• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM NELAYAN JEPANG

2.2 Nelayan Jepang

2.2.2 Nelayan Modern

Jepang memang dikenal dengan perakit teknologi yang sangat canggih sehingga para nelayan di zaman sekarang ini banyak yang tidak kesulitan untuk penangkapannya.

Masyarakat nelayan di Jepang sudah banyak yang menggunakan alat - alat yang canggih dalam berlayar.

Dulu, para nelayan mengandalkan perkiraan dan keberuntungan untuk mencari ikan, dan sampai saat ini pun masih banyak para nelayan yang berfikir demikian. Tetapi sekarang, dapat mencari ikan lebih cepat dan lebih banyak dengan bantuan teknologi.

Berikut 5 teknologi canggih yang dipakai nelayan untuk melaut :

1) Sonar

Sonar adalah alat pencari yang memanfaatkan gelombang suara. Alat ini dipasang dibagian bawah perahu. Sonar memanfaatkan gelombang suara untuk mengumpulkan informasi dasar laut. Caranya, sonar melepaskan gelombang suara. Gelombang suara akan merambat kearah yang telah ditentukan. Jika

gelombang ini menabrak sesuatu, ia akan terpantul kembali ke alat penerima perahu. Pantulan inilah yang kemudian menjadi informasi.

Kekuatan gelombang yang memantul tergantung keras tidak nya benda yang ditabrak gelombang itu. Pantulan gelombang itu lalu diolah menjadi warna – warna dalam layar monitor alat penerima. Daerah keras akan menghasilkan warna yang berbeda dari daerah lunak. Tubuh ikan tentu dapat memantulkan gelombang dengan kekuatan tertentu. Nelayan yang pintar dapat mengetahui warna mana yang menunjukkan ikan, mana karang dan lainnya.

2) GPS dan Pengetahuan Alam

Salah satu alat penerima sinyal satelit adalah GPS (Global Positioning System ).

Nelayan modern melengkapi perahunya dengan GPS. Ketika berlayar, maka dipandu oleh satelit kearah daerah yang banyak ikannya. Informasi yang dikirim satelit berupa gambar yang menunjukkan peta laut, seperti kedalaman, suhu air dan jumlah plankton. Dari situ nelayan bisa mengetahui dimana lokasi yang banayk ikannya. Para nelayan paham bahwa banyak terdapat ikan di daerah yang hangat dan banyak planktonnya.

3) Satelit Oceanografi

Satelit ini cara kerjanya hampir sama dengan sonar. Bedanya informasi Satelit Ocanografi lebih lengkap dari pada sonar. Selain susunan permukaan dasar laut, satelit juga menyediakan informasi tentang suhu air laut dan numlah plankton.

Informasi ini yang memancarkan gelombang sinyal ke alat penerima sinyal milik nelayan.

4) Echo Sounder

Warna gema sounder atau pencari ikan ini digunakan untuk mencari ikan dan menampilkan kedalaman dan kontur dasar laut. Informasi yang ditampilkan pada layar berupa perpaduan warna.

Alat ini bekerja melalui pulsa/sinyal yang dikirim oleh transduser dalam lambung kapal. Sinyal tersebut dikirim kedasar laut dan dikirim kedasar laut dan dipantulkan ke atas dimana diterima oleh transduser yang sama. Keberadaan ikan pada radar digambarkan seolah – olah seperti denyut nadi, nyatanya adalah udara dikantung renang ikan yang membuat mereka terlihat oleh echo sounder.

Warna ikan pada radar adalah warna orange tua. Namun, ikan memiliki minyak didalam kantung renang, sehingga kadang data tidak muncul dengan baik.

5) Net Recorder

Alat ini bekerja sepanjang sisi warna echo sounder. Layar memberikan informasi khusus ke internet apabila ada ikan yang bergerak di bawah jaringan, dengan menggunakan data dari echo sounder kecil yang melekat pada jaring itu sendiri. Perekam warna bersih juga dapat mengukur lebar bersih, kapasitas/jumlah dan bahkan suhu di mulut bersih/ujung jaring. Nahkoda yang berpengalaman dapat memberitahukan tidak hanya tentang beberapa banyak ikan yang berhasil ditangkap, tetapi juga jenis ikan yang ditangkap.

