• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Prawirohardjo (2009 ; h. 356) masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu setelah persalinan. Proses ini di mulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil sebagai akibat dari adanya perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan (Saleha. 2009 ; h. 3).

Dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali sebelum hamil.

b. Tahapan Masa nifas

Menurut Saleha (2009 ; h. 5) tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah

1) Periode immediate postpartum

Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri.

2) Periode early postpartum (24 jam-1 minggu)

Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.

3) Periode late postpartum (1 minggu-6 minggu)

Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB.

c. Perubahan fisiologis Masa nifas

Menurut Saleha (2008 ; h. 53), selama masa nifas, alat-alat interna maupun eksterna berangsur-angsur kembali seperti keadaan sebelum

hamil, perubahan keseluruhan alat genitalia ini disebut involusi. Perubahan-perubahan yang terjadi antara lain :

1) Sistem reproduksi a) Uterus

Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilicus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi. 2 hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga dalam 2 minggu telah turun masuk kedalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar. Berikut tabel TFU dan Berat uterus menurut masa involusi

Tabel 2. 1 TFU dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi TFU Berat uterus

Bayi lahir Setinggi pusat, 2 jari dibawah pusat

1000 gr

1 minggu Pertengahan pusat simfisis

750 gr

2 minggu Tidak teraba diatas simfisis

500 gr

6minggu Normal 50 gr

8 minggu Normal tapi sebelum hamil

30 gr

Sumber : (Saleha. 2009 ; h. 55) b) Lokia

Adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas. Lokia terbagi menjadi 4 jenis yaitu :

(1) Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks caseosa,lanugo dan mekonium selama 2 hari pascapersalinan. (2) Lokia sanguilenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke 3 sampai ke 7 pascapersalinan. (3) Lokia serosa adalah lokia berikutnya, dimulai dengan versi

yang lebih pucat dari lokia rubra. Lokia ini berbentuk serum dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7 sampai hari ke 14 pascapersalinan.

(4) Lokia alba adalah lokia yang terakhir, dimulai dari hari ke 14 kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali berhenti sampai 1 atau 2 minggu berikutnya. Bentuknya seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua (Saleha. 2009 ; h. 55).

c) Endometrium

Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan pelepasan janin. Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta (Saleha. 2009 ; h. 56).

d) Serviks

Segera berakhirnya kala itu, serviks menjadi sangat lembek, kendor dan terkulai. Serviks tersebut bias melepuh dan lecet, terutama di bagian anterior. Serviks akan terlihat padat yang mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang serviks lambat laun mengecil, beberapa hari setelah persalinan diri retak karena robekan dalam persalinan. Rongga leher serviks bagian luar akan membentuk seperti keadaan sebelum hamil pada saat 4 minggu postpartum (Saleha. 2009 ; h. 57).

e) Vagina

Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerperium merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali pada minggu ketiga. Hymen tampak sebagai tonjolan jaringan yang kecil, yang dalam proses pembentukan berubah menjadi karunkulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara (Saleha. 2009 ; h. 57).

f) Payudara (mamae)

Proses menyusui mempunyai 2 mekanisme fisiologis, yaitu : (1) Produksi susu

Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar pituitary akan mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi menghisap putting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitary untuk menyekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down (mengalirkan), sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI dialirkan karena isapan bayi atau dengan pompa sel-sel akini terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak (Saleha. 2009 ; h. 57).

2) Sistem pencernaan

Setelah kelahiran plasenta, terjadi pula penurunan produksi progesteron, sehingga yang menyebabkan nyeri ulu hati (heartburn) dan konstipasi, terutama dalam beberapa hari pertama. Hal ini terjadi karean inaktivitas motilitas usus akibat kurangnya keseimbangan cairan selama persalinan dan adanya reflek hambatan defekasi karena adanya rasa nyeri pada perineum akibat luka episiotomy (Saleha. 2009 ; h. 58).

