• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Narapidana

c. Penggolongan Narapidana

Dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan penggolongan atas dasar :

1) Umur.

2) Jenis kelamin.

3) Lama pidana yang dijatuhkan. 4) Jenis kejahatan.

5) Kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan (Pasal 12 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan).

Adapun penggolongan narapidana sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan memang perlu, baik dilihat dari segi keamanan dan pembinaan serta menjaga pengaruh negatif yang dapat berpengaruh terhadap narapidana lainnya. Berdasarkan golongan umur dimaksudkan penempatan narapidana yang bersangkutan hendaknya dikelompokkan yang usianya tidak jauh berbeda. Sedangkan penggolongan berdasarkan jenis kelamin dimaksudkan penetapan narapidana yang bersangkutan dipisahkan antara Lembaga Pemasyarakatan laki-laki dan Lembaga Pemasyarakatan perempuan.

Penggolongan berdasarkan lama pidana yang dijatuhan, yaitu :

1) Narapidana dengan pidana jangka pendek yaitu narapidana yang dipidana paling lama 1 tahun.

2) Narapidana dengan pidana jangka sedang yaitu narapidana yang dipidana paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun.

3) Narapidana dengan pidana jangka panjang yaitu narapidana yang dipidana di atas 5 tahun.

Dengan adanya pengelompokkan ini maka pembinaan yang dilakukan harus melihat dari segi lamanya pidana sehingga pantas pembina dapat memberikan program pembinaan yang tepat sesuai dengan lama pidana yang dijalani oleh narapidana tersebut (Rahmat Hi. Abdullah, 2015 : 53-54).

3. Tinjauan Umum tentang Pembinaan Narapidana a. Pengertian Pembinaan Narapidana

“Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani narapidana / anak didik pemasyarakatan” (Pasal 1 Angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan).

Program pembinaan dan pembimbingan meliputi kegiatan pembinaan dan pembimbingan kepribadian kemandirian yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :

1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2) Kesadaran berbangsa dan bernegara. 3) Intelektual.

4) Sikap dan perilaku.

5) Kesehatan jasmani dan rohani. 6) Kesadaran hukum.

7) Reintegrasi sehat dengan masyarakat. 8) Keterampilan kerja.

9) Latihan kerja dan produksi (Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan).

Pembinaan kepribadian dan keterampilan ini dilakukan secara berkelompok serta diberikan kepada narapidana setiap harinya dan petugas pembinanya didatangkan dari luar. Pembinaan kepribadian atau kerohanian ini berupa pembinaan keagamaan, sedangkan pembinaan keterampilan berupa menjahit, salon, menyulam, dan lain-lain. Dengan adanya pembinaan kepribadian dan keterampilan ini diharapkan narapidana dapat merubah sikapnya ke arah yang lebih baik dan positif serta dapat memiliki keterampilan untuk menjadi bekal bagi narapidana kembali ke masyarakat (Deliani, 2007 : 104).

Jika keterampilan yang diberikan kepada narapidana sesuai dengan bakat narapidana, maka besar kemungkinan narapidana akan menekuninya sehingga jenis keterampilan tersebut akan mudah diterima. Dengan demikian pembinaan keterampilan yang diterima dapat dijadikan bekal hidup setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan.

Untuk mendukung program pembinaan tersebut, disediakan fasilitas-fasilitas pendukung, seperti :

1) Bidang kerohanian

Adanya tenaga-tenaga yang bersifat sosial keagamaan atau dengan kata lain Lembaga Pemasyarakatan mengadakan kerja sama dengan pihak luar dalam hal melakukan pembinaan spiritual narapidana tersebut. Selain itu fasilitas pendukung seperti mushola, aula sebagai tempat kebaktian dan vihara kecil juga disediakan, serta diatur jadwal-jadwal kegiatan spiritual yang diadakan setiap harinya.

2) Bidang jasmani

Disediakan lapangan olah raga, peralatan-peralatan olah raga, tape dan kaset untuk senam.

3) Bidang rekreasi dan hiburan

Disediakan ruangan khusus untuk menonton tv, membaca, juga tersedia alat-alat musik seperti gitar dan keyboard.

