BAB IV SUNTINGAN TEKS
B. Ajaran Tarekat Khalwatiyah
4. Niat zikir
Pengarang teks Tarjuman menjelaskan tentang niat zikir oleh murid bagi syekh yang empunya talkin, empunya silsilah, segala anbiya dan aulia, Nabi Muhammad, ibu dan bapak, dan barang yang dikehendakinya. Niat yang dilakukan ketika murid akan berzikir ini dalam teks Tarjuman dinamakan dengan niat fatihah. Kutipan teksnya yaitu sebagai berikut.
Syahdan seyogyanya bagi murid kemudian mengucap zikir dan wirid membaca fa>tih}ah bagi syekh yang empunya talkin. Dan bagi yang empunya silsilah dan bagi segala anbiya>' dan auliya dan bagi penghulu kita Muh}ammad salla> Alla>hu „alaihi wasallama dan dua ibu bapa dan barang yang// dikehendakinya. (Tarjuman h. 22)
Pengarang menyebutkan lafal niat fatihah satu persatu mulai dari niat fatihah bagi Nabi Muhammad sampai pada syekh empunya talkin. Kutipan teksnya yaitu sebagai berikut.
Dan lafaz\ niat fatihah bagi penghulu kita Muh}ammad salla> Alla>hu „alaihi wasallama, ila> had}rati an-nabiyyi Muh}ammadin salla> Alla>h „alaihi wasallama wa a>lihi wa s}ah}bihi wa ila> abi>na> adama wa ummina> h}awa>'a wa ma> tana>sala bainahuma> wa al-anbiya>'i wa asy- syuhada>'i wa> as}-s}a>lih}i>na wa liwa>lidi>na> al- fa>tihah. Dan lafaz\ niat fatihah bagi ahli as-silsilah, ila> had}rati ahli as-silsilati kullihim, al-fa>tihah. Dan lafaz\ niat fatihah bagi syekh yang empunya talkin, ila> had}rati syaikhina> wa qudwatina> allażi> akhażna> at-talqi>na wa al-„uhūda minhu wa ma> tana>sala ilaihi al-fa>tih}ah. (Tarjuman h. 22-23)
Pada pasal ini, pengarang memberi nasihat kepada murid untuk membaca doa setelah zikir. Doa yang utama ialah doa yang ma‟sur (langsung diriwayatkan) dari Nabi Muhammad. Selain itu, dinasihatkan membaca
doa untuk orang-orang yang dikehendaki oleh murid. Kutipan doa yang ma‟sur dari Nabi dijelaskan oleh pengarang teks Tarjuman sebagai berikut.
Alla>humma inni> a„ūżubika min „ilmin la> yanfa„u wa „amalin la> yurfa„u wa du„a>'in la> yusma„u. Alla>humma inni> as'aluka min al-khairi kullihi ma> „alimta minhu wa ma> lam a„lam wa a„użu bika> min asy-syarri kullihi ma> „alimta minhu wa ma> lam a„lam. Alla>humma ah}sin „a>qibatana> fi> al-umu>ri kulliha> wa ajirna> min khizyi ad-dunya> wa„az\a>bi al-a>khirati. Alla>humma rabbana> a>tina> fi>> ad-dunya> h}asanatan wa fi al-a>khirati h}asanatan wa qina> „az\a>ba an-na>r. Kemudian maka dibaca Alla>humma la> tusallit} „alaina> biżunūbina> man la> yakha>fuk> wa la> yarh}amuna>. Alla>humma inna> nas'aluka// rid}a>ka wa al-jannata wa a„u>żu bika min sukht}ika wa an-na>r. Alla>humma innaka „afuwwun kari>mun tuh}ibbu al-„afwa fa„fu „anna>. Alla>humma j„al khaira ayya>mina> yauma nalqa>ka wa anta ra>d}in „anna> wa khtim bis}a>lih}a>ti a„ma>lina> wa tawaffana> muslimi>na wa alhiqna> [bi as}] bi as}-s}alihi>na wagfir lana> wa liwa>lidi>na> wa limasya>yikhina> wa al- muslimi>na ajma„i>n birah}matika ya> arh}ama Ar- Ra>himi>naa. Subha>na rabbika rabbi al-„izzati „ama> yas}ifu>n wa sala>mun „ala> al-mursali>na wa al-hamdu lilla>hi rabbi al-„a>lami>na. (Tarjuman: 23-24)
134
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan terhadap teks Tarjuman di dalam bab-bab sebelumnya, dapat diperoleh beberapa simpulan yaitu sebagai berikut.
