BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN HASIL
C. Hasil Analisis Data
1. Narasi Subyek
a. Subyek I
Dalam menemui Dukun, subyek memiliki intensitas yang
cukup sering. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan subyek dimana
subyek rutin dalam menemui Dukun, yaitu hampir setiap hari.
Ya… kadang–kadang, yaa.. dua bulan sekali. Dulu, dulu waktu saya kena masalah tuh ya setiap hari, kadang-kadang khan mencari ketenangan gitu. (1-3)
Subyek mengenal Dukun yang ditemuinya dengan cara
dikenalkan oleh saudara dari subyek yang sebelumnya juga sudah
pernah menemui Dukun tersebut. Subyek tidak mencari dukun itu
sendiri, malainkan subyek diajak dan dikenalkan kepada Dukun
tersebut oleh saudaranya.
Ya dari saudara, dikenalin sama saudara. Ndak, ndak mencari. Diajak. (4-5)
Tujuan subyek menemui Dukun adalah untuk mengatasi
permasalahan yang sedang dihadapi oleh subyek. Permasalahan yang
dihadapi oleh subyek adalah semenjak ditinggal mati oleh suaminya
subyek merasa dirinya kesepian, dan tidak memiliki gairah untuk
hidup lagi.
Yaa.. waktu itu khan suami habis meninggal, trus sedih gitu lho, wis pokoke mbebeg gitu lho, wis anu masalahnya itu judeg gitu lho, trus udah nggak ada gairah untuk hidup gitu lho, wis rasane itu wis kepingin nyusul gitu lho. Lha terus itu ada adik saya yang sudah jadi muridnya sana, aku diajak kesana trus ya di.. diomong-omongi gitu kok ning ati kok penak gitu lho.
Yaa… kesana sendiri itu ya sudah seperti saudara sendiri malahan he em gitu. lho..
Tujuannya ya cuma mencari ketenangan. (6-14)
Dalam tingkat kepercayaannya terhadap Dukun, subyek
sebenarnya kurang begitu percaya terhadap Dukun tersebut. Hal
tersebut dapat dilihat dari cara subyek menjalankan syarat – syarat atau
wejangan- wejangan yang diberikan Dukun tersebut kepada subyek,
subyek hanya menjalankannya jika syarat tersebut tidak terlalu berat.
Subyek juga menyatakan dirinya menemui Dukun, tujuan sebenarnya
hanya untuk mencari teman saja.
Aku sebetulnya nggak begitu percaya ya.. kayak gitu itu, ya mung.. kayak golek konco ya kalo saya ya..
Ya.. wejangan-wejangan itu kalo sing enteng-enteng ya tak jalani, kalo sing berat ya enggak.. hehe.. (26-29)
Alasan subyek memilih menemui Dukun adalah dikarenakan
subyek terbawa oleh saudaranya yang mengajak subyek untuk
menemui dukun tersebut. Subyek tidak mencari alternatif yang lain
karena subyek merasa dirinya kurang pergaulan dan sedikit teman,
sehingga subyek tidak memiliki alternatif yang lainnya. Subyek juga
mengatakan bahwa seyelah menemui Dukun tersebut subyek merasa
seperti ada ketergantungan untuk selalu menemui Dukun tersebut.
Ya… kedukun itu terbawa saudara itu lho, trus saat itu khan aku nggak punya temen,
temen nggak ada, nggak banyak bergaul gitu lho. Kurang pergaulan mungkin ya..
Nggak, belum sampai kesana ya. Tapi biasanya kalo gitu itu trus kayak ketergantungan.
Ya ketergantungan kalo nggak kesana kayak pingin kesana hehe… kalau ada masalah kalau nggak bilang kesana itu kok kayak belum plong gitu lho. Kalau udah menyampaikan ya udah, trus ada solusinya harus begini-begini gitu lho. (16-25)
Pada saat menemui Dukun atau pada saat subyek berhadapan
dengan Dukun tersebut, subyek merasa dirinya tenang dan nyaman,
seolah – olah ada yang melindungi diri subyek.
