• Tidak ada hasil yang ditemukan

Netralitas PNS Dalam Melayani Kepentingan Masyarakat di Kota Medan a. Konsep Netralitas PNS

H. Hasil Penelitian dan Pembahasan

3. Netralitas PNS Dalam Melayani Kepentingan Masyarakat di Kota Medan a. Konsep Netralitas PNS

Membahas masalah netralitas PNS dalam birokrasi pemerintah terhadap pengaruh partai politik nampaknya tidak dapat dianggap ringan. Namun sebelum membahas tentang netralitas PNS, ada baiknya terlebih dahulu diuraikan mengenai konsepsi netralitas itu sendiri. Netral dalam hal ini diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak memihak dan tidak memiliki sikap tertentu kepada orang lain atau pihak tertentu, netralitas dapat juga dinyatakan sebagai kondisi seseorang yang tidak mendapatkan pengaruh dari pihak manapun di luar dirinya. 25 Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa netralitas PNS (birokrasi pemerintah) merupakan PNS yang hanya berpikir untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat, tanpa ikut serta dalam kegiatan politik.

b. Implementasi Kebijakan Netralitas Pegawai Negeri Sipil

Berdasarkan hasil dari lapangan yang diperoleh dan keterangan dari Pejabat Pemko Medan bahwa Pemko Medan telah melakukan upaya-upaya antara lain melalui sosialisasi pemahaman peraturan tentang larangan PNS menjadi anggota dan atau pengurus partai politik, agar implementasi netralitas PNS berjalan sesuai dengan harapan dan berkaitan dengan akan dilaksanakan pemilihan Calon Gubernur dan

25

Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Utara telah diterbitkan Surat Edaran Gubernur Sumatera Utara Nomor 800/13268/BKD/II/2007, tanggal 19 Nopember 2007 sebagai perubahan Surat Edaran Gubernur Sumatera Utara Nomor 800/12485/BKD/II/2007, tanggal 30 Okotober 2007, kemudian ditindaklanjuti Surat Edaran Walikota Medan Nomor 800/18588, tanggal 10 Desember 2007, perihal Netralitas PNS terhadap Partai Politik dan Pemilihan Kepala Daerah.

Berkaitan dengan UU No. 43 Tahun 1999 dan PP No. 37 Tahun 2004 tentang Larangan PNS menjadi anggota partai politik di Pemko Medan sudah ada 3 (tiga) orang PNS yang mengundurkan diri (berhenti) sebagai PNS, karena menjadi anggota partai politik. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 6. PNS Yang Berhenti Karena Mengundurkan Diri

No Nama NIP/ Golru Unit Kerja Keterangan

1 DEFRIATY TAMBA 130916646 III/d SLTPN 8 Medan Dinas Pendidikan Kota Medan 2 Drs. CARIAMAN HUTASOIT 131566463 III/c SLTPN 17 Medan Dinas Pendidikan Kota Medan 3 Drs. BURHANUDDIN RAJAGUKGUK 131765061 II/c STM Swasta Teladan Medan Dinas Pendidikan Kota Medan

Dengan demikian pelaksanaan netralitas PNS di Pemko Medan telah dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun disamping itu ada hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu :

1. Kepemimpinan dalam kebijakkan netralitas PNS mempunyai peran yang menetukan terhadap keberhasilan implementasi kebijakan netralitas PNS tersebut. 2. Ketaatan hukum terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku khususnya

tentang Netralitas PNS adalah merupakan kewajiban bagi seluruh PNS harus mematuhi dan diberikan sanksi tegas terhadap PNS yang melanggar dan hal ini merupakan salah satu jaminan terwujudnya Netralitas PNS.

3. Diharapkan partai politik tidak intervensi atau berupaya menggiring/ mengajak PNS masuk menjadi anggota partai politik.

I. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka diperoleh kesimpulan dan saran sebagai berikut :

1. Pemko Medan sudah melaksanakan pengangkatan Calon PNS (pegawai baru) dan Kenaikan Pangkat PNS daerah, untuk Penata Tingkat I, golongan ruang III/d kebawah berjalan lancar, namun untuk Kenaikan Pangkat ke Pembina, golongan ruang IV/a keatas masih terdapat keterlambatan karena usul harus melalui Badan Kepegawai Daerah (BKD) Provinsi, selain itu perpindahan wilayah kerja bagi PNS yang ke luar dan yang masuk Pemko Medan adalah merupakan sebagai salah satu fungsi pembinaan karier PNS dan oleh karena itu Pemko Medan sudah

melaksanakan perpindahan wilayah kerja, selanjutnya Pemko Medan sudah melaksanakan pemberhentian PNS yang telah mencapai batas usia pensiun (BUP) dan selama ini tidak mengalami hambatan yang signifikan, karena pada umumnya Surat Keputusan Pensiun dapat diterima oleh yang bersangkutan tepat pada waktunya. Hal ini dapat dipahami bahwa ketepatan waktu penyampaian Surat Keputusan Pemberhentian PNS yang telah mencapai BUP merupakan hal yang sangat didambakan dan merupakan harapan terakhir bagi PNS.

2. Metode pengembangan PNS yang selama ini diterapkan oleh instansi-instansi pemerintah dinilai kurang baik, karena mayoritas instansi pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak mempunyai rancangan pengembangan PNS secara terprogram dengan pola yang jelas. Para PNS pada gilirannya menjadi kesulitan dan mendapatkan ketidakjelasan ketika harus memikirkan dan menyusun pengembangan kariernya secara individu. Kondisi ini juga menyebabkan tidak jelasnya arah pengembangan PNS melalui program diklat-diklat yang selama ini diselenggarakan. Dalam rangka menciptakan model strategi pengembangan PNS yang tepat, guna membentuk PNS yang berkualitas dan profesional aspek-aspek seperti visi, misi dan tujuan organisasi harus dijadikan sebagai dasar untuk membangun pola pengembangan PNS. Disamping beberapa aspek dominan tersebut diatas, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun model pengembangan kualitas PNS yaitu adanya pembinaan disiplin, moral, dan etika kemudian adanya penilaian kinerja, pelaksanaan diklat teknis, dan pemberdayaan PNS. Sedangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan

dalam membangun karier PNS adalah perlunya pembinaan karier secara jelas, melalui jalur karier yang baku, adanya diklat jabatan yang sesuai, dan dilaksanakan melalui sistem kompetensi.

3. Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan agar kebijakan netralitas PNS dapat diimplementasikan adalah meningkatkan pemahaman baik kepada PNS, masyarakat maupun pihak partai politik, merinci labih lanjut pengertian netralitas PNS, dan mekanisme pelaksanannya, meningkatkan komitmen para pimpinan, tidakan tegas dan tidak diskriminatif pejabat yang berwenang terhadap PNS yang melanggar ketentuan netralitas PNS.

J. Saran

1. Pelaksanaan kewenangan kepegawaian di Pemko Medan agar lebih dioptimalkan dan dalam rangka penyelenggaraan fungsi manajemen PNS daerah perlu didukung oleh Peraturan Daerah (Perda) dibidang kepegawaian yang disesuaikan dengan kondisi daerah yang mengacu pada kebijakan Pemerintah Pusat. Untuk lebih meningkatkan pelayanan administrasi kepegawaian di daerah, seharusnya Pemko Medan di dukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang memadai. Untuk dapat melaksanakan pengelolaan data kepegawaian PNS daerah sebaiknya pengelola kepegawaian perlu segera membangun tata laksana jaringan informasi kepegawaian guna memperlancar proses pengelolaan data kepegawaian sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan bagi organisasi.

2. Segera dilakukan perubahan pola pengembangan PNS pada tiap-tiap instansi pemerintahan, juga memperhatikan adanya pembinaan disiplin PNS dengan penegakkannya (low enforcement), kemudian membangun budaya birokrasi yang kondusif dan adaptif sesuai dengan prinsip-prinsip budaya birokrasi modern. 3. Dengan diterapkannya kebijakan netralitas PNS, maka semua PNS harus

menjalankan komitmern tersebut, disamping itu kepada seluruh parpol agar ikut menjamin keutuhan, kekompakan, dan persatuan PNS. Hal ini dimaksudkan agar PNS dapat memusatkan pada kinerjanya, perhatian, pikiran, dan tenaganya sebagai pelayan masyarakat. Untuk lebih meningkatkan kinerja PNS terhadap pelayanan publik, pertama, seharusnya diberikan kebijakan nyata yang mengarah pada terjaminnya kesejahteraan, kedua, secara non finansial adanya penghargaan (reward) yang nyata, pemberian kenaikan pangkat, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Dokumen terkait