Bibliografi : - Desainer dari Paprieka Studio Desain, yang terletak di Jl.
Tebet Barat 5C No. 30, Jakarta 12810.
- Praktisi Desainer Grafis di Jakarta selama lebih dari dua tahun.
- Dosen dari salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.
Hasil Wawancara
3. Bagaimana perkembangan desain grafis di Indonesia, khususnya di Jakarta, sejak tahun 90-an hingga sekarang?
Jawaban:
Eka: - Dalam perkembangannya di masyarakat, desain grafis cenderung eksis dalam komunitas tertentu, yaitu: komunitas urban atau perkotaan. Hal ini disebabkan karena dalam kehidupan masyarakat urban yang berbudaya
“moderen” membutuhkan teknik-teknik untuk berkomunikasi secara visual dengan baik, benar, dan tepat.
- Dalam lingkup masyarakat urban yang berbudaya “moderen” itu, bentuk perwujudan segala aktivitas kehidupan masyarakatnya cenderung mengedepankan faktor “komersialisme.” Maksudnya, masyarakat cenderung mendukung dan mengembangkan segala kegiatan, yang mampu menghasilkan keuntungan-keuntungan bagi pelakunya, khususnya secara finansial.
- Dalam berkomunikasi secara visual, pihak klien, belum mengetahui dan memahami bahwa kajian keilmuan dan keprofesian desain grafis
Lampiran 6: Hasil Wawancara dengan Eka Sofyan dan Tatang (sambungan)
sebenarnya berfungsi sebagai mediator permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi, dan bukan sumber (penyebab) ataupun hasil akhir (akibat) permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi.
- Kecenderungan-kecenderungan yang terjadi seiring perkembangan desain grafis di Indonesia, khususnya di Jakarta, antara lain: (1) desainer grafis yang eksis, tidak semuanya memahami fungsional (benefit) dan tanggung jawab keprofesian yang mereka jalani, (2) anggota masyarakat, khususnya pengguna jasa desainer grafis atau klien, mayoritas “hanya sekedar tahu”
studi dan keprofesian desainer grafis.
- Untuk pengguna jasa desainer grafis atau klien yang “hanya sekedar tahu,”
cenderung mengutamakan faktor harga yang murah daripada desain yang berkualitas (award winning). Contoh kliennya adalah Garuda Motor.
- Untuk klien yang mengetahui dan menyadari kebutuhannya akan sebuah
“solusi total” atas permasalahan yang klien hadapi, cenderung tidak lagi memperdulikan faktor harga. Contoh kliennya adalah RCTI.
- Untuk desainer grafis yang belum memahami fungsional (benefit) dan tanggung jawab keprofesian mereka, mayoritas beranggotakan desainer grafis fresh graduated.
- Beberapa kecenderungan yang terjadi pada desainer fresh graduated saat ini, antara lain: (1) masih rendahnya keinginan mereka untuk mengembangkan prinsip, keterampilan maupun wawasannya, (2) kecenderungan mereka menonjolkan kreativitas mereka semata, atau hebat berbicara tentang konsep karya mereka saja, tanpa memilki kemapuan analitik untuk memecahkan permasalahan sebenarnya (3) beberapa dari desainer fresh graduated saat ini, lebih mengandalkan kemampuan penguasaan teknologi.
- Dalam teknik mempresentasikan karya desain kepada seseorang klien, desainer grafis seharusnya menggunakan bahasa yang dipahami klien, sehingga klien menjadi paham tentang konsep gagasan solusi yang ditawarkan desainer melalui karya desainnya. Dengan demikian klien tidak lagi “hanya sekedar tahu” bahwa karya desain yang dipresentasikan desainer
Lampiran 6: Hasil Wawancara dengan Eka Sofyan dan Tatang (sambungan)
- yang bersangkutan “baik” adanya. Akan tetapi, jumlah desainer yang paham akan hal ini masih relatif sedikit, atau bahkan minim sekali.