1. Teks Tarjuman adalah naskah tunggal sehingga metode yang paling sesuai untuk mengadakan suntingan teks adalah metode standar. Metode standar ialah dengan menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan-kesalahan kecil dan ketidakajegan penulisan dan ejaannya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Setelah dilakukan kritik terhadap teks Tarjuman, ditemukan beberapa kesalahan salin tulis yaitu 4 buah lakuna, 4 buah adisi, 2 ditografi, 7 substitusi, 2 transposisi, dan 10 ketidakkonsistenan penulisan.
2. Struktur teks Tarjuman adalah struktur teks sastra kitab yang meliputi struktur penyajian teks Tarjuman, pusat penyajian teks Tarjuman, gaya penyajian teks Tarjuman, dan gaya bahasa teks Tarjuman. Teks Tarjuman memiliki struktur yang sistematis dimulai dengan pendahuluan, isi, dan penutup. Dilihat dari segi penyajiannya teks Tarjuman menggunakan bentuk interlinier dengan menggunakan kalimat bahasa Arab yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Pusat penyajian teks Tarjuman menggunakan metode orang pertama (ich- erzahlung) yaitu teks dituturkan sendiri oleh pengarang. Dari segi gaya bahasa teks Tarjuman memiliki 4 buah gaya bahasa yaitu (1) kosa kata yang terdiri dari kosa kata Arab yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia sebanyak 61 buah
dan kosa kata yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia sebanyak 49 buah, (2) ungkapan ada 7 buah ungkapan khusus, (3) sintaksis yang terdapat dalam teks Tarjuman adalah penggunaan kata ”dan”, ”bagi” dan ”maka”, dan (4) sarana retorika terdiri dari penguraian, polisindeton, pertentangan, gaya retorika, penyimpulan, dan bahasa kiasan.
3. Kandungan isi teks Tarjuman terdiri dari empat pasal yaitu (1) adab zikir, (2) zikir la> ila>ha illa> Alla>hu, (3)adab dan kaifiat talkin, dan (4) niat zikir.
B. Saran
Penelitian teks Tarjuman merupakan salah satu upaya penyelamatan dan pengembangan naskah sebagai warisan budaya bangsa. Peneliti berharap penelitian teks Tarjuman dapat menambah wawasan ke-Islaman bagi pembaca, khususnya tentang ajaran tarekat Khalwatiyah.
Penelitian teks Tarjuman masih sangat sederhana karena belum membahas teks secara mendalam. Oleh karena itu, peneliti memberikan beberapa saran yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti lain.
1. Selain penelitian yang menghadirkan suntingan teks, analisis struktur, dan kandungan isi teks Tarjuman, perlu adanya kajian dari berbagai disiplin ilmu yang lain sehingga kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan lengkap terhadap teks Tarjuman.
2. Penelitian terhadap teks Tarjuman bisa dikembangkan menjadi penelitian berdasarkan analisis interteks, analisis resepsi, analisis fungsi, dan sebagainya.
Diharapkan dengan adanya penelitian teks Tarjuman merupakan langkah awal bagi peneliti lain untuk mengkaji naskah bernomor Ml. 479 B, juga terhadap naskah-naskah lain yang belum pernah diteliti. Selain itu penelitian terhadap teks lama yang merupakan salah satu kekayaan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur merupakan wujud kepedulian dan kecintaan kita terhadap khazanah kebudayaan bangsa.
137
DAFTAR PUSTAKA
Aboebakar Atjeh.1990. Pengantar Ilmu Tarekat. Solo: CV. Ramadhani.
Achadiati Ikram, dkk. 2001. Katalog Naskah Buton. Koleksi Abdul Muluk Mulku Zahari. Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Adit Rosadi dan Moh.Suhud. 1960. Pelajaran Membaca dan Menulis Huruf Arab Melayu. Bandung: Pustaka Peladjar.
Amir Sutaarga, dkk. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Bani Sudardi. 2003. Penggarapan Naskah. Surakarta: Badan Penerbitan Sastra Indonesia (BPSI).
Baried-Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi, Fakultas Sastra UGM.
Behrend, T. E. 1997. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-A Fakultas Sastra Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-Ecole Francaise
D’extreme orient.
Den Heijer, Johannes dan Ab Massier. 1992. Pedoman Transliterasi Bahasa Arab. Jakarta: Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS). Edi. S. Ekadjati. 1988. Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung:
Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran dan The Toyota Foundation. Edi. S. Ekadjati dan Undang A. Darsa. 1999. Katalog Induk Naskah-naskah
Nusantara jilid 5 A Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia-Ecole Francaise D’extreme.
Edi. S. Ekadjati dan Undang A. Darsa. 2000. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta: Manassa dan Yayasan Obor Indonesia.
Edward, Djamaris. 2006. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV Manasco.
