• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERNIKAHAN DAN PERMASALAHANNYA

D. Nikah yang Dilarang Dalam Islam

Dalam Islam meskipun pernikahan merupakan salah satu hal yang disyariatkan Allah, namun juga terdapat beberapa bentuk perkawinan yang dilarang. Beberapa perkawinan yang dilarang ini dikarenakan pada dasarnya bentuk pernikahan tersebut tidak sejalan dengan prinsip pernikahan yang disyariatkan Allah kepada umatnya. Untuk itu pada sub bagian ini penulis akan memaparkan beberapa pernikahan yang dilarang dalam Islam.

1. Nikah Mut`ah

Nikah mut`ah juda disebut dengan nikah sementara dan pernikahan yang terputus merupakan sebuah pernikahan yang memang pernah terjadi sebelum Islam datang. Namun, juga masih tetap ada beberapa waktu kemudian. Bentuknya adalah perjanjian suatu akad pribadi antara seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup bersama (ikatan pernikahan) dalam beberapa waktu tertentu, sehari, semingu, ataupun sebulan. Pernikahan dengan bentuk seperti ini disebut dengan

nikah mut`ah, karena seorang pria bermaksud untuk bersenang-senang sementara waktu saja. 62

Dengan dimikian dapat kita pahami bahwa pada dasarnya nikah mut`ah ini merupakan bentuk pernikahan dengan waktu tertentu saja, dan pernikahan ini dilarang dalam Islam.

Nikah mut`ah ini terlarang karena keluar dari prinsip pernikahan pada dasarnya, dimana pernikahan bertujuan untuk memelihara keturunan itulah maksud pokok disyari`atkannya pernikahan.63 Disamping itu juga mempunyai maksud lain untuk menyalurkan hasrat seksual manusia secara biologis serta menjadikan pernikahan sebagai satu solusi agar umat manusia terhindar dari perbuatan yang dilarang Allah.

Pada masa sebelum datangnya Islam nikah mut`ah ini pernah diperbolehkan pada masa Rasulullah dan kemudian Allah menghapuskannya melalui lisan Rasulullah untuk selamanya, sampai hari kiamat kelak. Hal ini berdasarkan dengan hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib :64

ُﻦَﺴَلحا ِنَِرَ ﺒْخَأ :ُلﻮُﻘَ ي ،َّيِرْهُّزلا َعَِسْ ُﻪَّنَأ ،َةَﻨْ يَ يُﻋ ُﻦْﺑا ﺎَﻨَ ثَّﺪَح ،َليِﻋﺎَْسِْإ ُﻦْﺑ ُكِلﺎَﻣ ﺎَﻨَ ثَّﺪَح ُﻦْﺑ

ُﺪْﺒَﻋ ُهﻮُخَأَو ،ٍّﻲِلَﻋ ِﻦْﺑ ِﺪَّمَُمَ

ِﻦْﺑ ِلا َلﺎَﻗ ،ُﻪْﻨَﻋ َُّللَّا َﻲِﺿَر ﺎِّيِلَﻋ َّنَأ ،ﺎَمِهيِﺑَأ ْﻦَﻋ ،ٍﺪَّمَُمَ ُﻦْﺑ َِّللَّا

: ٍسﺎَّﺒَﻋ َﻦَﻣَز ،ِةَّيِلْهَلأا ِرُمُلحا ِمﻮُُلح ْﻦَﻋَو ،ِةَﻌْ تُلما ِﻦَﻋ ىَهَ ن َمَّلَﺳَو ِﻪْيَلَﻋ ُﷲ ىَّلَص َِّبَِّﻨلا َّنِإ «

َرَ ﺒْ يَخ

»

65

62 Ladzy Safroni, Seluk Beluk Pernikahan di Indonesia, (Yogyakarta : Aditya Media Publishin, 2014), hlm. 41

63 Muhammad Sa`id Ramadhan Al-Buthi, Dawabit Mashlahah fi Syari`ah al-Islamiyyah, (Beirut : Muasasah Risalah : 1973), hlm. 139

64Syaikh Kamil Muhammad Muhammad `Uwaidah, Al-Jami` Fi Fiqhi An-Nisa`, terj : Abdul Ghofar, Fikih Wanita, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2000), hlm. 283

65Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja`fi, Shahih Bukhari Juz VII, Muhaqqiq : Muhammad Zuhair Nasir bin An-Nashir,..., hlm. 12

