• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS ...................................................................... 9-15

D. Nilai-Nilai Tradisi Akkattere

5. Nilai Agama

Pelaksanaan tradisi Akkattere atau aqiqah adalah ajaran Rasulullah SAW.

dilihat dari sisi hukumnya, aqiqah atau Akkattere dibedakan menjadi dua yaitu berhukum sunnah dan wajib. Pembagian ini berdasarkan pada dalil-dalil dan tafsir yang telah dilakukan oleh para ulama. Secara sunnah, hukum aqiqah adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang harus diutamakan. Artinya, apabila seseorang muslim mampu melaksanakannya (karena mempunyai harta yang cukup) maka dia dianjurkan untuk melakukan Akkattere atau aqiqah bagi anaknya saat anak tersebut masih bayi.

Sementara bagi orang yang kurang atau tidak mampu, pelaksanaan aqiqah dapat di tiadakan

Secara wajib, menurut hadist riwayat Ahmad yang berbunyi “anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad), aqiqah wajib dilakukan. Dengan perpatokan pada hadist di atas, para ulama menafsirkan bahwasanya seorang anak tidak dapat memberi syafaat pada orang tuanya apabila dia belum di aqiqah. Meski demikian, pendapat ini masih kalah dengan pendapat bahwa aqiqah adalah sunnah sehingga ditolak oleh banyak ulama.

Nilai agama yang terkandung dalam tradisi Akkattere adalah dipotongkan dua ekor kambing untuk laki-laki satu ekor kambing untuk perempuan sebagai perintah

dan sunah Rasululah Saw, sebagai anjuran oleh paham Islam. Menurut Masyarakat Di Dusun Tamacinna nilai-nilai Agama yang terkandung dalam tradisi Akkattere adalah memberikan nama-nama yang bauik pada seorag bayi karena Akkattere itu pemberian nama atau peresmian nama seorag bayi yang baru lahir. Disitulah di berikan nama yang baik sesuai ajaran Agama kita sesuai dengan anjuran Rasululah.

Rasululah bersapda berilah nama anakmu degan nama-nama yang baik, sebagai contoh nama-nama Rasululah, nama-nama Allah yang baik yang terkandung dalam Asmaul Husna seperti Abdul raman, Abdul Rahim. Contoh nama-nama nabi seperti yusuf, Muhamad Idris, Musa, Muhamat Ibrahim. Itulah nilai-nilai agama yang terkandung di dalam pemberian nama yang baik dan itupula anjuran Rasululah SAW.

Adanya penyimpangan Agama dalam tradisi yang berlaku di masyarakat.

Apabila diyakini menjadi sesuatu yang wajib, serta mengandung doktrin yang mengatakan bahwa akan terjadi kelainan fisik cacat, celaka maupun sakit-sakitan.

Pelaksanaan Akkattere atau aqiqah dengan berbagai adat dan tradisi menjadi sesuatu yang dibolehkan apabila mengandung pesan tanpa adanya penyimpangan Agama.

Masyarakat menggunakan semua tradisi yang telah menjadi turun temurun dari nenek moyang hanyalah sebatas pemahaman tafa’ul, yakni sebuah keinginan menjadi lebih baik, hal ini bukan hanya mengandung pesan adat, tetapi hal ini dapat juga dikatakan sebagai pesan dakwa yakni pesan Ahlak apabila mengandung pedoman norma-norma kesopanan dalam pergaulan hidup sehari-hari, serta pemahamannya untuk kebaikan dan Ahlak anak.

55 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Setelah menguraikan pokok-pokok atau sub-sub masalah yang berkaitan dengan studi penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Perkembangan tradisi Akkattere berkembang terus dari masa kemasa dan terpelihara dari kalangan masyarakat karna tradisi yang menyelenggarakan itu juga Sunnah dari Agama Islam untuk dipotongkan kambing dua ekor kalau laki-laki dan satu ekor untuk permpuan. Pandangan budaya terhadap tradisi akkattere sangat relevan dengan realita sosial seiring dan bahkan sejalan dengan keyakinan bagi pemeluk agama Islam. Motif dan tujuan tradisi Akkattere adalah untuk mensucikan dari kotoran bayi tersebut sekalihus bisa mengumpulkan keluarga dan para sahabat untuk mempererat hubungan kekelurgaan .

2. Tradisi Akkattere ditandai dengan lahirnya seorang bayi kedunia, kelahiran seorang anak adalah kegembiraan tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh keurga bayi. Sebelum melakukan tradisi Akkattere kelurga terlebih dahulu mempersiapkan hewan berupa kambing dua ekor untuk laki-laki dan satu ekor untuk perempuan dan mempersiapkan kelapa muda yang dipotong diatasnya sampai kelihatan air dan daging kelapanya lalu mempersiapkan gunting

sebelum melakukan pengguntingan terlebih dahulu melakukan pembacaan barasanjji setelah itu majulah satu persatu keluarga dari pihak ibu dan bapak untuk menggunting rambut seorang bayi dan rambut yang sudah digunting dimasukan kedalam kelapa muda yang sudah dilobangi disini juga kelapa muda disimbolkan dengan segala kebaikan karena masyarakat menyakini dan mengetahi kelapa itu sangat berguna mulai dari akar, batang, dan buah dan seluruh tangkainya.