BAB III

KEHIDUPAN MASYARAKAT NELAYAN JEPANG

3.1 Pentingnya Nelayan Bagi Masyarakat Jepang

Nelayan sangatlah penting bagi masyarakat di Jepang. Tidak hanya di Jepang saja, tetapi dinegara lain pun sama. Mengapa para nelayan dikatakan penting bagi masyarakat di Jepang, itu dikarenakan masyarakat di Jepang hampir 90 % mengkonsumsi ikan.

Salah satu kota nelayan di Jepang adalah pulau Sugashima. Pulau Sugashima hanyalah sebuah pulau kecil yang luasnya 4,5 km2, termasuk dalam bagian kota Toba, Perfecture Mie. Orang Jepang yang bukam berasal dari Perfecture Mie pun awam dengan daerah ini. Mereka hanya mengunjungi kota Toba yang terkenal dengan penghasil mutiara Mikimoto dan mengunjungi kuil Shinto Ise, yang tersohor salah satu tempat lahirnya Tuhan versi kepercayaan Shinto.

Pulau Sugashima ini terkenal sebagai tempat penghasil Ise Ebi, udang lobster dan rumput laut. Begitu turun dari ferry di dermaga, dari sini cerita bermula. Kita hanya bias menyusuri pulau Sugashima hanya sekitar 2 jam dengan berjalan kaki. Hanya kira – kira 30

% saja dari wilayah pulau Sugashima yang didirikan rumah. Selebihnya, dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengelolah hasil laut, ikan dan rumput laut. Dan si bagian perbukitan dimanfaatkan sebagai ladang.

Sebagi kota nelayan yang hanya berpenduduk 1145 jiwa (224 KK) , ada 650 sektor jiwa berusia lanjut. Sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. Yang bukan sebagai nelayan, bekerja sebagai pekerja kantoran dipusat kota Toba.

3.2 Aktivitas Kerja Dalam Penangkapan Ikan

Jepang memiliki cara penangkapan ikan yaitu model penangkapannya itu pakai kuota. Pemerintah jepang mempunyai log book dan sistem untuk memonitoring hasil penangkapan. Berikut adalah alat – alat dan kapal yang digunakan dalam penangkapan ikan.

a) Pancingan (Long Line)

Pancingan adalah alat penangkapan ikan yang terdiri dari sejumlah utas tali dan pancing. Setiap pancing menggunakan umpan atau tanpa umpan, baik umpan dan alami maupun umpan buatan. Alat penangkap ini termasuk kedalam klasifikasi pancing, yaitu rawai (long line) dan pancing.

b) Perangkap

Perangkap adalah alat penangkapan ikan berbagai bentuk yang terbuat dari jaring, bambu, kayu dan besi yang dipasang secara tetap di dasar perairan atau secara portable (dapat dipindahkan) selama jangka waktu tertentu. Umumnya ikan demersal terperangkap atau tertangkap secara alami tanpa cara penangkapan khusus.

c) Penangkapan ikan dengan pecuk

Praktek ini memanfaatkan burung pecuk (cormorant) yang memiliki naluri menangkap ikan. Burung ini dipelihara dan dilatih utuk menangkap ikan. Cincin besi diletakkan dileher agar burung tidak memakan ikan besar, namum bisa memakan ikan kecil. Ikan yang besar dikumpulkan nelayan. Namum praktek ini sudah sangat jarang , dan kini diberdayakan sebagai warisan budaya dan daya tarik wisata.

d) Lift Net (jaring angkat)

Jaring angkat dioperasikan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal.

Jaring ini bisasanya dibuat dengan bahan jaring nilon yang menyerupai kelambu, karena ukuran mata jaringnya yang kecil (sekitar 0,5 cm). Jaring kelambu kemudian diikatkan pada bingkai bambu atau kayu yang berbentuk bujur sangkar.

Dalam penggunaannya jaring angkat sering menggunakan lampu atau umpan untuk mengundang ikan. Biasanya dioperasikan dari perahu, rakit,bangunan tetap, atau langsung.