Ayem ya.. ya ayem, kayaknya kayak ada yang ngelindungi gitu lho.. khan kalo ada masalah, tanya kesitu.. trus dikasih solusi tho.. ya trus kita tenang gitu.. ya cuma itu.. (37-39)
Setelah menemui Dukun, subyek merasakan adanya perubahan
yang terjadi dalam diri subyek. Perubahan yang terjadi yang dirasakan
dalam diri subyek yaitu antara lain subyek menjadi lebih tenang, sabar,
dan menjadi lebih percaya diri.
Ada.. ya jadi tenang, sabar,ya trus jadi percaya diri gitu lho.. kalo dulu enggak, tidur aja susah..gak isa tidur..
Pengalaman apa ya.. ya anu.. ya kalo setiap kesana itu kok ayem gitu lho ya cuma itu.. ya kalo setiap dibilangin kamu harus begini, tak tindakke koy.. kok ya betul gitu lho..
kurang percaya diri, labil banget gitu.. terus jadi tenang, semeleh. (40-45)
b. Subyek 2
Dari pernyataan subyek diketahui bahwa subyek memiliki
intensitas yang tdak terlalu sering menemui Dukun, subyek
mengatakan bahwa subyek menemui Dukun hanya pada saat subyrk
memiliki masalah dan subyek meminta bantuan Dukun tersebut untuk
membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh subyek.
Selain unutk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, terkadang
subyek menemui dukun untuk menambah wawasan bagi diri subyek.
Kalau saya pergi ke orang pintar pastinya kalau saya mempunyai masalah, atau kesana dalam rangka sharing, mencari wawasan gitu.
Oh tidak rutin. Pada saat tertentu, atau dalam kondisi yang darurat.
Darurat itu ya seumpama sekarang..ee.. seumpama kita percaya ee.. ada sesuatu yang bisa membantu kita misalnya kita berobat, itu.. itu sebenernya kita tahu paling afdol itu kalo kita kedokter, jelas.. tapi khan kadang-kadang kita ada rasa percaya kepada dukun atau orang pinter. (4-11)
Dari cara subyek mengenal Dukun yang ditemui, subyek
mengatakan bahwa dirinya diberi tahu oleh orang lain mengenai
Dukun tersebut, atau ada yang mengenalkan subyek dengan Dukun
yang ditemui tersebut. Subyek menambahkan bahwa dirinya tidak
pernah berusaha untuk mencari Dukun yang hendak ditemui tersebut
sendiri, sebab biasanya subyek diajak oleh orang lain yang mengenal
Dukun tersebut sebelumnya.
Ya saya kalo ketempat orang pinter atau dukun itu biasanya ada yang ngasih tahu, ada yang mengenalkan, atau ya ada yang membawa kesana.
oo.. tidak pernah..tidak pernah.. Ada perantara lah, kira-kira begitu.
Tidak,,tidak.. jadi seumpama, oh disana ada orang pinter nambani, nah kita baru kesana, atau saya kalo kesana saya memang dikenalkan..gitu... (19-24)
makanya saya tadi biasanya saya dikenalken orang, atau saya dibawa kesana orang, gitu.. ada perantara lah pokoknya, ada orang ketiga, ada orang kedua, ketiga. (41-43)
tujuan subyek menemui dukun adalah untuk mensharingkan
masalah yang sedang dihadapi oleh subyek, masalah tersebut adalah
berupa masalah pribadi subyek yang dirasakan oleh subyek untuk diri
subyek sendiri, dan juga masalah keluarga dimana subyek
mengingnkan keluarganya dapat bahagia dan sejahtera. Disamping
untuk mensaringkan masalah yang sedang dihadapi, tujuan subyek
menemui Dukun adalah untuk menambah pengetahuan dimana dalam
atau indra ke enam atau Dukun tersebut dapat melihat sesuatu dimana
orang lain tidak dapat melihatnya.
Kalau saya pergi ke orang pintar pastinya kalau saya mempunyai masalah, atau kesana dalam rangka sharing, mencari wawasan gitu. (5-6)
Oh mboten-mboten, jadi hingga saat ini saya ya kalo ke orang pinter itu istilahnya hanya sekedar sharing, sharing atau mencari istilahnya pengetahuan.
