• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neraca Pembayaran Indonesia

Dalam dokumen Triwulan IV Ekonomi 2014 (Halaman 43-47)

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV tahun 2014 surplus sebesar USD 2,4 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan surplus NPI pada triwulan III tahun 2014 yang mencapai USD 6,5 miliar. Memburuknya kinerja NPI tersebut disebabkan oleh menurunnya surplus neraca transaksi finansial. Pada triwulan IV tahun 2014, surplus neraca transaksi finansial sebesar USD 7,8 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus pada triwulan III tahun 2014 yang mencapai USD 13,9 miliar. Di sisi lain, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV tahun 2014 sebesar USD 6,2 miliar (2,8 persen PDB) lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan III tahun 2014 sebesar USD 7,0 miliar (3,0 persen PDB). Sejalan dengan surplus NPI, cadangan devisa Indonesia pada triwulan IV tahun 2014 mencapai USD 111,9 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor.

Kinerja defisit neraca transaksi berjalan yang membaik pada triwulan IV tahun 2014 didorong oleh surplus neraca perdagangan barang sebesar USD 2,4 miliar yang hanya surplus sebesar USD 1,6 miliar pada triwulan III tahun 2014. Surplus neraca perdagangan barang dipengaruhi oleh peningkatan ekspor neraca perdagangan nonmigas pada triwulan III tahun 2014 yang besarnya USD 4,9 miliar atau meningkat USD 0,6 miliar dari surplus pada triwulan sebelumnya. Ekspor nonmigas sebesar USD 36,6 persen mendorong peningkatan surplus neraca perdagangan barang. Pertumbuhan ekspor nonmigas ditopang oleh kenaikan permintaan, khususnya minyak nabati dan produk manufaktur, yang terjadi di saat tren penurunan harga komoditas masih berlanjut.

Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas pada triwulan IV tahun 2014 semakin menyusut dengan defisit sebesar USD 2,8 miliar dibandingkan triwulan III

tahun 2014 dengan defisit sebesar USD 3,1 miliar. Pelemahan harga minyak mentah dunia menyebabkan impor migas menurun dan hanya sebesar USD 9,2 miliar. Defisit neraca perdagangan jasa pada triwulan IV tahun 2014 sebesar USD 2,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada triwulan III tahun 2014 sebesar USD 2,6 miliar. Peningkatan defisit neraca perdagangan jasa dipengaruhi oleh turunnya net penerimaan jasa perjalanan seiring kenaikan jumlah pengeluaran penduduk Indonesia selama berkunjung ke luar negeri.

Di sisi lain, surplus neraca transaksi finansial yang menurun disebabkan oleh menurunnya total aliran masuk dana asing dalam bentuk investasi langsung. Surplus investasi langsung sebesar USD 2,6 miliar lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD 5,9 miliar akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi. Selain itu, meningkatnya pembayaran utang luar negara kepada afiliasinya, terutama di sektor migas, menjadi faktor penyebab utama berkurangnya arus masuk investasi langsung.

Investasi portofolio juga mengalami surplus sebesar USD 1,6 miliar meskipun lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD 7,4 miliar. Penurunan surplus ini dipengaruhi oleh faktor global akibat dinamika geopolitik, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan normalisasi kebijakan The Fed yang terus berlangsung sehingga meningkatkan risiko pembalikan modal asing dari emerging

markets, termasuk Indonesia. Selain itu, adanya faktor domestik terkait kondisi

dalam negeri yang diwarnai pelemahan Rupiah akibat faktor global dan adanya kebutuhan valuta asing yang cukup besar untuk pembayaran kewajiban di akhir tahun.

Sementara itu, surplus investasi lainnya sebesar USD 3,7 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 sebesar USD 1,4 miliar. Hal ini terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembiayaan dalam negeri yang tinggi karena meningkatnya penarikan pinjaman luar negeri korporasi dan penarikan aset penduduk di luar negeri.