Dari bentuk dan cara penggunaannya, jaring angkat dapat mencakup bagan perahu, bagan perahu, bagan tancap (termasuk kelong) dan serok

e) Gill nets

Gill nets atau jaring insang merupakan salah satu jenis alat tangkap. Pada umumnya, Gill nets ialah jaring berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebarnya lebih pendek jika dibandingkan dengan

panjangnya. Pada lembaran jaring, bagian atas diletakkan pelampung (float) dan bagian bawah diletakkan pemberat (sinker). Jaring bisa terlentang didalam air karena adanya gaya berat (dari pemberat) dan gaya apung (dari pelampung).

Tertangkapnya ikan – ikan dengan gill nets ialah dengan cara ikan – ikan tersebut terjerat (gilled) disekitar opurculumnya pada mata jaring ataupun terbelit (etangled) pada tubuh jaring. Pada umumnya ikan – ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah jenis ikan yang horizontal migration dan vertical migration yang tidak seberapa aktif.

f) Purse saine (pukat cincin)

Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan.

Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong. Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap.

Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai pengerat ikan. Kapal purse saine Jepang dilengkapi dengan berbagai macam mesin hidrolik

untuk memperlancar proses penangkapan ikan, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk sekali proses penangkapan ikan.

Kapal yang digunakan adalah kapal Kapal jaring (Hon Sen). Kapal ini adalah kapal utama yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan, kapal ini mempunyai ukuran 90-100 GT dan menangkap ikan dengan jarak 30 mil dari permukaan laut. Untuk menempuh jarak 30 mil ke tempat fishing ground, kapal ini membutuhkan waktu 2-3 jam dengan kecepatan 11 knot. Kapal jaring (Hon Sen) akan menangkap ikan setelah menemukan gerombolan ikan yang sedang terdeteksi fish finder (gyogun tanchiki) dan siap untuk ditangkap dan membutuhkan waktu 2 jam sekali untuk operasi penangkapan ikan. Di Jepang mempunyai 2 daerah penangkapan ikan yaitu, Laut timur (Taiheiyo) dan Laut barat (Nihon Kai). Penangkapan di Laut timur (Taiheiyo) dilarang menggunakan lampu deck, alat yang digunakan adalah fish finder (gyogun tanchiki) dan dibantu dengan soona (lampu yang dimasukkan ke dalam air laut dengan kedalaman 120 meter untuk menerangi ikan supaya ikan tidak mudah lepas dari lingkaran jaring) dan bagian Laut barat (Nihon Kai) alat bantu yang digunakan yaitu lampu dek seperti kapal purse shine (makiami) lainnya menggunakan lampu dek untuk mengumpulkan gerombolan ikan.

Dalam satu hari keseluruhan kapal purse shine (makiami) hanya diperbolehkan menangkap ikan 2000 ton ikan, apabila penangkapan ikan lebih dari 2000 ton maka hari selanjutnya semua kapal purse shine (makiami) Jepang libur (renkyu).

Untuk jenis ikan saba (ikan kembung), inada (ikan ekor kuning), yarika (cumi-cumi) biasanya ditangkap pada bulan agustus sampai bulan desember, karena dibulan tersebut adalah bulan yang mana pertemuan arus panas (kuroshio) karena arus tersebut menghasilakan arus yang hangat dan jenis ikan ini selalu hidup diperairan tersebut.

Penangkapan ikan jenis ini ada batas waktu yang telah ditentukan oleh koperasi perikanan (kumiai) supaya kelestarian ikan tidak cepat punah, dimusim ikan jenis ini dalam sekali operasi bisa menangkap ikan kurang lebih 300 ton (per kapal) waktu penangkapan ikan pukul 06:00PM-05:00AM dan waktu tersebut telah dipatuhi oleh semua nelayan kapal purse shine (makiami) Jepang.

Untuk jenis ikan iwashi (ikan sarden), aji (ikan layang), sawara (ikan tenggiri) ,biasanya ditangkap pada bulan januari sampai bulan april, jenis ikan ini sangat sulit dideteksi fish finder (gyogun tanchiki) dan sulit untuk ditangkap, dalam sehari pendapatan ikan hanya mencapai 100-150 ton dan batas waktu pengkapan ikannya juga terbatas, dimulai dari pukul 02:00AM-09:00AM.