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Malik bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyainah, sesungguhnya dia mendengar dari Zuhri, dia berkata: telah mengkabarkan kepadaku Hasan bin Muhammad bin Ali, saudaranya Abdullah bin Muhammad, dari bapak meraka, sesungguhnya Ali semoda Allah meridhoinya berkata kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya Nabi Salallahu Alaihi wa Sallam melarang nikah mut`ah dan juga daging keledai peliharaan pada masa perang Khaibar” (H.R Bukhari)

Pada awal Islam memang pernikahan mut`ah ini diperbolehkan sebagaimana yang penulis kutip dari buku karangan Syaikh Kamil Muhammad Muhammad `Uwaidah, bahwasnya Ibnu Abbas pernah mengatakan : sebenarnya nikah mut`ah itu ada, namun hanya pada awal Islam. ada seseorang yang mendatangi negeri yang asing baginya. Lalu dia menikahi wanita penduduk asli negeri tersebut dengan perkiraan bahwa ia akan tingga di sana dan wanita yang ia nikahi bisa menjaga serta mengatur barang-barang dagangannya. Namun, tidak lama kemudian orang tersebut meninggalkan wanita tersebut tanpa memberi apa-apa.66

Pada dasarnya Islam memang pernah memperbolehkan nikah mut`ah, namun setelah itu pernikahan tersebut dilarang karena menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap wanita. Dikarenakan nikah mut`ah ini sepertinya mendeskriminasi kaum wanita karena pernikahan tersebut menghilangkan semua hak-hak wanita yang timbul akibat perkawinan.

Para ulama madzhab serta umat Islam selain Syiah tegas tidak membenarkan bentuk pernikahan mut`ah atau penikahan sementara ini. Para imam madzhab sepakat seluruhnya berpendapat haram hukum melakukan nikah

66Syaikh Kamil Muhammad Muhammad `Uwaidah, Al-Jami` Fi Fiqhi An-Nisa`, terj : Abdul Ghofar, Fikih Wanita, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2000), hlm. 383

mut`ah. meskipun akad tetap dilangsungkan maka akadnya batal. Menurut Zufar dari golongan Imam Hanafi berpendapat, nikah mut`ah bila disebut dengan tegas batas waktunya, maka pernikahannya sah, tetapi pembatasan waktunya yang batal.

Hal ini apabila dalam kata-kata ijab qabulnya digunakan kata-kata tazwij (kawin) tetapi apabila digunakan kata-kata mut`ah (bersenang-senang sementara), maka ia sependapat dengan ulama lainnya tentang batalnya akad pernikahan tersebut.67 2. Nikah Syighar

Nikah syighar (kawin tukar), ialah ketika seorang pria mengawinkan wanita yang di bawah perwaliannya dengan pria lain, dengan syarat pria ini mengawinkan pula wanita yang di bawah perwaliannya dikawinkan dengannya, tanpa adanya mahar dari mereka kduanya.68

Pada dasarnya arti defenitif nikah syighar ini dapat ditemukan artinya dalam hadits nabi dari Nafi` bin Ibnu Umar :

:ﺎَمُهْ ﻨَﻋ َُّللَّا َﻲِﺿَر َرَمُﻋ ِﻦْﺑا ِﻦَﻋ ،ٍعِفَنَ ْﻦَﻋ ،ٌكِلﺎَﻣ َنََرَ ﺒْخَأ ،َفُﺳﻮُي ُﻦْﺑ َِّللَّا ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻨَ ثَّﺪَح

« َّنَأ

ِرﺎَغِّشلا ِﻦَﻋ ىَهَ ن َمَّلَﺳَو ِﻪْيَلَﻋ ُﷲ ىَّلَص َِّللَّا َلﻮُﺳَر ْنَأ ىَلَﻋ ُﻪَتَ ﻨْ ﺑا ُلََُّرلا َجِّوَزُ ي ْنَأ ُرﺎَغِّشلاَو »

ٌقاَﺪَص ﺎَمُهَ ﻨْ يَ ﺑ َسْيَل ،ُﻪَتَ ﻨْ ﺑا ُرَخلآا ُﻪََِّوَزُ ي

69

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah mengkabarkan kepada kami Malik, dari Nafi` dari Ibnu Umar semoga Allah meridhoi keduanya : sesungguhnya Rasulullah melarang bentuk pernikahan syighar dan pernikahan yighar adalah bahwa seorang laki-laki menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki-laki-laki lain dan laki-laki-laki-laki lain tersebut juga menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki lain tadi, dan tidak ada mahar bagi mereka berdua”.(H.R Bukhari)

