدَج ْنَع ِه

ُرْ يَخَو ،َةَفَرَع ِمْوَ ي ُءاَعُد ِءاَعُّدلا ُرْ يَخ :َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص َِّبَِّنلا َََّأ ،

)ِّذمترلا هارو( ُللها َّلِإ َهَلِإ َل :ْيِلْبَ ق ْنِم ََْوُّ يِبَّنلاَو اَنَأ ُتْلُ ق اَم

124

Allah swt. juga memerintahkan kepada Musa untuk mendirikan salat sebagai salah satu cara mengingat-Nya. Ima>m Muja>hid bin Jabr menyatakan jika Musa salat, maka dia ingat Allah swt. karena salat mengandung banyak zikir.182 Ah}mad al-S{a>wi> mengatakan salat secara khusus disebutkan di antara ibadah-ibadah lainnya karena ia mengandung zikir dan menyibukkan hati, lidah, dan anggota badan.183 Karena itu, salat adalah rukun Islam paling besar setelah tauhid.

Awalnya Musa tidak mengetahui dari mana memulai dan apa yang pertama harus dilakukan bila kerasulan itu dibebankan kepadanya. Namun, suara di balik api yang dilihatnya itu memberikan penjelasan kepada Musa bahwa langkah awal itu mutlak dimulai dari dirinya sendiri untuk mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. Setelah itu, kewajiban mendirikan salat sebagai salah satu cara mengingat-Nya.

Allah swt. juga menginformasikan kepada Musa bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara. Setiap individu akan memperoleh balasan pada hari Kiamat dari apa yang telah dilakukan dan diusahakannya selama hidup di dunia.

Datangnya hari Kiamat adalah sebuah keniscayaan. Allah swt. memotivasi Musa agar beramal untuk akhirat dan menghindari orang-orang yang tidak beriman dan bermaksiat kepada Allah swt. serta senantiasa menuruti hawa nafsunya.

Hari Kiamat akan tiba dan terjadi dengan pasti. Allah wt. hampir merahasiakannya bagi Zat-Nya sendiri. Redaksi ayat inna al-sa>‘ah a>tiyah aka>d ukhfi>ha> seperti kebiasaan gaya bahasa bangsa Arab. Jika mereka berlebihan dalam merahasiakan sesuatu, mereka berkata: “Aku merahasiakannya termasuk kepada diriku sendiri. Maksudnya aku tidak menampakkannya kepada siapapun.”184

Hikmah merahasiakan Hari Kiamat dan kematian adalah Allah swt. tidak

Hikmah merahasiakan Hari Kiamat dan kematian adalah Allah swt. tidak