4) Bidang keterampilan dan pendidikan umum

Disediakan lahan untuk berkebun walaupun tidak luas, ruang untuk menjahit dan peralatan menjahit serta perlengkapannya, bengkel kerja dan ruangan khusus untuk melaksanakan program paket A yang disediakan untuk mendukung program pembinaan dan pendidikan.

5) Bidang kesehatan

Tersedianya poliklinik, dokter umum, dibantu oleh dua orang perawat, di lengkapi oleh peralatan medis beserta obat-obatan (Deliani, 2007 : 105).

b. Tujuan Pembinaan Narapidana

Perkembangan tujuan pembinaan bagi narapidana berkaitan erat dengan tujuan pemidanaan. Pembinaan narapidana yang sekarang dilakukan pada awalnya berangkat dari kenyataan bahwa tujuan pemidanaan tidak sesuai lagi dengan perkembangan nilai dan hakekat hidup yang tumbuh di masyarakat. Membiarkan seseorang dipidana,

menjalani pidana tanpa memberikan pembinaan tidak akan merubah narapidana.

Tujuan pembinaan adalah kesadaran. Untuk memperoleh kesadaran dalam diri seseorang maka seseorang harus mengenal diri sendiri. Diri sendiri yang akan mampu merubah seseorang untuk menjadi lebih baik, lebih maju, lebih positif. Tanpa mengenal diri sendiri maka akan terlalu sulit seseorang akan merubah diri sendiri. Cara mencapai kesadaran sebagai tujuan pembinaan dapat dilakukan dengan berbagai tahap, yaitu :

1) Mengenal diri sendiri. Dalam tahap mengenal diri sendiri narapidana dibawa dalam suasana dan situasi yang dapat merenungkan, menggali dan mengenali diri sendiri.

2) Memiliki kesadaran beragama, kesadaran terhadap kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sadar sebagai makhluk Tuhan, sebagai individu yang mempunyai keterbatasan dan sebagai manusia yang mampu menentukan masa depannya sendiri.

3) Mengenal potensi diri. Narapidana diajak mampu mengenal potensi diri sendiri, mampu mengembangkan potensi diri, mengembangkan hal-hal yang positif dalam diri sendiri. 4) Mengenal cara memotivasi adalah mampu memotivasi diri

sendiri ke arah yang positif, ke arah perubahan yang semakin baik.

5) Mampu memotivasi orang lain. Narapidana yang telah mengenal diri sendiri telah mampu memotivasi diri sendiri, maka diharapkan mampu memotivasi orang lain, kelompoknya, keluarga dan masyarakat disekitarnya.

6) Mampu memiliki kesadaran yang tinggi baik untuk diri sendiri, keluarga, kelompoknya, masyarakat disekitarnya, agama, bangsa dan negaranya.

7) Mampu berpikir dan bertindak. Narapidana diharapkan mampu berpikir secara positif, mampu membuat keputusan untuk diri sendiri dan mampu bertindak berdasarkan keputusannya sendiri.

8) Memiliki kepercayaan diri yang kuat. Narapidana yang telah mengenal diri sendiri diharapkan memiliki kepercayaan diri yang kuat.

9) Memiliki tanggung jawab. Narapidana diharapkan mampu bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya. Tanggung jawab untuk tetap konsekuen terhadap langkah yang telah diambil, mampu menerima segala risiko akibat dari tindakannya.

10)Menjadi pribadi yang utuh. Diharapkan narapidana akan menjadi manusia dengan kepribadian yang utuh. Mampu menghadapi segala tantangan, hambatan, halangan, rintangan

dan masalah apapun dalam setiap langkah kehidupannya (C.I. Harsono, 1995 : 47-50).

Sistem pembinaan pemasyarakatan di Indonesia dilaksanakan berdasarkan asas-asas, yaitu :

1) Pengayoman

Perlakuan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan dalam rangka melindungi masyarakat dari kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh Warga Binaan Pemasyarakatan, juga memberikan bekal hidup kepada Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi warga yang berguna di dalam masyarakat.

2) Persamaan perlakuan dan pelayanan

Memberikan perlakuan dan pelayanan yang sama kepada Warga Binaan Pemasyarakatan tanpa membeda-bedakan orang.

