• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONDISI PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA SIGAOL

2.1.1 Nelayan

Kehidupan ekonomi nelayan tradisional diidentikkan dengan kemiskinan, karena nelayan sangat bergantung terhadap kondisi iklim. Sehingga membuat nelayan di desa ini sangat sulit dalam pemenuhan kebutuhan keluarga khususnya. Peralatan

yang dipakai para nelayan untuk menangkap ikan hanya menggunakan Solu

(Sampan) sebagai alat untuk melintasi air danau toba ke dataran yang lebih dalam lagi dan Doton (Jaring) digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan. Dampak dari perubahan iklim juga sangat banyak dirasakan oleh nelayan karena resiko nelayan lebih tinggi ketika mereka melakukan aktivitas di laut. Dampak perubahan iklim juga

akan mengurangi produktivitas dan pendapatan bagi nelayan. “Perubahan cuaca dan

iklim akan menganggu perikanan dan kelautan, sebagai contoh pengaruh cuaca dan iklim akan mempengaruhi pertumbuhan plankton yang mengandung klorofil (hijau

daun), adanya tumbuhan klorofil menandakan bahwa banyak ikan di laut tersebut.8

Dampak yang ditimbulkan dari berbagai perubahan tersebut tidak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi nelayan, namun juga aspek-aspek lain di kehidupan sosial nelayan. Dampak iklim tersebut sangat mempengaruhi kehidupan sosial

8Wawancara, Bapak Firman Nadapdap, pekerja sebagai nelayan selama 38 tahun di Desa Sigaol, Sabtu 8 februari 2014 pukul 19.45 wib.

ekonomi nelayan, dimana ketika terjadi pertukaran cuaca atau musim kemarau maka para nelayan tidak dapat menangkap ikan ke Danau karena beresiko tinggi. Apabila pertukaran iklim terjadi berkepanjangan maka masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhnnya sehari-hari, untuk mengatasi hal tersebut masyarakat Sigaol sebagai Masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, membuat strategi dengan cara menambahkan mata pencahariannya sebagai pekerja diladang tetangga, kuli bangunan, berjualan dan lain-lain. Masayarakat Sigaol menggunakan strategi diatas untuk mengatasi agar tidak terjadi kelaparan dan agar kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.

Hasil yang diperoleh nelayan dari danau itu berupa ikan mujahir (nila), ikan gabus, ikan lele, ikan mas, pora-pora, udang kecil, dll. Dari jenis ikan itu hasil ikan yang paling banyak ditangkap yaitu ikan mujahir (ikan nila) karena harga jual ikan mujahir jauh lebih mahal daripada jenis ikan lainnya. Harga jual ikan mujahir (ikan nila) pada 1974 itu sekitar 100 rupiah/kg.9

9 Wawancara, Ibu Rosin Br. Manurung, pekerja sebagai pengrajin ulos sekalian istri nelayan di Desa Sigaol, Minggu 25 Mei 2014, Jam 08.30-09.45 wib.

2.1.2 Beternak

Beternak menjadi salah satu peluang yang sangat besar bagi masyarakat untuk dikembangkan sebagai usaha di masa depan, ketika masyarakat Sigaol mengalami perubahan iklim yang cukup lama mereka menggunakan strategi dalam memenuhi kebutuhannya dengan cara beternak yaitu memelihara ayam, itik, bebek, anjing, babi, kerbau, kambing, kuda, dll. Sebagian hasil ternak yang mereka pelihara itu dijual kepasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi dipotong untuk acara pesta dikampung itu.

Menurut hasil wawancara dari beberapa masyarakat mereka tidak pernah memakan daging sesuai dengan selera meskipun hewan peliharaannya banyak. Mereka boleh makan daging apabila keluarga atau saudara dekat dari orang tua mereka datang dari perantauan contohnya Paman, bibi, tante, kakek, nenek, dan lain-lain baru bisa makan enak (makan daging). Hal ini dikerjakan oleh masyarakat sebagai mata pencaharian tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Masyarakat sigaol pada tahun 1938 masih banyak yang belum mengenal tulisan (buta huruf), karena mereka tidak pernah duduk dibangku sekolah diakibatkan kurangnya biaya untuk mengecam pendidikan. Mereka hanya dapat melakukan aktivitas seperti menangkap ikan, beternak, bertani, berdagang, menjual kayu bakar dan sebagainya.