Pengetahuan dalam hal yang saya mempercayai dia mempunyai kelebihan atau indra keenam dalam artian saya tidak bisa melihat sesuatu tetapi dia bisa melihat sesuatu, saya merasa minta bantuan karena yang saya rasakan tidak wujud tapi rasa, tapi dia bisa melihat. (12-18)
Iya kebutuhan.
Ya kadang-kadang menyangkut masalah pribadi, kadang-kadang ada yang menyangkut masalah keluarga, ya.. jadi itu tidak.. ee.. ya relatif lah..
Kalo pribadi yang masalah pribadi saya.. jadi yang apa yang saya rasakan yang untuk diri saya sendiri, orang lain tidak perlu tahu gitu lho.. Tapi ada yang sifatnya umum atau yang sifatnya keluarga, jadi bagaimana kita berusaha untuk mendapatkan ee. Ketenangan dalam keluarga itu.. bagaimana itu menjadi sejahtera. (75-83)
Dari tingkat kepercayaan subyek terhadap Dukun yang ditemui,
subyek mengatakan bahwa subyek percaya kepada Dukun tersebut jika
pernyataan yang diberikan Subyek tersebut pas atau sesuai dengan
yang dialami atau dirasakan oleh subyek. Disamping itu subyek
mengatakan bahwa subyek percaya terhadap Dukun tersebut
dikarenakan adanya sugesti dalam diri subyek dimana subyek merasa
yakin bahwa Dukun yang ditemuinya dapat membantu subyek untuk
dapat membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh
subyek. Mengenai syarat – syarat dan wejangan yang diberikan Dukun
kepada subyek, subyek akan percaya dan menjalankan syarat maupun
wejangan dari Dukun tersebut jika syarat atau wejangan tersebut dirasa
Yaa.. kalo masalah kepercayaan itu sugesti ya, trus ee.. selama saya sreg, artinya saya kok merasa pas ya saya percaya, tapi seumpama kok itu tidak pas dengan saya, dengan yang saya terima atau yang ada pada hati saya ya saya tidak akan percaya. Mungkin pandangannya lain, mungkin dia mempunyai apa ya? Pengertian yang lain, nah itu ya saya nggak percaya. (25-30)
Yang..yang kalo syarat yang bisa diterima dengan akal sehat ya mungkin kita bisa njalanin, kalo tidak ya tidak kita kerjain. Gitu lho.
Masuk akal itu seumpama gampangannya kita kok..ee..obat seumpamanya ya.. ooo..kok ini, udah minum sama sirih, oo makan daun sirih ya.. bisa itu, khan bisa. Kita khan masuk akal ya daun sirih itu mempunyai antibiotik iya tho.. sifatnya bisa untuk penyembuhan, bisa untuk macem-macem. Tapi khan ada yang harus, kedukun harus..seumpama menyembelih kambing berapa ratus, atau berapa puluh nah itu khan tidak masuk akal. Yang..yang istilahnya tidak pas ya tidak kita jalanin. Yang..yang masih biasa-biasa aja, yang lumrah-lumrah ajalah yang kita jalanin, gitu.. (44-54)
Yahh.. kembali lagi ke sugesti, kalo saya merasa.. wahh aku pasti sembuh, yoo mesti sembuh.. sama kalo kita kedokter, kadang-kadang kita.. meskipun sudah kedokter, kalo belum dikeroki kalo orang jawa sakit belum dikeroki, trus kedokter ya nggak sembuh iya tho.. tapi dengan kerokan thok bisa sembuh, karena kita berpikir kalo..aku nek durung dikeroki, ora mari..sama.. Jadi itu sugesti, masalahnya sugesti. (64-69)
Alasan subyek memilih menemui Dukun adalah dikarenakan
subyek percaya bahwa seorang Dukun memiliki kelebihan atau indera
keenam dimana Dukun tersebut dapat melihat sesuatu yang subyek
tidak dapat melihatnya, sehingga subyek meminta bantuan Dukun
sebab apa yang dirasakan oleh subyek tidak dapat dilihat oleh subyek,
tetapi Dukun tersebut bisa melihatnya. Selain itu, subyek memilih
menemui Dukun dikarenakan ada sugesti dari subyek bahwa seorang
Dukun dapat membantu subyek untuk menyelesaikan masalah yang
sedang dihadapinya, seperti diibaratkan jika orang Jawa sakit kalau
belum dikerokin maka sakitnya tidak akan sembuh walaupun sudah ke
dokter.
