BAB IV SUNTINGAN TEKS
A. Stuktur Sastra Kitab
1. Struktur Penyajian Teks
Struktur penyajian sastra kitab terdiri atas 3 bagian yaitu (1) Pendahuluan, (2) Isi dan (3) Penutup. Untuk mempermudah uraian selanjutnya maka dibuat skema struktur teks Tarjuman sebagai berikut.
I A1(a-b-c-d-e)-B1(a-b-c-d)-C1(a-b-c) II A2(a-b-c)-B2(a-b-c)-C2(a-b-c-d)-D2-E2-F2 III A3(a-b-c-d)
Simbol-simbol di atas dijelaskan sebagai berikut. a. Pendahuluan
A1 Pembukaan a) Bacaan basmalah
Teks Tarjuman didahului dengan bacaan basmalah yaitu sebagai berikut, “Bismi Allahi ar-Rah}ma>ni ar-Rah}i>mi.”( Tarjuman h. 1) b) Bacaan hamdalah
Bacaan hamdalah merupakan bacaan pujian kepada Allah Taala sebagai pencipta alam. “Al-h}amdu (li Alla>hi) Rabbi Al-„a>lami>na. Segala puji-pujian tertentu bagi Allah Taala yang bermilik sekalian alam”. (Tarjuman h. 1)
c) Selawat
Di dalam teks Tarjuman terdapat bacaan selawat kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat. Kutipannya yaitu sebagai berikut.
Wa as}-s}ala>tu wa as-sala>mu „ala Muh}ammadin sayyidi al- anbiya>'i wa al-mursali>na. Dan rahmat Allah dan selamat atas Muhammad penghulu segala anbiyā`i dan segala nabi yang mursal, wa„ala> a>lihi was}ah}bihi ajma„i>na. Dan atas segala keluarganya dan sahabatnya sekalian mereka itu. (Tarjuman h. 1) d) Kata amma> ba‟du
Kata amma> ba‟du yang terdapat pada teks Tarjuman merupakan ungkapan untuk mengakhiri pembukaan. Kata amma> ba‟du
diterjemahkan “adapun kemudian dari itu”.
B1 Kepengarangan
a) Latar belakang penulisan teks Tarjuman.
Teks Tarjuman sebagai satu risalah yang latif (halus, lembut) dan sedikit yang menyatakan adab zikir dan hal-hal yang berhubungan
dengannya atas tarekat Khalwatiyah, telah diterjemahkan dalam bahasa Jawi agar memberikan manfaat kepada orang yang mubtadi.
Adapun kemudian dari itu, maka itulah satu risalahnya yang latif lagi sedikit pada menyatakan akan adab zikir dan barang yang bergantung dengan dia atas tarekat khalwatiyyah. Rujimtu <bilisa>ni> al-jawiyyi liyantafi„a biha> al-mubtadi'u kamis\lihi. Telah akan juru bahasa dengan bahasa Jawi, supaya beroleh manfaat dengan dia orang yang mubtadi yang seumpama aku (Tarjuman h. 1)
Orang yang mubtadi ialah orang yang baru memulai atau orang baru dalam taraf awal menuntut ilmu. Orang mubtadi ini diibaratkan dengan
“aku” yang menunjukkan “aku” penulis. b) Motivasi penulisan teks Tarjuman
Motivasi penulisan teks Tarjuman ialah mengharap pahala dari Allah Taala. Adapun kutipannya yaitu sebagai berikut:
Wa as'alu Alla>ha an yunfi„a. Bihā kamā nafi‟a biās}lihā. Dan aku mohon daripada Allah Taala, bahwa memberi manfaat dengan dia seperti barang yang telah memberi manfaat bagi asalnya (Tarjuman h. 1)
c) Judul teks
Teks ini berjudul “Tarjumānu Al-Mustafi>di Min Al-„Arabiyyati Li Adabi Aż-Żikri „Alā At}-T{ari>qati Al-Khalwātiyyati”. Judul tersebut terdapat di dalam pendahuluan teks, diawali dengan bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Kutipannya yaitu sebagai berikut.
