TANTANGANNYA DI MASA KIN
A. Musik Tradisional Sebagai Objek Wisata Budaya
Tidak dapat disangkal bahwa pariwisata telah menjadi nafas dan urat nadi pembangunan di Indonesia. Pariwisata adalah kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat se- hingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat. Tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia terlihat dalam Ins- truksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1969 khususnya Pasal 3 yang menyebutkan “Usaha-usaha pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan “Industri” dan merupakan bagian dari usaha dan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat dan Ne- gara” (Sawitri, 2009:46). Berdasarkan Inpres tersebut dikatakan bah- wa tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia adalah sebagai be- rikut:
Meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan Negara dan masyarakat pada umumnya, perluasan kesempatan kerja dan mendorong kegiatan-kegiatan industri penunjang dan industri-industri sampingan.
Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan
Indonesia.
Meningkatkan persaudaraan atau persahabatan nasional dan internasio- nal
Sejak tahun 2008 hingga tahun 2013, Pemerintah Maluku telah menempatkan sektor pariwisata (sektor unggulan) dalam rangka mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di Maluku.
Oleh karena itu dalam rencana dan strategi lima tahunannya Instansi yang menangani persoalan pengembangan pariwisata itu be- rupaya untuk meningkatkan berbagai potensi daerah untuk dijadi- kan sebagai daya tarik pariwisata baik itu objek wisata sejarah, wi- sata budaya, maupun marine tourism yaitu wisata bahari (Wawancara dengan Ibu Flrorence Sahusilawane, Mantan Kadis Budpar, Provinsi Maluku, Rabu, 12 Juni 2014).
63
Musik tifa dan totobuang saat ini hampir selalu menghiasi acara-acar hiburan baik saat penerimaan tamu-tamu kehormatan namun juga saat acara-acara hiburan rakyat. Bahkan saat ini para seniman di Kota Ambon bukan saja menggabungkan musik tifa dan totobuang tetapi juga telah mengkolaborasinya dengan berbagai mu- sik tiup seperti musik tiup tahuri maupun musik suling bambu. Tam- pilan gambar di bawah ini mempertontonkan acara seni musik tra- disional di lokasi Gong Perdamaian Dunia ketika dilaksanakannya even internasional Sail Banda 2010 oleh Pemerintah Daerah Maluku yang menarik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri.
Gambar 54.
Kolaborasi Musik Tifa Daya Tarik Wisata Budaya
Pulau Ambon memiliki banyak objek sejarah dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi salah satu daya tarik wisata. Satu di antaranya musik tradisional yang saat ini ada di Negeri Hutumuri. Grup musik tahuri di Negeri Hutumuri sesungguhnya memiliki po- tensi yang besar untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik objek wisata budaya di Pulau Ambon. Hal ini dibuktikan dengan telah seringnya grup ini mengadakan pertunjukan saat dilaksana- kannya even-even khusus di Kota Ambon yang berskala lokal mau- pun berskala internasional.
Untuk beberapa even internasional yang pernah diikuti oleh grup musik tahuri antara lain Promosi Even Sail Banda 2010 di Bali, Pentas Seni Pada Jica Jepang 2012, Pertunjukan Seni Kepada Wisa- tawan Mancanegara di Pantai Natsepa, Pentas Musik Untuk Wisa- tawan Australia Dalam Rangka Memperingati Anzac Day 25 April
64
2012 di Kota Ambon, sedangkan untuk even nasional antara lain se- bagai tim kesenian Maluku dalam meramaikan acara pesta olahraga GANEFO di Jakarta tahun 1963, pentas musik dalam acara Peresmian Kapal Pelni Hutumuri di Lanal Halong, terlibat dalam acara pelan- tikan raja di Negeri Hutumuri, meresmikan Purna Pugar Gereja Hu- tumuri oleh Gubernur Maluku dan sering diundang untuk mengisi acara ibadah di berbagai gereja di Kota Ambon.
Gambar 55.
Pentas Grup Tahuri JICA Jepang Di Baileo Oikumene
Menurut pimpinan sanggar Bapak Carolis Elias Horhoru bila- mana grup musik ini diundang untuk sebuah pertunjukan akan me- minta bayaran sekitar Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) hingga Rp 5.000.000 (lima juta rupiah). Uang yang diperoleh kemudian dibagi- bagikan sekadar untuk membeli buku bagi anggota-anggotanya yang terbesar yaitu siswa SMP dan SMA. Untuk membeli pakaain saat ac- ara pertunjukan biasanya mereka akan menggunakan pakaian-pa- kaian yang pernah disumbangkan secara pribadi, misalnya sumba- ngan dari Ibu Sophie Ralahalu (Istri mantan Gubernur Maluku). Un- tuk membeli pakaian seragam dari hasil pertunjukan belum pernah dilakukan karena tidak cukup.