3) Pendidikan dan bimbingan

Bahwa penyelenggaraan pendidikan dan bimbingan dilaksanakan berdasarkan Pancasila antara lain penanaman jiwa kekeluargaan, keterampilan, pendidikan kerohanian dan kesempatan untuk menunaikan ibadah.

4) Penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia

Bahwa sebagai orang yang tersesat, Warga Binaan Pemasyarakatan harus tetap diperlakukan sebagai manusia. 5) Kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan

Warga Binaan Pemasyarakatan harus berada dalam Lembaga Pemasyarakatan untuk jangka waktu tertentu sehingga negara mempunyai kesempatan yang penuh untuk memperbaikinya. Selama di Lembaga Pemasyarakatan, Warga Binaan Pemasyarakatan tetap memperoleh hak-haknya yang lain seperti layaknya manusia, dengan kata lain hak perdatanya tetap dilindungi seperti hak memperoleh perawatan kesehatan, makan, minum, pakaian, tempat tidur, latihan keterampilan, olah raga atau rekreasi.

6) Terjaminnya hak-hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu

Walaupun Warga Binaan Pemasyarakatan berada di Lembaga Pemasyarakatan, tetapi harus tetap didekatkan dan dikenalkan dengan masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat, antara lain berhubungan dengan masyarakat dalam bentuk kunjungan, hiburan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan dari anggota masyarakat yang bebas dan kesempatan berkumpul bersama sahabat dan keluarga seperti program cuti mengunjungi keluarga (Penjelasan Pasal 5

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan).

c. Tahap Pembinaan Narapidana

Pembinaan narapidana berdasarkan sistem pemasyarakatan, tanpa petugas dan peran serta masyarakat dalam pembinaan maka tidak akan tercapai tujuan dari sistem pemasyarakatan tersebut. Bagaimanapun baiknya kualitas program-program pembinaan yang diterapkan bisa difungsikan dengan baik dengan melalui tahap-tahap pembinaan.

Tahap-tahap pembinaan diatur di dalam Pasal 7, Pasal 9 dan Pasal 10, Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan, yaitu :

Pasal 7

1) Pembinaan narapidana dilaksanakan melalui beberapa tahap pembinaan.

2) Tahap pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) terdiri atas tiga tahap, yaitu :

a) Tahap awal. b) Tahap lanjutan. c) Tahap akhir.

3) Pengalihan pembinaan dari satu tahap ke tahap lain ditetapkan melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan berdasarkan data dari Pembina Pemasyarakatan, Pengaman Pemasyarakatan, Pembimbing Kemasyarakatan dan Wali Narapidana.

4) Data sebagaimana dimaksud dalam Ayat (3) merupakan hasil pengamatan, penilaian dan laporan terhadap pelaksanaan pembinaan.

5) Ketentuan mengenai pengamatan, penilaian dan pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Pasal 9

1) Pembinaan tahap awal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Ayat (2) Huruf (a) bagi narapidana dimulai sejak yang bersangkutan berstatus sebagai narapidana sampai dengan 1/3 (satu per tiga) dari masa pidana.

2) Pembinaan tahap lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Ayat (2) Huruf (b) meliputi :

a) Tahap lanjutan pertama, sejak berakhirnya pembinaan tahap awal sampai dengan 1/2 (satu per dua) dari masa pidana.

b) Tahap lanjutan kedua, sejak berakhirnya pembinaan tahap lanjutan pertama sampai dengan 2/3 (dua per tiga) masa pidana.

3) Pembinaan tahap akhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Ayat (2) Huruf (c) dilaksanakan sejak berakhirnya tahap lanjutan sampai dengan berakhirnya masa pidana dari narapidana yang bersangkutan.

Pasal 10

1) Pembinaan tahap awal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) meliputi :

a) Masa pengamatan, pengenalan dan penelitian lingkungan paling lama 1 bulan.

b) Perencanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian.

c) Pelaksanaan program pembinaan kepribadian dan kemandirian.

d) Penilaian pelaksanaan program pembinaan tahap awal. 2) Pembinaan tahap lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal

9 Ayat (2) meliputi :

a) Perencanaan program pembinaan lanjutan. b) Pelaksanaan program pembinaan lanjutan.

c) Penilaian pelaksanaan program pembinaan lanjutan. d) Perencanaan dan pelaksanaan program asimilasi.