Wa sammaituha> tarjuma>nu [al-mu] al-mustafi>di min al- „arabiyyati li adabi aż-żikri „ala> at{-t{ari>qati <fi>>al- khalwa>tiyyati. Maka aku namai akan dia tarjuma>n al- mustafid, artinya juru bahasa yang diambil faedah daripada bahasa arab pada menyatakan adab zikir atas tarekat khalwati.(Tarjuman h. 1)
d) Harapan pengarang
Harapan penulisan teks Tarjuman oleh penulis ialah memohon kepada Allah Taala agar tulisan yang disalin dapat memberi manfaat bagi orang lain. Adapun kutipannya yaitu sebagai berikut:
Wa as'alu Alla>ha an yunfi„a. Bihā kamā nafi‟a biās}lihā. Dan aku mohon daripada Allah Taala, bahwa memberi manfaat dengan dia seperti barang yang telah memberi manfaat bagi asalnya (Tarjuman h. 1)
b. Isi
Tarekat Khalwatiyah memiliki pokok-pokok ajaran yang berkisar pada usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan dan latihan kerohanian. Amalan tarekat terletak pada pelaksanaan shalat dan zikir yang tertib dan teratur. Bagi Tarekat Khalwatiyah zikir merupakan amalan yang sifatnya wajib„ain (wajib bagi setiap individu).
Karena zikir memiliki kedudukan sangat penting, maka memperhatikan adab berzikir merupakan suatu keharusan. Oleh sebab itu penulis teks Tarjuman menjelaskan adab zikir tarekat Khalwatiyah yang berjumlah 20 adab dengan jelas dan runtut. Adab zikir ini dibagi menjadi 3 yaitu 5 adab sebelum zikir, 12 adab saat zikir, dan 3 adab setelah zikir.
A2 Penjelasan adab zikir a. 5 adab sebelum zikir.
Pengarang menyebutkan 5 adab sebelum zikir yaitu (1) Taubat dari maksiat, (2) suci dari hadas kecil dan besar, (3) diam seraya membimbing hati kepada Allah, (4) minta tolong dengan hatinya kepada syekh ketika mabuk kepada zikir dan kaifiatnya, dan (5) diiktikadkan minta tolong dalam berzikir kepada syekhnya.
b. 12 adab saat zikir.
12 adab saat zikir yang dijelaskan pengarang teks Tarjuman yaitu (1) duduk di tempat yang suci, (2) meletakkan dua telapak tangan di atas kedua paha seperti duduk dalam sembahyang dan menghadap kiblat, (3) Menghilangkan bau pada kain dan pada tempat berzikir, (4) memakai pakaian yang halal, (5) memilih tempat yang kelam jika mampu, (6) memejamkan mata, (7) membayangkan wajah syekhnya di dalam hati, (8) berzikir bersama-sama atau sendiri, (9) Ikhlas, (10) memilih kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu ketika berzikir, (11) menghadirkan makna zikir dengan hati sesuai derajat musyahadahnya, dan (12) saat berzikir hanya mengingat Allah dan menafikkan selain-Nya.
c. 3 adab setelah zikir.
Adab zikir yang terakhir yaitu 3 adab setelah zikir yaitu (1) diam, khusyuk dan tawaduk saat berzikir, (2) menetapkan nafas dari keluarnya kadar tiga nafas atau lebih, dan (3) menahan diri dari minum air segar satu samat atau setengahnya.
B2 Tentang kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu.
Zikir la> ila>ha illa> Alla>hu banyak dibahas dalam teks Tarjuman, hal ini dikarenakan kalimat la> ila>ha illa> Alla>hutermasukke dalam salah satu amalan zikir yang disebut Al-Asma' As-Sab'ah (tujuh nama), yaitu tujuh macam zikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus diamalkan oleh setiap murid tarekat Khalwatiyah. Kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu merupakan zikir pada tingkat yang pertama yang disebut an-Nafs al-Ammarah, yaitu nafsu yang bermuara kepada keburukan dan amarah.
a. Penjelasan tentang kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu.