Apabila dilihat dari kesiapan grup untuk untuk menjadikan grup musik ini sebagai salah satu objek wisata budaya menurut kami belum cukup memadai. Hal ini karena grup musik tahuri dari Negeri Hutumuri oleh Pemerintah Kota Ambon sampai saat ini belum difa- silitasi dengan serius dan diberdayakan untuk menjadikannya seba- gai salah satu objek priwisata budaya yang berkualitas dan ber- kelanjutan. Berkualitas dalam hal ini diartikan kualitas produk dan juga dalam hal konsumen (menyajikan pada wisatawan).
65
Istilah berkelanjutan dimaksudkan meliputi keberlanjutan so- sial budaya, keberlanjutan lingkungan, maupun keberlanjutan ekono- mi. Nampak dengan jelas penanganan masih secara sederhana dan sifatnya masih insidentil artinya belum diatur dengan baik agar ada pertunjukan yang rutin dan memiliki bobot pertunjukan. Di pihak lain pertunjukan ini harus dinilai dari sisi ekonomis sehingga mem- bawa keuntungan bagi pemilik dan pemain.
Selain musik tiup tahuri dan suling bambu ada juga jenis mu- sik tradisional lain di lingkungan masyarakat Ambon yaitu musik tradisional totobuang. Totobuang sebagai salah satu alat musik pukul yang telah dikenal sejak dahulu kala dan dikenal jauh sebelum ma- suknya orang-orang Eropa ke Maluku. Ketika Pulau Ambon menjadi pusat perdagangan cengkeh pedagang-pedagang Islam yang datang dari Jawa dan Sumatera sekaligus membawa dagangan mereka se- perti keramik, dan gong. Dalam perkembangan selanjutnya orang- orang Ambon mengenal musik totobuang hingga sekarang. Sebagai pelengkap dari totobuang adalah tifa dan gong. Semakin banyak tifa yang digunakan untuk mendampingi totobuang maka suara yang di- perdengarkan akan semakin ramai. Oleh karena itu musik totobuang biasanya disebut musik tifa totobuang.
Totobuang saat ini masih digunakan untuk menari lenso, me- nyambut tamu kehormatan, dan mengiringi pengantin. Bunyi khas- nya yaitu keras dan dinamis sehingga banyak orang tergerak hatinya untuk melihat secara langsung bahkan ikut menari bersamanya.
Gambar 56. Musik Tifa Totobuang
Musik totobuang bukan saja dipergunakan oleh masyarakat Ambon untuk menyambut tamu atau mengiring pengantin tetapi
66
musik totobuang juga telah dipromosikan sampai ke luar kebu- dayaan dari masing-masing suku-suku bangsa yang ada di Maluku salah satunya adalah suku bangsa Ambon dengan musik totobuang yang sekaligus dapat digunakan untuk mengiringi tari lenso (sapu tangan) yaitu tarian pergaulan bahkan oleh seniman di Kota Ambon musik tradisional totobuang ini telah dikolaborsi dengan musik ber- nuansa Islami yaitu Hadrat.
Gambar 57. Musik Hadrat
Melalui perpaduan kedua musik tradisional masing-masing totobuang dan hadrat maka kini telah diciptakan sebuah tarian kreasi baru yaitu tari lenso dan tari sawat dengan musik pengiring tifa totobuang dan musik hadrat. Melalui kolaborasi dua jenis musik ini maka kelihatan juga ada perpaduan dua aliran kepercayaan yaitu to- tobuang cenderung bernuansa Eropa atau Kristen sedangkan tari sa- wat bernuansa Melayu Islam.
Gambar 58. Tari Lenso
67 Gambar 59.
Tari Sawat
Kolaborasi dua jenis musik dan dua tarian pergaulan ini sangat menarik untuk ditonton. Bilamana dua aliran musik ini di- kelola dengan baik maka akan memperkaya aneka ragam seni buda- ya orang Ambon. Dalam tahun 2011 musik totobuang sebagai salah satu musik tradisional orang-orang Ambon diperkenalkan pada ma- syarakat Australia di Darwin Australia dalam sebuah acara Maluku Night.
Gambar 60.
