KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS)
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA DAN DUNIA
TRIWULAN IV TAHUN 2014
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA DAN DUNIA
KATA PENGANTAR
Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia edisi triwulan IV tahun 2014 merupakan publikasi triwulanan yang diterbitkan oleh Kedeputian Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas.
Publikasi triwulan IV tahun 2014 ini memberikan gambaran dan analisa mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan IV tahun 2014. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV tahun 2014 dan perkembangan ekonomi Indonesia dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, perkembangan investasi dan kerja sama internasional, serta industri dalam negeri.
Sangat disadari bahwa publikasi ini masih jauh dari sempurna dan memerlukan banyak perbaikan dan penyempurnaan. Oleh sebab itu, masukan dan saran yang membangun dari pembaca tetap sangat diharapkan, agar tujuan dari penyusunan dan penerbitan publikasi ini dapat tercapai.
Jakarta, Februari 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... III DAFTAR TABEL ...VII DAFTAR GAMBAR ... X
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA ... 2
Perkembangan Ekonomi Amerika Serikat... 3
Perkembangan Ekonomi Uni Eropa ... 7
Perkembangan Ekonomi Asia ... 9
Perekonomian Tiongkok ... 11
Perekonomian Jepang ... 13
Perekonomian Singapura ... 15
Perkembangan Harga Minyak Mentah Dunia... 17
PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA ... 21
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 21
Indeks Tendensi Konsumen ... 27
Indeks Keyakinan Konsumen ... 28
Perkembangan Konsumsi Semen ... 29
Perkembangan Konsumsi Kendaraan Bermotor ... 30
Neraca Pembayaran Indonesia ... 31
BOX 1: Perubahan Harga BBM Bersubsidi ... 34
BOX 2: Perubahan Tahun Dasar PDB Berbasis SNA 2008 ... 35
PERKEMBANGAN UTANG INDONESIA ... 38
Pembiayaan Utang Pemerintah ... 38
Pagu dan Realisasi Pembiayaan Utang ... 38
Posisi Utang Pemerintah ... 39
Surat Berharga Negara (SBN) ... 41
Pinjaman ... 44
ISU TERKINI PERDAGANGAN INTERNASIONAL ... 47
Isu Terkini ... 47
Indonesia Prioritas Investasi Investor Asia-Pasifik ... 47
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pusat (PTSP Pusat) ... 48
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN ... 49
Perkembangan Ekspor ... 49
Perkembangan Impor ... 52
Perkembangan Neraca Perdagangan ... 55
Kondisi Bisnis Indonesia Triwulan IV Tahun 2014 ... 57
Perkembangan Harga Domestik ... 59
Perkembangan Harga Komoditi Internasional ... 59
PERKEMBANGAN INVESTASI ... 62
Perkembangan Investasi ... 62
Realisasi Investasi Triwulan IV Tahun 2014 ... 63
Realisasi Per Sektor ... 63
Realisasi Per Lokasi ... 65
Realisasi per Negara ... 67
Perkembangan Kerjasama Ekonomi Internasional ... 68
Perkembangan Perjanjian Ekonomi Internasional Indonesia ... 68
Perkembangan Ekspor Impor dalam Kerangka ASEAN-Tiongkok FTA ... 68
Ekspor ASEAN Ke Tiongkok ... 69
Impor ASEAN Dari Tiongkok ... 70
Perkembangan Ekspor dan Impor dalam Kerangka ASEAN FTA ... 71
Ekspor Impor Indonesia- ASEAN ... 71
Perdagangan Antar Negara ASEAN ... 72
PERKEMBANGAN INDIKATOR MONETER ... 74
Perkembangan Moneter Global ... 74
Perkembangan Moneter Domestik ... 74
Inflasi ... 75
Inflasi Global ... 75
Inflasi Domestik ... 75
Nilai Tukar Mata Uang Dunia ... 77
Indeks Harga Saham ... 78
Harga Bahan Pokok Nasional ... 80
Respon Kebijakan Moneter ... 80
SEKTOR PERBANKAN ... 82
KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) ... 84
Laporan Perkembangan Sektor Industri Triwulan IV Tahun 2014 ... 86
Pertumbuhan Industri Pengolahan ... 86
Penanaman Modal Dalam dan Luar Negeri ... 93
Data Penjualan Komoditas Industri Utama ... 98
Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja Industri ...101
Tenaga Kerja Sektor Industri ...102
Promt Manufacturing Index (PMI) ...104
Jumlah Wisatawan ...107
LAMPIRAN ... 110
Lampiran 1: Inflasi Global ...111
Lampiran 2: Inflasi Domestik ...112
Lampiran 2: Inflasi Domestik (lanjutan) ...113
Lampiran 2: Inflasi Domestik (lanjutan) ...114
Lampiran 3: Nilai Tukar Mata Uang ...115
Lampiran 4: Indeks Saham Global ...116
Lampiran 4: Indeks Saham Global (lanjutan) ...117
Lampiran 5: Indeks Harga Komoditas Internasional ...118
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurut IMF ... 2 Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY) ... 5 Tabel 3. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barel) ... 18 Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan IV
Tahun 2014 Menurut Lapangan Usaha (YoY) ... 22 Tabel 5. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2009-2014 Menurut Lapangan
Usaha ... 24 Tabel 6. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan IV
Tahun 2014 (persen) Menurut Jenis Pengeluaran (YoY) ... 25 Tabel 7. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2009-2014 (persen) Menurut
Jenis Pengeluaran ... 26 Tabel 8. Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan III Tahun
2014 Menurut Sektor dan Variabel Pembentuknya ... 27 Tabel 9. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Juni 2014 – Januari 2015 ... 28 Tabel 10. Neraca Pembayaran Indonesia 2012 – 2014 ... 33 Tabel 11. Perkembangan Pembiayaan Utang Pemerintah 2009-2013 (Triliun
Rupiah) ... 38 Tabel 12. Pagu Dan Realisasi Pembiayaan Utang Tahun 2014 (triliun Rupiah) ... 39 Tabel 13. Posisi Utang Pemerintah 2009-2014 ... 40 Tabel 14. Persentase Pinjaman dan SBN Terhadap Total Utang Pemerintah 2009
–2014 ... 40 Tabel 15. Posisi Outstanding Surat Berharga Negara (SBN) 2009 –2014 (triliun
Rupiah) ... 42 Tabel 16. Realisasi Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Tahun 2014 (Neto)
(juta Rupiah) ... 43 Tabel 17. Posisi Kepemilikan SBN Domestik Tahun 2014 (Triliun Rupiah) ... 44 Tabel 18. Realisasi Pembiayaan Utang Melalui Pinjaman 2009- 2014 (Triliun
Rupiah) ... 45 Tabel 19. Perkembangan Ekspor Triwulan IV Tahun 2014 ... 49 Tabel 20. Perkembangan Nilai Ekspor Non Migas Berdasarkan Golongan Barang
Terpilih Triwulan IV Tahun 2014 ... 50 Tabel 21. Perkembangan Volume Ekspor Non Migas Berdasarkan Golongan
Barang Terpilih Triwulan IV Tahun 2014 ... 51 Tabel 22. Perkembangan Ekspor Non Migas ke Negara Tujuan Utama Triwulan IV
Tabel 23. Perkembangan Impor Triwulan IV Tahun 2014 ... 53
Tabel 24. Perkembangan Impor Non Migas Menurut Golongan Barang Terpilih Triwulan IV Tahun 2014 ... 54
Tabel 25. Negara Utama Asal Impor Triwulan IV Tahun 2014 ... 54
Tabel 26. Neraca Perdagangan Triwulan IV Tahun 2014 ... 55
Tabel 27. Neraca Perdagangan Indonesia-Tiongkok ... 56
Tabel 28. Neraca Perdagangan Indonesia-Jepang ... 56
Tabel 29. Neraca Perdagangan Indonesia-Amerika... 57
Tabel 30. Neraca Perdagangan Indonesia-India ... 57
Tabel 31. Indeks Tendensi Bisnis Menurut Sektor Triwulan IV 2014 ... 58
Tabel 32. Harga dan Inflasi Komoditas Tertentu ... 59
Tabel 33. Perkembangan Harga untuk Komoditas Terpilih ... 59
Tabel 34. Pertumbuhan dan Share PMTB Triwulan IV- 2014 (persen) ... 62
Tabel 35. Realisasi PMA PMDN Tahun 2007-2014 ... 63
Tabel 36. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMDN dan PMA Triwulan IV- 2014 Berdasar Sektor... 64
Tabel 37. Lima Besar Sektor Realisasi Investasi Triwulan IV Tahun 2014... 65
Tabel 38. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMDN Triwulan IV Tahun 2014 Berdasarkan Lokasi (Rp Miliar) ... 65
Tabel 39. Pertumbuhan dan Share Realisasi Investasi PMA Triwulan IV Tahun 2014 Berdasarkan Lokasi (USD Juta)... 66
Tabel 40. Lima Besar Negara Asal Realisasi Investasi PMA Triwulan IV Tahun 2014 ... 67
Tabel 41. Status Perjanjian Ekonomi Internasional ... 68
Tabel 42. Ekspor ASEAN ke Tiongkok ... 69
Tabel 43. Impor ASEAN dari Tiongkok ... 70
Tabel 44. Ekspor dan Impor Indonesia-ASEAN ... 71
Tabel 45. Perdagangan Antar Negara ASEAN Tahun 2011-2013 ... 72
Tabel 46. Impor Bahan Baku Industri ... 92