3) Pembinaan tahap akhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (3) meliputi :

a) Perencanaan program integrasi. b) Pelaksanaan program integrasi.

c) Pengakhiran pelaksanaan pembinaan tahap akhir.

4) Pertahapan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), (2) dan (3) ditetapkan melalui Tim Pengamat Pemasyarakatan.

5) Dalam sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan, Kepala Lembaga Pemasyarakatan wajib memperhatikan hasil Penelitian Kemasyarakatan.

6) Ketentuan mengenai bentuk dan jenis kegiatan program pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), (2) dan (3) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Dari penjelasan Pasal-Pasal diatas dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap pembinaan narapidana menurut Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan dibagi dalam tiga tahap, yaitu :

1) Pembinaan tahap awal (Pasal 9 Ayat (1))

Pembinaan pada tahap ini dilakukan bagi narapidana dimulai sejak yang bersangkutan berstatus sebagai narapidana sampai dengan 1/3 (satu per tiga) dari masa pidana.

2) Pembinaan tahap lanjutan

a) Pembinaan tahap lanjutan pertama (Pasal 9 Ayat (2) Huruf (a)) Pembinaan pada tahap ini dilakukan bagi narapidana dimulai sejak berakhirnya pembinaan tahap awal atau 1/3 (satu per tiga) dari masa pidana sampai dengan 1/2 (satu per dua) dari masa pidana.

b) Pembinaan tahap lanjutan kedua (Pasal 9 Ayat (2) Huruf (b)) Pembinaan pada tahap ini dilakukan bagi narapidana dimulai sejak berakhirnya pembinaan tahap lanjutan pertama atau 1/2 (satu per dua) dari masa pidana sampai dengan 2/3 (dua per tiga) masa pidana.

3) Pembinaan tahap akhir (Pasal 9 Ayat (3))

Pembinaan pada tahap ini dilaksanakan sejak berakhirnya tahap lanjutan atau 2/3 (dua per tiga) masa pidana sampai dengan berakhirnya masa pidana dari narapidana yang bersangkutan.

d. Macam Pembinaan Narapidana

Bentuk pembinaan yang diberikan kepada narapidana saat ini, sebagai berikut :

1) Pembinaan Mental

Pada umumnya orang menjadi jahat karena mentalnya sudah turun sehingga untuk memulihkan kembali mental seseorang seperti sedia kala maka pembinaan mental harus benar-benar diberikan sesuai dengan porsinya.

2) Pembinaan Sosial

Pembinaan sosial ini diberikan kepada narapidana dalam kaitannya narapidana yang sudah sempat disingkirkan dari kelompoknya sehingga diupayakan bagaimana memulihkan kembali kesatuan hubungan antara narapidana dengan masyarakat disekitarnya.

3) Pembinaan Keterampilan

Dalam pembinaan ini diupayakan untuk memberikan berbagai bentuk pengetahuan mengenai keterampilan seperti menjahit, pertukangan, bercocok tanam, dan lain-lain (Ratna Ashari Ningrum, 2014 : 8).

e. Prinsip Dasar Pembinaan Narapidana

Ada empat komponen penting dalam pembinaan narapidana, yaitu diri sendiri, keluarga, masyarakat, petugas pemerintah dan kelompok masyarakat. Keempat komponen tersebut harus tahu akan tujuan pembinaan narapidana, perkembangan pembinaan narapidana, kesulitan yang dihadapi dan berbagai program serta pemecahan masalah. Dalam membina narapidana, keempat komponen tersebut harus bekerja sama dan saling memberi informasi, terjadi komunikasi timbal balik sehingga pembinaan narapidana dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Prinsip-prinsip dasar pembinaan narapidana secara ringkas, sebagai berikut :

1) Diri Sendiri

Proses pembinaan narapidana harus berangkat dari diri narapidana sendiri. Narapidana harus mau melakukan proses pembinaan bagi diri sendiri, pembinaan bukan muncul dari orang lain. Pengertian ini harus ditanamkan kepada setiap narapidana, jika seorang narapidana ingin merubah diri sendiri ke arah perubahan yang lebih baik, yang lebih positif.