Maluku Night Di Darwin Australia
Jenis musik tradisional lain yang dikenal juga oleh orang- orang Ambon yaitu musik berirama lautan teduh yang biasa disebut Musik Hawaian. Entah kapan dan bagaimana asalnya musik berira- ma lautan teduh ini dikenal oleh orang-orang Ambon namun aliran musik ini sangat digemari oleh kalangan tua masyarakat Ambon. Musik-musik irama lautan teduh ini sangat digemari dimasa Peme- rintah Belanda sehingga bila ada acara pesta maka orkes musik ha- waian diundang dan dijadikan pula sebagai pengiring dansa walls.
68
Gambar 61. Grup Musik Hawaian
Dewasa ini orkes musik hawaian belum terlalu banyak dige- mari oleh generasi muda sehingga setiap tahunnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Maluku melaksanakan festival musik ha- waian yang tujuannya selain untuk mengembangkannya, mempopu- larkannya di kalangan generasi muda, dan menjadikannya sebagai salah satu daya tarik objek wisata budaya. Tindakan ini sekaligus ju- ga melestarikan salah satu jenis musik tradisional orang Ambon dari bahaya kepunahan akibat masuknya musik-musik modern yang cen- derung lebih digemari oleh generasi muda di Kota Ambon.
B. Pengaruh Musik Modern Dalam Musik Tradisional
Kesenian dengan salah satu unsurnya yaitu seni musik sejak dahulu telah dikenal oleh orang-orang Ambon. Hal ini dapat dibuk- tikan dari adanya kapata dan lani (e) yang sering dibawakan dalam acara-acara ritual magis. Kapata yaitu nyanyian dengan bahasa lokal atau bahasa tanah. Disebut bahasa tanah oleh karena kapata itu me- rupakan nyanyian asli masyarakat setempat yang isinya mencerita- kan suatu peristiwa sejarah yang perlu diketahui oleh anak cucu yang pernah terjadi atas diri leluhur mereka. Adapun lani atau lane yaitu nyanyian yang mengisahkan peristiwa sedih biasanya tentang pengkhianatan yang merugikan banyak orang.
Kapata dan lani apabila didengungkan akan membawa sua- sana menjadi khidmat, sendu dan religius. Seperangkat alat musik seperti tifa, gong, tahuri akan mengiringi kapata atau lani yang di-
69
nyanyikan menghasilkan suatu irama lagu dan musik khas. Keahlian dalam seni suara dapat didengar ketika mereka melagukan syair-sya- ir kapata.
Kapata dalam aspek musikologi adalah bentuk lagu dan nada yang terdiri dari lima buah nada yaitu dimulai dari nada (1) do sam- pai dengan (5) yaitu sol. Kapata adalah bentuk lagu dan tangga nada pentatonik. Tangga nada pentatonik adalah salah satu ciri dari nya- nyian rakyat di Maluku (Tamaela dalam Rumahuru, 2012:59). Kapata menggunakan tempo yang lambat dengan irama tifa sedangkan eks- presinya penuh perasaan bahkan sering kali yang membawakannya mengeluarkan air mata. Ritme yang digunakan adalah isoritme yaitu satu pola ritme pendek yang dimainkan berulang-ulang (Rumahuru Z, 2012:59).
Selain kapata dan lani, orang-orang Ambon juga senang de- ngan lagu-lagu bebas yang sifatnya gembira menggambarkan pujian terhadap alam dan kekayaannya sering dilagukan oleh seorang atau sekelompok pemuda ketika sedang beristirahat di kebun atau di tepi pantai. Sebagai pengiring lagu cukup digunakan tifa atau toleng- toleng yang sesungguhnya dimanfaatkan sebagai alat berkomunikasi di hutan atau di kebun sekaligus alat untuk mengusir burung-burung yang datang untuk mematok tanaman jagung. Jika berada di laut syair-syair lagu yang diperdengarkan ditingkahi dengan bunyi ketukan-ketukan panggayo yang diatur dengan ritme tertentu sede- mikian rupa sebagai pengiring lagu. Untuk sebuah acara gembira seperti pesta negeri atu, pesta keluarga maka tifa menjadi alat musik yang sangat digemari karena ketika dipukul akan mengeluarkan ir- ama gembira yang sangat kental di telinga setiap orang sehingga spo- ntan orang akan tergerak hatinya untuk menyaksikan acara itu. Seni musik orang-orang Ambon dengan seperangkat alat musik tradisio- nal seperti tifa, suling bambu dan tahuri (alat tiup dari kulit siput at- au kulit bia) kemudian mendapat pengaruh dari seni budaya pen- datang dari nusantara lainnya termasuk juga seni budaya Islam dan Eropa.