Tabel 47. Impor Indonesia Menurut Golongan Barang ... 92
Tabel 48. Tingkat Inflasi Global (YoY) ...111
Tabel 49. Tingkat Inflasi ...112
Tabel 50. Inflasi Berdasarkan Komponen (YoY) ...112
Tabel 52. Inflasi Berdasarkan Kelompok Pengeluaran (YoY) ...112
Tabel 53. Perkembangan Indeks Nilai Tukar ...115
Tabel 54. Perkembangan Indeks Saham Global ...116
Tabel 55. Indeks Harga Komoditas Internasional ...118
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY) ... 4
Gambar 2. Proyeksi Pertumbuhan GDP untuk Negara Berkembang Asia ... 10
Gambar 3. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel) ... 19
Gambar 4. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2000-2014 (persen) ... 21
Gambar 5. Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan IV Tahun 2014 ... 27
Gambar 6. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Januari 2014 – Januari 2015 ... 29
Gambar 7. Perkembangan Konsumsi Semen Indonesia Oktober 2013 – Desember 2014 ... 30
Gambar 8. Perkembangan Konsumsi Mobil Oktober 2013-Desember 2014 ... 31
Gambar 9. Nilai dan Volume Ekspor Hingga Desember 2014 ... 49
Gambar 10. Nilai dan Volume Impor Hingga Desember 2014 ... 52
Gambar 11. Indeks Tendensi Bisnis sampai dengan Triwulan IV 2014 ... 58
Gambar 12. Perkembangan Kinerja Bank Umum di Indonesia ... 82
Gambar 13. Perkembangan Dana Pihak Ketiga dan Kredit di Indonesia ... 83
Gambar 14. Perkembangan Kredit Berdasarkan Tujuan Pemakaiannya ... 83
Gambar 15. Target dan Realisasi Pemberian KUR ... 84
Gambar 16. Pertumbuhan Industri Pengolahan(YoY, dalam Persen) ... 86
Gambar 17. Tingkat Upah Minimum Provinsi Tahun 2013-2015 ... 87
Gambar 18. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Tahun 2014 (Persen) ... 88
Gambar 19. Proporsi Enambelas Subsektor Industri Pengolahan Tahun 2014 ... 89
Gambar 20. Ekspor Produk Industri ... 90
Gambar 21. Realisasi Investasi PMA dan PMDN Sektor Industri Tahun 2010-2014 ... 93
Gambar 22. Realisasi Proyek Investasi PMA Sektor Industri Tahun 2014 ... 94
Gambar 23. Realisasi Investasi PMA Sektor Industri Tahun 2014 ... 95
Gambar 24. Realisasi Proyek Investasi PMDN Sektor Industri Tahun 2014 ... 96
Gambar 25. Realisasi Investasi PMDN Sektor Industri Tahun 2014 ... 97
Gambar 26. Penjualan Mobil Di Indonesia Januari-Desember 2014 ... 98
Gambar 27. Penjualan Motor Di Indonesia Januari-Desember 2014 ... 99
Gambar 29. Kredit Modal Kerja Dan Investasi Tahun 2014 ...101
Gambar 30. Pertumbuhan Jumlah Tenaga Kerja Sektor Industri Tahun 2014 ...102
Gambar 31. Tenaga Kerja Berdasarkan Lapangan Pekerjaan Utama Agustus 2014 ...103
Gambar 32. Indikator Pemebentuk PMI Triwulan IV Tahun 2014...105
Gambar 33. Jumlah Wisatawan Mancanegara Tahun 2013 dan 2014 ...107
Gambar 34. Jumlah Wisatawan Mancanegara Menurut Kebangsaan Hingga Triwulan IV Tahun 2014 ...108
Gambar 35. Tingkat Hunian Di Hotel Bintang 3-5 Jakarta Dan Bali (%) Tahun 2013 dan 2014...109
Gambar 36. Inflasi YoY 66 Kota Oktober-Desember 2014...113
Gambar 37. Inflasi MtM 66 Kota Oktober-Desember 2014 ...114
Gambar 38. Perkembangan Index Nilai Tukar (1 Januari 2004 = 100) ...115
Gambar 39. Perkembangan Indeks Saham Global ...117
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA
Pada bulan Januari 2015, IMF mengkoreksi turun proyeksi perekonomian dunia tahun 2015 sebesar 0,3 persen, yang tumbuh menjadi sebesar 3,5 persen pada tahun 2015. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,6 persen (YOY) pada triwulan IV
tahun 2014, melambat dibandingkan triwulan IV tahun 2013 yang tumbuh sebesar 5,0 persen (YoY).
Perekonomian 28 negara Uni Eropa (EU28) diperkirakan tumbuh sebesar 1,3 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,0 persen (YoY).
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA
Pemulihan ekonomi dunia pada penghujung tahun 2014, didorong oleh kelanjutan penurunan harga minyak mentah. Sentimen positif bagi perbaikan ekonomi tersebut juga diimbangi dengan faktor negatif seperti rendahnya ekspektasi terhadap pertumbuhan investasi jangka menengah pada advanced economies maupun
emerging economies. Kondisi ekonomi dunia tetap rapuh pasca krisis global,
sehingga potensi pertumbuhan lebih rendah akan terjadi di banyak negara. Pertumbuhan ekonomi negara maju diperkirakan mengalami sedikit perbaikan. Hal ini ditandai dengan penurunan tingkat pengangguran, dan apresiasi mata uang dolar Amerika Serikat, serta depresiasi mata uang Euro dan Yen. Selanjutnya, penyesuaian fiskal yang lebih moderat dan kebijakan pelonggaran moneter juga mendukung pemulihan di negara-negara tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi negara berkembang masih cenderung melambat, dimana potensi pertumbuhan rendah akan terjadi di banyak negara Asia. Hal ini disebabkan oleh lambatnya investasi di Tiongkok, pelemahan permintaan eksternal India, peningkatan ketegangan geopolitik Rusia, dan penurunan ekspor barang komoditas.
Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurut IMF
Realisasi Perkiraan
Pada bulan Januari 2015, IMF mengkoreksi turun proyeksi perekonomian dunia tahun 2015 sebesar 0,3 persen, yang tumbuh menjadi sebesar 3,5 persen pada tahun 2015. Sedangkan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2016 tetap sebesar 3,7 persen. Proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi negara maju pada tahun 2015 dikoreksi naik sebesar 0,1 persen, menjadi sebesar 2,4 persen, dan tahun 2016 tidak mengalami perubahan tetap tumbuh sebesar 2,4 persen. Proyeksi pertumbuhan perekonomian negara berkembang dikoreksi turun sebesar 0,6 persen pada tahun 2015, dan 0,5 persen pada tahun 2016, menjadi masing-masing tumbuh sebesar 4,3 persen, dan 4,7 persen.
fiskal atau moneter untuk menopang aktivitas ekspor terbatas. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Amerika Latin dan Karibia pada tahun 2015 dan 2016 dikoreksi turun sebesar 0,9 persen dan 0,5 persen, menjadi sebesar 1,3 persen pada tahun 2015, dan 2,3 persen tahun 2016.
Perekonomian di kawasan Sub Sahara Afrika cenderung mengalami perlambatan. Hal ini tercermin melalui turunnya harga minyak, dan komoditas lainnya menyebabkan pelemahan ekonomi diperkirakan masih terus berlanjut, dan berdampak nyata pada terms of trade, pendapatan riil, serta menjadi beban berat bagi perbaikan ekonomi jangka menengah. Proyeksi IMF mengenai pertumbuhan Sub Sahara Afrika dikoreksi turun 0,9 persen pada tahun 2015 dan 0,8 persen pada tahun 2016, menjadi sebesar 4,9 persen pada tahun 2015, dan 5,2 persen tahun 2016.
Perkembangan Ekonomi Amerika Serikat
Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY)
Sumber: Bureau of Economic Analysis, 2014
Pertumbuhan PDB riil pada triwulan IV tahun 2014 tercermin dari kontribusi positif pada pengeluaran konsumsi pribadi, ekspor, investasi tetap non hunian, investasi tetap hunian, investasi persediaan swasta belanja negara dan pemerintah daerah, serta kontribusi negatif pengeluaran pemerintah pusat dan impor. Departemen Perdagangan Amerika Serikat merilis konsumsi tumbuh 4,3 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014, setelah tumbuh 3,7 persen (YoY) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pengeluaran konsumen pada triwulan IV tahun 2014 menjadi yang tercepat sejak tahun 2006, menyumbang dua pertiga dari output Amerika Serikat. Peningkatan konsumsi Amerika Serikat sangat penting dalam meredam perlambatan permintaan eksternal. Konsumsi barang mengalami pertumbuhan 5,4 persen (YoY), dan konsumsi jasa tumbuh melambat 3,7 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014. Barang tahan lama meningkat cukup signifikan 7,4 persen (YoY), dibandingkan triwulan IV tahun 2013 sebesar 5,7 persen (YoY).
sebesar 1,7 persen di triwulan IV tahun 2014, setelah terkontraksi -8,6 persen (YOY) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Begitu pula dengan belanja pemerintah daerah juga mengalami tumbuh sebesar 1,3 persen (YOY), sedangkan triwulan IV tahun 2013 hanya tumbuh sebesar 0,6 persen (YOY).
Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (YoY)
2013 2014
Sumber: Bureau of Economic Analysis, 2014
Investasi Amerika Serikat mengalami pertumbuhan sebesar 7,4 persen (YoY) dibandingkan pada triwulan IV tahun 2013 yang tumbuh 3,8 persen. Hal ini disebabkan karena berakhirnya program quantitative easing setelah mendorong perbaikan dalam pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Berdasarkan laporan Bureau
Economic Analysis, pertumbuhan investasi mencerminkan peningkatan
pertumbuhan investasi tetap hunian, invetasi tetap non hunian, investasi struktur non hunian, dan investasi produk kekayaan intelektual.Pada tahun 2015, The Fed akan melaksanakan kebijakan tight monetary policy, seiring dengan penurunan harga minyak dan penguatan mata uang dolar. Rencana The Fed menaikkan suku bunga untuk menjaga momentum perekonomian Amerika Serikat yang terus membaik, dan tren penurunan tingkat pengangguran.
penumpang). Impor barang dan jasa meningkat USD 5,3 miliar menjadi USD 241,4 miliar, dengan peningkatan pada impor barang yang disebabkan oleh kenaikan pada industri penyedia bahan baku. Sedangkan impor jasa berupa peningkatan biaya untuk transportasi dan wisata (untuk semua tujuan termasuk pendidikan).
Sepanjang tahun 2014, neraca perdagangan Amerika Serikat defisit sebesar USD 505,0 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2013 sebesar USD 467,4 miliar. Kinerja ekspor barang dan jasa selama tahun 2014 mencapai sebesar USD 2.345,4 miliar, meningkat sebesar USD 65,2 miliar dari tahun 2013. Peningkatan ekspor ini disebabkan oleh kenaikan ekspor barang modal, barang konsumsi, jasa keuangan, jasa wisata (semua tujuan termasuk pendidikan), dan pendapatan dari hak kekayaan intelektual. Sejalan dengan kinerja ekspor, impor barang dan jasa juga mengalami kenaikan hingga mencapai USD 2.850,5 miliar, atau USD 93.9 miliar lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya impor barang modal, barang konsumsi, jasa wisata (untuk semua tujuan termasuk pendidikan), jasa angkutan (termasuk jasa pelabuhan dan tarif penumpang), dan jasa bisnis lainnya.
Berdasarkan Bureau of Labor Statistics, jumlah pengangguran hingga bulan Desember 2014 turun sebesar 383.000 orang menjadi 8,7 juta orang. Dalam 12 bulan terakhir tingkat pengangguran turun 1,1 persen atau sebesar 1,7 juta orang. Kenaikan jumlah lapangan kerja baru tersebar luas di berbagai sektor, diantaranya pada bisnis jasa dan profesional, konstruksi, jasa makanan dan minuman, manufaktur, serta kesehatan. Kondisi ini menandai momentum rendahnya tingkat pengangguran sejak Oktober tahun 2008. Sementara, penciptaan lapangan kerja hingga 240.000 orang dalam 11 bulan terakhir merupakan yang masa terlama sejak 1994. Penurunan tingkat pengangguran diharapkan akan berimbas pada penguatan perekonomian dalam negeri dalam menghadapi perlambatan permintaan global.
Perkembangan Ekonomi Uni Eropa
Berdasarkan publikasi Eurostat, perekonomian 28 negara Uni Eropa (EU28) diperkirakan tumbuh sebesar 1,3 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,0 persen (YoY). Perekonomian negara-negara di kawasan Eropa (EU18, yaitu kawasan yang negaranya memakai Euro sebagai mata uang) diperkirakan tumbuh sebesar 0,9 persen (YoY), sedikit menguat dibandingkan triwulan IV tahun 2013 yang tumbuh sebesar 0,4 persen (YoY). Pada triwulan IV tahun 2014, Kawasan Eropa diperkirakan tumbuh sebesar 0,3 persen (QtQ), sedikit menguat dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 0,2 persen (QtQ).Kondisi yang sama juga terjadi di kawasan Uni Eropa dengan perekonomian yang diperkirakan tumbuh sebesar 0,4 persen (QtQ), sedikit menguat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,3 persen (QtQ). Pemulihan ekonomi Eropa didorong oleh penguatan ekonomi Jerman karena perbaikan kinerja sektor industri, kenaikan permintaan domestik dan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, penolakan perpanjangan enam bulan paket bailout sebesar EUR 240 miliar oleh pemerintah Yunani, dan krisis nilai tukar Rusia dapat memberi sentimen negatif bagi perekonomian Eropa. Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengeluarkan langkah stimulus lanjutan melalui program quantitative easing dengan membeli obligasi pemerintah sebesar EUR 1 triliun hingga bulan September 2016. Kebijakan ini dilakukan mengingat permasalahan dasar stagnasi pertumbuhan, tingkat utang yang tinggi, dan kekakuan pasar tenaga kerja di sebagian besar wilayah Eropa belum sepenuhnya teratasi.
Berdasarkan publikasi Eurostat, Estonia dan Hungaria diperkirakan menjadi negara di kawasan Eropa yang mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan IV tahun 2014, yaitu sebesar 1,1 persen (QtQ) dan 0,9 persen (QtQ). Sementara itu perekonomian Jerman diperkirakan menguat sebesar 0,7 persen (QtQ), dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh hingga 0,1 persen. Siprus menjadi negara yang diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi paling dalam pada triwulan IV tahun 2014 sebesar -0,7 persen (QtQ). Perekonomian Yunani dan Finlandia diperkirakan juga mengalami kontraksi cukup dalam masing-masing sebesar -0,2 persen (QtQ), dan -0,3 persen (QtQ). Sedangkan Italia diperkirakan mengalami stagnasi dengan tidak mengalami pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2014, dibandingkan triwulan sebelumnya. Perekonomian Spanyol dan Portugal berada dalam tren positif dengan tumbuh masing-masing 0,2 persen menjadi sebesar 0,7 persen (QtQ), serta 0,5 persen (QtQ).
tahun sebelumnya. Produksi industri menurun disebabkan oleh penurunan produksi barang modal sebesar 0,9 persen, barang setengah jadi sebesar 0,6 persen, serta produksi energi turun hingga 4,8 persen dibandingkan November 2013. Sementara itu, produksi sektor industri yang melemah di kawasan Uni Eropa diakibatkan oleh penurunan barang modal sebesar 0,4 persen, produksi energi sebesar 4,4 persen, serta barang setengah jadi yang cenderung stabil dibandingkan bulan November 2013.
Perekonomian Eropa secara umum mengalami surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus 2014. Kawasan Eropa mengalami surplus sebesar EUR 9,2 miliar, meningkat dibandingkan bulan Agustus 2013 yang besarnya EUR 7,3 miliar. Pada Agustus 2014, Negara-negara Uni Eropa juga mengalami surplus sebesar EUR 8,9 miliar, meningkat signifikan dibandingkan bulan Agustus 2013 yang defisit sebesar EUR 2,3 miliar. Sejalan dengan tren positif neraca perdagangan Eropa, volume perdagangan ritel pada Desember 2014 di kawasan Eropa meningkat sebesar 1,9 persen (YoY) dan 2,5 persen (YoY) di Uni Eropa dibandingkan Agustus 2013. Hal ini disebabkan oleh kenaikan sektor non makanan sebesar 3,6 persen. Sementara, bahan bakar kendaraan bermotor dan sektor makanan, minum, dan tembakau turun masing-masing sebesar 0,2 persen. Di sisi lain, peningkatan volume perdagangan Uni Eropa diakibatkan oleh sektor non makanan naik sebesar 4,9 persen, sektor makanan, minuman, dan tembakau bergerak stabil, serta bahan bakar kendaraan bermotor turun sebesar 0,5 persen.
Perlambatan perekonomian negara-negara di kawasan Eropa tidak secara langsung menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran. Tingkat pengangguran di kawasan Eropa pada bulan Desember 2014 mencapai 11,4 persen (YoY), menurun dibandingkan bulan Desember 2013 sebesar 11,8 persen (YoY). Tingkat pengangguran pada bulan Desember 2014 merupakan yang terendah sejak bulan Agustus 2012. Sedangkan, tingkat pengangguran di Uni Eropa pada bulan Desember tahun 2014 sebesar 9,9 persen, menurun dibandingkan bulan Desember tahun 2013 sebesar 10,6 persen. Tingkat pengangguran Uni Eropa nilai dibawah 10,0 persen merupakan pertama kali sejak bulan Oktober 2011. Eurostat mengestimasi jumlah tenaga kerja laki-laki dan perempuan di Uni Eropa sebanyak 24.056 juta orang, dimana 18.129 juta orang berada di kawasan Eropa. Jumlah orang yang menganggur di Uni Eropa turun sebesar 1.710 juta orang, dan 693.000 di kawasan Eropa jika dibandingkan dengan bulan Desember 2013. Tingkat pengangguran tertinggi terdapat di Yunani (25,8 persen pada Oktober 2014), dan Spanyol (23,7 persen). Sementara itu tingkat pengangguran paling rendah adalah Jerman (4,8 persen), dan Austria (4,9 persen).
Proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi Uni Eropa pada bulan Januari 2015 dikoreksi turun 0,2 persen menjadi sebesar 1,2 persen pada tahun 2015, dan turun 0,3 persen menjadi sebesar 1,7 persen pada tahun 2016. Pertumbuhan perekonomian cenderung tidak merata di seluruh kawasan Eropa. Hal ini mencerminkan fragmentasi keuangan, neraca sektor publik dan swasta yang terganggu, serta tingkat pengangguran yang masih tinggi di beberapa negara. Di sisi lain, kelanjutan pelemahan investasi mencerminkan dampak perlambatan pertumbuhan di pasar negara berkembang di sektor ekspor. Meskipun demikian, penurunan harga minyak dunia, kinerja kredit yang membaik, kebijakan suku bunga rendah di beberapa negara utama, kebijakan fiskal yang lebih netral, dan depresiasi mata uang Euro dapat mendorong pemulihan ekonomi.
Perkembangan Ekonomi Asia
berkelanjutan, sehingga menyebabkan perlambatan ekonomi negara berkembang Asia yang sebagian besar menjadi negara net import minyak.
Gambar 2. Proyeksi Pertumbuhan GDP untuk Negara Berkembang Asia
Sumber: Asian Development Bank, 2015
ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur terkoreksi turun sebesar 0,1 persen pada tahun 2014, dan 0,2 persen tahun 2015 masing-masing sebesar 6,6 persen, dan 6,5 persen. Kondisi ini disebabkan oleh perlambatan ekonomi Tiongkok yang terus berlanjut, serta koreksi di sektor properti dan sektor terkait lainnya. Meskipun demikian, tingkat konsumsi yang tetap kuat dan ekspansi sektor padat karya, dan membaiknya pasar tenaga kerja Tiongkok diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan. Sementara itu, estimasi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan cenderung mendatar tetap sebesar 5,4 persen pada tahun 2014. Pada tahun 2015, prediksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan tetap sebesar 6,1 persen. Perekonomian kawasan Asia Selatan diperkirakan semakin membaik disebabkan oleh pertumbuhan sektor jasa yang berkelanjutan, dan kemajuan reformasi sosial India dibidang ekonomi untuk mendukung investasi. Disisi lain, pertumbuhan ekonomi di negara Bangladesh, Maladewa, dan Sri Lanka diperkirakan semakin menguat, serta perbaikan bertahap indikator ekonomi makro Pakistan.
Asia Tengah, mengalami perlambatan ekonomi yang ditandai penurunan ekspor minyak dan besi baja. Meskipun demikian, perbaikan sektor konstruksi di Tajikistan dan kenaikan ekspor gas alam di negara Turkmenistan diperkirakan dapat menahan laju perlambatan ekonomi di kawasan Asia Tengah.
Kawasan ASEAN mengalami penurunan estimasi pertumbuhan sebesar 0,2 persen, yaitu menjadi 4,4 persen pada tahun 2014. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara dikoreksi turun sebesar 0,2 persen, menjadi sebesar 5,1 persen. ADB memangkas pertumbuhan Asia Tenggara karena perlambatan ekonomi melanda sebagian besar negara di kawasan tersebut. Indonesia dan Thailand sebagai perekonomian terbesar di kawasan ASEAN telah membawa pertumbuhan regional melemah dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah hingga sebesar 5,0 persen pada triwulan IV tahun 2014. Penguatan konsumsi masyarakat, investasi tetap bruto, dan net export berkontribusi lebih sedikit terhadap pertumbuhan PDB. Selain itu, perbaikan investasi, dan pasar ekspor semakin tak menentu. Sementara itu, perekonomian Thailand masih melambat seiring berakhirnya kekacauan politik pada triwulan III tahun 2014. Kinerja ekspor masih melemah, dan perbaikan permintaan domestik terjadi secara bertahap. Di sisi lain, perlambatan ekonomi juga terjadi di negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
Perekonomian Tiongkok
Sepanjang tahun 2014, Tiongkok dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang rumit, dan tugas berat dalam mempertahankan pembangunan dalam negeri, reformasi serta stabilitas. Pemerintah Tiongkok pada tahun 2014 fokus merebut momentum pertumbuhan dengan melaksanakan reformasi lebih mendalam, dan inovasi kontrol ekonomi makro. Dengan demikian, perekonomian dalam negeri Tiongkok menunjukkan momentum pertumbuhan yang baik, stabil, struktur ekonomi dioptimalkan, peningkatan kualitas dan penghidupan masyarakat yang lebih baik. Perekonomian Tiongkok secara bertahap masih melambat seiring dengan reformasi struktural yang kembali dilanjutkan. Sepanjang bulan Oktober hingga Desember 2014, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 7,4 persen (YoY), sedikit menguat dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,3 persen (YoY).
dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam periode waktu yang sama, pengeluaran konsumsi akhir menyumbang 51,2 persen dari pertumbuhan PDB, dan tumbuh sebesar 3,0 persen (YoY) dibandingkan tahun 2013.Kesenjangan pendapatan antara rumah tangga perkotaan dan pedesaan semakin menyempit. Pada tahun 2014, pertumbuhan riil dari pendapatan tunai per kapita rumah tangga pedesaan adalah 2,4 persen lebih tinggi dari disposable income per kapita rumah tangga perkotaan. Sementara, pendapatan per kapita rumah tangga di perkotaan adalah 2,8 kali dari rumah tangga pedesaan atau berkurang 0,1 persen (YoY) dari tahun sebelumnya. Demikian pula dengan konsumsi energi per unit PDB, menurun sebesar 4,8 persen (YoY).
Investasi aset tetap Tiongkok pada tahun 2014 tumbuh 15,7 persen (YoY). Sementara itu, anggaran pemerintah dan pinjaman dalam negeri juga mengalami kenaikan masing-masing sebesar 14,1 persen (YoY), dan 8,6 persen (YoY). Berbeda dengan investasi lainnya, investasi asing mengalami penurunan hingga 6,3 persen (YoY). Kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok yang fokus pada perbaikan konsumsi dalam negeri melalui penyaluran kredit, untuk mendorong pertumbuhan UMKM dan sektor pertanian. Sektor properti Tiongkok yang sempat terpuruk akibat perlambatan ekonomi, secara bertahap mulai mengalami perbaikan. Sepanjang tahun 2014, penjualan bangunan perumahan dan bangunan komersial turun masing-masing sebesar 7,8 persen (YoY) dan 6,3 persen (YoY). Meskipun demikian, total investasi di sektor real estate selama tahun 2014 sebesar CNY 9.503,6 miliar, atau tumbuh sebesar 9,9 persen (YoY) diharapkan dapat memberikan sentimen positif dalam perbaikan kinerja sektor properti Tiongkok.
Pelemahan aktivitas manufaktur Tiongkok kembali terjadi, baik penurunan ouput dan permintaan baru pada akhir tahun 2014. Pada bulan Desember 2014, data HSBC menunjukkan Purchasing Manager Index (PMI) mengalami penurunan menjadi 49,6 dari sebesar 50,4 pada bulan Oktober 2014. Hal ini disebabkan volume bisnis melemah akibat perlambatan permintaan domestik, dan kinerja ekspor. Pelemahan volume bisnis menyebabkan produsen mengurangi produksi dalam dua bulan terakhir, dan pengurangan jumlah tenaga kerja. Sejalan dengan itu, penurunan harga saham dalam lima bulan berturut-turut, dan tingkat pembelian sejak bulan April 2014. National Bureau of Statistic China juga merilis data PMI sebesar 50,1 lebih rendah dibandingkan bulan November 2014 sebesar 50,3. Pemerintah Tiongkok mempertahankan pertumbuhan yang stabil pada sektor manufaktur. Beberapa upaya pemerintah untuk meredam perlambatan diantaranya adalah mempercepat proyek infrastruktur berupa pembangunan bandara dan jalur rel kereta api, rumah murah, serta pemangkasan pajak untuk perusahaan skala kecil. Pada kesempatan yang sama, bank sentral Tiongkok juga memangkas giro wajib minimum perbankan, sehingga mendorong penyaluran kredit bagi sektor pertanian, UMKM, dan eksportir.
Pada Desember 2014, IMF tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2014 yaitu tumbuh sebesar 7,4 persen (YoY). Sementara, perekonomian Tiongkok pada tahun 2015 terkoreksi turun sebesar 0,3 persen atau tumbuh 6,8 persen (YoY). IMF berpendapat pemerintah Tiongkok akan melaksanakan beberapa kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi seperti, keringanan pajak untuk usaha kecil dan menengah, belanja fiskal dan infrastruktur dipercepat, dan pemotongan target rasio wajib minimum. Pada tahun 2015, IMF memperkirakan Pemerintah Tiongkok akan melaksanakan kebijakan untuk antisipasi cepatnya pertumbuhan kredit dan investasi. Asian Development Outlook
memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun 2014 terkoreksi turun sebesar 0,1 persen atau sebesar 7,4 persen (YoY). ADB berpendapat kebijakan stimulus terus berlanjut untuk menjaga agenda reformasi, dan menjaga momentum pertumbuhan dari perdagangan luar negeri. Sementara, perekonomian Tiongkok tahun 2015 juga dikoreksi turun sebesar 0,2 persen, menjadi sebesar 7,2 persen (YoY). ADB menyarankan pemerintah Tiongkok untuk melaksanakan kebijakan fiskal yang proaktif, dan kebijakan moneter yang akomodatif.