Fatmawati. 2007. “Akhlaqul Mahmudah: Suntingan Teks, Analisis Struktur dan Isi
Ajaran Tasawuf.” Sripsi. Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan
Fitri Kasanah 2008. “Jumlatu’l-Ma’rifah: Suntingan Teks dan Analisis Struktur.” Skripsi. Surakarta: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan seni Rupa Universitas Sebelas Maret.
Gorys Keraf. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Howard, H. Joseph. 1988. Malay Manuscript. La Bibliographical Guide. University
of Malaya Library: Kuala Lumpur Malaysia.
Istadiyantha. 2006. “Syattariyah; Suntingan Teks dan Analisis Fungsi.” Tesis
Magister. Yogyakarta: Fakultas Pascasarjana Universitas Gajah Mada. Jenifer Lindsay, RM. Soetanto & Alan Feinsten. 1994. Katalog Induk Naskah-
naskah Nusantara. Kraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Kartika Setyawati, dkk. 2002. Katalog Naskah Merapi-Merbabu Perpustakaan
Nasional RI. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Loir, Henry Chambert dan Oman Fathurrahman.1999. Panduan Koleksi Naskah- naskah Indonesia Sedunia- World Guide To Indonesia Manuschript Collections. Ecole Francaise d’extreme Orient. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Mahmud Yunus. 1972. Kamus Arab-Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah Pentafsiran Al-Quran. Jakarta.
Mulyadi (Ed). 1991. Lembaran Naskah-naskah Kita. Nomor khusus 12 Januari 1991. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Mulyadi dan Maryam Salahuddin. 1992. Katalog Naskah Melayu Bima III. Yayasan
Museum Kebudayaan “Samparaja”: Bima.
Nurhayati. 2006. “Risālata ‘L-Badī’iyyah Fī Tharīqati ‘N-Naqsyabandiyyati ‘L-
‘Āliyah karya Syekh Abdallah Dihlawi: Suntingan Teks, Analisis struktur dan
Isi.” Skripsi. Surakarta: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni
Rupa Universitas Sebelas Maret.
Panuti Sudjiman. 1995. Filologi Melayu. Jakarta: Pustaka Jaya.
Poerwadarminta, W.J.S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ronkel, S. Van. 1909. Catalogus Der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wettenshappen.
Ronkel, S. Van. 1921. Suplement of the Catalogus der Maleische en Minangkabausche Handschriften in de Leidshe Universiteits-Bibliotheek. Leiden: E. J. Brill.
Ronkel, S. Van. 1921. Suplemento the Catalogue of the Arabic Manuscript. Filiaal Albrecht and Co. Weltevreden.
Sholeh Dasuki. 1999. Metode Penyuntingan Teks dalam Filologi. Dalam Haluan Sastra Budaya. Surakarta: Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret. Siti Chamamah-Soeratno, et al. 1992. Memahami Karya-karya Nuruddin Arraniri.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Siti Fathilah Nur Hidayati. 2006. “Risālah Tabyin ath-Tharīq ilā ‘l-Lāhi Ta’ālā
karya Ali Al-Muttaqi: Suntingan Teks dan Tinjauan Tasawuf”. Skripsi. Surakarta: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret.
Sri Sukesi Adiwimarta, dkk. 1983. Kamus Besar Bahasa Indonesia I. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Teuku Iskandar. 1999. Catalogue of Malay Minangkabau and South Sumatran Manuscripts in The Netherlands (volume one). Leiden: Documentatiebureau Islam-Christendon.
Tim Puslitbang Lektur Keagamaan. 2003. Pedoman Transliterasi Arab Latin. Jakarta: Departemen Agama RI.
Van Bruinenssen, Martin. 1995. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung: Mizan.
Wieringa, E.P. 1998. Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscript. In The Library of Leiden University and Other Collections in the Netherland (volume one) Leiden: Legatum Warnerianum in Leiden University Library. Voorhoeve, P.& T.Iskandar 1994. Catalogue of Acehnese Manuscripts in the Library
of Leiden University and Other Collections Outside Aceh. Leiden: Leiden University Library-ILDEP.
Abdul Hadi W.M. 2008. “Zikir, Metode, dan Prakteknya” dalam
http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/12/05/zikir-metode-dan- prakteknya-2/ diakses 29 Juni 2010. Pukul 5:39 WIB.
Muhammad Syafii. 2009. “Tarekat Khalwatiyah” dalam http://msyafii.blog.friendster.com/2009/01/tarekat-khalwatiyah/ diakses 22 Juni 2010. Pukul 13:00 WIB.
Nidia Zuraya. 2010. “Tarekat Khalwatiyah” dalam http://www.republika.co.id/ diakses 5 Mei 2010. Pukul 13:58 WIB.