- Penyebab minimnya jumlah desainer yang mampu mempresentasikan karya desain mereka sebagai suatu konsep gagasan solusi permasalahan klien, adalah disebabkan kecenderungan sekolah-sekolah desain grafis saat ini kurang “membekali” siswanya dengan kemampuan berpikir analitik.
Dengan kata lain, di sekolah-sekolah desain grafis saat ini perlu diperbanyak sebuah pembelajaran studi kasus, agar siswanya mampu menganalisa setiap aspek permasalahan yang terjadi secara kritis.
25. Apakah dengan adanya rencana pemberlakuan aturan tata laku keprofesian desainer grafis, hasil kerjasama ADGI dengan pemerintah, mampu memberikan jaminan bahwa masyarakat akan mengapresiasi profesi desainer grafis secara baik dan benar?Mengapa Anda beranggapan demikian?
Jawaban:
Eka: - Tidak, karena segala regulasi, baik yang ada saat ini atau yang akan ada di masa mendatang, nantinya terserah kepada desainer grafis untuk menjalankannya.
- Aturan semacam ini masih sulit diterapkan di Indonesia, karena faktor mentalitas dari para desainer grafis masih kurang baik, sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya.
- Selain itu, profesi desainer grafis hanya dapat eksis dan berkembang pada komunitas tertentu. Akan tetapi, komunitas itu masih banyak yang belum paham tentang studi desain grafis maupun keprofesian desainer grafis.
- Jadi, tidak perlu dibuat suatu aturan atau regulasi semacam ini. Akan lebih baik, jika para desainer grafis yang ada saat ini dibangun mentalitasnya terlebih dahulu agar mereka benar-benar memahami fungsi tanggung jawab keprofesian mereka dengan baik, benar dan tepat. Baru kemudian, biarkan para desainer yang telah terbangun mentalitasnya itu, yang memberikan pemahaman-pemahaman kepada klien nantinya. Memang tahapannya hanya dapat berlangsung secara evolutif.
Lampiran 6: Hasil Wawancara dengan Eka Sofyan dan Tatang (sambungan)
26. Menurut Anda, selaku ketua FDGI saat ini, jika nantinya desainer grafis telah terbangun mentalitasnya dengan baik, benar, dan tepat, sesuai dengan apa yang bapak utarakan sebelumnya, apakah terdapat jaminan bahwa masyarakat dapat menjadi lebih apresiatif terhadap desain grafis? Mengapa Anda berpendapat demikian?Berikan contoh kasusnya!
Jawaban:
Eka: - Dalam prediksi saya, kemungkinannya cukup menghasilkan sesuatu yang baik.
- Di Amerika Serikat, sempat terjadi sebuah manifesto pernyataan dari para desainer di sana berbentuk sebuah penanda tanganan sebuah statement secara massal. Dalam statement atau pernyataan itu berisi pernyataan sikap dari para desainer untuk secara total menjadi desainer grafis yang bertanggung jawab terhadap profesinya dan menolak usaha-usaha dari kelompok-kelompok lain yang berdampak negatif bagi perkembangan profesi desainer grafis.
27. Jelaskan sekilas tentang visi dari FDGI, termasuk karakteristik perkumpulan ini dan kelompok sasarannya?Apa perbedaan FDGI dengan ADGI? Saat ini, selain ADGI dan FDGI, apakah ada asosiasi atau perkumpulan desain grafis lainnya?
Jawaban:
Eka: - FDGI bervisi untuk mencetak desainer-desainer grafis yang mampu membuat pengusaha-pengusaha (klien) yang open minded dan mau tahu, mau diajak berkomunikasi, tentang bidang keilmuan desain grafis.
Singkatnya, FDGI berfungsi untuk mengedukasi dan mengembangkan studi keilmuan desain grafis
- Karakteristik dari FDGI adalah dinamis, tidak terdapat keseketariatan, keanggotaanya bersifat sosial, dan ikatan antar anggota yang satu dengan yang lain berdasarkan ikatan komitmen.