2.1.3 Berdagang

Dimasa silam ketika uang masih belum dikenal, perdagangan dilakukan

dengan cara tukar-menukar (barter). Sarana pertukaran yang paling banyak dilakukan ialah padi karena lebih mudah dilakukan. Hampir semua barang dapat dipertukarkan dengan padi, karena mudah diukur. Menukarkan padi dengan suatu barang disebut manuhor (membeli) bentuk barang apapun. Di waktu itu ketika tempat untuk berjual-beli belum ada, jika hendak menukarkan barang harus pergi menawarkannya dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung.

Lama kelamaan cara berjualan seperti itu dirasakan sangat melelahkan,

timbulah pemikiran untuk mencari cara yang lebih mudah dengan cara mengumpulkan para pengetua kampung berkumpul untuk mangadakan musyawarah yang dihadiri oleh pimpinan horja (raja) utusan dari beberapa kampung yang dekat atau bertetangga. Hasil dari musyawarah tersebut memutuskan untuk mendirikan

sebuah pekan atau pasar yang disebut dengan onan dan sekaligus menyediakan tanah

kosong untuk lokasi pasar. Kampung-kampung yang menjadi anggota onan, disebut

bona ni onan, merekalah yang menjadi tuan rumah dan yang bertanggung jawab atas keberhasilan pekan tersebut. Setelah adanya pasar semua masyarakat membawa jualannya ketempat tersebut untuk melakukan jual beli. Pada saat itu masyarakat Sigaol banyak menjual yang namanya Itom, Salaon, Bakkudu (ketiga jenis tumbuh-tumbuhan ini berfungsi untuk menghasilkan cat (warna) yang akan digunakan untuk menenun ulos). Selain itom, Salaon, dan Bakkudu mereka juga menjual hewan

peliharaan, kayu bakar, dan hasil tangkapan dari danau, dan lain-lain. Semua ini dibawa kepasar lalu ditukarkan dengan barang-barang yang mereka butuhkan.

2.2 Setelah Masuknya Tenun Ulos ke Tanah Batak

Ketika leluhur orang Batak tiba di kaki gunung Pusuk Buhit, mereka masih belum menggunakan bahan pakaian dari kapas melainkan masih menggunakan kulit kayu yang dipukul-pukul atau direndam supaya lemas, yang disebut dengan tangki. Beberapa pendapat mengatakan bahwa pengetahuan bertenun diperoleh dari India Belakang dan sejak itulah kapas menjadi bahan baku untuk menghasilkan ulos dan bahan pakaian. Ketika kampung-kampung di Toba masih dikelilingi oleh tembok dan benteng yang tinggi, menjadi kebiasaan bagi ibu-ibu duduk bertenun di halaman rumahnya. Sebagian besar hasil tenunannya digunakan untuk keperluan sendiri, tetapi kadang-kadang ada juga yang dibawa ke onan (pasar atau pekan) untuk ditukarkan

dengan barang kebutuhan sehari-hari.10

10 N. Siahaan , Sejarah Kebudayaan Batak, Medan: CV. Napitupuluh Dan SONS Djalan Irian Barat 39, 1964, hlm., 130-131.

2.2.1 Sejarah Masuknya Tenun Ulos Di Desa Sigaol

Ulos adalah jenis pakaian orang Batak sejak zaman dahulu kala. Cara

memakainnya ialah dengan meletakkan di badan - sampai batas pinggang bagi para pria dan sebatas dada bagi wanita dipakai sebagi penutup dada dan punggung. Cara

