BAB II PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN
A. Negara dan Demokrasi
Para ahli memberikan gambaran lembaga negara dengan berbagai macam tamsil. Pertama; Plato, sebagai ahli yang diyakini pertama kali memperkenalkan konsep negara dalam kehidupan komunal manusia, menjelakan bahwa organisasi negara tidak berbeda jauh dalam tujuan filosofisnya dengan manusia (naturlijke person), yaitu mengedepankan dan menjunjung tinggi moralitas. Karena moral menjadi sesuatu yang paling hakiki dalam negara, maka menurut Plato, para penguasa negara dan rakyatnya pun harus berada pada posisi menunjung nilai moral dalam bernegara. Nilai moral yang paling dikedapankan Plato adalah kebajikan. Kebajikan akan diperoleh bila para penguasa negaranya mengerti betul tentang nilai-nilai kebajikan. Pengertian tersebut hanya akan diperoleh apabila penguasa itu memiliki ilmu yang luas. Untuk menjembatani ketersedian calon penguasa yang berwawasan luas adalah tersedia lembaga pendidikan yang memadai (Farkhani, 2017: 21-22).
Berkenaan dengan konsep tegas Plato tentang negara, baginya negara ideal adalah komunitas etikal untuk mencapai kebajikan dan kebaikan. Plato pernah mengatakan, “negara ideal hakekatnya adalah suatu keluarga, di dalam negara kamu semua bersaudara, siapapun yang dijumpai seseorang ia akan mengira ia sedang berjumpa dengan saudara lelaki atau saudara
xxvii
wanita, atau ayah atau ibu, atau seorang putra atau putri...., karena itu negara tidak terlalu kecil dan tidak terlalu luas.” (J.H. Rapar, 2001: 54-55). Artinya pergaualan dalam menjalankan negara harus dijalan dengan kesadaran etik (moralitas) yang tinggi, baik pemimpin maupun warga negaranya. Dalam keluarga tangung jawab pemimpin keluarga dijalankan dengan kesadaran etik bahwa ia harus dapat menjamin dan memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga dengan keadilan sesuai porsinya, yang dipimpin menghormati dan saling menjaga keadaran etik pula agar kondisi keluarga dalam tenteram dan damai serta bahagia bersama.
Kiranya pandangan Plato tentang negara etik ini, dipengaruhi oleh ajaran luhur gurunya, Socrates. Buktinya adalah cuplikan pembelaan Socrates pada saat ia disidang oleh 500 Juri di Pengadilan Athena yang ditulis sangat baik oleh Plato dalam bukunya yang berjudul Apologia;
“Aku harus mengulang kata-kataku ini kepada siapapun yang kutemui, baik tua ataupun muda, warga di sini atau orang asing, tapi terutama kepada para warga karena merekalah saudara-saudara terdekatku. Bahwa ini adalah perintah Tuhan, dan aku yakin tak ada kebaikan yang lebih baik pada negeri ini selain pengabdianku kepada Tuhan. Yang kulakukan hanyalah mengajak kalian semua, para pemuda dan orang tua, untuk tak hanya memikirkan orang-orangmu atau harta milikmu, namun yang pertama dan paling utama: perhatikanlah nasib jiwamu! Kukatakan kepadamu bahwa kebajikan bukanlah dengan menerima uang dan harta, tapi bahwa dari
xxviii
kebajikan itulah — harta dan segala hal yang baik dari diri manusia akan muncul, baik di sisi publik maupun individu. Inilah yang aku ajarkan” (www.islampos.com, diunduh pada tanggal 3 Juni 2014).
Setelah selesai seluruh proses peradilan terhadap Socrates, ia dihukum mati dengan tuduhan meracuni pemikiran kaum muda Yunani. Bila memperhatikan cuplikan pembelaan Socrates tersebut, maka kesadaran etik yang dimaksud Plato adalah berdasar ajaran-ajaran ke-Tuhan-an atau moralitas transendental yang dielaborasi sedemikian rupa kemudian diejawantahkan dalam segala sendi kehidupan bernegara. Jadi bagi Plato, moralitas transendental harus melingkupi setiap relung kehidupan bernegara, baik negara itu kecil ataupun besar.