jadi hingga saat ini saya ya kalo ke orang pinter itu istilahnya hanya sekedar sharing, sharing atau mencari istilahnya pengetahuan.
Pengetahuan dalam hal yang saya mempercayai dia mempunyai kelebihan atau indra keenam dalam artian saya tidak bisa melihat sesuatu tetapi dia bisa melihat sesuatu, saya merasa minta bantuan karena yang saya rasakan tidak wujud tapi rasa, tapi dia bisa melihat. (12-18)
Yahh.. kembali lagi ke sugesti, kalo saya merasa.. wahh aku pasti sembuh, yoo mesti sembuh.. sama kalo kita kedokter, kadang-kadang kita.. meskipun sudah kedokter, kalo belum dikeroki kalo orang jawa sakit belum dikeroki, trus kedokter ya nggak sembuh iya tho.. tapi dengan kerokan thok bisa sembuh, karena kita berpikir kalo..aku nek durung dikeroki, ora mari..sama.. Jadi itu sugesti, masalahnya sugesti. (64-69)
Ketika berhadapan dengan Dukun subyek tidak merasakan hal
yang berbeda dalam dirinya, dengan kata lain yang dirasakan oleh
subyek adalah perasaan yang biasa – biasa saja, sebab subyek merasa
bahwa Dukun tersebut sama – sama manusia sama dengan subyek.
Woo..ya biasa-biasa saja.. wong yo podho-podho menungso ya biasa-biasa aja kalo saya.
Ohh enggak..enggak..enggak sama sekali. Mungkin malah justru orang pinter itu kalo liat saya malah rodo..rodo..hehehe... ya mungkin karena.. ada sesuatu yang mungkin dia tahu dengan kondisi saya. (70-74)
Mengenai perubahan yang dirasakan oleh subyek setelah
bertemu dengan Dukun, subyek mengatakan bahwa perubahan tersebut
ada yang dapat dirasakan, tetapi ada juga yang tidak dapat dirasakan
oleh subyek. Subyek menambahkan jika ada perubahan setelah
bertemu dengan Dukun, perubahan tersebut tidak dapat diungkapkan
dengan kata – kata, subyek hanya mengatakan bahwa dirinya merasa
menjadi lebih tenang dan lebih maju.
Ada yang ada, ada yang tidak.
Ya.. ya.. yang kalo yang pas kebetulan saya menjalani apa yang disarankan dukun atau orang pinter itu banyak ee.. kok..kok cocok, kok saya kok bisa ee.. seumpama apa lebih maju atau lebih tenang dihati atau.. ya itu kita rasakan, dan itu masalah rasa ya, jadi saya nggak bisa menggambarkan, gitu lho.. tapi kalo yang tidak merasa pas ya saya.. yaa.. ya sudah, gitu lho..jadi itu rasa, dan itu tidak bisa diungkapkan mungkin dengan kata-kata ndak bisa.. (56-63)
c. Subyek 3
Dari tingkat keseringan subuek dalam menemui Dukun, subyek
mengatakan bahwa subyek menemui Dukun tergantung pada tingkat
kebutuhan dari subyek, dengan kata lain subyek menemui Dukun
hanya pada saat subyek membutuhkan bantuan dari Dukun. Subyek
menambahkan jika sedang membutuhkan bantuan maka subyek dapat
menemui Dukun sebanyak dua kali dalam satu bulan.