berpakaian seperti ini umumnya masih berlangsung hingga sekitar tahun 1850.11

Menurut hasil wawancara yang penulis peroleh penemu ulos pertama di

Tanah Batak tidak diketahui secara jelas karena banyak pendapat yang mengatakan bahwa sejak orang Batak ada ulos juga sudah ada. Etnis Batak sudah ada ribuan tahun yang lalu begitu juga dengan keberadaan usia. Tenun ulos masuk ke Desa Sigaol sekitar tahun 1939 dibawa oleh keluarga Op. Tuan Dirambe Butarbutar Beliau memiliki istri 2 orang yaitu boru Sitorus dan boru Gultom. Ketika keluarga Op. Tuan Dirambe datang ke Desa Sigaol mata pencaharian masyarakat pada saat itu adalah nelayan, berdagang, bertani, dan beternak. Selain itu masyarakatnya buta huruf (tidak dapat baca) hal ini juga mengakibatkan perolehan mata pencaharian karena mereka kurang agresif dalam mencari nafkah. Disamping itu juga masyarakat tidak bebas dalam menyalurkan setiap bakat yang mereka peroleh dalam memenuhi perekonomiannya karena masyarakat pada saat itu jadi budak kolonial Belanda.

Setelah kelurga Op. Tuan Dirambe menetap di Desa Sigaol, masyarakat

Sigaol sangat tertarik dengan kerajinan tangan yang dibuat oleh istri-istri Op. Tuan Dirambe, dan masyarakat meminta pada istri-istri Tuan Dirambe untuk mau

11 M. T. Siregar, Ulos Dalam Tatacara Adat Batak, Jakarta: P. T. MUFTI HARUN (BIN HARUN) Jln. K. H. Mas Mansyur no. 96 Jakarta Pusat- 10230, hlm, 1.

mengajari mereka. Kehadiran tenun ulos di Desa Sigaol cukup mendukung perekonomian masyarakat meskipun dalam pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Masyarakat Sigaol juga pada saat itu tetap mengerjakan mata

pencahariannya sebagai nelayan, berdangang, beternak, dan berjualan seperti: Itom,

Salaon, Bakkudu, Kayu Bakar, Tuak (Nira atau dikenal dengan istilah susu orang Batak) dan Hasil ternak lainnya.

2.2.2 Tenun Ulos (Home Industry)

Pada zaman dahulu, ulos dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Ulos yang di

pakai laki-laki untuk menutup tubuh bagian atas disebut sebagai hande-hande atau ikat kepala (detar). Bagian bawah disebut Singkot (lopes). Sedangkan yang

perempuan memakainya sebagai abit (kain sebatas dada). Bagian bawah, punggung

dipakai hoba-hoba dan bila disandang disebut selendang dan pada bagian atas atau di

kepala disebut saong-saong. Kemudian, apabila menggendong anak disebut ulos

parompa. Ulos dipakai sehari-hari di rumah, di ladang, dan di tempat-tempat lain. Karena dahulu kala orang belum mengenal yang namanya tekstil, semua pakaian terbuat dari hasil rajutan atau tenunan.12

Dahulu menenun ulos tidak boleh dilakukan sembarangan tetapi harus cermat

dan teliti. Harus diperhatikan agar perbandingan panjang dan lebar jangan menyimpang dari ketentuan. Tambahan kain yang dijahitkan di sisi kiri dan kanan

ulos, harus selalu lebih lebar dari kain yang di tengah, dan biasanya ulos zaman dahulu memiliki ukuran, yang panjangnya memiliki 2,8 meter dan lebar memiliki 1,7 meter.13

Selama bertenun, ada larangan dan pantangan yang tidak boleh dilanggar

misalnya:

1. Kalau ujung benang putus ketika menggulung dan ujungnya tidak dapat

ditemukan kembali, merupakan pertanda bahwa kain yang ditenun akan menjadi penutup mayat pemiliknya.

2. Jika sewaktu bertenun, balobas (kayu berbentuk penggaris) yang dipakai

untuk merapatkan benang dengan tidak sengaja memukul seekor lalat hingga mati, merupakan pertanda bahwa tidak lama lagi anak pemilik kain akan meninggal.

3. Jika disebuah kampung ada kemalangan (meninggal), kendi atau mencampur

tempat cat harus segera ditutup dengan duri, supaya begu (roh) orang

meninggal tidak masuk ke dalam mengaduk-aduk larutan cat, mengakibatkan campuran yang telah diracik dengan susah payah menjadi rusak.