Seseorang yang ingin merubah diri sendiri harus memiliki beberapa persyaratan, antara lain :

a) Kemauan.

b) Kepercayaan diri.

c) Berani mengambil keputusan. d) Berani menanggung risiko.

e) Termotivasi untuk terus menerus merubah diri. 2) Keluarga

Keluarga harus ikut aktif dalam membina narapidana karena keluarga adalah orang yang paling dekat dengan narapidana. Dalam pembinaan narapidana, keluarga diharapkan tetap berperan secara aktif dalam membina anggota keluarga yang menjadi narapidana. Peran aktif tersebut didasarkan atas berbagai pertimbangan, yaitu :

a) Narapidana adalah bagian dari keluarga.

b) Perlu ada kerja sama antara keluarga dan Lembaga Pemasyarakatan dalam membina narapidana.

c) Perlu sumbang saran, komunikasi timbal balik dari keluarga dan pihak Lembaga Pemasyarakatan dalam membina narapidana.

d) Perlu pembinaan yang terus menerus oleh pihak keluarga terhadap anggota keluarga yang menjadi narapidana. 3) Masyarakat

Selain narapidana sendiri yang mempunyai kemauan untuk membina diri sendiri, keluarga yang mempunyai hasrat dan tahu tentang pentingnya membina anggota keluarga yang menjadi narapidana, maka masyarakat dimana narapidana tinggal sebelum menjalani pidana mempunyai peran dalam membina narapidana.

Peran serta masyarakat dalam hal ini para pejabat masyarakat tingkat pedesaan, kecamatan dan para pemuka masyarakat, pemuka agama dimana narapidana tinggal sebelum menjalani pidana diharapkan mampu memberikan pembinaan anggota masyarakatnya yang menjadi narapidana. 4) Petugas Pemerintah dan Kelompok Masyarakat

Peran serta petugas pemerintah dan kelompok masyarakat sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan narapidana karena secara aktif petugas pemerintah dan kelompok masyarakat sudah melembaga dalam ikut serta membina narapidana.

Prinsip-prinsip dasar dalam pembinaan narapidana, harus dipahami juga bahwa ada komponen-komponen dalam membina narapidana, yaitu :

a) Petugas kepolisian. b) Penasihat hukum.

c) Petugas Lembaga Pemasyarakatan.

d) Kelompok masyarakat, pemuka agama, pemuka masyarakat, pekerja sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat.

e) Hakim pengawas dan pengamat.

f) Petugas Balai Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak (C.I. Harsono, 1995 : 51-71).

4. Tinjauan Umum tentang Pengulangan Tindak Pidana (Recidive) a. Pengertian Pengulangan Tindak Pidana

Ada dua arti pengulangan, yang pertama arti menurut masyarakat dan yang kedua dalam arti hukum pidana. Menurut arti yang pertama, masyarakat menganggap bahwa setiap orang yang setelah dipidana, menjalaninya kemudian melakukan tindak pidana lagi, ada pengulangan tanpa memperhatikan syarat-syarat lainnya. Tetapi pengulangan dalam arti hukum pidana yang merupakan dasar pemberat pidana ini tidaklah cukup hanya

melihat berulangnya melakukan tindak pidana tetapi dikaitkan pada syarat-syarat tertentu yang ditetapkan Undang-Undang (Adami Chazawi, 2002 : 80).

Recidive atau pengulangan tindak pidana terjadi dalam hal seseorang yang melakukan suatu tindak pidana telah dijatuhi pidana dengan suatu putusan hakim yang tetap (in krachtvan gewijsde), kemudian melakukan suatu tindakan pidana lagi. Jadi dalam recidive, sama halnya dengan concurcus realis, seseorang melakukan lebih dari satu tindak pidana. Perbedaannya ialah bahwa pada recidive sudah ada putusan hakim yang berkekuatan tetap berupa pemidanaan terhadap tindak pidana yang dilakukan terdahulu atau sebelumnya. Recidive merupakan alasan untuk memperkuat pemidanaan (Eva Achjani Zulfa, 2013 : 129).

