BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Utang Luar Negeri
Sejak krisis utang luar negeri (ULN) dunia pada awal 1980-an, masalah utang luar negeri yang dialami oleh banyak negara sedang berkembang (NSB) tidak semakin baik. Banyak NSB semakin terjerumus ke dalam krisis ULN sampai negara- negara pengutang besar terpaksa melakukan program-program penyesuaian struktural
terhadap ekonomi mereka atas desakan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), sebagai syarat utama untuk mendapat pinjaman baru atau pengurangan terhadap pinjaman lama (Tambunan, 2001).
Tingginya ULN dari banyak NSB disebabkan terutama oleh tiga jenis defisit: defisit transaksi berjalan (TB) atau di dalam literatur umum disebut trade gap, yakni ekspor (X) lebih sedikit daripada impor (M), defisit investasi atau I-S gap, yakni dana yang dibutuhkan untuk membiayai investasi (I) di dalam negeri lebih besar daripada tabungan nasional atau domestik (S), dan defisit fiskal (fiscal gap). Dari faktor-faktor, defisit TB sering disebut di dalam literatur sebagai penyebab utama membengkaknya ULN dari banyak NSB. Besarnya defisit TB melebihi surplus neraca modal (CA) (kalau saldonya memang positif) mengakibatkan defisit neraca pembayaran (BoP), yang berarti juga cadangan devisa (CD) berkurang. Apabila saldo TB setiap tahun negatif, maka CD dengan sendirinya akan habis jika tidak ada sumber-sumber lain (misalnya modal investasi dari luar negeri), seperti yang dialami oleh negera-negara paling miskin di benua Afrika. Padahal devisa sangat dibutuhkan terutama untuk membiayai impor barang-barang modal dan pembantu untuk kebutuhan kegiatan produksi di dalam negeri.
Defisit TB yang terjadi terus-menerus membuat banyak NSB harus tetap bergantung pada pinjaman luar negeri (PLN), terutama negara-negara berkembang yang kondisi ekonominya tidak menggairahkan investor-investor asing, sehingga sulit bagi negara-negara tersebut untuk mensubstitusikan PLN dengan investasi, misalnya dalama bentuk penanaman modal asing (PMA).
Sejak pemerintahan Orde Baru hingga saat ini tingkat ketergantungan Indonesia pada ULN tidak pernah menyusut, bahkan mengalami suatu akselerasi yang pesat sejak krisis ekonomi 1997/98, karena pada periode tersebut pemerintah Indonesia terpaksa membuat utang baru dalam jumlah yang besar dari IMF untuk membiayai pemulihan ekonomi. Pada masa normal selama pemerintahan Soeharto, ULN dibutuhkan terutama untuk membiayai defisit investasi, defisit TB, dan beberapa komponen dari sisi pengeluaran di dalam APBN.
Ketiga defisit tersebut, yang berkaitan satu sama lainnya (Dornbusch, 1980), dapat disederhanakan di dalam sebuah model yang terdiri atas beberapa persamaan berikut:
TB (X-M) + F (2.16)
Di mana X = ekspor barang dan jasa, M = impor barang dan jasa, dan F = transfer internasional atau arus modal masuk neto.
S – I = Sp + Sg – I = (Sp – I) + (T – G) (2.17) di mana: S = tabungan, I = investasi atau pembentukan modal tetap bruto, Sp = tabungan individu/rumah tangga dan perusahaan, Sg = tabungan pemerintah, T = pendapatan pemerintah (pajak dan non pajak) dan G = pengeluaran pemerintah.
S = Sp + Sg (2.18)
Sg = T – G (2.19)
Ekonomi domestik dalam kondisi keseimbangan (saat permintaan agregat = penawaran agregat), di mana setiap tabungan domestik neto (=S – I) tercermin dalam
akumulasi aset luar negeri neto (X + F – M), maka identitas TB dapat ditulis sebagai berikut.
S – I = X + F – M (2.20) Atau (Sp – I + (T – G) = X – M (2.21)
Berdasarkan persamaan (1.2), surplus dalam anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN (yaitu T-G>0) dapat dianggap sebagai bagian dari surplus tabungan – investasi (S-I>0), atau defisit anggaran pemerintah, atau fiscal gap (Ty- G<0) adalah sebagian dari defisit S-I. Persamaan (1.5) menunjukkan bahwa surplus TB (X-M>0) sama dengan surplus S-I di dalam negeri, yang memberi pengertian bahwa defisit dalam cadangan devisa (CD) merupakan bentuk dari S dari luar negeri. Persamaan (1.6) memperlihatkan bahwa surplus TB sama dengan perbedaan S swasta yang melebihi I ditambah surplus APBN.