4. Seorang penenun tidak boleh meninggalkan kampug membawa ulos yang

masih setengah selesai, dengan maksud menyelesaikannya di kampung lain. Jika aturan ini dilanggar, tondi (roh) kain tenun akan menghilang.

13Wawancara, Dengan Ibu Sibonur Br. Manurung, bekerja sebagai pengrajin ulos, 21 April 2014, pukul 10.00 wib.

5. Kedua potongan kain yang dijahitkan pada kedua ujung ulos sebagai penghias, tidak boleh sama panjangnya. Jika ukurannya sama akan membawa

kematian bagi pemiliknya.14

2.2.3 Nelayan

Tidak semua daerah mempunyai tempat untuk menangkap ikan, hanya

diwilayah yang mempunyai sungai dan Danau Toba. Pada masa lalu masyarakat Toba tidak mengetahui ikan apa saja yang ada di sungai maupun di Danau Toba pada saat itu. Ikan mas dan halu (gurami) bukanlah ikan asli danau, melainkan ikan yang disemai dan dibiakkan oleh Dinas Perikanan pada masa Pemerintahan Hindia Belanda.

14 N. Siahaan, op. cit, hlm, 132.

A.J. van Zanen bekas kontelir Belanda di Toba, sangat kagum setelah mengetahui sedemikian banyak jenis alat penangkap ikan yang dipakai nelayan di Toba. Tidak diketahui sejak kapan peralatan tersebut mulai digunakan. Dilaporkan ada 27 jenis alat penangkap ikan yang digunakan seperti yang disajikan dalam tabel 1 dibawah ini.

Tabel. 1

Alat Menangkap Ikan di Toba

Peraturan menangkap ikan di Danau Toba, hanya berlaku untuk penduduk

yang berdomisili di sekeliling danau. Setiap horja yang lokasinya di pinggir Danau Toba, memiliki daerah penangkapan ikan mulai dari batas pantai menjorok tegak lurus masuk ke danau. Di daerah bukan horjanya, tidak diperkenankan menangkap ikan terkecuali mendapat isin dari Raja Parjolo (Raja Pertama), jumlahnya tidak ditentukan tergantung pada sipemberi. Sedangkan menangkap ikan di sungai bebas,

No. Nama Alat Pekerja

15. Hail Sibahut 1 orang 16. Hail Tabu-tabu 1 orang 17. Hail Parippik 1 orang 18. Hail Taotao 1 orang

19. Bubu 1 orang

20. Bubu Issor 1 orang 21. Launglaung 1 orang

22. Arsam 1 orang

23. Sulangat 1 orang 24. Sabaran Batu 1 orang 25. Suri Gamal 2 orang

26. Antuk 1 orang

27. Tahop 1 orang

No. Nama Alat Pekerja

1. Suri Bolon 8-9 orang 2. Suri Paduadua 2 orang 3. Sidua Tali 2 orang 4. Sigulang Batu 10 orang 5. Parhorian 1 orang

6. Undalap 1 orang

7. Ambe Bagas 1 orang 8. Batu Pangiring 1 orang

9. Tiktik 1 orang

10. Olat 1-5 orang

11. Ambatan 2-3 orang 12. Pandan Tari 1 orang

13. Tungkup 1 orang

14. Hail Ihan 1 orang

Sumber: buku Sejarah Kebudayaan Batak, (N. Siahaan 1964, hlm, 127)

dan tidak terikat pada suatu peraturan, tetapi di beberapa tempat terdapat kesepakatan

hanya anggota marga secara bergantian boleh menangkap ikan di muara sungai.15

Sewaktu menangkap ikan harus memperhatikan pantangan (subang) supaya

tidak terkena murka dewi air, diantaranya:

1. Jangan menggunakan perahu kayu yang berbongkol untuk menangkap ikan di

Danau Toba, karena akan membawa sial (sia-sia).

2. Jika si nelayan menangkap ikan-pantai (ikan yang biasanya hidup di tepi pantai) di tengah danau, berarti bahaya kematian mengancam salah satu anggota keluarganya.