Tamsil negara menurut Aristoteles mempertegas atau memperjelas cara berfikir Plato yang menginginkan negara yang tidak terlalu kecil tapi tidak juga terlalu besar. Bagi Aristoteles negara itu hendaknya berbentuk polis (negara kota). Karena negara kota adalah negara yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Negara yang terlalu kecil akan terlalu sulit untuk mempertahankan eksistensinya, sedangkan negara yang terlalu besar akan terlalu sulit untuk mengelolanya. Namun bagi Aristoteles, negara adalah persekutuan hidup dalam jenjang yang tertinggi, di atas apa yang disebut keluarga dan desa. Negara adalah persekutuan hidup yang paling berdaulat, melingkupi persekutuan-persekutuan hidup yang lebih kecil yang hidup dalam sebuah negara, negara menjadi pengendali, pengayom bagi seluruh manusia yang hidup didalamnya (Farkhani, 2017: 24).
xxix
Dari pandangan guru-murid ini terlihat ada pergeseran, dari nilai luhur yang dikedepankan menuju pembentukan birokrasi dari struktur yang terendah sampai yang tertinggi. Walaupun tidak mengatakan bahwa moralitas transendental tersingkir dalam cara pandang Aristoteles dalam memaknai negara.
Ilmuan Islam, al-Farabi memberikan tamsil negara bagaikan tubuh manusia. Tubuh manusia memiliki sistem kerja yang unik yang satu bagian dengan bagian lainnya saling bekerjasama sesuai dengan tugasnya masing-masing, dan jantung menjadi pusat dari segala organ yang ada.
Jantung bertugas menyuplai kebutuhan darah keseluruh anggota tubuh yang ada. Jantung menjadi ibarat sebagai pemimpin sebuah negara, pelayan rakyat yang menjamin kesejahteraan seluruh warga negara. Warga negara sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya menjalankan fungsinya masing-masing, bekerja untuk menjaga keutuhan negara dan agar keadilan tercipta dalam negara itu. Konsep negara utama al-Farabi ini sangat jelas dipengaruhi oleh pandangan Plato, yang membagi warga negara dalam tiga kelas; kepala negara, militer dan rakyat (Farkhani, 2017: 57). Oleh karenanya yang dibutuhkan adalah yang sehat karena pertumbuhan dan perkembangannya teratur di antara satu unsur dengan unsur lainnya, sedangkan negara yang buruk adalah ibarat orang yang sakit karena kurangnya pertumbuhan dan perkembangan yang teratur di negara itu.
Negara yang buruk tersebut banyak macamnya, misalnya negera yang fasik, negara yang bodoh, atau negara yang sesat. Dalam hal ini, al-Farabi menunjukkan sebuah tamsilan negara yang bodoh, ia membagi menjadi lima macam: pertama, negeri darurat (daruriah), yaitu negera
xxx
yang penduduknya memperoleh minuman dari kebutuhan hidup, makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Kedua, negeri kapitalis (baddalah), yaitu negara yang penduduknya mementingkan kekayaan harta dan benda. Ketiga, negeri gila hormat (kurama), yaitub negara yang penduduknya mementingkan kehormatan saja. Ketiga, negeri hawa nafsu (khissah wa syahwah), yaitu negara yang penduduknya mementingkan kekejian dan berfoya-foya. Keempat, negeri anarkis (jami’iah), yaitu negara yang setiap penduduknya ingin merdeka melakukan keinginan masing-masing (Al-Farabi, tt: 84).
Adapun menurut Ibnu Khaldun, bahwa negara itu ibarat komunitas masyarakat yang terjalin karena hubungan kekerabatan (nashab). Sebab hubungan kekerabatan ini memunculkan sikap ashabiyah (solidaritas golongan). Pada awalnya konsep ashabiyah dimaknai sebagai perasaan nasab, baik karena pertalian darah atau pertalian kesukuan. Perasaan yang demikian akan mengikat mereka dalam sebuah solidaritas kolektif. Menurutnya, proses ini muncul secara alamiah. Dengan adanya ashabiyah dalam komunitas manusia, maka akan timbul rasa cinta (nur’at) dan kepedulian yang tinggi terhadap komunitasnya, bahkan berupaya untuk senantiasa mempertahankannya (Syarif, 1978:541-3). Melalui perasaan cinta dalam komunitasnya tersebut, maka akan tumbuh perasaan senasib sepenanggungan, harga diri, kesetiaan, dan saling membantu antara satu dengan yang lain. Pertalian ini akan menimbulkan persatuan dan pergaulan yang harmonis antar komunitas yang ada. Pertalian ashabiyah yang demikian pada tahap selanjutnya membentuk nasab umum; perasaan yang mengikat berbagai nasab dalam sebuah persaudaraan atau solidaritas kolektif. Perasaan ini diikat
xxxi
oleh kesatuan visi, misi, sejarah, tanah air, dan bahasa (Khaldun, 1986:128-31).
