BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Niat Menjual Makanan Sehat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), niat merupakan maksud atau tujuan dari suatu perbuatan; kehendak untuk melakukan sesuatu; janji untuk melakukan sesuatu. Hal ini berbeda dengan minat yang merupakan kecenderungan hati terhadap sesuatu; gairah dan lebih mengarah kepada ketertarikan maupun hobi. Oleh karena itu, niat dapat dikatakan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan diri dan tindakan yang akan datang.
Niat dapat dijelaskan melalui teori perilaku terencana dengan asumsi bahwa manusia selalu memiliki tujuan dalam setiap perilakunya. Niat adalah disposisi tingkah laku, dimana hingga terdapat waktu dan kesempatan yang tepat, akan diwujudkan dalam bentuk tindakan, niat melakukan maupun tidak melakukan suatu perilaku dipengaruhi oleh dua penentu yaitu sikap dan norma subjektif (Ajzen dalam Munandar, 2014). Selain itu, Zarrad dan Debabi (2015) mengatakan bahwa niat merupakan faktor motivasi yang mempengaruhi perilaku seseorang untuk melakukan sesuatu. Niat juga berkaitan dengan kemauan seorang
individu atau usaha mereka untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu (Wingdes, 2018).
Menjual merupakan suatu kegiatan mencari pembeli, mempengaruhi dan memberi petunjuk kepada pembeli untuk dapat menyesuaikan kebutuhannya dengan produk yang ditawarkan (Moekijat dalam Widharta dan Sugiharto, 2013). Swastha (dalam Gusrizaldi dan Komalasari, 2016:292) mengatakan bahwa menjual adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi pribadi agar bersedia membeli barang atau jasa yang ditawarkan. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka niat menjual dapat diartikan sebagai keinginan seorang individu untuk menawarkan suatu produk/jasa kepada pembeli.
2. Indikator Niat Menjual
Indikator niat menjual dalam penelitian ini sesuai dengan indikator dalam penelitian Wang dkk. (2018) dengan beberapa modifikasi dalam butir pernyataan yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian ini.
Indikator yang digunakan untuk mengetahui niat menjual, yaitu:
1. Kesediaan menjual
Indikator ini digunakan untuk menyatakan kesanggupan (kerelaan) pemilik usaha untuk memilih menjual makanan sehat.
2. Rencana menjual
Indikator ini digunakan untuk menyatakan adanya rencana untuk memilih menjual makanan sehat yang akan dilaksanakan dalam waktu tertentu.
3. Akan berusaha menjual
Indikator ini digunakan untuk menyatakan bahwa pemilik usaha akan melakukan suatu usaha (berdaya upaya) untuk menjual makanan sehat.
3. Pengertian Makanan Sehat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), makanan sehat adalah pangan alamiah, tidak mengandung bahan tambahan dan baik untuk kesehatan. Pengukuran skala kualitas makanan yang sehat dapat dilihat dari beberapa elemen, yaitu penyajian, variasi, rasa, kesegaran, dan suhu (Namkung dan Jang dalam Kim dkk., 2013: 561). Menurut Eves dkk. (dalam Kim dkk., 2013:561) makanan sehat adalah makanan yang rendah lemak, rendah gula, serat tinggi, mengandung buah-buahan dan sayuran, dan disajikan dengan metode memasak yang tepat.
Makanan yang sehat merupakan makanan yang tidak mengandung unsur/zat yang merusak atau berbahaya bagi kesehatan (Nuraini dalam Fatrikawati dan Hamidah, 2016:2). Penelitian ini akan menggunakan definisi makanan sehat menurut Nuraini yang mengatakan bahwa makanan sehat sebagai makanan yang tidak mengandung zat yang merusak atau berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan uraian di atas, maka niat menjual makanan sehat dapat diartikan sebagai kemauan seorang individu untuk menawarkan makanan yang tidak mengandung zat yang merusak atau berbahaya bagi kesehatan kepada pembeli.
Setiap makanan yang diolah tentu terdiri dari campuran beberapa bahan baku. Namun, tidak semua makanan hanya terdiri dari bahan baku, ada juga yang dengan sengaja menambahkan bahan tambahan pangan (BTP) maupun bahan kimia lain. Hal ini biasanya dilakukan agar makanan terlihat lebih menarik, rasa lebih enak dan tahan lama.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 033 Tahun 2012 pasal 5 ayat 1 dijelaskan bahwa bahan tambahan pangan hanya boleh digunakan tidak melebihi batas maksimum penggunaan dalam kategori pangan yang telah ditetapkan. Selain itu, bahan kimia lain yang bukan untuk makanan juga tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan.