3. Jika si nelayan menemukan seekor ikan yang hampir mati di bubunya

(ditempat ikan) atau menangkap seekor ikan pora-pora kecil

tergantung-gantung di antara dua ikan besar di jalanya, memberitahukan akan ada mayat di antara dua usungan keranda.

4. Selama menangkap ikan, si nelayan harus menghindari menyebut kata

lumang” artinya kosong, karena dapat menyebabkan dia pulang dengan tangan kosong.

2.2.4 Beternak

Hampir semua keluarga yang tinggal di huta (kampung) memelihara ternak,

terutama babi dan ayam. Pada umumnya jumlah ternak yang dipelihara tidak banyak dan kurang terpelihara dengan baik karena ternak tersebut berkeliaran di sekitar kampung dan pada malam hari ayam mencari tempat bertengger didahan kayu yang tumbuh dikampung. Begitu juga dengan babi yang tidak diberikan makan yang cukup sehingga hewan tersebut mencari makannya di luar kampung.

Ada juga masyarakat yang memelihara kerbau dan kuda dan umumnya mereka dari keluarga yang berpunya. Didesa Sigaol tidak terdapat rumput, hewan tersebut dibawa kepadang luas di luar kampung, dan yang mengembalakan kerbau tersebut adalah anak-anak pemilik kerbau tersebut, setelah kerbau tersebut kenyang lalu dimandikan. Kemudian dibawa pulang dan di masukkan ke dalam kandang. Sedangkan penduduk yang tidak mampu membeli kerbau secara utuh, sering bergabung dengan beberapa temannya dan patungan membeli seekor kerbau, atau

dalam bahasa Batak Toba disebut marriperipe marpinahan.

Vergouwen menjelaskan bahwa orang Batak sudah mempunyai Peraturan dan

Hukum (patik dohot uhum) yang baik untuk mengatur perkongsian, yang disebut parripe-ripeon. Dalam aturan patugan, secara jelas diatur kapan dan berapa lama seseorang anggota bertugas memelihara dan memanfaatkan kerbau untuk bekerja

disawah. Demikianlah penentuan jadwal untuk masing-masing anggota kapan boleh memerah susu kerbau16.

2.2.5 Berdagang

Setelah masuknya ulos ke Desa Sigaol masyarakat Sigaol tetap melanjutkan

aktivitasnya untuk berjualan kepasar dengan membawa hasil tenunan (ulos), hasil tangkapan ikan, hasil ternak, serta salaon, itom, bakkudu, tuak (nira) dan kayu bakar. Semua ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Makanan pokok masyarakat pada waktu itu adalah beras dan ubi. Sedangkan bagi daerah yang kurang subur seperti Desa Sigaol mereka menanam singkong dan ubi jalar. Keladi (suhat) juga dimakan sebagai makanan tambahan, dan daunnya dijadikan sayur. Hewan peliharaan tidak pernah disembelih untuk dimakan bersama keluarganya, mereka hanya boleh makan daging apabila ada pesta dan itupun jarang terjadi, bagi mereka makan daging itu adalah makanan mewah.

2.3 Kondisi Alam

Desa Sigaol merupakan bagian dari Kecamatan Lumban Julu yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan, dengan kontur tanah yang beragam; datar, landai, bergelombang, miring, dan terjal, dengan ketinggian antara ± 870 - 950 Meter di atas permukaan laut. Memiliki tekstur tanah pada umumnya Andosol (tanah yang

berwarna hitam) rata-rata Curah hujan 85 mm per tahun. Posisi geografis Toba Samosir terletak antara 2°23’ - 2°30’ LU dan 99°04’-99o.09’ BT, dengan luas wilayah 400 Ha. Menurut sensus jumlah penduduk Desa Sigaol sebanyak 665 jiwa dengan komposisi penduduk jumlah laki-laki sebanyak 325 orang dan perempuan sebanyak 340 orang.