- Selain ADGI dan FDGI, sepengetahuan saya, terdapat perkumpulan lain yang juga bergerak di bidang desain grafis, yaitu: FGDGI (Forum Guru Desain Grafis Indonesia)
- Perbedaan FDGI dengan ADGI: FDGI Æ edukasi dan studi desain grafis
ADGI Æ ke arah keprofesian
5. Jika demikian, maka cukup banyak pula asosiasi desain grafis di tanah air.
Seberapa besar peranan asosiasi-asosiasi ini dalam melindungi kepentingan
Lampiran 6: Hasil Wawancara dengan Eka Sofyan dan Tatang (sambungan)
desainer grafis itu sendiri? Mengapa dapat bermunculan asosiasi-asosiasi desain grafis selain FDGI?
Jawaban:
Eka: - Dalam pandangan saya, fungsi dari asosiasi-asosiasi desain grafis bukan berfungsi sebagai lembaga yang melindungi kepentingan desainer, tetapi lebih merupakan sebuah perkumpulan orang-orang yang membutuhkan inspirasi, sharing pengetahuan, referensi, dll.
- Jadi dapat dikatakan bahwa fungsi asosiasi adalah untuk membangun hubungan yang positif antar anggota, dalam menjalani keprofesian desain grafis.
- Makin banyaknya asosiasi saat ini, saya rasa tujuannya adalah untuk makin memperbanyak pilihan bagi para profesional desainer grafis, khususnya dalam hal memilih asosiasi mana yang sesuai (cocok) dengan visi atau idealisnya.
6. Bagaimana penilaian Anda pada iklan berikut? (gambar: lihat lampiran 3, No. 10).
Jawaban:
Eka : - Jika saya memposisikan diri sebagai masyarakat awam, iklan ini menarik, karena informasinya, tetapi bukan karena desainnya.
- Jika sebagai desainer grafis, hasil visualnya tidak mampu mencerminkan kriteria desain yang baik, karena dalam konteks desain grafis, baik visual,copy, kedalaman masalah, tingkat penerimaan publik, citra perusahaaan, kekuatan media, dan elemen-elemen lainnya; semuanya saling berhubungan.
- Menurut saya, visual tidak terlalu signifikan mempengaruhi tingkat kebutuhan dan tingkat apresiasi masyarakat terhadap profesi desainer grafis; karena media implementasi desain grafis cukup beragam dan masing-masing media memiliki keunggulannya sendiri-sendiri.
Tatang : - Dalam pandangan saya yang berkepribadian tidak suka “sosialisasi”
dan “eksploitasi” sebagaimana yang ada dalam iklan ini, saya tidak tertarik untuk datang ke Veranza. Dengan kata lain, sehubungan informasinya ngga direct (terlalu bertele-tele) dan identik dengan hal-hal jorok (porno), saya tidak tertarik untuk melihatnya ataupun untuk datang ke Veranza.
- Akan tetapi, hal semacam ini jika diperlihatkan untuk orang yang suka dangdut, desain iklan ini sudah tepat.
Lampiran 7: Hasil Wawancara dengan Lans Brahmantyo dan Chandra Rahmatillah
Profil Narasumber Wawancara
1. Nama : Lans Brahmantyo Jenis Kelamin: Laki-laki E-mail : [email protected]
Handphone : +6281310205030
Bibliografi : - Principal dari Afterhours, yang terletak di Jl. Merpati Raya 45, Jakarta 12870.
- Praktisi Desainer Grafis di Jakarta selama lebih dari dua tahun.
2. Nama : Chandra Rahmatillah Jenis Kelamin: Laki-laki E-mail : [email protected]
Handphone : +628179892627
Bibliografi : - Creative Manager dari Afterhours, yang terletak di Jl.
Merpati Raya 45, Jakarta 12870.
- Praktisi Desainer Grafis di Jakarta selama lebih dari dua tahun.