Sepanjang tahun 2014, neraca pembayaran Indonesia mengalami surplus sebesar USD 15,2 miliar setelah pada tahun 2013 defisit sebesar USD 7,3 miliar. Defisit transaksi berjalan yang menurun menjadi USD 26,2 miliar dibandingkan dengan defisit pada tahun sebelumnya sebesar USD 29,1 miliar. Perbaikan kinerja tersebut terutama dipengaruhi oleh menurunnya impor akibat melemahnya permintaan domestik sebagai dampak dari moderasi pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi AS turut membantu perbaikan tersebut sehingga mendorong perbaikan ekspor manufaktur. Di sisi lain, kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia mendorong surplus neraca transaksi modal dan finansial sebesar USD 43,6 miliar dari sebelumnya USD 22,0 miliar.

Tabel 10. Neraca Pembayaran Indonesia 2012 – 2014 2012 2013 2014 Q1-Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1-Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1-Q4 I. Transaksi Berjalan -24,4 -6,0 -10,1 -8,6 -4,3 -29,1 -4,2 -8,7 -6,8 -6,2 -26,2 A. Barang 8,7 1,6 -0,6 0,1 4,7 5,8 3,4 -0,1 1,6 2,4 6,9 - Ekspor 187,3 44,9 45,2 43,8 48,1 182,1 43,9 44,5 43,6 43,2 175,3 - Impor -178,7 -43,3 -45,8 -43,7 -43,4 -176,3 -40,6 -44,6 -42,1 -40,9 -168,4 1. Barang Dagangan Umum 6,7 1,3 -0,8 -0,5 4,2 4,1 2,8 -0,5 1,2 2,1 5,4 - Ekspor, fob. 185,3 44,6 45,0 43,2 47,5 180,3 43,4 44,2 43,3 42,9 173,8 - Impor, fob. -178,6 -43,3 -45,8 -43,7 -43,4 -176,2 -40,6 -44,6 -42,1 -40,9 -168,4 1. Nonmigas 12,0 4,1 1,3 2,1 6,3 13,8 5,6 2,7 4,3 4,9 17,2 a. Ekspor 149,8 36,1 37,0 34,7 38,9 146,7 35,8 36,7 36,0 36,6 145,0 b. Impor -137,8 -32,0 -35,8 -32,6 -32,6 -132,9 -30,2 -33,9 -31,7 -31,7 -127,8 2. Migas -5,2 -2,9 -2,1 -2,6 -2,1 -9,7 -2,7 -3,2 -3,1 -2,8 -11,8 a. Ekspor 35,6 8,5 7,9 8,5 8,7 33,6 7,6 7,5 7,3 6,4 28,8 b. Impor -40,8 -11,3 -10,0 -11,2 -10,8 -43,3 -10,3 -10,7 -10,4 -9,2 -40,6 2. Barang Lainnya 2,0 0,4 0,3 0,6 0,6 1,8 0,5 0,3 0,4 0,3 1,5 - Ekspor, fob. 2,0 0,4 0,3 0,6 0,6 1,8 0,5 0,3 0,4 0,3 1,5 - Impor, fob. -41,0 -9,0 -7,0 -7,0 -8,0 -31,0 -6,0 -5,0 -6,0 -6,0 -24,0 B. Jasa - jasa -10,6 -2,6 -3,6 -2,8 -3,1 -12,1 -2,2 -2,9 -2,5 -2,8 -10,5 II. Transaksi Modal 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 III. Transaksi Finansial 24,9 0,0 8,7 4,5 8,7 22,0 7,0 14,3 13,7 7,8 43,6 1. Investasi langsung 13,7 3,3 3,3 5,5 0,2 12,2 2,8 3,7 5,4 2,6 15,3 2. Investasi portofolio 9,2 3,8 3,8 1,5 1,8 10,9 8,7 8,3 7,1 1,6 25,8 3. Investasi lainnya 1,9 -6,9 1,6 -2,2 6,8 -0,8 -4,4 2,3 1,2 3,7 2,7 IV. Total (I + II + III) 0,5 -6,0 -1,4 -4,1 4,4 -7,1 2,8 5,6 6,8 1,6 17,4 V. Selisih Perhitungan Bersih -0,3 -0,6 -1,0 1,5 0,0 -0,2 -0,7 -1,3 -0,4 0,8 -2,1 VI. Neraca Keseluruhan (V + VI) 0,2 -6,6 -2,5 -2,6 4,4 -7,3 2,1 4,3 6,5 2,4 15,2 - Posisi Cadangan Devisa 112,8 104,8 98,1 95,7 99,4 99,4 102,6 107,7 111,2 111,9 111,9 Dalam Bulan Impor 6,2 5,7 5,4 5,2 5,5 5,5 5.7 6.1 6.3 6,4 6,4 Transaksi Berjalan (%PDB) -2,8 -2,7 -4,5 -3,9 -2,1 -3,3 -2,1 -4,1 -3,1 -2,8 -3,0