Perekonomian Jepang
persen pada bulan Oktober 2015. Kebijakan kenaikan pajak penjualan dilaksanakan untuk membayar tingkat utang pemerintah Jepang yang besar, dimana merupakan terburuk diantara negara-negara maju. Sedangkan kebijakan reformasi struktural yang dilakukan pemerintah Jepang salah satunya adalah dengan merelaksasi kekakuan pasar tenaga kerja.
Berdasarkan publikasi Cabinet Office, perekonomian Jepang pada triwulan IV tahun 2014 diperkirakan tumbuh sebesar 2,2 persen (YoY). Setelah terkontraksi dua triwulan berturut-turut, perekonomian Jepang pada triwulan IV tahun 2014 mengalami pertumbuhan positif. Meskipun demikian, pertumbuhan melaju lebih rendah dari proyeksi ekonom dan analis. Perekonomian Jepang yang masih melemah disebabkan oleh kontraksi tingkat konsumsi rumah tangga, dan belanja modal perusahaan. Selain itu, dampak pemberlakuan kenaikan pajak penjualan, dan kekakuan tingkat upah dapat menghambat pemulihan ekonomi Jepang. Seiring dengan perbaikan ekonomi Jepang, tingkat pengangguran mengalami penurunan. Tingkat pengangguran Jepang pada bulan Desember 2014 cenderung menurun sebesar 3,4 persen dibandingkan bulan September 2014 sebesar 3,6 persen. Namun demikian, jumlah pengangguran secara tahunan menurun hingga sebesar 6,7 persen (YoY) atau menjadi sebesar 2,1 juta orang dibandingkan bulan Desember 2013.
Pemerintah Jepang berada dalam posisi sulit, kenaikan pajak penjualan untuk mengurangi beban utang pemerintah semakin membuat perekonomian Jepang terpuruk. Di sisi lain, kebijakan Abenomics yang pro pengeluaran semakin menambah utang pemerintah. Oleh karena itu, perdana menteri Shinzo Abe memutuskan penundaan kenaikan pajak penjualan hingga bulan April 2016, dan mencari opsi kebijakan fiskal lain untuk memulihkan perekonomian. Sementara itu,
Bank of Japan meneruskan kebijakan yang telah dilaksanakan sejak bulan Oktober
2014 melalui stimulus moneter untuk mendorong perbaikan ekonomi dari dampak kenaikan pajak penjualan. Bank of Japan akan meningkatkan pembelian obligasi tahunan pemerintah menjadi sebesar ¥ 80,0 triliun dari sebelumnya ¥ 50,0 triliun,
dan invesment trust real estate Jepang menjadi sebesar ¥ 90,0 miliar, setelah
sebelumnya ¥ 30,0 miliar. Stimulus moneter dilakukan agar memperluas basis moneter, dan mempertahankan pelonggaran sehingga mencapai target inflasi 2 persen.
dibandingkan bulan Desember 2013. Depresiasi mata uang Yen dan penjualan otomotif Jepang mendorong kinerja ekspor membaik. Di lain pihak, impor juga mengalami perlambatan dengan tumbuh sebesar 1,9 persen (YoY), dibandingkan periode waktu yang sama tahun sebelumnya. Kinerja impor yang menguat disebabkan oleh kenaikan impor gas alam. Peningkatan dalam impor bahan bakar fosil untuk mengimbangi kebutuhan energi akibat penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir pasca gempa dan tsunami pada bulan Maret 2011. Defisit neraca perdagangan tahunan Jepang juga disebabkan oleh pelemahan nilai Yen.Depresiasi mata uang dapat menarik pembeli asing dan meningkatkan keuntungan eksportir dengan pendapatan dari luar negeri. Namun, mata uang yang terdepresiasi juga mengakibatkan harga impor semakin mahal dan mempengaruhi neraca perdagangan. Pada bulan Desember 2014, mata uang Yen terdepresiasi terhadap Dolar menjadi sebesar ¥ 102,3/USD.
Pada Desember 2014, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang pada tahun 2015 dari 0,8 persen menjadi 0,6 persen. Proyeksi pertumbuhan Jepang pada tahun 2016 dari IMF turun dari sebesar 0,9 persen menjadi 0,8 persen. Pada triwulan III tahun 2014, perekonomian Jepang sempat mengalami resesi. Permintaan domestik sektor swasta tidak kunjung membaik seiring penundaan pemberlakuan pajak penjualan. IMF menyarankan pemerintah Jepang melaksanakan
easy monetary policy, dan melanjutkan penundaan pemberlakuan pajak penjualan
untuk mendorong aktivitas perekonomian, kenaikan harga minyak, dan depresiasi mata uang Yen. IMF memproyeksi penguatan perekonomian Jepang serta pertumbuhan diatas rata-rata pada tahun 2015 dan 2016. Sementara itu, ADB juga menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi Jepang pada 2014 menjadi 0,2 persen, setelah sebelumnya diprediksikan 1,0 persen. Sebaliknya, pada proyeksi ADB pertumbuhan ekonomi Jepang tahun 2015 naik 0,1 persen menjadi sebesar 1,5 persen. ADB memperkirakan perbaikan secara bertahap konsumsi swasta, dan kenaikan pengeluaran pemerintah, meskipun stagnasi pertumbuhan investasi masih terjadi. Pada tahun 2015, perekonomian Jepang diperkirakan menguat, walaupun akan menghadapi berbagai risiko. ADB menyatakan skeptisisme dalam negeri atas keberhasilan reformasi struktural, stimulus fiskal, dan moneter yang sudah dilakukan bisa menggagalkan upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian Jepang.
Perekonomian Singapura
sebesar 1,6 persen (QtQ), menurun dibandingkan pada triwulan III tahun 2014 yaitu sebesar 6,9 persen (QtQ). Perekonomian Singapura mulai memasuki jalur
pertumbuhan moderat disebabkan oleh pelemahan ekonomi negara maju,
kontraksi sektor manufaktur akibat permintaan global yang tidak menentu, pasar properti melambat, pembatasan kredit makroprudensial, dan tenaga kerja asing.
Sektor manufaktur Singapura terkontraksi sebesar -2,0 persen (YoY), menurun tajam dibandingkan triwulan IV tahun 2013 yang tumbuh sebesar 7,0 persen (YoY). Sektor manufaktur melemah disebabkan oleh rekayasa transportasi, penurunan elektronik, dan manufaktur umum.Secara triwulanan, sektor manufaktur Singapura terkontraksi sebesar -5,8 persen (QtQ), menurun tajam dibandingkan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 3,0 persen (QtQ).Sementara, pertumbuhan sektor konstruksi Singapura pada triwulan IV tahun 2014 juga mengalami pelemahan. Pertumbuhan sektor konstruksi hanya sebesar 0,8 persen (YoY), dibandingkan triwulan IV tahun 2013 tumbuh sebesar 7,3 persen (YoY). Pertumbuhan sektor konstruksi yang cenderung moderat didorong oleh aktivitas konstruksi sektor swasta. Sektor kontruksi secara triwulanan tumbuh sebesar 8,0 persen (QtQ), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya hanya tumbuh sebesar 0,1 persen (QtQ).
Pertumbuhan sektor akomodasi dan jasa makanan Singapura triwulan IV tahun 2014 cenderung melambat hanya sebesar 1,3 persen (YoY), dibandingkan triwulan IV tahun 2013 yang tumbuh sebesar 2,5 persen (YoY). Sektor akomodasi dan jasa makanan secara triwulanan tumbuh sebesar 1,2 persen (QtQ), berbeda dengan triwulan III tahun 2014 yang tumbuh sebesar 1,2 persen (QtQ). Sebaliknya, pertumbuhan sektor industri jasa lainnya pada triwulan IV tahun 2014 meningkat sebesar 2,6 persen, dibandingkan pertumbuhan triwulan IV tahun 2013 sebesar 5,5 persen. Pertumbuhan industri jasa lainnya didukung oleh keuangan, asuransi, dan sektor bisnis. Pada triwulan IV tahun 2014, sektor industri jasa lainnya secara triwulanan menguat sebesar 3,8 persen (QtQ), melemah dibandingkan triwulanan I tahun 2014 sebesar 7,1 persen (QtQ).
Dalam publikasi Asian Development Outlook 2014, proyeksi ADB terhadap pertumbuhan ekonomi Singapura tahun 2014 terkoreksi 0,3 persen menjadi sebesar 3,2 persen (YoY). Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Singapura dikoreksi turun 0,4 persen atau menjadi 3,5 persen (YoY). PDB akan terus tumbuh dengan kecepatan yang moderat pada tahun 2014 dan 2015. Perekonomian yang sangat bergantung pada perdagangan ini akan mendapat keuntungan dari pemulihan ekonomi global, melalui industri berorientasi eksternal. Perkiraan peningkatan output, dan kenaikan PMITM (Purchasing Manager Index) diatas 50 basis poin akan menyebabkan penguatan kinerja sektor manufaktur, meskipun kontribusi dari sektor jasa masih cenderung mendatar. Pengetatan pasar tenaga kerja juga masih memberi tekanan pada inflasi dan membebani industri padat karya secara bertahap untuk meredam tekanan harga. Penurunan ekspor barang dalam negeri termasuk minyak yang terus berlangsung, akan membawa surplus neraca perdagangan semakin mengecil hingga akhir tahun 2015.