Hasil Wawancara
4. Bagaimana perkembangan desain grafis di Indonesia, khususnya di Jakarta, sejak tahun 90-an hingga sekarang?
Jawaban:
L. Brahmantyo: - Semenjak tahun 1998, tepatnya setelah terjadinya “krisis moneter” di Indonesia, pengguna jasa desainer grafis di Jakarta, mulai “memperketat” budgeting mereka. Oleh karena itu, pengguna jasa desainer grafis di Afterhours cenderung memperbanyak kuantitas dan meminta kualitas material yang lebih bagus.
- Secara keseluruhan, perkembangan budaya bisnis industri desain grafis di Jakarta sejak tahun 90-an hingga sekarang, lebih mengarah kepada budaya “moderen” (komersil) yang sangat kompetitif.
Lampiran 7: Hasil Wawancara dengan Lans Brahmantyo dan Chandra Rahmatillah (sambungan)
- Beberapa klien di Jakarta, khususnya perusahaan skala nasional, dapat dikatakan bahwa mereka telah “sadar desain”
sepenuhnya. Hal ini disebabkan adanya sekelompok pioner klien yang menyadari bahwa desainnya berhasil mencapai tujuan dan harapan yang diinginkannya.
- Kemudian, sekelompok pioner ini menceritakan pengalaman keberhasilan mereka setelah menggunakan jasa desainer grafis tertentu, kepada rekan-rekan atau kerabat mereka via mouth-to-mouth. Oleh karena itu, keadaan bisnis jasa desain grafis di Jakarta, dapat bekembang seperti sekarang ini.
- Kecenderungan bahwa bisnis jasa desain grafis di Jakarta lebih berkembang dibandingkan di luar Jakarta, dilatar belakangi beberapa faktor. Salah satunya, berkaitan dengan perihal banyaknya perusahaan-perusahaan nasional yang Headquarter atau kantor pusat mereka berada di Jakarta, sehingga segala kegiatan promosi ataupun hal-hal vital lebih banyak dikerjakan oleh kantor pusat di Jakarta, serta dengan
“memaksimalkan pengadaan sumber daya”-nya dari Jakarta.
- Untuk klien dengan limited budget, biasanya tetap dilayani.
Akan tetapi, kami mengurangi beberapa item yang akan diproduksi. Meski demikian, kami tetap menjaga kualitasnya, khususnya yang berkaitan dengan ide pemecahan permasalahan.
- Meninjau perkembangan kualitas lulusan sekolah desain grafis saat ini, atau yang dikenal sebagai desainer fresh graduated, masih sedikit yang benar-benar “capable”. Pihak Afterhours, mengukur tingkat “capable” ini berdasarkan portfolio dari para fresh graduated, yang umumnya mereka sertakan ketika hendak melamar kerja. Berdasarkan portfolio ini, kami (Afterhours) dapat mengetahui dan menentukan fresh graduated mana yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan kami.
Lampiran 7: Hasil Wawancara dengan Lans Brahmantyo dan Chandra Rahmatillah (sambungan)
28. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, saat ini, dalam menjalani profesi sebagai desainer grafis, seringkali terjadi fenomena-fenomena seperti: free pitching, percetakan yang menggratiskan jasa pembuatan desain, pandangan-pandangan masyarakat bahwa desainer tidak lebih dari seorang “tukang setting” atau “visualizer”, dan fenomena-fenomena yang mengandung budaya kompetisi ataupun perlakuan pengguna yang “kurang sehat” lainnya.
Meenurut Anda, apakah penyebab dari semua hal itu? Mengapa Anda beranggapan demikian?Dan, apakah solusi yang tepat untuk mengatasinya?
Jawaban:
L. Brahmantyo - Menurut saya, semua hal itu disebabkan cukup banyak faktor.
dan Chandra R: - Pertama, kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah yang ada saat ini, tidak memihak bidang seni dan desain, terutama kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan.
- Kedua, asosiasi keprofesian desain grafis saat ini masih belum mampu memberikan jaminan ataupun solusi yang mampu mendukung agar profesi desainer grafis menjadi lebih dihargai di masyarakat kita.
- Ketiga, masyarakat sendiri, terutama klien, belum semuanya yang mampu memahami istilah “graphic design” beserta segenap fungsinya bagi secara baik, benar, dan tepat.
