A. Landasan Teori
2. Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Nilai aset bersih reksadana adalah jumlah uang yang dikelola manajer investasi untuk produk reksa dana tersebut. Nilai aset bersih dihitung dari total nilai pasar aset (seperti saham, surat utang, dan deposito) dalam portofolio reksa dana, ditambah biaya cadangan bunga, efek utang atau deposito berjangka dalam portofolio, dikurangi operasi biaya investasi dana seperti biaya manajemen, biaya penitipan, pajak, dan lain-lain. Dengan demikian, NAB adalah kekayaan bersih yang tidak lagi dikenakan pajak a. Cara penghitungan NAB
Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada hari pertama penawaran umum perdana reksa dana (IPO) NAB/UP ditetapkan sebesar Rp1.000 sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, perhitungan NAB/UP akan berubah tergantung bagaimana pergerakan nilainya di pasar instrumen investasi.
Secara sederhana, nilai aset bersih dihitung dengan menjumlahkan total aset bersih semua dana (aset kelolaan/AUM) dalam reksa dana kemudian dibagi dengan jumlah unit yang digunakan.
Jumlah kekayaan bersih yang diperoleh dari nilai pasar masing-masing kelas aset investasi, seperti saham, obligasi, surat berharga pasar uang dan deposito; ditambah dividen saham dan kupon obligasi, kemudian dikurangi biaya operasional reksa dana seperti biaya MI, biaya bank kustodian, dan lain-lain.
Oleh karena itu, disebut "aset bersih" dan berubah setiap hari dengan pergerakan NAB/UP reksa dana karena pergerakan pasar instrumen investasi yang membentuk portofolio reksa dana..
b. Faktor yang mempengaruhi NAB
Menurut Choirum Miha & Nisful Laila (2017), Nilai aktiva bersih dihitung dengan menjumlahkan kekayaan bersih seluruh dana (Assets Under Management/AUM) reksa dana kemudian dibagi dengan jumlah unit yang beredar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain;
15 1) Sentiment pasar
Sentimen Pasar adalah sikap kesepakatan bersama (konsensus) dari para pelaku pasar investasi dalam mengantisipasi pergerakan harga di suatu jenis pasar. Sikap ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor fundamental dan teknikal, termasuk di dalamnya pola pembentukan harga serta rilis data ekonomi ataupun berita global penting. Aneka faktor tersebut secara bersama membentuk suatu persepsi komunitas pasar investasi.
Covid-19 merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2).
Penyakit ini telah menjadi pandemi di seluruh dunia, dan telah menyebabkan kekacauan di bidang kesehatan, ekonomi, bahkan politik.
Kasus covid-19 menyebabkan sentiment di pasar modal Indonesia, hal ini ditunjukkan dengan turunnya nilai Index Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal kemunculan kasus covid-19 di Indonesia.
2) Inflasi
Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga barang atau jasa secara umum dan berkelanjutan. Dalam hal ini naiknya harga dari suatu komoditas tidak termasuk sebagai inflasi, jika kenaikannya tidak mewabah dan tidak berkelanjutan (Boediono, 2011;169). Dimana kenaikan atau penurunan harga barang atau jasa akan merubah kecenderungan investor dalam menginvestasikan uang mereka (Miha
& Nisful, 2017).
Menurut Nandari (2017), Nilai aset bersih reksa dana dipengaruhi oleh kenaikan inflasi. Inflasi moderat disebut sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi karena dengan itu, orang akan lebih bersemangat untuk bekerja, menabung, dan menginvestasikan kekayaannya.
3) Nilai tukar (KURS)
Sukirno (2011:397) mengartikan nilai tukar (exchange rate) sebagai harga suatu mata uang dari suatu negara ke negara lain. Jadi ilia tukar rupiah dapat dipahami sebagai harga jual atau beli mata uamg rupiah terhadap mata uang selain rupiah.
Menurut Rachman (2015), nilai tukar rupiah berpengaruh signifikan terhadap nilai aktiva bersih reksa dana syariah. Dalam situasi di mana nilai tukar rupiah turun, kewajiban hutang perusahaan akan meningkat dan investasi akan berkurang. Ketika itu terjadi, kinerja perusahaan menurun dan menyebabkan harga saham turun, sehingga nilai aset bersih reksa dana syariah menurun.
16 4) Produk Domestik Bruto (PDB)
Menurut McEachern Produk Domestik Bruto (PDB) (2000:146) bahwa: “Produk domestik bruto / GDP artinya mengukur nilai pasar dari barang dan jasa akhir yang diproduksi oleh sumber daya yang berada dalam suatu negara selama jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. GDP juga dapat digunakan untuk mempelajari perekonomian dari waktu ke waktu atau untuk membandingkan beberapa perekonomian pada suatu saat.”
Pengertian Produk Domestik Bruto menurut Sukirno (2004 : 17), yaitu: “Pendapatan Nasional menggambarkan tingkat produksi negara yang dicapai dalam satu tahun tertentu dan perubahannya dari tahun ke tahun. Maka ia mempunyai peranan penting dalam menggambarkan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai, dan perubahan pertumbuhannya dari tahun ke tahun. Produk nasional atau pendapatan nasional adalah istilah yang menerapkan tentang nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan sesuatu negara dalam suatu tahun tertentu.”
5) Tingkat suku bunga (BI Rate)
Tingkat suku bunga menurut Boediono (2014:76) adalah “harga dari penggunaan dana investasi (loanable funds). Tingkat suku bunga merupakan salah satu indikator dalam menentukan apakah seseorang akan melakukan investasi atau menabung”.
Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2013:80) adalah “harga pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase dari pokok per satuan waktu. Bunga adalah ukuran harga sumber daya yang digunakan debitur untuk membayar kreditur.
Selain suku bunga internasional, tingkat diskonto suku bunga Indonesia (SBI) juga merupakan faktor penting dalam menentukan suku bunga di Indonesia. Tingkat suku bunga atau interest rate adalah tingkat pengembalian beberapa investasi berupa imbalan yang diberikan kepada investor.
6) Jumlah uang beredar
Jumlah uang beredar menurut Rahardja dan Manurung (2008:32) adalah total nilai uang yang ada di tangan masyarakat. Uang beredar (narrow money) adalah jumlah uang beredar termasuk mata uang asing dan giro.
Rahardja dan Manurung (2008:325) berpendapat bahwa uang beredar secara teknis adalah uang yang sebenarnya ada di tangan masyarakat.
Evolusi jumlah uang beredar mencerminkan perkembangan ekonomi.
17 Berdasarkan teori tersebut, peneliti memutuskan untuk mengambil variabel Covid19, Inflasi, Devisa dan PDB untuk melihat pengaruh variabel tersebut terhadap nilai aktiva bersih produk reksa dana syariah.