Ya.. melihat kebutuhan, jadi.. ya kadang bisa dalam sebulan bisa sampe dua kali. Tapi kadang yang tidak, kadang yaa. Melihat apa yang saya rasakan memang memerlukan bantuan spiritual. (1-3)
Iya, pada saat membutuhkan. Ya juga, ya kalo memang kesana karena kalo tidak membutuhkan saya tidak begitu.. karena saya juga punya banyak kegiatan, jadi kalo kesana memang ada perlunya, kalo ndak ada perlu ndak kesana. (66-69)
Subyek dapat mengenal Dukun yang subyek temui dengan cara
subyek diajak kemudian dikenalkan oleh teman atau saudara yang
sebelumnya sudah pernah menemui Dukun tersebut. Selain subyek
diajak untuk menemui Dukun tersebut, subyek juga terkadang bertanya
kepada teman atau saudara untuk memberi tahu dimana bisa mencari
Dukun yang dapat membantu subyek untuk dapat membantu subyek
untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh subyek.
Kebanyakan saya dikenalkan, jadi kebanyakan saya diajak teman atau saudara yang pernah kesitu dan sudah menghasilkan sesuatu untuk mereka. Dia bilang misalkan saya kesana itu gini-gini-gini nah saya ikut pertamanya, saya ikut trus saya kalo sudah melihat kok insting saya kayaknya memang ini bisa membantu saya, saya kesana. Kebetulan juga kalo sana membantu saya, saya baru.. Tapi kalo saya mencari-cari nggak, karena ya sebetulnya saya nggak begitu ini ya, nggak begitu tahu gitu, kalo enggak dikasih tahu enggak tahu.
Iya, memang saya ada sesuatu itu mencari tahu itu kadang-kadang wah ngendi yo.. lha kebetulan temen saya ngasih tahu, ohh sana lho.. aku kok nduwe masalah ngene-ngene, misal gitu, saya itu nggolek piyayi sepuh mana ya? Ohh sana lho ada, itu baru kesana. (88-99)
Tujuan subyek menemui Dukun adalah untuk membantu
subyek dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh subyek.
Permasalahan yang dihadapi oleh subyek tersebut bisa bermacam –
macam, seperti diantaranya adalah permasalahan di kantor,
permasalahan yang terjadi dalam keluarga, masalah kesehatan,
permasalahan dalam hubungan dengan interaksi sosial, serta untuk
urusan bisnis atau perdagangan.
Saya khan bekerja dikantor pemerintah, ternyata dalam kantor pemerintah itu persaingan jabatan itu ini sekali..apa ya..tapi saya nggak..saya tapi khan kadang tidak berfikir sejauh itu, tapi kadang..suatu ketika saya itu merasakan apa ya itu... padahal sudah bekerja dan yang saya kerjakan itu sudah betul tapi kok tahu-tahu ada hal-hal yang kurang pas gitu,trus akhirnya..maksud saya gini, saya khan dapet kepercayaan dari atasan saya misalnya. Saya itu ee..apa ya.. ya diberi tanggung jawab gini gini gini lah, pokoknya dipercaya lah.. tapi ada temen saya itu kayaknya itu yang secara diam-diam itu mungkin tidak senang atau gimana itu dia berbuat sesuatu yang..ee.. apa ya..mau dari belakang nusuk saya dari belakang lah gitu. (16-26)
Anak saya itu berhubungan lah dengan seseorang, tapi saya kurang pas karena melihat latar belakang dan cerita-ceritanya itu kurang.. dan anak saya itu karena belum selesai sekolah, maksud saya itu ya biar kerja dulu jangan masih sekolah, dia sama-sama masih sekolah. (52-56)
Mungkin juga masalah kesehatan gitu, misalkan ee.. saya punya sakit kok dada saya sering sakit gitu tapi kadang-kadang trus saya dikasih tahu, ohh disana bisa memberikan obat saya pernah juga kesana ya, yaa.. disana nanti dikasih air putih, air aqua itu yang sudah diramu-ramu, gitu. (75-79)