- Solusi untuk semua permasalahan yang terjadi beserta sebab-sebab terjadinya itu, kunci utama penyelesaiannya ada pada desainer. Maksudnya, bagaimana desainer mengambil sikap maupun tindakan-tindakan yang bersifat “preventif” dalam interaksinya dengan pengguna.
3. Ketika klien bersedia untuk menggunakan jasa seorang desainer, umumnya kedua belah pihak akan menandatangani sebuah surat kesepakatan yang dikenal sebagai Purchase Order (PO) atau juga dikenal sebagai kontrak kerja. Umumnya, hal-hal apa saja yang seharusnya ada dalam sebuah Purchase Order (PO) atau kontrak kesepakatan kerja tersebut? Menurut Anda, seberapa penting dan seberapa efektif Purchase Order itu? Mengapa Anda berpendapat demikian?
Jawaban:
L. Brahmantyo: - Hal-hal yang seharusnya ada dalam sebuah kontrak kerja, secara general berkaitan dengan waktu pengerjaan job, biaya
Lampiran 7: Hasil Wawancara dengan Lans Brahmantyo dan Chandra Rahmatillah (sambungan)
produksi, cancel fee, serta kesepakatan-kesepakatan lain yang berfungsi agar sebuah job dapat diselesaikan dengan baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak (klien dan desainer).
- Sudah tentu, hal-hal yang ada dalam kontrak kerja itu penting manfaatnya. Dan, jika dibuat dengan baik, kontrak ini cukup efektif dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan masalah yang tidak diharapkan terjadi dan bersifat merugikan, terutama bagi desainer atau perusahaan.
- Segala sesuatu yang ada dalam kontrak kerja, wajib untuk dibicarakan dengan baik dan jelas, kepada klien sebelum job dikerjakan. Biasanya, kami menjelaskan dan membicarakan hal ini melalui sebuah presentasi kepada klien.
- Dalam presentasi itu, biasanya kami berusaha mengetahui dan memahami objective kenapa klien hire jasa kami. Kami, juga biasa memposisikan diri kami sebagai tenaga profesional, sejak pertama kali kami bertemu klien, yaitu: sebelum klien menanda tangani kontrak kesepakatan kerja dengan kami.
- Terkadang, permasalahan yang seringkali terjadi pada kami berkaitan dengan apa yang ada dalam kontrak kerja adalah masalah dateline. Hal ini dapat terjadi, karena AE (Account Executive) tidak mengetahui tingkat “urgentcy” pekerjaan yang mana yang harus diselesaikan dahulu atau harus diselesaikan kemudian, ketika job di perusahaan kami ramai.
- Seorang AE perlu tahu tingkat “urgentcy” itu, sehingga AE dapat bernegosiasi dengan klien terlebih dahulu sebelum kontrak kerja ditanda tangani, dan bukan sekedar bertindak mengejar omzet.
4. Sejauh ini pakah Anda pernah dikomplain oleh klien? Jika pernah, dalam hal apakah komplain tersebut? Kompensasi bagaimana yang klien minta Berikan contoh kasusnya!
Lampiran 7: Hasil Wawancara dengan Lans Brahmantyo dan Chandra Rahmatillah (sambungan)
Jawaban:
L. Brahmantyo: - Selama ini komplain klien kami yang paling sering, berkaitan dengan masalah warna yang tidak cocok.
- Langkah kami menghadapinya adalah dengan senantiasa menjaga quality control (QC) sebaik-baiknya. Hal ini penting agar klien puas dan percaya bahwa pelayanan kami memuaskan. Dengan demikian, klien-klien yang puas itu, dapat menjadi pelanggan setia di perusahaan kami. Dan itu merupakan aset vital bagi kelangsungan perusahaan kami.
5. Tadi Anda sempat menyebutkan tentang presentasi. Menurut Anda, bagaimana teknik presentasi yang baik itu? Tolong berikan penjelasan melalui contoh kasus!