Penulis menjelaskan bahwa kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu
merupakan empat kalimat pada lafaz} dan lima kalimat dengan yang mah}z\u>f. Kalimat yang mah}z\u>f itu maujud, sehingga kalimat
la> ila>ha illa> Alla>hu itu maujud. 4 kalimat pada lafaz} yaitu sebagai berikut.
1. Kalimat nafi, yaitu Lā
2. Kalimat yang di nafi, yaituila>ha 3. kalimat istifna> ', yaituilla
4. Kalimat yang disebut yaitu, Allah
b. Penjelasan tentang kandungan huruf pada kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu.
Adapun kutipan teksnya yaitu, ”Adapun sekalian huruf la> ila>ha illa Alla>hu itu tersimpan kepada empat huruf.
Pertama la>m. Kedua alif. Ketiga ha. Keempat hamzah”. (Tarjuman h. 10)
Penulis juga menjelaskan tentang cara pengucapan huruf- hurufnya, yaitu:
1. Makhraj la>mdiucapkan pada tepi lidah. 2. Makhraj alif diucapkan di dalam rongga mulut.
3. Makhraj ha dan hamzah diucapkan di dalam h{ulqu>m (kerongkongan), tetapi hamzah lebih sedikit daripada ha.
c. Penjelasan tentang keutamaan kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu.
Keutamaan kalimat la> ila>ha illa> Alla>hudijelaskan oleh penulis berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. Selain itu diberikan nasehat bahwa membaca la> ila>ha illa> Alla>hu
sebaiknya dengan menunaikan hak segala hurufnya, yang berarti membaca kalimat tersebut dengan baik dan benar. Hal ini dikarenakan agar pembacanya mendapat pahala yang sempurna dari Allah Swt. Berikut ini kutipan teks yang berisi fadilah (keutamaan) kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu.
Dan lagi sabda nabi s}ala> Alla>hu „alaihi wa sallama, “Inna li Alla>h „amu>dan min nu>ri baina yadai al-'arsyi faiz\a qa>la al-'abdu la> ila>ha illa> Allah ihtazza z\alika al-'amu>du fayaqu>lu Alla>hu uskun fayaqu>lu kaifa askun wa lam tagfir liqa>'iliha fayaqu>lu Alla>hu qad gafartu fayaskunu”,yakni bahwasanya bagi Allah Taala itu satu tiang daripada nu>r antara hadapan„arsy Allah Taala. (Tarjuman h. 13)
C2 Tentang talkin (menuntun membaca kalimat la> ila>ha illa> Alla>hu).
a. Penjelasan tentang adab talkin
Adab dan kaifiat talkin dijelaskan pengarang dengan cukup panjang disertai dengan langkah-langkahnya. Kutipan teks tentang ada talkin yaitu sebagai berikut.
Dan mohon ketahui olehmu setengah daripada adab talqin itu bahwa menyuruh oleh syekh akan muridnya mula-mula tidur tiga malam dengan air, sembahyang pada tiap-tiap malam, sembahyang sunah dua rakaat (Tarjuman h.15)
b. Penjelasan tentang kaifiat talkin jika bersama laki-laki.
Pengarang merinci kaifiat talkin jika bersama laki-laki yang meliputi shalat sunnah dua rakaat, taubat dari dosa, murid berhadapan langsung dengan syekh, duduk bersimpuh dengan meletakkan dua tangan di lutut, menghadap kiblat, memejamkan mata, dan mengikuti apa yang diucapkan syekhnya.
c. Penjelasan tentang kaifiat talkin zikir la> ila>ha illa> Alla>hu dan ‟uhu>d bagi perempuan yang khianat.
Adapun kutipan teks tentang kaifiat talkin zikir dan„uhu>d bagi perempuan yang khianat yaitu sebagai berikut.