Karena negara dimaknai sebagai pertalian nashab atau keluarga, maka psikologi dan sosiologi keluarga terbawa menjadi unsur-unsur yang harus ada dalam sebuah negara, baik dalam bentuk lembaga maupun nilai yang dihormati secara bersama. Sebagaimana keluarga yang memerlukan kepala keluarga, maka negara pun memerlukan pemimpin negara. Gambaran semacam ini dijelaskan secara baik oleh Sayuti Pulungan (1997:278), menurut Khaldun eksistensi al-mulk (kepala negara) diperlukan. Hal ini diwujudkan sebagai konsekuensi terhadap tuntutan masyarakat yang menghendaki adanya perlindungan, keamanan, dan terpeliharanya berbagai kepentingan masyarakat lainnya. Untuk mewujudkan tuntutan kolektivitas tersebut, seorang kepala negara dituntut untuk memiliki superioritas intelektual dan kepribadian (al-taghalluf) yang lebih dari rakyatnya. Dengnan sikap ini, seorang kepala negara akan mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif, efisien, objektif, adil (dengan melaksanakan supremasi hukum), dan amanah. Jika sikap ini justeru terabaikan pada seorang pemimpin, maka eksistensinya akan menjadi bumerang bagi terlaksananya roda pemerintahan yang seyogyanya mengayomi masyarakat luas.
Gagasan demokrasi sebagai sebuah sistem tata kelola pemerintahan dan negara, diyakini pertama kali muncul dalam sejarah pemikiran filsafat Yunani Kuno, kisaran pada abad 6 sampa 3 SM (Mahfudz MD, 1999: 268) dengan tokoh sentral Plato dan Aristoteles serta Socrates sebagai mentor awal bagi keduanya. Implementasi dari gagasan demokrasi
xxxii
ini adalah wujudnya negara polis, negara kota yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil, Athena.
Gagasan demokrasi ini sempat terhenti dalam kurun yang lama, dimulai ketika Romawi melakukan pendudukan terhadap Yunani, tepatnya pada abad 1 SM. Tidak lama dari kurun itu, Romawi yang terwarnai oleh ajaran Nasrani memiliki pandangan tersendiri mengenai pengelolaan negara dan pemerintahan. Mulai dari saat itu demokrasi yang berporos pada pemerintahan yang dikelola atas partisipasi rakyat yang dianggap cukup rumit dalam implementasinya pada zaman itu, digantikan oleh pemikiran spiritualisme yang mengharuskan kehidupan sosial harus tunduk pada dominasi gereja dan kehidupan politik rakyat tunduk di bawah kuasa raja.
Masa itu diyakini sebagai awal mula kegelapan di dunia Eropa secara keseluruhan. Gereja dan raja menjadi pemegang otoritas tertinggi dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat, para penentang dua otoritas itu tidak memiliki kekuatan untuk melawan bahkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dikontrol sepenuhnya oleh kuasa itu. Kasus Copernicus (1551), Giordano Bruno (1600), dan Galilio Galilei (1642) adalah contoh nyata betapa berkuasanya gereja dan raja. Galilio Galilei dihukum mati setelah dipaksa mengingkari teorinya yang sejalan dengan teori Copernicus di bawah pengadilan iman gereja Roma, atau seperti yang dialami Nicuel Superto (Michael Serfev) penemu peredaran darah dengan menukil dari Abu Hasan Ali ibn an-Nafis (wafat 1288), yang dibakar pada tahun 1553 di bawah reformator Jinkalfin (Poeradisatra, 1986: 13).