Saya mungkin karena saya itu juga kerena kegiatan saya itu saya juga pegawai, saya juga bersosial dengan masyarakat banyak gitu, juga karena saya khan juga usaha kecil-kecilan, misalnya nyambi-nyambi dagang lha itu saya juga ini misalnya saya ada barang yang harus saya jual gitu lha saya piye, agar ini bisa laku itu ohh ya itu harus gini-gini-gini, ibu coba dengan srono begini mudah-mudahan bisa terjual.. ee ya sok kadang pernah begitu, gitu. (99-106)
Dari tingkat kepercayaan subyek terhadap Dukun yang subyek
temui, subyek mengatakan bahwa subyek percaya terhadap Dukun
dikarenakan adanya kepercayaan di dalam masyarakat Jawa dimana
memiliki kelebihan atau memiliki kekuatan spiritual. Tetapi meskipun
adanya stereotipe tersebut, subyek tidak kemudian percaya terhadap
semua Dukun yang subyek temui, subyrk mengatakan bahwa hal
tersebut tergantung pada Dukun atau orang tua yang subyek temui, jika
subyek merasa ada kecocokan dengan Dukun yang Subyek temui
maka tingkat kepercayaan subyek terhadap Dukun tersebut bisa
mencapai 75% atau lebih, tetapi jika sejak pertama kali bertemu
dengan Dukun tersebut subyek sudak merasakan tidak ada kecocokan,
maka tingkat kepercayaan subyek terhadap Dukun tersebut bisa kurang
dari 25%.
Ya gini, karena khan saya orang jawa, kadang-kadang masih mempercayai juga apa ya.. kelebihan orang-orang tua itu. Dan ya kadang memang kadang kalo apa yang dia katakan itu nalar dalam hal saya itu ya mungkin ada ininya ya kadang saya percaya, tapi kadang kalo tidak nalar ya saya tidak percaya, tapi ee.. tapi juga memang seperti itu percaya tak percaya ya..kadang-kadang saya wah kok gitu, tapi kenyataannya memang bener juga, gitu lho..lha itu yang membuat saya ingin kembali lagi ke itu menanyakan sesuatu apa yang sedang saya rasakan. (4-12)
Yaa.. kadang-kadang saya begitu datang, melihat orangnya itu kalo nggak apa ya..kalo nggak sreg gitu ya ndilalah kalo ngak sreg itu ya kok ya tidak ngefek gitu.. tapi memang insting apa ya menurut saya kalo ketemu, ohh ya ini, kalo ketemu sudah punya rasa, itu ya kayaknya ada faktor sugesti juga disitu. (79-83)
Kalau tingkat kepercayaan saya ya seperti yang saya katakan tadi, pertama-tama saya melihat dulu apaya, karena ada faktor sugesti itu lho mas, saya lihat dulu orangnya bagaimana dia itu memberikan penjelasan, memberikan solusi itu memang nalar dan memang ada..ee..ada kaitan, dan rasa saya sreg ya kepercayaan saya bisa 75%, diatas 50%. Tapi kalo saya melihat gini dan orang tua itu belum-belum sudah “woo saya ini itu yang datang kesini jendral ini.” Ada yang begitu, saya malah.. wah ini ndak apa ya..saya kurang ini.. karena trus saya trus sebelumya kok sudah takabur, gitu. Tapi khan ada yang merendah, dan ini semua itu karena Tuhan yang nganu, kita khan hanya berusaha gini-gini, itu saya malah jadi sedikit-sedikit percaya, tapi lama-lama setelah saya rasakan ohh ada manfaatnya baru saya percaya, tapi kalo yang baru belum-belum sudah..apalagi sudah menjelekkan orang lain, “wah itu apa kesana?”. Saya enggak seneng, itu sudah, saya 10% aja enggak percaya. (107-121)
Karena saya masih anu ya, khan karena saya orang Jawa gitu, jadi untuk faktor spiritual itu masih, memang saya masih percaya faktor
spiritual itu. Itu yang membuat saya kesana. Disamping saya bukan..saya bukan musrik ya, maksud saya, saya juga orang beragama. Saya tetep percaya kepada Tuhan, itu yang saya percaya, saya 100% percaya, tapi khan kadang-kadang saya mencari apa ya, bantuan lain dari spiritual. Dan itupun saya juga tidak lepas saya tetep berdoa, tetep