Arus modal masuk terdiri atas arus PLN atau ULN dan Investasi. Arus ULN terdiri atas utang jangka panjang, ULNLR (lebih dari 1 tahun), dan utang jangka pendek ULNSR (kurang dari atau hingga satu tahun). Arus investasi dari luar negeri bisa dalam bentuk PMA (disebut investasi langsung atau jangka panjang) dan investasi portofolio (disebut investasi tidak langsung atau jangka pendek). Perubahan CD (R – R-1) dapat didefinisikan sebagai perubahan saldo TB ditambah perubahan CA (Current Account) atau perubahan jumlah ULN dan arus investasi, atau:
Apabila ULNLR diistilahkan sebagai persediaan (stok), sebut L, dan tidak ada tunggakan (Alun, 1992), maka jumlah ULNLR pada tahun, misalnya 2003, adalah perubahan stok pada tahun tersebut, atau:
L – L-1 = ULNLR (2.23) maka dapat diperoleh:
(L – L-1) – (R – R-1) = -TB – ULNSR – PMA – IP (2.24) Selain itu, perkembangan ULN dapat dianalisis melalui pendekatan permintaan dan penawaran utang. Dasar teorinya adalah sebagai berikut: derajat keterutangan luar negeri dari sebuah negara ditentukan oleh tingkat optimalisasi dalam penggunaan dana yang ada oleh masyarakat di negara tersebut dengan kesempatan yang ada untuk meminjam uang dari pasar internasional dan pilihan yang ada antara mengonsumsi dan menanam modal (Alun, 1992). Selanjutnya berdasarkan kerangka teori mikro mengenai model optimasi dua periode, analisis optimalisasi dapat juga diterapkan pada tingkat makro. Analisis diawali dengan persamaan mengenai identitas pendapatan.
Y = C + I + G + X – M (2.25) Di mana Y = pendapatan nasional, dan C = konsumsi rumah tangga (variabel-variabel lainnya telah dijelaskan di atas).
Seperti di dalam model optimasi, korelasi antara investasi (I) dan tingkat suku bunga (r) adalah negatif: semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin mahal biaya alternatif dari investasi, semakin kecil nilai investasi, sedangkan relasi antara investasi dan pendapatan (Y) adalah positif: semakin besar investasi, variabel-
variabel lainnya dari permintaan agregat tetap tidak berubah, semakin tinggi tingkat pendapatan. Namun relasi antara investasi dan pendapatan (output agregat) bisa dua arah. Dari arah yang lain, semakin tinggi pendapatan, semakin besar kemampuan negara bersangkutan melakukan investasi. Korelasi antara variabel r dan variabel Y dengan variabel I dapat dirumuskan sebagai berikut.
I = i1Y – I2r (2.26) Selanjutnya, dengan asumsi bahwa pengeluaran domestik (konsumsi dan investasi) adalah suatu fungsi positif dari pendapatan, maka defisit APBN (G –T) dan ULN neto:
A = a1Y + a2(G-T) + a3ULN (2.27) atau relasinya bisa juga sebagai berikut:
ULN = b1Y + b2A + b3(G-T) (2.28) Relasi dalam persamaan (2.13) dapat dijelaskan dengan suatu contoh sebagai berikut. Kenaikan pendapatan dan selanjutnya belanja masyarakat cenderung menaikkan impor, baik barang konsumsi maupun barang modal dan penolong (atau umum disebut produk-produk antara) serta bahan baku untuk keperluan industri dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya di dalam negeri. Dibanyak NB, impor selalu lebih besar daripada ekspor, sehingga kenaikan impor cenderung menaikkan ULN. Kenaikan defisit APBN juga cenderung meningkatkan arus ULN. Terkecuali jika pemerintah tidak mempunyai akses ke pasar uang internasional atau bantuan dari pemerintah negara lain.
Menurut Sachs (1981, 1982) negara yang mempunyai masalah dalam pelunasan ULN-nya cenderung untuk tidak menunda membayar utangnya karena pilihan menunda akan menghadapi resiko gangguan dalam perdagangan internasional dan arus modal masuk. Oleh karena itu, kenaikan dalam pelunasan utang (LS) cenderung menaikkan ULN. Jadi, mengikuti Alun (1992), persamaan (2.13) menjadi:
ULN = c1Y + c2A + c3G + c4LS (2.29) Selain variabel-variabel di atas, permintaan ULN juga ditentukan oleh tingkat suku bunga di pasar uang internasional atau lebih tepatnya selisih (SP), yaitu margin di atas LIBOR ( ). Jadi, persamaan permintaan ULN dari NB dapat ditulis sebagai berikut.
ULNd = d1Y – d2X + d3M + d4G + d5LS – d6SP (2.30) dan persamaan penawaran ULN ke NB:
ULNs = e1Y + e2X – e3M – e4G + e5LS + e6SP + e7PK (2.31) Di mana PK adalah peringkat kredit negara bersangkutan.
Idealnya, jika sebuah negara telah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu atau pada tahap “akhir” dari suatu proses pembangunan, ketergantungan
negara tersebut terhadap PLN akan lebih rendah dibandingkan pada saat negara itu baru mulai membangun. Proksi yang umum digunakan untuk mengukur tingkat pembangunan sebuah negara adalah tingkat pendapatan (atau PDB) dalam nilai riil perkapita, sedangkan indikator-indikator makro yang umum digunakan untuk mengukur tingkat ketergantungan sebuah negara terhadap bantuan atau ULN adalah
misalnya rasio ULN – PDB, rasio ULN terhadap nilai total dari perdagangan luar negeri (X + M) atau rasionya terhadap nilai ekspor.