Masa kegelapan Eropa (Barat) mulai berakhir oleh munculnya zaman Renaissance (1350-1600) yang menumbuhkan minat pengkajian kembali terhadap sastra
xxxiii
dan budaya Yunani Kuno (Mahfudz MD, 1999: 269). Kebangkitan Eropa (Barat) tidak murni berasal dari dalam dirinya, tetapi ada sumbangsih dari perseteruan dunia Barat dan dunia Islam dalam Perang Salib yang sangat panjang dan legendaris, perang berlangsung selama 2 abad (1099-1299).
Terjadinya Perang Salib yang berkepanjangan memaksa Barat bersinggungan dengan Islam yang saat itu sedang pada puncak pencapaian dan kejayaannya di bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini merujuk pada apa yang ditulis oleh Harun Nasution (1975: 13-14), beliau membagi sejarah peradaban Islam kepada tiga periode. Pertama, Periode Klasik (650-1250) di mana umat Islam mulai membina dan mencapai kemajuan dan kegemilangan peradabannya, Periode Pertengahan (1250-1800) di mana peradaban umat Islam mulai mengalami kemunduran, bahkan sampai pada titik nadir dan Periode Modern (1800- sekarang) di mana umat Islam mulai sadar dan bangkit dari keterpurukan.
Persinggungan selama Perang Salib turut membuka kesadaran Barat untuk berdialog dengan Islam dan melihat aplikasi kehidupan masyarakat Islam yang lebih tertib pada masa itu. Kesadaran untuk memahami kebebasan, hak-hak yang layak dalam kehidupan bermasyarakat dan terkhusus dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan, yang sebelumnya dipahami bahwa ilmu itu adalah sihir. Persinggungan Barat (Eropa) dengan budaya Islam selama berabad-abad melalui hubungan antara Semenanjung Iberia dengan Sisilia, banyak ilmu pengetahuan di bidang-bidang sains, pengobatan dan arsitektur diserap dari dunia Islam ke dunia Barat selama masa perang salib.
xxxiv
Berawal dari itu muncul gagasan-gagasan baru yang terinspirasi dari cara hidup dan berfikir dunia Islam cepat tersebar di kalangan para pemikir di Eropa (Barat), membuka alam berfikir mereka, menuntut pendobrakan dan pemerdekaan pikiran rakyat dari pembatasan-pembatasan dan hegemoni pikiran dan keyakinan gereja. Pada masa itu pula muncul pemikiran di bidang politik bahwa setiap manusia memiliki hak yang tidak boleh dikangkangi dan diselewengkan oleh pemerintah, dan absolutisme pemerintahan harus segera diakhiri. Perlawanan dan rasionalitas dari kaum tengah (para sarjana) yang mendasari dari perkembangan Barat terlepas dari belenggu kegelapannya yang dalam itu adalah teori social contract (perjanjian masyarakat) yang intinya menyatakan bahwa kekuasaan pemerintah itu ada sebab perjanjian masyarakat yang memberikan wewenang dan kekuasaan kepada sekelompok orang yang dipercaya dan rakyat akan mematuhinya selama hak-hak rakyat dijaga dan tidak disalahgunakan.
Teori social contract itu menjadi katalisator bagi kegiatan pendobrakan atas absolutisme dan kesewenang-wenangan pemerintah dan gereja serta menggantikannya dengan demokrasi. Sebuah sistem yang pada awal perkembangan manajemen pemerintahan dan negara dianggap sebagai sebuah sistem bobrok sebagai penyelewengan dari sistem politea. Menurut Anthony H. Birh, bahwa di mata pemikir Yunani Kuno, termasuk Plato, Aristoteles dan Thucydides, demokrasi bukanlah bentuk pemerintahan yang ideal. Mereka berpendapat bahwa demokrasi adalah pemerintahan yang dikelola oleh rakyat miskin atau pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang dungu (Aidul Fitriciada Azhari, 2004: 2).
xxxv
Setelah abad pertengahan, rupanya pengertian demokrasi yang dikembangkan berbeda maksud dari para pemikir awalnya. Makna demokrasi yang diutarakan oleh Plato, Aristoteles dan ilmuan yang sezaman dengannya, dalam terminologi Polybius adalah okhlokrasi, yaitu pemerintahan yang dikelola oleh rakyat yang tidak mengerti bagaimana menjalankan pemerintahan dan mengelola negara untuk kepentingan mereka sendiri, dalam bahasa Plato dan kawan-kawan adalah pemerintahan orang-orang dungu.