Perkembangan Harga Minyak Mentah Dunia
Perkembangan bulanan harga minyak mentah dunia masih menujukkan tren yang menurun. Harga minyak mentah Brent pada bulan Oktober 2014 mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar USD 10,0 per barel menjadi sebesar USD 87,3 per barel. Pada bulan November dan Desember 2014, harga minyak mentah Brent kembali turun secara signifikan sebesar USD 8,9 per barel, dan USD 16,1 per barel. Demikian pula harga minyak mentah Dubai pada bulan Oktober 2014 turun dari USD 97,0 per barel menjadi sebesar USD 86,6 per barel. Pada bulan November 2014, harga minyak mentah Dubai turun sebesar USD 9,9 per barel dan selanjutnya pada bulan Desember 2014 kembali mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar USD 16,2 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah WTI pada bulan Oktober 2014 turun sebesar USD 8,8 per barel menjadi sebesar USD 84,4 per barel. Pada bulan November, dan Desember 2014 turun signifikan sebesar USD 8,6 per barel, dan USD 16,5 per barel.
Tabel 3. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barel)
Harga Minyak Mentah Dunia
Sumber: Pink Sheet World Bank, Kementerian ESDM
Sama halnya dengan pergerakan harga minyak dunia, harga minyak dalam negeri yaitu Indonesia Crude Oil Price (ICP) pada triwulan IV tahun 2014 juga menurun. Pada triwulan IV tahun 2014, ICP sebesar USD 72,9 per barel atau turun tajam hingga sebesar USD 26,8 per barel dibandingkan dengan ICP triwulan III tahun 2014. Selanjutnya, harga minyak ICP pada bulan Oktober 2014 mengalami penurunan sebesar USD 11,3 per barel atau menjadi sebesar USD 83,7 per barel. Harga minyak ICP pada November 2014 menurun sebesar USD 8,3 per barel, dan bulan Desember 2014 kembali mengalami penurunan sebesar USD 15,8 per barel menjadi USD 59,6 per barel.
Pergerakan harga minyak ICP sejalan dengan harga minyak mentah utama di pasar internasional. Pelemahan harga minyak ICP disebabkan oleh kekhawatiran pasar atas kebijakan negara-negara Timur Tengah (Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait) menurunkan harga jual (Official Selling Price) minyak mentahnya, dan apresiasi mata uang dolar Amerika Serikat. Laporan Energy Information Administration
menyatakan stok minyak mentah Amerika Serikat naik sebesar 6,2 juta barel dibandingkan bulan sebelumnya. Namun demikian, publikasi OPEC bulan Desember 2014 menyatakan bahwa proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2014 mengalami penurunan menjadi sebesar 91,13 juta barel per hari, atau turun 0,06 juta barel per hari dibandingkan proyeksi sebelumnya. Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah disebabkan oleh perlambatan ekonomi Tiongkok, serta menurunnya permintaan, dan penggunaan gasoil India.
Gambar 3. Perkembangan Harga Minyak Dunia (USD/barrel)
Perekonomian Indonesia kembali mengalami perlambatan pada triwulan IV tahun 2014 dengan tumbuh sebesar 5,0 persen (YoY).
Perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2014 hanya tumbuh sebesar 5,0 persen (YoY). Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV tahun 2014 surplus sebesar USD 2,4
miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan surplus NPI pada triwulan III tahun 2014 yang mencapai USD 6,5 miliar.
Sepanjang tahun 2014, neraca pembayaran Indonesia mengalami surplus sebesar USD 15,2 miliar setelah pada tahun 2013 mengalami defisit sebesar USD 7,3 miliar.
Perekonomian Indonesia yang diharapkan dapat membaik pada tahun 2014 harus kembali tertahan oleh berbagai faktor global dan domestik. Ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 5,0 persen (YoY) atau berada di bawah target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang besarnya 5,7 persen (YoY) dan dan merupakan yang terendah sejak tahun 2010. Perlambatan ekonomi Indonesia sudah terjadi sejak tahun 2010 akibat perlambatan ekonomi global, pelemahan harga komoditas internasional, serta beberapa faktor domestik.
Memasuki tahun 2015, ekonomi Indonesia diproyeksi akan membaik karena berbagai faktor. Pemerintahan baru sejak Oktober 2014 telah mengambil berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti dengan menetapkan subsidi tetap untuk bahan bakar minyak, membuka kesempatan investasi yang lebih efisien dengan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan menyalurkan pengeluaran fiskal untuk pembangunan infrastruktur. Dengan demikian, pemerintah mentargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen (YoY) pada tahun 2015. Namun, beberapa lembaga internasional tidak terlalu optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih rentan menghadapi perlambatan ekonomi Tiongkok, kebijakan tapering off di Amerika Serikat, dan pelemahan harga komoditas internasional. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 sebesar 5,1 persen (YoY). Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh sebesar 5,2 persen (YoY) pada tahun 2015.
PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Gambar 4. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2000-2014 (persen)
Sumber: Badan Pusat Statistik
ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,6 persen (YoY). Dari sisi lapangan usaha, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang tumbuh 6,1 persen (YoY) menjadi salah satu faktor yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada triwulan IV tahun 2013, lapangan usaha ini mampu tumbuh sebesar 10,7 persen (YoY). Perlambatan ini karena perlambatan pada jasa kesehatan dan kegiatan sosial pemerintah dengan hanya tumbuh sebesar 1,2 persen (YoY), meskipun tumbuh sebesar 13,4 persen (YoY) pada triwulan yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga dipicu oleh pertumbuhan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 3,5 persen (YoY) yang pada triwulan IV tahun sebelumnya dapat tumbuh sebesar 6,1 persen (YoY). Perlambatan ini terjadi karena terjadinya kedua perlambatan pada perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya serta perdagangan besar dan eceran, bukan mobil dan sepeda motor yang masing-masing tumbuh sebesar 3,0 dan 3,6 persen (YoY) akibat perlambatan PDB dan kenaikan harga BBM pada triwulan IV tahun 2014.
Perlambatan juga terjadi pada Jasa Pendidikan dengan pertumbuhan sebesar 7,1 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014 meskipun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya mampu tumbuh sebesar 9,4 persen (YoY) akibat melambatnya jasa pendidikan pemerintah yang hanya tumbuh sebesar 5,9 persen (YoY). Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh sebesar 2,8 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014 atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan III tahun 2014 sebesar 4,6 persen (YoY). Hal ini terjadi akibat menurunnya pertumbuhan tanaman pangan serta jasa pertanian dan perburuan masing-masing sebesar 3,3 dan 2,8 persen (YoY). Perlambatan lapangan usaha ini secara umum juga disebabkan oleh kekeringan di sentra-sentra padi pulau Jawa yang menyebabkan mundurnya masa tanam, kelangkaan pupuk dan benih bersubsidi, penurunan harga komoditas tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit di pasar internasional, dan penurunan permintaan luar negeri karena stok berlimpah. Pertumbuhan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang yang besarnya 2,7 persen (YoY) juga melambat dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2013 yang besarnya 4,5 persen (YoY) akibat pengadaan air swasta yang melambat dengan pertumbuhan sebesar 2,5 persen (YoY).
URAIAN
Pengadaan Listrik, Gas dan Produksi
Es 6,5 11,0 12,1 10,4 9,8 4,7 2,4 4,4 3,3 6,5 6,0 6,5
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang 3,3 3,8 3,6 2,7 3,5 3,6 4,7 4,5 3,6 3,2 2,8 2,7
Konstruksi 6,3 5,8 6,8 7,2 5,4 6,3 6,5 6,2 7,2 6,5 6,5 7,7
Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 7,5 5,5 4,5 4,4 3,0 4,8 4,9 6,1 6,1 5,1 4,8 3,5
Transportasi dan Pergudangan 7,2 6,3 7,4 7,5 7,4 8,9 8,3 8,9 8,4 8,5 8,0 7,1
Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum 6,9 6,3 6,1 7,2 7,0 7,0 6,9 6,3 6,5 6,4 5,9 4,9
Sumber: Badan Pusat Statistik
dari beberapa operator telekomunikasi, komersialisasi layanan internet mobile
generasi keempat long term evolution (4G-LTE), dan modernisasi jaringan di 23 kota besar di Indonesia. Pada triwulan IV tahun 2014, Jasa Perusahaan juga tumbuh tinggi sebesar 9,7 persen (YoY) atau meningkat dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2013 sebesar 8,0 persen (YoY) karena peningkatan belanja iklan dan jasa persewaan. Selain itu, pertumbuhan Industri Pengolahan yang besarnya 4,2 persen (YoY) juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV tahun 2014 terutama disebabkan oleh pertumbuhan makanan dan minuman sebesar 7,8 persen (YoY) yang disebabkan oleh permintaan domestik dan luar negeri yang meningkat seiring dengan musim liburan akhir tahun.