3) Sistem perkemihan

Diuresis dapat terjadi setelah 2 – 3 hari postpartum. Diuresis terjadi karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu postpartum. Pada awal postpartum kandung kemih mengalami oedema, kongesti dan hipotonik. Hal ini disebabkan oleh adanya overdistensi pada saat kala dua persalinan dan pengeluaran urine yang tertahan selama proses persalinan. Sumbatan pada uretra disebabkan oleh adanya trauma saat persalinan berlangsung dan trauma ini dapat berkurang setelah 24 jam postpartum (Saleha. 2009 ; h. 59).

4) Sistem endokrin

Saat plasenta terlepas dari dinding uterus, kadar HCG dan HPL secara berangsur turun dan normal kembali setelah 7 hari postpartum. HCG tidak terdapat dalam urin ibu setelah 2 hari postpartum. HPL tidak lagi terdapat dalam plasma (Saleha. 2009 ; h. 60).

5) Perubahan sistem kardiovaskular

Curah jantung meningkat selama persalinan dan berlangsung sampai kala III ketika volume darah uterus dikeluarkan beberapa hari pertama postpartum dan akan kembali normal pada akhir minggu ke-3 postpartum (Saleha. 2009 ; h. 61).

6) Perubahan sistem hematologi

Leokositosis mungkin terjadi selama persalinan, sel darah merah berkisar 15.000 selama persalinan. Peningkatan sel darah putih berkisar antara 25.000 – 30.000 yang merupakan manifestasi adanya infeksi pada persalinan lama. Hal ini dapat meningkatkan pada awal nifas yang terjadi bersamaan dengan peningkatan tekanan darah serta volume plasma dan volume sel darah merah. Pada 2 – 3 hari postpartum, konsentrasi hematokit menurun sekitar 2 % atau lebih. Total kehilangan darah pada saat persalinan 500 – 800 ml, (200 – 200 ml hilang pada saat persalinan, 500 – 800 hilang pada minggu pertama postpartum dan 500 ml hilang pada saat masa nifas) (Saleha. 2009 ; h. 61).

7) Perubahan tanda vital

Tekanan darah harus dalam keadaan stabil. Suhu turun secara perlahan dan stabil pada 24 jam postpartum. Nadi menjadi normal setelah persalinan (Bahiyatun, dkk. 2008 ; h. 61).

d. Program dan kebijakan teknis

Menurut Saleha (2008 ; h. 83), paling sedikit 4 kali kunjungan nifas dilakukan untuk menilai status ibu, bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi, menangani masalah – masalah yang terjadi.

1) Kunjungan 6 – 8 jam setelah persalinan, tujuannya : a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut

c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan nifas karena atonia uteri

d) Pemberian ASI awal

e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

f) Menjaga bayi agar tetap hangat dengan cara mencegah hipotermi (Saleha. 2008 ; h. 83).

2) Kunjungan 6 hari setelah persalinan, tujuannya :

a) Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.

b) Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal

c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat

d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda – tanda penyulit.

e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari – hari (Saleha. 2008 ; h. 83).

3) Kunjungan 2 minggu setelah persalinan, tujuannya :

a) Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.

b) Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal

c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat

d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda – tanda penyulit.

e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari – hari (Saleha. 2008 ; h. 83).

4) Kunjungan 6 minggu setelah, tujuannya :

a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ibu atau bayi alami.

b) Memberikan konseling untuk KB secara dini (Saleha. 2008 ; h. 83). e. Adaptasi psikologis pada ibu nifas

Menurut Sulistyawati (2009 ; h. 87), perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani. Tanggung jawab bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut.

1) Fase taking in

Fase taking in yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu sedang berfokus terutama pada dirinya sendiri. Ketidaknyamanan fisik yang dialami ibu pada fase ini seperti rasa mules, nyeri pada jahitan, kurang tidur dan kelelahan tidak dapat dihindari dan hal tersebut membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gangguan psikologis sehingga meyebabkan ibu mudah tersinggung dan menangis. Kehadiran suami dan keluarga sangat penting pada fase ini (Sulistyawati. 2009 ; h. 87).