Demokrasi sekarang dimaknai sebagai bentuk pemerintahan dari suatu kesatuan hidup yang memerintah diri sendiri, yang sebagian besar anggotanya turut mengambil bagian baik secara langsung maupun tidak langsung, terjamin kemerdekaan rohani dan persamaan bagi hukum dan anggota-anggota telah tersliputi oleh semangatnya (W.A. Bonger dalam Edy Purnama, 2007: 41). Lipset mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem politik yang memasok kesempatan konstitusional reguler untuk mengubah pemerintahan pejabat (Nahla Shahrouri, 2010). Atribut utama dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat (sovereignity), dan ia pula menjadi atribut hukum dari negara. Sebagai atribut negara berarti sovereignity lebih awal keberadaannya dari konsep negara itu sendiri (Fred Isywara, 1964: 92).
Lahirnya pemahaman demokrasi sebagaimana tersebut di atas, bersamaan dengan lahirnya konsep negara hukum. Sebagaimana demokrasi, ide atau konsep negara hukum pernah ada namun hilang dan ditinggalkan orang, kemudian muncul di Barat pada wal abad ke-17. Timbulnya kembali pemikiran tentang negara hukum ini disebabkan karena kondisi dan situasi yang kurang lebih sama dengan
xxxvi
kondisi yang ada pada saat Plato dan Aristoteles mengemukakan ide tentang negara hukum, yaitu merupakan reaksi atas kekuasaan yang absolut, sewenang-wenang (Romli Librayanto, 2008: 11). Demokrasi, kedaulatan rakyat dan negara hukum pada kontennya berprinsip sama, yaitu pendobrakakan atas absolotisme negara dan penekanan pada pentingnya pembatasan kekuasaan pemerintah, seluruh kekuasaan di dalam negara haruslah di pisah dan dibagi ke dalam kekuasaan yang mengenai bidang tertentu.
Kesamaan muatan dari konsep demokrasi dan negara hukum yang terkandung didalamnya kedaulatan rakyat terlihat nyata dari pendapat para ahli, diantaranya Lyman Tower Sargent (1984) yang menyatakan bahwa kunci atau unsur-unsur yang harus terkandung dalam (negara) demokrasi adalah; 1) keterlibatan warga negara dalam pembuatan putusan politik (kebijakan), 2) kesamaan hak bagi setiap warga negara, 3) jaminan kebebasan dan penguatan warga negara, 4) adanya sistem perwakilan dan 5) adanya pemilihan umum.
Senada dengan Sargent, Hendry B. Mayo (1960: 70) pun menjelaskan demokrasi sebagai sistem politik, “a democratie political system is one in wich public politicies are made in a majority basis, by representatve subject ti effective polpular control at periode elections which are conducted on the principle of political freedom”.
Konsep negara hukum hasil rumusan dari international commission of jurist pada tahun 1965 di Bangkok –Thailand, mencirikan negara hukum secara dinamis sebagai berikut;
1. Perlindungan konstitusional. Artinya menjamin hak-hak individu konstitusi harus pula
xxxvii
menentukan cara prosedural untuk memperoleh cara perlindungan atas hak-hak yang dijamin. 2. Adanya badan kehakiman yang bebas dan tidak
memihak.
3. Adanya pemilihan umum yang bebas. 4. Adanya kebebasan menyatakan pendapat.
5. Adanya kebebasan berserikat/berorganisasi dan beroposisi.
6. Adanya pendidikan kewarganegaraan (Moh. Mahmud MD, 1999: 131-132).
Berkenaan dengan konsep negara hukum Indonesia, Azhary (1995: 144) menyebutkan unsur-unsurnya sebagai berikut;
1. Hukum bersumber pada Pancasila. 2. Kedaulatan rakyat.
3. Pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi. 4. Persamaan kedudukan dalam hukum dan
pemerintahan.
5. Kekuasaan kehakiman yang bebas dari kekuasaan lainnya.
6. Pembentuk undang-undang Presiden bersama-sama dengan DPR.
7. Sistem MPR.
Dari semua pernyataan tentang demokrasi dan negara hukum, ada kesepahaman bahwa untuk mencirikan suatu negara bersistem demokrasi dan negara hukum adalah keharusan adanya pemilihan umum secara berkala.