Tabel 5. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2009-2014 Menurut Lapangan Usaha
URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013 2014
persen (YoY). Kedua lapangan usaha ini didorong oleh kenaikan belanja iklan barang konsumsi dan politik serta beberapa acara internasional yang diselenggarakan di Indonesia dan banyaknya libur nasional selama tahun 2014. Sementara itu, lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian yang beberapa tahun sebelumnya mampu tumbuh hingga 3,0–5,5 persen (YoY) setiap tahunnya hanya mampu tumbuh sebesar 0,5 persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2014 terutama akibat menurunnya kegiatan pertambangan minyak, gas, dan panas bumi sebesar 2,4 persen (YoY). Penerapan UU Minerba No. 4/2009 yang melarang ekspor mineral mentah (bijih) efektif sejak awal 2014 juga menyebabkan kinerja produksi Pertambangan dan Penggalian menurun. Lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi juga jauh melambat dengan pertumbuhan sebesar 4,9 persen (YoY) meskipun pada tahun sebelumnya mampu tumbuh mencapai 9,1 persen (YoY) karena perlambatan kinerja Jasa Perantara Keuangan.
Tabel 6. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I Tahun 2012 – Triwulan IV Tahun 2014 (persen) Menurut Jenis Pengeluaran (YoY)
Pembentukan Modal Tetap Domestik
Bruto 7,0 10,1 9,5 9,8 7,9 5,5 6,0 2,1 4,7 3,7 3,9 4,3
Ekspor Barang dan Jasa 6,8 1,7 -2,6 1,1 3,5 2,1 1,3 9,4 3,2 1,4 4,9 -4,5 Dikurangi Impor Barang dan Jasa 11,1 15,4 0,5 5,8 2,9 0,9 4,9 -0,9 5,0 0,4 0,3 3,2 PRODUK DOMESTIK BRUTO 6,1 6,2 5,9 5,9 5,6 5,6 5,5 5,6 5,1 5,0 4,9 5,0
Sumber: Badan Pusat Statistik
LNPRT (Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga) tumbuh menurun sebesar 0,2 persen (YoY) atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV tahun 2013 sebesar 12,8 persen (YoY). Hal ini disebabkan oleh persiapan Pemilu 2014 dan Pemilukada yang berlangsung pada tahun sebelumnya namun tidak berlangsung pada triwulan ini. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan IV tahun 2014 tumbuh sebesar 4,3 persen (YoY) meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan PMTB pada triwulan IV tahun 2013 yang besarnya mencapai 2,1 persen (YoY). Peningkatan PMTB terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan produk kekayaan intelektual sebesar 12,2 persen (YoY).
Ekspor barang dan jasa masih menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan terkontraksi sebesar -4,5 persen (YoY), jauh lebih buruk dibandingkan triwulan IV tahun 2013 yang pertumbuhannya mencapai 9,4 persen (YoY). Pertumbuhan negatif tersebut terjadi akibat ekspor barang nonmigas yang tumbuh –5,0 persen (YoY) dan migas yang tumbuh –6,0 persen. Impor barang dan jasa tumbuh sebesar 3,2 persen (YoY) atau meningkat dibandingkan triwulan IV tahun 2013 tumbuh sebesar -0,9 persen (YoY). Pertumbuhan impor terjadi akibat meningkatnya pertumbuhan impor migas yang mencapai 11,1 persen (YoY).
Tabel 7. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2009-2014 (persen) Menurut Jenis Pengeluaran
URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Indeks Tendensi Konsumen
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) pada triwulan IV tahun 2014 mencapai 107,6 basis poin yang menunjukkan kondisi ekonomi konsumen meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi karena peningkatan pendapatan rumah tangga dengan nilai indeks sebesar 106,1 basis poin, rendahnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari sebesar 106,3 basis poin, serta peningkatan konsumsi beberapa komoditas makanan dan bukan makanan dengan nilai indeks sebesar 113,0 basis poin. Tingkat optimisme konsumen ini lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 yang mencapai 112,4.
Tabel 8. Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan III Tahun 2014 Menurut Sektor dan Variabel Pembentuknya
Variabel Pembentuk
2013 2014
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
Pendapatan rumah tangga 106,0 109,3 112,1 110,8 108,8 110,7 113,5 106,1 Pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari 105,4 108,0 109,7 108,3 110,4 112,6 109,9 106,3 Tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan (daging,
ikan, susu, buah-buahan, dll) dan bukan makanan (pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, dan rekreasi)
100,8 105,2 115,0 108,5 112,5 108,5 113,2 113,0
Indeks Tendensi Konsumen 104,7 108,0 112,0 109,6 110,0 110,8 112,4 107,6
Sumber: Badan Pusat Statistik
Meskipun pada triwulan IV tahun 2014 pertumbuhan ITK menurun 1,8 persen (YoY), masih terdapat optimisme konsumen yang menganggap triwulan IV tahun 2014 lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat kenaikan harga BBM. Kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik pada triwulan I tahun 2015 sehingga dapat mencapai 106,9 yang didorong oleh peningkatan pendapatan masyarakat dan rencana pembelian barang-barang tahan lama.
Gambar 5. Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2013 – Triwulan IV Tahun 2014
Indeks Keyakinan Konsumen
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia kembali meningkat pada bulan Oktober 2014 yang besarnya mencapai 120,6. Namun pada bulan November 2014, IKK melemah menjadi 120,2 akibat kenaikan harga BBM. Pada bulan Desember 2014, IKK kembali mengalami pelemahan menjadi 116,5 namun masih berada pada level optimis. Pelemahan tersebut terutama didorong oleh melemahnya seluruh indeks pembentuknya baik Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini maupun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terhadap kondisi ekonomi 6 bulan mendatang. IKK kembali menguat pada bulan Januari 2015 dengan indeks sebesar 120,2 yang didorong oleh meningkatnya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi 6 bulan mendatang.
Pada bulan Januari 2015, IEK mencapai 130,7 atau meningkat 7,9 poin dari indeks bulan sebelumnya. Peningkatan IEK didorong oleh peningkatan seluruh indeks pembentuknya, terutama indeks ekspektasi kegiatan usaha dari 121,3 pada bulan Desember 2014 menjadi sebesar 133,9 pada bulan Januari 2015 dan indeks ekspektasi penghasilan dari 133,2 pada bulan Desember 2014 menjadi sebesar 143,4 pada bulan Januari 2015. Selain itu, indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja juga meningkat dari 113,9 pada bulan Desember 2014 menjadi sebesar 114,7 pada bulan Januari 2015.
Di sisi lain, IKE pada bulan Januari 2015 adalah sebesar 109,7 lebih rendah dibandingkan dengan IKE pada bulan Desember 2014 yang besarnya 110,2. Pada bulan Januari 2015, indeks ketersediaan lapangan kerja melemah menjadi sebesar 96,5 dari indeks yang besarnya 100,5 pada bulan Desember 2014. Sementara itu, indeks penghasilan saat ini dan indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,7 dan 1,8 poin.
Tabel 9. Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Juni 2014 – Januari 2015
KETERANGAN 2014 2015
Ketepatan waktu pembelian barang tahan lama 108,8 112,5 110,7 112,6 111,2 110,9 106,4 108,2
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 121,4 125,7 124,8 123,7 128,0 126,1 122,8 130,7
Ekspektasi Penghasilan 134,4 136,5 135,7 135,6 135,4 135,5 133,2 143,4
Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja 106,8 110,7 112 114,2 118,7 116,1 113,9 114,7
Ekspektasi Kegiatan Usaha 123,0 130,0 126,6 121,3 129,9 126,6 121,3 133,9
Trend penurunan IKK terjadi pada bulan Oktober 2014 – Desember 2014 namun kembali meningkat pada bulan Januari 2015. Pada bulan Oktober 2014, pertumbuhan IKK sempat mencapai sebesar 10,1 persen (YoY). Pertumbuhan IKK pada bulan November 2014 melambat menjadi sebesar 5,1 persen (YoY). Sementara pada bulan Desember 2014, IKK tidak mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan IKK kembali meningkat pada bulan Januari 2015 dengan pertumbuhan 3,0 persen (YoY).
Gambar 6. Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia Januari 2014 – Januari 2015
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Perkembangan Konsumsi Semen
Konsumsi semen di Indonesia mengalami tren pelemahan pada triwulan IV tahun 2014, meskipun jumlah konsumsi semen pada triwulan IV tahun 2014 yang besarnya 16.916,1 ribu ton meningkat 2.866,4 ribu ton dibandingkan dengan jumlah konsumsi semen pada triwulan III tahun 2014. Sepanjang triwulan IV tahun 2014, konsumsi semen tertinggi terjadi pada bulan November 2014 dengan jumlah konsumsi semen sebesar 5.785,7 ribu ton atau tumbuh 3,9 persen (YoY). Sementara itu, konsumsi semen pada bulan Oktober 2014 yang besarnya 5.785,7 ribu ton atau tumbuh 3,2 persen (YoY) meningkat dibandingkan dengan konsumsi semen pada bulan September 2014. Konsumsi semen pada bulan Desember 2014 yang besarnya 5.371,7 ribu ton menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya dengan tumbuh 1,7 persen (YoY).