Adapun// kaifiyat talkin zikir dan„uhu>d bagi perempuan yang khianat maka menghantar oleh syekh tangannya kepada tangan perempuan seperti kaifiat yang telah tersebut padahal dengan berlaku antara keduanya itu diri berdampingan, maka dihampar muka keduanya kepada air itu hingga dapat meniliki antara keduanya dalam air itu maka talkin seperti yang telah tersebut jua dan jangan menilik akan rupanya pada hal bukan dalam air.(Tarjuman h. 18)
Penulis juga menjelaskan tentang talkin dan uhud bagi perempuan dengan tiga syuraka>'yaitu sebagai berikut.
1. Jangan menyentuh perempuan. 2. Jangan duduk bersamanya. 3. Jangan melihat wajahnya.
D2 Tentang nasehat memelihara diri bagi murid kepada perempuan yang khianat dan orang muda.
Nasehat ini didasarkan pada firman Allah Taala, Q.S. Al- Ahzab: 53, tentang cara bergaul antara laki-laki dengan wanita untuk menjaga kesucian hati masing-masing. Kutipan teksnya yaitu sebagai berikut.
Seperti firman Allah Taala, wa iz\a> sa'altumūhunna mata>„an fas'alūhunna min wara>'i h}ija>bin ża>likum at}haru liqulūbikum waqulūbihinna, yakni jika kamu tanyai hai laki-laki akan mereka itu perempuan minta benda. Maka tanyai olehmu kamu hai laki-laki akan mereka itu perempuan daripada belakang dinding. Bermula demikian itu terlebih suci hati bagi kamu dan hati mereka itu. (Tarjuman h. 21)
E2 Penyebutan tentang 6 risalah Arab yang diambil oleh penyalin naskah. 6 risalah yang diambil oleh penyalin disebutkan lengkap
dengan nama pengarangnya, kutipan teksnya yaitu sebagai berikut. Pertama, risalah syekh Muh}ammad al-Ami>ri al-Ma>liki>. Kedua, risalah syekh Ah}mad ad-Dardi>ri> al-khalwa>ti>. Ketiga, risalah
Sibt}u al-Marsufi> yang bernama jauhar al-khas}i. Keempat,
tuh}fatu as-sa>liki>n bagi syekh as-Sama>nu>ri al-khalwa>ti. Kelima, kitab al-birru wa as-sulu>k. Keenam, rabi>„u al-fu'a>di
bagi syekh „Abdulla>hasy-Syarqa>wi rahimahumu Allahta„a>la>
Selain itu, diberi keterangan bahwa jika pembaca mengetahui ada kesalahan terhadap amalan atau ibadah para pengarang risalah di atas, maka hendaknya tetap mempergauli mereka dengan baik dan tetap merujuk pohon risalah di atas dalam menuntut ilmu.
F2 Penjelasan tentang lafaz niat fatihah oleh murid (bagi syekh yang empunya talkin, empunya silsilah, segala anbiya, dan aulia, dan Nabi Muhammad, dan dua ibu bapak dan barang yang dikehendakinya) dan penjelasan doa yang diriwayatkan (ma‟sur) dari Nabi setelah zikir dan wirid.
Penulis secara rinci menjelaskan lafaz niat oleh murid bagi Nabi Muhammad, syekh empunya silsilah dan empunya talkin. Lafaz niat ini ditulis dalam bahasa Arab yang tidak diikuti dengan artinya. Kutipan teksnya yaitu sebagai berikut.
