• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: LANDASAN TEORI

B. Hakikat Kepala Sekolah

3. Mutu Pendidikan dalam Perspektif Islam

Mutu pendidikan dalam Islam tampak pada perintah Allah Swt dan Rasul-Nya tentang kewajiban menuntut ilmu, bahkan dalam Islam kewajiban menuntut ilmu tidak dibatasi oleh waktu, tetapi dilakukan sepanjang hidup (long live education). Sebagaimana firman Allah dalam Alquran:

Artinya:Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.57

Di samping itu, Allah juga memerintahkan seseorang untuk selalu membaca (belajar), sebagaimana firman Allah:

Artinya:Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.58

Islam juga memotivasi para pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan dengan usaha yang serius dan maksimal. Salah satu ayat yang menjadi motivasi seseorang, agar selalu meningkatkan ilmu adalah penghargaan Allah yang diberikan kepada ilmuwan yang tertuang dalam firman Allah:

57Q.S. Taubah (9):122

Artinya : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.59

Dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan, manusia diwajibkan untuk berusaha bersungguh-sungguh dengan cara membaca, mengkaji, menelaah, meneliti dan menemukan. Disinilah, mutu proses dalam Islam menjadi sangat penting meskipun mutu input dan hasil juga penting, hal ini karena proses memerlukan usaha serius dan maksimal yang harus dilakukan oleh seseorang, sebagaimana firman Allah:

Artinya:Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah AllahSesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dansekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.60

Adapun berkenaan dengan mutu, menurut Muhaimin yang dikutip Nurul Hidayah61, dasar ajaran Islam tentang mutu adalah sebagai berikut:

59Q.S. al-Mujadalah (58):11

60Q.S. ar-Ra’du (13):11

1) Mutu merupakan realisasi dari ajaran Islam, yakni berbuat baik kepada semua pihak. Sebab, Allah telah berbuat baik kepada manusia dengan aneka nikmat-Nya dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun. Firman Allah dalam Alquran:

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.62

Kata ahsin terambil dari kata hasan yang berarti baik. patron kata yang digunakan dalam ayat ini berbentuk perintah dan membutuhkan objek. Namun objeknya tidak disebut sehingga ia mencakup segala sesuatu yang dapat disentuh oleh kebaikan, mulai dari lingkungan, harta benda, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, baik orang lain maupun diri sendiri, bahkan musuh sekalipun (dalam batas-batas tertentu).63 Kata kama dipahami oleh banyak ulama “sebagaimana”, dan ada juga yang memahami “disebabkan karena”. Atas dasar itu kata kama berarti disebabkan karena Allah telah melimpahkan aneka karunia maka seharusnya manusia pun melakukan ihsan dan upaya perbaikan sesuai kemampuannya.64

2) Setiap orang dinilai dari hasil kerjanya

62Q.S. al-Qashshash (28):77

63M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol 10, h. 407

Artinya: dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,65

Huruf lam pada firman-Nya li al-insan berarti memiliki. Kepemilikan dimaksud adalah kepemilikan hakiki, yang senantiasa akan menyertai manusia sepanjang eksistensinya. Ia adalah amal-amal yang baik dan buruk. Kata sa’a yang pada mulanya berrati berjalan cepat, kemudian digunakan dalam arti berupaya secara sungguh-sungguh.66

3) Seseorang harus bekerja secara optimal dan komitmen terhadap proses dan hasil kerja yang bermutu atau sebaik mungkin, selaras dengan ajaran ihsan. Firman Allah:

Artinya:Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.67

Kata ihsan dalam ayat tersebut maknanya lebih tinggi dan dalam arti kandungan makna ‘adil karena ‘adil memperlakukan orang lain sama dengan perlakuan terhadap kita, sedangkan ihsan adalah memperlakukan orang lebih baik dari perlakuan terhadap kita. Adil adalah mengambil semua hak kita dan atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsan adalah memberi lebih banyak dari yang harus kita berikan dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya kita ambil. Perintah ihsan bermakna perintah melakukan segala aktivitas positif seakan-akan kita melihat Allah atau setidaknya selalu merasa dilihat dan diawasi oleh-Nya. Kesadaran akan pengawasan melekat itu menjadikan seseorang berbuat sebaik mungkin, dan memperlakukan pihak lain lebih baik dari perlakuannya terhadap kita.68

4) Seseorang harus bekerja secara efisien dan efektif atau mempunyai daya guna yang setinggi-tingginya. Firman Allah:

65Q.S. an-Najm (53):39

66M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol 13, h. 433-434

67Q.S. an-Nahl (16):90

Artinya:Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.69

kata ahsana berarti membuat sesuatu menjadi baik. kebaikannya diukur pada potensi dan kesiapannya secara sempurna mengemban fungsi yang dituntut darinya. Ayat ini menyatakan bahwa Allah Swt. telah menciptakan semua ciptaan-Nya dalam keadaan baik dan sempurna agar masing-masing dapat berfungsi sebagaimana yang dikehendaki-Nya.70

5) Seseorang harus mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan teliti, tidak setengah-setengah sehingga rapi, indah, tertib dan sesuai satu dengan lainnya. Firman Allah:

6)

Artinya: Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.71

Kata shun’a bisa digunakan untuk suatu perbuatan yang dilakukan secara baik oleh siapa yang punya kemahiran dalam bidangnya.72

69Q.S. as-Sajadah (32):7

70M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol 11, h. 184

71Q.S. an-Naml (27):88

Dokumen terkait