Ketika Belanda menanamkan kekuasaannya di Ambon mula- mula kehidupan sosial budaya rakyat terutama di bidang kesenian tidak banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Kesenian asli penduduk di Pulau Ambon terutama di kampung-kampung te-
70
tap terpelihara berjalan sebagaimana adanya. Tetapi sesuai dengan perkembangan politik kebudayaan maka unsur-unsur barat lalu mendapat tempat yang utama terutama bagi masyarakat di kota.
Lagu-lagu asli yang mengandung nilai-nilai historis yang ber- sifat tradisional itu mulai dipengaruhi lagu-lagu yang mengandung perasaan gembira. Kapata yang melankolis mulai diimbangi dengan munculnya lagu-lagu bernada gembira maupun lagu-lagu bertema percintaan.
Dengan adanya kontak dengan dunia luar terutama dengan masyarakat Indonesia lainnya maka alat musik tradisional seperti su- ling bambu, tifa, tahuri diperkaya dengan gong dan totobuang, ma- upun dengan alat-alat musik dari Eropa seperti biola, triangle, har- monika, gitar, ukulele, sasando serta alat-alat tiup dari logam. Hal ini tidak mengherankan mengingat Portugis dan Belanda menetap di Maluku hampir dua abad lebih dan telah membawa perubahan sosial kultural baru termasuk dalam bidang seni musik, mulailah diperke- nalkan alat musik biola, gitar, triangle yang biasanya digunakan un- tuk mengiringi tari katereji.
Gambar 62. Tari Katereji
Di kampung-kampung (Kristen) muncul orkes-orkes musik gesek dan suling bambu, bahkan Pemerintah Hindia Belanda telah mengembangkan orkes suling bambu menjadi orkes pengiring iba- dah di gereja-gereja. Selain orkes suling bambu di negeri-negeri mun-
71
cul maningkoor, yang terlibat dalam acara ibadah setiap minggunya. Pada hari-hari besar keagamaan misalnya hari Natal atau Tahun Baru maka biasanya musik-musik tradisional suling bambu akan dikola- borasi dengan alat musik tambur yang tersimpan di dalam gereja. Tambur dengan ukuran besar ini akan dipukul bersama-sama de- ngan simbal sehingga menghasilkan suara yang khas.
Pengaruh musik modern terhadap musik tradisional terasa sa- ngat kental dalam peribadatan (aliran agama Kristen). Jika di waktu dahulu ibadah gereja hanya diisi dengan paduan suara dan musik suling bambu kini sesuai dengan perkembangan maningkoor ber- kembang menjadi paduan-paduan suara. Di Hutumuri terdapat 5 (li- ma) kelompok paduan suara yang secara berganti-ganti mengisi ac- ara saat ibadah minggu atau saat dilaksanakan acara sipil pemerin- tahan. Paduan-paduan suara yang dahulunya menyanyi tanpa diiri- ngi dengan musik tetapi hanya dipimpin oleh seorang tukang palu ki- ni paduan suara telah diirigi dengan musik-musik modern seperti organ atau grup band yang dipimpin oleh seorang dirijen musik.
Gambar 63. Paduan Suara Di Gereja
Demikian halnya dalam dunia hiburan lagu-lagu daerah yang dahulu hanya dibawakan oleh orkes suling bambu atau dengan sebu- ah ukulele kini telah dikembangkan dalam sebuah orkestra sehingga lagu-lagu daerah itu menjadi lagu-lagu yang bernuansa pop dan mendapat tempat di hati generasi muda.
72 Gambar 64. Orkestra Suling Bambu
Pengaruh musik modern bukan saja melanda orang-orang Ambon Kristen yang terwujud dengan diterimanya alat-alat dan ali- ran musik modern dalam peribadatan ternyata kondisi inipun dite- rima oleh orang-orang Ambon beragama Islam. Pengaruh musik da- ngdut, melayu atau irama padang pasir, ditandai dengan diterima- nya alat-alat musik modern seperti gambus, kecapi dan seperangkat alat musik modern lainnya. Pengaruh musik modern bukan saja ter- jadi pada musik tradisional tetapi juga melanda dalam dunia seni tari antara lain dengan munculnya tari-tarian ala Timur Tengah seperti tari zamra.
Pada akhirnya kita tiba pada suatu konstatir sementara bah- wa kesenian tradisional secara khusus musik tradisional sebagai wa- risan leluhur masa lampau yang masih tersisa dalam kehidupan mas- yarakat Ambon tetap mengalami perkembangan meskipun perkem- bangan itu berjalan tidak serentak dan juga tidak secara radikal. De- ngan demikian pengaruh musik modern terhadap musik tradisional dalam perkembangan musik suku bangsa Ambon diterima melalui jalur-jalur peribadatan, hiburan maupun melalui jalur seni tari.