Ada juga Kapal pencari ikan ( Tansaku Sen ). Kapal ini berukuran 70 GT, kapal ini digunakan untuk membantu kapal jaring (hon sen) agar lebih cepat mendapatkan gerombolan ikan, tugas utama yang dilakukan adalah memancing ikan yang terdeteksi fish finder (gyogun tanchiki), hanya untuk mengetahui ikan jenis apa yang terdeteksi fish finder (gyogun tanchiki), disaat operasi penangkapan ikan berlangsung, kapal ini digunakan untuk

menarik lambung kiri kapal jaring (hon sen) supaya kapal jaring (hon sen) menjadi lebih seimbang saat melakukan holling (proses pengakatan jaring).

Target fish ground atau daerah penangkapan berkisar didaerah garis katulistiwa perairan Jepang.

g) Set Net ( Otoshi Ami, Trap Net )

Set net merupakan alat tangkap ikan jenis perangkap yang ramah lingkungan, dipasang secara menetap di daerah penangkapan secara terus menerus siang dan malam, bersifat pasif dan menghadang ruaya ikan. Penerapan teknologi set net sejalan dengan kebijakan perikanan tangkap untuk pengelolaan perairan pantai (jalur penangkapan 1 sejauh 6 mil) yang diarahkan pada penggunaan alat tangkap pasif.

Teknologi penangkapan ikan dengan menggunakan Set net merupakan suatu teknologi penangkapan yang sangat hemat bahan bakar, hemat biaya operasi, waktu yang dibutuhkan dan mulai mulai pergi ke tempat Set net dipasang kemudian mengambil hasil hanya memakan waktu sekitar tiga sampai empat jam, hasil tangkapan dalam keadaan hidup, ikan yang belum layak tangkap dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi bisa dilepaskakn kembali ke habitatnya atau dibudidayakan dan hasil tangkapan sampingan yang tidak diinginkan atau habitat perairan yang dilindungi bisa dengan cepat dilepaskan kembali kehabitatnya.

Selain ramah lingkungan karena perairan pantai tetap terjaga, Set net juga menciptakan kerja sama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat

perebutan wilayah penangkapan. Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi.

Dalam pembuatan alat tangkap Set net umumnya dibuat perbagian (panel) kemudian dirangkai menurut bagiannya. Untuk bagian yang tidak dapat dirangkai didarat seperti untuk bagian penaju dan serambi, perangkaiannya dilakukan di daerah penangkapan bersamaan dengan pemasangan bagian lain secara keseluruhan setelah rangka Set net terpasang. Dengan system pembuatan per bagian, maka akan dimudahkan untuk pemasangan di daerah penangkapan, pengangkutan dari satu tempat ke tempat lain, dari darat ke laut atau sebaliknya.

Secara garis besar bagian – bagian dari Set net jenis Trap net adalah sebagai berikut :

1) Penaju (berupa pagar),

2) Daun pintu, terdiri dari daun pintu bagian serambi, dan jaring menaik, 3) Serambi (jaring pengurung) terdiri dari serambi membujur, serambi

bagian laut, serambi bagian darat, dan seraambi bagian ujung,

4) Jaring menaik, terdiri dari jaring menaik bagian luar dan jaring menaik bagian dalam. Jaring menaik bagian luar terdiri dari jaring menaik bagian laut, bagian darat, dan jaring menaik bagian bawah. Jaring menaik bagian dalam terdiri dari jaring menaik bagian laut, jaring menaik bagian darat dan jaring menaik bagian bawah,

5) Kantong, terdiri dari kantong bagian laut, darat, bawah, pangkal dan kantong bagian ujung,

6) Kantong tambahan, terdiri dari kantong bagian ujung, dan kantong bagian pangkal,

7) Pelampung,

8) Pelampung rangka utama, 9) Pelampung rangka, 10) Pemberat rangka, dan 11) Pemberat rangka.

3.3 Rahasia Makmurnya Nelayan Jepang

Rahasia makmurnya masyarakat nelayan Jepang dikarenakan tidak adanya illegal fishing (pencurian ikan). Selain itu kebutuhan produksi dijamin oleh pemerintah. Nelayan punya kapal sendiri. Illegal fishing tidak ada dijepang karena regulasi diterapkan dengan baik. Dan aturan ditegakkan dengan baik karena para nelayannya yang disiplin.