Jawaban:
Chandra R : - Misalnya, yang akan dibahas dalam presentasi itu berkaitan dengan warna. Warna sebaiknya tidak dijelaskan kepada klien secara subjektif.
- Maksdunya, alasan memilih warna tertentu, misal merah, bukan karena merah itu warna yang bagus; tetapi segala penjelasan selama presentasi berlangsung harus didasari riset, serta cara penyampaiannya harus seobjektif mungkin (menggunakan pendekatan-pendekatan rasional).
6. Lihatlah Iklan berikut! Bagaimana penilaian Anda pada iklan berikut?
(gambar: lihat lampiran 3, No. 10).
Perlu dipahami bahwa Veranza merupakan kafe dangdut, yang mana memposisikan desainer grafis, tidak lebih dari seorang “visualizer”.
Pengunjung Veranza, menurut hasil wawancara dengan pengelolah kafe dangdut ini, adalah masyarakat kelas menengah atas sejumlah 60% dari total pengunjung dan sisanya adalah masyarakat menengah ke bawah. Juga, segala konsep maupun pesan yang ingin disampaikan, sepenuhnya ditentukan oleh Veranza, serta Veranza cenderung mengutamakan faktor harga yang murah dan cepat selesai, bahkan jika bisa pembayarannya bisa dicicil.
Mengetahui semua hal ini, menurut Anda, apakah Veranza ini sebenarnya membutuhkan desainer?
Lampiran 7: Hasil Wawancara dengan Lans Brahmantyo dan Chandra Rahmatillah (sambungan)
Jawaban:
Chandra R : - Sehubungan Veranza merupakan kafe dangdut, hasil eksekusi iklan ini sesuai dengan target audience-nya dan target market-nya, yaitu masyarakat menegah ke bawah.
- Menurut saya, Veranza bukan kelas yang sebenarnya butuh desainer, sehubungan dengan penjelasan-penjelasan tadi.
- Veranza perlu menganalisa ulang: apakah benar bahwa kalangan menengah ke atas yang menjadi pengunjung mayoritas di sana. Jika memang benar, seharusnya iklan-iklannya menyesuaikan.
7. Merujuk pada artikel yang dimuat pada Surabaya Design Forum, diduga bahwa penggunaan software original merupakan jaminan yang cukup penting dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap desainer. Menurut Anda, apakah hal ini benar adanya? Mengapa Anda beranggapan demikian?
Jawaban:
L. Brahmantyo - Tidak.
dan Chandra R: - Karena, software maupun tools hanya sebagai tools.
- Yang dapat menjamin pengapresiasian masyarakat adalah result.
Lampiran 8: Hasil Wawancara dengan Yoshua Alpha Buana
Profil Narasumber Wawancara
Nama : Yoshua Alpha Buana Jenis Kelamin: Laki-laki
Handphone : +62811325134 E-mail : [email protected]
Bibliografi : - Ketua Umum ADGI (Indonesia Design Profesional Association) Surabaya saat ini
- Pemilik Arc/hitec Graphic, sebuah perusahaan graphic house di Surabaya, tepatnya di Palm Hill F1/30 – Citraraya.
- Praktisi Desainer Grafis di Surabaya selama lebih dari dua tahun.
Hasil Wawancara
5. Bagaimana perkembangan desain grafis di Indonesia, khususnya di Surabaya, sejak tahun 90-an hingga sekarang? Bagaimana perkembangan tingkat kebutuhan masyarakat Surabaya terhadap profesi desainer grafis saat ini?
Jawaban:
- Di Surabaya, kondisinya saat ini jauh lebih baik dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Saat ini dengan mengamati penerapan ilmu desain grafis seperti pada sign system di mall-mall Surabaya, ditinjau segi desainnya, lebih attractive dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Juga, dari pihak industri pengguna jasa desainer grafis, telah lebih terbuka wawasannya dan tidak lagi beranggapan bahwa desain itu tidak lebih dari semacam ”kosmetik”, khususnya mereka yang berusia 25-35 tahun.