Dan lafaz\ niat fatihah bagi penghulu kita Muh}ammad salla>
Alla>hu „alaihi wasallama, ila> had}rati an-nabiyyi
Muh}ammadin salla> Alla>h „alaihi wasallama wa a>lihi wa
s}ah}bihi wa ila> abi>na> adama wa ummina> h}awa>'a wa ma> tana>sala bainahuma> wa al-anbiya>'i wa asy- syuhada>'i wa> as}-s}a>lih}i>na wa liwa>lidi>na> al- fa>tihah. Dan lafaz\ niat fatihah bagi ahli as-silsilah, ila> had}rati ahli as-silsilati kullihim, al-fa>tihah. Dan lafaz\ niat
fatihah bagi syekh yang empunya talkin, ila> had}rati syaikhina> wa qudwatina> allażi> akhażna> at-talqi>na wa al-„uhūda minhu wama> tana>sala ilaihi al-fa>tih}ah. (Tarjuman h. 24)
Diharuskan kepada murid untuk membaca doa setelah zikir dan wirid. Doanya dipilihkan doa yang langsung diriwayatkan oleh Nabi
Muhammad (ma‟sur). Setelah itu baru membaca doa bagi orang yang dikehendaki oleh murid.
c. Penutup
A3 Penutup terdiri dari:
a. Penyebutan identitas penyalin.
Penyalin teks menuliskan identitasnya dengan menyebutkan nama dan asal negerinya. Kutipannya yaitu sebagai berikut.
Dan adalah sanad hamba fakir yang hina, Abas namanya, Aceh nama negerinya pada tarekat khalwa>ti>, maka hamba sebut disini karena mengambil berkah dengan mereka itu. (Tarjuman h. 25)
b. Penyebutan sanad tarekat Khalwati antara penerjemah naskah sampai dengan Nabi Muhammad.
Penerjemah naskah menyebutkan sanad tarekat Khalwatiyah dengan detail. Penyebutan ini ditulis mulai dari penterjemah sampai kepada Nabi Muhammad, Jibril, dan Allah Taala. Berikut kutipan terakhir pengambilan sanad oleh penterjemah.
Dan yaitu mengambil dari pada nabi kita Muh}ammad bin „Abdillah salla> Alla>hu „alaihi wa s}allama. Dan yaitu mengambil daripada Jibri>l „alaihi as}-s}ala>tu wa as-sala>mu. Dan yaitu mengambil daripada Allah Subhanahu wa Taala, inilah sanad hamba fakir yang hina yang muttas}il dengan nabi s}alla> Alla>hu „alaihi wa
sallama.(Tarjuman h. 28)
c. Penjelasan mengenai selesainya penulisan teks.
Penulis menyebutkan selesainya penulisan teks. Lengkap mulai dari tempat, waktu, dan situasi. Penyebutan tempat ditandai
dengan nama negeri ”Mekah”. Penyebutan waktu meliputi hari, bulan (Safar), dan tahun (1260 H). Penyebutan situasi ditandai
dengan ”sembahyang zuhur”, yang menunjukkan siang hari bertepatan dengan waktu shalat duhur. Kutipannya yaitu sebagai berikut.
Wa ka>na al-fara>gu min tarjuma>ni ha>z\ihi ar-risa>lati „ala> yadi al-mutarjimi fi makkata al-musyarrafati s\ali\s\ s}afar min al-
„a>mi al-muwaffa> lissitti>na wa al-mi'ataini ba„da alfi min hijrati an-nabiyyi s}alla> Alla>hu „alaihi wa sallama, bakda zuhur. Dan adalah selesai daripada terjemah risalah ini atas tangan yang menterjemah dalam negeri Makkah yang mulia pada yang ketiga hari bulan Safar, daripada tahun yang sempurna bagi enam puluh dan dua ratus kemudian daripada seribu tahun daripada hijrah nabi s}alla> Alla>hu „alaihi wa sallama kemudian sembahyang zuhur. (Tarjuman h. 29)
d. Selawat kepada Nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabatnya.
Sebagai penutup, penulis menuliskan selawat kepada Nabi, keluarga dan sahabatnya.
Wa s}alla> Alla>hu wa sallama „alaihi sayyidina> Muh}ammad wa
„ala> a>lihi was}ah}bihi ajma„i>na. Dan rahmat dan selamat atas penghulu kita Muh}ammad dan atas segala keluar// ga[ra]nya dan sahabatnya sekalian mereka itu. (Tarjuman h. 29)