Gambar 7. Perkembangan Konsumsi Semen Indonesia Oktober 2013 – Desember 2014
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia, diolah
Perkembangan Konsumsi Kendaraan Bermotor
Pada triwulan IV tahun 2014, konsumsi mobil di Indonesia mengalami tren penurunan dibandingkan dengan jumlah konsumsi pada bulan-bulan sebelumnya. Pada bulan Oktober 2014, konsumsi mobil di Indonesia berjumlah 105,2 ribu unit atau menurun 6.817 unit dibandingkan dengan konsumsi mobil pada bulan Oktober 2014. Pertumbuhan konsumsi mobil pada bulan Oktober 2014 terkontraksi sebesar 6,1 persen (YoY). Pada bulan November 2014, konsumsi mobil mengalami penurunan dengan konsumsi sebesar 91,3 ribu unit. Dengan demikian, pertumbuhan konsumsi mobil pada bulan November 2014 mengalami kontraksi sebesar 18,3 persen (YoY). Pada bulan Desember 2014, konsumsi mobil di Indonesia kembali mengalami penurunan menjadi sebesar 78,8 ribu unit, atau terkontraksi sebesar 19,3 persen (YoY).
Gambar 8. Perkembangan Konsumsi Mobil Oktober 2013-Desember 2014
Sumber: Gaikindo, diolah
Neraca Pembayaran Indonesia
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV tahun 2014 surplus sebesar USD 2,4 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan surplus NPI pada triwulan III tahun 2014 yang mencapai USD 6,5 miliar. Memburuknya kinerja NPI tersebut disebabkan oleh menurunnya surplus neraca transaksi finansial. Pada triwulan IV tahun 2014, surplus neraca transaksi finansial sebesar USD 7,8 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus pada triwulan III tahun 2014 yang mencapai USD 13,9 miliar. Di sisi lain, defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV tahun 2014 sebesar USD 6,2 miliar (2,8 persen PDB) lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan III tahun 2014 sebesar USD 7,0 miliar (3,0 persen PDB). Sejalan dengan surplus NPI, cadangan devisa Indonesia pada triwulan IV tahun 2014 mencapai USD 111,9 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor.
Kinerja defisit neraca transaksi berjalan yang membaik pada triwulan IV tahun 2014 didorong oleh surplus neraca perdagangan barang sebesar USD 2,4 miliar yang hanya surplus sebesar USD 1,6 miliar pada triwulan III tahun 2014. Surplus neraca perdagangan barang dipengaruhi oleh peningkatan ekspor neraca perdagangan nonmigas pada triwulan III tahun 2014 yang besarnya USD 4,9 miliar atau meningkat USD 0,6 miliar dari surplus pada triwulan sebelumnya. Ekspor nonmigas sebesar USD 36,6 persen mendorong peningkatan surplus neraca perdagangan barang. Pertumbuhan ekspor nonmigas ditopang oleh kenaikan permintaan, khususnya minyak nabati dan produk manufaktur, yang terjadi di saat tren penurunan harga komoditas masih berlanjut.
tahun 2014 dengan defisit sebesar USD 3,1 miliar. Pelemahan harga minyak mentah dunia menyebabkan impor migas menurun dan hanya sebesar USD 9,2 miliar.
Defisit neraca perdagangan jasa pada triwulan IV tahun 2014 sebesar USD 2,8 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada triwulan III tahun 2014 sebesar USD 2,6 miliar. Peningkatan defisit neraca perdagangan jasa dipengaruhi oleh turunnya net penerimaan jasa perjalanan seiring kenaikan jumlah pengeluaran penduduk Indonesia selama berkunjung ke luar negeri.
Di sisi lain, surplus neraca transaksi finansial yang menurun disebabkan oleh menurunnya total aliran masuk dana asing dalam bentuk investasi langsung. Surplus investasi langsung sebesar USD 2,6 miliar lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD 5,9 miliar akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi. Selain itu, meningkatnya pembayaran utang luar negara kepada afiliasinya, terutama di sektor migas, menjadi faktor penyebab utama berkurangnya arus masuk investasi langsung.
Investasi portofolio juga mengalami surplus sebesar USD 1,6 miliar meskipun lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD 7,4 miliar. Penurunan surplus ini dipengaruhi oleh faktor global akibat dinamika geopolitik, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan normalisasi kebijakan The Fed yang terus berlangsung sehingga meningkatkan risiko pembalikan modal asing dari emerging
markets, termasuk Indonesia. Selain itu, adanya faktor domestik terkait kondisi
dalam negeri yang diwarnai pelemahan Rupiah akibat faktor global dan adanya kebutuhan valuta asing yang cukup besar untuk pembayaran kewajiban di akhir tahun.
Sementara itu, surplus investasi lainnya sebesar USD 3,7 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan III tahun 2014 sebesar USD 1,4 miliar. Hal ini terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembiayaan dalam negeri yang tinggi karena meningkatnya penarikan pinjaman luar negeri korporasi dan penarikan aset penduduk di luar negeri.
BOX 1
Perubahan Harga BBM Bersubsidi
Pemerintah memutuskan untuk meningkatkan harga BBM bersubsidi per tanggal 18 November 2014. Harga premium bersubsidi yang semula besarnya Rp 6.500/liter naik menjadi Rp 8.500/liter dan harga solar yang semula besarnya Rp 5.500/liter menjadi Rp 7.500/liter. Kenaikan harga sebesar Rp 2.000/liter ini merupakan respon atas kebijakan pemerintahan baru yang ingin mengalokasikan belanja negara ke arah yang lebih produktif seperti untuk pembangunan infrastruktur atau kesehatan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang telah tersusun selama ini tidak dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena beban subsidi dan birokrasinya terlalu besar. Dalam APBN 2015 yang besarnya Rp 2.039 triliun, anggaran untuk subsidi mencapai Rp 443 triliun dengan Rp 303 triliun dialokasikan untuk BBM. Akibat kenaikan harga BBM, pemerintah juga memutuskan untuk memberikan kompensasi berupa program pemberian bantuan nontunai dalam bentuk simpanan kepada 15,5 juta keluarga miskin dengan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) sebesar Rp 200.000/keluarga/bulan.
Namun, perubahan harga BBM bersubsidi kembali terjadi pada 1 Januari 2015. Penurunan harga minyak dunia mendorong pemerintah menurunkan harga premium menjadi sebesar Rp 7.600/liter dan solar Rp 7.250/liter. Pemerintah juga mengumumkan untuk menghapus subsidi premium atau BBM RON 88 sehingga harga premium akan mengikuti mekanisme pasar. Selain itu, pemerintah akan memberikan subsidi tetap sebesar Rp 1.000/liter untuk solar. Kebijakan ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia.
Perubahan harga BBM bersubsidi membingungkan para pengusaha dan industri yang banyak bergantung pada harga BBM. Dengan terjadinya ketidakpastian harga BBM, harga-harga diperkirakan akan tetap berada pada level yang tinggi.
Penurunan harga BBM juga berdampak pada penundaan kenaikan tarif dua golongan listrik rumah tangga (R1) dengan daya 1.300 volt ampere (va) dan 2.200 va oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada bulan Januari 2015. Penundaan ini terjadi seiring dengan penurunan harga BBM jenis solar yang menjadi bahan bakar utama beberapa pembangkit listrik PLN. Selain itu, PT Pertamina juga memutuskan untuk menurunkan harga penjualan Elpiji ukuran 12 kg sebesar Rp 5.700 per tabung menjadi Rp 129.000 per tabung sejak 19 Januari 2015.
BOX 2
Perubahan Tahun Dasar PDB Berbasis SNA 2008
Badan Pusat Statistik melakukan perubahan tahun dasar penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dirilis pada 5 Februari 2015 dari tahun 2000 menjadi tahun 2010. Hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan struktur perekonomian nasional dalam 10 tahun terakhir seperti perkembangan teknologi dan telekomunikasi serta pola perubahan transportasi masyarakat yang semakin sering menggunakan pesawat terbang. Selain itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merekomendasikan seluruh negara anggotanya untuk mengimplementasikan
System of National Accounts 2008 (SNA 2008) dalam penyusunan PDB melalui
kerangka Supply and Use Tables (SUT) yang merupakan kerangka kerja yang menggambarkan keseimbangan aliran produksi dan konsumsi (barang dan jasa) dan penciptaan pendapatan dari aktivitas produksi tersebut dan terdiri dari dua tabel utama yaitu tabel supply dan tabel use. Perubahan tahun dasar PDB juga untuk menjaga konsistensi antara tiga pendekatan PDB dan memperkecil perbedaan antara PDB dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Perubahan tahun dasar PDB diharapkan dapat memberikan gambaran perekonomian nasional terkini, meningkatkan kualitas data PDB yang dihasilkan, dan menjadikan data PDB dapat dibandingkan secara internasional.
PERKEMBANGAN UTANG INDONESIA
Dalam tahun 2014, realisasi pembiayaan utang neto seluruhnya mencapai Rp 248,3 triliun. Jumlah ini mencapai 97,8 persen dari nilai yang ditetapkan pada APBN-P 2014.
Pada akhir tahun 2014, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 2.604,94 triliun.
Penerbitan SBN mengalami peningkatan yang cukup siginifikan dari Rp 987,0 triliun pada akhir tahun 2009 menjadi Rp 1.931,2 triliun pada tahun 2014.