Recidivism is a return to criminal behavior after release and the effectiveness of corrections is usually measured by rates of recidivism. Recognized factors impact recidivism rates, among them are the socio economic status, effectiveness of post release supervision (for parolees), length of time incarcerated, severity and seriousness of crime committed and educational level of achievement of each individual (John H. Esperian, 2010 : 320). Kutipan diatas mengandung pengertian bahwa recidive yaitu diulangnya kembali perilaku kriminal setelah dilepaskan dan efektivitas pembinaan biasanya diukur dengan tingkat recidive. Faktor yang diketahui mempengaruhi tingkat recidive, di antaranya adalah status sosial ekonomi, efektivitas pengawasan pasca pelepasan (untuk pembebasan bersyarat), lamanya waktu dipenjara, tingkat keparahan dan keseriusan kejahatan yang dilakukan dan tingkat pencapaian pendidikan masing-masing individu.

b. Sistem Pemberatan Pidana

Ada dua sistem pemberatan pidana berdasar adanya recidive atau pengulangan tindak pidana, yaitu :

1) Recidive Umum

Sistem ini, setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dapat dilakukan kapan saja, sehingga merupakan alasan untuk pemberat pidana. Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana yang dilakukan maupun tenggang waktu pengulangannya. Dengan tidak ditentukan tenggang waktu

pengulangannya maka dalam sistem ini tidak ada daluarsa recidive.

2) Recidive Khusus

Sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. Pemberatan pidana hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu tertentu pula (Eva Achjani Zulfa, 2013 : 129).

c. Pengulangan Tindak Pidana Menurut KUHP

Pengulangan tindak pidana dalam KUHP tidak diatur secara umum dalam Aturan Umum Buku I, tetapi diatur secara khusus untuk sekelompok tindak pidana tertentu, baik yang berupa kejahatan di dalam Buku II maupun yang berupa pelanggaran di dalam Buku III. Di samping itu KUHP juga mensyaratkan tenggang waktu pengulangan tertentu. Dengan demikian KUHP menganut sistem recidive khusus artinya pemberatan pidana hanya dikenakan pada pengulangan jenis-jenis tindak pidana (kejahatan / pelanggaran) tertentu saja dan yang dilakukan dalam tenggang waktu tertentu.

Adapun syarat-syarat recidive untuk tiap-tiap tindak pidana, sebagai berikut :

1) Recidive Kejahatan

Terbagi dalam dua jenis menurut KUHP, yaitu : a) Recidive Sejenis

Recidive terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yang sejenis diatur secara tersebar dalam Pasal-Pasal tertentu Buku II KUHP, yaitu :

(1) Pasal 137 Ayat (2) tentang penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden yang berhubungan dengan penerbitan dan percetakan.

(2) Pasal 144 Ayat (2) tentang penghinaan kepada Kepala Negara sahabat yang berhubungan dengan penerbitan dan percetakan.

(3) Pasal 155 Ayat (2) tentang penghinaan terhadap Pemerintah Indonesia yang berhubungan dengan penerbitan dan percetakan.

(4) Pasal 157 Ayat (2) tentang penghinaan terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia yang berhubungan dengan penerbitan dan percetakan. (5) Pasal 161 Ayat (2) tentang perbuatan menghasut

supaya melakukan perbuatan pidana, menentang penguasa umum dengan kekerasan yang berhubungan dengan penerbitan dan percetakan. (6) Pasal 163 Ayat (2) tentang penawaran / sarana

melakukan tindak-tindak pidana yang berhubungan dengan penerbitan dan percetakan. (7) Pasal 208 Ayat (2) tentang penghinaan terhadap

penguasa atau badan umum.

(8) Pasal 216 Ayat (3) tentang penyalahgunaan jabatan atau wewenang atau menghalangi pejabat untuk melaksanakan tugas guna menjalankan ketentuan-ketentuan perundang-undangan.

(9) Pasal 321 Ayat (2) tentang penghinaan yang dilakukan pada saat menjalankan mata pencaharian.

(10)Pasal 393 Ayat (2) tentang menjual, menawarkan atau mengedarkan dan sebagainya barang-barang yang bermerk palsu.