3. Nilai ekonomi yang terkandung di dalam tradisi Akkattere sahabat datang mengunjungi seorang bayi membawakan perlengkapan bayi dan beberapa mainan. Nilai seni yang terkandung adalah menurut kebudayaan orang bugis makassar sebelum pelaksanaan tradisi Akkattere biasaya diadakan A’rate, Abarasanji, dan Aroyong yang tentunya ini mengandung nilai seni yang sangat tinggi. Nilai sosialnya adalah berkumpulnya keluarga dan sahabat untuk mempererat tali silaturahmi. Nilai ahlak yang terkandung di dalam tradisi Akkattere adalah Orang tua memberikan nama yang baik, kelak nama itu akan menjadi makna ahlak anak dimasa depan nanti. Nilai agama tradisi akkattere atau aqiqah adalah ajaran Rasulullah SAW. Dilihat dari sisi hukumnya, aqiqah atau Akkattere dibedakan menjadi dua yaitu berhukum sunnah dan wajib.

57

B. Saran

Setelah menemukan beberapa kesimpulan di atas, akan dilihat saran yang dipandang perlu dari studi penelitian ini baik dari segi teoritis maupun praktis. Saran itu antara lain sebagai berikut :

1. Pada tatanan teoritik, studi penelitian ini diharapkan tidak hanya menjadi bahan evaluasi bagi institusi pendidikan sejarah, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi para penggerak institusi itu sendiri seperti dosen sejarah dan mahasiswa sejarah dalam membangun paradig baru bagi pemahaman sejarah. Sosial budaya mauapun keagamaan.

2. Diharapkan kepada segenap sivitas akademik yang bertugas membidangi penelitian ini agar dapat menyamakan persepsi atau kesepahaman pendapat dalam rangka membina, membangun, meningkatkan serta mengembangkan hasil studi penelitian ini ke arah yang lebih baik sesuai dengan standar, bobot dan mutu penelitian itu sendiri.

3. Khusus kepada tenaga pengajar sejarah (guru/dosen) agar lebih meningkatkan kreatifitasnya, memiliki wawasan yang luas serta aktif dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, baik melalui jalan seminar-seminar, penataran-penataran maupun studi-studi penelitian.

4. Kepada setiap tokoh agama, budaya dan pemerhati sejarah agar bersama-sama menagndalkan pendekatan kepada masyarakat dalam hal memberi pemahaman dan

pembinaan mengenai parektek sosial budaya maupun keagamaannya. Karena itu, pembinaan ini diharapkan langsung kepada pengenalan ajaran Islam ke dalam budaya leluhur, sehingga dengan demikian ajaran Islam dengan cepat tumbuh dan menyatu dalam kehidupan mereka sehari-hari.

59 DAFTAR PUSTAKA

Abu Ishak Al-Syathibiy, Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syari’ah, II, (Cet.III;Beriut: Dar Al-Kutub Iimiyah, 1424H/2003M), h. 3.

Abdul Fatak Idris, Abu Amadi, fiqih Islam Lengkap, (Jakarta: RinekaCipta, 1990), h.

317.

Ahmad Ma’ruf Asrori, Berhitan dan Aqiqah Upaya Pembetukan Generasi Qur’ani, cet II (Surabya: Penerbit Al-Miftah, 1998), h. 88.

Amin Dorori, Islam dan Kebudayaan Jawa (Yokyakarta, Gama Media, 2006, 2000), h. 6.

Bakry Hasbullah, Pedoman Islam Di Indonesia, (Jakarta: Unifersitas Indonesia (Ul-Pres), 1998), H 263.

Depenisi dan Pegertian Tradisi, hhtp://id.m.wikipedia.org>wiki>.Biogspot.Com /2007/07Definisi-Pegertian-Tradisi.htm (23 april 2021).

Depertemen P%K, Kamus Besar Bahasa Indinesia, Cet.II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 959.

Dokumen Rpjs Desa Maradekaya 2015-2017 Kecamatan Bajeng Kebupaten Gowa.

Fatima, Studi Kritis Terhadap Pertautan Antara Hukum Islam dan Hukum Adat DalamSistem Hukum Nasional,, h. 93.

Fatimah, Studi Krisis Terhadap Pertautan Antara Hukum Islam dan Hukum Adat Dalam.