2) Fase taking hold

Fase taking hold yakni periode yang berlangsung antara 3- 10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Dukungan moril sangat diperlukan untuk menimbulkan kepercayaan diri ibu (Sulistyawati. 2009 ; h. 87).

3) Fase letting go

Fase letting go yaitu periode menerima tanggung jawab akan perannya barunya sebagai ibu. Fase ini berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan dengan ketergantungan bayinya (Sulistyawati. 2009 ; h. 87).

f. Deteksi dini komplikasi dan penanganan

Deteksi dini masa nifas adalah memantau kondisi Ibu dan bayi pasca persalinan dalam rangka menghindari komplikasi yang mungkin terjadi dan untuk mencapai tingkat kesehatan yang sebaik mungkin bagi ibu

yang baru melahirkan (post partum). Menurut Sulistyawati (2009 ; h. 173), macam-macam komplikasi yang sering timbul pada masa nifas : 1) Perdarahan Masa Nifas (HPP)

Perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pascapersalinan, terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini :

a) Perkiraan kehilangan darah biasannya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain didalam ember dan lantai.

b) Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.

c) Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.

Hemorargi post partum sekunder adalah mencakup semua kejadian PPH yang terjadi antara 24 jam setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa post partum (Sulistyawati. 2009 ; h. 173). 2) Infeksi Masa Nifas

Infeksi nifas merupakan masuknya bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan. Kenaikan suhu sampai 38 derajat celcius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama (Sulistyawati. 2009 ; h. 173). 3) Sakit Kepala, Nyeri Epigastrik, Penglihatan Kabur

Wanita yang baru melahirkan sering mengeluh sakit kepala hebat atau penglihatan kabur. Gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda terjadinya Eklampsia post partum, bila disertai dengan tekanan darah yang tinggi (Sulistyawati. 2009 ; h. 174).

Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu di rumah yaitu

1) Kebersihan Diri

a) Menganjurkan kebersihan seluruh tubuh.

b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar. c) Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut

setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika. d) Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air

sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.

e) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka (Saleha. 2009 ; h. 73). 2) Istirahat

a) Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.

b) Menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga biasa secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.

c) Menjelaskan kepada ibu bahwa kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam berbagai hal :

(1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi

(2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan

(3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Saleha. 2009 ; h. 74).

3) Latihan

a) Mendiskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasakan lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.

b) Menjelaskan bahwa latihan-latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat membantu mempercepat mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal, seperti :

(1) Tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai lima. Rileks dan ulangi 10 kali. (2) Untuk memperkuat otot vagina, berdiri dengan tungkai dirapatkan.

Kencangkan otot-otot pantat dan dan panggul tahan sampai 5 kali hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.

(3) Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan latihan sebanyak 30 kali (Saleha. 2009 ; h. 75).

4) Gizi

Pendidikan untuk Ibu menyusui harus :

a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari

b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.

c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)

d) Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.

e) Minum kapsul vit. A (200.000 unit) agar bisa memberikan vit. A kepada bayinya melalui ASI-nya (Saleha. 2009 ; h. 71).

5) Perawatan Payudara

Perawatan payudara untuk ibu postpartum dirumah yaitu : a) Menjaga payudara tetap bersih dan kering.

b) Mengenakan BH yang menyokong payudara.

c) Apabila putting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dari putting susu yang tidak lecet.

d) Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.

(1) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit.

(2) Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting.

(3) Keluarkan ASI sebagian dari nagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak.

(4) Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluakan dengan tangan.

(5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui. (6) Payudara dikeringkan (Saleha. 2009 ; h. 90).

6) Hubungan Perkawinan atau Rumah Tangga

Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan (Saleha. 2009 ; h. 75). 7) Keluarga Berencana

Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali.

Untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini adalah 2% kehamilan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu telah haid lagi. Sebelum menggunakan metode KB hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu :

a) Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya b) Kelebihan/ keuntungan

c) Kekurangannya d) Efek samping

e) Bagaimana menggunakan metode ini

f) Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusui (Saleha. 2009 ; h. 76).

5. BAYI BARU LAHIR

Dokumen terkait