Makanan yang mengandung BTP melebihi batas maksimum penggunaan maupun mengandung bahan kimia non pangan dapat mengganggu kesehatan. Tabel II.1 menunjukkan daftar bahan kimia terlarang yang tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 033 Tahun 2012:
Tabel II.1
Daftar Bahan Kimia Terlarang untuk Makanan
No. Nama Bahan
1. Asam borat dan senyawanya (Boric Acid)
2. Asam salisilat dan garamnya (Salicylic acid and its salt) 3. Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate, DEPC)
Lanjutan Tabel II.1
Daftar Bahan Kimia Terlarang untuk Makanan 4. Dulsin (Dulcin)
5. Formalin (Formaldehyde)
6. Kalium bromat (Potassium bromate) 7. Kalium klorat (Potassium chlorate) 8. Kloramfenikol (Chloramphenicol)
9. Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils) 10. Nitrofurazon (Nitrofurazone)
11. Dulkamara (Dulcamara) 12. Kokain (Cocaine)
13. Nitrobenzen (Nitrobenzene)
14. Sinamil antranilat (Cinnamyl anthranilate) 15. Dihidrosafrol (Dihydrosafrole)
16. Biji tonka (Tonka bean)
17. Minyak kalamus (Calamus oil) 18. Minyak tansi (Tansy oil) 19. Minyak sasafras (Sasafras oil)
Sumber data: Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 033 Tahun 2012
Makanan sehat yang dibahas di dalam penelitian ini adalah kue yang tidak mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Arintawati (dalam Rizka dkk., 2018) mengatakan bahwa kue merupakan jenis makanan yang menggunakan bahan tambahan makanan yang sangat kompleks.
Oleh karena itu, ada kemungkinan bahan/zat kimia berbahaya dapat dimasukkan ke dalam kue. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), kue adalah makanan yang dibuat dari bahan yang beraneka ragam dan pengolahannya dapat dilakukan dengan mengukus, memanggang, juga menggoreng.
Muljawan dan Pradana (2016) menggelompokkan kue menjadi dua jenis yaitu kue kering dan kue basah. Kue kering adalah kue dengan kadar air minimal, sedangkan kue basah sebaliknya. Selain itu, Syarbini (dalam Rizka dkk., 2018) mengklasifikasikan ke dalam empat jenis, yaitu:
1) Roti
Roti merupakan jenis makanan yang terbuat dari bahan utama tepung terigu, yeast/ragi, garam dan air, serta bahan tambahan lain:
gula, margarin, telur, susu, dan lainnya. Contohnya: roti manis, roti tawar, country bread, rye bread, dan lain-lain.
2) Cake
Cake merupakan jenis makanan manis yang terbuat dari bahan utama tepung terigu, gula, telur, dan margarin. Contohnya: pound cake, sponge cake, dan muffin.
3) Pastry
Pastry merupakan jenis bakery yang terbuat dari bahan gabungan beberapa bahan, yakni: tepung terigu, lemak, gula, garam, air, dan bahan lainnya. Pastry menjadi produk yang berbeda dari beberapa jenis bakery lainnya karena adanya penggunaan laminating fat atau lemak semi padat dalam pembentukan adonan. Contohnya: short crust pastry dan puff pastry.
4) Biskuit/cookies
Biskuit/cookies merupakan salah satu jenis produk kue kering yang terbuat dari beberapa bahan utama, yakni tepung terigu, telur, margarin dengan tambahan bahan lain seperti coklat, kacang almond, kacang mede, dan lain-lain. Contohnya: cracker.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Niat Menjual Makanan Sehat Mengacu pada teori Theory of Planned Behaviour, Ajzen (dalam Lintong, 2018) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi niat menjual adalah 1. Sikap
Hal ini mengacu pada penilaian seseorang akan pengetahuan dan keyakinannya untuk menjual makanan sehat beserta konsekuensinya.
2. Norma subjektif
Hal ini mengacu pada persepsi seseorang akan tekanan social untuk menjual atau tidak menjual makanan sehat.
3. Persepsi kontrol perilaku
Hal ini mengacu pada penilaian seseorang akan kemampuan atau ketidakmampuannya dalam menjual makanan sehat, atau dengan arti lain penilaian seseorang mengenai seberapa mudah atau sulit untuk menjual makanan sehat.