Diperairan Jepang tidak banyak ikan yang tersedia dalam beberapa dekade ini.

Sehingga nelayan harus melaut dalam waktu yang sangat lama. Hal ini menjadi masalah karena ikan yang sampai kepada konsumen tidak segar sedangkan orang Jepang menyukai ikan segar. Untuk mengatasi masalah tersebut para perusahaan ikan mulai menggunakan

freezer agar ikan yang sampai ke konsumen masih segar. Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan antara ikan segar dan beku.

Kemudian perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpanan ikan di kapal mereka dan langsung menjejalkan ikan ke dalam tangki hingga berdempet - dempetan. Hal ini dimaksudkan agar ikan-ikan tersebut agar berhenti bergerak karena kelelahan dan lemar tetapi mereka masih hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaan antara ikan segar dan ikan yang lemas.

Untuk menjaga agar ikan tersebut tetap segar, perusahaan perikanan jepang memasukkan seekor ikan hiu kecil dan masing - masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi yang sangat hidup. Sehingga ikan masih tetap segar ketika sampai ke konsumen. Jepang merupakan salah satu pasar ikan terbesar dunia tuna dari seluruh dunia masuk kesana begitu juga dengan udang.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari beberapa penjelasan tugas akhir ini maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

4.1 Kesimpulan

1) Masyarakat nelayan di Jepang memiliki dua cara dalam penangkapan ikannya. Ada yang menggunakan cara tradisional dan ada juga yang menggunakan cara modern.

2) Nelayan di Jepang ada banyak yang masih menggunakan cara tradisonal dalam penangkapan ikan. Contohnya adalah ipponzuri (pancingan). Dalam hal ini ipponzuri adalah alat yang sering digunaka oleh para nelayan tradisional di Jepang, tetapi alat ini bukanlah jala. Ada pancingan, alat ini hanya menggunakan bambu dan seutas tali. Ada perangkap, ini terbuat dari bambu, kayu dan besi. Kemudian ada yang menggunakan burung pecuk ini dikarenakan pecuk memiliki naruli dalam menangkap ikan. Begitu juga dengan Set Net, alat ini adalah alat tangkap yang pengoprasiannya mirip dengan perangkap bambu.

3) Ada juga nelayan yang menggunakan cara modern dalam penangkapan ikan. Ada teknologi canggih yang digunakan yaitu Sonar, Sonar adalah alat yang memanfaatkan gelombang suara dan dipasang dibagian bawah perahu. Ada juga alat penerima satelit (GPS). Alat ini yang akan memandu kapal dalam berlayar. Kemudian ada Satelit

Oceanografi, alat ini hampir sama dengan sonar tetapi alat ini lebih lengkap lagi dibandingkan dengan Sonar.

4) Perusahaan perikanan Jepang memasukkan seekor ikan hiu kecil ke setiap tangki ikan agar ikan tetap segar ketika sampai ke konsumen.

5) Dalam undang-undang perikanan Jepang, seluruh kapal Purse Shine (makiami) hanya diperbolehkan menangkap 2000 ton ikan, apabila penangkapan ikan lebih dari 2000 ton maka hari selanjutnya kapal Purse Shine (makiami) libur.

6) Pemerintah Jepang memberikan kebijakan pada para nelayan dalam berlayar. Pada bulan agustus sampai desember adalah bulan pertemuan arus panas (kuroshio), dalam sekali operasi bisa menangkap ikan kurang lebih 300 ton (per kapal). Pada bulan januari sampai bulan april ada ikan-ikan yang sulit untuk ditangkap dikarenakan sulitnya dideteksi oleh fish finder, maka dalam sekali beroperasi dalam sehari pendapatan ikan hanya mencapai 100-150 ton.

4.2 Saran

1) Sebaiknya Indonesia menerapakan kebijakan para nelayan dalam penangkapan ikan.

2) Membeli alat – alat yang canggih dalam penangkapan ikan, tetapi yang tidak membahayakan ikan dan alam lautnya.

3) Menyediakan sumber daya manusia yang handal di bidang perikanan.

DAFTAR PUSTAKA

Andi,2013. All About Japan. Yogyakarta: Andi Offset.