67 Ladzy Safroni, Seluk Beluk Pernikahan di Indonesia,..., hlm. 42

68 Ladzy Safroni, Seluk Beluk Pernikahan di Indonesia,..., hlm. 52

69 Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja`fi, Shahih Bukhari Juz VII, Muhaqqiq: Muhammad Zuhair Nasir bin An-Nashir,..., hlm. 12

Dalam hal karena pernikahan syighar ini dilarang dalam agama Islam maka hukum pernikahan syighar ini ialah dibatalkan sebelum suami menggauli istrinya. Jika suami telah menggauli istrinya, maka pernikahan dibatalkan hika pernikahan tersebut tidak menggunakan mahar dan jika masing-masing dari keduanya memberikan mahar maka pernikahan tidak dibatalkan.70

Ada beberapa perbedaan pendapat yang dikemukakan oleh Imam Madzhab mengenai pernikahan syighar ini diantaranya: pertama, Imam Malik mengatakan bahwa pernikahan semacam ini sama sekali tidak diperbolehkan di dalam syari`at Islam. itu artinya tidak sah, baik sudah berhubungan badan maupun belum.

Demikian juga jika seseorang mengatakan : aku nikahkan kamu dengan putriku, akan tetapi kamu harus menikahkan putrimu denganku, dengan mas kawin seratus dinar, maka tidak ada kebaikan sama sekali dalam hal itu. Kedua, menurut Imam Syafi`i bahwa pernikahan ini menjadi batal jika mahar tidak disebutkan di dalamnya. Jika mahar disebutkan di dalamnya, baik itu dari kedua belah pihak atau salah satu dari pihak tersebut, maka ditetapkan sebagai pernikahan bersama dan mahar yang disebutkan menjadi batal. Untuk itu bagi masing-masing pihak harus membayar mahar dalam jumlah yang sama. Jika meninggal dunia atau berhubungan badan dengannya atau setengah dari mahar jika menceraikannya sebelum berhubungan badan. Ketiga, Abu Laits, Abu Hanifah dan para sahabatnya mengatakan bahwa nikah syighar itu tetap sah dengan masing-masing atau salah satu dari keluarga menyebutkan mahar maupun tidak sama sekali. Atau masing-masing dari keduanya mensyaratkan maupun menerangkan adanya

70Abu Bakar Jabir Al-Jaziri, Ensiklopedi Muslim, (Jakarta : Bahrul Falah, 2005), hal. 591

mahar pernikahan tersebut atau tidak, mereka mengatakan : karena dalam hal ini masing-masing telah mendapatkan mahar mitsil.71

Pada dasarnya ulama memang tidak memperbolehkan bentuk pernikahan yang seperti ini, perbedaan mereka hanya terletak pada pengecualian tertentu yang memang kembali kepada hak wanita yaitu mengenai mahar yang mesti atau yang merupakan hak wanita dalam pernikahan. Namun, beberapa pendapat mengatakan jika mahar telah disebutkan maka pernikahan tersebut dapat diterima. Hanya Imam Malik yang menyebutkan bahwa apabila mahar disebutkan juga dari sala satu pihak pernikahan tetap tidak sah.

Apabila kasus seperti ini terjadi maka ada konsekuensi yang perlu diketahui oleh para pihak yaitu jika seseorang mengetahui akan adanya larangan pernikahan syighar namun ia tetap melaksanakannya maka harus diberlakukan baginya had secara penuh, dan anak yang dilahirkan dari pernikahan yang semacam ini tidak diserahkan kepadanya Akan tetapi jika dia tidak mengetahuinya, maka tidak ada had baginya dan anak yang dilahirkan tetap berada di pihaknya. Demikian juga dengan wanita yang dinikahinya. Jika ia mengetahui larangan tersebut. Jika ia mengetahui larangan tersebut dia harus mendapatkan hukuman had. Dan jika tidak maka tidak ada hukuman baginya.72 3. Nikah Tahlil

Merupakan pernikahan untuk menghalalkan mantan istri yang telah ditalak tiga. Dalam hal ini Imam Malik berpendapat bahwa nikah tersebut dapat di

71 Syaikh Kamil Muhammad Muhammad `Uwaidah, Al-Jami` Fi Fiqhi An-Nisa`, terj : Abdul Ghofar, Fikih Wanita,..., hlm. 382

72 Syaikh Kamil Muhammad Muhammad `Uwaidah, Al-Jami` Fi Fiqhi An-Nisa`, terj : Abdul Ghofar, Fikih Wanita,..., hlm 381

fasakh. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa nikah muhalil sah.