Gazalba Sidik, Op. Cit., Bandigkan Pendapat Al-Syathibiy Bahwa Ibada Berfungsi Mendekatkan Manusia Kepada Tuhan, Yakni Beriman Kepada-Nya dan Segala Konsekwensi Berupa Ibada yang Bisa Disebut Ibadah Mahdhah.

Sebagai Pergaulan Muamalah yang Berklaku Menurut Tradisi Kebiasaan (Arab), yang Merupakan Tuang Punggung Bagi Kemaslahatan hidup Manusian, Tanpa Ini, Kehidupan Manusia Akan rusak Binasa. Apabila yang Terakhir Bersipat Duniawi Dan Dapat dipahami Oleh Nalar Manusia (Al-ma’na), Maka yang Pertama Tadi Bersifat Ukhrawi dan Merupakan Kewenangan Mutlak Tuhan Menetukan (Haqq Allah). Ibid., h. 164.

Hamid Abu, Kebudayan Bugis , (Makasar: Penerbit Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan, Dinas Kebudayan dan Keperawisataan Provinsi Sul-sel, Tahun 2012), h.1.

HasanAsy’ari Ulama’I, Aqiqah degan Burung Pipit, (Semarang: Syar Media Pubishing, 2010), h.19.

Hijjang Pawennari, Pasang dan Kepemipinan Ammatowa Antropologi Indonesia 29, no. 3, (2015), h. 255.

Johanes Mardimin, Jagan Tagisi Tradisi (Yokyakarta: Kanisius, 1994), 12-13.

Koentjaraningrat, Seperti yang dikutip http//Komunitas-nun.blogs-pot.cm

Kuncoronigrat, Sejarah Kebudayaan Indonesian(Yogyakarta: Jabatan, 1954), 103.

Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya, dan Politik Dalam Bingkai Strukturalisme Transsedental (Cet, II; Bandung: Mizan, 2001),201.

Moh. Karnawi Baduri, Kamus Aliran dan Faham, (Surabaya: Indah, 1989), h.78.

Moh Nur Hakim “Islam Tradisional dan Reformasi Pragmatisme” Agama dalam Pemikiran Hasan Hanafi (malang: Bayu media Publishing. 2003)h. 29.

Muhamin, (et al), Op.cit., h. 44.

Muhammad Bushar, Pengantar Hukum Adat (Jakarta: Balai Buku I ctiar, h. 30.

Muhannis, karangpuang dan Bunga Rampai Sinjai, (Yogyakarta: Ombak, 2009), h. 2.

Philip K. Hitti, History Of The Arabs (Cet. II: Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semasta, 2006), h. 182.

Sztompka Piter, Sosiologi Perubahan Sosial, Cet VI (Jakarta: Prenada< 2011), h.69-76.

Studens, Definisi dan Pegertian Tradisi, Http://1x-e11. Blogspot.Com/2007/07/

Definisi-Pegertian-Tradisi.htm (5 maret 2016).

Umar Nasirudin, Biasa Gender Dalam Pemahan Islam, cet. I (Yokyakarta: Gama Media, 2002), h.98.

Wahid Abdurahman, Pergulatan Negara, Agama, Dan Kebudayaan, (Cet. II;

Desantara, 2001), h. 101.

Wahid Sugira, Manusian, (Makassar: Pustaka Refleksi, 2007), h. (-!0

Wahyuni, Perilaku Beragama: Studi Sosiologi Terhadap Asimilasi Agama dan Budaya di Sulawasi Swlatan, (Cet. I; Makasar: Alauddin Universitas Press, 2013), h. 114-116.

61

Nama-nama Informan

1. Nama :H. Amirullah Jalil, S. Ag.,M. Si

Umur :48 Tahun

Status :Ustaz

Tanggal Wawancara :Jumat 05-November-2021

2. Nama :Muh. Idris. Sigollo, S.H

Umur :52 Tahun

Status : Ustaz

Tanggal Wawancara : Jumat 26-November-2021

3. Nama :Hj. Boddo Dg Janji

Umur :80 Tahun

Status :Salahsatu Pelaksana Akkatere Tanggal Wawancara :Senin 06-Desember-2021

4. Nama :Syamsuddin Dg Tola

Umur :78 Tahun

Status :Imam Desa Tamacinna II

Tanggal Wawancara :Kamis 09-Desember-2021

5. Nama :Abdul Aziz Dg Gassing

Umur :52 Tahun

Status :Ustaz

Tenggal Wawancara :Jumat 17-Desember-2021

Lampiran-lampiran

Proses Pemotogan kambing (Dilakukan Oleh Ustaz)

Proses Pembacaan Doa Buat Sibay (Dipimpin Oleh Imam)

63

Proses Pemotogan Rambut Sibay (Dilakukan Oleh Keluarga dan Kerabat)

Acara Sukuran Buat Sibay

Dokumen terkait