BOX 1

Perubahan Harga BBM Bersubsidi

Pemerintah memutuskan untuk meningkatkan harga BBM bersubsidi per tanggal 18 November 2014. Harga premium bersubsidi yang semula besarnya Rp 6.500/liter naik menjadi Rp 8.500/liter dan harga solar yang semula besarnya Rp 5.500/liter menjadi Rp 7.500/liter. Kenaikan harga sebesar Rp 2.000/liter ini merupakan respon atas kebijakan pemerintahan baru yang ingin mengalokasikan belanja negara ke arah yang lebih produktif seperti untuk pembangunan infrastruktur atau kesehatan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang telah tersusun selama ini tidak dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena beban subsidi dan birokrasinya terlalu besar. Dalam APBN 2015 yang besarnya Rp 2.039 triliun, anggaran untuk subsidi mencapai Rp 443 triliun dengan Rp 303 triliun dialokasikan untuk BBM. Akibat kenaikan harga BBM, pemerintah juga memutuskan untuk memberikan kompensasi berupa program pemberian bantuan nontunai dalam bentuk simpanan kepada 15,5 juta keluarga miskin dengan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) sebesar Rp 200.000/keluarga/bulan.

Namun, perubahan harga BBM bersubsidi kembali terjadi pada 1 Januari 2015. Penurunan harga minyak dunia mendorong pemerintah menurunkan harga premium menjadi sebesar Rp 7.600/liter dan solar Rp 7.250/liter. Pemerintah juga mengumumkan untuk menghapus subsidi premium atau BBM RON 88 sehingga harga premium akan mengikuti mekanisme pasar. Selain itu, pemerintah akan memberikan subsidi tetap sebesar Rp 1.000/liter untuk solar. Kebijakan ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia.

Kebijakan lain yang diterapkan oleh pemerintah adalah mengeluarkan harga dasar BBM setiap awal bulan. Harga dasar yang terdiri dari biaya perolehan, biaya distribusi, biaya penyimpanan, dan margin untuk badan usaha penyalurnya seperti PT Pertamina (Persero) adalah satu dari beberapa komponen untuk menentukan harga jual BBM ke konsumen. Sebagai contoh, untuk harga premium dihitung dengan harga dasar ditambah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditambah Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), ditambah margin usaha. Sementara harga solar dihitung dengan harga dasar ditambah PPN, ditambah PBBKB, dan dikurangi subsidi Rp 1.000/liter. Dengan kebijakan ini, semakin menurunnya harga minyak dunia hingga berada di bawah USD 50/barel menyebabkan pemerintah untuk mengumumkan harga premium baru sebesar Rp 6.600/liter dan solar sebesar Rp 6.400/liter yang berlaku pada tanggal 19 Januari 2015.

Perubahan harga BBM bersubsidi membingungkan para pengusaha dan industri yang banyak bergantung pada harga BBM. Dengan terjadinya ketidakpastian harga BBM, harga-harga diperkirakan akan tetap berada pada level yang tinggi.

Penurunan harga BBM juga berdampak pada penundaan kenaikan tarif dua golongan listrik rumah tangga (R1) dengan daya 1.300 volt ampere (va) dan 2.200 va oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada bulan Januari 2015. Penundaan ini terjadi seiring dengan penurunan harga BBM jenis solar yang menjadi bahan bakar utama beberapa pembangkit listrik PLN. Selain itu, PT Pertamina juga memutuskan untuk menurunkan harga penjualan Elpiji ukuran 12 kg sebesar Rp 5.700 per tabung menjadi Rp 129.000 per tabung sejak 19 Januari 2015.

BOX 2

Dalam dokumen Triwulan IV Ekonomi 2014 (Halaman 43-47)

Dokumen terkait