Situmorang Hamzon, Rospita Uli 2013. Minzoku Gaku ( Ethnologi ) Jepang. Medan: USU Press.

http://www.academia.edu/12476699/Teknologi_Penangkapan_Ikan_Fishing_Technologies _

https://finance.detik.com/ekonomi-bisnis/3053052/ini-rahasia-makmurnya-nelayan-nelayan-jepang

http://yusufsila.blogspot.co.id/2011/12/mengenal-negara-maju-jepang.html

https://inspiratorfreak.com/5-teknologi-canggih-nelayan/

ABSTRAK

Jepang adalah salah satu Negara maju dalam teknologi, industri dan ekonomi.

Jepang sangat dikenal dengan pembuatan alat – alat elektronik yang canggih. Banyak barang – barang elektronik buatan Negara Jepang.

Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Jepang juga adalah Negara yang sangat maju dalam sektor perikanan. Selain memiliki sumber laut yang melimpah, Jepang juga mempunyai teknologi perikanan yang canggih, sehingga mendukung tingkat produksi ikan yang tinggi. Jepang juga termasuk salah satu Negara yang memiliki armada perikanan terbesar didunia dan pengimpor hasil laut terbesar.

Contohnya kapal Purse Shine yang mampu mengangkut ikan sebanyak 2000 ton. konsumsi ikan di masyarakat pun sangat tinggi, hampir 90% masyarakat mengkonsumsi ikan.

Nelayan di Jepang menangkap ikan secara tradisional dan modern. Nelayan tradisional menangkap ikan dengan perahu tradisional tanpa sentuhan teknologi modern.

Sehingga hasil tangkapannya sangat sedikit. Salah satu alat yang digunakan yaitu ipponzuri (pancingan) bukan jala. Artinya para nelayan hanya menangkap ikan tetentu pada waktu tertentu untuk pelestarian cadangan ikan di laut. Ada juga perangkap, alat ini berbentuk jaring, bambu, kayu dan besi yang dipasang secara tetap di dasar perairan yang dapat dipindahkan selama jangka waktu tertentu. Ada juga jaring angkat yang terbuat dari nilon seperti kelambu. Lampu dan umpan digunakan untuk mengundang ikan. Penangkapan menggunakan perahu, rakit, bangunan tetap, atau secara langsung. Ada burung pecuk,

burung ini memiliki naluri menangkap ikan. Burung ini dipelihara dan dilatih untuk menangkap ikan.

Set net adalah perangkap ramah lingkungan yang dipasang secara menetap.

Set net alat penangkap hemat bahan bakar, hemat biaya operasi, dan tidak memakan waktu banyak. Ikan yang diambil masih dalam keadaan hidup dan ikan yang kecil dilepaskan agar ekosistem ikan tidak rusak. Set net juga menciptakan kerja sama antar nelayan agar tidak terjadi konflik diwilayah penangkapan. Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam keadaan segar dan dijuat dengan harga tinggi.

Sekarang para nelayan banyak menggunakan alat-alat canggih dalam penangkapan ikan. Contoh nya yaitu Sonar, alat ini bermanfaat sebagai penginformasi gelombang suara.

Ada juga GPS, alat ini digunakan ketika berburu ikan dan untuk mengetahui dimana ada banyak ikan. Ada Satelit Oceanografi yang fungsinya hampir sama dengan Sonar. Ada Echo Sounder yang digunakan untuk mencari ikan dan menampilkan keadaan dasar laut.

Informasi yang disampaikaan berupa perpaduan warna. Ada Net Recorder, alat ini bekerja di sepanjang sisi Echo Sounder untuk memberikan informasi khusus ke internet jika ada ikan.

Agar hasil tangkapan tetap segar, perusahaan perikanan Jepang bekerja sama dengan para nelayan untuk memasukkan ikan hiu kecil ke dalam setiap tangki ikan. Jadi ikan yang didalam ditangki berusaha agar hidup, tapi ada juga yang mati dimakan hiu. Ikan yang dalam kondisi hidup dan segar sampai pada konsumen dengan baik. Para nelayan juga

menaati segala peraturan perikanan yang ada dengan baik, seperti menolak illegal fishing

menaati segala peraturan perikanan yang ada dengan baik, seperti menolak illegal fishing

Dokumen terkait