(11)Pasal 303 bis Ayat (2) tentang perjudian. Adapun syarat-syarat recidive sejenis, yaitu :

(1) Kejahatan yang diulangi harus sama atau sejenis dengan kejahatan yang terdahulu.

(2) Antara kejahatan yang terdahulu dan kejahatan yang diulangi harus sudah ada keputusan hakim berupa pemidanaan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

(3) Pelaku melakukan kejahatan yang bersangutan pada waktu menjalankan pencahariannya (khusus untuk Pasal 216, Pasal 303 bis dan Pasal 393 syarat ini tidak ada).

(4) Pengulangan dilakukan dalam tenggang waktu tertentu yang disebut dalam Pasal-Pasal yang bersangkutan, yaitu :

(a) Pengulangan dilakukan dalam tenggang waktu 2 tahun sejak adanya keputusan hakim yang tetap (untuk delik-delik dalam Pasal 137, Pasal 144, Pasal 208, Pasal 216, Pasal 303 bis dan Pasal 321).

(b) Pengulangan dilakukan dalam tenggang waktu 5 tahun sejak adanya keputusan hakim yang tetap (untuk delik-delik dalam Pasal

155, Pasal 167, Pasal 161, Pasal 163 dan Pasal 393) (Eva Achjani Zulfa, 2013 : 130). b) Recidive Kelompok Jenis

Recidive terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yang masuk dalam satu kelompok jenis diatur dalam Pasal-Pasal, yaitu:

(1) Pasal 486

Umumnya mengenai kejahatan terhadap harta benda dan pemalsuan, seperti :

(a) Pemalsuan mata uang (Pasal 244, Pasal 245). (b) Pemalsuan surat (Pasal 263, Pasal 264). (c) Pencurian (Pasal 362, Pasal 363, Pasal 365). (d) Pemerasan (Pasal 368).

(e) Pengancaman (Pasal 369).

(f) Penggelapan (Pasal 372, Pasal 374, Pasal 375).

(g) Penipuan (Pasal 378).

(h) Kejahatan jabatan (Pasal 415, Pasal 417, Pasal 425, Pasal 432).

(i) Penadahan (Pasal 480, Pasal 481). (2) Pasal 487

Umumnya mengenai kejahatan terhadap orang, seperti :

(a) Penyerangan dan makar terhadap Kepala Negara (Pasal 131, Pasal 140, Pasal 141). (b) Pembunuhan biasa dan berencana (Pasal 338,

Pasal 339, Pasal 340).

(c) Pembunuhan anak (Pasal 341, Pasal 342). (d) Euthanasia (Pasal 344).

(e) Abortus (Pasal 347, Pasal 348).

(f) Penganiayaan biasa / berat dan penganiayaan berencana (Pasal 351, Pasal 353, Pasal 354, Pasal 355).

(g) Kejahatan pelayaran yang berupa pembajakan (Pasal 438-443).

(h) Insubordinasi (Pasal 459, Pasal 460). (3) Pasal 488

Umumnya mengenai kejahatan penghinaan dan yang berhubungan dengan penerbitan / percetakan, seperti :

(a) Penghinaan terhadap Presiden / Wakil Presiden (Pasal 134-138).

(b) Penghinaan terhadap Kepala Negara sahabat (Pasal 142-144).

(c) Penghinaan terhadap penguasa / badan umum (Pasal 207, Pasal 208).

(d) Penghinaan terhadap orang pada umumnya (Pasal 310-321).

(e) Kejahatan penerbitan / percetakan (Pasal 483, Pasal 484) (Eva Achjani Zulfa, 2013 : 132).

Dengan adanya kelompok jenis-jenis kejahatan yang sudah dikemukakan di atas maka seseorang dapat dikatakan sebagai recidive apabila masing-masing tindak pidana yang dilakukan termasuk dalam satu kelompok jenis yang sama, misalnya setelah melakukan pencurian (Pasal 362) kemudian melakukan penggelapan (Pasal 372) maka dapat dikatakan sebagai recidive karena tindak pidana tersebut masih termasuk dalam satu kelompok jenis yaitu kejahatan terhadap harta benda dan pemalsuan dalam Pasal 486. 2) Recidive Pelanggaran

Dokumen terkait