Desa Sigaol tergolong daerah yang sulit ditumbuhi tanaman. Karena tanahnya terjal (tanah merah campur batu-batuan) dan kering tidak ada penyimpanan air. Dengan kondisi seperti ini, sehingga masyarakat tidak memungkinkan untuk bertani. Sedangkan kecepatan angin di Desa Sigaol rata-rata 3,3 km/jam, kecepatan

angin tertinggi adalah 4,61 km/jam, dan kecepatan terendah adalah 2,43 km/jam5 .17

2.4 Pola Perkampungan Penduduk

Sistem Penduduk asli Desa Sigaol adalah suku Batak Toba, yang dihuni oleh marga Sinaga, Sitorus dan Nainggolan. Budaya masyarakat Batak Toba menganut sistem patrilineal (garis keturunan dari laki-laki). ini merupakan tulang punggung masyarakat Batak yang dibangun berdasarkan silsilah atau keturunan marga yang menghubungkan antara satu sama lain dalam garis laki-laki (patrilineal). Laki-laki

membentuk kelompok kekerabatan, sementara kaum perempuan membentuk afiliasi

kekeluargaan (afinal relationship) karena mereka menikah dengan kelompok patrilineal yang lain.

Sistem marga mengimplikasikan bahwa setiap kelompok orang yang memiliki asal genealogis yang sama juga memiliki tempat tinggal atau permukiman yang sama setidaknya diwaktu silam. Jadi, yang dikatakan sebagai marga pada suku bangsa Batak Toba ialah marga-marga pada suku bangsa Batak yang berkampung

halaman (marbona pasogit) di daerah Toba.

Fungsi utama sistem marga adalah membangun keteraturan di antara orang-orang Batak termasuk dengan orang-orang-orang-orang diluar suku Batak. Bagaimana sistem sosial ini dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari tercermin ketika seorang warga Batak bertemu dengan orang Batak lainnya dan mereka menelusuri pohon silsilah mereka (partuturan). Dengan melakukan partuturan mereka bisa menentukan apakah seseorang adalah kerabatnya, apakah mereka memiliki tali kekerabatan lewat perkawinan dan bagaimana mereka harus menyapa satu sama lain. Dapat dilihat dari prinsip Dalihan na tolu, jika marga dari pihak laki-laki disebut “dongan sabutuha” (Saudara) memperoleh istri dari pihak marga pemberi istri disebut “hula-hula” (Paman) dan memberi berkah kepada marga pengambil istri disebut “boru” (anak perempuan) . Sistem sosial ini berfungsi mengatur keserasian masyarakat Batak. Ketiga kelompok fungsional ini dipandang sebagai keterwakilan tiga Dewa/Tuhan

Orang Batak. Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan. Batara Guru adalah simbol

hula-hula yang melalui anak gadis mereka, menciptakan turunan manusia baru.

Hula-hula memperoleh penghargaan dan kekuasaan sebagaimana Batara Guru dalam

“Tiga Dewa/Tuhan” orang Batak, yakni Soripada adalah dongan sabutuha (saudara) yang bertanggungjawab merawat anak-anak mereka.

Untuk menciptakan harmoni dalam hubungan Dalihan Na Tolu ini, dalam adat Batak Toba telah menetapkan aturan perilaku sebagai berikut. Logika moral

yang terkandung dalam somba marhula-hula (hormat kepada paman) terkait dengan

proses penciptaan manusia. Sementara manat mardongan tubu/marga (hormat

kepada saudara ) mengandung dua kewajiban moral yakni :

1. Seseorang harus bersikap serius kepada kelompok marganya. Sikap dan sifat

serius terhadap dongan tubu (saudara) meliputi :

a. Utang harus dibayar

b. Pemberian tidak bisa ditagih kembali dan disebarluaskan kepada yang lain

c. Perselisihan diantara kelompok marga harus didasarkan pada nilai-nilai

demokrasi, bukan otoriter.

2. Hubungan diantara marga harus didasarkan pada nilai-nilai demokratis,

bukan otoriter. Terakhir elek marboru (membujuk pihak perempuan) berarti

seni mencintai terhadap pihak perempuan harus dilakukan dengan tulus hati yang terdalam. Menjauhkan sifat pura-pura dan tersembunyi seperti :

a. Mengambil harta boru tanpa seijinnya (holung).

b. Merampas milik boru (heum).

c. Cemburu (hosom).

Dokumen terkait