Perbedaan pendapat ini disebabkan perbedaan pandangan mereka dalam memahami pengetian (mafhum) dari sabda Rasulullah :

ْﻦَﻋ ،ٍسْيَ ﻗ ِبَِأ ْﻦَﻋ ،ُنﺎَيْفُﺳ ﺎَﻨَ ثَّﺪَح :َلﺎَﻗ َﺪَْحَْأ ﻮُﺑَأ ﺎَﻨَ ثَّﺪَح :َلﺎَﻗ َن َلَْيَغ ُﻦْﺑ ُدﻮُمَْمَ ﺎَﻨَ ثَّﺪَح

Artinya: “Telah menceritakan kepada kamu Mahmud bin Ghailan berkata :telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Qais dari Huadzail bin Syurahbil dari Abdillah bin Masud dia berkata: “Rasulullah melaknat orang yang melakukan pernikahan muhalil” (H.R Turmudzi)

Dan firman Allah dalam surat al-Baqarah 230 :



Artinya : “Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. kemudian, jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang mau mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 230)

Pernikahan seperti itu harus dibatalkan dan wanita tersebut tidak hal bagi suami yang telah menalaknya dengan talak tiga dan mahar tetap dimiliki wanita

73 Turmudzi, Sunan At-Turmudzi Juz III, Muhaqqiq :Ahmad Muhammad Syakir &

Muhammad Fuad Abdul Al-Baqi, (Mesir : Syirkah Maktabah wa Matba`ah Al-Mustafa Al-Babi wa Al-Hali, 1975), Cet-III, hlm. 420

74 Al-qur`an Karim

tersebut jika ia telah digauli, kemudian keduanya dipisahkan (antara wanita tersebut dengan muhalil).75

Namun pada dasarnya dari keterangan hadits di atas dengan tegas menyatakan, bahwa perkawinan seperti ini (muhalil) adalah batal dan tidak sah.

Oleh karena kutukan dan laknat tidak akan dijatuhkan kecuali karena perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.76

Oleh karena itu untuk menghindari laknat rasul alangkah sebaiknya kita sebagai umat Islam tidak melakukan pernikahan yang seperti ini karena pernikahan ini merupakan bentuk pernikahan yang dibenci oleh Rasulullah.

4. Nikah dalam Masa Iddah

Dalam Islam tidak seorang pun yang dibolehkan melamar wanita muslimah yang sedang menjalani masa iddah, baik karena perceraian maupun karena kematian suaminya. Jika salah satu dari keduanya mengetahui akan adanya larangan nikah tersebut, maka diberlakukan kepadanya had atas orang yang berzina yaitu rajam dan jilid. Demikian jika keduanya telah mengetahui hukum pernikahan yang mereka lakukan. Jika masing-masing dari keduanya tidak mengetahui adanya larangan terhadap pelaksanaan nikah tersebut. Maka tidak ada dosa bagi keduanya.77

Nikah dalam masa iddah ini dilarang berdasarkan firman Allah Ta`ala Surat Al-Baqarah ayat 235 :

75 Abu Bakar Jabir Al-Jaziri, Ensiklopedi Muslim, (Jakarta: Bahrul Falah, 2005), hal. 592

76 Ladzy Safroni, Seluk Beluk Pernikahan di Indonesia,..., hlm. 49

77 Syaikh Kamil Muhammad Muhammad `Uwaidah, Al-Jami` Fi Fiqhi An-Nisa`, terj:

Abdul Ghofar, Fikih Wanita,..., hlm. 383

















78

Artinya : “Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah sebelum habis masa iddahnya”. (Q.S Al-Baqarah : 235)

5. Nikah orang yang sedang Ihram

Dalam hal ini dinyatakan bahwa orang yang sedang ihram tidak boleh menikah meskipun dengan perantara wakil yang tidak sedang ihram, juga tidak boleh menikahkan dengan status sebagai wali maupun wakil, dan jika dia melakukannya maka pernikahan tersebut batal. Juga, karena ihram mengharamkan wewangian, maka diharamkan juga pernikahan, jika orang yang sedang ihram menikah atau dinikahkan, maka pernikahannya tidak sah sebab akad tersebut terlarang.79

6. Nikah yang kurang salah satu syarat-syarat atau rukunnya. Apabila suatu nikah dilaksanakan dengan keadaan kurang salah satu syarat-syarat atau rukunnya, maka nikah itu dinyatakan batal dan nikah itu dianggap tidak pernah terjadi.80

Dokumen terkait