- Persepsi masyarakat Surabaya terhadap desain grafis saat ini masih perlu diperbaiki. Masyarakat ini, terdiri dari kelompok bisnis yang menggunakan jasa desain grafis dan masyarakat awam/umum. Masyarakat Surabaya, khususnya dari pihak penggunanya, beberapa masih beranggapan bahwa biaya desain adalah bagian dari biaya produksi yang tidak perlu berdiri sendiri. Juga, beberapa masyarakat Surabaya beranggapan bahwa desainer adalah orang yang mahir mengoperasikan program-program grafis dan diposisikan tak lebih sebagai ”tukang setting”.
- Di Surabaya, masih terdapat beberapa desainer grafis yang belum menyadari fungsi, hak, dan tanggung jawab keprofesian mereka. Hal inilah yang perlu dibangun terlebih dahulu, karena kelompok bisnis yang menggunakan jasa desainer grafis tidak dapat langsung ”ditegur” oleh ADGI, sedangkan yang dapat memberikan ”teguran” itu adalah desainer grafis yang berhubungan dengan mereka. ADGI, juga tetap akan ”menegur” kelompok bisnis yang masih belum sadar itu, melalui seminar-seminar untuk kalangan bisnis.
Lampiran 8: Hasil Wawancara dengan Yoshua Alpha Buana (sambungan)
- Keadaan kelompok bisnis pengguna jasa desainer grafis di Jakarta, berbeda dengan keadaan kelompok bisnis pengguna jasa desainer grafis di Surabaya.
Di Jakarta, kelompok bisnis pengguna jasa desainer grafis sudah cukup baik menyadari fungsi, hak, dan tanggung jawab desainer. Juga, desainer grafis di Jakarta cukup banyak yang telah memiliki bargaining power yang cukup baik, dibandingkan desainer grafis di Surabaya. Hal ini dapat terjadi karena di Jakarta telah cukup banyak acara, seminar, ataupun workshop tentang desain grafis, yang ditujukan baik untuk desainer maupun kelompok bisnis.
Oleh karena itu, wawasan masyarakat Jakarta terhadap desain grafis jauh lebih berkembang dengan baik, dibandingkan di Surabaya.
- Di Surabaya, penyebab utama sehingga desain dipandang sebelah mata oleh penggunanya dan oleh masyarakat, adalah: berkaitan dengan banyaknya biro periklanan maupun industri desain grafis di Surabaya yang konsep bisnisnya lebih banyak yang difokuskan pada penyediaan dan penjualan media dengan harga semurah mungkin. Umumnya, mereka mengejar omzet dan memperoleh profit bagi perusahaannya melalui potongan harga dari pemilik media atau dari selisih nilai beli kavling tanah tempat billboard. Besar potongan harganya, rate-nya masih bernilai ratusan juta rupiah, sehingga desain dalam hal ini tidak ada artinya.
- Sebelum lima tahun lalu, di Surabaya, kelompok industri yang ”menguasai”
desain grafis dan periklanan adalah biro-biro periklanan seperti Match Ad, Warna-Warni Advertising, JJ Promotion; merupakan ”penguasa” industri periklanan, percetakan brosur, pembuatan stationary, hingga pembuatan logo, dan proyek-proyek industri desain grafis lainnya. Baru sekitar lima tahun lalu, berdasarkan sepengetahuan saya, di Surabaya baru mulai berdiri design house, mulai muncul istilah graphic designer; yang menawarkan jasa pembuatan karya-karya desain grafis dan dengan harga yang berbeda dengan
desain grafis dan periklanan adalah biro-biro periklanan seperti Match Ad, Warna-Warni Advertising, JJ Promotion; merupakan ”penguasa” industri periklanan, percetakan brosur, pembuatan stationary, hingga pembuatan logo, dan proyek-proyek industri desain grafis lainnya. Baru sekitar lima tahun lalu, berdasarkan sepengetahuan saya, di Surabaya baru mulai berdiri design house, mulai muncul istilah graphic designer; yang menawarkan jasa pembuatan karya-karya desain grafis dan dengan harga yang berbeda dengan